
Ada sebuah dongeng lama tentang anak-anak muda yang berangkat ke kota dengan dada berdegup kencang dan sebuah peta di genggaman. Peta itu diwariskan oleh orang tua mereka, lengkap dengan garis tebal menuju puncak bukit. Kamu lulus sekolah, bekerja keras tanpa mengeluh, membeli rumah, menikah, lalu bertengger anggun di kursi kepemimpinan puncak.
Saat ini, mereka telah menjadi orang tua dan mewariskan apa yang mereka dapatkan kepada generasi setelahnya. Anak-anak generasi ketiga berangkat ke kota dan berharap menemukan hal yang sama seperti orang tua mereka dapatkan.
Namun, ketika anak-anak muda itu tiba di benteng kota, mereka mendapati bukit telah dipagari tengkulak, harga semen membumbung ke awan, dan angin sepoi-sepoi yang dijanjikan di puncak ternyata adalah badai kecemasan yang melumat jiwa.
Di situlah cerita lama berhenti, tetapi sejarah manusia tak pernah mau selesai di lembar yang sama.
Semalam—di tengah deru mesin pendingin ruangan kantor yang berbunyi kencang—saya menemukan laporan yang terbit pada 13 Mei 2026. Laporan 15 tahun Survei Gen Z dan Milenial Global Deloitte. Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1995 sampai 2007 dan milenial mereka yang lahir pada tahun 1983 sampai dengan 1994.
Saya mengunduhnya dan membaca lima halaman pertama. Surat dari Elizabeth Feber, Deloitte Global Chief People & Purpose Officer, dan halaman ringkasan eksekutif laporan tersebut.
Risalah setebal 53 halaman ini mendedahkan sebuah potret zamani yang sublim. Ini tentang 22.500 anak muda dari 44 negara yang sedang mengalibrasi kompas nasib mereka sendiri.
Lihatlah angka-angka itu. Dalam lima tahun berturut-turut, biaya hidup bukan lagi sekadar topik obrolan di warung kopi, melainkan hantu dingin yang merayap ke tempat tidur. Hampir separuh dari mereka hidup dari gaji ke gaji. Lebih dari 60 persen mengeluhkan keterjangkauan rumah yang kian utopis, hingga 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial terpaksa menunda babak-babak agung kehidupan: menunda pernikahan, menunda punya buah hati, atau menunda membangun usaha sendiri. Mereka berdiri di tepi celah ekonomi yang lebar, menatap janji-janji masa lalu yang retak.
Dialog ini pernah terjadi nyata.
“Kapan nikah?” tanya saya.
“Belum berani,” jawab si sulung yang sudah berusia 26 tahun ini.
Dan di tengah tekanan itu, ada kebijaksanaan yang dipaksa mekar lebih awal. Generasi yang tumbuh dalam impitan krisis beruntun ini tidak menolak untuk memimpin, mereka hanya menolak untuk mati konyol di atas altar korporat.
Hanya 6 persen yang memburu singgasana kepemimpinan demi puncak itu sendiri. Bukan karena takut pada tanggung jawab, melainkan karena mereka tahu sesuatu. Apa gunanya mahkota bila kepala yang memakainya hancur dihantam burnout dan kecemasan malam?
Mereka melirik model kepemimpinan lama yang serba pamer, serba lembur, dan serba mengorbankan diri, lalu berbisik dengan tenang, “Kami mau memimpin, tetapi bukan dengan cara yang merusak jiwa kami.”
Bagi 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial, ambisi itu tetap menyala, tetapi syaratnya telah berganti. Mereka menuntut fleksibilitas, keseimbangan, dan kejelasan arti. Mereka memilih langkah lateral, bergerak menyamping atau bahkan mundur sejenak, demi memupuk keterampilan yang utuh, daripada melompat cepat ke atas lalu jatuh bebas karena tak berakar. Apalagi di tengah kawan dan bos yang toksik.
Lalu datanglah mesin-mesin pintar. Ketika algoritmik dan akal imitasi (AI) menyerbu ruang-ruang kerja. AI digunakan oleh 74 persen dari mereka. Anak-anak muda ini tak memandangnya sebagai monster penghancur. Mereka memeluk AI sebagai alat pembebas. Untuk belajar, mencari petunjuk arah karier, bahkan mengurai stres. Tragisnya, justru organisasi tempat mereka bernaung yang sering kali gagap, berjalan lamban seperti gajah tua yang enggan melangkah, meninggalkan pekerjanya beradaptasi sendirian dalam belantara digital.
Dan di atas semua hitungan finansial dan canggihnya teknologi, ada satu hal yang paling hakiki yang dicari manusia di balik meja kerjanya. Apa soal? Ini tentang makna dan kawan berbincang.
Hampir seluruh responden (sembilan dari sepuluh lebih) menegaskan, pekerjaan tanpa rasa bertujuan adalah kehampaan yang sia-sia. Empat puluh persen bahkan rela menolak lowongan dari perusahaan yang bertentangan dengan nurani mereka. Dan di tengah bayang-bayang kelelahan layar digital, kehangatan seorang sahabat dekat di tempat kerja menjadi benteng terakhir. Ujungnya, kesetiaan bertahan di tempat kerja meningkat hingga 18 poin lebih tinggi.
Pada akhirnya, seperti dalam surat Elizabeth Faber di atas, ini bukan cerita tentang penundaan. Ini cerita tentang kedewasaan nurani. Gen Z dan Milenial sedang meretas jalan bagi Generasi Alfa yang kelak akan menyusul.
Mereka sedang mengajari dunia sebuah kebenaran sederhana. Keberhasilan sejati itu tentang seberapa utuh kemanusiaanmu saat kau berdiri di atas panggung, bukan tentang seberapa tinggi puncak yang berhasil dipanjat.
Saat ini, mereka berdiri di biru lebam generasi sebelumnya.
Generasi kita.
***
Riza Almanfaluthi
29 Agustus 2026
Gambar dari CTO Magazine
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi