
Tidak pernah terbayangkan pada akhirnya saya bisa menginjakkan kaki ke Timika. Sebuah tempat yang sangat terkenal di seantero Indonesia karena ada Freeportnya. Perusahaan pertambangan emas yang dulu dimiliki perusahaan Amerika Serikat dan sekarang 51% sahamnya dikuasai pemerintah Republik Indonesia.
Timika merupakan ibu kota Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Ibu kota Provinsi Papua Tengah berada di Nabire. Saya mengetahuinya karena saya ditugaskan di Papua. Kalau tidak, pelajaran geografi pulau Papua hanya sebatas Jayapura dan Merauke.
Timika bukan wilayah kerja kantor saya, tetapi menjadi wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak Pratama Timika. Kok bisa saya sampai ke sana? Ya, ini karena ada undangan dari Kantor Wilayah DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku (Kanwil DJP Papabrama) untuk menjadi narasumber dalam Forum Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas). Seperti biasa saya diminta untuk berbagi ilmu kepenulisan. Alhamdulillah, ilmu ini masih bermanfaat.
Dalam obrolan warung kopi dengan Pak Supriyanto, Kepala Bidang P2Humas Kanwil DJP Papabrama, ia mengatakan, “Ini karena kompetensi yang dimiliki Bapak sehingga diundang ke Timika. Kompetensi mengundang apresiasi dan rezeki. Kompetensi juga menuntut kontribusi.” Ya, saya mengucapkan terima kasih atas itu kepada Pak Kakanwil dan Pak Kabid sehingga saya dipercaya untuk mengisi forum tersebut.
Tak sebatas itu, pernyataannya membuat saya mengilas balik perjalanan hidup saya dan mengucapkan rasa syukur banyak-banyak dalam hati. Betapa Allah telah menganugerahkan ilmu tersebut dan dengan izin-Nya saya bisa berkeliling Indonesia, mengunjungi tempat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, untuk mengajak orang lain menulis. Bukankah ini sebentuk anugerah tak ternilai? Tak sebatas nilai rupiah.
Alain de Botton, penulis dan filsuf kelahiran Swiss yang tinggal di Inggris, dalam The Art of Travel pernah menulis, “Journeys are the midwives of thought.” Perjalanan adalah bidan yang membantu melahirkan pikiran. Begitulah adanya. Ada perjalanan yang bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Ia membawa kita ke tempat-tempat yang sebelumnya hanya ada di kepala, lalu mempertemukan kita dengan pikiran-pikiran yang selama ini belum sempat lahir. Timika salah satunya.
Sekarang, saya akan menceritakan dengan detail muhibah saya ke Timika ini. Entahlah, seperti ada magnet yang membuat saya segera menulis tentang kota dengan curah hujan tertinggi di Indonesia ini. Perjalanan sebelumnya ke Sorong belum saya tulis, sedangkan perjalanan ke Wamena baru sepertiga bagiannya saja.
Untuk pembaca, siapkan waktu yah. Menulis safar ini seperti Zainudin yang sedang menulis surat kepada Hayati.
Danau di Atas Gunung
Pesawat Lion Air mulai menerbangkan saya dari Bandara Sentani pada pukul 09.00 (5 Agustus 2026). Penerbangan ini akan menempuh waktu sekitar satu jam. Saya mendapatkan bangku di bagian jendela: 5F. Karena letaknya lebih ke barat, tentunya perjalanan ini lebih lama daripada perjalanan ke Wamena yang hanya 30 menit saja.
Tidak ada pemandangan di luar jendela yang menarik di 30 menit pertama. Tanah Papua ini dipenuhi dengan belantara tropis yang sangat luas, lebat, dan masih asri. Benar-benar masih perawan. Layak dijuluki sebagai paru-paru dunia dan mesin penghasil oksigen setara Amazon dan Hutan Kongo.
Di 30 menit berikutnya, ini yang mengejutkan. Ada semacam perkampungan di atas gunung yang terlihat dari ketinggian ini. Saya tak tahu itu kota atau kampung apa. Di tengah keterpencilan masih ada kehidupan yang berusaha keras untuk menggeliat. Dan setelah itu, saya melihat sebuah danau. Permukaannya hitam. Terlihat sepi. Tentu karena dari ketinggian saya tidak dengan jelas melihat apakah ada banyak orang atau tidak di sana. Cuma yang tetap saya rasakan adalah kesunyian.
Saking penasarannya, setelah mendarat, saya segera melacak keberadaan danau itu. Barulah saya mengetahui kalau danau itu bernama Danau Habema. Masih satu kabupaten dengan Wamena, yaitu Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Letaknya di kaki Gunung Trikora. Namun, tetap menjadi danau tertinggi di Indonesia.
Dari atas pesawat itu pun, saya melihat puncak Gunung Trikora. Puncak dari hasil tumbukan lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik jutaan tahun lampau. Saya bersyukur masih bisa melihat keajaiban alam ini. Yang tak bisa dilihat oleh sembarang orang. Yang tak bisa dipandang kapan saja. Kamera ponsel berulang kali mengabadikan pemandangan di bawah itu.
Sampai kemudian, tiba-tiba pesawat ini sudah di atas lautan mega putih. Membentang di kejauhan dari depan sampai ke belakang. Seperti kapas penuh cahaya keemasan. Kontras dengan biru langit. Dan pengumuman pramugari memenuhi kabin. Beberapa menit ke depan pesawat akan mendarat.
Seiring itu, pesawat mulai membenamkan tubuhnya ke dalam lautan mega. Di balik jendela yang ada hanya putih. Ini tak sebentar.
Setelah badan pesawat berada di bawah awan, suasananya berkebalikan. Kelabu. Cahaya seperti tersaring di atas. Tak bisa menerobos kerapatan awan. Ada titik-titik air memenuhi jendela. Pesawat merambat pelan di udara di atas hutan, rumah-rumah yang jarang, sungai Ajkwa yang dipenuhi endapan sisa-sisa tambang, dan kemudian Timika yang basah.
Roda pesawat tak pernah lupa mendarat. Begitu pula untuk mendarat di Bandar Udara Internasional Mozes Kilangin.
Untuk pertama kalinya. Itu buat saya.
(Bersambung: Menjumpai Pertengkaran yang Entah Mempertengkarkan Apa)
**
Riza Almanfaluthi
9 Agustus 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi
2 thoughts on “Di Balik Jendela 5F”