RIHLAH RIZA #20: TIGA TAHUN DISINGKILKAN


RIHLAH RIZA #20: TIGA TAHUN DISINGKILKAN

 

Angin sepoi Musalla dan Sungai Ruknabad. Tak Mengizinkan hamba mengembara jauh.” Sebuah puisi dikirimkan Hafiz Syirazi—lirikus Persia, penyair jenius, pemilik lidah gaib (Lisanul Ghaib), penafsir kegaiban (Tarjumanul Asrar)—kepada Sultan Ahmad bin Owais-i-Jalair, penguasa Ilkhani. Hafiz menolak penguasa berbakat dari Baghdad itu mengundang dirinya dan melantunkan syair-syair indah di hadapan sang penguasa.

Sebuah kapal dari dua orang Saudagar Persia sudah menanti di Selat Hormuz untuk membawa Hafiz ke India. Hafiz sempat naik ke kapal tersebut. Namun ketika kapal hendak berangkat, badai datang. Hafiz pun turun dari kapal dan tidak jadi pergi. Sebagai pengganti dirinya, akhirnya ia cuma mengirimkan bait-bait syair kepada Sultan Mahmud, penguasa India pada saat itu. Tanah airnya tak mau melepas Hafiz jauh-jauh.

**

Tanggal satu di tahun baru seharusnya libur. Kami tidak. Kami harus mengawali perjalanan panjang sampai empat hari ke depan. Kami menuju Kabupaten Simeulue yang berada di Kepulauan Simeulue dalam rangka pengalihan pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) dari Pemerintah Pusat dalam hal ini diwakili oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan kepada Pemerintah Kabupaten Simeulue.

Perjalanan ini merupakan perjalanan road show kami di tiga kabupaten sebagai wilayah kerja KPP Pratama Tapaktuan. Selain Kabupaten Simeulue ada Kabupaten Aceh Barat Daya, biasa disingkat Abdya, dan Kabupaten Aceh Selatan. Sungguh, ini perjalanan yang tidak akan pernah dialami selagi saya tidak ditempatkan di daerah terpencil dan tertinggal ini. Saya tekankan dua kata terpencil dan tertinggal ini karena masih saja ada yang tidak percaya kalau Aceh Selatan disebut sebagai daerah demikian.

Pengertian Daerah Tertinggal seperti yang saya kutip dari situs Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal adalah daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. Suatu daerah dikategorikan sebagai daerah tertinggal, karena beberapa faktor penyebab, antara lain geografis, sumber daya alam, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, daerah terisolasi, rawan konflik dan rawan bencana. Aceh Selatan masih termasuk ke dalam 183 daerah tertinggal di Indonesia.

Ketidakpercayaan mereka ini seperti ketidakpercayaan mereka melihat ada orang Jakarta seperti saya mau-maunya saja ditempatkan di daerah tersebut.  “Ini tugas Broh,” kata saya atau biasanya saya diam atas pernyataan tersebut. Hanya tersenyum dan tidak menanggapi. “Pasti enggak dekat dengan rezim yah,” kata mereka lagi.  Wadaw, rezim-reziman segala. Saya tak tahu rezim-reziman. Kalaupun ada, saya cuma tahu dan kenal dengan satu rezim yang Maha Luas kekuasaannya, “rezim” Allah.  Ah, sudahlah.

Menuju pulau Simeulue ini ada dua moda transportasi: naik pesawat Susi Air atau kapal laut. Yang paling efektif adalah tentunya naik pesawat. Masalahnya adalah awal tahun ini Susi Air tidak terbang karena dalam proses tender penerbangan perintis dan penyusunan jadwal terbang. Jadi kami tidak memilih moda ini. Satu-satunya jalan adalah dengan menggunakan kapal laut.

Acara penandatanganan berita acara pengalihan PBB P2 ini dijadwalkan pada hari Jumat. Sedangkan jadwal pemberangkatan kapal laut dari pelabuhan terdekat—satu jam dari Tapaktuan—yaitu Labuhan Haji ada pada malam Jum’atnya. Ini mefet. Jadi kami harus menyeberang hari Rabu malam dari pelabuhan Singkil. Berarti kami pun kudu berangkat pagi dari Tapaktuan menuju ibu kota Kabupaten Aceh Singkil ini.

Kabupaten Aceh Singkil merupakan kabupaten paling ujung di selatan Provinsi Aceh dan termasuk daerah tertinggal juga. Kami harus menempuh kurang lebih  223 kilometer selama enam jam perjalanan darat dari Tapaktuan menuju Pelabuhan Singkil.

Sepanjang perjalanan menyusuri Kabupaten Aceh Selatan kami disuguhi pemandangan pantai yang menakjubkan, namun memasuki Kabupaten Aceh Singkil selain pemandangan perbukitan yang indah kami juga ditampakkan kerusakan hutan akibat penebangan untuk pembukaan lahan kelapa sawit. Sangat disayangkan.

Selain itu ada beberapa pemandangan yang mirip saat kami melewati daerah di Singkil. Papan nama Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang kami temui di Rimo bentuknya sama dengan yang kami jumpai di Singkil. Sama-sama rusak berat. Saya tak tahu apakah bentuk papan nama seperti itu menjadi tanda ketertinggalan suatu daerah? Allahua’lam bishshawab. Yang pasti dua SPBU tersebut juga sama-sama kumuh.

Tidak ada KPP di Kabupaten Aceh Singkil.  Hanya ada Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP).  Kabupaten Aceh Singkil termasuk ke dalam wilayah kerja KPP Pratama Subulussalam. Kota Subulussalam mulanya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Singkil. Kemudian memekarkan diri menjadi sebuah kota di tahun 2007.

Ingat tentang para pahlawan hebat  DJP yang berkumpul di Lhokseumawe dalam rangka Forum Pelayanan dan KP2KP yang pernah saya tulis sebelumnya? Salah satunya adalah Pak Yusri Hasda. Dialah yang menjadi Kepala KP2KP Aceh Singkil. Kami mampir ke sana sebelum melaut dan menyeberang ke Pulau Simeulue.

Di KP2KP, kami berenam disuguhi kopi khas Aceh Ulee Kareng. Kopi yang biasa dibeli Pak Yusri Hasda di Meulaboh tempat tinggalnya sekarang. Setiap minggu ia pulang Ke Meulaboh menempuh ratusan kilometer selama sembilan jam perjalanan darat. Sudah tiga tahun ia menggawangi KP2KP dan menjalani ritual akhir pekan pulang pergi Singkil-Meulaboh.

Peta Tapaktuan SingkilPeta perjalanan dari Tapaktuan menuju Singkil. (Sumber Maps Google).

Plang SPBUPlang SPBU di Rimo dan Singkil. Hancur lebur seperti itu. (Foto koleksi pribadi).

Masjid SingkilKami singgah dulu di Masjid Baitusshalihin, Pulo Sarok Singkil (Foto Koleksi Pribadi).

KP2KP Aceh SingkilKP2KP Aceh Singkil (Foto Koleksi Pribadi).

Rumah Adat Singkil Rumah Adat Singkil (Foto Koleksi Pribadi).

 KMP SinabangDermaga Pelabuhan Singkil tempat berlabuh KMP Teluk Sinabang (Foto Koleksi Pribadi).

Ini benar-benar perjamuan yang tak main-main. Biasanya kami disuguhi kopi dalam gelas imut, sekarang kami harus minum kopi dari gelas besar dengan volume lebih dari 300 cc. Sebagai penikmat kopi pemula saya sangat menikmati kopi ini. Nikmat sekaligus mengenyangkan padahal sebelumnya kami telah menikmati makan siang di sebuah warung makan dekat dengan rumah adat Singkil, di salah satu sudut kota.

Jam empat sore kami beranjak menuju pelabuhan. Melewati rumah-rumah yang kena tsunami dan tak berpenghuni. Setengah bagian dari rumah itu sampai sekarang masih tenggelam. Kapal Motor Penyeberangan (KMP) yang akan kami naiki dijadwalkan berlayar jam lima sore ini. Kami tak perlu buru-buru karena tiga jam sebelumnya kami sudah membeli tiket penumpang dan mobil. Tiket kelas ekonomi seharga 38 ribu rupiah per orang. Sedangkan tarif tiket kendaraan sebesar 493 ribu rupiah.

Pelabuhan Singkil ini melayani tiga rute perjalanan kapal laut. Dari Singkil menuju Sinabang yang berada di Pulau Simeulue, Gunung Sitoli yang berada di Pulau Nias, dan Pulau Banyak. Tidak setiap hari kapal itu melayani rute tujuan. Karena kapal laut yang ada hanya dua yakni KMP Teluk Sinabang dan Teluk Singkil. KMP Teluk Sinabang inilah yang akan melayarkan kami menyeberangi Samudera Hindia menuju Pulau Simeulue.

Ini hari sudah sore saat kami memasuki kapal. Tapi matahari belumlah tenggelam. Masih tinggi di atas lengkung langit. Seharian perjalanan ini belumlah seberapa. Baru seperdelapannya saja dilewati. Tanda-tanda badai pun jelas tidak ada sama sekali. Langit cerah. Ombak dan angin tenang. Kiranya sudah ditakdirkan hari ini kalau saya tetap akan menyeberang ke Simeulue.

Tak ada keindahan Pantai Tapaktuan dan Gunung Leuser yang akan menghalangi saya pergi ke sana seperti keindahan Taman Musalla dan Sungai Ruknabad yang mampu menghalangi pengembaraan Hafiz Syirazi. Sepertinya tanah air yang baru dua bulan setengah saya tempati rela banget menjauhkan saya pergi dari pelukannya. Apalagi tanah air yang ada di Jekardah sana. Ikhlaaaaaaaas banget kayaknya. Ah, sudahlah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

05 Januari 2014

RIHLAH RIZA #19: JAUH KE MANA-MANA


RIHLAH RIZA #19: JAUH KE MANA-MANA

 

 

Bandara Kualanamu sudah menjadi titik-titik cahaya di bawah sana. Tiga orang dalam satu baris kursi pesawat Airbus A320 itu asyik membincangkan penempatan mereka. Terutama tentang sistem terbaru mutasi dan promosi di DJP. “Kita beruntung ditempatin di Medan. Deket ke mana-mana. Lebih enakan di sini daripada Aceh,” kata salah satu dari tiga orang itu. Mereka tak tahu satu orang yang duduk di belakang kursi mereka, ditempatkan di provinsi yang tak diinginkan mereka.              

**

Panglima Polim, tepatnya di bulan Desember 1903, datang ke Lhokseumawe untuk menyerah kepada Belanda.  Itu pun karena Belanda secara licik menangkap dan menyandera saudara-saudara terdekatnya. Ancamannya adalah membuang mereka dari Tanah Aceh. Ancaman sama yang pernah sukses dilakukan sebelumnya kepada Sang Sultan Muhammad Daud Syah. Cara ini efektif juga melemahkan perlawanan Panglima Polim. Cara keji Belanda:  menjauhkan pejuang dari homeland dan memisahkannya dari orang-orang yang dicintainya.

Lalu 110 tahun kemudian, giliran saya tiba di kota yang sama. Saya tidak pernah menyangka bisa berkunjung ke kota terbesar kedua di Aceh, Lhokseumawe ini. Saya seperti terpana pada ramai dan besarnya kota ini dibandingkan Tapaktuan.  Jalanan Banda Aceh menuju kota penghasil gas itu juga lebih lebar daripada jalanan Banda Aceh menuju Tapaktuan. Plus lebih hidup. Serupa Pantura Jawa minus tarlingnya.

Setelah mengikuti Forum Penagihan Kantor Wilayah (Kanwil) DJP yang berakhir sore itu di suatu hotel di sudut Banda Aceh, saya langsung dijemput oleh Mas Andy Purnomo untuk bareng menuju Lhokseumawe. Butuh waktu enam jam perjalanan darat menuju salah satu kota di pantai timur Aceh ini. Belum termasuk istirahat dua kali. Salah satunya makan malam di rumah makan terkenal di Sigli yang menyediakan ayam penyetnya.

Perjalanan berjalan lancar walaupun hujan mengiringi kami. Mobil yang dikemudikan teman kami, Rudy Zasmana, sampai di Lhokseumawe hampir jam satu malam.  Saya bersama Mas Andy menginap di hotel bintang tiga bernama Hotel Lido Graha. Namanya sama dengan suatu daerah wisata di Jawa Barat, di perbatasan antara Bogor dan Sukabumi.

Hotelnya setengah tua. Seperti hotel di tahun 80-an. Memasuki kamarnya pun tercium aroma lama. Hotel ini dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Kabupaten ini dulu ibu kotanya Lhokseumawe, namun setelah Lhokseumawe dijadikan kota otonom maka ibu kotanya dipindahkan ke Lhoksukon.

Kalau di Aceh seringkali kita dengar nama daerah yang diawali atau diakhiri dengan kata Lhok. Seperti dua daerah yang disebut barusan. Ada juga Lhok Seumira, sebuah gampong yang ada di Bireuen atau  Meusale Lhok, salah satu gampong  di Kabupaten Aceh Besar. Di Tapaktuan ada gampong yang namanya Lhok Bengkuang dan Lhok Rukam. Kata lhok ini berasal dari bahasa Aceh yang artinya teluk, dalam, atau palung laut. Memang betul, dua daerah yang saya sebutkan terakhir itu lokasinya berada di teluk.

Saya harus segera beristirahat. Pagi-pagi saya kudu berangkat ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Lhokseumawe karena acaranya akan diselenggarakan di sana. Setelah bersih-bersih, minum vitamin, menarik selimut,  mematikan lampu, baca doa, mata saya pun langsung terpejam.  Terjerembab dalam mimpi. Mimpi yang rumit. Tak jelas.

Kali ini saya diminta bantuannya oleh Mas Andy Purnomo untuk berbagi ilmu kepenulisan kepada peserta Forum Pelayanan dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) se-Kanwil DJP Aceh. Mereka adalah para eselon empat yang terdiri dari tujuh Kepala Seksi Pelayanan dan empat belas Kepala KP2KP.

Forum ini diselenggarakan selama dua hari. Kepala Kanwil DJP Aceh, Bapak Mukhtar, memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara itu. Setengah acara di hari pertama dijadwalkan untuk pemaparan permasalahan pelayanan kantor masing-masing, setengah acara berikutnya pelatihan menulis artikel. Di hari kedua, para peserta diajak untuk menyaksikan penandatanganan memorandum of understanding antara Kanwil DJP Aceh dengan Universitas Malikussaleh.

 ???????????????????????????????

Salah satu sesi di acara Forum Pelayanan (Foto Koleksi Pribadi)

Yang saya lakukan dalam pelatihan itu sebagian besarnya hanyalah menumbuhkan motivasi. Selebihnya terkait teknis penulisan artikel. Dengan kata lain softskill lebih saya utamakan daripada hardskill di sesi pelatihan itu. Salah satu softskill itu adalah motivasi.  Motivasi penting buat menulis. Kalau tak ada motivasi jelas tak akan bisa. Bagi saya menulis itu gampang dan bisa dilakukan oleh siapa saja asal punya dua syarat ini: tekad dan selalu menulis. Saya saja bisa mengapa Anda tidak bisa? Itu yang selalu saya katakan kepada para peserta pelatihan.

Tekad dan latihan terus menerus itu perlu, penting, dan wajib. Teknisnya senantiasa berkembang mengikuti kuantitas karya yang dihasilkan. Bagi seorang penulis, bahkan saya yang pemula ini, setiap hari adalah momentum belajar untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Setiap proses ‘penciptaan’ tulisan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki karya. Bahkan satu ilmu paling dasar dalam menulis pun baru saya ketahui pekan-pekan ini saja. Artinya? Belajar tak akan pernah berhenti walaupun sudah banyak tulisan yang dibuat.

Tips-tips menulis artikel sudah saya berikan dalam pelatihan itu. Selesainya, tinggal kemauan besar dari para peserta untuk mempraktikkan semua yang didapat. Jikalau masih ada hambatan seperti mental block—contohnya menulis itu butuh mood, menulis itu hanya buat orang yang punya bakat, tulisannya jelek—yang menghalangi untuk menulis, yakinlah bahwa semua mental block hasil dari otak kiri itu akan hilang hanya dengan cara menulis menggunakan otak kanan. Abaikan, jangan pedulikan apa pun ketika memulai menulis.  Tulis saja semua yang dirasa, dilihat, didengar, dan diraba. Tetaplah semangat. Yakinlah Anda bisa.

Dari Lhokseumawe saya kembali ke Banda Aceh dengan menggunakan travel L300 sore itu. Dengan menempuh rute yang sama saat berangkat. Sebagiannya akan menyusuri pegunungan Seulawah Agam. Ingat Seulawah tentunya ingat kepada sebuah pesawat angkut pertama yang dibeli dengan menggunakan uang sumbangan rakyat Aceh saat awal-awal berdirinya Republik Indonesia ini: Dakota RI-001 Seulawah. Kalau mau melihat asli dari pesawat ini datang saja ke Taman Mini Indonesia Indah, sedangkan untuk melihat replikanya bisa dilihat di Blang Padang, Banda Aceh.

Pada akhirnya, di tepian kaca jendela L300, sambil memandang keluar menembus kepekatan malam saya merenung. Semuanya selesai dikerjakan dan saya bahagia meninggalkan Lhokseumawe di belakang. Bahagia karena sudah berbagi sedikit pengetahuan yang dipunya kepada orang-orang hebat di garis depan pelayanan DJP di provinsi yang “jauh ke mana-mana” ini: Kepala Seksi Pelayanan dan Kepala KP2KP se-Kanwil DJP Aceh. Juga bisa bertemu dengan anggota Forum Shalahuddin yang sebelumnya saya mengira ia tidak berkantor di KPP Pratama Lhokseumawe. Semoga semua itu bermanfaat.

Kalau saja saya tidak ditempatkan di Tapaktuan atau provinsi yang jauh ke mana-mana ini sepertinya saya tidak akan pernah bisa berkunjung ke Lhokseumawe. Sepertinya pula saya tidak akan pernah singgah di suatu daerah, tempat saya membuat, menyunting, dan menyelesaikan akhir dari tulisan ini: Pekanbaru. Di sebuah bandara. Bandara Sultan Syarif Kasim II.

Plang Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II (Foto Koleksi Pribadi)

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Pekanbaru, Riau

08:29 29 Desember 2012

 

 

RIHLAH RIZA #18: NOTHING’S IMPOSSIBLE


RIHLAH RIZA #18: NOTHING’S IMPOSSIBLE

 

 

dt.common.streams.StreamServer

Ilustrasi Pohon Tumbang dari gazettenet.com

 

Hujan deras mengguyur sebuah kota di India. Jalanan lumayan padat saat itu. Sampai kemudian ada pohon tumbang jatuh menghalangi jalan. Untung pohon itu tidak menimpa apa pun. Walaupun jalanan ramai, tak ada satu pun yang bergerak untuk menggesernya. Sama sekali tidak ada.  Lalu muncul anak kecil yang mendorong pohon itu. Raut muka meringis sungguh-sungguh tertera di wajahnya karena tenaga yang berusaha ia keluarkan.

Ukuran tubuhnya saja jelas tidak mungkin akan bisa menggeser satu sentimeter pun. Ia memang tak bisa menggesernya. Tapi ia punya laku. Ia punya tekad. Laku dan tekad itulah yang membuang egoisme orang kota dan menggerakkan orang dewasa yang punya nalar itu untuk sama-sama turun membantunya. Laki dan perempuan, tua dan muda, semua turut menggeser tumbangan pohon di tengah hujan yang tak mau berhenti. Akhirnya mereka berhasil, hujan pun berhenti tiba-tiba, langit tersibak, matahari muncul, dan jalanan pun lancar kembali.

**

Hari ahad pekan itu saya harus kembali ke Tapaktuan dari Jakarta. Sesampainya di Medan petang hari. Dari Medan biasanya saya naik travel. Tapi kali ini saya diajak ikut rombongan teman yang tinggal di kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Jalanan sepanjang ratusan kilometer telah kami lalui. Di tengah perjalanan mobil yang kami tumpangi berenam ini tiba-tiba harus berhenti mendadak. Syukur, kecepatannya masih bisa dikendalikan. Kami merayakan sepi yang menyengat ketika mesin mobil dimatikan di tengah hutan seperti ini. Persis di depan kami, dalam jarak yang tidak terlalu jauh, sesuatu menghalangi jalan. Sepintas seperti susunan batu yang disemen dalam kepekatan dini hari.

Ternyata itu pohon besar. Tidak ada orang di sana seperti yang sudah-sudah sebagai modus pemalakan. Menebang dahan pohon, menaruhnya di tengah jalan, dan meminta uang kepada pengguna jalan di kegelapan malam. Sekarang, ini pohon yang sebenar-benarnya tumbang.

Tidak ada yang lain selain kami dalam beberapa saat. Kami sudah meninggalkan jauh rombongan mobil di belakang. Di depan kami, dari arah yang berlawanan, di balik pohon tumbang pun belum ada mobil juga. Hanya kami sendirian waktu itu.

Kami turun. Kami terpana. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala. Bagaimana caranya kami melewati halangan ini? Kami harus segera sampai di Tapaktuan sedangkan perjalanan masih jauh, masih beberapa jam lagi.  Tidak ada jalan memutar menuju daerah di depan kami, Kota Subulussalam. Ini satu-satunya jalan dari Medan menuju Tapaktuan.

Sebelumnya kami pun harus melewati jalan sempit yang berkelok-kelok, gelap, dan penuh kabut. Kabutnya tebal sehingga wiper mobil kami harus dinyalakan agar tidak ada air yang menghalangi pandangan. Jarak pandang pun terbatas. Teman kami, Dony Abdillah, yang memegang kemudi harus ekstra hati-hati. Pengalaman berbulan-bulan membawa mobil Medan-Tapaktuan pulang pergi di akhir pekan cukup menambah kewaspadaannya.

Pohon ini tumbang dari sisi kanan kami. Tebing dari sebuah pegunungan. Di sebelah kiri kami jurang. Dasarnya tidak tahu seberapa dalamnya. Gelap. Sepertinya pohon ini tumbang barusan saja. Karena jarak kami dengan mobil yang menyusul kami tak seberapa lama. Mobil itu melewati bagian jalan ini dan tepat beberapa detik atau menit kemudian pohon itu rubuh. Atau sebenarnya mereka jatuh ke dalam jurang itu, terdorong reruntuhan pohon. Kami tak tahu.

Dari arah yang berlawanan mulai muncul satu mobil. Supir dan penumpangnya turun. Mereka melihat apa yang telah menghalangi perjalanannya. Setelah mengetahui kondisi pohon yang jatuh ia bisa langsung ambil kesimpulan. Supir mobil sana di tengah keterpanaan kami yang begitu lama langsung ambil insiatif untuk menyingkirkan satu per satu. Saya pun langsung ambil bagian. Begitu pula teman-teman yang lain. Ini langkah yang tepat daripada kami hanya berdiam diri menunggu nasib selanjutnya, menanti bentuk pertolongan lain yang kami tak tahu seperti apa.

Kami harus patahkan ranting-rantingnya terlebih dahulu sebelum menyingkirkan batang pohon yang besar itu. Pohon ini ternyata pohon tua dan sudah lapuk. Kami kikis dengan tangan kosong semua yang menghalangi jalan. Tanah, dahan kecil, ranting, dan daun-daun kami terjunkan ke sisi kiri, ke jurang. Suara benda jatuh yang menyentuh dasar jurang terdengar lama sejak digelindingkan dari atas. Tanda jurangnya dalam.

Yang kami khawatirkan pada saat proses pembersihan itu adalah masih adanya reruntuhan di atas yang belum semuanya turun. Jangan-jangan ketika kami menarik ranting-ranting itu lalu longsoran tanahnya menghunjam ke bawah dan menimpa kami. Tapi kami tepis semua pikiran buruk itu. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Semua patahan dan longsoran yang bisa kami buang dengan alat ala kadarnya dapat kami singkirkan. Tinggal batang pohonnya.

Tak lama kemudian tempat itu mulai hidup. Mobil dari arah yang sama dan berlawanan sudah mulai menumpuk.  Juga bus besar. Ini sangat membantu kami. Artinya akan ada banyak tenaga tambahan untuk menyingkirkan halangan yang masih teronggok di tengah jalan.

Beberapa orang sudah mulai menggulingkan batang pohon yang besar itu. Pohon ini harus digulingkan ke jurang agar terbuka jalan untuk semua kendaraan dari dua arah.  Kalau Jika hanya digeser ke sisi kanan, maka hanya memberikan ruang untuk mobil berukuran sedang saja. Bus dan truk jelas tak akan bisa melewatinya. Tapi menggulingkan pohon itu ternyata sulit, karena di akarnya masih banyak tanah dan potongan dahan-dahan yang menumpuk. Pohon hanya bergeser sedikit.

“Itu harus disingkirkan satu per satu,” kata saya kepada mereka.

“Kapan selesainya?” kata salah satu dari mereka meruntuhkan harapan.

Bagi saya perkataan itu perkataan negatif. Saya yakin kalau satu demi satu, sedikit demi sedikit, bagian-bagian dari tanah dan tumpukan itu dibuang ke jurang—tidak sekadar dipinggirkan—maka lama kelamaan akan habis juga. Buktinya tidak akan mungkin di hadapan kami tinggal batang pohon itu saja jika kami tidak menyingkirkan satu demi satu semua ranting dan dahan-dahan sebelumnya.

Juga perkataan itu mengandung keegoisan tingkat tinggi karena hanya memikirkan kepentingan mobil berukuran sedang saja. Bus jelas tidak dipikirkan. Tapi apa mau dikata karena memang belum semua penumpang bus turun untuk turut membantu. Kalau semua turun, insya Allah akan selesai dalam waktu yang tidak lama. Tidak ada yang mustahil. Seperti yang Oz bilang dalam OZ The Great And Powerful: “Nothing’s impossible if you just put your mind to it.”

Tapi mereka bergeming. Juga penumpang bus tidak ada yang turun. Ya sudah, kami pun mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Kami berenam berburu dengan waktu. Maka dengan bantuan tali, dorongan, daya ungkit dari potongan kayu di bawah pohon akhirnya pohon besar itu bisa digeser ke sisi kanan. Jalan terbuka pas untuk mobil pribadi. Bus dan truk tidak bisa lewat karena sebelah kanan jurang menganga gelap.

Setelah terbuka jalan, mobil-mobil kecil pun bergegas melaluinya dengan kesetanan. Seperti air lepas dari bendungan. Bahkan mobil kami yang paling depan pun disusul oleh banyak mobil dari antrian paling belakang. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi saat itu. Saya tak tahu nasib para penumpang bus dan truk itu selanjutnya.

Hambatan seperti tanah longsor adalah salah satu risiko yang harus dilalui oleh para pelaju dari Kota Medan menuju Tapaktuan selain dipalak, mobil masuk sungai, masuk jurang, ban kempis, dan mesin mogok. Kami tidak akan pernah menghendaki kejadian itu menimpa kami tentunya.

Kejadian di sana memang ada laku dan tekad. Ikhtiar untuk berusaha menyingkirkan pohon. Laku dan tekad dari segelintir kami. Tapi itu tidak mampu menggerakkan banyak orang untuk turun bareng menyingkirkan segala. Laku dan tekad yang dipertunjukkan oleh anak kecil di atas cuma ada di televisi. Iklan sebuah minuman. Tidak menjadi nyata di sini. Di pinggiran hutan belantara ini. Maka nothing’s impossible pun tegas dibekap kabut dan benar-benar menjadi mustahil. Dini hari itu kami merayakan ketidakmungkinan dalam pikiran kami.

Beberapa jam kemudian kami tiba di Kota Tapaktuan. Jam enam pagi kota kecil ini masih sepi. Matahari pun belum bangun. Kami kemudian sukses menaruh jari di mesin finger print KPP Pratama Tapaktuan. Senin ini kami tidak terlambat. Itu berarti penghasilan kami tidak dipotong. Alhamdulillah.

Jika ada yang mengatakan kalau tidak mau dipotong ya jangan terlambat. Jika tidak mau terlambat berarti jalan dari Kota Medannya Minggu siang saja, jangan malam Seninnya. Coba yang berkata demikian untuk ditugaskan terlebih dahulu di sini.  Di daerah yang peringatan hari jadinya yang  ke-68 pada tanggal 28 Desember 2013 ini akan dihadiri oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Semata bagi kami kebersamaan dengan keluarga menjadi saat-saat yang tak bisa dinilai dengan materi.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dini hari di tengah debur ombak

00:35  24 Desember 2013

 

 

 

RIHLAH RIZA #17: GEN SENGKUNI


RIHLAH RIZA #17: GEN SENGKUNI

Buat apa sejarah bagi masa sekarang? Karena pada pandangan modern yang semakin pragmatis sejarah itu tak bisa mengenyangkan. Sejarah itu percuma. Tapi ini salah. Karena—mengutip Anis Matta dalam Politik dan Sejarah—sejarah bukan saja metode untuk memahami masa lalu dan masa kini, melainkan juga menjadi jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap berharap bahwa esok hari cerita hidup kita akan lebih baik.

*

Ada yang tersisa saat meninggalkan Kerkhof Peutjoet. Saat membaca sebuah pamflet dalam sebuah papan pengumuman berkaca. Letaknya berada di luar pintu gerbang. Berada di halaman samping jalan utama. Pamfletnya berisi informasi tentang Kerkhof.

Nama Kherkof berasal dari Bahasa Belanda, yang berarti halaman gereja atau kuburan. Pintu gerbang ini pada awalnya dibangun tahun 1893 M dan terbuat dari batu bata. Di atas pintu tertulis: Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang (Teks ini ditulis juga dalam bahasa Arab, Melayu, dan huruf Jawa).

Pada dinding terdapat deretan nama-nama pejuang yang dikubur di dalamnya beserta tahun meninggalnya. Semuanya berjumlah +/- 2.200 nama dan didominasi oleh tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Ada yang ganjil dari pamflet yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh ini. Di pamfletnya itu disebutkan “nama-nama pejuang” padahal yang dikuburkan di sana jelas-jelas para serdadu Belanda yang menembak, membunuh, dan membantai rakyat Aceh serta membakar Masjid Raya Baiturrahman. Lalu mengapa disebut pejuang?

Apa karena kuburan militer itu dirawat oleh yayasan milik Belanda yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh lalu melupakan posisi masing-masing pada saat sejarah ditulis dengan tinta darahnya? Apatah lagi yang mengeluarkan pamflet tersebut salah satu dinas di Kota Banda Aceh yang dananya berasal dari pajak yang dikumpulkan rakyat Aceh.

Lain soal kalau teks itu ada di dalam sebuah prasasti yang dibuat oleh Belanda sendiri atau ditulis di atas batu nisan mereka. Diukir dengan judul meninggal dengan tenang kek, dengan sekarat kek, dengan gegap gempita dan berdarah-darah kek, itu terserah yang di bawah dan yang punya batu nisan.

Apakah kita lupa tentang sebuah tragedi pembantaian yang dilakukan Belanda di Kuta Reh? Ribuan orang dibantai termasuk perempuan dan anak-anak di dalamnya. Ah, terlalu panjang menguraikan kebiadaban Van Daalen sebagai Gubernur Militer Aceh dalam ekspedisinya di Tanah Gayo dan Alas pada tahun 1904. Ingat dengan apa yang pernah saya tulis terdahulu di Bosch dan Kopi? Setelah sukses pembantaian tersebut Belanda pun mulai menanam kopi di Tanah Gayo. Sampai kini kopi Gayo menjadi komoditas ekspor yang terkenal di dunia karena memiliki kenikmatan dan aroma yang khas.

Plang Kerkhof Peutjoet (Foto koleksi pribadi).


Papan informasi yang berisi pamflet tentang Kerkhof. (Foto koleksi pribadi).

Lihat bocah kecil dalam foto itu yang luput dari pembantaian tentara marsose jahanam. (foto diambil dari sini)

Sambil berjalan meninggalkan Kerkhof Peutjoet menuju museum tsunami yang berada di sebelahnya saya sampai berpikir buat apa saya memikirkan kesalahan “kecil” dalam pamflet itu. Tak ada gunanya. Tak ada kaitannya dengan tugas saya sebagai pegawai pajak. Tak ada. Akankah memikirkan segala tentang sejarah itu akan menambah pundi-pundi kekayaan kita—itu frasa zaman kerajaan lampau di saat mereka masih menyimpan emas dalam pundi-pundi, dalam kondisi kekinian baca saja itu menjadi sisi debit rekening bank kita.

Tapi di saat menuliskan kembali perjalanan batin ke kuburan Belanda, juga setelah membaca narasi Anis Matta tentang kesejarahan maka saya pun menata ulang tentang pragmatisme sebatas perut itu.

Sejarah adalah cara membaca masa depan. Sejarah menjadi pedoman untuk masa yang akan datang bahwa tidak akan terulang lagi kesalahan dan kesedihan yang sama. Sejarah Aceh adalah sejarah perlawanan tanpa menyerah atas sebuah ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dipertunjukkan dari sebuah bangsa kaphe yang tidak pandai berperang karena membunuh anak-anak, perempuan, dan orang yang sudah uzur. Sejarah tentang keberanian, menjunjung kemuliaan, dan cinta syahid yang ditunjukkan laki-laki atau perempuannya. Kemudian diteruskan kepada generasi setelahnya.

Ada gen kepahlawanan dalam kromosom anak keturunan mereka. Bukan gen sengkuni. Bukan sifat seorang Aceh menjilat, berkhianat, cinta kepada perpecahan, dan mudah menyerah tanpa usaha. Kalaupun demikian adanya ia keturunan dari karakter uleebalang—bangsawan bawahan sultan yang bekerja sama dengan Belanda. Uleebalang yang menjadi musuh sultan, ulama, dan rakyat Aceh.

Sejarah telah mengajarkan saya untuk tidak bertindak seperti uleebalang yang zalim, menarik pajak semena-mena bahkan menilep zakat untuk kepentingan sendiri. Sejarah telah benar-benar menambah pundi-pundi kekayaan saya, tepatnya kekayaan batin saya. Benarlah apa yang dikatakan Anis Matta, “Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini walaupun buah kebajikan itu akan dipetik mereka yang baru akan lahir esok hari.”

**

Kami tiba di pos penjagaan museum tsunami. Tertempel di kacanya jadwal buka museum. Ternyata kami datang terlambat. Jam buka pagi telah selesai. Museum akan dibuka kembali pada pukul dua siang. Masih satu jam lagi kami harus menunggu. Saya putuskan menuju hotel untuk check in. Untuk yang kedua kalinya saya gagal mengunjungi museum ini. Tapi tidaklah mengapa. Masih ada waktu lain untuk kembali. Seperti tekad Sultan Agung yang ingin kembali ke Batavia setelah gagal untuk kedua kali menaklukkannya. Tekad yang tidak pernah terwujud. Pada akhirnya.

Saya ingin kembali ke Banda Aceh. Pun, saya ingin kembali ke Batavia. Sejarah telah membuktikan. Tidak akan lama di sini. Asal semua itu atas kehendakNya. Siapa tahu? Bukankah sejarah adalah jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap berharap? Membaca sejarah adalah membaca harapan. Membaca harapan adalah laku menjaga kewarasan. Kewarasan di Tapaktuan ini. Agar tak menjadi Sengkuni.

Terimong geunaseh.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 Desember 2013

RIHLAH RIZA #16: DARI KERKHOF KE KERKHOF


RIHLAH RIZA #16: DARI KERKHOF KE KERKHOF

 

Melihatnya, ini menjelma diorama. Sebuah bahtera yang berlayar. Bahtera besar. Bahtera Nuh. Berlayar tidaklah di lautan. Melainkan di kuburan. Raga saya berada di sini. Pikiran saya bertamasya. Bahkan terperangkap dalam sebuah kesan. Persis seperti saat membaca satu kalimat dalam sebuah naskah cerpen yang disodorkan kepada saya, satir dan surealisme. “Karena kau telah memelihara anak kembarku: luka dan perih.”

**

Lebih baik pilih mana menempuh perjalanan darat selama delapan jam atau naik pesawat kecil dan jarak 500 km lebih itu ditempuh cukup dengan 65 menit saja? Tentu saya akan memilih yang terakhir. Juga karena tidak ada transportasi jarak jauh di siang hari seperti di Jawa. Semuanya bergerak setelah azan isya berkumandang. Kalau pun ada angkutan di siang hari itu pun harus ngompreng dari kota ke kota. Masalah harga, semuanya ada harga yang harus dibayar atas sebuah efisiensi dan kenyamanan.

Pesawat kecil itulah yang mengantarkan saya ke Banda Aceh dari Tapaktuan. Saya menunggu sebentar di Bandara Internasional Iskandar Muda yang masih sepi. Tak lama kemudian Rachmad Fibrian datang dengan kijangnya menjemput saya. Memet, panggilan akrabnya, adalah pelaksana di Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan. Nanti dia yang akan mendampingi saya di Forum Penagihan se-Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Aceh. Selain itu ada Fahrul Hady, jurusita KPP Pratama Tapaktuan yang juga ikut dalam forum tersebut.

Memet mengajak saya untuk sarapan dan ngupi di kedai kopi asli Aceh, kopi Beurawe. Di jam sepuluh pagi itu, kedai masih dipenuhi dengan para pengunjung. “Jam ramainya memang di siang hari sesuai jam buka warung. Kalau malam malah tutup,” jelas Memet.

Antara ada dan tiada, perut saya sudah mulai merajuk. Makanan ringan di pesawat masih kurang nendang rupanya. Mungkin perlu makanan yang nendangnya selevel tendangan David Eric Hirst. Kecepatan tendangannya bisa mencapai 186 km/jam saat bermain untuk Sheffield Wednesday di tahun 1996. Akhirnya saya memesan nasi gurih dengan dendeng sapinya. Ditambah satu gelas kopi Beurawe tentunya.

“Waktu check-in hotelnya masih lama, saya punya niat untuk mampir ke museum tsunami. Bisa nganterin gak Met?”

“Siap, Pak.”

Rasa penasaran terhadap museum itu kiranya akan tertuntaskan hari ini. Waktu kunjungan pertama ke Banda Aceh saat pelantikan dulu saya tidak sempat mampir ke museum itu. Tak tahu mengapa daya tariknya begitu kuat. Ini seperti obsesif kompulsif. Tapi tak parah-parah amatlah. Entah karena desain bangunannya yang menarik, isi museum itu yang kata banyak orang menyalakan elan kita agar tak putus asa terhadap takdir, atau karena latar belakang semuanya itu berupa kiamat kecil bernama tsunami.

Setelah telepon sana telepon sini dikarenakan ada perubahan jadwal dan tempat untuk kehadiran saya di Forum Pelayanan setelah Forum Penagihan selesai, saya dan Memet pun angkat kaki dari kedai itu. Kami segera menuju museum. Tak lama kami sudah sampai di sana. Memet mengarahkan mobil ke lokasi sebelah. Halamannya luas dan cocok buat memarkirkan mobil kami. Dan inilah takdir saya hari itu.

Ternyata halaman itu adalah halaman kuburan militer Belanda yang disebut juga dengan Kerkhof Peutjoet. Di sinilah tempat dikuburkannya dua orang yang sempat saya sebutkan di tulisan terdahulu. Mereka adalah Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler dan Meurah Pupok. Kohler adalah jenderal Belanda yang tewas tertembak prajurit Kesultanan Aceh pada tanggal 14 April 1873 setelah membakar Masjid Raya Baiturrahman.

Sedangkan Meurah Pupok adalah adik Sultan Iskandar Muda yang dihukum mati oleh kakaknya karena telah berzinah dengan istri perwira. Dari literatur yang saya dapatkan Meurah Pupok merupakan adik sultan, tetapi dalam papan petunjuk yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Aceh di tahun 2005 disebutkan kalau Meurah Pupok adalah putra sang sultan sendiri. Peristiwa itulah yang mengenalkan kalimat kuat sang sultan: “Mate anak meupat jirat, gadoh adat pat tamita. Mati anak ada makamnya, mati hukum ke mana akan dicari keadilan.”

Saya tidak berniat mengunjungi kuburan militer Belanda ini. Pun karena saya tak tahu ada lokasi itu di samping museum tsunami. Ketidaksengajaan yang malah membuat saya kaya akan pengalaman tempat-tempat bersejarah.

Kuburan militer ini berpintu gerbang besar. Di atas pintu gerbangnya terdapat teks dalam berbagai bahasa. Di dinding-dinding sampingnya terdapat marmer bertuliskan nama-nama prajurit dari berbagai daerah pertempuran yang dikuburkan di sana. Mulai dari pertempuran awal semisal pertempuran di Masjid Raya yang terjadi di tahun 1873 sampai yang terakhir. Marmer-marmer berisi nama itu pun memenuhi dinding lorong pintu gerbang kuburan hingga di sebelah dalam pintu gerbang.

Tidak hanya prajurit dengan nama-nama londo yang tercantum dalam marmer prasasti di sana, ada juga prajurit dengan nama Ambon, Jawa, dan Manado. Prajurit-prajurit bernama pribumi tersebut adalah bagian dari prajurit marsose Belanda.

Setelah memasuki pintu gerbang kita akan diperlihatkan hamparan tanah luas berisi makam-makam dengan batu nisannya yang besar-besar. Bahkan ada yang paling besarnya di ujung jalan utama pintu gerbang. Namun sebelum ke ujungnya, selurusan dengan pintu gerbang, terdapat tugu besar berwarna putih yang sebenarnya adalah batu nisan dari Kohler.

Di situlah Kohler dikubur. Sebenarnya setelah tewas, mayat Kohler dibawa ke Batavia. Lalu dikuburkan di Kerkhof Laan, Pemakaman Umum Kebon Jahe, Kober, Tanah Abang. Karena ada perkembangan kota Jakarta makam tersebut digusur dan dipindahkan ke kuburan militer Belanda di Kerkhof Peutjoet ini.

“Simbol ular gigit buntutnya sendiri ini berarti simbol apa?” tanya Memet melihat relief yang ada pada salah satu sisi batu nisan Kohler. “Ini pasti ada artinya.” Saya tak menjawabnya karena saya masih mengamati setiap detilnya. Juga karena sama-sama tak tahu maksud dari simbol itu.

Di setiap sudut batu nisan itu diukir dengan tiang berbentuk obor yang terbalik dan dicat warna emas. Di setiap sisinya, di bagian atas, terdapat simbol bintang. Juga ada keterangan-keterangan dalam bahasa Belanda yang menerangkan tanggal kematiannya di Masjid Raya. Keterangan itu antara lain tanggal dikuburkannya di Kerkhof ini yaitu 19 Mei 1978. Kemudian ada dua simbol ular menggigit buntutnya sendiri. Satu simbol berada tepat di tengah salah satu sisi nisan dengan warna cat biru dan hitam. Satu lagi di sisi yang lain dengan bentuk yang lebih kecil dan tanpa warna.

 

Gerbang Utama Kerkhof. Dilihat dari sisi dalam. (Foto koleksi pribadi).

 

Prasasti di depan pintu gerbang. Berisi nama-nama prajurit Belanda yang tewas dalam pertempuran. Salah satunya di Missigit Raiya (Foto koleksi pribadi).

Hamparan kuburan di Kerkhoff (foto koleksi pribadi).

 

Jalan utama Kerkhof (Foto koleksi pribadi).

 

Batu nisan Kohler. Lihat simbolnya. (Foto koleksi pribadi).

 

Ouroboros di Batu Nisan Kohler (Foto koleksi pribadi).

 

Jalanan rindang di kerkhof (foto koleksi pribadi).

 

Makam Meurah Pupok (Foto koleksi pribadi)

 

 

Baru setelah kunjungan itu saya mengetahui arti simbol tersebut dari apa yang ditulis oleh Rizki Ridyasmara. Menurut Rizki, Kerkhof Laan yang di Tanah Abang itu berubah nama menjadi Museum Taman Prasasti. Di sana terdapat prasasti batu nisan Kohler tempat tulang belulangnya dikubur sebelum dipindah ke Banda Aceh. Persis sama dengan apa yang ada di Kerkhof Peutjoet. Bedanya pada warna dan sedikit ornamen nisannya.

Tidak ada warna emas dan biru pada prasasti Kober ini. Prasasti dibiarkan seperti warna khas batu alam. Bentuk bintang yang tercetak adalah bintang david, ini berarti simbol bahwa orang yang dimakamkan adalah orang yahudi. Sedangkan simbol ular gigit ekornya sendiri yang dikenal dengan istilah Ouroboros, menurut Rizki, termasuk simbol setan yang berasal dari kelompok Brotherhood of Snake. Ouroboros ini juga merupakan simbol yang dipakai oleh Freemasonry. Dengan kata lain Kohler ini bukan Yahudi sembarangan.

Kami menyusuri jalanan setapak yang rindang dengan pepohonan untuk melihat-lihat kuburan prajurit Belanda lainnya. Berjalan di kompleks pekuburan ini seperti berjalan di taman kota saking terawatnya. Tidak terasa aroma mistisnya di siang bolong itu. Tidak ada tuh yang namanya angin kencang berhembus tiba-tiba, pepohonan yang bergoyang dahan dan rantingnya, desau angin yang keras, langit yang mendadak menghitam, atau sesuatu yang mengintip kami dari kejauhan di balik batu nisan. Tidak ada. Tidak. Itu hanya ada di film.

Kemudian sampailah kami pada sebuah area pekuburan yang diberi pagar khusus. Di luar pagar terdapat tiga plang yang memberikan informasi tentang siapa yang dikubur di tempat itu. Di dalamnya terdapat pohon besar. Kelebatannya menaungi dua makam yang ada di sana. Dari bentuk makamnya sudah jelas itu bukan makam orang Belanda. Ini makam orang Islam. Batu nisannya dibalut dengan kain putih. Kuburan itulah kuburan Meurah Pupok. Sedangkan kuburan lain dengan nisan tanpa balutan kain putih berukuran lebih kecil.

Sungguh saya tak pernah menyangka bahwa saya akan hadir di tempat ini. Tak menyangka pula kalau kuburan Meurah Pupok itu ada. Karena saya mengira sebelumnya bahwa Meurah Pupok itu hanyalah sekadar cameo dalam sebuah fragmen sejarah Iskandar Muda. Di masa itu ia pendosa layak dilupakan. Lalu buat apa lestari jejaknya hingga saat ini. Ternyata ia ada. Dalam kuburan tentunya. Beserta ceritanya yang hitam.

Setelah berlama-lama di sana kami pun sadar bahwa tujuan kami bukanlah tempat itu, melainkan museum tsunami. Kami pun bergegas keluar. Tapi di saat menyusuri jalanan menuju pintu gerbang itu saya tersentak melihat kuburan yang berserakan itu dengan latar belakang museum tsunami dari kejauhan. Ini menjelma diorama. Sebuah bahtera yang berlayar. Bahtera besar. Bahtera Nuh. Berlayar tidaklah di lautan. Melainkan di kuburan.

Sitor Situmorang mendadak singgah di kepala saya dan bersajak “Malam Lebaran” dengan satu kalimatnya yang terkenal: “Bulan di atas kuburan”. Saat itu Sitor kemalaman dan kesasar setelah gagal berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Ia melewati sebuah tempat yang dipenuhi dengan pohon-pohon tua, rimbun, dan dikelilingi oleh tembok. Ia penasaran ingin melihat apa yang ada di balik tembok itu. Lalu ia mengintip. Ternyata pekuburan orang eropa berwarna putih penuh salib yang tertimpa cahaya bulan di sela-sela dayangan dedaunan pepohonan. Pikirannya terperangkap dalam sebuah tamasya penuh kesan. Lalu tertulislah kata-kata itu. Entah mengapa feeling saya menyatakan-walau tidak disebut Sitor secara lengkap—bahwa tempat pekuburan itu adalah Kerkhof Laan, Kober, Tanah Abang.

Maka bolehlah saya juga membuatnya, siang itu, saat saya bertamasya raga, saat pikiran saya terperangkap kesan di sebuah Kerkhof Peutjoet, sebuah sajak berjuduk Siang Berisik.

Siang Berisik

Berlayar di atas kuburan.

Sudah cukup.

Berlayar di atas kuburan. (Foto koleksi pribadi)

 

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Desember 2013

 

RIHLAH RIZA #15: BERAPA JUGUN IANFU?


RIHLAH RIZA #15: BERAPA JUGUN IANFU?

Selain sebagai pegiat LSM lingkungan di Conservation International, bintang Hollywood pendukung zionis ini ternyata juga pengoleksi pesawat terbang pribadi untuk pergi ke ranch, mansion atau ke mana saja ia suka. Salah satu yang ia punya adalah jenis pesawat yang saya naiki pertama kali ini dan itu pun dibiayai negara.

*

    Di atas pesawat berbaling-baling satu milik maskapai penerbangan perintis Susi Air yang sedang menaik saya lamat-lamat menatap dari kejauhan Bandar udara Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Aceh Selatan. Semakin kecil, kecil, dan kecil saja bangunan yang ada di sana. Dari atas ketinggian itulah saya baru tahu kalau bandara itu dekat dengan pantai indah berpasir putih yang menyambung dengan Pantai Cemara di kejauhan sana. Selanjutnya akan banyak pemandangan memukau yang menemani saya sepanjang perjalanan.

    Pesawat Cessna Grand Caravan C208B ini akan membawa saya menuju Banda Aceh untuk melaksanakan tugas yang diberikan Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan yakni menghadiri acara Forum Penagihan se-Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Aceh selama tiga hari. Kemudian lanjut dengan penugasan lainnya yaitu memberikan pelatihan menulis buat teman-teman di Forum Pelayanan dan KP2KP se-Kanwil DJP Aceh di Lhokseumawe. KP2KP merupakan singkatan dari Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan. Kantor instansi vertikal DJP setingkat eselon empat.

    Saya cuma sendirian di atas pesawat itu. Sebelas kursi lainnya kosong. Saya duduk di bagian belakang. Ini bukan kemauan saya. Tapi sudah diarahkan oleh petugas Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan untuk duduk di belakang. Kalau yang naik dua atau tiga orang atau lebih pengaturan tempat duduknya pun akan berbeda. Mungkin maksudnya untuk menyeimbangkan beban yang ada.

Di bagian depan ada dua orang yang mengemudikan pesawat ini. Ruangan mereka tanpa sekat dengan ruangan penumpang. Saya tak tahu yang mana dari mereka berdua itu yang menjadi supir benerannya (pilot utama) dan mana yang jadi supir tembak atau keneknya (ko-pilotnya). Kalau lihat film-film Hollywood biasanya yang sebelah kiri yang jadi pilot utama.

Satu orang pilot berkebangsaan Jepang dengan wajah khasnya yang rada-rada bagero itu. Dialah yang duduk di sebelah kiri. Satu lagi orang bule gundul yang saya tak tahu berkebangsaan apa. Dari supir Susi Air yang menjemput saya di mess saya dapat informasi kalau para pilot itu selain dari Jepang juga berasal dari Jerman, Belanda, dan Spanyol.

Sebagai salah satu bentuk pelayanan prima mereka, cabang Susi Air yang ada di Tapaktuan memberikan fasilitas layanan antar jemput dari dan atau menuju bandara. Tentunya dengan tambahan ongkos sebesar dua puluh ribu rupiah. Ini sepadan dengan 45 menit yang dibutuhkan mobil itu melaju dari Tapaktuan menuju bandara atau sebaliknya.

Tidak setiap hari pesawat ini ada di Tapaktuan. Hanya ada pada Hari Senin, Selasa, Jumat, dan Sabtu. Rutenya pun bermula dari Bandara Internasional Kualanamu, Medan yang berangkat jam tujuh pagi. Satu jam kemudian tiba di Bandara Teuku Cut Ali. Lalu berangkat lagi menuju Bandara Internasional Iskandar Muda, Banda Aceh. Dari sana pesawat itu kembali lagi ke Tapaktuan dan Medan.

Susi Air memang melayani semua daerah di Provinsi Aceh yang ada bandaranya. Ongkosnya masih terjangkau karena setengahnya disubsidi oleh pemerintah pusat. Oleh karenanya mereka harus tetap berangkat mengudara walau tidak ada penumpang sama sekali. Sayangnya informasi tentang jadwal penerbangannya sampai dengan saat ini tidak bisa diakses melalui situs internetnya. Para penumpang harus menelepon ke nomor telepon masing-masing cabang yang telah disediakan di situs itu jika ingin memesan tiket. Tiketnya pun masih ditulis dengan tangan seperti tiket travel Tapaktuan-Medan.

Faktor cuaca sangat menentukan apakah pesawat jadi berangkat atau tidak. Walaupun dalam brosur promosinya mesinnya tahan untuk segala jenis cuaca. Jadi bisa saja jadwal terbang kita pada hari itu batal karena pesawat tidak jadi berangkat. Tapi tentunya tiket tidak hangus. Penerbangan akan dijadwalkan keesokan harinya.

Alhamdulillah Senin itu cuaca sangatlah cerah. Saya masih dapat menikmati pemandangan pantai dan kota Tapaktuan saat pesawat ini melintas di atasnya. Pesawat ini sebagian perjalanannya menyusuri pinggiran pantai barat Aceh. Sebagian lainnya di atas pegunungan yang syukurnya masih lebat dengan hutan.

Ini berbeda dengan apa yang saya lihat di tahun 2005 saat saya menaiki sebuah pesawat kecil dari pedalaman Kalimantan Tengah menuju Kota Balikpapan. Yang tampak hanyalah dataran gundul dan bopeng-bopeng sebagai akibat penambangan dan penebangan liar. Paru-paru dunia itu telah mengalami luka dahsyat yang entah bagaimana lagi kondisinya pada saat ini. Itulah yang menyebabkan Harrison Ford dengan kurang ajarnya menyemprot Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menuntut agar para pelaku deforestasi itu dipenjara.

Bandar Udara Teuku Cut Ali (Foto koleksi pribadi).

Kabin pesawat Cessna Grand Caravan C208B (Foto koleksi pribadi).

Air minum dalam kemasan,kue semacam dorayaki, dan kue yang didalamnya ada kacang ijo. (Foto koleksi pribadi)

Pemandangan pantai di daerah dekat Tapaktuan Aceh Selatan dari atas ketinggian. (Foto koleksi pribadi).

Pemandangan pegunungan dari atas ketinggian (Foto koleksi pribadi).

Persawahan di dekat Kota Banda Aceh (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pesawat yang saya naiki saat mendarat di Bandara Internasional Iskandar Muda (Foto koleksi pribadi).

 

Di dalam pesawat, selagi pilot asyik makan wafer, saya pun menyantap snack dalam kotak yang telah diberikan petugas Susi Air sebelum pesawat mengudara. Pilot dari Jepang itu juga menyalakan
hp. Makanya saya pun tak canggung-canggung lagi whatsapp-an, gtalk-an, sms-an dengan teman-teman di hp. Tak ada awak kabin pesawat yang mendemonstrasikan prosedur keselamatan penerbangan seperti di pesawat berpenumpang banyak.

Walau sudah tak terhitung berapa kali mereka melintasi daerah yang sama, entah kenapa pilot asing dari Jepang itu juga masih suka mengambil gambar dengan kamera hpnya. Satu hal yang pasti dan tidak bisa dipungkiri adalah Indonesia itu indah, subur, dan kaya. Ini masih mending pilot Jepang itu cuma mengambil gambar, nenek moyangnya dengan semangat imperialis dan fasisnya mengambil habis raga dan jiwa anak bangsa serta kekayaan negeri ini.

Berapa ribu ton bijih besi yang dikirim ke negeri matahari terbit untuk dibuat senjata-senjata berat mereka? Berapa ratus ribu ton beras yang dikirim buat bekal pasukan mereka bertempur di seluruh asia pasifik? Berapa banyak leher nenek moyang kita terpenggal samurai-samurai mereka? Berapa nyawa hilang untuk romusha mereka? Berapa perempuan-perempuan terhormat kita, ibu-ibu kita yang menjadi Jugun Ianfu mereka? Kalau saja Nagasaki dan Hiroshima tidak dibom angka-angka yang akan menjawab banyak pertanyaan itu menjadi semakin tinggi.

Sekarang penjajahan fisik seperti itu sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah penjajahan dalam bentuk ekonomi dan budaya. Itu pun tanpa sadar dirasakan. Atau memang dirasakan bahkan dinikmati dengan sepenuh hati? Mereka mendapatkan harga yang murah dari gas yang dibeli dari kita sedangkan di saat yang sama industri kita masih kekurangan suplai gas dan harganya jauh lebih mahal. Masih bisa menghitung berapa potensi kerugian Pajak Penghasilan yang hilang dari setiap transaksi dividen terselubung yang dibalut dengan istilah royalti dan imbalan atas jasa yang dibayarkan oleh perusahaan Jepang di Indonesia kepada perusahaan induknya?

Aih, mengapa di atas ketinggian ratusan kaki di atas permukaan laut ini saya masih bisa berpikir tentang penjajahan masa lalu dan pertempuran argumentasi di ruang sidang Pengadilan Pajak sewaktu saya masih menjadi anggota Tim Banding Direktorat Keberatan dan Banding, DJP sedangkan di bawah sana masih banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati?

Saya tatap kembali alam yang membentang. Pesawat itu bergoncang saat menabrak awan dan mengalami sedikit turbulensi. Saya memperbanyak shalawat seperti saat saya dulu pernah ketakutan menaiki mobil turbo kuning yang dipacu kencang teman saya di jalanan Sudirman menuju Thamrin.

Sudah 60 menit pesawat ini melayang di udara dan sebentar lagi akan mendarat di Bandara Internasional Iskandar Muda. Dari sana saya akan langsung ke hotel saja. Tapi ternyata tidak. Takdir nantinya membelokkan saya ke suatu tempat. Ini mengejutkan saya. Kalau saja saya tahu beberapa jam sebelumnya saya akan tiba di suatu tempat yang tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk dikunjungi, saya mungkin tidak akan pernah seterkejut ini. Ya, karena saya tiba di suatu lokasi tempat dikuburkannya manusia setipe Harrison Ford di Banda Aceh.

***

Catatan: Jugun Ianfu adalah wanita yang menjadi budak seks di rumah bordil militer pendudukan Jepang.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Banda Aceh, 2 Desember 2013

RIHLAH RIZA #13: SEPERTI SENJA YANG BERGULUNG-GULUNG


RIHLAH RIZA #13:

SEPERTI SENJA YANG BERGULUNG-GULUNG

 

Selain Ibnu Bathuthah ada juga penjelajah Arab yang mendahuluinya—tepatnya di abad 10—bernama Ibnu Fadlan. Manuskrip yang tersisa tentangnya menceritakan pertemuan budaya antara Arab dan Viking.

**

    Jam 20.15, mobil travel yang akan mengantarkan saya ke Medan sudah tiba di mess. Rencananya saya akan pergi ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak untuk menghadiri undangan mengikuti workshop sehari
yang diselenggarakan oleh Direktorat Keberatan dan Banding. Workshop ini mengenai organisasi penyelesaian sengketa perpajakan. Atas seizin Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan saya diperbolehkan untuk mengikutinya. Kebetulan pekan ini adalah pekan ketiga keberadaan saya di Tapaktuan, karenanya saya sekaligus memanfaatkannya untuk pulang.

    Saya duduk di bagian depan di samping supir. Tempat duduk yang sudah saya pesan khusus kepada agen travelnya. Pokoknya saya tidak akan berangkat dengan travel itu kalau saya tidak duduk di situ. Karena ini perjalanan darat yang memakan waktu lama tentunya kita kudu milih tempat yang nyaman. Jok di samping dan di belakang supir adalah tempat duduk yang nyaman. Yang paling nyaman tentunya di samping supir. Kalau kita tidak pesan atau tidak beruntung kita bisa saja dapat duduk di bagian tengah. Dan ini bisa-bisa tidak tidur sepanjang perjalanan karena tak ada senderan buat kepala. Apalagi kalau sudah dijepit dua orang.

    Innovanya masih gres. Suara mesinnya halus. Kijang ini masih harus mampir ke rumah-rumah menjemput penumpang. Ini saja butuh waktu satu jam. Ternyata semuanya perempuan. Tentu saya tepat duduk di depan. Selama perjalanan saya mengalami roaming. Persis seperti Antonio Banderas dalam The 13th Warrior yang berperan sebagai Ahmad bin Fadlan yang diselamatkan para petempur Viking dari gangguan penjarah Mongol-Tatar.

    Orang Arab kepercayaan Khalifah di Baghdad namun terusir ini dalam sebuah makan malam jadi bahan olok-olok dari mereka yang menyelamatkannya. Ahmad tahu ia jadi bahan pembicaraan. Tapi ia tak mengerti apa yang dibicarakan. Makanya ia perhatikan gerak bibir mereka. Saking jeniusnya lama-kelamaan orang Arab ini jadi paham dan tahu bahasa mereka. Seketika Ahmad jadi tahu kalau yang dibicarakan dengan nada mengejek itu adalah kudanya yang kecil dan pedangnya yang bengkok. Mereka akhirnya terdiam ketika Ahmad menimbrung dengan mengucap sebuah kata. Lalu berikutnya ngobrol seru dengan bahasa mereka.

    Saya tak sejenius Ahmad bin Fadlan ini. Saya tak mengerti apa yang supir dan perempuan penumpang itu bicarakan. Saya tak mampu membaca gerak bibir mereka. Yang saya paham cuma kata-kata yang sangat familiar seperti ambo. Selebihnya tidak. Lainnya yang bisa terdengar seperti kata “dakik-dakik”. Tak tahulah awak artinya ini. Dengan jaket hitam tipis dan sarung yang sengaja dibelitkan di leher untuk mengurangi terpaan angin malam dari jendela yang sedikit terbuka, saya banyak terdiam. Sesekali mengobrol dengan supir yang enak nyetir-nya ini dan kalau di tikungan tak sedikit pun mengurangi kecepatan.

    Dua kali kami berhenti untuk istirahat. Supirnya makan dan ngupi. Perhentian pertama ini di sebuah warung makan bernama Awak Away di Kota Subulussalam. Kota ini jaraknya tiga jam perjalanan darat dari Tapaktuan dan merupakan satu dari lima kota yang berada di Provinsi Aceh. Empat kota lainnya adalah Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, dan Kota Sabang. Perhentian kedua saya tak tahu di daerah mana.

    Ketika kami menyusuri gelapnya malam di jalan yang berliku-liku di bawah pegunungan Bukit Barisan, entah di daerah Kabupaten Pakpak Barat atau Dairi (dua-duanya merupakan kabupaten yang berada di wilayah Sumatera Utara) mobil kami dihadang segerombolan orang. Kami harus berhenti juga karena di tengah jalan sudah ada pohon yang melintang. Mereka minta duit. Tapi tidak meminta kepada kami melainkan kepada supir.

Ada sedikit intimidasi mereka dengan cara mengerubuti supir secara bersamaan. Jendela dipenuhi dengan tangan-tangan yang berusaha menggapai-gapai dashboard. Tapi tak ada insiden. Dikasih secukupnya mereka mau. Saat uang sudah diterima pohon tumbang pun dengan mudahnya digeser oleh mereka dari tengah jalan. Sejatinya bukan pohon tumbang, melainkan dahan pohon dengan banyak daun yang sengaja ditebang.

Tidak jauh dari sana, tiga atau lima kilometer setelah gerombolan itu, ada razia polisi di depan posnya. Kami diperiksa sebentar, terutama barang yang ada di atas mobil yang ternyata isinya durian.

    Kami sampai di Medan jam lima pagi. Inilah kali pertama saya singgah di kota Medan seumur hidup saya dan tak menyangka kota ini begitu besarnya. Pantas saja kalau dijuluki sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Kami melewati Masjid Raya Medan atau Masjid Al Mashun dalam keremangan lampu yang membuat bangunan ini semakin indah dilihat. Kubahnya mirip dengan kubah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dengan model Turki-nya.

 

Masjid Raya Medan (Koleksi Yopi Photography)

Enam penumpang turun mendahului saya di sebuah hotel. Saya turun terakhir di Stasiun Medan. Saya akan naik kereta api ke Bandara Internasional Kualanamu. Saya pergi ke stasiun ini dikarenakan saya tiba di Kota Medan masih pagi. Kalau tibanya jam enam pagi saya akan putuskan langsung naik bus Damri di Jalan Gatot Subroto dan tidak berhenti di stasiun kereta api itu. Alhamdulillah waktunya cukup.

Stasiun Medan ini besar, bersih, dan modern. Loketnya bergaya bank. Bukan seperti loket pasar malam. Dilayani oleh petugas berpenampilan seperti awak kabin pesawat maskapai penerbangan. Rapih, ramah, dan penuh senyum. Bagi pengguna Commuter Line Jakarta-Bogor pasti bisa membandingkan gaya mereka dengan gaya petugas loket di stasiun-stasiun Jabodetabek. Serupa langit dan bumi.

Mungkin karena harga tiketnya juga yang membedakan. Saya harus membayar sebesar 80 ribu rupiah untuk sekali pergi dengan jarak tempuh 40 km. Butuh waktu 37 menit untuk sampai di bandara. Tetapi kalau dari bandara ke Kota Medan butuh waktu 44 menit.

Bentuk keretanya seperti kereta rel listrik Jabodetabek. Tetapi posisi dan bentuk kursinya seperti kursi kereta api jarak jauh Jakarta-Surabaya. Di dalam kereta berpendingin ini terdapat rak-rak besi bersusun, tempat menaruh tas penumpang. Letaknya di samping pintu masuk dan bukan di atas kursi penumpang.

Kereta Api di Bandara Kualanamu

 

Sampai di bandara, saya langsung cari tiket ke Jakarta. Untuk jam-jam penerbangan terdekat tiketnya sudah habis. Banyak calo menawarkan tiket kepada saya. Tapi saya tidak mau beli di calo walaupun harganya lebih murah dan jamnya lebih dekat. Saya akhirnya dapat penerbangan untuk jam 11 siang. Sebelum terbang saya sempatkan diri beli bolu gulung khas Medan.

Singkat cerita saya sampai di Bandara Soekarno Hatta. Dari sana menyambung ke Pasar Minggu naik Bus Damri. Turun di Pertigaan Duren Kalibata. Lalu naik Kopaja ke Stasiun Kalibata. Tiba di stasiun sudah ada pengumuman Commuter Line ke Bogor yang akan segera datang. Empat puluh menit kemudian saya sudah tiba di Stasiun Citayam. Saya sudah tak sabar bertemu Ayyasy dan Kinan, tapi hujan deras menghalangi saya untuk segera beranjak dari stasiun.

Setengah jam kemudian, walau hujan masih turun rintik-rintik, saya paksakan diri naik ojek. Dan…

“Abiiiii….!!!,” Kinan berteriak saat melihat saya turun dari motor ojek. “Abi dataaang!”

Kinan berlari menyambut dan langsung memegang tangan saya. Menariknya masuk ke dalam rumah. Mas Ayyash sudah berdiri di depan pintu. Saya gendong dan peluk Kinan. Saya juga memeluk Mas Ayyasy. Ummu Haqi tak menyambut saya karena ia masih di kantor.

Saya bahagia banget bertemu dengan mereka. Pastilah bahagia. Memangnya ada yang tak bahagia bertemu orang yang dicintainya setelah berpisah sekian lama? Padahal belumlah genap tiga minggu. Inilah, bahagia yang sederhana, yang pula dirasakan teman-teman Direktorat Jenderal Pajak yang ditempatkan jauh dari keluarga. Semakin juga merasakan dengan sebenar-benarnya rasa atas nikmat kebersamaan yang terkadang jika tidak ada kata “jauh” di antaranya menjadi biasa-biasa saja, bahkan mengkufurinya.

Kita akan merasakan betapa sehat itu sungguh nikmatnya jika sakit sedang mendera. Kita pun akan merasakan betapa waktu luang itu sungguh berharganya jika masa sibuk terhela di muka. Kita jua akan merasakan betapa kebersamaan itu tak ternilai artinya jika kesendirian mendominasi hari-hari kita.

Lalu kelelahan menempuh perjalanan 20 jam dari Tapaktuan sampai Citayam tak bisa dibandingkan dengan gurat bahagia berjumpa dengan mereka yang dicinta. Sungguh, orang-orang bijak pernah mengatakan bahwa pertemuan dengan yang dicinta adalah salah satu dari empat hal yang bisa membawa ketenangan dalam hati. Ketiga lainnya adalah melihat yang hijau-hijau, melihat air yang mengalir, dan melihat buah-buahan di atas pohonnya. Dua yang pertama saya dapatkan semuanya di Tapaktuan. Alhamdulillah.

Sore itu Kinan tak mau dimandikan kecuali oleh saya. Sewaktu mandi juga dia nyerocos bicara apa saja. Sore itu, bisa memandikan dan mendengar apa saja yang diomongkannya adalah bahagia sederhana saya. Seperti melihat senja yang bergulung-gulung. Senja di Tapaktuan.

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 23 November 2013

Malam Minggu Sepi

 

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, djp, Direktorat Keberatan dan Banding, kpp tapaktuan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan, Antonio Banderas, The 13th Warrior, arab, Viking, Mongol-Tatar, Khalifah di Baghdad, Ahmad bin Fadlan, Awak Away, Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh, Kota Langsa, Kota Lhokseumawe, Kota Sabang, Bukit Barisan, Pakpak Barat, Dairi, Masjid Raya Medan, Masjid Al Mashun, Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Stasiun Medan, bandara internasional kualanamu, Kinan fathiya almanfaluthi, Muhammad yahya Ayyasy almanfaluthi, mas ayyasy, ummu haqi, ria dewi ambarwati, Citayam, Kinan, Senja di Tapaktuan, perjalanan menuju tapaktuan, kpp pratama tapaktuan

 

RIHLAH RIZA #12: “HALO NYET…”


RIHLAH RIZA #12:

“HALO NYET…”

 

Napoleon Bonaparte memasuki Moskow, 14 September 1812. Tapi ia hanya menemui kota itu telah kosong melompong dan dibakar. Ia mundur. Kini, yang dihadapi oleh 650.000 prajurit pimpinannya ini bukan pasukan Rusia melainkan cuaca dingin. Lebih dari dua per tiga pasukannya tewas kelaparan dan kedinginan. Sebagiannya ditawan. Hanya 4% prajuritnya yang mampu menyebrangi Sungai Berezina.

**

“Sudah berapa lama di Aceh, Kapten?” tanya saya kepada Kapten Yudho Komandan Kompi lulusan Akademi Militer Magelang asal Nganjuk ini.

“Sudah lama. Delapan tahun. Kalau Pak Riza?”

“Baru satu minggu.”

Perwira pertama ini tertawa. Karena dibandingkan dengan para prajurit anggota Batalyon Infanteri (Yonif) 115 Macan Leuser ini keberadaan satu minggunya saya ini sungguh tidak berarti apa-apa.

Ini pembicaraan kami di sela-sela acara olahraga bersama yang diselenggarakan oleh Markas Yonif 115 ML. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan mendapatkan undangan untuk menghadirinya bersama instansi pemerintah yang lain. Bupati Tapaktuan yang baru dilantik pada tanggal 22 April 2013 pun ikut hadir dalam acara tersebut.

Saya mendapatkan banyak kenalan dengan para prajurit dan pejabat dalam acara itu. Dan dunia memang sempit, saya ketemu dengan orang satu kampung di sini. Ia menjabat sebagai Komandan Rayon Militer Kluet Utara. Ia sudah lama menetap dan mempunyai istri orang Aceh.

Saya juga ketemu dengan prajurit lainnya yang ternyata ia punya kakak yang bekerja di kantor pajak. Saya mengenal kakaknya walau tidak begitu dekat. Dan lebih mengejutkannya lagi ia punya istri orang Bojonggede. Yaa…kompleks rumahnya itu tempat saya sering main sebelum saya dipindahtugaskan ke Tapaktuan.

Saya mengobrol akrab dengan mereka diselingi kudapan kacang dan jagung rebus. Tak lupa teh manis dan kopinya. Sekalian pula menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pajak. Silaturahmi ini jadinya sekaligus ajang sosialisasi. Karena ternyata banyak juga yang belum memahami kalau penghasilan yang mereka terima berasal dari pajak.

Dalam acara itu ada banyak pilihan olahraga seperti bola basket, voli, tenis lapangan, catur, dan main batu. Permainan terakhir ini sebenarnya permainan domino. Saya bersama Kapten Yudho memilih main bola basket bersama prajurit yang lain. Three on three. Sebentar saja saya sudah ngos-ngosan. Sedangkan nafas para prajurit masih panjang. Saya cuma menghasilkan satu assist. Tak lebih. Langsung time out. Minta diganti.


Bermain basket dengan latar belakang pegunungan Leuser (Foto Koleksi Pribadi)

Setelah makan siang, kami berpamitan dengan tuan rumah yang ramah ini. Kami melewati pos penjagaan bertuliskan motto yang menyindir saya: Lakukan yang Terbaik dan Tetap Semangat. Kalau diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana maka dapat diartikan: apa pun kondisinya, di mana pun adanya, memberikan yang terbaik dan selalu semangat itu kudu.


Pos Penjagaan Yonif 115 ML (Foto Koleksi Pribadi)

Kami pulang. Ada lebih dari 25 km jalanan harus kami lalui untuk menuju Tapaktuan. Markas Yonif 115 ML ini terletak di Kecamatan Pasie Raja dan di bawah Komando Resort Militer 012/Teuku Umar, Komando Daerah Iskandar Muda.

Karena jalanan menuju Tapaktuan mengalami longsor dan dalam proses perbaikan maka ada jalan alternatif baru yang dibuat melalui pinggiran pantai yang memanjang mulai dari utara sampai selatan. Jalan alternatif ini melalui pinggiran Pantai Cemara. Saking panjangnya pinggiran pantai ini, maka kalau ada rombongan kuda liar yang dilepas berlari kencang di pantai dari ujung ke ujungnya lalu dibuat filmnya ini bisa terekam sampai bermenit-menit.

Di beberapa bagian Pantai Cemara berjejer warung dengan saung-saungnya. Yang memang sedikit kendala adalah masalah kamar kecil. Terkadang warung tidak menyediakannya. Pemilik warung hanya mendirikan tempat tertutup ala kadarnya di atas rawa.

Di pantai ini pun jarang ada yang berenang. Tidak seperti di Pantai Rindu Alam seperti yang sudah pernah saya terangkan sebelumnya. Jadi Pantai Cemara ini hanya cocok untuk sekadar ngupi-ngupi, kongko-kongko, dan jalan-jalan saja.


Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)


Sudut lain Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)

Di sinilah saya mendapatkan sebuah pemandangan yang memikat. Perpaduan unsur-unsur indah dari sebuah lansekap. Ada tanah lapang, deretan pohon cemara, deretan pegunungan, cahaya matahari yang menyinari bagian perbukitan, langit yang setengah gelap, laut, dan pantai. Ini seperti bukan di Indonesia, tapi di Pegunungan Alpen Swiss yang pernah saya kunjungi beberapa waktu yang lalu dalam mimpi.

 


Salah satu pemandangan di Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi).

Coba bandingkan dengan gambar pegunungan Alpen yang satu ini:


Pegunungan Alpen sebelas dua belas dengan yang ada di Tapaktuan.


Pantai Cemara dari ketinggian dan kejauhan. (Foto Koleksi Pribadi)

Bandingkan dengan yang satu ini:


Taman Nasional Abel Tasman, Selandia Baru. Kebetulan yang mengambil gambar adalah orang profesional.

 


Monyet yang kami temui di sepanjang perjalanan pulang dari Pantai Cemara Tapaktuan (Foto Koleksi Pribadi)

Dalam perjalanan pulang pun kami menjumpai mamalia berkaki empat dan berekor panjang. Monyet di sini tidak nakal. Tidak seperti baboon di Taman Nasional Table Mountain Afrika Selatan yang akan berubah ganas kalau sudah mendengar suara plastik kresek yang dibawa para wisatawan. Ini berarti tanda ada makanan. Monyet di Tapaktuan ini cuma pasang muka memelas kepada para pengguna jalan agar kiranya sudi melemparkan kepada mereka penganan atau jajanan. Saya sapa salah satu dari mereka, “Halo Nyet…” Dia tak sudi menjawabnya. Melengos.


Cool…dipanggil melengos bae.(Foto Koleksi Pribadi)

Penolakannya tak membuat saya gusar. Saya pergi meninggalkan mereka. Masih ada yang harus saya kerjakan di mess. Terutama lagi pekerjaan yang sudah lama saya tinggalkan dan lupa cara mengerjakannya: mencuci baju. Nanti setelah itu seperti biasa saya akan membuka pintu depan lebar-lebar, mengambil kursi, menghadapkannya ke jalanan, menaruh tangan di belakang kepala, dan memandang kejauhan, memandang kepada apa yang dikatakan Andrea Hirata tentang langit: sebuah kitab yang terbentang.

Ini cara saya membunuh waktu. Sambil berpikir tentang hal-hal yang lalu dan apa yang harus saya lakukan nanti-nanti. Terutama kapan saya bisa pulang ke Citayam. Seminggu sekali? Dua minggu sekali? Tiga minggu atau sebulan sekali? Ini semata soal rindu yang tak bisa dibunuh. Dengan cara apa pun. Ini soal mimpi-mimpi yang tak pernah absen dalam meramaikan tidur di setiap malam. Dan izinkanlah saya untuk selalu bermimpi. Bermimpi bertemu dengan orang-orang yang saya cintai di gampong. Saya tak sama dengan monyet yang hidup di pantai-pantai itu. Mereka tak punya mimpi. Sedangkan saya punya mimpi. Mimpi yang akan selalu saya tulis.

Seperti apa yang dikatakan Napoleon saat ditawan di atas kapal Inggris HMS Bellerophon, “Apa yang harus kita lakukan di tempat terpencil itu? Well, kita akan menulis memoir kita. Kerja adalah parang dari waktu.”

Begitu jua saya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 18 November 2013

 

 


 

RIHLAH RIZA #11: BEGINT DE VREDE


RIHLAH RIZA #11:

BEGINT DE VREDE

Tanggal 7 Juli 1949, para tokoh nasional yang dibuang penjajah Belanda ke Bangka, mulai meninggalkan Bangka menuju Yogyakarta. Dua minggu sebelumnya penjajah Belanda menarik pasukannya sehingga dengan demikian Yogyakarta kembali menjadi ibu kota tanah air.

Dua kejadian ini merupakan konsekuensi buat Belanda dari hasil perundingan Roem-Royen. Yang pada ujungnya nanti—di tanggal 27 Desember 1949—penjajah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia.

Pemulangan tokoh nasional itu kemudian menjadi slogan yang terkenal: Van Bangka Begint de Victorie. Moh. Roem menerjemahkannya dengan: dari Bangka datangnya kemenangan.

**

Di sebuah pagi yang dingin. Bekas hujan semalam masihlah tampak. Rumput-rumput basah. Jalanan pun basah. Debur ombak di pantai depan masih dengan ritme yang sama. Sinar matahari sedikit-sedikit mampu menembus mendung yang masih menggelayuti kota kecil ini. Saya ambil kursi di ruang tamu dan menaruhnya di teras depan. Saya duduk. Menghirup nafas kesegaran pagi dalam-dalam. Hawa segar terasa di rongga dada. Memandang kejauhan laut dari titik cakrawala yang satu ke titiknya yang lain. Ada satu kata yang sesungguhnya mampu untuk menggambarkan apa yang saya rasakan pada saat itu: tenteram.

    Kata-kata sudah menggelegak dalam kuali kalimat, tinggal dituangkan saja ke gelas puisi. Di dalamnya ada balada hitam dan rindu manis. Cukup diaduk perlahan hingga aromanya menguar kemana-mana. Tapi saya membiarkannya imajiner saja. Tak pernah menjelma sajak. Itu juga sudah cukup. Kemudian setelah lama menenggak rasa pagi di depan rumah, saya putuskan untuk mengeluarkan sepeda. Ada satu tempat yang ingin saya kunjungi sejak pertama kali datang ke Tapaktuan. Sebuah tempat bernama pelabuhan Tapaktuan. Ada sekitar dua kilometer ke arah selatan dari mess kami. Ke sanalah sepeda ini akan saya kayuh. Jalan-jalan pagi dengan sepeda adalah sebuah anugerah yang luar biasa di sini. Jalanan sepi dan tanpa polusi.

    Saya mengayuh dengan cepat, kadang lambat. Tak sampai sepuluh menit saya sudah masuk pintu pelabuhan perintis ini. Tidak ada penjagaan. Orang bebas masuk dan keluar pelabuhan. Pakai sepeda, kereta, ataupun mobil hingga di atas dermaganya silakan-silakan saja.

    Banyak pemancing di dermaga itu dengan joran panjang atau cuma bermodal benang saja dan umpan ikan. Di sinilah besar kecilnya umpan menjadi penentu besar dan kecilnya ikan yang didapat. Sungguh ini perwujudan tentang ada harga yang harus dibayar atas semua hal. Umpannya kecil ya hasil yang didapat pun kecil. Umpannya ikan besar maka ikan yang kena pancing pun ikan besar sekali.

    Seperti jenis perahu yang digunakan para nelayan pun demikian. Semakin besar perahu yang digunakan maka semakin banyak pula ikan yang didapat. Tetapi ada yang anomali di dunia ini, perahu kecil yang digunakan seorang nelayan tua mampu mendapatkan ikan marlin yang besarnya melebihi besar perahu kecilnya itu. Tapi itu cuma fiksi dalam sebuah buku berjudul The Old Man and The Sea dan ditulis oleh Ernest Hemingway yang apa hendak dikata nobel kesusastraanlah yang didapat.

    Di pelabuhan itu, selain para pemancing, ada yang sekadar jalan-jalan dan melihat dari kejauhan pemandangan laut ataupun perbukitan. Ada juga sedikit keramaian dari nelayan yang menurunkan ikan segarnya yang besar-besar. Sebenarnya pelabuhan ini bukanlah tempat pelelangan ikan, karena untuk pelelangan ikan sudah disediakan tempatnya sendiri oleh Pemerintah Kabupaten Tapaktuan.

    Pelabuhan Tapaktuan bukanlah pelabuhan penumpang melainkan pelabuhan barang. Untuk menuju Pulau Simeulue dengan kapal laut maka pelabuhan Tapaktuan bukanlah tempatnya melainkan pelabuhan Singkil di ujung selatan Provinsi Aceh dan pelabuhan Labuhan Haji, satu setengah jam perjalanan dari Tapaktuan.

    Di pelabuhan Tapaktuan ini ada kapal-kapal besar yang membawa bahan bangunan dari pelabuhan lain di Sumatera. Misalnya besi atau semen Andalas yang dibawa dari pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Butuh waktu dua hari dua malam untuk sampai ke sini. Dan tak sebentar kapal yang membawa belasan ribu sak semen ini untuk menurunkan bebannya. Butuh waktu tiga hari.

    Dari dermaga pelabuhan ini saya bisa memandang penyu yang berkeliaran di bawah tiang-tiang dermaga. Selain itu saya bisa menyaksikan elang laut yang terbang ke sana ke mari dengan bentangan sayapnya yang panjang dan gaya menukik tajamnya ketika menyambar ikan di laut; tali pancing yang menegang karena umpannya dimakan oleh ikan jabung; raut kemenangan pemancing saat mendapatkan ikan; bukit-bukit dengan kabut berarak yang seperti turun dari atasnya menuju laut; matahari pagi yang malu-malu memunculkan wajahnya dari puncak bukit dan balik awan; ombak-ombak yang menghantam bebatuan di sisi lain pelabuhan; perahu-perahu nelayan yang terombang-ambing.

Dermaga Pelabuhan Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Pelabuhan Tapaktuan dari Kejauhan (Koleksi Pribadi)

Para pemancing (Koleksi Pribadi)

Penyu di dermaga Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Kapal Barang dan Kapal Nelayan yang Bersandar (Koleksi Pribadi)

Bukit di Tepi Pantai. Di baliknya terdapat jejak kaki besar Tuan Tapa. Bangunan besar yang terlihat itu adalah gedung olahraga tempat teman-teman KPP main bulutangkis. (Koleksi Pribadi)

Sudut lain dari sebuah bukit yang menjorok ke pantai (Foto Koleksi Pribadi)

Arah timur pelabuhan. Pantai yang berkabut. (Koleksi Pribadi)

    Di atas pasak yang tertancap di dermaga yang biasa dijadikan sebagai tempat mengikat tali kapal, saya duduk dalam hening, memandang kejauhan laut dari titik cakrawala yang satu ke titiknya yang lain. Ada satu kata yang sesungguhnya mampu untuk menggambarkan apa yang saya rasakan pada saat itu: tenteram.

Ketenteraman yang membuahkan sebuah kesadaran bahwa pagi itu saya terjebak dalam tiga benda ini: bahtera, samudera, dan dermaga. Ketiganya sudah cukup membentuk sebuah landscape dari apa yang kebanyakan kita menyebutnya sebagai sajak, prosa, fragmen, drama, cerita pendek, dan novel.

Bahtera yang singgah di pelabuhan ini tidaklah itu-itu saja. Bahtera senantiasa dirindu samudera. Karenanya ia tidak berlama-lama di dermaga. Hidup kita pun demikian. Kita tak selamanya di samudera, pun kita tak selamanya di dermaga. Ada jeda yang membuat kita berpisah. Jedalah yang membuat kita dipenuhi hasrat. Hasrat sebuah bahtera yang ingin menumpahkan apa yang ada di dalamnya. Hasrat sebuah bahtera yang ingin mengambil apa saja dari samudera.

    Di dunia ini tak selamanya ada kesedihan, begitu pula tak selamanya ada kegembiraan. Jeda yang akan membuat kita berpikir untuk bisa menempatkan diri dengan sebaik-baik perilaku. Di saat sedih kita paham bahwa kesedihan itu tak selamanya ada, setelahnya akan ada senyum, tawa, dan kegembiraan. Di saat kita gembira kita pun sadar akan ada waktunya sedihnya menjadi raja, sehingga kita mampu mengukur seberapa kadar kegembiraan itu layak untuk ditumpahkan. Pada waktunya semua itu akan berlalu. Yakinlah.

    Ah, pagi di pelabuhan membuat saya banyak merenung. Memang, pagi dan senja di pantai adalah cerita tentang keindahan. Tetapi bagi para nelayan dan pemancing ikan, ini adalah kisah tentang kerja keras dan kesabaran *). Begitu pula dengan tax fighters yang ditempatkan di mana saja di daerah terpencil atau jauh dari keluarganya. Semua berujung pada tanya mampukah ia bersabar. Karena semua itu akan berlalu. Resah dan bahagia senantiasa akan dipergilirkan. Yakinlah.

Matahari sudah mulai meninggi. Sinarnya terasa hangat. Saatnya pergi meninggalkan pelabuhan. Saatnya pergi ke warung kupi, sarapan nasi gurih, dan minum segelas kupi Gayo. Di sana saya akan duduk dalam hening, memandang pinggiran gelas dari pinggiran yang satu ke pinggirannya yang lain. Ada satu kata yang sesungguhnya mampu untuk menggambarkan apa yang saya rasakan pada saat itu: tenteram.

Van Tapaktuan begint de vrede. Dari Tapaktuan datangnya ketenteraman. Itulah yang akan saya tulis.

*) Kutipan Majalah Tarbawi

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11 Desember 2013