RIHLAH RIZA #17: GEN SENGKUNI


RIHLAH RIZA #17: GEN SENGKUNI

Buat apa sejarah bagi masa sekarang? Karena pada pandangan modern yang semakin pragmatis sejarah itu tak bisa mengenyangkan. Sejarah itu percuma. Tapi ini salah. Karena—mengutip Anis Matta dalam Politik dan Sejarah—sejarah bukan saja metode untuk memahami masa lalu dan masa kini, melainkan juga menjadi jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap berharap bahwa esok hari cerita hidup kita akan lebih baik.

*

Ada yang tersisa saat meninggalkan Kerkhof Peutjoet. Saat membaca sebuah pamflet dalam sebuah papan pengumuman berkaca. Letaknya berada di luar pintu gerbang. Berada di halaman samping jalan utama. Pamfletnya berisi informasi tentang Kerkhof.

Nama Kherkof berasal dari Bahasa Belanda, yang berarti halaman gereja atau kuburan. Pintu gerbang ini pada awalnya dibangun tahun 1893 M dan terbuat dari batu bata. Di atas pintu tertulis: Untuk sahabat kita yang gugur di medan perang (Teks ini ditulis juga dalam bahasa Arab, Melayu, dan huruf Jawa).

Pada dinding terdapat deretan nama-nama pejuang yang dikubur di dalamnya beserta tahun meninggalnya. Semuanya berjumlah +/- 2.200 nama dan didominasi oleh tentara Kerajaan Hindia Belanda.

Ada yang ganjil dari pamflet yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh ini. Di pamfletnya itu disebutkan “nama-nama pejuang” padahal yang dikuburkan di sana jelas-jelas para serdadu Belanda yang menembak, membunuh, dan membantai rakyat Aceh serta membakar Masjid Raya Baiturrahman. Lalu mengapa disebut pejuang?

Apa karena kuburan militer itu dirawat oleh yayasan milik Belanda yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh lalu melupakan posisi masing-masing pada saat sejarah ditulis dengan tinta darahnya? Apatah lagi yang mengeluarkan pamflet tersebut salah satu dinas di Kota Banda Aceh yang dananya berasal dari pajak yang dikumpulkan rakyat Aceh.

Lain soal kalau teks itu ada di dalam sebuah prasasti yang dibuat oleh Belanda sendiri atau ditulis di atas batu nisan mereka. Diukir dengan judul meninggal dengan tenang kek, dengan sekarat kek, dengan gegap gempita dan berdarah-darah kek, itu terserah yang di bawah dan yang punya batu nisan.

Apakah kita lupa tentang sebuah tragedi pembantaian yang dilakukan Belanda di Kuta Reh? Ribuan orang dibantai termasuk perempuan dan anak-anak di dalamnya. Ah, terlalu panjang menguraikan kebiadaban Van Daalen sebagai Gubernur Militer Aceh dalam ekspedisinya di Tanah Gayo dan Alas pada tahun 1904. Ingat dengan apa yang pernah saya tulis terdahulu di Bosch dan Kopi? Setelah sukses pembantaian tersebut Belanda pun mulai menanam kopi di Tanah Gayo. Sampai kini kopi Gayo menjadi komoditas ekspor yang terkenal di dunia karena memiliki kenikmatan dan aroma yang khas.

Plang Kerkhof Peutjoet (Foto koleksi pribadi).


Papan informasi yang berisi pamflet tentang Kerkhof. (Foto koleksi pribadi).

Lihat bocah kecil dalam foto itu yang luput dari pembantaian tentara marsose jahanam. (foto diambil dari sini)

Sambil berjalan meninggalkan Kerkhof Peutjoet menuju museum tsunami yang berada di sebelahnya saya sampai berpikir buat apa saya memikirkan kesalahan “kecil” dalam pamflet itu. Tak ada gunanya. Tak ada kaitannya dengan tugas saya sebagai pegawai pajak. Tak ada. Akankah memikirkan segala tentang sejarah itu akan menambah pundi-pundi kekayaan kita—itu frasa zaman kerajaan lampau di saat mereka masih menyimpan emas dalam pundi-pundi, dalam kondisi kekinian baca saja itu menjadi sisi debit rekening bank kita.

Tapi di saat menuliskan kembali perjalanan batin ke kuburan Belanda, juga setelah membaca narasi Anis Matta tentang kesejarahan maka saya pun menata ulang tentang pragmatisme sebatas perut itu.

Sejarah adalah cara membaca masa depan. Sejarah menjadi pedoman untuk masa yang akan datang bahwa tidak akan terulang lagi kesalahan dan kesedihan yang sama. Sejarah Aceh adalah sejarah perlawanan tanpa menyerah atas sebuah ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dipertunjukkan dari sebuah bangsa kaphe yang tidak pandai berperang karena membunuh anak-anak, perempuan, dan orang yang sudah uzur. Sejarah tentang keberanian, menjunjung kemuliaan, dan cinta syahid yang ditunjukkan laki-laki atau perempuannya. Kemudian diteruskan kepada generasi setelahnya.

Ada gen kepahlawanan dalam kromosom anak keturunan mereka. Bukan gen sengkuni. Bukan sifat seorang Aceh menjilat, berkhianat, cinta kepada perpecahan, dan mudah menyerah tanpa usaha. Kalaupun demikian adanya ia keturunan dari karakter uleebalang—bangsawan bawahan sultan yang bekerja sama dengan Belanda. Uleebalang yang menjadi musuh sultan, ulama, dan rakyat Aceh.

Sejarah telah mengajarkan saya untuk tidak bertindak seperti uleebalang yang zalim, menarik pajak semena-mena bahkan menilep zakat untuk kepentingan sendiri. Sejarah telah benar-benar menambah pundi-pundi kekayaan saya, tepatnya kekayaan batin saya. Benarlah apa yang dikatakan Anis Matta, “Membaca sejarah adalah cara menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan-kebajikan hari ini walaupun buah kebajikan itu akan dipetik mereka yang baru akan lahir esok hari.”

**

Kami tiba di pos penjagaan museum tsunami. Tertempel di kacanya jadwal buka museum. Ternyata kami datang terlambat. Jam buka pagi telah selesai. Museum akan dibuka kembali pada pukul dua siang. Masih satu jam lagi kami harus menunggu. Saya putuskan menuju hotel untuk check in. Untuk yang kedua kalinya saya gagal mengunjungi museum ini. Tapi tidaklah mengapa. Masih ada waktu lain untuk kembali. Seperti tekad Sultan Agung yang ingin kembali ke Batavia setelah gagal untuk kedua kali menaklukkannya. Tekad yang tidak pernah terwujud. Pada akhirnya.

Saya ingin kembali ke Banda Aceh. Pun, saya ingin kembali ke Batavia. Sejarah telah membuktikan. Tidak akan lama di sini. Asal semua itu atas kehendakNya. Siapa tahu? Bukankah sejarah adalah jalan paling efektif menemukan alasan untuk tetap berharap? Membaca sejarah adalah membaca harapan. Membaca harapan adalah laku menjaga kewarasan. Kewarasan di Tapaktuan ini. Agar tak menjadi Sengkuni.

Terimong geunaseh.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 Desember 2013

RIHLAH RIZA #5: BANG HAJI DAN MIYAGI


RIHLAH RIZA #5: BANG HAJI DAN MIYABI MIYAGI

 
 

 
 

Dalam aku berkelana

Tiada yang tahu ke mana kupergi

Tiada yang tahu apa yang kucari

Gunung tinggi ‘kan kudaki

Lautan kuseberangi

Aku tak perduli


Tak akan berhenti aku berkelana
Sebelum kudapat apa yang kucari
Walaupun adanya di ujung dunia
Aku ‘kan ke sana ‘tuk mendapatkannya

 
 

(Berkelana Raden Haji Oma Irama, 1978)

**

Hari ketiga di Banda Aceh. Pesawat yang membawa kami pulang ke Jakarta dijadwalkan jam dua belas siang. Pak Andy Purnomo akan mengantarkan kami ke kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung 1 dan museum tsunami kalau masih ada waktu. Makanya kami harus check out pagi ini setelah sarapan.

Tak ada yang banyak saya lakukan menunggu jemputan jam sembilan pagi ini selain packing dan memastikan tidak ada yang tertinggal sama sekali. Pak Andy Purnomo datang tepat waktu bersama Slamet Widada. Sekarang ia tinggal bersama Pak Andy Purnomo di rumah dinas. Slamet tidak pulang ke Jakarta karena pekan depannya sudah dipanggil lagi ke Jakarta untuk mengikuti seminar keberatan.     

Tempat yang pertama kali kami sambangi adalah kapal apung ini. Tempat parkir mobil di lokasi yang sudah menjadi tujuan wisata turis lokal maupun mancanegara ini seadanya. Ada penduduk setempat yang mengarahkan kami harus parkir di mana. Untuk memasuki tempat ini pun tidak dipungut bayaran alias gratis. Namun ada kotak yang diletakkan di tengah pintu masuk. Silakan untuk memasukkan uang di kotak itu. Melewatinya saja juga tak apa-apa. Ada penjaga duduk di dekat pintu masuk sambil tangannya membawa alat hitung. Kalau ada orang masuk alat itu bunyi: “cekrek…cekrek…cekrek…”

 
 

Dokumentasi Pribadi

 
 

Kapal PLTD Apung 1 ini berdasarkan informasi dari Wikipedia awalnya milik PLN yang pada saat terjadinya bencana tsunami tahun 2004 terseret dua sampai tiga kilometer ke daratan dan menabrak rumah beserta isinya. Kapal ini beratnya 2600 ton atau 2,6 juta kilogram. Beratnya minta ampun ya…Tapi kedahsyatan air bah pada saat itu mampu membawa kapal itu sampai ke daratan. Nah, kenapa tidak dipindahkan saja? Kata Mas Andy Purnomo butuh biaya besar untuk memindahkannya. Orang Jerman minta biaya sampai dua puluh hingga empat puluh miliar rupiah. Sebenarnya kalau tak mau repot datangkan saja orang Madura dijamin itu kapal sudah habis tak bersisa.

Saya, Slamet Widada, dan Pak Andy Purnomo (Koleksi Foto Teman)

Sewaktu bencana tsunami di Jepang 11 Maret 2011 ada hal yang sama dengan yang di Aceh. Ada kapal terdampar sampai jauh ke daratan. Kali ini adalah kapal nelayan yang berbobot 300 ton bernama Kyotoku Maru No.18. Masih lebih kecil daripada yang mendarat di daerah Kampung Punge Blangcut, Jayabaru, Banda Aceh.

Gambar diambil dari sini.

Namun masyarakat di dekat tempat kapal ini terdampar tepatnya di Kesennuma, prefektur Miyagi sana tidak mau kapal itu ada. Mayoritas menginginkan agar kapal itu dibongkar saja karena hanya mengingatkan tragedi yang menelan lebih dari 19 ribu korban jiwa itu. Tragedi yang mengakibatkan bocornya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima dan membuat mereka sedih serta bermuram durja tak terobati. Akhirnya mereka sepakat untuk menjadikan kapal itu sebagai besi rongsokan belaka.

Di Aceh, lokasi kapal ini sudah tertata rapih. Ada menara-menara yang dibangun di sekitar kapal itu untuk bisa dinaiki oleh pengunjung. Dari menara itu bisa dilihat dari kejauhan bukit-bukit dan sekelingnya. Dulu pada saat tsunami dataran ini rata dengan tanah tanpa ada rumah-rumah. Sekarang sudah banyak rumah.

 
 

Pemandangan dari ketinggian menara.(dokumentasi pribadi)

Kami tidak lama-lama di sana. Kami tidak menaiki kapal. Kami cuma melihatnya dari menara. Setelah mengambil beberapa gambar teman-teman pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan langsung ke bandara. Kami tidak jadi ke museum karena waktu yang mefet mepet. Pun kalau melihat-lihat diorama yang ada di sana tentu butuh waktu lama. Apalagi buat saya yang wajib melihat detil isi museum. Sebelum pergi saya membeli kaos peugot (buatan) Aceh untuk Ayyasy dan dompet kerajinan tangan khas Aceh buat Umminya Kinan.

Tiga hari di Banda Aceh tentunya banyak pengalaman yang didapat walau dengan sedikit tempat yang dikunjungi. Belum lagi kota Sabang dan keindahan panorama pantai di pulau We. Perlu banyak waktu khusus untuk menjelajahinya. Tapi bukan sekarang. Saya datang ke kota Banda Aceh dalam rangka pelantikan mengemban amanah baru sebagai kepala seksi dan bukan untuk piknik. Kedatangan kami ke sana pun sebenarnya awal perjalanan panjang mengemban tugas yang telah diberikan negara. Di kota naga, Tapak Tuan, saya sejatinya akan berlabuh. Di pekan berikutnya. Bukan dengan surat tugas seperti saya datang ke Kutaraja melainkan dengan surat keputusan saya datang ke Tapak Tuan. Sama-sama surat tetapi membuat perbedaan yang jauh. Jauh sekali.

Ini sebuah kelana. Ini sebuah kembara. Ini sebuah rihlah. Ini sebuah babak baru. Yang orang tahu ke mana saya pergi. Yang orang tahu apa yang saya cari. Tidak seperti lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama di atas. Walau ada beberapa kesamaan pengelanaan Bang Haji dengan pengelanaan saya: gunung tinggi kudaki dan lautan kuseberangi. Entah
berapa gunung yang dilewati oleh pesawat yang saya naiki. Selat Sunda sudah pasti saya seberangi.

 
 

Saya memegang apa yang dikatakan ‘Aid Al Qarni tentang sebuah kembara ke berbagai tempat itu akan memberikan kebahagiaan kepada jiwa. “Bepergian dan membaca alam terbuka adalah sarana bagi seorang yang beriman agar bisa menyerap banyak pelajaran dan pesan moral.” Tiga hari di ibu kota provinsi tanah rencong ini saja sudah banyak sekali pelajaran yang didapat apalagi berhari-hari dan berbulan-bulan terdampar di ibu kota kabupaten yang tidak ada angkotnya itu. Insya Allah ini benar adanya.

Sebagai akhir pemikiran malam ini adalah pertanyaan: “ingin terdampar seperti kapal yang berada di Miyagi atau di Aceh?”

Dalam aku berkelana…

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapak Tuan 18:24 29 Oktober 2013

 
 

Tags: banda aceh, andy purnomo, tapak tuan, fukushima, kapal pltd apung 1, kapal apung, museum tsunami, ‘aid al qarni, ‘aid alqarni, sabang, pulau we, ayyasy, mohammad yahya ayyasy, kinan, kinan fathiya almanfaluthi, ummi kinan, tsunami, berkelana, bang haji rhoma irama, raden haji oma irama, 1978, berkelana 2, kyotoku maru no.18, miyagi,