Cerita Mudik: Dari Citayam, Brexit, Sampai Semarang


kendaraan-memasuki-pintu-tol-brebes-timur-pejagan-brebes-jawa-tengah-_160709184446-290


Akhirnya setelah satu bulan persis di Tapaktuan dan tidak bertemu dengan anak dan istri, saya bisa berkumpul lagi dengan mereka pada Jumat tanggal 1 Juli 2016. Tepatnya pada malam ke-27 Ramadan 1437 H. Masih ada waktu untuk sahur dan berbuka puasa bersama dengan mereka. Terpenting lagi melakukan perjalanan mudik untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di kampung.

Kami merencanakan mudik berangkat ke Semarang pada Senin siang (4 Juli 2016). Kami berangkat bertujuh. Saya dan Ummi Kinan, Kinan, Mas Haqi, Mas Ayyasy, Hendrik (adik istri), dan Mbak Alfi (keponakan). Sebelumnya kami telah mempersiapkan diri untuk membawa bekal buat berbuka puasa di tengah jalan. Seperti kejadian tahun lalu kami berbuka puasa di pinggir jalan tol Palikanci.

Kami berangkat dari rumah di Citayam pada pukul 12.30 dengan membaca Bismillah. Mengingatkan kepada semua bahwa perjalanan ini adalah perjalanan dalam rangka kebaikan dan bukan dalam rangka kemaksiatan. Sehingga dengan itu kami senantiasa berharap agar Allah melindungi perjalanan kami.

Baca Lebih Lanjut.

Anak Literasi Anak Peradaban



Kesukaan Kinan Fathiya terhadap buku begitu menggelora. Tak ada di tangannya kecuali buku saat ia berada di rumah. Anak bungsu saya yang duduk di bangku kelas dua sekolah dasar ini memang gemar membaca. Ia selalu meminta hadiah buku ketika saya pulang ke rumah dari bekerja di luar kota.

Membawanya ke toko ataupun pameran buku menjadi agenda bulanan buat kami berdua. Aroma buku yang menguar di toko buku senantiasa membangkitkan hasratnya untuk memiliki buku sebanyak-banyaknya. Ah Kinan, kau memang seperti ayahmu.

Baca Lebih Lanjut.

Mahabenar Engkau Adityawarman


image

KEMAHA PE A -AN***Dirut jasa Marga Adityawarman ini memakai EUFEUMISME “tidak pandai” kepada para pemudik sebagai pengganti kata goblok, pekok, pe-a, bego, pandir, dan segala antonimnya. Kalau sempat, pembaca silakan buka thesaurus bahasa Indonesia.

“Karena itu ya mungkin terlalu nikmatnya sampai Brexit. Kalau orang yang pandai pasti dia memilih keluar di (Gerbang Tol) Pejagan karena pasti lebih cepat. Tahun depan kalau belum bisa sampai Pekalongan (Tol Transjawa) mungkin kita akan stop. Lalu akan kita keluarkan di (Gerbang Tol) Kanci dan Pejagan,” lanjutnya.

Baca Lebih Lanjut.

Martabak Buat Bapak Polisi



Martabak Manis via https://patriciaangelika.files.wordpress.com

Selamat Pagi Pak Polantas, semoga pagi ini adalah pagi yang indah untuk dinikmati Bapak di tengah deru mesin kendaraan dan tentunya kepulan asap hitam yang keluar dari knalpot mobil angkutan umum. Semoga pagi ini pula adalah pagi yang penuh semangat untuk menjalankan tugas mulia Bapak, mengatur lalu lintas dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Semoga pagi ini pun adalah pagi yang penuh kebahagiaan karena anak dan istri di rumah baik-baik dan sehat-sehat saja, cukup makan dan cukup pendidikan.

Tidak hanya buat Bapak, pagi ini pun bagi saya adalah pagi yang penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia karena tadi malam saya mendapat sentuhan luar biasa dari pelayanan Bapak. Tapi sebelumnya saya ceritakan dulu kepada Bapak kenapa pagi-pagi ini saya teringat dengan Bapak.

Ya, di saat saya membaca halaman belakang sebuah koran nasional di Republik ini, mata saya terpaut pada foto di sudut kanan bawah halaman koran itu. Pada sosok-sosok polisi, teman-teman Bapak di Polres Pamekasan, yang sedang tekun mengikuti psikotes penggunaan senjata api. Saya paham cara ini dilakukan adalah untuk mengetahui seberapa jauh kelayakan teman-teman Bapak untuk memegang senjata api itu. Peristiwa Semarang telah membuat saya dan Bapak terkejut bukan?

Baca Lebih Lanjut.

Ketika Iblis Tak Pernah Mengatakan Itu



Akulah pemegang undang-undang penjara, akulah yang mematikan dan menghidupkan, aku boleh membunuh seratus orang sehari dan tiada siapa boleh menghalang. Jika tuhan turun, aku akan sumbat ke dalam penjara dan akan aku sula.

Hamzah Basyuni
**

 

Keberanian pasukan muslim menginap di Tabuk tanpa ada perlawanan pihak Romawi sebagai salah satu adikuasa pada saat itu membuat derajat kaum muslimin naik satu tingkat di mata bangsa Arab lainnya. Kemudian berdatanganlah utusan kabilah Arab dari berbagai penjuru menemui Rasulullah saw. Salah satunya dari Bani Amir yang mengutus Amir bin Thufail dan Arbad bin Qais. Dua orang yang tercatat dalam sejarah tapi dengan tinta hitam yang mengeruhkan.

Karena kedatangan mereka dengan mengancam Sang Terpilih. Ancaman yang tidak main-main: menghilangkan nyawa. “Kalau kita sudah berjumpa dengannya, saya akan membuatnya sibuk dan lupa denganmu. Kalau dia sudah lengah, pukullah dia dengan pedangmu,” kata Amir bin Thufail kepada Arbad. Tapi Rasulullah saw adalah makhluk yang terpelihara. Usai menolak menemui Amir bin Thufail yang menginginkan perbincangan empat mata, Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah aku dari Amir bin Thufail.” Apa yang terjadi?

Di tengah safari meninggalkan Madinah, Allah kirimkan penyakit thaun kepada Amir bin Thufail. Pembesaran kelenjar yang membuatnya menjerit kesakitan hingga kematian menjemputnya di rumah seorang wanita Bani Salul—suatu kabilah Arab yang dianggap rendah oleh kabilah Arab lainnya. Bagaimana dengan Arbad bin Qais?

Baca Lebih Lanjut.

Jangan Baper: Sekarang Siapa yang Gila Hormat?



Gila hormat itu tidak boleh, tetapi menjadi orang yang terhormat haruslah jadi tujuan hidup.

(Buya Hamka dalam buku Tasawuf Modern)

Ingat cerita tentang Nabi Khidir yang melubangi perahu nelayan miskin lalu membunuh seorang anak muda. Jelas secara akal sehat ini adalah sebuah kezaliman. Dan ini diprotes oleh Nabi Musa as yang baper.

Tapi dalam rangkaian QS Alkahfi diterangkan akhir cerita di atas bahwa ada hikmah atas semua kejadian itu. Hikmahnya seringkali kita harus berkhusnudzan dan jangan mengambil kesimpulan buruk terhadap seseorang karena yang nampak secara lahir belum tentu sama secara batin.

Maka dalam peristiwa kali ini kita pun perlu menggunakan perspektif Nabi Khidir agar tidak baper dan tidak berburuk sangka. Tentu bukan pada pembunuhan dan pelubangan itu, karena untuk realitas zaman sekarang—seperti yang dikatakan teman saya—rasanya sulit untuk berkhusnudzan terhadap orang yang melubangi perahu dan membunuh anak muda. Polisi akan turun tangan untuk menangkap pembunuh.

Baca Lebih Lanjut.

Lakukan ini, Doa Pasti Dikabul, Salat Pasti Diterima



Tiga kali puasa, akankah tiga kali lebaran? Minggu terakhir di bulan Sya’ban ini menjadi kali ketiga mengawali puasa tidak di rumah bersama keluarga. Waw, perasaannya jadi campur aduk. Apalagi Tapaktuan sepi banget pada saat dua hari menjelang puasa. Toko-toko dan warung-warung pada tutup. Ada tradisi Meugang. Semua laki-laki Aceh berkumpul bersama dengan keluarganya sambil bawa daging sapi atau kerbau buat dimasak dan dinikmati bersama. Tradisi yang mengakar kuat sejak zaman kerajaan Aceh Darussalam.

Makanya ketika teman-teman kantor pada pulang dan memang harus pulang sedangkan saya jaga kantor, benar-benar saya cuma bisa berdoa agar saya punya kesempatan yang sama dengan mereka, bisa berkumpul dengan keluarga.

Bisa berbuka puasa bersama dengan anak dan istri itu adalah sesuatu yang istimewa. Menggelar tikar di ruangan utama lalu menaruh semua apa yang bisa disantap di atas tikar itu kemudian berdoa ketika azan berkumandang dan berbuka puasa, subhanallah. Jadi buat teman-teman yang sampai saat ini masih diberikan kenikmatan seperti itu. Syukurilah. Itu anugerah. Itu kenikmatan tiada tara. Tidak ternilai. Kalau sudah bisa disyukuri, maka yakinlah Allah akan menambah dengan begitu banyak kenikmatan lainnya.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari: Menjadi Prajurit Alqutuz



Sejak ditempatkan di Tapaktuan dan mengenal olahraga lari, keterbatasan waktulah yang menghalangi saya untuk mengikuti lomba-lomba lari. Tapaktuan itu jauh kemana-mana. Tapi kali ini, takdir menentukan lain. Akhirnya kesampaian juga buat ikut race di SpecTAXcular 2016. Homely karena yang menyelenggarakan adalah instansi sendiri.

Sebuah even kampanye pajak yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) pada hari Ahad, 29 Mei 2016 di Jakarta, tepatnya di pelataran parkir barat Sarinah Plaza. Salah satu acaranya adalah lomba lari 5K.

Ini race pertama saya. Momen pertama kali saya untuk bisa mengunjungi Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman dan Thamrin, Jakarta. Juga adalah kopdar pertama saya bersama teman-teman lari di DJP Runners yang seru-seru itu.

Berangkat Jumat malam dari Tapaktuan, sampai Sabtu siang di Bandara Halim Perdanakusumah. Sampai di Citayam Bogor sudah sore. Langsung saya ajak istri dan Kinan untuk pergi ke rumah adik di Jakarta. Malamnya saya carbo loading sambil mengitari seputaran Jalan Wahid Hasyim dan Jalan Cut Meutia, Jakarta.

Baca Lebih Lanjut.

Tembok Besar Cina Buat Mereka


 

 

“Ketika kami tiba di rumah, Ayah menarik bahu saya dan menghadapkan saya ke wajahnya. Dengan suara baritonnya, dia berkata, “Nak, ingatlah ini. Yang penting bukanlah kamu mulai dari mana, melainkan kamu berakhir di mana.”

Seringkali orang dibuat jauh terlebih dahulu untuk merasakan betul nikmat yang besar berupa persatuan  dan perjumpaan. Begitulah adanya saya.  Penugasan yang berjarak ribuan kilometer membuat saya tidak bisa berkumpul dengan keluarga setiap saat. Saya pulang sebulan sekali ke Kota Hujan.

Maka di situlah saya belajar yang namanya kangen yang dendam, rindu yang tak berkesudahan. Kepada istri dan anak-anak tentunya. Anak pertama saya, laki-laki, sudah duduk di kelas 1 SMA. Anak kedua saya, laki-laki juga, sudah kelas 2 SMP di sekolah dan pesantren yang sama dengan kakaknya. Sedangkan si bungsu, perempuan, baru kelas 2 SD.

Saya sadar mereka berada di usia-usia yang membutuhkan panutan. Bukankah kita tahu dari berbagai pakar parenting yang menyatakan bahwa ada lima fase kehidupan saat seorang anak mengalami masa krisis dan ayahlah—mengutip Bendri Jaisyurrahman—pertanda dari Allah yang mampu menyelamatkannya.

Pertama, saat anak mulai masuk sekolah. Kedua, saat anak praremaja. Ketiga, saat remaja. Keempat, saat menjelang pernikahan. Dan kelima, lima tahun pertama usia pernikahan.

Kini, saya tidak berada di sisi mereka pada fase ketiga itu. Maka dari itu, saya berusaha untuk selalu “keep in touch” dengan mereka. Melalui jaringan telepon misalnya.

Tapi kesibukan dan peraturan yang ketat di pesantren tentunya membuat saya tidak bisa bebas menelepon mereka setiap saat. Namun ketika sudah tersambung, mendengar suara mereka saja itu sudah cukup bagi saya. Ini mampu menurunkan tensi tinggi kangen saya.

  Baca Lebih Lanjut.

malam separuh


 


 

sebuah purnama mengunggah pesona
mengguncangkan
enggan menjadi epilog
lantas nista menyelinap 
asyik masyuk
sedang di atas sana
langit gemetar
Kau ampuni fadihatku, Gusti Allah?

 

 

 

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Tapaktuan, 21 Mei 2016