Martabak Buat Bapak Polisi



Martabak Manis via https://patriciaangelika.files.wordpress.com

Selamat Pagi Pak Polantas, semoga pagi ini adalah pagi yang indah untuk dinikmati Bapak di tengah deru mesin kendaraan dan tentunya kepulan asap hitam yang keluar dari knalpot mobil angkutan umum. Semoga pagi ini pula adalah pagi yang penuh semangat untuk menjalankan tugas mulia Bapak, mengatur lalu lintas dan melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Semoga pagi ini pun adalah pagi yang penuh kebahagiaan karena anak dan istri di rumah baik-baik dan sehat-sehat saja, cukup makan dan cukup pendidikan.

Tidak hanya buat Bapak, pagi ini pun bagi saya adalah pagi yang penuh kebahagiaan. Bagaimana tidak bahagia karena tadi malam saya mendapat sentuhan luar biasa dari pelayanan Bapak. Tapi sebelumnya saya ceritakan dulu kepada Bapak kenapa pagi-pagi ini saya teringat dengan Bapak.

Ya, di saat saya membaca halaman belakang sebuah koran nasional di Republik ini, mata saya terpaut pada foto di sudut kanan bawah halaman koran itu. Pada sosok-sosok polisi, teman-teman Bapak di Polres Pamekasan, yang sedang tekun mengikuti psikotes penggunaan senjata api. Saya paham cara ini dilakukan adalah untuk mengetahui seberapa jauh kelayakan teman-teman Bapak untuk memegang senjata api itu. Peristiwa Semarang telah membuat saya dan Bapak terkejut bukan?

Nah, dari sanalah saya terkenang peristiwa tadi malam. Teringat Bapak yang pada saat itu dibalut dengan jas hujan berwarna putih—karena Depok malam itu hujan namun tidak begitu deras—memegang handy talky di tangan kiri, lampu senter di tangan yang satunya lagi, tiba-tiba berjalan ke tengah. Menghalangi motor saya yang berjalan pelan dan menyuruh saya untuk menepikan motor.

Saya terkejut Pak. Apalagi seumur hidup saya, saya belum pernah ditilang oleh teman-teman sejawat Bapak. Dan karena saya pun bertekad untuk menaati kewajiban saya sebagai pengguna jalan sebagaimana diamanahkan dalam undang-undang lalu lintas. Jadi jangan sampai deh rekor saya yang tidak pernah ditilang itu menjadi buruk gara-gara kelalaian saya. Jadinya saya selalu berhati-hati.

Jantung saya langsung berdebar Pak. Memikirkan kesalahan saya apa. Secepat kilat itu pula saya langsung tersadar lampu motor saya belum dinyalakan. Alamak…saya kelupaan Pak. Maklum motor saya tidak bisa langsung dinyalakan kalau lampu motor dalam posisi on, sehingga harus saya off-kan terlebih dahulu, baru dapat hidup setelah menekan tombol starter.
Masalahnya saya sering lupa untuk menyalakannya lagi.

Saat itu Pak, terbayang sudah kerepotan yang bakal saya alami untuk mengurus surat tilang di pengadilan. Tapi memang sih Pak sebelumnya sempat terbayang sudah nego-nego dengan Bapak di pinggiran jalan—sesuatu yang memang harus saya hindari, bukan karena uangnya tapi karena kehormatan diri Bapak dan saya yang harus dijaga sama-sama. Apalagi kata tetangga dan kawan-kawan saya, teman-teman kerja Bapak dikenal tanpa kompromi dalam pemberian peringatan tapi mudah untuk menawarkan negosiasi. Sesuatu stigma buat instansi bapak yang belum saya buktikan sendiri.

“Selamat Malam Pak,” tegur Bapak.

” Malam Pak,” jawab saya.

“Lampunya kok enggak dinyalakan?”

“Maaf Pak, saya benar-benar lupa. Tadi habis makan di pinggir jalan. Lupa dinyalakan lagi Pak.”

“Pulangnya kemana?”

“Citayam Pak”

“Surat-surat lengkap?”

“Lengkap Pak”

“Tunjukkan pada saya”

Saya segera membuka dompet lusuh saya. STNK adalah surat pertama yang saya keluarkan dan langsung diserahkan kepada Bapak. Serta merta Bapak menelitinya lewat lampu motor yang sudah saya nyalakan. Mencocokkan nomor motor dan mengecek apakah saya sudah membayar pajak atau belum.

Selagi Bapak sibuk dengan itu, saya masih saja belum menemukan SIM saya berada di lipatan sebelah mana pada dompet saya. Setelah bolak-balik mencari dan hampir putus asa, ditambah grogi yang mulai merambah jiwa akhirnya saya menemukannya di tumpukan kartu plastik saya.

“SIM-nya Pak,” kata saya.

Segera Bapak kembali menunduk untuk membacanya di bawah penerangan lampu motor saya.

“Bapak PNS-nya di mana?” tanya Bapak.

“Di kantor pajak Pak,” jawab saya polos.

Wah, seharusnya Bapak tahu kewajiban menyalakan lampu sama seperti kewajiban membayar pajak.” katanya sambil menyerahkan surat-surat itu kembali kepada saya.

“Lain kali Bapak harus menyalakan lampu. Jangan sampai lupa,” pesan Bapak.

Saya cuma bisa menjawab, “terimakasih Pak.” Bapak cuma mengangguk, tersenyum, dan pergi untuk berkutat kembali dengan tugasnya mengatur lalu lintas di pertigaan jalan baru, Margonda, Depok.

Sungguh saya terperanjat Pak dengan sikap Bapak. Bahkan saya ternganga. Di luar dugaan saya. Termangunya saya mungkin bisa saja aneh dalam penggambaran kartun Jepang, muka bodoh dengan mulut terbuka dan di sudut bibir ada air liur yang akan menetes jatuh.

“Ah, Pak…Pak…Bapak baik banget sih sama saya.” Saya kira saya akan ditilang. Saya cuma dikasih peringatan—baik-baik lagi, bukan diberikan penawaran, dan tidak direpotkan dengan urusan lain-lain nantinya. Untuk Bapak, kini, stigma itu tidak terbukti. Sungguh.

Dalam keterpanaan tersebut, inginnya saya kembali menemui Bapak, untuk memberikan pujian dalam pelayanan Bapak, menanyakan nama Bapak, menjabat erat tangan Bapak, dan mengucapkan beribu terima kasih. Tapi itu akan mengganggu tugas Bapak lagi.

Jadi saya cuma bisa mendoakan Bapak agar bisa menjalankan tugasnya dengan baik, diberikan rahmat dan hidayah oleh Allah sehingga menjadi polisi yang salih, diberikan keberkahan dalam rumah tangga Bapak, dan diberikan kemudahan dalam mendidik anak serta diberikan kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat buat Bapak dan keluarga.

Subhanallah, kebaikan yang Bapak lakukan telah mendorong saya untuk mendoakan kebaikan untuk Bapak. Dan saya berusaha untuk mengingat-ingat wajah Bapak, soalnya tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya, niat untuk membelikan Bapak satu porsi besar martabak spesial. Enak untuk dimakan hangat-hangat di saat bertugas di musim hujan seperti ini.

Sudah pasti ini tidak layak disandingkan dengan segala jasa Bapak, tapi izinkan saya untuk mengapresiasi atas pelayanan Bapak tersebut sebagai tanda hormat. Cuma dengan martabak sebagai pengganjal perut, agar tugas Bapak tidak direcoki oleh perut yang keroncongan karena belum makan sedari siang. Tidak dengan gaji yang tinggi—yang memang sudah sewajarnya diterima oleh Bapak—karena saya cuma pegawai biasa, yang tidak bisa memberikan kebijakan yang menyenangkan buat Bapak.

Terima kasih Pak, telah membuat saya punya niatan baik seperti ini, karena sesungguhnya suatu kebaikan sudah tercatat sebagai amal kebajikan walau sekadar niat. Tapi kalau ingin dapat banyak lagi, niatan baik memang perlu untuk direalisasikan. Suatu saat, sambil selalu mengingat wajah Bapak, saya akan menyerahkan martabak itu kepada Bapak, walau saya tidak tahu nama Bapak.

Bapak memang Good Cop untuk saya.

***

Memori Margonda Depok

Tulisan di atas adalah termasuk salah satu dari sekian tulisan terpilih dalam rangka HUT Komunitas Menulis ESKA (Sekolah Kehidupan) tahun 2007.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10 08 2007

Kalibata Cerah

Gambar via https://patriciaangelika.wordpress.com

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s