MY FIRST HALF MARATHON



Di Tapaktuan saya masih ragu bawa sepatu lari atau tidak. Tapi daripada kelamaan mikir akhirnya saya bawa ke Banda Aceh. Kebetulan Senin nanti ada dinas di sana.

Dari Tapaktuan malam hari naik travel Sempati. Di travel saya usahakan sebisa mungkin buat tidur. Alhamdulillah bisa. Jadi insya Allah belum berasa capek walau menempuh jarak 500km-an. Tiba di Banda Aceh jam 7.45 pagi.

Sampai di hotel langsung ganti kostum dan pakai sepatu lari walau belum sarapan. Sayang banget kalau hari Ahad tak dipakai buat lari. Kali ini saya punya tekad buat lari sejauh 21,1 km. Belum pernah mencoba. Paling jauh 15 km, itu pun bulan Maret 2015 lalu.

Setelah pemanasan sebentar dan aktifkan GPS di Garmin langsung lari. Tentu sebelumnya doa dulu buat dikuatkan oleh yang Maha Kuat, Allah swt. Bismillah.

Mulai dari Peunayong, Meuligo Gubernur, lalu ke kiri entah di jalan apa. Ketemu rombongan TNI yang sedang lari dengan irama yang rampak dan nyanyi-nyanyi yang menyemangati. Pengen sekali bisa gabung di belakang mereka karena nyanyian mereka itu membuat irama lari saya bisa teratur. Tapi saya masih punya agenda lain. Jadi saya tinggalkan mereka.

Lalu saya sampai di Blang Padang. Jarak sudah 5 km. Muterin sekali pusat olahraga masyarakat Banda Aceh ini lalu pergi ke Uleleue. Susuri jejak-jejak tsunami. Sampai sana sudah 9 km. Insya Allah masih kuat. Menyusuri daerah itu saya jadi mengingat peristiwa tsunami 11 tahun yang lalu itu dan memang dahsyat sekali. Air masuk bergulung-gulung hingga ke daratan lebih dari 5 km. Kok tahu? Saya kan pakai jam GPS jadi tahu jarak Uleleue ke Blang Padang itu.

Hari mulai siang. Panas sudah mulai terasa. Jalanan sudah mulai berdebu karena dilewati oleh truk-truk besar. Saya terus berlari. Lalu berputar dan sampai ke jalan Teuku Umar. Di ajaln itu saya bertemu seorang pemuda yang memakai jaket abu-abu. Dia pelari juga. Tapi sedang kelelahan. Sambil jalan ia minum sebotol air putih.

Saya tak kenal dia. Saya ajak dia untuk lari bersama. Dia mau. Dia membersamai saya. Ngobrol-ngobrol sedikit dan saya bilang kepadanya kalau saya dulu gendut seperti dia. Tapi saya olahraga dan bisa kurus juga. Sekalian memotivasi dia. Tapi dia tak bertahan lama. Dia mempersilakan saya untuk terus berlari. Padahal ketika lari sama dia, saya merasa kecepatan saya bertambah. Ketika berpisah malah kecepatan saya melambat. Jadi memang betul kalau lari juga butuh teman untuk saling menyemangati.

Saya melewat Canai Mamak dan ketemu pertigaan museum tsunami. Ini sudah 15 km. Masih kuat. Nafas masih ada. Tapi kaki sudah tak mau kompromi. Kecepatan sudah lambat. Sudah 8 menitan/km.

Tiba di Blang Padang lagi. Masih tetep ramai. Terutama yang sedang menumpuk kalori. Yang masih lari bisa dihitung dengan jari. Itu pun sporadis. Cari-cari teman-teman Indorunners Aceh namun tak ketemu. Tak ada yang menyapa saya. Halah siapa lagi saya ini.

Masih 6 km lagi. Kudu muterin Blang Padang 6 kali. Insya Allah bisa. Dua kilometer terakhir sudah titik kritis. Tapi harus dipaksakan. Soalnya kapan lagi kalau tidak sekarang. Kecepatan lambat sampai bisa disusul oleh anak-anak yang lagi pakai sepeda tiga roda. Tak memikirkan itu yang penting selesai.

Beberapa kali saya melewati pemuda penjual Pocari Sweat. Dan bilang kepadanya kalau saya dua putaran lagi akan beli minumannya itu. Soalnya dia pas lagi beres-beresin barang dagangannya. Mau tutup barangkali.

Satu kilometer terakhir kaki sudah mulai masalah. Lanjut saja. Berasa lama sekali menyelesaikan 500 meter terakhir. Berasa jauh, jauh, dan jauh. Akhirnya 21 km selesai. Tinggal selesaikan 100 meter saja. Ini lamaaaaaa pakai banget. Tidak sampai-sampai. Btw, akhirnya selesai di depan pemuda penjual minuman itu. Tepatnya di 21,23 km. Alhamdulillah tuntas my first half marathon saya. Pace-nya ternyata sama dengan pace saat menyelesaikan 15 km dulu: 7:49 (min/km).


Langsung tenggak dua botol gede plus satu botol kecil total ada 1.350 ml. Masih berasa haus dan lapar. Setelah itu bayar pakai uang kertas ygang saya selipkan di sepatu. Uangnya tidak bau dan masih layak buat alat tukar. Maklum kaos dan celana tak ada kantongnya.

Saya cabut. Eh…baru beberapa meter sudah tak kuat jalan. Padahal maunya ke hotel jalan kaki. Paha belakang sakit dan berasa kram. Nyetopin tukang becak motor. Dia heran kok pelari naik becak. “Kecapean ya Pak? tanyanya. Saya senyum doang.

Akhirnya sampai di kamar. Lalu banyakin minum air putih. Soalnya jangan sampai dehidrasi. Tandanya adalah air seni berwarna kuning coklat. Saya berendam di bathtub dengan air panas untuk menghilangkan kram.

‘Ala kulli hal akhirnya selesai juga. Sekarang saatnya recovery. Btw, setelah kenal Freeletics saya jadi bisa lari. Setelah bisa lari saya jadi tahu dan bisa lari 5K. Bisa juga lari 10K. Bisa juga lari 15K. Dan akhirnya Half Marathon nonstop. Jangan ditiru masalah tidak minumnya. Harusnya berhenti minum ketika sudah mulai kehausan. Tadi tanda-tandanya belum ada atau sayanya yang tak tahu atau bahkan nekad.

Dulu waktu awal-awal kenal Freeletics saya senyum kecut saja melihat status Anja—free athletes dari Jerman—yang baru menyelesaikan Half Marathon-nya. Berpikir. Emang saya bisa gak yah? Ternyata bisa. Kalau konsisten dan punya tekad kuat insya Allah bisa. Next step maybe Full Marathon.

Kalau sudah begini artinya jika saya bisa berarti teman-teman juga bisa. Saya bisa ente juga bisa. Dulu saya gemuk dan buncit sekarang alhamdulillah nggak lagi. Artinya berarti ente juga bisa kurus. Yang penting mau enggak berubah. Sudah itu saja.

Ayo semangat!!!!

Selamat siang dan wassalaamu’alaikumwrwb.

***

Riza Almanfaluthi

Banda Aceh

6 September 2015


Advertisements

4 thoughts on “MY FIRST HALF MARATHON

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s