KUHADIAHI DIA DENGAN CIUMAN GANASKU


Di saat pulang kerja, atau pulang dari mana saja, atau di saat apapun, dan di saat kerinduan saya merayap ke sekujur tubuh pada anak-anak saya, maka seringkali saya meminta pada anak-anak saya untuk berkumpul setelah mereka mencium tangan saya.
“Haqi, Ayyasy ke sini! Abi bawa hadiah nih,” teriakku kepada mereka berdua. Mereka kalau sudah mendengar kata ‘hadiah’ girangnya bukan main.
“Hadiah apaan Bi?” tanya si bungsu, Ayyasy, yang biasanya paling antusias. Iya, dia yang paling duluan merebut kantong plastik hitam yang biasa tergantung di stang motorku kalau saya pulang dari kantor. Kayaknya dia seneng banget kalau ada saja yang dibawaku.
Kali ini tidak ada kantong plastik hitam itu. “Hadiahnya adalah cium abi dong,” jawabku. Serempak mereka berdua berkata, “yahhhh….” Walaupun demikian mereka tetap menciumku. Caranya adalah saya menyodorkan pipi kanan saya kepada mereka lalu mereka mencium pipi saya itu. Lalu menyodorkan pipi kiri saya dan mereka melakukan hal yang sama. Terakhir saya akan mencium bibir mereka masing-masing. Tapi, sejak Haqi sudah kelas dua, Ia sudah tidak mau lagi dicium bibirnya oleh saya. Geli kali…Untuk Ayyasy kuhadiahi dia dengan bonus ciuman ganasku pada pipinya, karena pipinya yang tembem itu loh, menggemaskan.
Di saat saya memberikan hadiah yang sebenarnya kepada mereka atau membawa oleh-oleh untuk mereka, maka seringkali saya meminta kepada mereka untuk menciumku. Setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Dan tidak lupa pula saya selalu menanyakan sesuatu kepada mereka setelah kami saling berciuman, “Haqi, Ayyasy, sayang Abi enggak? Mereka akan menjawab serempak: “sayang.” Terkadang si Haqi menyeletuk dengan jawaban ini: “Enggak sayang.”
“Bener nih? Kalau enggak sayang Abi tak akan kasih uang jajan loh,” tanyaku. Dan biasanya Haqi akan menjawab: “Eh iya…iya Haqi sayang Abi.” Saya cuma tersenyum mendengar jawabannya itu.
Lagi-lagi setelah itu terasa ada kebahagiaan pada diri saya. Indah nian…
Saya merasakan setidaknya ini menjadi pelipur dari ketidakdekatan kami secara kuantitas karena saya harus berangkat kerja sebelum mereka bangun tidur dan pulang ke rumah saat maghrib telah menjelang.
Ciuman untuk mereka menurut saya adalah hadiah immaterial terbaik dari saya untuk mereka. Sebenarnya tidak hanya ciuman bisa kita berikan kepada mereka sebagai hadiah immaterial-nya, bisa pula berupa pujian, dekapan, membacakan buku cerita, main game bersama, mendongeng, menjawab segala pertanyaannya, atau ke masjid bersama-sama.
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya menjalin kedekatan jiwa dengan anak melalui sentuhan kasih-sayang. Rasulullah Saw. biasa mencium putri dan cucunya. Bahkan terkadang Rasulullah Saw. turun sejenak dari mimbar untuk mencium cucunya Al-Hasan dan Al-Husain yang datang berlari kepadanya. Rasulullah Saw. juga pernah menggendong Umamah—cucunya dari Zainab binti Rasulullah Saw.—sedangkan beliau melakukan shalat.
Ciuman untuk mereka menurut saya, mengutip dari Muhammad Fauzil Adhim, adalah upaya kecil saya untuk bisa belajar—sekali lagi saya dalam proses belajar—menerapkan positive parenting. Apaan tuh? Intinya sih bagaimana menjadi orang tua yang baik buat anak-anak kita. Memangnya kita selama ini tidak baik kepada mereka? Memangnya ada orang tua yang jahat pada anaknya? Wuiihhh…di dunia yang sudah seperti daun kelor ini karena saking tidak ada batasnya, sudah sering kita mendengar kekejaman dan kebuasan yang dilakukan orang tua pada anak-anaknya. Tak perlu saya ceritakan di sini, cukup Anda, para pembaca, membaca dan mendengar dari media massa dan elektronik di setiap harinya.
Ciuman untuk mereka bisa juga menjadi sebuah kiat mengatasi kerewelan anak sebagaimana telah saya baca sebuah ceritanya dari Ibu Yana di Karet Kuningan, Setiabudi Jakarta Selatan berikut ini:
Saya kadang dibikin repot sama anak kedua saya, Himmah. Ia agak lain dari kakak dan adiknya. Mungkin karena ia anak tengah. Kata orang, anak tengah selalu ingin tampil beda. Bedanya, Himmah lebih bawel bin rewel dari kakak dan adiknya. Karena kerewelannya, sejak bayi hingga sekarang berusia empat tahun, Himmah tidak pernah jatuh dari tempat tidur. Tiap kali bangun tidur, ia selalu memberikan pengumuman. Bunyinya sederhana, tapi kencangnya luar biasa. “Huwaaaaaaaa!!!!”
Di usia empat tahun ini, saya seperti sudah terbiasa dengan Himmah. Ada kiat khusus buatnya, terutama kalau lagi rewel. Kalau rewelnya hampir mencapai maksimal, saya langsung memeluknya. Saya cium pipinya yang kiri, kemudian yang kanan. Setelah itu, saya cium juga dahinya. Setelah selesai, saya bilang sama Himmah, “Mah, Umi sudah cium kamu. Sekarang, kamu cium Umi, ya!” Nah, kalau Himmah mau membalas ciuman saya maka ia bisa menghentikan rewelnya untuk beberapa saat. Mana mungkin bisa nyium sambil rewel. Saya yakin, kerewelannya berbanding lurus dengan posisinya di tengah. Dan, cara itu memang efektif. Ngiri, kali!
Ciuman untuk mereka bagi saya adalah upaya kecil saya agar Allah senantiasa mengekalkan rasa kasih sayang dari hati saya, sebagaimana dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari: Suatu saat Rasulullah saw mencium cucunya. Seorang pembesar bernama Aqra’ bin Habis At-Tamimi melihatnya, lalu berkomentar, ”Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang pernah kucium.” Rasulullah saw lalu menjawabnya dengan ungkapan yang fasih, ”Apa dayaku bila Allah telah mencabut kasih-sayang dari hatimu!”
Yah, sekali lagi ciuman adalah penuntasan kerinduan saya kepada mereka. Walaupun bagi orang lain bisa jadi hal itu merupakan hal yang biasa dan sepele, bagi saya, ia adalah hal yang amat luar biasa dan berkesan bagi saya.
Dan ungkapan sayang mereka ibarat alunan seruling yang mengalun meritmis di sela-sela bukit-bukit dan lembah-lembah di tatar Pasundan. Indah dan menghanyutkan.
Pembaca, ciumlah anak-anakmu, rasakan kebahagiaan itu sebagaimana kebahagiaan yang saya rasakan. Semoga keindahan itu pun akan dirasa…

Maraji’:
1. Dan Anak Kita Penulis: Tim Buah HatiSumber: alhikmah.com, Senin, 28 Oktober 2002;
2. Promoting Attachment (Mohammad Fauzil Adhim), keluargamuslim.com, Kamis, 23 Januari 2003;
3. Kiat Mengatasi Anak Rewel, Ummigroup, Rabu, 25 September 2002

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
03:35 24 Oktober 2007

Cerita Mudik: 540


540
Adalah kilometer yang harus saya tempuh dalam perjalanan balik saya dari Tlogosari, Semarang ke Pabuaran, Bojonggede. Ini adalah pengalaman pertama dalam seumur hidup saya mengendarai sendiri mobil yang menempuh jarak ratusan kilometer. Waktu mudik di H-1, hari Jum’at (12/10) keluarga di Semarang belum memercayai saya untuk memegang sendiri kemudi sehingga harus mengirimkan orang terpercaya di keluarga kami untuk pegang kendali perjalanan mudik itu.
Ohya, perjalanan mudik kami saat itu terasa menyenangkan. Mengapa? Karena perjalanan kami lancar-lancar saja dan tidak terjebak kemacetan berjam-jam seperti yang diberitakan di malam sebelumnya atau di H-2 dan H-3-nya. Ini dikarenakan kami berangkat ba’da shubuh, tepatnya pukul 05.30 WIB di Jum’at itu. Coba kalau kami memaksakan diri untuk berangkat di malamnya, pasti kami terjebak di Tol Cikampek atau Tol Kanci yang padat merayap.
Dari pengalaman mudik dari Jakarta ke Semarang yang menarik itu saya bertekad bahwa nanti kalau balik dari Semarang ke Jakarta, saya sendiri yang harus menyupiri. Orang lain? No way. “Bener, nih?” tanya ipar saya setengah tidak percaya. “Insya Allah,” tegas saya.
Maka untuk mempersiapkannya, saya sering jalan-jalan menyusuri jalanan Semarang dan paling jauh ke rumahnya Mbah Redjo*) di sekitar Borobudur, Magelang dengan menempuh jarak 80 kilometer lebih dengan jalan dua arah yang sempit dan tidak selebar jalan pantura Jawa Barat. Apalagi terasa beratnya menaiki jalanan mendaki di sekitar Ungaran dan berliku di Bawen. Alhamdulillah berhasil juga sampai ke Magelang. Ini menambah kepercayaan diri saya bahwa saya bisa pergi ke Jakarta sendiri.
Agar perjalanan balik itu terasa nyaman dan mengasyikkan—sebagaimana slogan Polri dalam Operasi Ketupat tahun ini , Mudik itu Asyik—maka saya cuci mobil itu sebersih-bersihnya dan sekinclong-kinclongnya. Ruang dalamnya saya bersihkan dengan vacuum cleaner agar tidak ada sedikitpun kotoran yang tersisa. Saya isi bensin full tank dengan membayar Rp182.500,00. Tekanan ban saya cek terlebih dahulu, ini penting banget karena saya melihat bannya kok seperti kempes. Dan betul setelah dicek ternyata tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Tekanan ban depan yang seharusnya ukurannya 31 psi ternyata cuma 29 psi. Dan ban belakang tidak sesuai ukuran yang seharusnya 35 psi.
Akhirnya saat itu pun tiba, Sabtu (20/10) pagi, tepatnya pukul 06.30 WIB, setelah berpamitan, mengenolkan odometer agar bisa diketahui seberapa jarak yang telah kami tempuh, memasang seatbelt dengan benar, bersama-sama berdoa: bismillahi majreha wamursaha inna robbi laghofururrohiim, memperbanyak sholawat, berangkatlah kami berlima, istri saya, dua anak saya, dan saudara kami, ke Jakarta.
Dengan hanya bermodal papan petunjuk arah yang dipasang di sepanjang jalan pantura saya mulai melakukan perjalanan jauh ini. Yang harus saya waspadai adalah pengendara motor. Sudah cukup banyak berita yang saya dengar tentang banyaknya jumlah korban yang tewas kebanyakan dari para biker itu. Untuk itu saya selalu menjaga jarak, menjaga kecepatan—tidak pernah lebih dari 80 km/jam, dan senantiasa pergunakan lampu sen untuk berpindah jalur.
Batang, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes saya lalui dengan lancar walaupun sempat tersendat saat melintasi kota Pekalongan karena jalan yang sempit, banyaknya pertigaan dan penyeberang jalan. Kami beristirahat di SPBU sebelum Tol Kanci. Setengah jam kemudian kami sudah melanjutkan perjalanan.
Menuju tempat bibi saya di Segeran, Indramayu, sengaja saya tidak lewat jalan Tol Kanci. Saya lewat kota Cirebon dan melalui jalan alternatif menuju Karangampel, rute jalan yang dulu kami lewati saat berangkat mudik. Jalanannya lebar 4 jalur, sepi dan berseparator. Benar-benar asyik!
Bertahun-tahun kami selalu lewat sini, tapi saya pikir, aneh juga kenapa banyak pemudik yang tidak mengambil rute bagus ini. Jalur konvensional Lohbener-Jatibarang-Palimanan-Kanci itu selalu padat dengan pemudik terutama pengendara motor dan rawan kemacetan. Seharusnya kalau mereka tahu betapa bagusnya rute ini yaitu Lohbener-Jatibarang-Karangampel-Cirebon, pasti mereka akan kesengsem untul melewatinya. Ohya, jangan ambil rute Lohbener-Indramayu-Karangampel-Cirebon karena jalan itu adalah jalan alternatif yang terlalu jauh memutar.
Sampai di tempat bibi saya jam setengah tiga sore. Beristirahat sebentar, makan-makan dulu, lalu diberi oleh-oleh mangga asli Indramayu yang tanpa obat dan pengawet, saya lalu berpamitan menuju Jatibarang untuk bertemu dengan bapak saya dan bersilaturahim dengan saudara-saudara saya di sana.
Di Jatibarang, saya sempat gregas-greges, masuk angin, pusing-pusing, dan berkeringat dingin. Saya paksakan untuk tidur sebentar, sekitar 10 menit. Ganti baju dan meluluri tubuh dengan minyak kayu putih dan balsam, sedikit banyak mampu mengusirnya.
Pukul 17.30 WIB dari Jatibarang, kami—yang sekarang berenam, ditambah adik saya yang ikut menumpang—melanjutkan kembali perjalanan balik ini. Suasana remang-remang, jalanan yang mulai padat, tidak sedikit pemudik motor yang tetap berkendara, penyeberang jalan yang sembarangan, pengemudi mobil yang tidak sabaran membuat saya harus menambah konsentrasi dan tetap waspada. Karena, lagi-lagi, berkendara malam adalah petualangan pertama saya. Dan saya bertekad untuk tidak beristirahat terkecuali di saat jelang tol Cikampek.
Kandanghaur, Pamanukan, Ciasem, Sukamandi sudah saya lewati. Perasaan sudah jauh kok Cikampek belum juga nyampe-nyampe. Dari Sukamandi masih 24 kilometer lagi. Phuihhhh….kaki sudah kaku minta istirahat. Di kilometer 19 sebelum Cikampek jalanan sudah macet, kendaraan mulai merayap. Ternyata di ujung sana ada truk gandengan yang mogok dan memakan setengah badan jalanan sehingga jalan yang tadinya dua jalur menjadi satu jalur.
Beberapa lama kemudian kami sampai juga di SPBU sebelum pintu tol Cikampek. Di sanalah kami beristirahat, makan mi seduh, dan sholat. Empat puluh lima menit kemudian tepatnya pukul 20.48 WIB kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami masuk tol Cikampek. Masih 140 kilometer lebih jarak yang harus ditempuh kami untuk sampai rumah.
Menurut saya, perjalanan di tol Cikampek sangat menegangkan. Situasinya tidak memberikan kesempatan kepada saya untuk bersantai-santai atau berkecepatan minimum. Semuanya seperti memburu sesuatu di depan. Saya sering diklakson bus AKAP atau ditembak dengan lampu jauh dari mobil yang di belakang, padahal saya telah sampai pada batas maksimum kecepatan yang ditoleransi. Dan selama tujuh puluh kilometer itulah saya kembali berkonsentrasi penuh hingga pintu tol JORR.
Di lintasan tol JORR, kepadatan pengguna jalan tol tidaklah sepadat tol Cikampek, begitupula dengan tol Jagorawi. Saya sudah bisa bernafas lega, tapi saya merasa sendirian sekarang, soalnya semua sepertinya sudah terlelap. Saya hanya ditemani muhasabah yang mengharu biru dari seorang ustadz di radio Dakta 107,0 FM. Tanda-tanda kantuk sudah mulai terasa dengan seringnya saya menguap, tapi saya tahan. Alhamdulillah berhasil hingga pintu tol Citeureup.
Lagi-lagi saya bisa bernafas lega. Kalau sudah keluar dari tol, perjalanan sampai ke rumah, Insya Allah, sudah tidak menegangkan dan tidak akan lama lagi. Syukurlah, tepat dua jam perjalanan dari Cikampek, dan tepat pada kilometer 540 akhirnya kami sampai di depan rumah.
Saya bersyukur Allah memberikan kemudahan pada saya untuk mengadakan perjalanan mudik dan balik ini dengan lancar, tanpa halangan, tanpa kurang suatu apapun juga. Perjalanan mudik tahun ini, bagi saya adalah pengalaman yang amat membahagiakan, menyenangkan, dan mengasyikkan.
Semoga ini adalah buah dari doa yang senantiasa saya panjatkan di ramadhan, keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat. Dan sebenarnya tidak hanya perjalanan mudiknya itu, kontemplasi selama ramadhan itu pun membuat hati saya tenang dan bahagia. Suasana malam-malamnya, tarawih, qiyamullail, tilawah, silaturahim, penjagaan hati, mata, dan telinga, serta iktikafnya. Saya berharap semoga tidak hanya saya saja yang mengalaminya, Anda juga, para pembaca, mendapatkan sejumput keberkahan ramadhan itu.
Hingga terasa sekali kerinduan pada ramadhan tahun depan. Kerinduan agar ramadhan segera datang menghampiri kita. Meramadhankan hati kita, meramadhankan semuanya, meramadhankan masjid kita yang kini mulai sepi, dan meramadhankan perjalanan mudik balik kita. Cuma satu saja pertanyaannya, akankah kita menjumpai ramadhan tahun depan? Allohua’lam bishshowab.
Terimakasih pada semuanya.

*) Mbah Redjo ini bukan dukun, tapi mbahnya istri saya.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
04:47 21

SEKEHENDAKMU, UMMI!


Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia.
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar.
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.
“Insya Allah enggak.”
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”
“Ah masak?”
“Betul kok…”
“Emang ada contoh yang menghalangi istrinya untuk itu?” tanyaku lagi. “Banyak,” jawabnya sambil menyebut nama salah seorang dari ustadz kami.
“Sebenarnya satu saja bagi Abi untuk membiarkan Ummi tetap menjalani apa yang Ummi kehendaki. Itu ‘kan komitmen awal kita sebelum menikah bukan? Masak lupa sih?”
“Terus apa lagi?” tanyaku lagi tentang kesyukuran dia memilikiku.
“Ummi enggak masak, Abi tidak marah.”
“Karena dalam biodata Ummi ‘kan sudah jelas ditulis tidak bisa masak, ya Abi pasrah saja. Nrimo apa adanya. He…he…he….”
“Ada lagi?” tanyaku.
“Cukup itu saja dulu.”
“Kayaknya banyak deh yang harus Ummi banggakan dari diri Abi ini,” kataku.
“Iya sebanding pula dengan kelemahan yang ada pada diri Abi,” tukasnya.
“He…he…he…tahu saja Ummi sih…” jawabku sambil tersenyum.
***
Pembicaraan di atas motor tadi adalah sarana paling efektif yang sering kami lakukan untuk bisa saling memahami. Di atas motorlah, di sepanjang perjalanan pulang, kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan sampai tuntas untuk membunuh rasa jenuh saat melintasi jalanan dengan rute yang sama dari hari ke hari. Tapi terkadang kami sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama kalau dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari. Sehingga bisa jadi tanpa sepatah katapun saling terucap. Tidak mengapa.
Ada pertanyaan buat kami, mengapa pembicaraan itu tidak dilakukan ketika sampai di rumah ketika kita semua sudah dalam keadaan tubuh yang segar dan sedang istirahat? Jawabannya adalah bahkan kalau di rumah sepertinya kami tidak bisa berkomunikasi dengan efektif karena selalu diganggu oleh anak-anak dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sehingga seringkali kami memanfaatkan waktu yang ada di manapun berada untuk berkomunikasi dengan efektif. Dan di atas motor itu adalah salah satu cara terbaik bagi kami walapun terkadang dengan suara yang harus dikeraskan karena sering ditingkahi oleh deru kendaraan yang lain.
Dalam majalah Safina No. 1/ Th II Maret 2004 ditulis tentang pentingnya komunikasi buat pasangan suami istri.
Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi dan dialog yang intensif dan sehat antara suami istri. Pada saat ini tidak jarang terjadi adanya sumbatan komunikasi diantara pasangan suami istri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal itu, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih dan lain-lain. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.
Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.
Tidak ada yang menjamin bahwa saat kita sudah merasa sekufu, satu agama, sama-sama ngaji, sama-sama aktifis dakwah, setara, sama, cocok, dan percaya seolah-olah semua urusan rumah tangga akan beres. Padahal, banyak pasangan gagal meneruskan bahtera rumah tangga mereka karena kurang peduli dengan urusan komunikasi seperti ini.
Dengan komunikasi di atas motor itulah saya bisa tahu apa yang diinginkan oleh istri saya, bagaimana perasaan saya pada saat itu terhadapnya atau sebaliknya. Dan adanya keterbukaan yang terjalin pada saat itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga terbentuknya rasa kerinduan di hati saat ia tidak membonceng di belakang saya karena ia pulang duluan.
Saya senantiasa berharap komunikasi yang senantiasa kami jalankan di setiap harinya, dengan cara kami sendiri itu, bisa menyadarkan kami betapa komunikasi itu sangatlah penting untuk bisa saling memahami. Dengan pemahaman itulah saya harapkan dia bisa mengerti apa yang aku kehendaki dari dirinya dan sebaliknya, hingga saya bisa berkata pada dirinya: “Sekehendakmu saja, Ummi!”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:59 09 Oktober 2007

KARENA SA’D BERDOA


Suatu hari salah seorang sahabat Rasulullah, Sa’d bin Abi Waqqash, berkata pada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, doakan saya agar saya menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah.” Lalu Rasulullah berkata: “Wahai Sa’d, Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya.”
Dan Allah mengabulkan doa Rasulullah SAW. Sepeninggal Rasulullah, saat Sa’d menjadi Gubernur Kufah di Irak pada masa pemerintahan Umar bin Khatthab ia diadukan oleh warganya kepada Khalifah yang berada di Madinah. Dengan sebuah pengaduan bahwa ia tidak beres saat menjadi imam sholat mereka.
Sahabat Umar tidak serta merta mempercayai pengaduan itu, karena ia tahu benar tentang kemuliaan akhlak Sa’d. Ia mengutus beberapa sahabat terpercayanya untuk mengecek kebenaran laporan tersebut. Berangkatlah beberapa sahabat dari Madinah menuju Kufah. Sampai di sana mereka langsung bekerja melakukan investigasi dengan mendatangi masjid-masjid yang ada di Kufah.
Para ahlul masjid saat ditanya tentang Sa’d maka mereka menjawab bahwa Sa’d adalah orang yang adil dan mereka senantiasa mendoakan kebaikan untuk Sa’d. Hampir semua masjid di kota Kufah berpendapat yang sama tentang Sa’d. Terkecuali satu masjid yang berbeda dan salah satu jama’ahnya berdiri dan berkata:
“Tentang Sa’d, Wallahi, dia adalah orang yang tidak adil, tidak merata dalam pembagian ghanimah, dan tidak pernah pergi bersama pasukannya.”
Mendengar perkataan orang tersebut, Sa’d langsung berdiri dan berkata: “Ya Allah, jikalau orang ini berbicara secara dusta, riya’ dan ingin pamer, maka panjangkanlah umurnya, kekalkanlah kefakirannya, dan tetapkanlah atas dia fitnah.”
Seorang perawi meriwayatkan ia melihat orang yang didoakan oleh Sa’d itu betapa panjang umurnya. Alisnya menjulur hingga menutupi kedua matanya karena tua rentanya. Pekerjaan orang itu hanya menghadang para gadis di jalan-jalan kota Kufah, seraya menggoda mereka, dan berucap: “aku adalah orang yang tidak tahu diri karena do’a Sa’d.”
Subhanallah, Sa’d menjadi orang yang senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah SWT. Karena ia makan dari makanan yang halal. Maka salah satu syarat agar doa kita senantiasa dikabulkan oleh Allah adalah demikian.
Pernah merasa betapa banyak doa yang kita panjatkan tetapi tak satu pun jua yang terkabul? Ini bisa menjadi sarana muhasabah bagi kita sendiri, bahwa ternyata: “makanan yang halal—baik dzat dan cara memperolehnya—menjadi tolok ukur diterimanya doa dan seluruh ibadah kita”, kata Imam Ibnu Katsir. Begitu pula sebaliknya.
Sebuah perenungan memerangkap kesenyapan dan menjadikannya lebih senyap karena saya sedang berfikir: “Akankah saya seperti Sa’d? Semoga apa yang selalu Allah kabulkan kepada saya bukanlah sebuah pembiaran. Ampunilah aku ya Allah.”
***
“Seorang laki-laki yang telah berkelana jauh dengan rambutnya yang kusut masai dan pakaian yang penuh debu, ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdo’a; ‘Ya Allah, ya Allah’, sedang makanannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan dibesarkan dengan makanan haram, bagaimana Allah akan mengabulkan do’anya itu”. (HR Muslim).
“Janganlah salah seorang dari kamu mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki’, tetap hendaklah berkeinginan kuat dalam permohonannya itu karena sesungguhnya Allah tiada sesuatu pun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” (HR. Abu Dawud).

Maraji:
1. Cambuk Hati, ‘Aidh Al Qorni
2. Makanan Haram, Ummu Fathin, Republika, 19 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:35 02 Oktober 2007

TIWIKRAMA


TIWIKRAMA

Langit Jakarta meniwikrama sehitam legam
belum selegam kenangan laluku

Riza Almanfaluthi
langit kalibata hitam
16.50 07 september 2007

MUMPUNG DIA DEKAT


Saya ingin jadi orang baik. Saya ingin jadi tetangga yang baik buat tetangga-tetangga saya. Saya ingin agar Allah tidak memberikan beban yang sungguh tidak sanggup saya untuk memikulnya. Saya ingin menjadi bagian dari golongan orang-orang yang senantiasa ikhlas, bisa menjaga lidahnya dari perkataan-perkataan buruk dan menyakitkan.
Saya ingin agar Allah memberikan saya pandangan yang jelas agar tampak kebenaran itu adalah kebenaran dan kebatilan itu adalah kebatilan. Pun saya ingin agar Allah memberikan saya hati yang sensitif terhadap kebenaran, mata yang mudah menangis, dan kekuatan untuk bangun di tengah malam. Meminta pada-Nya, mengadu pada-Nya, untuk menuntaskan segala hajat dan permasalahan dunia dan akhirat saya.
Saya ingin agar Allah memberikan saya kesehatan, juga kepada istri dan anak-anak saya. Agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada bapak saya. Agar Allah melapangkan kubur ibu saya. Dan mengampuni mereka, serta mengasihi mereka sebagaimana mereka mengasihi saya di waktu kecil.
Saya ingin agar Allah memberikanku kekayaan yang berkah lalu menjadikan saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat-Nya. Saya ingin Allah menjadikan anak-anak saya sholeh, pintar, dan cerdas. Dan menjadikan mereka pejuang-pejuang agama-Nya.
Saya ingin agar Allah menetapkan saya untuk tetap komitmen di jalan “menyeru” ini. Juga agar Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada para pendukung dakwah di manapun mereka. Agar cahaya Islam ini tetap benderang di segala penjuru.
Saya ingin agar Allah tidak menimpakan malapetaka dan bala kepada saya dan keluarga saya. Dan saya ingin agar khadimat saya mau lagi untuk tinggal bersama kami selama bertahun-tahun ke depan. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan kehidupan saya dan keluarga di tahun-tahun mendatang.
Dan saya selalu berharap Allah mematikan saya dalam syahid. Selamat dunia dan akhirat. Serta berkumpul dengan istri, anak-anak, dan keluarga serta orang-orang yang beriman lainnya di Jannah Firdaus-Nya.
***
Semua yang saya ungkapkan di atas itu adalah sebagian kecil dari permintaan saya kepada Allah Yang Maha Pengabul Permintaan dalam setiap panjatan doa dan keluh kesah saya. Karena saya merasa sebagai manusia yang tidak punya apa-apa, miskin, dan lemah, maka kepada siapa lagi saya harus meminta segalanya baik yang besar maupun remeh temeh terkecuali kepada-Nya. Dia Yang Maha Kaya dan Maha Pemilik Segala. Mumpung Dia dekat dengan saya, dan mumpung saya masih bertemu ramadhan tahun ini.
Dari awal ramadhan sampai hari ini, saya sudah tiga kali mendengar dari para penceramah di masjid komplek saya, Masjid Al-Ikhwan, berbicara tentang Allah yang lagi dekat dengan kita yang berpuasa. Saya kok sepertinya baru merasa mendapatkan sesuatu tema yang baru dan belum sekalipun diketahui oleh saya. Apa karena dulu hati saya masih tertutup sehingga tidak bisa peka mendengar segala bentuk kebaikan atau pas kebetulan saja hati saya ini, di ramadhan ini, lagi sensitif-sensitifnya sehingga baru dirasakan ngeh oleh saya.
Kata para ustadz itu, dari rangkaian ayat sebanyak lima ayat di surat Al-Baqarah yaitu tepatnya di ayat 183 sampai dengan 187 yang berbicara tentang puasa, tiba-tiba terselip ayat 186 yang berbicara tentang penegasan Allah bahwa diri-Nya itu dekat. Coba kita simak dulu ayatnya yah:
186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
Maka dapat diartikan bahwa di ramadhan inilah Allah menegaskan bahwa Allah itu dekat, tidak jauh, tanpa hijab dari hamba-hambanya yang berdoa, yang meminta apa saja kepada-Nya, asal kitanya ini senantiasa memenuhi perintah-Nya dan beriman pada-Nya. Tuh kan, ada syarat yang harus dipenuhi dulu sebelum Dia mengabulkan permintaan kita.
Ini berarti-intinya-kita harus berupaya dulu. Kita berdoa setelah usaha, ikhtiar, dan kerja keras karena menurut Abdurrahman Muhayar, doa dalam pengertian yang sebenarnya bukan hanya sekadar wujud ketakberdayaan yang memaksa seseorang merengek kepada Allah SWT.
Tapi menurut saya senantiasa kita –saya dan Anda—berdoa kapanpun, di manapun dan dalam kondisi apapun saja. Agar kita tidak dianggap sebagai orang yang sombong karena tidak pernah meminta pada-Nya. Memang kita orang yang kuat apa? Kita orang yang tidak punya kebutuhan apa? Atau semuanya kita bisa upayakan dengan usaha kita sendiri? Ah, sungguh terlalu…
Di ramadhan ini dengan kedekatan-Nya itu, dengan tanpa hijab-Nya itu, maka sudah selayaknya saya—yang dengan tertatih-tatih mendekati-Nya di luar ramadhan, tapi merasa kurang optimal hasilnya ini—bergembira dan bertekad untuk tidak melewatkan waktu tanpa berdoa pada-Nya, bertekad untuk meminta segala hajat saya. Begitu pula Anda teman-teman. Mumpung Dia dekat.
Kita merasakan ketenangan ba’da ramadhan tahun lalu sampai hari ini, bisa jadi, Insya Allah, karena Allah mengabulkan doa kita yang dipanjatkan saat ramadhan lalu. Kita bisa menyelesaikan tugas akhir kuliah, mempunyai kendaraan, rumah yang sederhana, anak-anak sehat, suami atau istri semakin sholih dan sholihah, pekerjaan kantor bisa diselesaikan dengan baik, tidak ada masalah dengan tetangga, punya anak lagi, tidak pernah terlambat masuk kantor dan gaji tidak dipotong absen, kalaupun dipotong itupun cuma sedikit sekali, semakin banyak berinfak, semakin rajin ke masjid, bicara yang secukupnya, selalu antusias mendengarkan nasehat kebaikan bisa jadi semua itu karena Allah mengabulkan doa kita.
Ya, cukuplah itu menjadi nasehat bagi diri saya sendiri. Maka mumpung kita lagi berpuasa, Dia dekat, berdoalah, berdoa apa saja. Berdoa demi kebaikan dunia dan akhirat kita. Setelah itu kita tinggal menikmati semuanya itu. Insya Allah.
***

* Doa adalah otak ibadah. (HR Ibn Hibban dan at-Tirmidzi).
* Doa adalah senjata orang yang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi. (HR al-Hakim)

Maraji’:
1. Alqur’an Mulia;
2. Abdurrahman Muhayar, Berdoa, Republika, 11 Mei 2006

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07:12 27 September 2007

SEMUANYA BERKAH


SEMUANYA BERKAH

Sungguh nikmatnya ukhuwah saya rasakan pada hari-hari ini. Betapa tidak permohonan baju layak pakai dan dana untuk kegiatan bakti sosial (baksos) yang saya edarkan melalui email dan forum diskusi mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa positifnya.
Dering telepon dan email balasan yang masuk banyak menanyakan teknis pengambilan baju layak pakai, bahkan hingga jam-jam terakhir juga masih ada yang menanyakan nomor rekening bank saya untuk bisa mentrasfer dana untuk kegiatan itu.
Dari Denpasar dikirim satu kardus penuh baju layak pakai. KPP LTO, Madya Jakarta Timur, hingga Kantor Pusat adalah tempat-tempat yang saya kunjungi untuk diambil baju layak pakainya. Dari teman-teman satu kantor pun banyak juga yang memberikan barang yang sama pula hingga terkumpul satu troli penuh. Tidak hanya itu dana yang terkumpul baik secara tunai ataupun melalui rekening bank adalah sebanyak Rp1.700.000,00. Dengan dana yang dikumpulkan dari teman-teman panitia yang lain terkumpul total dana empat juta lebih.
Subhanallah jumlah yang sangat luar biasa besarnya bagi saya dan teman-teman panitia. Hingga kami memutuskan untuk menambah paket sembako yang semula 150 paket seperti tahun yang lalu menjadi 200 paket sembako. Terdiri dari beras empat liter, satu kilogram minyak goreng curah, dua bungkus mentega simas, satu kilogram tepung terigu, dan satu kilogram gula pasir. Yang kalau diuangkan maka satu paket sembako itu seharga Rp38.500,00. Sehingga total dana yang harus kami sediakan adalah sebesar kurang lebih delapan juta rupiah.
Dengan dana awal 4 juta itulah kami membeli sembako ke pedagang sembako langganan baksos kami yang sudah tiga tahun ini menjalin kerjasama. Dengan bermodal kepercayaan, pedagang sembako mau menyediakan paket dan sisa uangnya nanti diberikan setelah acara baksos selesai. Kami optimis kekurangan dana yang ada akan bisa ditanggulangi dari hasil penjualan baju layak pakai.
Ohya, tidak hanya paket sembako yang bersubsidi yang kami berikan. Kami juga menjual sembako eceran dengan harga yang amat murah. Simas satu bungkus kami hargai seribu rupiah. Satu liter minyak goreng seharga tujuh ribu rupiah. Sekilo tepung terigu kami hargai lima ribu rupiah. Gula pasir empat ribu rupiah sekilonya.
Alhamdulillah, acara kemarin berlangsung dengan sukses. Terasa dan terlihat kegembiraan pada wajah-wajah mereka yang mendapatkan sembako gratis dan murah, pakaian yang amat layak pakai (terutama yang dari kantor pajak). Tetapi kami juga tidak bisa menutupi kekecewaan mereka yang tidak mendapatkan kupon paket sembako gratis dan murah itu.
Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semata-mata keterbatasan yang ada pada kami. Namun kami mempersilakan mereka untuk membeli baju layak pakai dan sembako eceran yang harganya pun jauh sekali dari harga pasaran. Bila mereka pun ingin memiliki baju layak pakai, tetapi tidak memiliki uang kami persilakan mereka untuk berbicara kepada panitia tentang ketidaksanggupannya, dan kami akan berikan apa yang mereka minta.
Pakaian yang amat layak pakai itu kami jual seharga Rp7000,00 sampai Rp500,00 (lima ratus perak). Bahkan ada yang kami bagikan gratis. Dan juga agar semua daerah yang ditengarai menjadi kantong-kantong kemiskinan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan baju layak pakai ini, maka kami bersepakat untuk tidak menggelar semua barang itu di hanya satu lokasi saja.
Pada akhirnya ada teman lain yang bergerak untuk mengevaluasi hasil baksos tersebut. Dari hasil evaluasi itu kami juga bersepakat bila ada dana yang tersisa dari hasil keuntungan baksos tersebut, maka agar menjadi keberkahan bagi para donator yang telah menginfakkan hartanya, sebagian dana tersisa akan diberikan untuk menyubsidi kekurangan dana iktikaf. Pelaksanaan iktikaf ini merupakan acara yang yang pertama kalinya diselenggarakan untuk tiga desa yang dipusatkan di masjid di desa kami.
Yaitu untuk menambah kekurangan dana menu makanan berbuka puasa buat para shoimin dan juga sahur para peserta iktikaf. Insya Allah ini akan menjadi suatu keberkahan, karena pahala yang akan didapat adalah sama seperti pahala puasanya orang yang berbuka puasa itu. Subhanallah. Dan tidak ada sepeserpun untuk kami para panitia. Insya Allah semuanya berkah.
Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi teman-teman yang telah menyumbangkan baju layak pakainya, seperti Ichal, Arya, Mbak Titik Minarti dan kawan-kawannya, Mbak Julianti, si Lay Erwinsyah M, Mbak Ardiana, Mbak Dewi Wiwiek, Mas Erfan, Ibu Mona Junita, dan Mas Purnomo di Denpasar.
Juga kepada teman-teman yang telah menginfakkan uangnya tunai ataupun transfer melalui rekening Bank Mandiri saya seperti (maaf saya menyebutnya dengan nama inisial, agar tidak mencederai niat baik ini) AR sebesar Rp500.000,00. Hamba Allah sebesar Rp100.000,00 (sampai saat ini saya belum mendapatkan konfirmasi nama donator ini). Ayr sebesar Rp250.000,00. Ich sebesar Rp100.000,00. Sebesar Rp250.000,00 telah disumbangkan oleh 6470. Mbak A*is*h sebesar Rp250.000,00 dan kawan lama saya yang menelpon di detik-detik terakhir: Mbak Listy sebesar Rp250.000,00.
Saya tidak bisa memberikan apa-apa kepada para donator sebagai balasannya . Saya hanya berharap semoga Allah senantiasa melimpahkan balasan kebaikan yang berlipat ganda atas semua kemurahan hati mas-mas dan mbak-mbak donatur. Sungguh bukan karena tulisan saya, sungguh bukan karena kenal dengan saya semua ini terjadi. Semuanya semata-mata karena Allah telah menggerakkan segumpal daging bernama hati untuk senantiasa sensitif terhadap kebersamaan dan kepedulian. Terimakasih.
Dan saya yakin bagi yang belum berkesampatan untuk turut serta dalam kebersamaan ini, bukan berarti tidak peduli, tapi karena semata-mata ada prioritas yang lebih dekat, yang lebih membutuhkan, yang lebih penting di daerahnya masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita semua. Amin.
Jazakalloh khoiron katsiro.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:26 24 September 2007
Sekadar laporan sekilas. Foto digital ada tapi belum saya terima.

Baju Layak Pakai Anda Dibutuhkan Mereka


Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan keberkahan kita di bulan ramadhan yang mulia ini. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan sehingga bisa mengoptimalkan ibadah di bulan penuh pahala ini. Semoga kita senantiasa tetap mencintai rasulullah SAW dengan melaksanakan semua sunnah-sunnahnya.
Saudara-saudaraku semua, Insya Allah saya bersama teman-teman di Desa Pabuaran, Bojonggede, Bogor akan mengadakan Bakti Sosial di daerah minus di kampung kami yaitu di daerah PARKO. Di sana banyak sekali saudara-saudara kita yang kekurangan, dan Insya Allah bantuan kita yang sedikit sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Teknisnya kita akan menjual sembako 150 paket dengan harga yang telah di subsidi dari dana-dana dan infak-infak yang diberikan oleh donator. Tidak hanya itu selain menjual sembako kami juga akan memberikan secara cuma-cuma kepada yang betul-betul tidak mampu. Insya Allah. Selain itu, berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman bertahun-tahun mengadakan bakti sosial, baju layak pakai yang kami kumpulkan sungguh-sungguh sangat diharapkan sekali oleh mereka.
Baju-baju layak pakai itu awalnya kami hargai dulu sesuai dengan masih bagus atau tidaknya baju itu. Biasanya harganya sekitar Rp4.000,00, Rp3.000,00, Rp2.000, Rp1.000,00 atau gratis sama sekali. Tetapi terkadang mereka tidak membeli, mereka menunggu sampai acara itu selesai untuk mendapatkan secara gratis baju-baju itu. Bagi kami tidak masalah. Karena itu pun memang untuk mereka semua. Kami beri harga juga bukan untuk kami, tetapi untuk menutupi kekurangan subsidi atau penambahan jumlah paket sembako tersebut.
Insya Allah apa yang antum semua berikan kepada mereka, akan menjadi keberkahan bagi saudara-saudara kita yang berkekurangan tersebut. Apalagi di bulan ramadhan yang mana Allah telah menjajikan kepada kita semua atas pelipatan ganda pahala atas semua kebaikan yang kita berikan apalagi memberikan infak kepada yang membutuhkannya. Sudah waktunya kita tidak melepaskan kesempatan besar ini.
Insya Allah acara itu akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : AHAD BESOK, 23 SEPTEMBER 2007
Tempat : PARKO, DESA PABUARAN, BOJONGGEDE, BOGOR

Bagi antum semua yang mau memberikan baju layak pakainya, bisa saya tunggu sampai hari jum’at nanti tanggal 21 September 2007, bagi yang berkantor di Kalibata atau sekitarnya yang dekat dan bisa saya jangkau dengan motor saya, Insya Allah saya akan jemput di kantor masing-masing.
Dan bagi antum yang berniat untuk sedekah dan berinfak bisa juga saya ambil langsung (kalau dekat dengan daerah sekitar Kalibata), atau juga antum semua bisa transfer ke rekening:

RIZA ALMANFALUTHI
Bank Mandiri
0060005113XXX

(Agar tidak tercampur dengan uang saya yang ada di bank Mandiri yang memang tinggal Rp110.000 , mohon untuk konfirmasi kepada saya melalui PM di DSHNet (username: riza almanfal) atau melalui email pajak: riza.almanfaluthi@pajak.go.id atau via HP: 0817 79 5050. Ditunggu sampai hari Jum’at tanggal 21 September 2007).

Sungguh kepedulian kita semua sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya tidak bisa memberikan balasan kepada antum semua yang sudi dan berkenan atas kesediaannya untuk berbagi kepada sesame dan mempercayakannya kepada saya. Hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaikan antum dengan kebaikan berlipat ganda. Harapan terbesar saya adalah semoga kita dikumpulkan oleh Allah di Jannah-Nya yang keindahannya tidak pernah dilihat, didengar, dan dirasa oleh manusia. Semoga. Amin.

Barokallohu fiikum.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Riza Almanfaluthi

MEMBERI ATAU…?


Seorang teman selalu berangkat ke kantor lebih pagi daripada yang lainnya. Ia selalu naik motor dari rumah menuju tempat kerjanya. Dan di dalam tasnya selalu tersedia pembalut luka, obat merah, dan beberapa gelas air kemasan. Saat ditanya untuk apa ia membawa semua itu di setiap harinya, ia selalu menjawab, “agar saya bisa menolong orang lain.”
Setiap pagi, ia seringkali menjumpai para pengendara motor yang tergeletak di tepian jalan. Entah karena menabrak atau tertabrak kendaraan lain. Sudah barang tentu pengendara motor tersebut mengiris kesakitan karena luka dalam ataupun luar. Kalaupun tidak ada luka, muka pucat sudah menandakan ia mengalami guncangan adrenalin yang amat hebat.
Semuanya harus ditangani segera. Tapi senyatanya orang-orang yang menolong seringkali hanya memindahkan korban kecelakaan tersebut ke pinggir jalan. Lalu setelah itu panik, bingung, lalu telepon kesana kemari. Bahkan yang lainnya cuma terbengong-bengong. Tidak dipikirkan bahwa korban perlu pertolongan pertama segera. Peran kosong itulah yang diisi oleh teman saya ini. Dengan sigap ia memberikan yang ia bawa itu kepada korban. Peran kecil tapi sungguh membantu.
Itulah mengapa ia selalu berangkat lebih pagi. Karena dengan berangkat lebih pagi, ia tidak perlu terburu-buru mengejar absen, dan ia masih sempat untuk berhenti menolong orang lain. Jika tidak, jiwanya seringkali berkecamuk, berperang batin antara berhenti untuk menolong atau terus melaju demi rupiah di awal bulan yang utuh tidak terpotong. Dan ia seringkali memilih yang terakhir. Untuk itu ia cuma bisa beristighfar dengan air mata yang membasahi pipi menyesali ketidakmampuannya. Menyesali ada suatu kesempatan besar yang hilang begitu saja dari dirinya.
“Apa untungnya kamu menolong mereka?” tanya saya penasaran.
“Duniawi? Tidak ada!” akunya. “Saya cuma mengharap dari-Nya,” Ia mengangkat jari telunjuknya ke atas. Ia merasa ia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu sebelum ia memberikan sesuatu. Ia tidak akan ditolong orang sebelum ia menolong orang. Ia percaya, sesungguhnya setiap kebaikan sekecil apapun akan diberikan balasan kebaikan yang sama atau yang lebih besar lagi.
“Percayalah, seseorang tidak akan pernah menerima saat ia tidak pernah memberi. Percayalah, saat ia mengedepankan penolakan implisit dan eksplisit terhadap suatu kata bernama “tolong”, ia tidak akan pernah mendapatkan anugerah besar berupa upaya baik dari orang lain. Saat itu juga atau suatu saat kelak,” jelasnya panjang lebar.
Dalam sekali apa yang dikatakan teman saya ini. Sebuah pembelajaran yang membuat saya merenung sepanjang perjalanan menyusuri Margonda sore ini. Hingga di suatu pertigaan…
“Pak, minta uang dong Pak…” seorang bocah kecil berbaju kumal menyodorkan tangannya kepada saya yang sedang menunggu lampu hijau menyala.
Saat saya menoleh kepadanya, lampu kuning sudah menyala.
Duh, memberi atau…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
jelang perjuangan nomor 1
21:57 07 Juli 2007

DUA YANG MEMATIKAN


Menurut kamu, kecemasan apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Ada banyak jawaban yang akan kamu berikan kepada saya. Dan akan saya katakan kepada kamu, itulah manusia, tidak lepas dari sebuah rasa yang bernama cemas. Lalu jika kamu bertanya hal yang sama kepada saya, maka saya akan jawab salah satu dari sekian rasa kecemasan saya, “tidak menulis selama beberapa hari.”
Bagi saya, yang patut dicemasi pada diri saya adalah hilangnya kemampuan menulis saya. Karena saya merasa bukan orang yang berbakat menulis. Karena tidak adanya bakat itulah saya berusaha untuk latihan dan latihan menulis terus menerus. Menulis bagi saya adalah sebuah latihan untuk menutupi ketiadaan bakat itu. Menulis adalah proses latihan bagi diri saya. Sebagus apapun tulisan yang saya hasilkan itu adalah proses bagi pembelajaran saya.
Maka bolehlah saya akan cemas ketika sudah berminggu-minggu tiada tulisan yang saya hasilkan. Saya akan merasa bahwa kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada saya ini akan hilang selamanya. Dan saya tidak mau. Maka saya harus memaksakan diri untuk menulis. Menulis apa saja. Tak peduli apa yang orang akan bilang saat membaca tulisan saya.
Saya pun senantiasa berpikir mengapa saya tidak produktif dalam menulis. Dan saya akan iri kalau melihat betapa teman-teman saya begitu produktifnya menghasilkan sebuah karya. Saya pikir rasa iri ini tentunya masih dalam lingkup yang bisa ditolerir. Sebuah keirian agar saya bisa menghasilkan karya, bukan sebuah keirian yang ingin agar teman-teman saya tidak bisa menulis lagi. Naif sekali kalau yang terakhir itu yang saya irikan. Sungguh iri itu adalah tanda ketidakmampuan.
Setelah saya berpikir lama mencari jawaban dari sebuah pertanyaan tentang ketidakproduktifan saya—yang sebenarnya bisa saja saya mencari beribu alasan untuk melegitimasinya, maka saya menemukannya.
Pujian. Bagi saya sebenarnya ia adalah racun yang sangat mematikan kreatifitas saya. Maka sedari awal sejak saya mulai belajar menulis bertahun-tahun lalu, saya sudah siapkan payung agar tiada ribuan tetesan pujian yang akan membasahi tubuh saya. Tapi terkadang payung antipujian yang saya pakai seringkali tidak mampu untuk menahan derasnya. Sehingga membuat saya terkapar dalam sebuah keterlenaan. Dan pada akhirnya saya tidak mampu menulis segera.
Apa kaitannya dengan kreatifitas yang mati? Konkritnya begini. Jika saya dipuji, dan sangat menikmati sekali pujian itu, ketika akan menulis lagi dalam benak saya akan dipenuhi sebuah keinginan agar dapat membuat sebuah karya yang bisa menghasilkan pujian. Agar karya saya bisa memuaskan para pembacanya seperti kepuasan yang diperoleh saat membaca tulisan saya terdahulu.
Nah, pada saat itulah saya terjebak untuk melawan idealisme yang saya buat buat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa idealisme kepenulisan saya saat membuat sebuah tulisan adalah TIDAK PERLU PEDULI APA KATA ORANG. Biasanya dengan idealisme itu saya—syukurnya—bisa membuat sebuah tulisan berhalaman-halaman dengan lancar tanpa beban tanpa hambatan.
Sudah barang tentu saat saya mengabaikan idealisme ini dan hanya menurutkan sebuah nafsu hanya untuk dipuji maka sudah dapat dipastikan saya tidak bisa menulis. Ada saja hambatannya, seperti takut salah atau adanya pikiran: “jangan yang ini, orang pasti tidak suka nantinya.” Seperti ada beban di pundak. Sejak itulah sebuah kreativitas mati.
Dan yang selanjutnya adalah cepat berpuas diri. Ini pun bagi saya adalah racun yang sama dahsyatnya dengan racun pujian di atas. Karena merasa bahwa tulisan sudah bagus maka biasanya saya akan terlena dengan tulisan itu, berhenti sejenak yang kebablasan dan tidak dapat dihentikan. Mengagumi diri sendiri. Narsisme yang sudah sangat keterlaluan.
Merasa diri besar dan hebat, pasti disitulah saya lengah. Karena sudah merasa hebat saya merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras. Kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.
Di situlah sebuah kreativitas akan mati. Karena sesungguhnya walaupun menulis itu gampang tapi ia adalah sebuah kerja yang harus dilakukan dengan keras, telaten, dan penuh pemikiran. Tidak bisa dengan hanya berpuas diri.
Berpuas diri hanya akan memuarakan diri saya pada ‘ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri) yang sangat membinasakan bahkan menghancurkan agama. Bukankah saya dan kamu juga pernah ingat tentang Nabi kita tercinta yang menegaskan ‘ujub ini digolongkan sebagai perusak agama? Ia disebut pertama kali dari dua hal lainnya yang merusak agama, yaitu kikir dan hawa nafsu yang diikuti.
Ternyata betul sekali. ‘Ujub menjadi unsur pertama pemusnah agama timbul karena saya akan merasa segala nikmat yang diberikan Allah SWT itu hadir atas usaha saya sendiri. Saya yang sudah memiliki sifat seperti ini akan merasa bangga dengan diri saya sendiri, melebihi rasa bangganya terhadap kebesaran Allah.
Lalu pada tahap selanjutnya, sifat ‘ujub ini bisa berkembang menjadi riya. Saya yang memiliki sifat riya selalu ingin agar kebaikan-kebaikan saya ini dilihat orang lain. Dari sifat riya itu akan muncul pula sikap takabur. Jika sifat ini sudah ada pada diri saya maka musnahlah kehidupan beragama saya. Saya berlindung pada Allah atas sifat-sifat yang sedemikian rupa ini.
Jadi, jikalau kamu-kamu yang sudah mulai berkomitmen diri untuk menjadikan menulis sebagai jalan untuk dapat mencerahkan orang lain, selain dibutuhkan keuletan dan kesabaran untuk terus melatih dan mengasah kemampuan itu, dibutuhkan pula kesiapan mental menghadapi pujian dan rasa cepat berpuas diri.
Introspeksi atau muhasabah diri adalah jalan terbaik untuk memiliki kesiapan mental itu. Dengan muhasabah diri, saya dan kamu akan merasa bahwa semua pujian itu hanyalah milik Allah semata. Juga karena mereka yang memberikan pujian itu tidak mengetahui betapa banyak aib yang telah saya dan kamu perbuat selama hidup ini. Jikalau mereka mengetahui tentu mereka tidak akan pernah memuji saya dan kamu.
Akhirnya jikalau muhasabah itu menjadi keseharian saya dan kamu, kreatifitas itu akan senantiasa hidup dalam diri. Karena ide senantiasa ada dan mengalir mengisi pena-pena kita di setiap harinya. Menghitamkan layar putih komputer itu dengan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat yang tersusun lancar dan enak dinikmati. Lalu kita tidak perlu cemas. Dan kita, saya dan kamu, pada akhirnya bisa tidur nyenyak. Insya Allah.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’:
1. A. Ilyas Ismail, Bahaya Pujian, Republika, 18 Juni 2005;
2. Suprianto, Pemusnah Agama, Republika, 09 September 2005.

***
sekadar tips untuk menulis
jelang ramadhan ini sudikan saya untuk memberi salam hormat buat mas danang sh, mas Isa, masker, maswin, ustadz andi harsono, mbak anis, mbak atik, mierza imoet, deedee, mbak listya, eko anakitebet dan atifah, salsabila, jund1, mas ekonov, abu amru, ibnu umar, binanto, budi utomo, mentari pagi, suprayitno, anggun, azzam mas budi, abu dhaby, brazkie, abu salma, abu fauzan, gaza, java, andri tasik makassar, viviet di ciblog, sajadah biru, abu miqdad, joen dan kafanputih, lumpur kering, kuswedi, alkhoir, firdaus, fathur, tri satya hadi, seseorang di bogor, dan lain-lainnya yang saya tak bisa sebut namanya satu persatu. Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. ini cita besar kita semua.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:54 10 September 2007