RINDU TAK BERBALAS


Menunaikan ibadah haji adalah sebuah amal untuk memenuhi panggilan khusus dari Allah swt. Hanya orang-orang yang terpilih saja yang bisa menunaikannya. Ada begitu banyak muslim yang berpunya dari segi harta dan fisik tetapi tidak ada sedikitpun gerak dalam hati untuk memenuhi seruan-Nya. Ada banyak macam alasan yang biasa diperdengarkan. Mulai dari kesibukan mengurus penghidupan yang tiada habisnya, anak-anak yang masih kecil, sampai yang memang tidak punya niat sama sekali untuk pergi ke tanah suci.
Namun seringkali kita jumpai betapa banyak muslim yang begitu merindukan mengumandangkan teriakan “labbaik allohumma labbaik” dan merindukan tetesan-tetesan airmata jatuh dalam pemenuhan keharuan melihat rumah Allah tetapi Allah belum juga memanggilnya, karena ada sesuatu dan lain hal yang tidak bisa diketahui oleh para hamba-Nya. Entah karena ketidakmampuan dalam masalah finansial hingga fisik yang tidak mampu.
Contoh terdekat adalah Ustadz Fahruddin yang biasa mengisi pengajian malam ahad di masjid kami, Masjid Al-Ikhwan. Beliau ini berencana untuk pergi haji di tahun ini. Dulu ia pernah menapaktilasi kewajiban itu dua kali dalam jangka waktu sepuluh tahun. Dan ini untuk yang ketiga kalinya. Alhamdulillah, untuk masalah ongkos naik haji ia tidak perlu memikirkannya. Karena ada salah seorang muridnya yang bersimpati dengan beliau dan berniat untuk membiayai seluruh biaya perjalanan itu. Tetapi hanya untuk beliau saja sedangkan istrinya tidak diikutkan.
Mendapatkan rezeki yang besar tersebut maka bersiap-siaplah beliau untuk menempuhi seluruh rangkaian ritual haji yang akan benar-benar menguras fisiknya. Dan ia didaulat sebagai pimpinan rombongan karena dianggap sudah berpengalaman. Beliau juga meminta doa kepada jama’ah Masjid Al-Ikhwan agar Allah memberikan kekuatan pada dirinya. Sebaliknya kami pun meminta pada beliau agar mendoakan kami untuk bisa berangkat haji sebagai perwujudan pemenuhan kesempurnaan rukun Islam.
Tapi apa yang terjadi, ternyata Allah berkehendak lain. Tiga minggu sebelum keberangkatannya, ia mengalami kecelakaan. Sepulang dari acara muhasabah dan qiyammullail, kemungkinan karena kecapaian dan mengantuk, ia tidak melihat ada sebuah polisi tidur di ujung jalanan yang menurun dan menikung. Terjatuhlah ia sehingga tempurung lututnya retak, parah.
Agar ia bisa tetap menunaikan ibadah haji, selain pengobatan modern dengan pemasangan pen beliau juga berobat secara tradisional kepada ahli pengobatan patah tulang di daerahnya. Dengan senantiasa berharap dan berdoa semoga Allah mempercepat kesembuhannya. Pada saat walimatussafar yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari, beliau masih tetap tidak bisa berdiri dan masih duduk di atas kursi roda. Itu pun sebenarnya beliau tidak boleh bepergian terlebih dahulu karena masih dalam perawatan di klinik patah tulang tersebut. Tetapi beliau bersikeras untuk tetap menghadiri acara itu agar bisa didoakan oleh banyak orang di rumahnya. Selesai acara, beliau langsung dibawa kembali ke klinik.
Waktu pun terus bergulir, dan Allah tetap berkehendak pada setiap hamba-Nya. Allah masih memperlambat proses penyembuhannya. Dua hasil pengujian test kesehatan dari pihak Pemerintah Kabupaten Bogor dan pihak klinik sendiri masih menyatakan bahwa fisik beliau tidak mampu untuk melaksanakan ibadah haji walaupun di atas kursi roda. Saat ini beliau masih diharuskan dalam proses penyembuhan total. Air mata kesedihan pun jatuh dari pelupuk matanya. Oh, kesedihan dan kerinduan yang pupus menjadi satu, bercampur aduk dengan upaya kerasnya untuk menerima semua itu dengan ikhlas.
Pelajaran yang senantiasa kami terima dari beliau di pengajian malam ahad adalah: “pada saat manusia diterpa dengan sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya sesungguhnya manusia tidak bisa melihat hikmah yang tersembunyi dengan segera, dan manusia cuma bisa mengeluh.”
Dan ada kisah yang biasa beliau ungkapkan kepada kami.
Seorang petani sayur biasa pergi ke pasar dini hari sebelum adzan shubuh berkumandang bersama dengan teman-teman seprofesinya dengan menggunakan pick-up sewaan. Untuk itu ia harus tepat waktu berkumpul di tempat yang telah ditentukan yaitu di perempatan jalan kampung. Bila ada yang terlambat datang terpaksa harus ditinggalkan. Karena keramaian pasar tidak sampai berlangsung lama, mereka harus bisa menjualnya segera agar laku dan tidak busuk.
Dini hari itu, di saat ia sudah bersiap-siap untuk berangkat pergi ke pasar, ia tidak menjumpai pikulan kayunya yang biasa ia pakai untuk menggotong dua keranjang besar berisi sayur-sayuran segar itu. Ia mencari-carinya. Lama sudah. Waktu pun cepat sekali berputar. Hatinya bergejolak, marah. Ia bangunkan seisi rumah dan menyuruh mereka mencari kayu pikulannya. Beberapa saat kemudian diketahui bahwa pikulannya itu disembunyikan di belakang rumahnya oleh dua anaknya yang masih kecil. Mereka lupa untuk menaruhnya kembali saat menggunakannya sebagai alat bermain mereka.
Dengan masih menggerutu dan gumpalan amarah yang belum bisa terhapuskan di dadanya segera ia bergegas pergi ke tempat pertemuan. Dan benar sangkaannya, di sana tidak ada siapa-siapa, ia terlambat, ia sudah ditinggalkan teman-temannya. Terpaksa ia harus berjalan kaki menempuh jarak yang jauh. Ia susuri jalan-jalan pintas yang ada untuk sampai ke tempat tujuan. Tentu dengan gerutuan yang semakin bertambah serta kejengkelan kepada seluruh penghuni rumahnya. Dagangannya bakalan tidak laku.
Sesampainya di tujuan dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya dan pasar sudah terang benderang karena sinar matahari pagi, ia terkejut dengan banyaknya orang yang berkerumun di lapak-lapak khusus sayur mayur. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Ia tambah heran lagi saat salah seorang dari mereka yang dikenalnya berteriak, “ia masih hidup!”
Setelah itu barulah ia tahu ada berita mengejutkan buatnya. Seluruh temannya yang naik pick-up tadi pagi tewas karena mobil yang ditumpanginya jatuh ke jurang. Ia jatuh terduduk. Ia lemas lunglai mendengar berita itu. Ia terkejut sedemikian rupa. Kalau saja pikulannya tidak disembunyikan oleh anaknya, kalau saja ia datang tepat waktu, dan kalau saja…
Ah, ia baru menyadari ada hikmah yang tersembunyi dari peristiwa keterlambatannya itu setelah sekian lama ia bergumul dengan kemarahan dan kejengkelan. Setelah ia menggerutu dengan banyak gerutuan. Ah, ia merasa kini sudah saatnya meminta maaf dan berterima kasih kepada istri dan anak-anaknya. Ah, yang terpenting kini ia baru ingat ada Allah yang mengatur segalanya…
***
Ustadz kami kini dalam ujian yang diberikan Allah. Ini sebagai tanda kecintaan Allah pada hamba yang dicintai-Nya. Allah telah berkehendak sedemikian rupa untuk tidak memberangkatkannya ke tanah suci, untuk tidak menziarahi makam nabi tercinta, untuk tidak melaksananakan shalat yang empat puluh, untuk tidak memutari Ka’bah melawan arah jarum jam, untuk tidak qiyamullail di masjidil haram, untuk tidak berseru labbaik allohumma labbaik, dan untuk tidak wukuf di Arafah. Memang tidak. Tidak di tahun ini. Insya Allah tahun depan.
Tentu kami yakin ada hikmah yang tersembunyi buat guru kami itu. Dan kami senantiasa berharap semoga Allah memberikan kesabaran dan keikhlasan padanya.
Ya ustadz, bersabarlah. Dan semoga lulus.

rindu kami ini Ya Allah
rindu tak tertahankan
rindu kami ini Ya Allah
rindu tak tergoyahkan
rindu kami ini Ya Allah
rindu bermuara
rindu kami ini Ya Allah
tasbih hajat kami
kiranya
bila Engkau menerima rindu ini?
panggillah kami…
labbaik allohumma labbaik

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ke-301, lantai tiga kalibata.
10:09 13 Desember 2007
https://dirantingcemara.wordpress.com

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s