MENGELUHKU TENTANG HUJAN


Pagi itu cuaca mendung, langit hitam tidak membiarkan mentari pagi memberikan secercah sinarnya pada bumi. Saya sudah berpikir bahwa biasanya kalau Citayam sudah gelap, berarti di Jakarta juga sama akan turun hujan. Dan saya melihat ke langit utara, betul sama gelapnya. Saya sudah menyiapkan mantel yang kugantungkan di buntut motorku. Saya tidak ingin kehujanan masuk ke kantor seperti dulu saat saya meremehkan alam dengan mengatakan, “ah, paling hujannya sebentar.”
Saya sudah terlambat lima menit dari kebiasaan berangkatku setiap paginya. Apalagi tangki motorku kosong, maka saya harus mampir dulu ke kios penjual bensin untuk mengisi bensin barang satu atau dua liter. Sudah barang tentu ini akan memperlambat perjalanan lagi. Ditambah kalau benar-benar hujan dengan ban sudah hampir gundul dan jalanan Jakarta yang tidak bisa diprediksikan kemacetannya saya tidak akan bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Hati saya sudah deg-degan. Khawatir terlambat.
Dan betul tidak lama kemudian, hujan turun walaupun baru rintik-rintiknya. Saya harus menepi untuk memakai mantel hujan. Ini pun memakan waktu. Setelah selesai memakainya, saya pun kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Saya baru teringat bahwa walaupun saya memakai mantel tapi mantel ini belumlah mampu untuk menahan air hujan yang amat deras masuk membasahi pakaian saya. Kalau gerimis-gerimis saja sih Insya Allah mantel itu mampu melindungi saya dari kebasahan.
Dengan situasi seperti itu saya memasrahkan diri pada Allah dan cuma bisa berdoa pada-Nya, “Ya Allah, kalaulah engkau menghendaki bahwa pagi ini hujan, turunkanlah hujan. Namun sampaikanlah aku ke tempat tujuan tepat waktu, tidak terlambat, dan janganlah membuat pakaianku basah kuyup.” Saya tidak meminta-Nya untuk tidak menurunkan hujan, karena saya pikir hujan adalah rahmat Allah yang sangat dibutuhkan buat masyarakat yang air sumurnya tidak bisa dipompa karena sudah kering kerontang.
Sambil tetap fokus, berhati-hati mengendarai motor saya ini, dan memikirkan hal lain, tidak terasa perjalanan saya sudah sampai di Tanjung Barat. Saya baru sadar kalau saya sendiri yang memakai mantel hujan. Saya baru sadar juga kalau cuaca tidak semendung di Citayam. Tercetuslah dari mulut saya, ”Ya Allah kok tidak jadi turun hujan, kenapa enggak sekalian saja menurunkan hujannya. Saya kan sudah berhenti dan capek-capek pakai mantel hujan.” Saudara-saudara, saya ngedumel, mengeluh, dan kecewa pada-Nya hanya gara-gara saya sudah terlanjur memakai mantel hujan dan ternyata tidak jadi hujan.
Tidak lama kemudian saya tersadar dari kekhilafan saya. Saya ini harusnya sadar bahwa doa saya ternyata telah benar-benar dikabulkan Allah. Ya betul, doa saya benar-benar dikabulkan-Nya karena saya masih punya waktu yang cukup untuk sampai ke kantor dan yang paling penting lagi baju saya tidak kehujanan.
Saya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan saya ini, “dasar manusia, lupa kalau doanya dikabulkan, lupa kalau sudah diberi nikmat banyak, lupa pada yang memberi, bisanya cuma mengeluh doang. Oh my God, sungguh terlalu Anda.”
Sejenak saya merenung. Saya mengakui kelalaian saya, dan saya cuma bisa berharap Allah mengampuni saya dan memasukkan saya ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur.
Seorang penyair Arab berkata:
betapa seringnya kita meminta kepada Allah
bila kita dirundung penderitaan
tapi kita segera melupakan-Nya, begitu derita itu hilang
bila berada di lautan, kita memohon agar Dia menyelamatkan kapal kita
bila kita kembali mendarat dengan selamat, ktia mengingkari-Nya
kita terbang di langit dengan aman dan nyaman
dan kita tidak jatuh karena pelindung kita adalah Allah.

Seorang teman menasehati saya ketika saya berjumpa dengannya saat menanti kumandang iqamat sholat Ashar dan menceritakan padanya tentang kebahagiaan saya di bulan ramadhan, dengan sebuah nasehat: “banyak-banyaklah bersyukur.”
Nasehat biasa dan pendek-pendek saja tapi subhanallah menghunjam sekali di hati saya hingga Ashar itu seperti Ashar di ramadhan lalu. Indah nian…
Teman, dan Anda para pembaca sekalian, ajaklah saya menjadi bagian dari Anda, bagian dari orang-orang yang selalu mensyukuri nikmat-Nya. Ajaklah saya selalu.
***

Syair di atas bisa dibaca pula di: Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi, Dr. ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA, hal. 473, Edisi Revisi, Maghfirah Pustaka

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
lantai tiga kalibata
09:49 pagi 26 Oktober 2007

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s