BASSE, BAHIR, LAPAR


 

BASSE, BAHIR, LAPAR

                Pagi itu masih dingin. Taujih yang disampaikannya membuat semua yang ada di ruangan tertegun. Di selanya ada isak tangis dan air mata yang mengalir. Sebuah keharuan menyeruak dan mengeliminasi segala keegoan dan menyublim menjadi sebuah perenungan tentang kepedulian.

                Ia bercerita, “Sore kemarin saya membeli ayam bakar karena tidak ada lauk yang dimasak sendiri pada hari itu. Dengan sepiring nasi yang banyak dan potongan dari ayam bakar yang paling saya sukai, saya memulai acara peningkatan gizi itu dengan menonton televisi dan mencari acara yang bagus.”

                “Tapi saat itulah saya terpaku pada sebuah pemberitaan dari Makassar. Pemberitaan yang sungguh ironi dan membuat saya tidak enak hati untuk menghabiskan makanan itu. Betapa tidak, ketika saya makan, pemberitaan adanya ibu yang sedang hamil tujuh bulan dan anaknya yang balita tewas dan satu anaknya yang lain masih kritis di rumah sakit karena kelaparan, membuat saya tersentak,” lanjutnya lagi.

                “Allahu Rabbi.  Saya melihat sendiri dari tayangan betapa sosok ibu itu terbujur kaku. Mereka sudah tidak makan selama tiga hari. Dan kata tetangganya lagi keluarga itu memang jarang makan teratur. Suami ibu itu pun cuma tukang becak.”

                 Semua yang mendengar perkataannya terdiam dan menundukkan kepala. “Saya menjadi marah, sedih, bercampur aduk. Ada apa dengan negeri kita yang tercinta ini yang banyak dikatakan orang luar negeri sebagai negeri yang kaya dan makmur karena sumber daya alamnya. Apalagi keluarga itu mati di daerah yang disebut sebagai lumbung pangan. Allohuakbar. Lalu ke mana para tetangganya? Lalu ke mana para aghniyanya?  Lalu ke mana saudara-saudara muslimnya? Lalu ke mana para aparat pemerintahnya? Lalu ke mana para wakil rakyatnya? Lalu ke mana para pemimpinnya? Tidakkah mereka semua akan dimintakan pertanggungjawabannya?” tanyanya sambil mengusap air mata yang deras mengucur.

                Mendengar dan melihat kegelisahannya tentang sebuah pertanggungjawaban, saya yang hadir dalam pertemuan pekanan itu menjadi teringat kembali sebuah perkataan yang diungkapkan oleh calon kandidat Gubernur Jawa Barat yang saat itu sedang bersilaturahmi di daerah kami. “Sungguh jabatan dalam pengertian kami adalah sebuah amanah yang nanti akan dimintakan tanggung jawabnya oleh Allah swt. Saya tidak memintanya dan sungguh banyak teman-teman saya yang tidak mau untuk dipilih menjadi calon karena besarnya amanah itu.”

“Hanya karena syuralah sehingga saya ditunjuk maju untuk memenangi dakwah ini. Sungguh, bapak-bapak, Ibu-ibu, nanti saya akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah di padang mahsyar nanti bila rakyat yang saya pimpin tidak bisa makan, rakyatnya tidak bisa sekolah dengan baik, tidak bisa diberikan jaminan kesehatan dan kesejahteraan. Bahkan jikalau ada kerbau yang kakinya keseleo karena jatuh di jalan yang rusak  berlubang, saya pun akan dimintakan pertanggungjawabannya oleh Allah.”

Saya merenung tentang peran kita sebagai manusia. Kita adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya itu. Seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan bertanggung jawab dalam keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pegawai adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya.  

Saya mendengar kembali apa yang ditaujihkannya di pagi itu yang isaknya sudah mulai reda, “Saudara-saudaraku semua, saya mengajak pada diri saya sendiri dan Antum semua untuk memasang telinga, membuka mata, dan hati kita agar bisa merekam peringatan dini yang disampaikan oleh kerabat dan tetangga terdekat kita di lingkungan masing-masing agar tidak sampai terjadi hal yang demikian. Bahkan kita perlu memberikan perhatian yang lebih terhadap mereka-mereka yang karena izzah atau kemuliaan dirinya tidak mau untuk tangannya berada di bawah. Merekalah yang seharusnya patut kita nafkahi.”

“Semoga ini bermanfaat bagi Antum semua dan menyeruak kesadaran kita agar senantiasa peduli. Dan saya tidak akan membiarkan ini terjadi pada kita, maka jikalau Antum punya kesulitan dalam masalah penghidupan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya,” katanya mengakhiri.

                Ah, sungguh dengan keimanan yang kokoh dan akarnya menghunjam ke bumi akan berdiri sebuah bangunan kebaikan di atasnya. Bangunan penyebaran kemanfaatan kepada sesama. Maka agar bangunan itu senantiasa indah dipandang mata memperbaharui keimanan itu adalah sebuah keharusan. Karena iman di dada pada keturunan anak Adam adalah keimanan yang naik dan turun. Dan sensitivitas pada kebaikan, peka pada permasalahan sosial adalah berpangkal pada keimanan yang kokoh itu. Tidak akan mungkin bagi mereka yang tak mempunyai keimanan akan merasakan sebuah sensitivitas yang membuatnya menangis saat melihat fenomena sosial yang melanda negeri ini dan tidak tergerak untuk beraksi nyata.

                Kawan, senantiasalah waspadalah pada kehidupan kita akan sebuah kepastian bernama kematian. Siap atau tidak itu akan membawa kita pada suatu kenyataan amal apa yang telah kita persiapkan untuk menjadi teman kita di alam kubur sambil menanti kiamat yang entah kapan akan datangnya. Seorang yang berwajah rupawan dan itu adalah amal kebaikan kita di saat masih hidup atau sebaliknya? Maka meneguhkan keimanan kita adalah sebuah keharusan. Tak perlu bermuluk-muluk dengan amal yang besar. Sekadar memberi petunjuk kepada kebaikan maka pahala yang diraih sama saja dengan orang yang melakukan kebaikan itu, percayalah. Dan cukuplah sudah dikatakan bukan muslimin di kala kita tidak memperhatikan urusan kaum muslimin lainnya.

Maka tidaklah mungkin seorang beriman yang teguh ia akan tidak peduli kepada saudaranya yang lain. Tidaklah mungkin terjadi peritiwa di atas jikalau pemimpin yang ada di sana atau di sini begitu sadar dan paham tentang beratnya sebuah amanah. Aih…

Kawan, semoga kekayaan kita tidak akan sampai melupakan tetangga-tetangga kita yang kelaparan. Semoga butiran nasi ditambah lauk terlezat yang kita telan tidaklah sampai membutakan mata hati kita pada erangan saudara-saudara kita yang sakit dan tak punya uang untuk berobat ke dokter atau dirawat di rumah sakit. Semoga apa yang kita miliki membuat keberkahan bagi kita sendiri dan apatah lagi buat sekitarnya. Semoga menjadi pembelajaran.

 

Untuk Ibu Basse, Adik Bahir, dan Calon Adik, semoga Allah melapangkan Anda semua.

 

https://dirantingcemara.wordpress.com

dedaunan di ranting cemara

riza almanfaluthi

16:13 03 Maret 2008

  

SEKEHENDAKMU, UMMI!


Sore itu, dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, menyusuri jalan rindang penuh rerimbunan pohon, di jalan setapak Kampus Universitas Indonesia.
“Alhamdulillah, Ummi bersyukur punya suami kayak Abi,” bisiknya meningkahi deru motor.
“Syukurnya kenapa?”tanyaku penasaran. Maklum pembicaraan ini seumur-umur baru terdengar.
“Jangan geer yah…”tegasnya padaku.
“Insya Allah enggak.”
“Syukurnya Abi tidak banyak menuntut macam-macam. Kayak menghalangi Ummi untuk dibina dan membina.”
“Ah masak?”
“Betul kok…”
“Emang ada contoh yang menghalangi istrinya untuk itu?” tanyaku lagi. “Banyak,” jawabnya sambil menyebut nama salah seorang dari ustadz kami.
“Sebenarnya satu saja bagi Abi untuk membiarkan Ummi tetap menjalani apa yang Ummi kehendaki. Itu ‘kan komitmen awal kita sebelum menikah bukan? Masak lupa sih?”
“Terus apa lagi?” tanyaku lagi tentang kesyukuran dia memilikiku.
“Ummi enggak masak, Abi tidak marah.”
“Karena dalam biodata Ummi ‘kan sudah jelas ditulis tidak bisa masak, ya Abi pasrah saja. Nrimo apa adanya. He…he…he….”
“Ada lagi?” tanyaku.
“Cukup itu saja dulu.”
“Kayaknya banyak deh yang harus Ummi banggakan dari diri Abi ini,” kataku.
“Iya sebanding pula dengan kelemahan yang ada pada diri Abi,” tukasnya.
“He…he…he…tahu saja Ummi sih…” jawabku sambil tersenyum.
***
Pembicaraan di atas motor tadi adalah sarana paling efektif yang sering kami lakukan untuk bisa saling memahami. Di atas motorlah, di sepanjang perjalanan pulang, kami membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan sampai tuntas untuk membunuh rasa jenuh saat melintasi jalanan dengan rute yang sama dari hari ke hari. Tapi terkadang kami sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama kalau dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari. Sehingga bisa jadi tanpa sepatah katapun saling terucap. Tidak mengapa.
Ada pertanyaan buat kami, mengapa pembicaraan itu tidak dilakukan ketika sampai di rumah ketika kita semua sudah dalam keadaan tubuh yang segar dan sedang istirahat? Jawabannya adalah bahkan kalau di rumah sepertinya kami tidak bisa berkomunikasi dengan efektif karena selalu diganggu oleh anak-anak dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Sehingga seringkali kami memanfaatkan waktu yang ada di manapun berada untuk berkomunikasi dengan efektif. Dan di atas motor itu adalah salah satu cara terbaik bagi kami walapun terkadang dengan suara yang harus dikeraskan karena sering ditingkahi oleh deru kendaraan yang lain.
Dalam majalah Safina No. 1/ Th II Maret 2004 ditulis tentang pentingnya komunikasi buat pasangan suami istri.
Salah satu kunci keharmonisan rumah tangga Islam adalah komunikasi dan dialog yang intensif dan sehat antara suami istri. Pada saat ini tidak jarang terjadi adanya sumbatan komunikasi diantara pasangan suami istri. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal itu, misalnya kesibukan kerja, terlampau letih dan lain-lain. Bahkan karena begitu sibuk dan letihnya, ada pasangan bertatap mukapun tidak sempat. Sebagai akibatnya, tentu saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi satu dengan lainnya.
Komunikasi yang hambar biasanya mengakibatkan hubungan kemesraan menjadi berkurang. Bahkan tidak jarang menimbulkan ketegangan dan terjadilah perselisihan, kalau sudah begini suami istri akan mengalami penderitaan. Sangat disayangkan apabila hubungan yang hambar ini terjadi pada keluarga muslim yang dibangun dalam rangka beribadah kepada Allah. Diperlukan pengertian yang mendalam dari kedua pasangan agar komunikasi dapat berjalan secara kontinyu.
Tidak ada yang menjamin bahwa saat kita sudah merasa sekufu, satu agama, sama-sama ngaji, sama-sama aktifis dakwah, setara, sama, cocok, dan percaya seolah-olah semua urusan rumah tangga akan beres. Padahal, banyak pasangan gagal meneruskan bahtera rumah tangga mereka karena kurang peduli dengan urusan komunikasi seperti ini.
Dengan komunikasi di atas motor itulah saya bisa tahu apa yang diinginkan oleh istri saya, bagaimana perasaan saya pada saat itu terhadapnya atau sebaliknya. Dan adanya keterbukaan yang terjalin pada saat itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Hingga terbentuknya rasa kerinduan di hati saat ia tidak membonceng di belakang saya karena ia pulang duluan.
Saya senantiasa berharap komunikasi yang senantiasa kami jalankan di setiap harinya, dengan cara kami sendiri itu, bisa menyadarkan kami betapa komunikasi itu sangatlah penting untuk bisa saling memahami. Dengan pemahaman itulah saya harapkan dia bisa mengerti apa yang aku kehendaki dari dirinya dan sebaliknya, hingga saya bisa berkata pada dirinya: “Sekehendakmu saja, Ummi!”

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01:59 09 Oktober 2007

SEMUANYA BERKAH


SEMUANYA BERKAH

Sungguh nikmatnya ukhuwah saya rasakan pada hari-hari ini. Betapa tidak permohonan baju layak pakai dan dana untuk kegiatan bakti sosial (baksos) yang saya edarkan melalui email dan forum diskusi mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa positifnya.
Dering telepon dan email balasan yang masuk banyak menanyakan teknis pengambilan baju layak pakai, bahkan hingga jam-jam terakhir juga masih ada yang menanyakan nomor rekening bank saya untuk bisa mentrasfer dana untuk kegiatan itu.
Dari Denpasar dikirim satu kardus penuh baju layak pakai. KPP LTO, Madya Jakarta Timur, hingga Kantor Pusat adalah tempat-tempat yang saya kunjungi untuk diambil baju layak pakainya. Dari teman-teman satu kantor pun banyak juga yang memberikan barang yang sama pula hingga terkumpul satu troli penuh. Tidak hanya itu dana yang terkumpul baik secara tunai ataupun melalui rekening bank adalah sebanyak Rp1.700.000,00. Dengan dana yang dikumpulkan dari teman-teman panitia yang lain terkumpul total dana empat juta lebih.
Subhanallah jumlah yang sangat luar biasa besarnya bagi saya dan teman-teman panitia. Hingga kami memutuskan untuk menambah paket sembako yang semula 150 paket seperti tahun yang lalu menjadi 200 paket sembako. Terdiri dari beras empat liter, satu kilogram minyak goreng curah, dua bungkus mentega simas, satu kilogram tepung terigu, dan satu kilogram gula pasir. Yang kalau diuangkan maka satu paket sembako itu seharga Rp38.500,00. Sehingga total dana yang harus kami sediakan adalah sebesar kurang lebih delapan juta rupiah.
Dengan dana awal 4 juta itulah kami membeli sembako ke pedagang sembako langganan baksos kami yang sudah tiga tahun ini menjalin kerjasama. Dengan bermodal kepercayaan, pedagang sembako mau menyediakan paket dan sisa uangnya nanti diberikan setelah acara baksos selesai. Kami optimis kekurangan dana yang ada akan bisa ditanggulangi dari hasil penjualan baju layak pakai.
Ohya, tidak hanya paket sembako yang bersubsidi yang kami berikan. Kami juga menjual sembako eceran dengan harga yang amat murah. Simas satu bungkus kami hargai seribu rupiah. Satu liter minyak goreng seharga tujuh ribu rupiah. Sekilo tepung terigu kami hargai lima ribu rupiah. Gula pasir empat ribu rupiah sekilonya.
Alhamdulillah, acara kemarin berlangsung dengan sukses. Terasa dan terlihat kegembiraan pada wajah-wajah mereka yang mendapatkan sembako gratis dan murah, pakaian yang amat layak pakai (terutama yang dari kantor pajak). Tetapi kami juga tidak bisa menutupi kekecewaan mereka yang tidak mendapatkan kupon paket sembako gratis dan murah itu.
Dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Karena semata-mata keterbatasan yang ada pada kami. Namun kami mempersilakan mereka untuk membeli baju layak pakai dan sembako eceran yang harganya pun jauh sekali dari harga pasaran. Bila mereka pun ingin memiliki baju layak pakai, tetapi tidak memiliki uang kami persilakan mereka untuk berbicara kepada panitia tentang ketidaksanggupannya, dan kami akan berikan apa yang mereka minta.
Pakaian yang amat layak pakai itu kami jual seharga Rp7000,00 sampai Rp500,00 (lima ratus perak). Bahkan ada yang kami bagikan gratis. Dan juga agar semua daerah yang ditengarai menjadi kantong-kantong kemiskinan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan baju layak pakai ini, maka kami bersepakat untuk tidak menggelar semua barang itu di hanya satu lokasi saja.
Pada akhirnya ada teman lain yang bergerak untuk mengevaluasi hasil baksos tersebut. Dari hasil evaluasi itu kami juga bersepakat bila ada dana yang tersisa dari hasil keuntungan baksos tersebut, maka agar menjadi keberkahan bagi para donator yang telah menginfakkan hartanya, sebagian dana tersisa akan diberikan untuk menyubsidi kekurangan dana iktikaf. Pelaksanaan iktikaf ini merupakan acara yang yang pertama kalinya diselenggarakan untuk tiga desa yang dipusatkan di masjid di desa kami.
Yaitu untuk menambah kekurangan dana menu makanan berbuka puasa buat para shoimin dan juga sahur para peserta iktikaf. Insya Allah ini akan menjadi suatu keberkahan, karena pahala yang akan didapat adalah sama seperti pahala puasanya orang yang berbuka puasa itu. Subhanallah. Dan tidak ada sepeserpun untuk kami para panitia. Insya Allah semuanya berkah.
Dari hati yang paling dalam saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya bagi teman-teman yang telah menyumbangkan baju layak pakainya, seperti Ichal, Arya, Mbak Titik Minarti dan kawan-kawannya, Mbak Julianti, si Lay Erwinsyah M, Mbak Ardiana, Mbak Dewi Wiwiek, Mas Erfan, Ibu Mona Junita, dan Mas Purnomo di Denpasar.
Juga kepada teman-teman yang telah menginfakkan uangnya tunai ataupun transfer melalui rekening Bank Mandiri saya seperti (maaf saya menyebutnya dengan nama inisial, agar tidak mencederai niat baik ini) AR sebesar Rp500.000,00. Hamba Allah sebesar Rp100.000,00 (sampai saat ini saya belum mendapatkan konfirmasi nama donator ini). Ayr sebesar Rp250.000,00. Ich sebesar Rp100.000,00. Sebesar Rp250.000,00 telah disumbangkan oleh 6470. Mbak A*is*h sebesar Rp250.000,00 dan kawan lama saya yang menelpon di detik-detik terakhir: Mbak Listy sebesar Rp250.000,00.
Saya tidak bisa memberikan apa-apa kepada para donator sebagai balasannya . Saya hanya berharap semoga Allah senantiasa melimpahkan balasan kebaikan yang berlipat ganda atas semua kemurahan hati mas-mas dan mbak-mbak donatur. Sungguh bukan karena tulisan saya, sungguh bukan karena kenal dengan saya semua ini terjadi. Semuanya semata-mata karena Allah telah menggerakkan segumpal daging bernama hati untuk senantiasa sensitif terhadap kebersamaan dan kepedulian. Terimakasih.
Dan saya yakin bagi yang belum berkesampatan untuk turut serta dalam kebersamaan ini, bukan berarti tidak peduli, tapi karena semata-mata ada prioritas yang lebih dekat, yang lebih membutuhkan, yang lebih penting di daerahnya masing-masing. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan kita semua. Amin.
Jazakalloh khoiron katsiro.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13:26 24 September 2007
Sekadar laporan sekilas. Foto digital ada tapi belum saya terima.

MUKA BANDIT


Sabtu pagi pukul 10.00 tepat saya meninggalkan halaman masjid tempat pertemuan pekanan dilakukan untuk menuju bandara Soekarno Hatta menjemput paman saya yang akan tiba dari Arab Saudi. Menurut SMS yang saya terima dari rombongan keluarga paman saya yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara, rencananya pesawat yang membawa paman saya itu akan mendarat pukul 13.00 WIB.
Perjalanan yang biasa saya tempuh ke sana adalah dengan naik KRL di stasiun Citayam lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus Damri yang biasa mangkal di Terminal Pasar Minggu. Sampai di bandara, di terminal 2, jam satu siang kurang sedikit. Ternyata berdasarkan jadwal yang terpampang di layar pengumuman pendaratan, pesawat Saudi Airlines itu baru tiba di Indonesia pukul 13.54 WIB.
Dan baru pada jam setengah empat sore, saya benar-benar dapat melihat paman saya keluar dari pintu kedatangan. Setelah berbasa-basi sebentar dia bilang, “Besok kita ke PRJ, antar yah…”
Siap…!
Pekan Raya Jakarta
Perjalanan kemarin amat melelahkan menurut saya. Selain karena harus mampir di rumah teman paman saya di daerah Ciledug, kapasitas angkut yang berlebih sehingga kami harus berdesakan, juga perjalanan pulang ke tempat saya yang memakan waktu lama. Kini esoknya, di hari ahad ini, saya pun harus menemani paman saya yang ingin berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Rencananya pula sehabis dari PRJ kami akan mengunjungi Masjid Kubah Emas. “Mumpung di Jakarta, ” kata bibi saya.
Oke deh…walaupun lelah dari kemarin belum juga kunjung hilang, saya menyanggupi untuk mengantar mereka. Dalam hati saya berkata “kepada keluarga siapa lagi saya akan berbakti setelah ibu saya meninggal?”
Perjalanan di mulai dari pintu tol Cieutereup lalu keluar di pintu tol Ancol-Mangga Dua. Tidak berapa lama kami pun sampai di arena PRJ. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas untuk memasuki tempat pameran. Tiket masuk per kepala sebesar Rp20.000,00 di hari libu. Anak umur 3 tahun ke atas diharuskan memiliki tiket pula.
Terus terang saja, saya termasuk orang yang tidak menyukai keramaian pasar atau mal. Selain karena bisa menaikkan syahwat belanja juga bisa meliarkan hasrat hedonisme manusia—dan untuk mengatasi ini saya cuma membawa uang tunai seratus ribu saja agar saya menyadari saat “ingin” sesuatu, uang saya hanya segitunya saja.
Semakin siang semakin banyak pula pengunjung yang datang. Dan tidak terasa saat saya berkunjung di stand daerah dan UKM, saya telah berpisah dari rombongan utama. Saya raba saku saya, hp saya masih ada ditempatnya. Tapi ada yang aneh, kok selama ini tidak ada aktivitas getar dari hp itu. Alamak, ternyata hp saya sudah mati. Lalu bagaimana saya harus mencari mereka di antara puluhan ribu orang yang berada di tempat itu.
Saya lakoni cara manual, berkeliling ke berbagai tempat utama pameran. Dari hall ke hall, dari stand ke stand, dari counter ke counter. Tidak ketemu…! Kaki saya sampai pegal-pegal. Istirahat deh di salah satu sudut counter penjual makanan ringan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kali aja ada yang bisa meminjamkan charger atau hp—ingat loh saya tidak meminta pulsa kepada mereka.
“Pak, bapak punya charger enggak Pak? Saya mau menghubungi saudara saya di sini, tapi hp saya mati” tanya saya pada sekelompok orang penjaga stand yang saat itu lagi sepi.
“Chargernya ketinggalan di rumah,” jawab salah satu dari mereka. Saya pun meninggalkan tempat itu.
Saya kembali melihat seorang bapak tua yang sedang duduk-duduk dengan hp berada di pinggangnya.
“Pak bisa bantu saya enggak Pak? Saya mau kontak saudara saya di sini. Tapi baterai saya habis. Jadi saya mau pinjam hpnya bapak, nanti saya telponnya pakai kartu saya Pak,” pinta saya setengah memelas.
“Masnya pinjam saja charger di counter hp di sana, ” tunjuk dia pada sebuah stand merek hp ternama.
“Terimakasih Pak.” Dua kali saya di tolak. Kali ini episode acara televisi TOLONG benar-benar terjadi pada diri saya.
Saya pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Bapak itu. Tapi saya lihat stand itu dipenuhi banyak orang, semua pelayannya sibuk, dan jelas saya tidak banyak berharap meminta pertolongan dari mereka.
Lalu saya kembali mencari orang yang dari gayanya bisa membantu saya keluar dari kesulitan. Dua orang yang sedang berbincang-bincang di depan toilet yang saya tanyai, menjawab dengan jawaban singkat, “saya tidak punya hp.” Dan orang terakhir—penjaga stand minuman—pun tidak bisa menolong saya.
Saat itulah saya merasakan menjadi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Saat itulah saya merasa menjadi tokoh utama dari program variety show televisi. Saat itulah saya merasa menjadi orang yang kesendirian. Mengapa mereka tidak mau memberikan pertolongan yah? Apa karena muka saya muka bandit hingga menjadi parameter tersendiri layak atau tidaknya seseorang untuk ditolong? Saya merasakan sekali nada kecurigaan dari tatapan bapak yang menyuruh saya meminjam charger di counter hp dan juga dari dua pemuda yang sedang ngobrol di depan toilet. Wajarlah mereka curiga, ini Jakarta Bung! Di mana banyak kepalsuan dijajakan dan diobral ke mana-mana. Di saat kejujuran menjadi barang paling langka pada saat ini. Dan pada akhirnya saat itulah saya bertekad kalau saya dimintakan pertolongan dalam masalah ini Insya Allah akan saya bantu sekuat tenaga.
Tekad saya itu ternyata diberikan jalan oleh Allah untuk direalisasikan pembuktiannya. Senin pagi ini, ada kecelakaan di jalan antara Tanjung Barat dan Pasar Minggu. Pengendara sepeda motor menabrak motor yang berada di depannya. Yang menabrak jatuh dan ditabrak dari belakang oleh motor lain. Yang ditabrak malah tidak apa-apa bahkan langsung melanjutkan perjalanan lagi. Sedangkan dua orang ini luka-luka lecet di kaki, tangan, dan juga di dagu.
Saya sempatkan untuk menuntun salah satu motor mereka. “Bagaimana, ada yang luka parah enggak? tanya saya pada penabrak kedua yang tidak bisa menghindari penabrak pertama . “Dagu dan kaki ini masih keluar darah,” jawabnya. Benar, cairan berwarna merah membasahi tangannya yang mengusap-usap dagunya.
Si penabrak pertama menghampiri saya sambil berjalan tertatih-tatih dan wajah meringis kesakitan dan berkata: “Bapak punya pulsa banyak enggak? Saya mau menghubungi orang Jepang atasan saya, pulsa saya mau habis nih” pintanya. Jelas saya langsung memberikan hp saya padanya. Peristiwa hari Ahad kemarin benar-benar membekas pada sanubari saya. Berikan pertolongan…apalagi sekadar pulsa ini. Ada banyak yang dihubunginya, saya pun menunggu lama. Berkali-kali ia meminta izin untuk menghubungi yang lain. “Silakan pakai saja.”
Barulah setelah saya memastikan mereka tidak membutuhkan hp ini, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali, absen pagi sudah terasa memanggil-manggil di telinga. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi, kata teman satu seksi saya saat saya menceritakan hal ini padanya. Tentang sebuah pelajaran dan pembuktian realita atas sebuah tekad agar tidak menjadi omong kosong belaka.
Syukurnya Allah memberikan pelajaran atau tes ini segera, agar saya merasakan hikmah di balik semua itu. Agar saya selalu belajar untuk menjadikan tangan ini selalu di atas. Agar saya tidak menggunakan parameter layak tidaknya seseorang itu perlu ditolong hanya di lihat dari mukanya, muka bandit atau muka Kyai. Enggak enaklah dinilai seperti itu. Bisa jadi muka saya muka bandit tapi hati ini boo, hati Ebiet (halah…). Kawan, hari ini dan kemarin saya mendapat banyak pelajaran loh.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:16 02 Juli 2007

http://10.9.4.215/blog/dedaunan
http://dirantingcemara/blogspot.com
almanfaluthi at gmail.com
riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Ri, yang cantik…


KE MANA?
(CATATAN PERJALANAN 1)

Selasa, 20 Juni 2007 WIB
Ri, tugas itu mendadak sekali diberikan kepadaku. Aku harus pergi ke Surabaya untuk membahas mengenai permasalahan PPN atas Jasa Maklon di Kawasan Berikat dengan Badan Penanaman Modal (BPM) Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Pihak Kanwil Khusus sepertinya meminta satu orang dari KPP PMA Empat untuk menemani pejabat Kanwil.
Ibu Kepala Seksi meminta kepada saya dan teman saya yang kebetulan sama-sama menangani Wajib Pajak yang mau dibahas permasalahannya di BPM. Saya sudah menawarkan kepada teman saya untuk dia saja yang pergi ke Surabaya, tapi karena ada berkas yang mau jatuh tempo maka dia menyerahkannya kepada saya. Alhasil saya yang ditunjuk untuk pergi.
Ri, saya bergegas untuk membuat surat tugas, SPPD, memesan tiket, mengontak pemeriksa untuk mengetahui permasalahan sebenarnya tentang Wajib Pajak tersebut, menyalin peraturan-peraturan perpajakan untuk amunisi saya saat ditanya oleh Wajib Pajak dan BPM di forum tersebut. Semuanya tidak ada masalah sampai sore hari saat tiket diantar oleh pihak travel.
Ternyata Ri, saya dipesankan tiga tiket. Tiket pertama atas nama saya untuk perjalanan ke Surabaya hari Rabu tanggal 20 Juni 2007 pukul 17.00 WIB. Tiket kedua adalah atas nama saya juga untuk perjalanan ke Surabaya hari Kamis 21 Juni 2007 pukul 06.00 WIB. Tiket ketiga untuk pejabat dari Kanwil yang berangkat hari kamis jam enam pagi.
Bagaimana mungkin saya bisa berangkat dalam jangka waktu tersebut. Saya menolak untuk membayarnya. Ibu Kepala Seksi pun ikut membantu saya. Ada kesalahan di operator penerima pemesanan tiket. Mereka tetap menyalahkan saya dan berusaha untuk menagihnya atau melakukan pembatalan dengan membayar Rp65.000,00. Semuanya ditolak mentah-mentah oleh Ibu Kepala Seksi saya. Dan akhirnya kurirnya bisa menerima walaupun diantara mereka sepertinya masih ada ganjalan. Pihak travel tetap menginginkan ada pembayaran pembatalan tersebut. Tapi selesai juga dengan kekukuhan kita.
Saya berharap perjalanan ini tidak akan terjadi lagi hal-hal lain yang menghambat seperti peristiwa ini Ri. Cukup sudah.

Rabu, 20 Juni 2007 08.00 Pagi.
Ri, saya berusaha belajar memahami persoalan tentang permasalahan Wajib Pajak yang mengadukan persoalan PPN Jasa Maklon ini kepada BPM. Insya Allah saya sudah siap menerima pertanyaan apapun atau permintaan penjelasan tentang hal ini. Ohya dinihari tadi saya sudah packing, cukup dengan satu stel pakaian saja dan dua dasi. Merah dan Biru. Satunya untuk cadangan saja.

Rabu, 20 Juni 2007 12.00 WIB.
Ri, sudah kucium pipi dan dahi mereka, Haqi dan Ayyasy. Dua hari ini tentunya saya akan merindukan mereka. “Selamat tinggal , Nak…”
Ri, entah kenapa hati saya masih saja tetap tidak enak. Apakah karena ketakutan saya bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal? Juga apakah karena akan dihadapkan dengan para pejabat-pejabat BPM sana? Entahlah, untuk mengatasi semua kecemasan ini saya memperbanyak sholawat dan doa Nabi Musa saat akan menghadapi Fir’aun Raja Durjana.
Kereta Rel Listrik jurusan Jakarta Kota tiba di Stasiun Citayam, saya menaikinya Ri untuk turun di Stasiun Pasar Minggu. Cukup dengan karcis seharga Rp1500.00. Nanti dari Stasiun Pasar Minggu saya jalan ke arah terminal Pasar Minggu untuk menaiki Bus Damri yang akan membawa saya ke Bandara Soekarno Hatta.
Rabu, 20 Juni 2007 14.30 WIB
Kakiku menuruni tangga Bus, kembali saya menginjakkan kaki di Bandara. Kini saya sudah tidak katro, tidak ndeso lagi seperti saat saya baru pertama kali dating ke tempat ini. Dulu di Desember 2005—seperti yang sudah pernah saya ceritakan kepadamu Ri, saya sempat berdiri cukup lama di depan loket maskapai untuk melakukan check in. Saya disadarkan calo tiket, katanya kalau mau check in harus masuk dulu melalui pintu utama lalu antri di depan loket check in yang berjajar memanjang dari berbagai perusahaan penerbangan dalam negeri. Ternyata tempat itu memang bukan tempat untuk check in, tempat itu adalah tempat untuk membeli tiket. Pantesan tidak ada orang yang mengantri di depannya. Kini saya tidak kampungan lagi Ri, Saya langsung menuju tempat check in.
Rabu, 20 Juni 2007 17.00 WIB
Menunggu memang pekerjaan yang membosankan Ri, sudah dua jam lebih saya menunggu untuk masuk ke pesawat. Tapi entah kenapa panggilan itu belum datang juga. Sore ini, hujan sudah tidak lebat lagi turunnya. Tapi langit masih tetap menghitam. Sepertinya akan mencurahkan isinya lagi. Sudah dua koran nasional saya baca. Dan sudah berkali-kali saya bolak-balikkan lembarannya untuk mencari berita menarik yang mungkin terlewati. Dan ternyata sudah semua saya baca. Kini saya tinggal memandang ke arah kejauhan melihat ruang kosong beraspal dan berumput tempat pesawat mendarat dan tinggal landas.
Ri, jadinya saya menulis puisi:

Ke mana?
ke arah mana engkau akan bertiup
selatan?
atau barat?
Ikuti aku
Ikuti jejakku
percayalah ada belahan sukma
yang menggapai-gapai asa
merinduimu
menaruh setengah cintanya untukmu
pada langit yang memerah selendangnya
pada bulan yang separuh cahayanya
lalu
masih saja kau ragu
ke arah mana engkau akan bertiup?
Ke mana?
****
Rabu, 20 Juni 2007 18.10
Ri-ku yang cantik, tadi di pesawat saya mengalami dua kali guncangan. Cuaca yang buruk membuat pesawat terbang yang saya naiki seperti roll coaster di dunia fantasi. Perut bagian bawahku seperti tertarik searah gravitasi bumi menuju pusatnya. Saya bertakbir Ri, pun saya bersholawat. Bayangan buruk tentang jatuh dari angkasa menghantui saya Ri. Tapi Alhamdulillah saya dan semua penumpang selamat. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa perjalanan udara hal itu adalah hal biasa. Tapi bagi saya tentunya beda, itu adalah sesuatu yang di luar biasa.
Bandara Juanda masih ramai Ri, terutama dari para penjemput yang sudah berdiri menunggu di depan pintu keluar. Saya bingung Ri, taksi mana yang harus saya tumpangi menuju Jalan Jagir Wonokromo. Saya sudah ditawari banyak calo taksi untuk menaiki kendaraannya. Cuma saya ingat pesan tetangga saya yang mewanti-wanti saya untuk memesan tiket di loket resmi saja. Awalnya saya tidak menemukannya. Tapi setelah berpura-pura menelpon seseorang agar tidak ditanyai terus oleh calo tersebut saya menemukan counter taksi itu. Ternyata tepat di sebelah kiri pintu keluar.
“Mau ke mana Pak?” tanya petugas wanita di counter tersebut.
“Jagir”
“Lima puluh lima ribu rupiah.”
Setelah menyerahkan uang yang diminta saya mendapatkan sebuah karcis. Dan saya bingung Ri, di mana taksi yang harus saya tumpangi. Seorang petugas di depan loket itu menyadari kebingungan saya dan menunjukkan kepada saya taksinya.
“Bapak tahu hotel yang ada di Jalan Jagir? tanya saya pada supir taksi. Bapak itu berpikir dan menjawab: “sepertinya tidak ada”.
“Ya sudah Pak ke Hotel Fortuna di Jalan Darmo Kali,” pinta saya sesuai sms dari tetangga saya yang sudah tahu seluk beluk Surabaya.
“Kalau begitu tarifnya beda Pak, kurang Rp10.000,00 lagi. Bagaimana?”
“Ya sudah tidak apa-apa,” jawab saya. Insya Allah SPPD saya cukup
Ri, Surabaya di malam hari ternyata sama saja dengan Jakarta. Jalan Ahmad Yani di Surabaya saya pikir ramainya sama dengan jalan Pasar Minggu Jakarta. Saya merenung di jendela taksi. Memandang temaram malam dengan lampu-lampu merkuri yang menyesakkannya. Ri, saya jadi ingat pusi yang saya buat beberapa tahun yang lalu. Tapi puisi itu sudah hilang Ri entah kemana. Suasana yang membangun puisi itu sama persis dengan melankolis malam ini Ri.

Rabu, 20 Juni 2007 19.15 WIB
Ri-ku yang menawan. Aku (kata gantinya kuganti saja) berjalan memasuki pintu hotel Fortuna. Bergegas menuju meja resepsionis. Dan memilih kamar yang yang tidak terlalu mewah. Tentunya seukuran SPPD-ku. Aku memilih yang harganya Rp209.000,00. Dengan harga yang sama kamar hotel ini masih kalah indah dengan kamar hotel di Pasuruan dulu. Harganya pun lebih murah daripada yang di sini.
Ri, ternyata perkiraanku salah. Dulu waktu pergi ke Pasuruan aku sengaja membawa perlengkapan mandi ternyata di sana sudah tersedia lengkap. Tapi saat aku berpikir bahwa untuk perjalanan ke Surabaya ini aku tak perlu perlengkapan mandi, aku salah Ri. Di sini aku tidak menemukan sikat gigi dan pastanya. Kiranya aku perlu ke luar hotel untuk mencarinya sekalian mencari pengisi perut yang sedari siang belum terisi. Di pesawat aku cuma diberi segelas air putih dalam kemasan 220 ml.

Rabu, 20 Juni 2007 21.00 WIB
Ri, kini malam semakin menjelang. Saatnya untuk istirahat Ri. Melepaskan penat setelah setengah harian tadi menempuh ratusan kilometer. Ohya Ri, saya (kiranya Ri, kata ganti saya lebih akrab di telinga daripada aku) kok merasakan “keanehan“ di luar biasanya, saat membeli nasi goreng di warung nasi di pertigaan jalan dekat hotel. Warnanya merah dan masalahnya kok seperti tidak ada rasanya yah… atau lidah saya yang belum bisa menerima “keanehan” ini. Nasi goreng kok warnanya merah. Saya tidak tahu apa nama nasi ini. Saya belum menanyakannya pada teman-teman dari Surabaya Ri.
Ri, saya tinggal dulu yah. Saya mau tidur. Saya sudah capek. Saya harus mempersiapkan sebaik mungkin untuk hari esok. Acara televisi sudah tidak menarik minatku lagi. Semoga engkau bermimpi indah malam ini. Lembaran putihmu saatnya untuk tidak kucoret malam ini. Tapi aku sendirian Ri….

To be Continued…

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:04 22 Juni 2007

DEAL GROUP BATRE V


Tuesday, May 8, 2007 – DEAL GROUP BATRE V

Yth. Kawan-kawan peserta Batre V
Kelompok I yang tidak hadir pada pertemuan tanggal 05 Mei 2007

Assalaamu’alaikum wr.wb.
Ba’da tahmid dan salam
Sabtu kemarin dari 11 anggota kelompok I yang hadir hanya 5 orang peserta, yaitu saya sendiri, Anindita Gayatri, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah, dan Amalia Hassan.
Pertemuan kemarin adalah pertemuan untuk menyepakati siapa yang menjadi ketua kelompok, sekretaris, dan bendahara. Juga untuk menentukan pertemuan lanjutan, serta kewajiban-kewajiban para peserta. Berikut hasil kesepakatan dari pertemuan tersebut:

1. Karena saya satu-satunya laki-laki di kelompok I yang hadir pada pertemuan itu, maka saya langsung didaulat untuk menjadi ketua kelompok. Selagi mampu saya terima saja amanah itu;
2. Sekretaris adalah Anindita Gayatri sedangkan Bendahara adalah Siti Azizah;
3. Iuran peserta sebesar Rp30.000,00 per bulan. Yang dikumpulkan di pertemuan terakhir dalam bulan tersebut. Biasanya di minggu keempat. Langsung disetorkan ke Bendahara.
4. Setiap anggota kelompok I wajib hadir untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan sekali dalam dua minggu. Apabila tidak bisa hadir maka diwajibkan untuk menemui Tutor pada hari esoknya atau pada hari yang telah disepakati. Apabila ternyata tidak bisa juga, maka ia harus berkewajiban untuk membuat sebuah tulisan dalam bentuk apa saja atau resensi sebuah buku. Di pertemuan selanjutnya akan ditagih atau apabila sudah dibuat maka tulisan tersebut dikumpulkan kepada Sekretaris.
5. Untuk pertemuan selanjutnya yaitu pertemuan perdana dari pelatihan BATRE V untuk kelompok 1 ini maka akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2007 pukul 09.00 pagi WIB.
6. Telah dibagikan Daftar Peserta BATRE V Kelompok I, Silabus Pertemuan, dan Materi Pertemuan I dengan judul: Menulis Cerpen oleh Denny Prabowo serta Dongeng Kancil oleh Sapardi Djoko Damono. Bagi yang belum mendapatkan materi tersebut bisa langsung kontak kepada
– Tutor kita yaitu Denny Prabowo di nomor 08881425763/081802901679
– Asisten Tutor yaitu Nurhadiansyah di nomor: 08881750920
7. Ada tugas yang harus dikumpulkan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2007 besok, yaitu mengumpulkan 3 dongeng (lokal ataupun internasional) terkenal dan dibuatkan sinopsisnya. Kita akan berusaha untuk merekonstruksi dongeng tersebut pada pertemuan I nanti;

Demikian hasil dari pertemuan kelompok I ini. Bila ada yang kurang jelas sila untuk menghubungi saya via telepon di nomor yang telah saya kirimkan via sms Sabtu kemarin. Kurang lebihnya mohon maaf. Billahittaufik wal hidayah.
Wassalaamu’alaikum wr.wb.
Riza Almanfaluthi

6 BULAN UJIAN SEBENARNYA


Wednesday, April 25, 2007 – 6 BULAN UJIAN SEBENARNYA

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Ba’da tahmid dan salam.

Setelah diawali dengan sebuah pesimisme tentang bisakah saya lulus untuk mengikuti Basic Training for Beginner V (BATRE V) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Depok, akhirnya 20 April 2007 kemarin, sang Ketua FLP Depok, Koko Nata, memberikan sebuah woro-woro hasil seleksi tersebut dalam sebuah essaynya yang disebarkan melalui milis dan dimuat di blog komunitas penulis akhirat itu, http://flpdepok.multiply.com

Ternyata saya lulus, dan dikelompokkan dengan calon peserta BATRE V yang lainnya, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Berikut nama-nama peserta Batre V didasarkan keleompoknya–saya tidak tahu atas dasar apa pengelompokkan tersebut.

Kelompok I: Anindita Gayatri, Bhayu Mahendra H, Dunianti Hinda Maharani, Hermanu, Ihsan Maskuri, Riza Almanfaluthi, Ronald P. Putra, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah.

Kelompok II: Arya Fernandes, Danni Azzam, Diah Ayu Sekararum, Nadia Nurhaliati,

Neneng Tsani, Qurratuain, Riani Anggraeni, Ririk, Shahibah Yuliani, Tijih Andri

Kelompok III: Diah Ayu Sekararum, Fadila, Indriani Putri, Isti, Muhammad Erfan, Nurul M, Nur Hasanah, Sari Harum Melaty, Sidiq, Siti Mundasah.

Nah, setelah itu ujian sebenarnya akan datang. Selama 6 bulan itu seluruh peserta akan diberikan pelatihan menulis. Loh kok ujian lagi. Yup, ujian atas sebuah ketekunan dalam kehadiran, ujian atas sebuah konsistensi, ujian atas sebuah pelurusan niat. Karena, sebagaimana Koko Nata telah tegaskan bahwa FLP Depok tak punya tongkat ajaib yang bisa menyulap seseorang menjadi penulis hebat.FLP Depok tak bisa memberikan apapun materi, anggotalah yang harus senantiasa memberi karena sesungguhnya ketika memberi maka kita akan menerima. Wow…berat juga yah. Enam bulan loh, Dua belas pertemuan. Dua jam dalam sekali pertemuan.

Hanya satu kendala bagi saya adalah lemahnya semangat. Mungkin di awal, semangat saya begitu menggebu-gebu untuk mengikuti pelatihan ini. Tapi biasanya di pertengahan, kebosanan sudah mulai merambati diri. Terbukti kegagalan saya dalam menekuni pelatihan bahasa Inggris di LIA, yang tidak pernah saya tuntaskan padahal sudah bayar mahal. Kiranya saya senantiasa butuh penyemangat agar tercapai target jangka pendek saya yaitu: selalu hadir dalam setiap pertemuan. Itu saja bagi saya adalah sebuah kesuksesan yang luar biasa.

Saya harap saya tidak lemah semangat.

Saya harap saya tidak malas.

Saya harap saya senantiasa tekun.

Saya harap saya dapat mengikutinya tanpa jeda.

Saya harap Allah menguatkan saya.

Itu saja harap saya.

Doakan.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:06 25 April 2007

Karena Kamu Cantik…


karena kamu cantik…

Kepekaan saya yang semakin menipis membuat saya gagap untuk menulis puisi. Tapi saya memang harus melawan kecenderungan yang biasanya membuat orang takut yaitu memulai untuk menulis. Jikalau semua kita memahami bahwa sesuatu yang indah tentunya diawali dari kesulitan-kesulitan maka tentunya tak akan ada keluhan karena akhirnya keindahan itu pasti datang pada akhirnya.
Maka saya tak akan pernah mengeluh bahwa keindahan itu tiada terasa pada puisi ini, karena hari ini saya kembali untuk memulai. Memulai untuk menulis. Menulis sebuah puisi.

***
Mengapa perempuan selalu dibahas dalam setiap diskusi? Karena kecantikannya? Atau karena apa?
Kata Dr. Najah Ahmad Azh Zhihar dan Ustad Cinta dalam “Ya Ma’syaru Ar-Rijaal, Rifqan bin An-nisaa, sesungguhnya:

1. Kecantikan perempuan ada dalam iman taqwanya yang menyejukkan
mata kaum laki-laki;
2. Kecantikan perempuan ada pada kehangatan sikapnya yang mampu
menggetarkan sensifitas dan kecintaan pria;
3. Kecantikan Perempuan ada pada kelembutan sikapnya;
4. Kecantikan perempuan berada dalam pandangannya yang teduh dan
suaranya yang hangat;
5. Kecantikan perempuan berada dalam senyumannya yang menambah
kecantikannya dan membuat gembira hati orang yang melihatnya;
6. Kecantikan perempuan berada pada intelektualitasnya;
7. Kecantikan perempuan berada pada seberapa jauh pengetahuannya akan tanggung jawabnya terhadap keluarga, rumah, anak-anak , masyarakat dan umat manusia;
8. Kecantikan perempuan berada pada kemampuan dan keinginannya untuk memberi.

Sedangkan saya cuma bisa jawab:

karena…
by: Riza Almanfaluthi

karena perempuan itu 1001 misteri
karena perempuan itu ingin dimengerti
karena perempuan itu sejatinya adalah kawan sejati
karena perempuan itu adanya lelaki
karena perempuan itu mampu membuat warna hati
karena perempuan itu keindahan sebuah puisi
karena perempuan itu membuatku tak mudah patah hati
dan selaksa lainnya hanya
untukmu perempuanku…

Kalibata Biru
11:21, 12 Maret 2007

cinta…
selayaknya datang di senja
saat kau memandang buih lautan

tanyamu
adalah asa yang tak kunjung tiba
di selokan penuh embun
absurd

ah…

Kalibata Biru,
10:00, 12 Maret 2007

NYAR’I ITU BERKAH


Dua wanita yang saya kenal ini fotonya terselip di antara foto-foto yang terpampang pada satu halaman penuh iklan salah satu perusahaan asuransi syariah terkemuka di Indonesia. Dua wanita yang pernah saya ceritakan dulu setahun lalu pada tulisan saya yang berjudul: Memilih di Antara Dua Wanita (tepatnya di http://10.254.4.4/isi_partisipasi.asp?dsh=4875). Mereka masing-masing mendapatkan penghargaan Diamond dan Silver Club Member Agency. Hebat euy, fotonya jadi dikenal ke seluruh Indonesia.
Perempuan yang mendapatkan penghargaan Diamond—sebut saja Sumaryanti –saya mengenalnya walaupun belum pernah deal closing dengannya. Sedangkan sosok satunya lagi yang mendapatkan penghargaan silver, Lasmawati, saya sudah menitipkan dua asuransi pendidikan anak saya melaluinya.
Lalu apa kaitannya dengan saya? Tidak ada sih. Cuma saya merasa bangga saja terhadap mereka dan tentunya dengan perkembangan asuransi syariah ini. Bangga yang diiringi dengan komitmen. Komitmen saya untuk membuktikan bahwa sesuatu yang ”nyar’i” itu membuat berkah selalu teruji di saat banyak para agen asuransi mendatangi saya dan membujuk saya untuk bisa ikut programnya. Selalu pertanyaan ini yang keluar dari mulut saya: ”syariah atau konvensional?”.
Bila yang terakhir, maaf-maaf saja saya sudah menolaknya sedari awal agar ia tak membuang-buang waktunya untuk mempengaruhi saya beralih dari syariah, walaupun sudah jelas keuntungan yang didapat dari asuransi syariah lebih kecil dibandingkan yang konvensional. Namun demikian, setidaknya untuk saat ini—saya berharap pula sampai akhirnya—ada sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dan tak bisa terlampaui walaupun dengan seribu keunggulan asuransi konvensional: keberkahan. Itu saja.
Wujudnya apa? Yah, semisal lancarnya pembiayaan pendidikan anak saya, ketenangan dan kedamaian dalam mendidik mereka, hingga harapan akhir adalah hasil yang didapat: menjadi orang yang sukses dalam mengarungi samudera ilmu. Tidak muluk-muluk. So, nyar’i itu berkah.

Maraji: Republika, Kamis 22 Pebruari 2007.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
22 Pebruari 2007. 11:39
”tiba-tiba teringat, rumah saya masih
dicicil konvensional selama 9 tahun lagi. duh…”

‘SYAHWAT’KU MENGGELORA


Saya dulu pernah menceritakan keengganan saya untuk membeli buku dikarenakan tiada tempat lagi untuk menaruhnya di berbagai sudut rumah saya. Entah di lemari buku yang sudah over loaded dan reot itu hingga di atas ranjang atau di dapur. Kini setelah saya memesan sebuah lemari buku buatan seorang perajin lemari, syahwat saya membeli buku semakin memuncak.

Apalagi setelah saya membaca iklan yang ditampilkan oleh sebuah penerbit buku Islam kenamaan yang menampilkan buku-buku terbarunya, wuih membuat saya semakin ngiler untuk dapat memilikinya. Tapi sayangnya hasrat saya ini adalah hasrat yang terlalu berlebihan. Soalnya buku yang saya beli terkadang buku yang tidak bisa saya habiskan dalam sekali baca. Biasanya buku ini berkategori buku yang tidak memenuhi keinginan terdalam dari diri saya, yakni buku-buku yang berkadar referensi, bukan buku yang bergenre sejarah dan cerita. Alhasil buku itu cuma menjadi pajangan semata. “suatu saat pasti diperlukan,” pikir saya mencari pembenaran.

“Loh, kenapa dibeli?” pertanyaan yang sering diajukan oleh beberapa teman menanggapi keluhan syahwat saya ini. Ya, saya sering terjebak kreativitas cover designer dari para penerbit. Mungkin mereka sudah mengadakan riset dan sudah bisa menebak jalan pikiran calon pembaca dan tentunya pembeli, sehingga dapat menyentuh alam bawah sadarnya dan mendoktrin dengan sebuah ungkapan “sampulnya bagus tentu isinya bagus”. Ditambah dengan judul buku yang eye catching dan menggugah kepenasaran, plus endorsement di bagian belakang buku yang memuji setinggi langit isi buku tersebut membuat gedoran hasrat untuk membaca semakin nyaring diperdengarkan.

Tentunya jika syahwat ini tidak tertahankan anggaran keuangan bisa jebol juga. Oleh karena itu saya harus benar-benar menyeleksi dan merencanakan buku apa saja yang harus saya beli sesuai dengan selera alamiah saya. Tak perlu memaksakan buku yang di luar minat saya itu harus dibeli karena mentang-mentang bukunya ber-hard cover, dan judulnya bagus.

Kini saya punya catatan kecil di sebuah agenda besar buku-buku apa saja yang dalam waktu dekat ini harus saya beli demi memuaskan hasrat intelektualitas–mohon jangan disalahtafsirkan dengan ungkapan yang hiperbola seperti “saya adalah orang yang paling pintar”, karena saya belum menemukan diksi yang pas untuk menggambarkan kalimat ini: “keinginan membaca yang menggelora” dan pada dasarnya semua orang punya nilai intelektualitasnya masing-masing–terdalam saya. Ini buku-buku dalam rencana itu:

1. Akidah Salaf & Khalaf: Kajian Komprehensif seputar Asma’ wa sifat,
Wali & Karamah, Tawassul, dan Ziarah Kubur, DR. Yusuf Al-Qaradhawi;

2. Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah;

3. 60 Biografi Ulama Salaf;

4. Knight Templar;

5. VCD Bedah Buku: Siapa Teroris Siapa Khawarij (2 keping);

6. Thesaurus Bahasa Indonesia, Eko Endarmoko.

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh saya dan juga pembaca tentunya adalah kiranya perlu untuk seksama melihat isi buku, dan jangan berpatokan pada sampulnya, kata Tukul sih: DON’T JUDGE THE BOOK BY THE COVER. Karena sering saya lihat ada banyak buku yang terbitan lama di tahun-tahun lalu, di-remark, diganti dengan sampul yang lebih baru dan indah, juga terkadang dengan judul yang baru oleh penerbit lama atau bahkan diterbitkan oleh penerbit baru. Sehingga bila kita tidak peduli dengan satu hal kecil ini, bisa-bisa kita membeli buku yang sudah kita punyai.

Contohnya, saya perlu mengecek ulang dengan koleksi saya yang sudah ada untuk buku nomor satu dan nomor dua. Soalnya saya punya buku dengan tema yang mirip yang ditulis oleh penulis yang sama Dr. Yusuf AlQaradhawy, judulnya panjang jadi saya tidak tahu persis tapi isinya seputar “mimpi, ilham, dan kasf bisakah dijadikan hujjah”. Juga seingat saya, saya sudah punya buku tentang tokoh-tokoh besar Islam, tapi perlu dicocokkan apakah tokoh-tokoh yang diungkap itu sama atau tidak.

So, ini mungkin upaya kecil untuk menahan ‘syahwat’ saya. Beli buku yang dibutuhkan saja. Buku yang membuat saya terperangah dan bisa menikmati hidup. Hal ini mengingatkan saya tentang perjalanan dari Jakarta menuju Semarang beberapa bulan yang lalu dengan ditemani sebuah buku bagus, membuat perjalanan itu tiada terasa lamanya. Bahkan saking menariknya, saya sampai mengirim pesan singkat kepada teman-teman saya yang ada di Surabaya dan Jember untuk membaca buku itu.

Upaya yang mungkin tak berarti seandainya saya kembali mengunjungi pameran buku dan pedagang Kramat Raya yang menjajakan ribuan buku, karena godaannya sungguh luar biasa. Tapi saya pikir semuanya dimulai dari hal yang kecil. Menyusun paradigma kecil: Beli Buku yang Dibutuhkan Saja.

Demikian.

riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:29 15 Pebruari 2007