PERGILAH KAU KARTU KREDIT


Saya ini orangnya enggak enakan sama orang lain. Makanya ketika salesman kartu kredit menghampiri saya, memelas, dan mendesak saya untuk membuat kartu kredit BNI, dengan terpaksa saya mengiyakan serta mengisi aplikasi pendaftaran.
Padahal dari dulu saya sangat berhati-hati sekali dengan kartu kredit. Karena sudah banyak saya dengar dan saya baca bagaimana akhir dari orang-orang yang tidak bijak memakai kartu kredit. Mulai dari diteror dan diintimidasi oleh para juru tagih, bunga yang mencekik tinggi, atau tagihan asal-asalan karena kelalaian administrasi dari penerbit kartu itu. Alasan satu lagi sebenarnya adalah saya sedang belajar untuk menghindari transaksi-transaksi ribawi.
Lalu pada kasus ini kenapa saya menerima dan mengisi aplikasi tersebut? Waktu itu saya berpikir karena tahun pertama tidak ada iuran gratisnya, juga beralasan bisa membeli barang-barang 0% bunga dengan cara mencicil, fasilitas gratis di eksekutif lounge dan banyak tempat lainnya. Itu saja sih.
Kejadiannya sudah setahun lalu di bulan November tahun 2006. Akhirnya saya dapat kartu kredit BNI VISA GOLD yang limit pengambilan tunainya bisa lebih dari 10 juta. Sesuatu yang diirikan oleh teman saya karena kenapa dirinya tidak mendapatkan limit yang tinggi seperti yang saya dapatkan. Dan apa yang terjadi teman-teman setelah saya mendapatkan kartu emas itu?
Saya kok merasa seperti memegang bara api. Takut-takut saya tergoda dan terjerumus dalam ketidakterkendalian pengelolaan keuangan saya. Walhasil saya cuma menaruhnya di laci lemari saya di rumah. Saya tidak pernah memakainya sama sekali. Dulu pernah mau saya pakai saat saya mau ke Surabaya. Di bandara saya mau memanfaatkan fasilitas executive lounge gratisnya. Tapi dilarang masuk karena fasilitas itu hanya boleh untuk satu orang saja, sedangkan saya membawa teman. Akhirnya tidak jadi deh saya masuk. Saya tentu tidak bisa meninggalkan teman seperjalanan saya ini sendirian.
Saya juga tidak pernah mengambil tunai karena biaya administrasinya lebih besar daripada saya mengambil tunai di ATM. Saya juga tidak pernah memesan barang dengan fasilitas 0% bunga itu karena khawatir ribet masalah pembayarannya, soalnya saya sudah tidak punya lagi rekening BNI-nya. Jadi benar-benar saya merasakan tidak ada manfaatnya bagi saya kartu kredit itu.
Lalu saya bertekad sebelum saya kena charge karena sudah memasuki tahun kedua, maka sebelum tahun pertama berakhir saya harus mengakhiri kepemilikan kartu kredit saya. Dan pada hari ini, Kamis tanggal 08 Nopember 2007 saya menutupnya dengan sebelumnya saya hubungi dulu BNI Call 24 Hour.
Saat ditanya pihak mereka kenapa saya mau menutup kartu kredit ini saya jawab karena tidak ada manfaatnya bagi saya dan kudu bayar iuran tahunan. Walaupun ditawarkan fasilitas pembayaran 50% iuran tahunan saya tidak mau. Pokoknya saya mau tutup. Saya tidak mau memegang kartu ini. Pergilah kau kartu kredit!.
Alhamdulillah, teman-teman kini saya sudah tidak memiliki kartu kredit lagi. Saya sudah lega. Plong banget rasanya. Tapi teman kalau ada yang menawarkan kepada saya kartu kredit berbasis syariah, kayaknya saya mau tuh. Kayaknya itu lebih nyaman dan lebih berkah bagi saya. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
01.40 07 Nopember 2007

Advertisements

4 thoughts on “PERGILAH KAU KARTU KREDIT

  1. wah hebat ya … bisa tidak tergoda dalam jerat kartu kredit, tapi sebenarnya saya juga sampe sekarang gak berani pake kartu kredit , padahal temen – temen saya udah punya lebih dari 3 kartu kredit … heran juga koq bisa ya …
    btw salut deh … salam kenal …

    Like

  2. saya juga tadinya antipati sama kartu kredit. tapi kemudian sama ortu dibikinin kartu kredit tambahan yang bebas iuran tahunan (kebetulan BNI juga). beberapa kali pake, merasa terbantu juga. utamanya ketika perlu membeli barang di saat belum gajian. atau kalau ada diskon (beli buku di gramedia misalnya).

    intinya kita perlu bijak dalam pemakaiannya. selalu bayar tagihan sebelum jatuh tempo (agar tidak terkena bunga). dan jangan gunakan di merchant yang mengenakan biaya tambahan. ttg iuran tahunan, poin yang kita dapat dari transaksi kita, bisa ditukarkan dgn iuran tahunan juga loh.

    kartu kredit berbasis syariah, misalnya sperti kartu dirham dari danamon, dari yang saya baca sih.. hitung2annya malah lebih berat daripada kartu kredit BNI saya sekarang. tapi mmg lebih praktis dan tenteram menggunakan kartu debit. uang di tabungan langsung berkurang saat itu juga.

    Like

  3. sy sdh terjerat!

    Riza: ini adalah tulisan lama saya. yang penting adalah manajemen ketat dari penggunaan kartu kredit tersebut. Saya berharap bapak dimudahkan dan kesulitannya diangkat.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s