FALATEHAN


FALATEHAN

Ada lagi perbincangan menarik antara kyai dan santrinya. Tidak lagi tentang wanita idaman si Santri. Tapi, kini si Santri mulai memperbincangkan hal lainnya. Tentang sebuah sejarah masa lalu yang masih suram bagi dirinya.
Dan perbincangan itu tidak dilakukan di waktu ba’da subuh seperti dulu saat pagi masih bermandikan cahaya. Mereka berbincang-bincang saat mereka rehat di saung di tengah sawah setelah berlumpur-lumpur ria membersihkan tanaman padi dari rumput-rumput liar yang mengganggu.
Santri : Ki, kemarin dalam sebuah diskusi, seorang teman masih saja percaya bahwa sesungguhnya Fatahillah yang menakhlukkan Sunda Kelapa adalah Sunan Gunung Jati itu sendiri. Padahal dari sejarah yang saya baca dan juga dari film yang saya tonton dulu, Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang berbeda. Mohon penjelasannya Ki?
Kyai : Kok tanyanya ke saya?
Santri : Ah, saya tahu Kyai sangat paham betul tentang sejarah ini. Di lemari buku Kyai saya lihat banyak sekali buku-buku sejarah. Apalagi kalau tidak salah Kyai juga keturunan Elang Cirebon.
Kyai : Kalau sudah tahu ada buku-buku sejarah di sana, mengapa tidak kau baca buku itu sendiri?
Santri : He…he…he…saya lagi malas baca Kyai. Tinggal mendengarkan saja dari Kyai kan enak.
Kyai : Jang…jang…Santri model kayak kamu inilah yang biasanya enggak akan eksis nanti setelah keluar dari pesantren. Dan hanya menjadi korban dari imperialisme dan kolonialisme gaya baru. Inginnya serba instan, cepat, dan ending oriented. Proses terabaikan.
Santri : Iya Kyai, saya kan sudah mengaku. Tapi cobalah Kyai sempatkan berbagi kepada saya tentang itu. Bisa kan Kyai?
Kyai : Tapi untuk kali ini saja. Lain kali kau bisa membacanya langsung. Tak perlu bertanya kepada saya lagi. Kecuali memang ada hal-hal yang tidak kau mengerti atau pertanyaan yang diawali “mengapa”.
Santri : Insya Allah Kyai.
Kyai : Seringkali orang menyamakan Fatahillah dengan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Padahal keduanya merupakan orang yang berbeda. Namun masih mempunyai kekerabatan dari hasil perkawinan. Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah, Penguasa Cirebon dan Banten. Syarif Hidayatullah sendiri adalah cucu Raja Pajajaran yang amat berkuasa pada masanya yaitu Prabu Siliwangi. Awalnya dari perkawinan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subang Larang, lahirlah Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara.
Setelah meninggalnya ibu mereka, Raden Walangsungsang dan adik perempuannya belajar agama Islam kepada Syaikh Datu Kahfi di Gunung Ngamparan Jati. Mereka diperintahkan gurunya untuk pergi haji ke Mekkah setelah tiga tahun belajar bersamanya.
Santri : Hebat juga, anak-anak dari Prabu Siliwangi memilih keluar dari keraton dan memilih Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Kyai : Ohya tentu, karena pada saat itu Islam menjadi tamaddun yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di dunia. Walaupun Andalusia baru jatuh, tetapi muncul kekhalifahan baru yang masih membuat peradaban Islam masih tetap bercahaya cemerlang, yaitu Kekhalifahan Utsmani.
Santri : Ngomong-ngomong tamaddun itu apa?
Kyai : Peradaban. Lanjut. Jadi seperti zaman sekarang, kalau sudah disebut nama Amerika kita langsung membayangkannya sebagai negara paling modern, maju, kaya, dan pusat ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan saat itu, Islam menjadi sesuatu yang diperbincangkan di banyak tempat. Apalagi dengan para pedagang Muslim yang mengembara ke berbagai tempat di belahan dunia lainnya untuk berniaga sekaligus membawa misi Islam.
Juga Mekkah dan Madinah walaupun tidak lagi menjadi sebuah pusat kekuasaan politik Islam sejak Khalifaturrasyidin terakhir, tetapi sebagai pusat kesempurnaan rukun Islam dan napak tilas sirah nabawiyyah maka kedua tempat itu adalah sesuatu tempat yang harus mereka kunjungi sebagai muallaf yang bersemangat dalam berislam. Sebagaimana kota-kota Islam terkenal lainnya seperti Kairo, Damaskus, Baghdad, dan Istanbul. Wajar kedua anak Prabu Siliwangi ini pun pergi ke tanah Arab.
Santri : Terus bagaimana Kyai?
Kyai : Setelah menunaikan haji Raden Walangsungsang kembali ke tanah Jawa dan menjadi juru labuhan di Pasambangan, yang masih merupakan kekuasaan Pajajaran. Pasambangan kemudian berkembang menjadi Cirebon, dan Raden Walangsungsang memperoleh gelar Pangeran Cakrabuana.
Sedangkan Nyai Lara Santang dilamar oleh bangsawan Arab dari Bani Hasyim, yaitu Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah). Dan melahirkan anak yang ia beri nama Syarif Hidayatullah. Setelah dewasa Syarif memilih berdakwah ke Jawa daripada menetap di tanah Arab. Lalu ia pergi ke Cirebon menemui pamannya. Setelah pamannya wafat, Syarif menggantikan kedudukan pamannya dan berhasil meningkatkan status Cirebon menjadi sebuah kesultanan dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Santri : Wah, Sunan Gunung Jati keturunan Suku Quraisy juga ya Ki?
Kyai : Dari silsilahnya demikian. Lalu setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam dan lepas dari pengaruh Pajajaran, ia meluaskan pengaruhnya kepada kerajaan-kerajaan yang belum mengenal Islam seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Dan ini didukung oleh Demak.
Berhubung pada saat itu Demak sedang berkonfrontasi dengan Portugis, dan Pajajaran bersekutu dengan Portugis dalam penguasaan perdagangan rempah-rempah, juga dikarenakan Banten—yang merupakan wilayah Pajajaran—merupakan pelabuhan yang strategis dan ramai yang dikunjungi oleh para pedagang dari dalam dan luar negeri, maka menarik minat Demak untuk menguasai Banten.
Diutuslah panglima perang Kerajaan Demak sekaligus menantunya sendiri yaitu Fatahillah untuk menyerbu Banten. Sebelum ke Banten, Fatahillah mampir ke Cirebon ke rumah mertuanya.
Pasukan Demak dan Cirebon bergabung di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati , Fatahillah, Dipati Keling, dan Dipati Cangkuang menuju Banten. Di sana, anaknya Sunan Gunung Jati bernama Maulana Hasanuddin yang menjabat sebagai bupati juga melakukan pemberontakan kepada penguasa Pajajaran, sehingga mereka tidak menemui kesulitan untuk merebut Banten.
Di Banten, Sunan Gunung Jati meletakkan dasar bagi pengembangan Islam dan perdagangan orang-orang Islam di Banten pada tahun 1525 atau 1526. Ketika ia pulang ke Cirebon, Banten diserahkan kepada kembali anaknya Maulana Hasanuddin. Di tahun 1527 itulah atas prakarsa Sunan Gunung Jati penyerangan ke Sunda Kelapa dilakukan. Dipimpin juga oleh Fatahillah.
Santri : Panjang benar nih Kyai menerangkan. Sebenarnya bagi Demak Sunan Gunung Jati itu pengaruhnya seberapa besar sih?
Kyai : Oh tentu pengaruhnya besar sekali. Menurut Babad setempat yaitu Babad Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720, Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari Wali Songo. Tentang ini kamu pasti sudah tahu Jang. Ia sangat dihormati oleh raja-raja lain di Jawa karena kepemimpinan dan keilmuannya sehingga sering disebut pula sebagai Raja Pandita. Ia pun adalah salah satu pembuat soko guru Masjid Demak, selain Sunan Ampel, Kalijaga, dan Bonang. Sekarang kamu sudah mengerti belum?
Santri : Alhamdulillah, Ki. Saya jadi paham kaitan antara Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati. Mereka bukan orang yang sama.
Kyai : Tapi jangan salah loh, beberapa tahun yang lalu koran nasional sekaliber Republika pernah menulis bahwa Fatahillah itu adalah Sunan Gunung Jati. Argumentasinya adalah bahwa Sunan Gunung Jati punya banyak nama di antaranya adalah Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah, Makdum Jati. Sedang menurut babad-babad (cerita), nama asli Sunan Gunung Jati sangatlah panjang, yaitu Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah. Jadi bisa jadi bahwa Fatahillah itu adalah Falatehan, dan Falatehan itu adalah Sunan Gunung Jati.
Tapi kalau saya baca dari tulisan itu amatlah lemah. Karena sisi historisnya digambarkan dengan alur yang loncat-loncat dan tidak bisa dimengerti. Jadi saya lebih memilih bahwa mereka bukanlah orang yang sama.
Santri : Kenapa nama Fatahillah juga disebut sebagai Falatehan, Ki?
Kyai : Salah seorang orientalis Barat yang terkenal bernama Dr BJO Schrieke, mengatakan bahwa dari hasil penyelidikannya nama Falatehan itu mungkin berasal dari perkataan Arab: Fatahillah. Kayaknya sudah cukup saya menerangkan ini kepada kamu. Kamu tinggal baca referensi yang lain.
Santri : Insya Allah tadi sudah cukup. Nanti kalau saya belum puas tentang sejarah Cirebon dan Banten saya akan baca di perpustakaannya Kyai. Boleh ‘kan Kyai?
Kyai : Boleh-boleh saja Jang. Tapi ingat, jangan melirik-lirik si Ai yah…
Santri : Lah dulu Kyai yang menawarkan. Saya boleh dong mengenal lebih dekat?
Kyai : Ah, inget aja kamu ya Jang. Ah pokoknya jangan nyerempet-nyerempet. Luruskan niat mau belajar. Bukan untuk yang lain.
Siang pun masih terik dengan matahari yang membakar. Sawah sudah mulai menyapa mereka agar menuntaskan pekerjaannya hingga senja kan jelang.
***
Maraji’:
1. http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=5&id=146425&kat_id=105&kat_id1=147&kat_id2=185
2. Sejarah Emas Muslim Indonesia, Sabili, No.9 Tahun X 2003;
3. Ensiklopedi Islam, Jilid 1 dan 5, Cetakan Keenam, PT Ictiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 31 Juli 2007

YULIA HASANAH


YULIA HASANAH
MENULIS ADALAH HIDUPNYA

Perawakan gadis ini biasa saja. Tingginya pun seukuran tinggi kebanyakan perempuan Indonesia. Kulitnya hitam manis. Dengan wajah dan matanya yang membulat. Menghasilkan sebuah karya yang fenomenal melebihi J.K. Rowling adalah obsesi terpendam gadis berjilbab bernama Yulia Hasanah ini. Oleh karena itu penyuka komik ini berusaha mewujudkannya dengan mengikuti Batre (Basic Writing Training for Beginner) Angkatan V yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Depok.
Tidak berhenti di sana, ia senantiasa berusaha menulis di setiap harinya agar kemampuan menulisnya semakin terasah. Dan terbukti seluruh tugas yang diberikan oleh tutor dalam pelatihan itu selalu dikerjakannya. Misalnya tugas merekonstruksi sebuah dongeng dunia yang bila dibaca ternyata terasa amat memukau.
Bagi anak terakhir dari lima bersaudara ini menulis adalah hobinya, menulis adalah hidupnya. Agar ia dapat hidup maka ia perlu membaca. Maka tak heran tas punggungnya yang selalu ia bawa kemana-mana itu berisi banyak buku untuk menyalurkan hobinya membaca.
Walaupun dirasa pendiam dan pemalu oleh temannya dalam pelatihan itu, juga pemalasnya yang ampun-ampunan dan suka menggampangkan persoalan seperti yang diakuinya sendiri, Yulia punya cita-cita luhur yaitu menjadi orang yang berguna di dunia dan akhirat. Ya, sebuah cita-cita yang amat mulia bagi perempuan yang teramat sangat untuk kuliah ini. Tapi sayang sampai saat ini keinginannya belum terpenuhi karena alasan klasik yang dialami sebagian besar pelajar Indonesia, yaitu masalah biaya. Jika saja masalah ini teratasi ia berkeinginan untuk masuk Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Namun pada dasarnya inilah bentuk pengorbanannya kepada orang tuanya sebagai sebuah realisasi nyata dari cita-cita luhurnya itu, yaitu menjadi orang berguna. Bukan menjadi orang yang tidak berguna karena memaksakan diri dan orang tuanya untuk menguliahkan dirinya. Sungguh sebuah akhlak terpuji yang perlu ditiru bagi remaja Indonesia lainnya yang saat ini diserbu oleh hedonisme dan konsumerisme.
Semoga tetap istiqomah.

MAZHAB SELANGKANGAN


MAZHAB SELANGKANGAN
By: Riza Almanfaluthi

Saat ini saya tidak membahas masalah perbedaan pendapat di ranah fikih hanya gara-gara menampilkan judul dengan kata awal: mazhab. Karena sudah jelas tidak ada kata yang kedua dalam pemikiran Islam. Tetapi saat ini saya hendak mengutarakan sesuatu yang menjadi polemik belakangan ini. Polemik yang hampir-hampir menyerupai pertarungan pemikiran di tahun 70-an antara Nurkholis Madjid dan H.M. Rasyidi dan berpuncak di tahun 1994 antara Nurkholis Madjid dan Daud Rasyid di Taman Ismail Marzuki (TIM), yaitu polemik dan benturan pemikiran Islam versus sekulerisme.
Setelah rehat beberapa saat—walaupun masing-masing telah bermetamorfosis membentuk lembaga-lembaga sesuai dengan keyakinan pemikirannya masing-masing seperti partai politik atau jaringan komunitas—maka polemik itu muncul kembali. Tidak di ranah yang sama, tapi di ranah yang sepi dari publikasi dan apresiasi masyarakat secara luas yaitu sastra. Maka dari itu kebanyakan yang mengetahui polemik ini adalah mereka selaku pegiat sastra Indonesia, baik pelaku, penikmat, penggembira atau sekadar kepura-puraan dari ketiganya.
Polemik itu dimulai dengan tulisan Hudan Hidayat (pengusung liberalisme sastra) di Jawa Pos (06 Mei 2007) yang “membuka front” dengan mengkritik Pidato Kebudayaan Taufik Ismail yang dibacakan (lagi-lagi) di TIM akhir tahun lalu. Dalam pidatonya itu Taufik Ismail membunyikan genderang perang terhadap para satrawan atau cuma setengah sastrawan yang mengusung Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) di setiap karya mereka. Maka setelah dipicu demikian, perang pemikiran sastra meledak dengan hebatnya. Entah melalui media nasional ataupun lokal dan diskusi-diskusi komunitas.
Kali ini saya tidak akan ikut berdiskursus dalam polemik itu, walaupun sudah jelas keberpihakan saya ada di mana. Bagian argumentasi disertai ribuan fakta biarlah mereka sendiri—para sastrawan—yang bersuara. Sedangkan bagian saya, biarlah yang remeh temeh. Dari berbagai wacana di kedua belah pihak itu saya cuma ingin menjelaskan kepada masyarakat luas atas sebuah ketidaktahuan bahwa inilah yang disebut Sastra Mazhab Selangkangan itu.

Apa itu Sastra Mazhab Selangkangan?
Sastra Mazhab Selangkangan (SMS) atau sering juga disebut Fiksi Alat Kelamin (FAK) ini menurut Taufik Ismail adalah sebuah genre baru dalam sastra Indonesia yang muncul setelah gelombang besar reformasi membawa perubahan politik di tanah air. Digerakkan oleh mereka yang permisif, adiktif, serta sesuai dengan karakteristiknya memang pantas untuk disebut sebagai bagian dari GSM (Gerakan Syahwat Merdeka).
Ciri sastra ini menurut Sunaryono menganut vulgarisme deskriptif selangkangan. Sedangkan menurut Wowok Hesti Prabowo adalah mazhab yang senantiasa menyebarkan aliran neo-liberalisme yang cenderung memperbolehkan pengikutnya berbuat apa saja sebagai perayaan “hak asasi manusia”. Juga bercirikan nonsens (tidak penting), porno-praxis (mendewakan tubuh dan seks), dan cenderung anti peran agama (sekuler). Sastra-sastra nonsense merayakan hal-hal sepele, seperti odol, sikat gigi, sepatu biru, celana dalam, sarung, dan sesekali agar keren juga mengeksplorasi daun mapel, pohon willow dan rumput azalea yang jarang bahkan sukar ditemukan di Indonesia.
Bahkan menurut Viddy beberapa media sastra Jakarta pun telah bertahun-tahun ikut merayakan kata-kata semacam rembulan tumbuh di dengkulku, kapal berlabuh di meja makan, pu**** su**mu patah di altar (maaf), atau malam biru menggoreng onde-onde yang cukup membingungkan bahkan bagi penyair dan budayawan senior sekelas Abdul Hadi WM waktu membedah puisi-puisi semacam itu di Cakrawala Sastra Indonesia yang diselenggaraan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Lalu Siapa Pelopor SMS?
Awal dan pertengahan tahun 2002, muncul Larung (Ayu Utami), Tujuh Musim Setahun (Clara Ng), dan Ode untuk Leopold Van Massoch (Dinar Rahayu). Ketiga novel ini ini secara gamblang berbicara tentang seks. Larung adalah kelanjutan dari novel seksual juga yang berjudul Saman yang lahir dan menjadi pemenang dari Sayembara Menulis Novel DKJ.
Kemudian Djenar Mahesa Ayu secara menggemparkan di salah satu bukunya yang berjudul Waktu Nayla menceritakan tentang adegan oral seks antara seorang anak perempuan dengan ayah kandungnya! Luar biasa berani! Yang menurut Kathrin Bandel, seorang kritikus sastra, novel itu tidak mempunyai logika cerita.
Siapa Pendukung SMS?
Saat ini Komunitas Teater Utan Kayu (TUK) bisa disebut sebagai penarik gerbong kereta liberisasi sastra ini. Sejalan dan seide dengan liberalisasi pemikiran agama yang dilakukan oleh para dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL).
Didukung juga oleh media nasional dan lokal yang senantiasa perhatian terhadap karya-karya mereka. Sehingga sepertinya sastra Indonesia hanya berkutat pada sastra-sastra yang antimanfaat.
Dengan big boss-nya adalah jaringan globalisasi Yahudi, Viddy menulis: “Pemikir Islam, Yusuf Qaradhawi, pernah mengatakan, bahwa globalisasi kebudayaan adalah jalan untuk menghancurkan kearifan-kearifan lokal agar suatu bangsa hanya mengekor kepada satu kebudayaan global, yakni kebudayaan Yahudi-Free Mason. Filsuf-filsuf dunia yang mendukung “penghancuran kearifan lokal” seperti Roland Barthes, Michael Foucoult, dan Raman Shelden, telah lama dipuja-puja sejak awal kelahiran dan pendirian TUK.”
Apa yang Dilakukan Mereka Saat Ini?
TUK kini juga mendirikan sanggar-sanggar sastra di berbagai tempat dan daerah, sebagai bagian dari “gerakan politik sastra” untuk liberalisasi. Pada tataran strategis mereka telah berhasil menguasai DKJ.
Lalu dominasi mereka di Koran-koran dan majalah mereka selama bertahun-tahun. Mengadakan anugerah seni dan sastra liberal. Serta dengan jaringan yang mengglobal, mereka dapat mengirimkan ke setiap pesta puisi internasional orang-orang yang hanya sejalan dengan pemikiran mereka.
Adakah yang Melawan Hegemoni Mereka?
Ada. Baik dengan karya maupun wacana. Taufik Ismail bisa jadi adalah lawan berat mereka. Juga Gola Gong dan Saut Situmorang (yang ini seorang Nasrani). Di belakangnya banyak tokoh komunitas dari Yogya, Medan, Depok, Pekanbaru, dan Banten berusaha untuk melawan ideologi sekuler tersebut. Forum Lingkar Pena (FLP) diharap banyak oleh para pelawan TUK ini, karena jumlah anggotanya yang banyak, tersebar di seluruh Indonesia, dan pembinaan calon penulis yang dikenal baik. Juga karena idealisme yang dipegang teguh sesuai dengan visinya yaitu menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan umat.
Tapi sayang, menurut Ketua FLP-nya sendiri, M Irfan Hidayatullah—melawan mereka FLP seringkali hanya bermodal semangat. Selalu kehabisan referensi dan tidak didukung dengan wawasan yang kaya. Ini disebabkan karena kurangnya budaya membaca. Oleh sebab itu ia menyarankan untuk senantiasa menumbuhkan semangat baca yang tiada padam. Tiada hari tanpa membaca. Tiada hari tanpa perkembangan wawasan keislaman, kebudayaan, dan kesastraan!
***
Apa yang saya sampaikan di sini adalah informasi mini dan singkat dari sebuah gerak sastra penganut paham kebebasan seenaknya. Lebih lanjut dan lebih luasnya pembaca dipersilakan untuk mengeksplorasi khazanah perdebatan sastra ini melalui publikasi media baik di dunia nyata ataupun maya. Lalu tinggal menentukan pilihan keberpihakan. Suatu kejanggalan bilamana seseorang tidak memilih.
Sebagaimana seorang teman memilih untuk bergenre feminisme—anak kandung dari liberalisme itu sendiri—dalam setiap karyanya, maka saya tidak bisa memaksa. Karena semuanya memiliki konsekuensi masing-masing. Semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Tentunya sang teman pun tidak bisa memaksakan ideologinya kepada saya, mengutip Helvy, seperti yang dilakukan oleh sastrawan yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memaksa para sastrawan Indonesia untuk menulis dengan memakai ideologi mereka sebagai dasar.
Karena sesungguhnya, bagi saya menulis adalah suatu ekspresi yang harus bisa mencerahkan orang. Sekaligus sarana menganjurkan kebaikan dan menghindarkan kemungkaran. Dan di setiap huruf yang tertulis ada tanggung jawab yang diminta oleh Sang Mahapemiliksastra. Sang Pemilik Keindahan Sejati.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji:
1. Adian Husaini, Penyesatan Opini: Sebuah Rekayasa Mengubah Citra, Gema Insani Press: 2002;
2. Helvy Tiana Rosa, Segenggam Gumam, Syamil CIpta Media, Bandung: 2003;
3. Hudan Hidayat, Nabi tanpa Wahyu, Jawa Pos, 1 Juli 2007
4. Hudan Hidayat , Sastra yang Hendak Menjauh dari Tuhannya, Jawa Pos, Minggu, 06 Mei 2007 http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=283968
5. M. Irfan Hidayatullah, sebuah email untuk forum_lingkarpena@yahoogroups.com;
6. Taufik Ismail, 13 Wajah Gerakan Syahwat Merdeka,
Perspektif, Gatra Nomor 7 Beredar Kamis, 28 Desember 2006 http://www.gatra.com/artikel.php?id=100809;
7. Taufik Ismail, HH dan Gerakan Syahwat Merdeka , Jawa Pos, Minggu, 17 Juni 2007,
http://jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=290339;
8. Sunaryono Basuki Ks, Gonjang Ganjing Sastra Selangkangan: Bagian pertama dari Dua Tulisan;
9. S. Yoga, Puritisme dalam Sastra Indonesia: Tanggapan untuk Imam Cahyono;
10. Viddy AD Daery, Sebuah Tulisan.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:17 08 08 2007

Lengkung Pelangi Senyummu


senja memeluk hangat

gunung-gunung di atas rawapening

citrakan seraut wajah

utuh penuh kesenduan

tanpa lengkung pelangi senyummu

yang dingin menelisik

reruntuhan renjanamu

Ambarawa, 12 Juli 2007

Riza

Jelmaan Kubur


Saya buat saat melihat di senayan sedang ribut-ribut mengenai dana DKP. Antara BK, Fahri, dan KPK. Tinggal melihat keadilan Allah saja nanti di Padang Mahsyar.

II.
Jelmaan Kubur

kubur menjelma di otakmu
yang berdenyut penuh kolesterol
batu nisan berkelindan kuat di perutmu
penuh duit proyek, sikat menyikat teman sejawat
kembang tujuh rupa menjadi penghias
kepala botakmu yang berminyak
air mawar adalah tenggakan terakhir
untuk mulut-mulutmu yang tak letih
tebarkan janji dan keadilan
tanah merah berkilo-kilo beratnya
menjadi pakaianmu
yang licin dan necis tanpa kusut
wahai manusia penghuni Senayan
aku Izrail siapkan diri
menagih tebaranmu
tiba-tiba matamu melotot
mendelik ke sana ke mari
keluar dari kelopak
saat aku cabut kehidupan
dari jempolmu yang bau,
ternyata kau dusta…!!!

Tlogosari, 11 Juli 2007
Fahri, bersabarlah.

Mencabik Luka


Saya buat di Semarang. Dalam secarik kertas bergambar F4 milik keponakan saya. Lengkap dengan foto-foto 4 pemuda pemeran utama di Meteor Garden. Ada tulisan besar di sana: I Love F4. Di sini tidak untuk membahas mereka, sekadar pembuka saja untuk puisi-puisi ini.

I.
Mencabik Luka

inilah sebongkah luka menganga di jemari lentikmu tak peduli pada debur asa yang menjilat-jilat relung peraduan batin tak peduli pada garam yang bertaburan di atasnya mencabik luka memerahkan nadi mengiris vena itupun tak berarti karena aku adalah keberartianmu?

Tlogosari, 11 Juli 2007

BUKAN TENTANG KUCING GARONG


Salah satu tips agar tulisan yang kita buat dapat menarik pembaca untuk membacanya sampai akhir adalah pemilihan judul yang bagus. Helvy Tiana Rosa, Ahad 15 Juli kemarin, memberikan tips-tipsnya kepada para peserta diskusi cerita pendek (cerpen) Forum Lingkar Pena se-Jabodetabek.
Diskusi dua mingguan yang diselenggarakan FLP Depok ini memang dikhususkan untuk membedah cerpen-cerpen yang layak untuk dibedah. Setelah mengundang Ratno Fadillah pada pertemuan pertama dengan format baru, maka pekan kemarin mengundang Helvy Tiana Rosa untuk membedah tuntas 19 cerpen yang masuk.
Format baru pembedahan cerpen ini adalah dengan membuat kumpulan cerpen itu dalam sebuah buku. Waktu bedah pertama judul yang diambil sebagai judul kaver adalah Bulan Redup (Bojo Loro)—ada gambar ilustrasinya lagi, di bagian belakangnya ada puisi yang berjudul Rajah Cinta (Ananda di Palembang pasti ingat sekali puisi ini ). Untuk kali yang kedua judul yang diambil sebagai kaver adalah judul cerpennya Ratno Fadillah “Menanti Paman Izrail”. Menurut saya ciamik sekali cerpen ini memainkan emosi pembaca.
Pantas kalau Helvy memasukkan cerpen ini sebagai cerpen yang mempunyai judul yang menarik. Lebih menarik daripada judul cerpen yang dinobatkan menjadi jawara pada pekan itu yang berjudul: Terbasuh Megatruh karya dari Indarpati. (Untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya coba search di Paman Google, maaf soalnya saya lupa nama blognya). Tidak hanya itu cerpen Ratno juga termasuk dua cerpen terpilih oleh Helvy yang mempunyai pembukaan menarik selain cerpennya Denni Prabowo yang dimuat di Jawa Pos berjudul: Mayra.
Kembali kepada masalah judul cerpen—ini menurut Helvy, tapi bagi saya tidak hanya untuk cerpen, semua karya tulis pun senantiasa harus memiliki judul yang bagus—maka untuk bisa membuat judul yang menarik ia harus punya kriteria-kriteria seperti di bawah ini. (Kriteria dari Helvy, Penjelasan singkat dari saya).
1. Judul menggambarkan cerita
Terkadang penulis terjebak untuk menggadaikan isi cerita demi judul. Contohnya sebuah tulisan yang berjudul Kucing Garong misalnya. Judulnya memang menarik. Tapi ternyata isi tulisan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kucing Garong baik secara tersurat ataupun tersirat. Ini hanya gara-gara lagu dangdut cerbonan itu lagi ngetrend diputar di sembarang tempat. Di bis AKAP, warung remang-remang sepanjang pantura, televisi, radio, kafe dangdut, pasar malam, dan lain sebagainya. Yeah…!
Menanti Paman Izrail, adalah judul cerpen yang menggambarkan isi cerita. Diinspirasi peristiwa bunuh diri ibu dengan tiga orang anaknya, cerpen ini dimulai dengan bujukan seorang ibu kepada anak-anaknya untuk menanti pamannya yang akan datang esok hari. Dan untuk menemui paman yang baik hati itu tentunya sang Ibu harus membunuh tiga anaknya itu. Karena Paman Izrail itu sebenarnya adalah malaikat maut.

2. Enak diucapkan
Salah satu kritik yang dilontarkan Helvy pada cerpennya Indarpati yaitu pada judulnya, yang walaupun ber-rima karena berakhiran uh di setiap katanya, tapi bagi Helvy judul ini tidak menarik. “Kenapa tidak Megatruh saja?” tanya Helvy. “Apa karena takut meniru judul cerpennya Danarto yang berjudul sama?” cecar Helvy. Boleh-boleh saja kok kita punya cerpen dengan judul sama,“ kata Helvy tegas. Indarpati cuma berkomentar ”Mbak Helvy tidak merasakan ruh Jawa dari cerpen saya ini”. Maklum cerpen Indarpati ini budaya lokalnya kental banget. Njawani, beda dengan kultur dari Mbak Helvy yang orang Medan- Aceh.
Lalu judul yang enak diucapkan itu seperti apa? Ini masalah subyektifitas. Dan setiap orang punya nilai subyektifitas yang berbeda. Enak diucapkan bagi saya yah seperti ini: Kucing Garong, Bojo Loro, Mayra, dan lain-lain. Minimal tidak membuat lidah kepleset karena sulit untuk diucapkan, contohnya Entrepreneur yang Keblinger, Jamahiriah Trap. (Untuk Pak Ekonov, maafkan saya karena telah berani-beraninya mengkritik judul topik Anda di forum diskusi kita)

3. Boleh puitis tapi tak berlebihan
Bulan Redup, Malam Selalu Gelap bisa jadi adalah cerpen-cerpen yang judulnya puitis tapi berlebihan. Sudah tahu malam itu gelap dan bulan itu selalu redup tak seterang mentari di siang bolong, lalu mengapa tetap dipaksakan untuk ditulis? Semua orang tahu kok. Tapi untuk judul sebuah puisi, sah-sah saja. Tapi ini prosa bo…bukan puisi.
Juga yang termasuk berlebihan adalah seperti ini “Meraup Rembulan Menakar Malam Mencumbu Derita”. Terlalu panjang dan seperti nama jurus di cerita silat Kho Ping Hoo. Sekalian saja ditambahkan “Menggedor Bumi, mencengkram Naga.” Persis bukan?
Yang puitis tapi tidak berlebihan seperti apa? Banyak sekali. Contohnya judul tulisan yang dibuat oleh Rifki (Key-key), Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Atau dari Bayu Gawtama, Cinta yang takkan Mampu Terbayar.

4. Pakai Kalimat Negasi
Maksudnya adalah judul hendaknya memakai kata atau kalimat penyangkalan, pembatalan, peniadaan, berlawanan dengan kodrat alam. Misalnya Bukan di Negeri Dongeng, Perempuan yang Membelai Luka, Perempuan yang Mencabik Luka, Menari di atas Luka, Tak Harus Menjadi Miss Universe.
Tapi sayangnya banyak juga penulis terjebak di sini. Alih-alih ingin membuat judul yang bernegasi tapi ia membuat judul yang membuat kontroversi dan melanggar aturan masyarakat atau agama yang suci. Karena bagi yang berkecimpung di dunia kepenulisan, syahwat seperti ini begitu rawan untuk meledak. Seperti judul yang memanusiakan Tuhan, yang menuhankan Rasulullah (saya sampai tak enak untuk menuliskannya, Nau’dzubillah), atau alat kelamin wanita.
Menurut saya alangkah lebih baik saat penulis menggunakan kalimat yang bernegasi ia menghindari segala sesuatu kontroversial atau tabu di masyarakat. Soalnya kita tidak bisa berlindung dibalik kebebasan berkreasi seperti yang didengung-dengungkan penulis barat. Tetap syariat yang menjadi utama agar tulisan itu tidak kehilangan sesuatu yang mencerahkan buat yang lain.
Nah itulah tips-tips membuat judul yang bagus yang diberikan oleh Helvy. Judul yang bagus harus berkaitan erat dengan isi. Isi yang menarik dengan judul yang bagus seperti sayur dengan garam. Tidak bisa terpisahkan. Tapi tips-tips ini mungkin tidak berlaku untuk dan pada semua orang, karena seorang penulis sekaliber Putu Wijaya terbiasa untuk menggunakan judul yang di luar pakem seperti di atas, judul yang aneh, dan tidak menarik sama sekali. Tapi masalahnya apakah kita sekaliber Putu Wijaya?
Itu saja. Semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:48 16 Juli 2007

MUKA BANDIT


Sabtu pagi pukul 10.00 tepat saya meninggalkan halaman masjid tempat pertemuan pekanan dilakukan untuk menuju bandara Soekarno Hatta menjemput paman saya yang akan tiba dari Arab Saudi. Menurut SMS yang saya terima dari rombongan keluarga paman saya yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara, rencananya pesawat yang membawa paman saya itu akan mendarat pukul 13.00 WIB.
Perjalanan yang biasa saya tempuh ke sana adalah dengan naik KRL di stasiun Citayam lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus Damri yang biasa mangkal di Terminal Pasar Minggu. Sampai di bandara, di terminal 2, jam satu siang kurang sedikit. Ternyata berdasarkan jadwal yang terpampang di layar pengumuman pendaratan, pesawat Saudi Airlines itu baru tiba di Indonesia pukul 13.54 WIB.
Dan baru pada jam setengah empat sore, saya benar-benar dapat melihat paman saya keluar dari pintu kedatangan. Setelah berbasa-basi sebentar dia bilang, “Besok kita ke PRJ, antar yah…”
Siap…!
Pekan Raya Jakarta
Perjalanan kemarin amat melelahkan menurut saya. Selain karena harus mampir di rumah teman paman saya di daerah Ciledug, kapasitas angkut yang berlebih sehingga kami harus berdesakan, juga perjalanan pulang ke tempat saya yang memakan waktu lama. Kini esoknya, di hari ahad ini, saya pun harus menemani paman saya yang ingin berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta (PRJ). Rencananya pula sehabis dari PRJ kami akan mengunjungi Masjid Kubah Emas. “Mumpung di Jakarta, ” kata bibi saya.
Oke deh…walaupun lelah dari kemarin belum juga kunjung hilang, saya menyanggupi untuk mengantar mereka. Dalam hati saya berkata “kepada keluarga siapa lagi saya akan berbakti setelah ibu saya meninggal?”
Perjalanan di mulai dari pintu tol Cieutereup lalu keluar di pintu tol Ancol-Mangga Dua. Tidak berapa lama kami pun sampai di arena PRJ. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas untuk memasuki tempat pameran. Tiket masuk per kepala sebesar Rp20.000,00 di hari libu. Anak umur 3 tahun ke atas diharuskan memiliki tiket pula.
Terus terang saja, saya termasuk orang yang tidak menyukai keramaian pasar atau mal. Selain karena bisa menaikkan syahwat belanja juga bisa meliarkan hasrat hedonisme manusia—dan untuk mengatasi ini saya cuma membawa uang tunai seratus ribu saja agar saya menyadari saat “ingin” sesuatu, uang saya hanya segitunya saja.
Semakin siang semakin banyak pula pengunjung yang datang. Dan tidak terasa saat saya berkunjung di stand daerah dan UKM, saya telah berpisah dari rombongan utama. Saya raba saku saya, hp saya masih ada ditempatnya. Tapi ada yang aneh, kok selama ini tidak ada aktivitas getar dari hp itu. Alamak, ternyata hp saya sudah mati. Lalu bagaimana saya harus mencari mereka di antara puluhan ribu orang yang berada di tempat itu.
Saya lakoni cara manual, berkeliling ke berbagai tempat utama pameran. Dari hall ke hall, dari stand ke stand, dari counter ke counter. Tidak ketemu…! Kaki saya sampai pegal-pegal. Istirahat deh di salah satu sudut counter penjual makanan ringan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kali aja ada yang bisa meminjamkan charger atau hp—ingat loh saya tidak meminta pulsa kepada mereka.
“Pak, bapak punya charger enggak Pak? Saya mau menghubungi saudara saya di sini, tapi hp saya mati” tanya saya pada sekelompok orang penjaga stand yang saat itu lagi sepi.
“Chargernya ketinggalan di rumah,” jawab salah satu dari mereka. Saya pun meninggalkan tempat itu.
Saya kembali melihat seorang bapak tua yang sedang duduk-duduk dengan hp berada di pinggangnya.
“Pak bisa bantu saya enggak Pak? Saya mau kontak saudara saya di sini. Tapi baterai saya habis. Jadi saya mau pinjam hpnya bapak, nanti saya telponnya pakai kartu saya Pak,” pinta saya setengah memelas.
“Masnya pinjam saja charger di counter hp di sana, ” tunjuk dia pada sebuah stand merek hp ternama.
“Terimakasih Pak.” Dua kali saya di tolak. Kali ini episode acara televisi TOLONG benar-benar terjadi pada diri saya.
Saya pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Bapak itu. Tapi saya lihat stand itu dipenuhi banyak orang, semua pelayannya sibuk, dan jelas saya tidak banyak berharap meminta pertolongan dari mereka.
Lalu saya kembali mencari orang yang dari gayanya bisa membantu saya keluar dari kesulitan. Dua orang yang sedang berbincang-bincang di depan toilet yang saya tanyai, menjawab dengan jawaban singkat, “saya tidak punya hp.” Dan orang terakhir—penjaga stand minuman—pun tidak bisa menolong saya.
Saat itulah saya merasakan menjadi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Saat itulah saya merasa menjadi tokoh utama dari program variety show televisi. Saat itulah saya merasa menjadi orang yang kesendirian. Mengapa mereka tidak mau memberikan pertolongan yah? Apa karena muka saya muka bandit hingga menjadi parameter tersendiri layak atau tidaknya seseorang untuk ditolong? Saya merasakan sekali nada kecurigaan dari tatapan bapak yang menyuruh saya meminjam charger di counter hp dan juga dari dua pemuda yang sedang ngobrol di depan toilet. Wajarlah mereka curiga, ini Jakarta Bung! Di mana banyak kepalsuan dijajakan dan diobral ke mana-mana. Di saat kejujuran menjadi barang paling langka pada saat ini. Dan pada akhirnya saat itulah saya bertekad kalau saya dimintakan pertolongan dalam masalah ini Insya Allah akan saya bantu sekuat tenaga.
Tekad saya itu ternyata diberikan jalan oleh Allah untuk direalisasikan pembuktiannya. Senin pagi ini, ada kecelakaan di jalan antara Tanjung Barat dan Pasar Minggu. Pengendara sepeda motor menabrak motor yang berada di depannya. Yang menabrak jatuh dan ditabrak dari belakang oleh motor lain. Yang ditabrak malah tidak apa-apa bahkan langsung melanjutkan perjalanan lagi. Sedangkan dua orang ini luka-luka lecet di kaki, tangan, dan juga di dagu.
Saya sempatkan untuk menuntun salah satu motor mereka. “Bagaimana, ada yang luka parah enggak? tanya saya pada penabrak kedua yang tidak bisa menghindari penabrak pertama . “Dagu dan kaki ini masih keluar darah,” jawabnya. Benar, cairan berwarna merah membasahi tangannya yang mengusap-usap dagunya.
Si penabrak pertama menghampiri saya sambil berjalan tertatih-tatih dan wajah meringis kesakitan dan berkata: “Bapak punya pulsa banyak enggak? Saya mau menghubungi orang Jepang atasan saya, pulsa saya mau habis nih” pintanya. Jelas saya langsung memberikan hp saya padanya. Peristiwa hari Ahad kemarin benar-benar membekas pada sanubari saya. Berikan pertolongan…apalagi sekadar pulsa ini. Ada banyak yang dihubunginya, saya pun menunggu lama. Berkali-kali ia meminta izin untuk menghubungi yang lain. “Silakan pakai saja.”
Barulah setelah saya memastikan mereka tidak membutuhkan hp ini, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali, absen pagi sudah terasa memanggil-manggil di telinga. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi, kata teman satu seksi saya saat saya menceritakan hal ini padanya. Tentang sebuah pelajaran dan pembuktian realita atas sebuah tekad agar tidak menjadi omong kosong belaka.
Syukurnya Allah memberikan pelajaran atau tes ini segera, agar saya merasakan hikmah di balik semua itu. Agar saya selalu belajar untuk menjadikan tangan ini selalu di atas. Agar saya tidak menggunakan parameter layak tidaknya seseorang itu perlu ditolong hanya di lihat dari mukanya, muka bandit atau muka Kyai. Enggak enaklah dinilai seperti itu. Bisa jadi muka saya muka bandit tapi hati ini boo, hati Ebiet (halah…). Kawan, hari ini dan kemarin saya mendapat banyak pelajaran loh.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:16 02 Juli 2007

http://10.9.4.215/blog/dedaunan
http://dirantingcemara/blogspot.com
almanfaluthi at gmail.com
riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Biola Tak Berdawai


Biola Tak Berdawai
:Sebuah Roman
Seno Gumira Ajidarma & Sekar Ayu Asmara
Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)
Cet. II Maret 2004

Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)
Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa. Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.
Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap.
Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.
Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”
Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola tak berdawai.
Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya.
Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu.
Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani.
Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.”
Dewa sayang kamu Renjani.
Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna, dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya. Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu.
Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.
Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
06.08 23 Juni 2007

Ri, yang cantik…


KE MANA?
(CATATAN PERJALANAN 1)

Selasa, 20 Juni 2007 WIB
Ri, tugas itu mendadak sekali diberikan kepadaku. Aku harus pergi ke Surabaya untuk membahas mengenai permasalahan PPN atas Jasa Maklon di Kawasan Berikat dengan Badan Penanaman Modal (BPM) Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Pihak Kanwil Khusus sepertinya meminta satu orang dari KPP PMA Empat untuk menemani pejabat Kanwil.
Ibu Kepala Seksi meminta kepada saya dan teman saya yang kebetulan sama-sama menangani Wajib Pajak yang mau dibahas permasalahannya di BPM. Saya sudah menawarkan kepada teman saya untuk dia saja yang pergi ke Surabaya, tapi karena ada berkas yang mau jatuh tempo maka dia menyerahkannya kepada saya. Alhasil saya yang ditunjuk untuk pergi.
Ri, saya bergegas untuk membuat surat tugas, SPPD, memesan tiket, mengontak pemeriksa untuk mengetahui permasalahan sebenarnya tentang Wajib Pajak tersebut, menyalin peraturan-peraturan perpajakan untuk amunisi saya saat ditanya oleh Wajib Pajak dan BPM di forum tersebut. Semuanya tidak ada masalah sampai sore hari saat tiket diantar oleh pihak travel.
Ternyata Ri, saya dipesankan tiga tiket. Tiket pertama atas nama saya untuk perjalanan ke Surabaya hari Rabu tanggal 20 Juni 2007 pukul 17.00 WIB. Tiket kedua adalah atas nama saya juga untuk perjalanan ke Surabaya hari Kamis 21 Juni 2007 pukul 06.00 WIB. Tiket ketiga untuk pejabat dari Kanwil yang berangkat hari kamis jam enam pagi.
Bagaimana mungkin saya bisa berangkat dalam jangka waktu tersebut. Saya menolak untuk membayarnya. Ibu Kepala Seksi pun ikut membantu saya. Ada kesalahan di operator penerima pemesanan tiket. Mereka tetap menyalahkan saya dan berusaha untuk menagihnya atau melakukan pembatalan dengan membayar Rp65.000,00. Semuanya ditolak mentah-mentah oleh Ibu Kepala Seksi saya. Dan akhirnya kurirnya bisa menerima walaupun diantara mereka sepertinya masih ada ganjalan. Pihak travel tetap menginginkan ada pembayaran pembatalan tersebut. Tapi selesai juga dengan kekukuhan kita.
Saya berharap perjalanan ini tidak akan terjadi lagi hal-hal lain yang menghambat seperti peristiwa ini Ri. Cukup sudah.

Rabu, 20 Juni 2007 08.00 Pagi.
Ri, saya berusaha belajar memahami persoalan tentang permasalahan Wajib Pajak yang mengadukan persoalan PPN Jasa Maklon ini kepada BPM. Insya Allah saya sudah siap menerima pertanyaan apapun atau permintaan penjelasan tentang hal ini. Ohya dinihari tadi saya sudah packing, cukup dengan satu stel pakaian saja dan dua dasi. Merah dan Biru. Satunya untuk cadangan saja.

Rabu, 20 Juni 2007 12.00 WIB.
Ri, sudah kucium pipi dan dahi mereka, Haqi dan Ayyasy. Dua hari ini tentunya saya akan merindukan mereka. “Selamat tinggal , Nak…”
Ri, entah kenapa hati saya masih saja tetap tidak enak. Apakah karena ketakutan saya bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal? Juga apakah karena akan dihadapkan dengan para pejabat-pejabat BPM sana? Entahlah, untuk mengatasi semua kecemasan ini saya memperbanyak sholawat dan doa Nabi Musa saat akan menghadapi Fir’aun Raja Durjana.
Kereta Rel Listrik jurusan Jakarta Kota tiba di Stasiun Citayam, saya menaikinya Ri untuk turun di Stasiun Pasar Minggu. Cukup dengan karcis seharga Rp1500.00. Nanti dari Stasiun Pasar Minggu saya jalan ke arah terminal Pasar Minggu untuk menaiki Bus Damri yang akan membawa saya ke Bandara Soekarno Hatta.
Rabu, 20 Juni 2007 14.30 WIB
Kakiku menuruni tangga Bus, kembali saya menginjakkan kaki di Bandara. Kini saya sudah tidak katro, tidak ndeso lagi seperti saat saya baru pertama kali dating ke tempat ini. Dulu di Desember 2005—seperti yang sudah pernah saya ceritakan kepadamu Ri, saya sempat berdiri cukup lama di depan loket maskapai untuk melakukan check in. Saya disadarkan calo tiket, katanya kalau mau check in harus masuk dulu melalui pintu utama lalu antri di depan loket check in yang berjajar memanjang dari berbagai perusahaan penerbangan dalam negeri. Ternyata tempat itu memang bukan tempat untuk check in, tempat itu adalah tempat untuk membeli tiket. Pantesan tidak ada orang yang mengantri di depannya. Kini saya tidak kampungan lagi Ri, Saya langsung menuju tempat check in.
Rabu, 20 Juni 2007 17.00 WIB
Menunggu memang pekerjaan yang membosankan Ri, sudah dua jam lebih saya menunggu untuk masuk ke pesawat. Tapi entah kenapa panggilan itu belum datang juga. Sore ini, hujan sudah tidak lebat lagi turunnya. Tapi langit masih tetap menghitam. Sepertinya akan mencurahkan isinya lagi. Sudah dua koran nasional saya baca. Dan sudah berkali-kali saya bolak-balikkan lembarannya untuk mencari berita menarik yang mungkin terlewati. Dan ternyata sudah semua saya baca. Kini saya tinggal memandang ke arah kejauhan melihat ruang kosong beraspal dan berumput tempat pesawat mendarat dan tinggal landas.
Ri, jadinya saya menulis puisi:

Ke mana?
ke arah mana engkau akan bertiup
selatan?
atau barat?
Ikuti aku
Ikuti jejakku
percayalah ada belahan sukma
yang menggapai-gapai asa
merinduimu
menaruh setengah cintanya untukmu
pada langit yang memerah selendangnya
pada bulan yang separuh cahayanya
lalu
masih saja kau ragu
ke arah mana engkau akan bertiup?
Ke mana?
****
Rabu, 20 Juni 2007 18.10
Ri-ku yang cantik, tadi di pesawat saya mengalami dua kali guncangan. Cuaca yang buruk membuat pesawat terbang yang saya naiki seperti roll coaster di dunia fantasi. Perut bagian bawahku seperti tertarik searah gravitasi bumi menuju pusatnya. Saya bertakbir Ri, pun saya bersholawat. Bayangan buruk tentang jatuh dari angkasa menghantui saya Ri. Tapi Alhamdulillah saya dan semua penumpang selamat. Mungkin bagi mereka yang sudah terbiasa perjalanan udara hal itu adalah hal biasa. Tapi bagi saya tentunya beda, itu adalah sesuatu yang di luar biasa.
Bandara Juanda masih ramai Ri, terutama dari para penjemput yang sudah berdiri menunggu di depan pintu keluar. Saya bingung Ri, taksi mana yang harus saya tumpangi menuju Jalan Jagir Wonokromo. Saya sudah ditawari banyak calo taksi untuk menaiki kendaraannya. Cuma saya ingat pesan tetangga saya yang mewanti-wanti saya untuk memesan tiket di loket resmi saja. Awalnya saya tidak menemukannya. Tapi setelah berpura-pura menelpon seseorang agar tidak ditanyai terus oleh calo tersebut saya menemukan counter taksi itu. Ternyata tepat di sebelah kiri pintu keluar.
“Mau ke mana Pak?” tanya petugas wanita di counter tersebut.
“Jagir”
“Lima puluh lima ribu rupiah.”
Setelah menyerahkan uang yang diminta saya mendapatkan sebuah karcis. Dan saya bingung Ri, di mana taksi yang harus saya tumpangi. Seorang petugas di depan loket itu menyadari kebingungan saya dan menunjukkan kepada saya taksinya.
“Bapak tahu hotel yang ada di Jalan Jagir? tanya saya pada supir taksi. Bapak itu berpikir dan menjawab: “sepertinya tidak ada”.
“Ya sudah Pak ke Hotel Fortuna di Jalan Darmo Kali,” pinta saya sesuai sms dari tetangga saya yang sudah tahu seluk beluk Surabaya.
“Kalau begitu tarifnya beda Pak, kurang Rp10.000,00 lagi. Bagaimana?”
“Ya sudah tidak apa-apa,” jawab saya. Insya Allah SPPD saya cukup
Ri, Surabaya di malam hari ternyata sama saja dengan Jakarta. Jalan Ahmad Yani di Surabaya saya pikir ramainya sama dengan jalan Pasar Minggu Jakarta. Saya merenung di jendela taksi. Memandang temaram malam dengan lampu-lampu merkuri yang menyesakkannya. Ri, saya jadi ingat pusi yang saya buat beberapa tahun yang lalu. Tapi puisi itu sudah hilang Ri entah kemana. Suasana yang membangun puisi itu sama persis dengan melankolis malam ini Ri.

Rabu, 20 Juni 2007 19.15 WIB
Ri-ku yang menawan. Aku (kata gantinya kuganti saja) berjalan memasuki pintu hotel Fortuna. Bergegas menuju meja resepsionis. Dan memilih kamar yang yang tidak terlalu mewah. Tentunya seukuran SPPD-ku. Aku memilih yang harganya Rp209.000,00. Dengan harga yang sama kamar hotel ini masih kalah indah dengan kamar hotel di Pasuruan dulu. Harganya pun lebih murah daripada yang di sini.
Ri, ternyata perkiraanku salah. Dulu waktu pergi ke Pasuruan aku sengaja membawa perlengkapan mandi ternyata di sana sudah tersedia lengkap. Tapi saat aku berpikir bahwa untuk perjalanan ke Surabaya ini aku tak perlu perlengkapan mandi, aku salah Ri. Di sini aku tidak menemukan sikat gigi dan pastanya. Kiranya aku perlu ke luar hotel untuk mencarinya sekalian mencari pengisi perut yang sedari siang belum terisi. Di pesawat aku cuma diberi segelas air putih dalam kemasan 220 ml.

Rabu, 20 Juni 2007 21.00 WIB
Ri, kini malam semakin menjelang. Saatnya untuk istirahat Ri. Melepaskan penat setelah setengah harian tadi menempuh ratusan kilometer. Ohya Ri, saya (kiranya Ri, kata ganti saya lebih akrab di telinga daripada aku) kok merasakan “keanehan“ di luar biasanya, saat membeli nasi goreng di warung nasi di pertigaan jalan dekat hotel. Warnanya merah dan masalahnya kok seperti tidak ada rasanya yah… atau lidah saya yang belum bisa menerima “keanehan” ini. Nasi goreng kok warnanya merah. Saya tidak tahu apa nama nasi ini. Saya belum menanyakannya pada teman-teman dari Surabaya Ri.
Ri, saya tinggal dulu yah. Saya mau tidur. Saya sudah capek. Saya harus mempersiapkan sebaik mungkin untuk hari esok. Acara televisi sudah tidak menarik minatku lagi. Semoga engkau bermimpi indah malam ini. Lembaran putihmu saatnya untuk tidak kucoret malam ini. Tapi aku sendirian Ri….

To be Continued…

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
16:04 22 Juni 2007