GALAU VLADIMIR DONOMAKH


Vladimir Donomakh, seorang muallaf Rusia lagi semangat-semangatnya untuk menekuni dan mendalami syari’at Islam, agama yang dipeluknya tiga bulan lalu. Ia sering bertanya apa saja kepada imam masjid kota Toronto dan para imigran muslim lainnya. Ia bertanya tentang bagaimana tatacara sholat yang baik, tentang haji—sebuah perjalanan spiritual yang diidam-idamkannya, tentang puasa di bulan ramadhan, zakat dan masih banyak yang lainnya.
Tidak sekadar bertanya, setiap ada amalan baik yang dianjurkan dalam agama mulia itu dan ia tahu walaupun sedikit ia langsung mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Ia tahu ia harus beribadah sebanyak mungkin untuk menutupi kesia-siaan hidup 30 tahun yang ia lalui tanpa adanya sebuah kebenaran.
Tidak hanya dengan ilmu syariat yang ia pelajari, ilmu hati pun ia tekuni. Bagaimana ia harus belajar untuk mengendalikan lisan dan hatinya agar tidak terkotori oleh titik-titik dosa. Malam-malamnya ia lalui dengan tahajjud dan tangisannya kepada Allah. Mengharapkan dan merindukan surga-Nya dan takut akan neraka-Nya.
Ia tahu—dari hasil konsultasinya dengan saudara-saudara seiman lainnya—bahwa rasa harap dan takut ini merupakan dorongan yang sangat penting untuk melakukan berbagai amal shalih dan menjauhi berbagai keburukan. Dan ia tahu, ia harus tetap menjaga keseimbangan keduanya dalam hati dirinya.
Rasa takutnya tidak boleh terlalu dominan sehingga menimbulkan rasa putus asa dari rahmat Allah yang merupakan karakter orang-orang kafir belaka. Sebaliknya rasa harap tidak boleh terlalu dominan sehingga menimbulkan rasa aman dari balasan (siksa) Allah yang merupakan karakter utama dari orang-oang yang merugi.
Ia tahu betapa Alqur’an sarat penggambaran berbagai bentuk janji berupa kenikmatan abadi surga bagi orang-orang yang beriman dan ancaman kedahsyatan siksa neraka bagi manusia-manusia yang tidak mengimaninya. Berkenaan dengan kenikmatan akhirat dan siksanya, tidak hanya berhenti sampai di situ saja tetapi juga meliputi janji dan harapan yang berkaitan dengan kebaikan dunia.
Inilah yang ia pahami betul tentang kesempurnaan Islam dalam membahas kenikmatan dunia dan akhirat karena sebelum masuk Islam ia mencari kebenarannya pada ajaran Yahudi dan Nasrani. Pada ajaran Yahudi balasan yang didapat bagi orang-orang yang taat dan tidak taat secara umum bersifat material murni duniawi dan hampir tidak ada yang bersifat moral dan ukhrawi.
Sedangkan dalam ajaran Nasrani menawarkan kebalikannya yaitu bersifat spiritual dan hampir tidak ada balasan lain yang bersifat material, psikologis, sosial dan yang berkaitan dengan kehidupan duniawi.
Sedangkan di ajaran barunya ini ia menemukan—sebagaimana dibaca dalam Alqur’an dan kitab-kitab hadits terjemahan yang ia pinjam dari sahabatnya—bahwa balasan dalam Islam sangat beragam dan menyeluruh, yaitu meliputi balasan-balasan duniawi dan ukhrawi, spiritual dan material, individu dan sosial, psikologis dan moral, baik dalam aspek dan ganjarannya.
Maka dari semua yang ia pelajari itu ia mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa seseorang hamba Allah hanya mempunyai tugas di bumi ini untuk beribadah kepada Allah. Agar diterima ibadahnya itu maka harus dengan niat ikhlas karena-Nya. Bila dinilai ikhlas Allah akan memberikan kepadanya ganjaran pahala atau kebaikan langsung di dunia. Bila tidak adalah sebaliknya ancaman dan murka Allah di dunia atau di akhirat.
Maka beribadahlah Vladimir Donomakh dengan seikhlas-ikhlasnya untuk Allah semata agar ia mendapatkan ganjaran spiritual berupa keridhaan Allah kepada dirinya dan pemberian pahala, kebaikan yang tak ternilai seperti keindahan surgawi, ganjaran duniawi seperti pelipatgandaan harta karena ia dermawan dan sering menginfakkan sebagian hartanya. Dan ia meninggalkan semua larangan Allah karena ia takut murka-nya.
Tiba-tiba di suatu saat, di inbox emailnya, ia mendapatkan sebuah peringatan keras dari beberapa teman satu halaqoh tarbiyahnya yang kebanyakan dari Arab Saudi, Mesir Sudan dan Yaman, yang mengatakan bahwa semua pelaksanaan ibadah dan penjauhan segala larangannya itu sia-sia belaka karena tidak semata mengharap ridha-Nya Allah ta’ala. Teman-temannya tahu itu karena ia sering bercerita tentang kekagumannya pada agama ini dan tata cara ibadahnya.
Membaca peringatan keras dari temannya ia shock, risau, galau, terkejut, dan merasa bingung. Serta khawatir pula bahwa ibadah yang ia lakukan sia-sia belaka. Ia tidak mau mengulangi kesia-siaan yang ia lakukan selama masa jahiliyahnya itu. Maka ia siapkan sebuah pertanyaan dengan tanda tanya besar yang akan ia ajukan kepada ulama yang ia tahu kapasitasnya sebagai ulama dunia.
Bolehkah saya, Muhammad Usammah atau Vladimir Donomakh, melakukan sebuah amal dengan prinsip beramal karena mengharap pahala Allah atau karena takut siksa-Nya?
***
Para pembaca yang budiman, jujur, baik hati, dan tidak sombong, jikalau Anda diberikan pertanyaan seperti ini jawaban apa yang bisa Anda berikan untuk menghilangkan kegalauannya? Sebagai teman dekat dan peduli terhadap Vladimir Donomakh Anda akan segera mencari referensi-referensi yang ada atau bertanya kepada ajengan-ajengan (ulama) yang memang dikenal luas karena keilmuannya.
Dan bisa jadi jawabannya akan seperti ini:
Ada dua kelompok yang menentang prinsip beramal seperti itu, yaitu kelompok filosuf dan kelompok sufi.
Kelompok filosuf moralis dan idealis ini menyerukan pelaksanaan kewajiban karena kewajiban itu sendiri, tanpa memandang hasil-hasilnya, baik bermanfaat atau tidak, tanpa melihat iming-iming atau ancaman. Mereka mengecam akhlak agama karena ia mengaitkan pelaksanaan kewajiban dengan kemanfaatan, sekalipun berupa kemanfaatan ukhrawi. Alasannya adalah bila mengharap semua itu akan memecah belah manusia, akrena kemanfaatannya merugikan orang lain.
Sedangkan kelompok sufi berlebihan menentang orang yang melakukan amal perbuatan dan meninggalkan keburukan atau menaati Allah karena mengharap rahmat-Nya dan takut akan siksa-Nya atau karena mengharap sorga-Nya dan takut akan neraka-Nya. Mereka berkata, janganlah kamu menjadi hamba yang buruk; jika takut ia beramal, dan jangan pula menjadi seperti kuli yang buruk jika tidak diberi upah tidak mau bekerja. Kaum sufi melihat sebuah kecacatan dalam cintanya pada Allah bagi manusia yang beriman dengan mengharap surga dan neraka-Nya. Manusia ini adalah manusia yang egois.
Para pembaca sekalian Anda pasti pernah mendengar bait syair terkenal dari Rabi’ah al ‘Adawiyah berikut ini:

mereka semua beribadah karena takut neraka
menganggap keselamatan darinya keberuntungan besar
atau masuk surge kemudian mereguk kenikmatan dan minum jahe
bagiku tak ada bagian di surge dan neraka
aku tidak mengharap balasan bagi cintaku
Titik tolak dua kelompok ini berbeda, kelompok pertama bertolak dari keduniawian semata sedangkan kelompok kedua titik tolaknya adalah keagamaan.
Bantahan untuk kelompok pertama ini adalah sebagai berikut:
1. mengabaikan tabiat manusia dan kecenderungannya kepada sesuatu yang bermanfaat atau menguntungkan bagi manusia cepat atau lambat , di dunia ataupun di akhirat.
2. Mendapatkan keuntungan merupakan bagian dari komposisi fitrah yang diberikan Allah kepadanya. Tetapi hendaknya keuntungan yang diharapkan oleh orang yang melakukan kewajiban dan meninggalkan larangan itu di atas manfaat material, individual, dan duniawi yaitu ridha-Nya Allah. JIka Allah ridha kepada Vladimir Donomakh karena ia ikhlas mengerjakan amal kebaikan maka Allah akan memberikan kepadanya kebaikan yang lebih banyak lagi dunia dan akhirat.
3. Kebanyakan manusia untuk bisa bergerak dan beramal masih memerlukan dorongan atau ancaman.
Demikian untuk kelompok yang pertama.

Sedangkan bantahan untuk kelompok sufi, sebagian ulama kaum muslimin menganggap bahwa ungkapan tersebut sebagai kebodohan. Karena tidak ada salahnya jika seseorang beribadah kepada Allah karena mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya. Para ulama tersebut berhujjah (argumen) dengan ihwal para nabi, rasul dan orang-orang saleh yang mendapatkan pujian Allah dalam Alqur’an karena rasa takut mereka terhadap neraka dan pengharapan mereka akan surga.

Alqur’an dan sunnah sarat dengan pujian kepada para hamba-Nya dan wali-Nya yang meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka. Karena saking banyaknya dan keterbatasan tempat saya tidak bisa memberikan contohnya di sini. Para pembaca bisa membaca kitab-kitab hadits terkenal atau seperti kitab Riyadhus Shalihin yang ditulis oleh Imam Nawawi atau Kitab Targhib wa Tarhib Imam Al-Mundziri dan akan menemukan banyak sekali contohnya.

Banyak lagi hadits-hadits yang menyatakan: “Barangsiapa melakukan ini atau itu maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” Ini semua adalah dorongan untuk mendapatkannya dan agar hal tersebut menjadi motivasi beramal. Karena itu, bagaimana mungkin beramal untuk mendapatkan semua itu dianggap cacat, padahal Rasulullah sendiri mengajurkannya.

Allah senang dimintai, bahkan Dia marah kepada orang yang tidak pernah meminta kepada-Nya, sedangkan permintaan yang paling besar ialah surga dan permintaan perlindungan yang paling besar adalah neraka. Jika hati sepi dari mengingat surga dan neraka maka ini akan melemahkan tekad dan tidak kuat motivasinya.

Seandainya hal ini tidak dianjurkan oleh Pembuat Syari’at niscaya Dia tidak akan menjelaskan gambaran surga dan neraka kepada para hamba-Nya secara rinci agar mereka segera beramal dan menjauhi larangan. Dan selebihnya diberikan gambaran globalnya agar manusia rindu kepada surga dan mendorong manusia untuk mendapatkanya.
Ibnul Qayyim berpendapat moderat di tengah-tengah kaum sufi dan ulama yang membantah kaum sufi tersebut. Pendapatnya kurang lebih demikian (saya sampai harus membacanya berulang kali dan pelan-pelan untuk bisa mendapatkan hakikat dari perkataan ulama besar ini):
Bahwa kita senantiasa mengharap surga-Nya Allah sebagai balasan dari amal-amal baik yang kita lakukan dan sebagai rahmat Allah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Surga itu tidak semata-mata buah-buahan, pepohonan, sungai-sungai susu dan madu, bidadari, dan istana-istana gemerlap. Surga itu pun berarti sebuah kenikmatan yang tiada tara, kenikmatan yang luas, terbesar, dan sempurna.
Yang di antara kenikmatan tersebut adalah memandang pada yang telah menciptakan diri manusia dan seluruh makhluk itu sendiri, yaitu Allah swt. Memandang dengan penuh cinta, ketakjuban dan melupakan semua kenikmatan yang tengah mereka nikmati. Demikian pula neraka. Siksaan berupa tidak melihat Allah, siksaan berupa murka-Nya, dan dijauhkan dari-Nya adalah lebih berat ketimbang jilatan api yang membakar jasad mereka.
Kalau saya bahasakan dengan yang bahasa lebih sederhana adalah sebagai berikut: untuk orang sufi realisasi cinta yang hakiki adalah melihat Allah SWT dan itu adalah sebuah kenikmatan. Itu adalah surga. Lalu mengapa menolak surga dengan mengatakan tidak ada bagiannya di surga. Kalau demikian ia menolak untuk melihat yang dicintanya. Sedangkan bagi yang menyanggah kaum sufi dikatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya kenikmatan surga berupa makan dan buah-buahan atau semua yang telah digambarkan Allah dalam Alqur’an tidak seberapa nilainya bila dibandingkan dengan nikmat memandang wajah Allah Yang Maha Mulia.
Demikian.
Setelah mendapat jawaban ini Anda perlu dengan pelan tapi jelas dan gamblang menjelaskan semuanya ini Vladimir Donomakh. Insya Allah ia akan memahaminya dengan baik. Tak mengapa ia beramal untuk mengharapkankan surga-Nya, pahala Allah, kebaikan di dunia dan akhirat sebagaimana yang telah di janjikan-Nya atau karena takut dengan siksa-Nya asalkan satu hal saja asal ia ikhlas karena Allah ta’ala.
Vladimir Donomakh, malam itu ia tak lagi galau, ia tidur nyenyak setelah mendapatkan jawaban ini dari Anda.
Allohua’lam bishshowab.

Catatan kecil:
Lalu bagaimana dengan orang yang sudah niat ikhlas karena Allah tapi ia juga ingin disebut sebagai dermawan, syahid, dan ‘ulama, maka sesungguhnya ini adalah riya (sudah tercampur dengan kesyirikan). Maka amalnya tertolak. Sudah jelas bahwa pujian manusia itu adalah bukan janji kebaikan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beramal.
Imam Asysyahid Hasan Al Banna berkata:
“Yang kami kehendaki dengan ikhlas adalah bahwa seseorang al-akh muslim dalam setiap kata-kata , aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, dan kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.”

Maraji’:
Pembagian kelompok antara filosuf dan sufi itu berasal dari Kitab: Seleksi Hadits-hadits Shahih tentang Targhib dan Tarhib: Menganjurkan Amal Kebaikan dan Memperingatkan Amal Keburukan, Al-Imam Al-Mundziri, Jilid 1. Diseleksi, diulas, diteliti derajat haditsnya oleh: Dr. Yusuf Qaradhawy, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Robbani Press, September 1996.
Maraji’ yang kedua adalah Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid 2, Intermedia, Maret 1998.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di rangting cemara
12:59 14 Nopember 2007

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s