Surat Terbuka Untuk Ikhwah


Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabaarokaatuh.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Semoga Allah senantiasa memberikan dan menetapkan hidayah kepada kita semua. Semoga salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada junjungan nabi kita Sayyidina Muhammad Saw.
Ikhwatifillah yang saya cintai karena Allah izinkan saya menulis untuk antum semua peserta forum tarbiyah di sini tentang sebuah kegundahan yang menggumpal dalam dada saya. Sebuah perenungan yang saya bawa sampai ke rumah dan yang membuat saya tidak bisa tidur tadi malam. Sebuah perenungan tentang apa yang telah saya perbuat untuk menyiarkan dakwah ini kepada sekitar dan terutama sekali kepada para peserta forum DSHNet. Ada dua poin sebenarnya yaitu gundah dan renung.
Saya utarakan kegundahan saya dulu yang pertama. Kemarin tepatnya hari senin tanggal 19 Nopember 2007, sekitar pukul 16.45 WIB di forum dakwah ada sebuah postingan yang judulnya adalah kurang lebih demikian Syiah dan Sunni Sama-sama bersihnya. Yang memosting saya lupa tapi saya tahu pasti tentang berapa IP Address-nya, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Batu. Kalau mendengar nama KPP ini maka yang telah berkecimpung lama di forum dakwah akan mengetahui ada saudara kita yang senantiasa membenci dakwah kita.tidak perlu disebutkan namanya di sini.
Saya memang selalu mencermati setiap postingan dari KPP batu sebagai bentuk pengawasan saya. Dan biasanya ketika ada sindiran-sindiran (dan celaan) darinya saya langsung melakukan tindakan untuk menonaktifkannya tanpa peringatan terlebih dahulu. Karena sudah berapa kali peringatan itu diberikan tetapi tidak pernah digubris oleh saudara kita itu—Semoga Allah memberikan kelembutan padanya. Dalam satu saat ia bisa mengganti nick beberapa kali untuk bisa bergabung kembali di forum. Dan saya melakukan apa yang sudah menjadi tugas saya. Tinggal siapa yang paling kuat sabarnya antara saya dengan dia saja.
Yang paling sering dilontarkan adalah tentang masalah gugatan terhadap moderator, politik, dan syiah. Terutama tentang syiah kurang lebihnya demikian: “Sudah tahu sesat tapi masih saja mengagung-agungkan para pemimpinnya.” Kali ini, sore kemarin itu, ia memosting satu paragraf saja sebagai berikut:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Sunni dan Syiah adalah muslim. Mereka ini disatukan oleh kalimat Laa Ilaha Illallah dan Muhammadun rasulullah. Ini adalah prinsip aqidah di mana Sunni dan syiah sepakat dengannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya adalah pada tema-tema yang mungkin didekatkan (taqrib). (Dzikrayaat laa Mudzakiraat hal 345-346)
Lalu apa yang terjadi teman-teman, banyak sekali dari ikhwah kita yang reaktif dengan mengajukan berbagai pertanyaan dan hampir-hampir mengarah gugatan kepada apa yang diposting dan pemosting. Sampai sang pemosting itu pun mengajukan pertanyaan balik kepada yang memprotes: “memang ada yang salah yah dari pernyataan ini?”
Saya memahami tentang kegundahan kita sebagai ahlussunnah terhadap penyebaran pemikiran Syiah oleh Ridha yang menghujat para sahabat yang mulia di forum dakwah. Hingga langsung merespon cepat tentang adanya penyamaan ini. Saya tidak menyalahkan teman-teman. Itu suatu kewajaran.
Tetapi karena saya sudah tahu terlebih dahulu siapa yang memosting saya berhati-hati untuk berkomentar. Apakah ini adalah suatu penegasan yang disampaikan dari dua kalangan yaitu syiah atau dari seorang yang tahu tentang syiah, pembenci syiah, atau pembenci dakwah kita dan cuma untuk mengetes nanti selanjutnya mencela siapa yang mengeluarkan perkataan itu?
Dan saya memilih yang terakhir karena melihat IP address-nya tersebut. Ada beberapa tanggapan yang masuk, kurang lebih sekitar tujuh tanggapan. Terakhir adalah pertanyaan yang diajukan oleh sang pemosting ini seperti yang telah saya sebutkan di atas. Lalu saya langsung memotong diskusi tersebut dan “membuang”nya ke forum komunikasi para moderator.
Ikhwatifillah, saya dengan keras berpikir di mana saya pernah dengar dan baca tentang sebuah buku yang bernama Dzikrayaat laa Mudzakiraat. Dan saya yakin saya belum pernah memilikinya. Saya sering mendengarnya dari saudara Salafy kita yang sering menyebut-nyebut buku itu sebagai bahan perbantahan. Saya ambil sebuah buku di atas meja saya, bukunya Farid Nu’man, Al Ikhwanul Muslimun, Anugerah Allah yang terzalimi, saya baca referensinya. Tidak ada buku tersebut sebagai referensinya. Lalu saya ambil bukunya Abduh Zulfidar Akaha yang berjudul Siapa Teroris Siapa Khawarij, tidak ada pula di sana.
Saya bertanya-tanya apakah Syaikh Al-Qaradhawy yang mengatakan demikian atau siapa? Kalaupun mengatakan demikian hujjah apa yang bisa disampaikan? Ikhwatifillah, pertanyaan itu menggelayuti benak saya dan membuat saya gundah hingga dalam perjalanan pulang saya ke rumah. Dan saya bertekad untuk mencari referensi tersebut di internet.
Namun pelan-pelan kegundahan itu tersingkir dengan sebuah perenungan yang menghunjam saya dari seorang muda namun mempunyai tsaqofah yang luas, akh brazkie sebagai berikut (dengan perubahan sedikit pada tata bahasa):
Sekarang saya lagi memaksa diri saya untuk membaca apa yang seharusnya saya baca. Karena gerakan dakwah kita sudah memasuki mihwar muassasi dan mempersiapkan dirinya ke mihwar daulah, saya memaksa diri membaca bahan bacaan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan mihwar saat ini, yaitu buku yang berhubungan dengan Politik-Keamanan-Ekonomi-Bisnis.
Ini untuk mempersiapkan diri kita untuk menjadi “qiyadah” di masa kita nanti, sebab,keraguan orang-orangumum itu seputar mampukah kita orang-orang masjid mengelola negara ini, tanpa mengorbankan kesolehan mereka, atau toleran terhadap pluralitas bangsa ini?
Kalau buku-buku yang menjawab seputar salafy dan sebagainya, saya hanya berpikir itu hanya reaktif belaka, tahap yang paling jauh yang bisa bermanfaat untuk kita adalah menambah khazanah tsaqofah kita mengenai mereka. namun hendaknya kita tidak terjebak dan menjadikan itu sebagai referensi utama bagi proses belajar kita, sebab bagaimanapun persoalan yang lebih besar sedang menanti kita, ketimbang persoalan kecil semacam tingkah polah harokah lain khususon salafy.
Sekedar saran ya ikhwati…
Apa yang dikatakan oleh Akh Brazkie ini benar, seperti Syaikh Yusuf Al-Qaradhawy katakan dalam Kitab Fiqhul Ikhtilaf:
Di antara hal yang seringkali menyeret orang ke dalam kancah perselisihan dan menjauhkannya dari persatuan ialah kekosongan jiwa mereka dari cita-cita dan persoalan-persoalan besar. Bila jiwa kosong dari cita-cita dan persoalan-persoalan besar maka terjadilah pertarungan mempertentangkan masalah-masalah kecil.
Sebagaimana istri saya yang sering mengingatkan saya tentang perkataan seorang ustadz kampung namun punya kafaah yang mumpuni pada kekinian: “…karena mereka tidak punya mimpi besar.”
Wahai Saudaraku antum telah memberikan perkataan yang besar bagi diri saya. Sebuah perenungan yang membuat saya berpikir apa yang telah saya lakukan untuk dakwah ini. Apa yang telah saya berikan adalah sesuatu yang besar untuk forum diskusi DSH? Yang membuat semua orang mempunyai pemikiran yang luas bagaimana untuk membangun negeri ini dengan lebih baik lagi? Untuk dapat memikirkan saudara-saudaranya di bumi Allah yang masih tertindas. Untuk dapat memikirkan pengembangan kreatifitas dalam dakwah hingga semua merasa nyaman dengan dakwah ini. Hingga semua orang bersama-sama dengan dakwah ini.
Ya Allah ya Rabb, jawaban saya adalah BELUM. Saya masih terlalu sedikit berbuat atau bahkan belum berbuat sama sekali hingga terjebak pada permasalahan khilafiah di forum dakwah (maaf tanpa sama sekali mengecilkan ilmu-ilmu itu) namun ketika setiap hari saya (untuk tidak mengatakan kita) berkecimpung pada sesuatu yang diulang-ulang setiap harinya dan tanpa ada sebuah ide-ide segar yang muncul demi perkembangan Islam, maka sungguh saya dapat katakan bahwa saya telah terjebak pada pertentangan masalah-masalah kecil.
Perenungan ini pun membuat saya berpikir ulang bahwa niat saya mencari referensi sedapat mungkin tentang buku Dzikrayaat laa Mudzakiraat adalah cuma untuk gagah-gagahan, sekadar dianggap sebagai orang yang berilmu, reaktif hanya untuk membalas sebuah aksi, dan lagi-lagi terjebak pada pertentangan masalah-masalah yang tak kunjung habisnya padahal ada sebuah kerja besar yang harus senantiasa kita lakukan yaitu sebuah pembinaan. Bagaimana mau membina sedangkan bekal itu kosong karena otak tidak diberikan hak untuk menuntaskan dahaga ilmunya dan otak hanya dipenuhi oleh pikiran untuk menjawab tuduhan, berkelit, dan membalas. Masya Allah.
Sungguh Akh Brazkie dan teman-teman sekalian. Perenungan itu saya bawa pulang ke rumah. Sampai jelang tidur pun saya masih bertanya-tanya bisakah saya keluar dari jebakan ini? (Saya sampai meyakini tentang perkataan ustadz Andi Harsono bahwa saya sesungguhnya sedang dalam kehilangan orientasi dakwah). Istri saya sudah pernah bilang sejak lama, “belilah dan bacalah kembali buku-buku tarbiyah.”
Ya, sedikit solusi ini bisa untuk memberikan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas. Insya Allah.
Ikhwatifillah, malam pun jelang, saatnya untuk beristirahat. Maka tidurlah saya untuk memberikan hak pada jasadiyah saya. Lalu jam setengah dua malam istri saya membangunkan saya, menyuruh saya mengambil wudhu dan shalat. Rupanya istri saya belumlah tidur, ada tugas yang masih dikerjakannya.
Setelah shalat, saya pun berdiri dan beranjak ke lemari buku. Dari sana saya ambil Risalah Pergerakan Hasan Al-Banna jilid 1 dan saya mencari apakah ada perkataan tentang syiah, untuk menuntaskan kepenasaran saya. Dengan berusaha menebak-nebak arti sesungguhnya dari Dzikrayaat laa Mudzakiraat itu dan mencocokkannya dengan daftar isi dari buku Risalah Pergerakan itu saya mencari tentang syiah. Kali saja ada judul subbab yang isinya sama sesuai dengan keterbatasan kosakata saya terhadap Bahasa Arab. Dan hasilnya tidak ada.
Lalu mata saya terantuk ke sebuah buku yang berjudul: Umar Tilmisani: Mursyid ‘Am Ketiga Ikhwanul Muslimin. Soalnya siang sebelumnya melalui private messenger ada yang meminta saya tentang biografi beliau dan Alhamdulillah saya dapatkan di internet dan saya upload melalui sticky topic di forum dakwah.
Saya buka buku tersebut di halaman belakang dan saya cuma menemukan katalog buku yang telah diterbitkan oleh penerbit buku tersebut. Tidak ada referensi di sana. Lalu saya coba buka halaman-halaman depan yang memuat judul buku aslinya, siapa penulisnya, dan cetakan ke berapa.
Ikhwatifillah, apa yang saya lihat? Ternyata buku yang saya pegang ini adalah buku terjemahan dari sebuah buku yang berjudul: Umar Tilmisani: Dzikrayaat laa Mudzakiraat.
Subhanallah, Walhamdulillah, Wallahu akbar. Saya ternyata tidak hanya menemukannya tapi juga memiliki buku tersebut. Ini adalah semata-mata taufik Allah SWT. (terimakasih untuk Ustadz Andi Harsono yang telah memberikan sebuah istilah yang baru bagi saya bila mengalami hal yang seperti ini).
Saya buka subbab tentang perselisihan Sunni-Syiah, dan betul saya menemukan sebuah paragraph yang sama persis dengan apa yang disampaikan oleh pemosting dari KPP Batu tersebut. Perkataan tersebut adalah perkataan Imam Syahid Hasan Albanna. Agar saya punya pemahaman yang utuh terhadap perkataan tersebut maka saya baca paragraph lanjutannya (maaf untuk saat ini saya belum bisa menuliskannya karena keterbatasan waktu saya, Insya Allah di lain waktu). Dan Wallahi saya mendapatkan pemahaman dan penyikapan yang terbaik dalam perselisihan sunni dan syiah.
Ikhwatifillah, saya langsung pada malam itu mengirimkan pesan singkat pada saudara-saudara saya, Akh Isa Yulistiawan, Akh Andi Harsono, dan Akh Azzam, yang saya anggap sebagai orang-orang yang mumpuni dan paham tentang perselisihan ini. Tentang kegembiraan saya menemukan buku ini. Maaf tiada terkira, saya adalah orang yang sangat reaktif apabila mendapatkan kebahagiaan dan tak mau menyembunyikan kebahagiaan saya ini untuk sendiri.
Akh Isa Yulistiawan memberikan balasan demikian: “Antum hebat amat akh, sampai di rumah masih memikirkan dshforum. He..he…he…” Sungguh Mas Isa, pujian itu hanya untuk Allah semata, dan di dalam hati malah saya berpikir akankah saya terjebak dalam mempertentangkan permasalahan-permasahan. Saya malu dan senatiasa terngiang-ngiang dengan perkataan Akh Brazkie. Apakah ini adalah dalam rangka berbuat apa yang seharusnya saya perbuat? Apakah ini adalah dalam rangka merealisasikan ide-ide besar dakwah kita? Apakah ini adalah investasi untuk menjadi qiyadah di masa depan?
Sungguh akh, kegembiraan itu berlalu dengan seiring helaan nafas yang selalu terdengar di setiap saat. Kegembiraan itu tertutupi dengan sebuah beban berat yang ada dipunggung. Tertutupi dengan sebuah perenungan. Hingga wajah ini tiada tampak berserinya.
Allah ya rabbi, ampunilah saya atas segala kelalaian saya.
Ikhwatifillah ada beberapa kesimpulan yang ingin saya kemukakan di sini untuk diri saya dan untuk ikhwatifillah bila ini berguna untuk antum semua:
1. Camkan baik-baik nasehat Akh Brazkie ini, deeply. Jazakallah akh Brazkie.
2. Perbanyaklah membaca buku-buku dasar tarbiyah. Temukan kedalamannya juga di sana dan temukan hikmahnya di sana. Temukan pula ide-ide besar di sana.
3. Insya Allah dengan senantiasa membaca itu, kita pun tidak ikut terjebak dan larut dalam sebuah pertanyaan yang diajukan oleh yang membenci jalan dakwah kita ini.
4. Perbanyaklah muhasabah sehingga ingat betapa amal kita belumlah mampu untuk membuat Allah ridha terhadap kita.
Ikhwatifillah, maaf tiada terkira. Maafkanlah saya yang mudahnya untuk berkeluh kesah kepada antum semua yang saya yakini antum semua punya amanah dakwah yang amat berat di punggung antum semua.
Nasehatilah saya jika terlalai. Saya butuh cambuk nasehat antum mendera di punggung pemikiran dan amal saya. Agar mudah raga ini berpacu dengan waktu dan terengah-engah meraih ridhanya Allah. Ada debu, keringat, dan darah di sana…
Semoga Allah memberikan kepada saya sebuah keikhlasan. Semoga tidak ada niat di hati saya untuk pamer kata-kata indah di sini. Semoga tidak ada syirik kecil yang tersembunyi.
Semoga Allah mengampuni saya dan kita semua. Dan mengumpulkan kita di surga-Nya Allah. Amin.

Dari saudaramu, Alfaqir, yang bodoh
Riza Almanfaluthi
09:26 20 Nopember 2007

PERSELISIHAN SUNNI-SYIAH
Satu waktu kami bertanya kepada Imam Syahid sejauh mana perselisihan yang ada di antara Sunni dan Syi’ah. Rupanya beliau melarang kami masuk terlalu jauh ke dalam persoalan pelik ini. Menurut beliau, persoalan seperti ini tidak pantas mengambil waktu yang banyak dari kaum muslimim karena mereka, seperti yang bisa kita lihat sendiri, gampang terperangkap ke dalam ruang perpecahan dan api perselisihan yang selalu disulut musuh-musuh Islam.
Kami berkata kepada Imam Syahid: “Kami tidak menanyakan hal ini karena alasan fanatisme atau dengan maksud memperluas perbedaan yang ada di kalangan kaum muslimin. Kami menanyakannya semata-mata karena dorongan ilmu pengetahuan sebab persoalan ini telah tercatat di dalam buku-buku yang jumlahnya sulit dihitung. Masalahnya kami tidak punya waktu untuk mengkaji seluruh buku-buku tersebut.”
Imam Syahid menjawab: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Sunni dan Syiah adalah muslim. Mereka ini disatukan oleh kalimat Laa Ilaha Illallah dan Muhammadun rasulullah. Ini adalah prinsip aqidah di mana Sunni dan syiah sepakat dengannya. Adapun perbedaan yang ada di antara keduanya adalah pada tema-tema yang mungkin didekatkan (taqrib).
Kami bertanya: “Apa saja contohnya?”
Beliau menjawab: “Syiah adalah sebuah aliran yang dalam bahasa perbandingan mirip empat mazhab yang ada pada kelompok Sunni. Aliran Syi’ah Imamiyah, umpamanya, berpendapat bahwa masalah imamah (kepemimpinan) adalah sebuah prinsip islam yang harus diwujudkan. Mereka hanya mau berperang bersama pemimpin yang mereka tunggu (Imam Muntadzar) karena menurut mereka Imam adalah pengawal syri’at, pendapatnya adalah kata putus dan taat kepadanya adalah keharusan tanpa syarat. Ada juga beberapa hal yang diperdebatkan bisa dihilangkan, seperti nikah mut’ah dan poligami, sebagaimana yang ada pada sebagian kelompok Syi’ah. Persoalan-persoalan seperti ini, dan sejenisnya, tak layak dijadikan pemicu munculnya permusuhan antara Sunni dan Syi’ah. Kedua kelompok ini, selama beberapa ratus tahun, pernah hidup rukun. Kalau pun ada perbedaan maka hal ini muncul dalam bentuk tulisan-tulisan. Para imam Syi’ah sendiri turut berperan serta dalam memperkaya khazanah perpustakaan Islam. Dan sampai kini hasil-hasil karya pengetahuan tersebut masih menghiasi rak-rak perpustakaan dalam jumlah cukup banyak.” Demikianlah pendapat Imam Syahid.
Sekiranya konflik Iraq-Iran memang seperti yang diduga banyak orang, maka saya akan membahasnya lebih panjang. Tapi secara keagamaan, kita sebaiknya menghindarkan diri dari permasalahan yang hanya makin mempertajam garis perbedaan yang ada antara Sunni dan Syi’ah. Perbedaan yang makin parah inilah sesungguhnya yang diinginkan para musuh Islam.
Karena itu kita tidak pantas mempertajam masalah ini. Kita ingin cuaca menjadi jernih kembali dan persoalan dikembalikan ke pangkalnya. Mudah-mudahaan dengan cara ini kedua belah pihak bisa menjelaskan sudut pandangannya masing-masing secara adil. Kami menilai cukup sampai di sini pembahasan tentang perbedaan Sunni dan Syi’ah. Kami melakukan ini semata didorong semangat ingin mencontoh metoda Imam Syahid yang selalu berusaha menepis perselisihan yang ada di atnara kamu muslimin.
Kutipan dalam buku: Umar Tilmisani: Bukan Sekadar Kenangan, hal. 345-346. Terjemahan buku Umar Tilmisani : Dzikrayaat laa Mudzakiraat.

Advertisements

9 thoughts on “Surat Terbuka Untuk Ikhwah

  1. luar biasa ya akh riza ini, semangat menuntut ilmunya sungguh menginspirasi saya untuk belajar lebih banyak lagi di jalan dakwah ini. dulu sekalai di pma 3, waktu saya kenal riza, org-nya tampak pendiam dan pemalu, jauh dari kesan gegap gempita teman temannya di sie P2PPh yg lain. sampai kemudian dia bertanya ttg seorg akhwat yg sekarang mjd istri-nya, yg kebetulan saya kenal krn pernah 1 kos dan 1 daerah.
    semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat dan karunianya buat riza dan keluarga.
    memang perbedaan harus disikapi dg lebih bijaksana..

    Like

  2. baru baca sampai tengah sudah kepingin ngasih pinjam bukunya… ee ternyata akhirnya nemu juga… terbitan rabbani press kan… saya menemukannya di pasar turi, sehari sebelum kiosnya kebakaran tahun 2007…

    mengenai mauqif kita terhadap syiah, yang paling menjelaskan adalah kalimat yusuf qardhawi di buku islam abad 20, yaitu beliau mensyaratkan taqrib dengan syiah pada 3 hal, 1. agar syiah berhenti mencela shahabat radhiyallahu anhum, 2. agar syiah tidak mendzalimi kaum sunni di Iran 3. agar syiah tidak menyebarkan ajaran-ajaran syiah secara agresif di negeri-negeri sunni… silahkan cek, beliau sudah menyebutkannya sejak tahun 1998 di buku itu… kemudian ketika terjadi konflik di irak beliau menyayangkan kaum syiah yang selalu membunuh warga sunni di irak, kemudian mengkritik syiah yang masih agresif menyebarkan ajaran syiah di negeri muslim… akhirnya pernyataan beliau menabur serangan dari kaum syiah sebagaimana hal ini jelas terjadi belum lama ini dan dimuat di situs beliau qaradawi.net. di situ juga ada maqalah dari syaikh qardhawi berjudul “sikap kami terhadap syiah”, mungkin akh reza bisa menampilkannya di blog ini.

    pada akhirnya betul, bahwa sikap kita terhadap serangan-serangan ikhwah salafi harus disikapi dengan bijak tanpa membuat energi kita tersedot ke sana dan akhirnya membuat iman menjadi kering dan semangat beramal menjadi luntur…

    Like

  3. oiya mas riza, aku dulu dapet sebuah tulisan ttg haramnya pajak yg berlaku di indonesia. atau pajak menurut islam…. dulu klo gak salah mas riza pernah nulis ttg ini, cuma aku lupa dimana… ku search di wordpress ini gak dapet mas riza..

    bisakah anda mengirimkan artikel itu ke adhe_alfan_nafi@yahoo.com

    ada beberapa teman yg s4 bingung atas tulisan itu

    terima kasih sebelumnya…

    Riza menjawab: saya juga sudah lupa. Munkin cuma tulisan atau postingan di dsh dulu. -)

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s