
Sebuah pesan masuk pada hari ulang tahun ke-81 Republik Indonesia.
Dari Mas Yudha Daiz Himawan, Kepala Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Sarmi.
Ia mengajak saya untuk ikut dalam kegiatan Pajak Bertutur (Patur) 2026. Program rutin tahunan Direktorat Jenderal Pajak untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya peran dan manfaat pajak sejak dini. Dilakukan serentak dari Sabang sampai Merauke.
Untuk tahun ini, KP2KP Sarmi akan mengadakan Patur 2026 pada 3 September 2026 di Sekolah Dasar (SD) Inpres yang berada di Pulau Liki. Saya langsung mengiyakan tawaran tersebut mengingat sejak saya datang ke KPP Pratama Jayapura pada Maret 2026, saya belum pernah mengunjungi KP2KP Sarmi.
Buat yang belum tahu, KP2KP ini merupakan unit terkecil DJP di lapangan dan KP2KP Sarmi merupakan kepanjangan tangan KPP Pratama Jayapura. Sarmi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua. Berbatasan dengan Kabupaten Jayapura di sebelah timur dan Kabupaten Mamberamo Raya di sebelah barat.
Ada tiga moda transportasi menuju Sarmi. Perjalanan darat dengan menempuh kurang lebih 300 km, perjalanan udara dengan menggunakan pesawat kecil milik Susi Air yang jadwalnya hanya Senin dan Jumat, atau perjalanan laut dengan menggunakan kapal laut perintis. Kami memilih alternatif pertama.
Akhirnya, pada 2 September 2026, kami bertiga berangkat ke Sarmi: saya, Mas Muhammad Anis Syaifudin, dan Mas Dhino. Itu pun kami berangkat menjelang siang karena ada wajib pajak BUMD yang harus saya temui di kantor.
Tepat pada pukul 11.19 kami berangkat dari KPP Pratama Jayapura. “Bismillah ….” ucap saya pelan. Saya meminta kepada Mas Anis dan Mas Dhino untuk sama-sama membaca doa safar supaya perjalanan dinas ini berjalan dengan lancar.
Kami tidak sekadar sedang menuju Sarmi. Ada anak-anak yang ingin kami datangi, temui, dan ajak memahami mengapa mereka kelak harus mengenal pajak. Namun sejauh apa pun jalan yang kami tempuh, pada akhirnya kami hanya bisa berusaha. Sampai atau tidaknya kami pada tujuan, lancar atau tidaknya perjalanan, semuanya tetap berada dalam kehendak Allah. Kami hanya berharap perjalanan ini mendapat rida-Nya dan setiap kilometer yang kami tempuh menjadi bagian dari ikhtiar yang bernilai di hadapan-Nya.
Di depan kami terbentang Jalan Trans Sarmi—Jayapura sepanjang 298 km. Itulah jarak yang ditunjukkan Google Maps ketika kami memasukkan rute dari KPP Pratama Jayapura menuju KP2KP Sarmi.
Mas Dhino sudah memenuhi tangki mobil dengan pertamax. Dia juga membawa bensin cadangan yang ditaruh di galon bekas air mineral. Kami bersiap demikian karena setelah Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura, kami akan memasuki belantara dan wilayah yang lebih sepi lagi. SPBU dan toko swalayan akan semakin jarang ditemui.
Kami singgah di Masjid Al-Aqsha, Sentani untuk salat terlebih dahulu. Setelah salam terakhir, kami kembali ke mobil.
“Daerah paling dekat apa, Mas Dhino?” tanya saya.
“Nimbokrang, Pak,” jawabnya.
“Berapa lama sampai ke sana?”
“Sekitar dua jam.”
“Kita makan di sana saja yah. Saya masih kenyang banget, nih,” ujar saya.
Mobil kembali bergerak. Kali ini, kami benar-benar meninggalkan Sentani menuju Sarmi.
Dari Sentani ada dua jalan menuju Sarmi. Jalan pertama akan melewati pinggiran Danau Sentani dan mengarah ke Bukit Teletubbies, sedangkan jalan kedua melewati pegunungan. Keduanya akan bertemu di suatu titik jalan yang sama menuju Nimbokrang. Siang itu, kami lebih memilih menyusuri Danau Sentani.
Jalan Trans Sarmi-Jayapura ini lebarnya hanya sekitar 4,5—5,5 meter. Lebih sempit daripada lebar jalan Tapaktuan menuju Banda Aceh. Ini bisa dimaklumi karena volume kendaraan di Aceh lebih banyak dibandingkan Papua. Di Jalan Trans Sarmi—Jayapura ini kami jarang berpapasan atau disusul oleh kendaraan lain.
Karena tidak ada yang dikejar, kami pun tidak memacu kendaraan dengan kencang. Kami menikmati bentangan pemandangan yang disuguhkan alam Papua: luasnya danau Sentani maupun vegetasi rimba Papua.
Ketika kami sampai di Nimbokrang, kami beristirahat sembari makan siang. Pilihan kami—tepatnya karena pilihannya terbatas—adalah warung nasi padang yang dijual orang Jawa. Rendangnya berasa gepuk, alot lagi. Ya sudah. Nimbokrang masih berada di Kabupaten Jayapura dan merupakan wilayah transmigrasi yang dibuka sejak tahun 1980-an. Ada swalayan besar di sini. Kami mengisi perbekalan lagi di sini. Mas Anis memberikan sebotol indonesiano kepada saya. Itu memang merek minuman kopi dalam kemasan botol.
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Daerah ramai terdekat adalah Bonggo. Lagi-lagi sekitar dua jam. Kami kembali melewati desa yang sunyi dengan satu bangunan gereja yang menonjol, sekelompok putra-putri Papua sepulang dari sekolah yang berjalan kaki di pinggir jalan, dan banyak jembatan.
Di era sekarang, jembatan sudah banyak yang dibangun. Awal-awal tahun 2000-an, setiap kendaraan harus menaiki rakit untuk menyeberangi sungai. Kini sudah tidak ada lagi. Pembangunan infrastruktur sudah dinikmati oleh masyarakat.
Kalau kami mengamati di sepanjang Jalan Trans Sarmi—Jayapura ini, masih ada sekitar tiga jembatan besar yang sedang dalam proses pembangunan. Jadi kami masih harus menggunakan jembatan kecil di sisi jembatan yang sedang dibangun.
Selain itu, ada jembatan kayu yang hanya cukup untuk satu kendaraan. Ada pula satu jembatan besar yang lantainya masih terbuat dari kayu, bukan aspal. Lebarnya pun hanya memungkinkan satu kendaraan berada di atasnya dalam satu waktu. Yang membuat kami sedikit tertegun, truk-truk berkapasitas besar juga menggunakan jembatan tersebut. Untungnya, volume kendaraan di jalan ini tidak banyak. Kami tidak perlu menunggu atau mengantre ketika menyeberang.


Perjalanan ke barat ini lama kelamaan akan mendekati bibir pantai ketika memasuki Kabupaten Sarmi. Jalanan pun tidak selamanya mulus. Ada sebagian jalan yang masih dalam proses pengerjaan. Permukaannya belum diaspal, masih berupa lapisan batu. Menurut saya, Jalan Trans Sarmi—Jayapura ini masih lebih baik daripada jalanan Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara di tahun 2013—2017. Dulu, sewaktu saya masih bertugas di Tapaktuan, Aceh Selatan, dan melewati jalan itu, saya pasti terbangun dari tidur karena jalannya yang rusak parah.
Semburat jingga menghiasi langit sore di perbatasan kota Sarmi. Selalu saja suguhan itu mengingatkan saya pada sore di Tapaktuan ataupun di Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Tubuh saya di sini, tetapi pikiran saya melanglang buana ribuan kilometer ke daerah paling barat Indonesia. Setara dengan bentangan dari Reykjavik di Islandia ke Nicosia di Siprus. Alamakjang …
Saya membuka jendela membiarkan hawa petang memasuki kabin mobil. Barangkali, dari udara yang masuk itu, saya akan menemukan molekul kenangan yang sama seperti di sana.
“Kita langsung ke KP2KP Sarmi atau ke hotel dulu, Pak?” tanya Mas Anis.
“Langsung saja, Mas. Kita ke hotelnya sekalian capeknya,” jawab saya.
Dan perjalanan ini telah sampailah kepada saat yang berbahagia pada pukul 18.24 dengan selamat sentosa mengantarkan kami ke depan pintu gerbang Kantor Pajak Sarmi, yang sederhana, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Kami turun dari mobil. Namun, Mas Yudha belum terlihat. “Pak Bos masih mencari udang, nih,” jawab Bang Diego, salah satu pegawai KP2KP Sarmi yang sedang mengeluarkan isi perut ikan kerapu.
Akhirnya kami kembali ke hotel. Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian, kami kembali lagi ke KP2KP Sarmi. Kali ini, suasananya sudah berbeda. Mas Yudha Daiz, Bang Diego, dan teman-teman PPNPN KP2KP Sarmi sudah berkumpul. Di hadapan kami telah terhidang ikan kerapu bakar, tumis kangkung, dan sambal dabu-dabu nan menggoda.
Saya menaruh satu ekor kerapu di piring dan mencungkil dagingnya dengan tangan. Daging putih itu terlepas begitu saja dari tulangnya. Saya mengambil sepotong, memasukkannya ke mulut, lalu berhenti sebentar.
Lembut. Gurihnya pelan-pelan memenuhi mulut, disusul rasa manis yang tertinggal setelahnya. Saya mengambil potongan berikutnya. Kali ini tidak perlu banyak bumbu. Ikan itu sudah cukup berbicara dengan rasanya sendiri.
Ternyata perjalanan hampir tujuh jam dari Jayapura bisa dilupakan sejenak hanya oleh sepiring nasi dan seekor kerapu bakar yang belum lama ditangkap nelayan Sarmi.
Usai itu, dengan kopi V60 seduhan Mas Yudha, kami mengobrol sampai malam, membicarakan banyak hal, KP2KP Sarmi, mutasi, dan rencana besok.
Perjalanan yang lebih eksotis lagi. Perjalanan menjumpai harapan. Perjalanan menemui 29 anak-anak lugu itu.


***
Riza Almanfaluthi
12 September 2026
Ini saya tulis tak lebih sebagai catatan perjalanan. Catatan lainnya bisa dibaca lebih banyak lagi dalam tautan berikut: https://rizaalmanfaluthi.com/category/papua/
Kalau teman-teman berkenan memiliki buku Di Depan Ka’bah Kutemukan Jawaban, buku Kita Bisa Menulis, dan buku lainnya atau ingin menghadiahkan buku-buku tersebut kepada orang tercinta, bisa pesan lewat tautan ini:
https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi