AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA


AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA

 

Sabtu malam Ahad sebelum Ramadhan, kami bertiga—saya, Ayyasy, dan Kinan—menjemput Ummu Haqi dari sebuah hotel di Bogor tempat konsinyering sehari penuh itu diselenggarakan. Nama hotel itu adalah Hotel Sahira, tepatnya di jejeran Jalan Paledang. Kalau saya cuma tahu jalan itu identik dengan nama penjara.

Hotel itu dekat ditempuh dari stasiun Bogor. Jalan kaki bisa atau naik ojek juga bisa. Hotelnya terlihat bagus. Tampak depan bangunan bercita rasa zaman keemasan kolonial Belanda. Sepertinya juga hotel ini hotel syariah karena ada larangan untuk membawa minuman keras dan pasangan yang bukan mahrom untuk menginap. Di setiap kamarnya ada Alqur’an dan terjemahnya serta sajadah untuk shalat.

Untuk kami disediakan satu kamar buat bermalam sampai besok tetapi karena ada agenda yang tak bisa ditinggalkan oleh saya maka kami putuskan untuk pulang saja. Nah, sebelum pulang itu saya sempatkan untuk menjepret Ayyasy dan Kinan di samping unta yang sedari tadi mematung di lobi hotel yang interior dan pencahayaannya cukup bagus.

Selamat dinikmati saja fotonya. J Omong-omong tentang Bogor banyak sekali tempat eksotik untuk dikunjungi. Bogor bisa disamakan dengan Bandung. Yang membedakan adalah hujan, pohon, kijang dan rusanya. Satu lagi kata orang sih…perempuannya. Ah, ada-ada saja. Suatu saat kami akan sempatkan untuk jalan-jalan di sana. Eksplorasi lebih dalam dan lama.

Ini yang terakhir. Beneran terakhir. Sumpah. Kalau ke Bogor melewati istana Bogor dan di halaman luasnya menemukan banyak binatang mamalia seperti kijang dan rusa maka yang menjadi pertanyaan adalah apa bedanya kijang dengan rusa? Saya tanya saya jawab sendiri. Kalau kijang itu punya totol-totol sedangkan rusa tidak punya. Membedakan jantan dan betinanya bagaimana? Yang jantan itu punya tanduk sedangkan yang betina tidak.

Jadi kalau ada yang bertotol-totol dan tidak bertanduk itu namanya adalah kijang betina. Jangan salah sebut yah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

merdekalah kita

11.28 17 Ramadhan 1432 H

 

 

Tags: bogor, paledang, stasiun bogor, kijang, rusa, hotel sahira, kolonial belanda, belanda, istana bogor, bandung, kinan, ayyasy

DI SEBUAH KETINGGIAN


image

Pagi ini setelah kuliah shubuh, sesaat mau pulang ke rumah, hati kok tergerak untuk menangkap pemandangan pagi  yang sejuk ini. Masih banyak kabutnya yang bertengger di pucuk- pucuk pepohonan di kejauhan sana. Suasana masih sepi. Orang mungkin masih bergulung dengan selimutnya sehabis sahur tadi.
Jalan lurus ini adalah jalan depan rumah. Satu yang ada di hati pada pagi ini bersyukur tinggal di Bogor yang hawanya masih sejuk.
Jangan dilupa kicau burung-burung di pagi ini terasa gaduhnya. Seperti menyambut suasana hati saya yang sedang bahagia di Ramadan Mubarak ini.
Ya Rabb jangan kau cabut kebahagiaan kami di pagi ini sampai akhirnya.
Dan….
Ya benar, selalu akan ada banyak yang dilihat di atas ketinggian.
Pagi semua.
***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara.
Perpisahan juga adalah pertemuan yang salah tempat.
14 Ramadhan 1432 H
06.17

sekarat


sekarat


kata orang
aku tak layak mengharap debu cintaMu
apatalah lagi mengharap remah kasih sayangMU
aku adalah pendosa di bawah kaki gunung maksiat

kata orang
aku tak layak berteduh di pohon maafMU
apatalah lagi berenang di samudera ampunanMu
aku adalah pendosa berbaju kesombongan

kata orang
aku tak layak mencium bau surgaMu
apatalah lagi meminum telaga KautsarMu
aku adalah pendosa buat para tetangga

tapi kataMu

rahmatMU adalah bilangan yang tak terhingga

pada hambaMu yang terpilih

oh, di tepian maut yang mencekik leher

aku sungkurkan hidupku yang tinggal sedikit

aku tak mau menjadi fir’aun

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Diikutkan dalam lomba menulis puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

 

Gambar dari sini.

m u h a s a b a h


muhasabah


saat KAU tiada di hati

gelisah itu sudah pasti,

nelangsa apalagi,

sepi mesti,

sedih tak pernah menyisih,

perih tibalah merintih

apalagi setelah ini?

sajadah panjang dicari-cari

sepertiga malam ditelikung berdiri

untuk qalb menjadi suci

putih

itu jika taubatku KAU kehendaki

aduuuh

jika tak

hiduplah yang perlu disesali

Rabb, bisakah aku dapatkan pintu surgawi

dengan kantung penuh duniawi

bekal yang tanpa isi

di hari ini

dalam kesendirian di lain sisi

sebuah introspeksi

menjadi setengah mati

untuk menggapai cintamu Ilahi

terimalah

terimalah

terimalah

***

 

Riza Almanfaluthi

10.53 Lantai 19 24 Juni 2011

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

P A K U


paku

*


kata-kata

hangus terbakar oleh pening

pada tengah malam yang mengguncang jiwa

karena sepinya

karena rapuhnya

sebentar lagi sepertiga malam terakhir anggun datang

seperti khalifah berdiri di atas karang kemenangan

di setiap medan-medan pertempuran

aku menggigil dipeluk bekunya air wudhu

aku tak menyerah pada detik-detik yang memanggul lena

pada hangatnya selimut

pada empuknya tilam

pada gemerlapnya mimpi

dan lalu aku ciumi sudut-sudut sajadah di setiap milimeternya

menyatukan diri, berusaha moksa,

mikraj mencariMu

dipilin dengan ribuan pinta usir derita

ribuan harap penuh ratap

“masih Kau dengar semuanya ini Rabb?”

dari hambaMU yang berpaku dosa di sekujur tubuh

***

Riza Almanfaluthi

Diikutkan dalam Lomba Menulis Puisi Al Amanah Fair Kementerian Keuangan

Juni 2011


Sumber gambar


Mata Api


mata api

**

 

 

 

 

 

 

aku dekap hujan yang datang seketika padaku di sore hari ini

ia menangis, mengadukan berpuluh kesah

karena sungai yang tak mau terima

pohon yang tak mau tumbang

awan yang tak mau hitam

dan tanah yang tua

ia tak tahu

kalau aku

harusnya yang dipeluk

karena setangkai biru berduri

yang mendadak menusuk jantungku

hingga menembus tulang belakang, dan aku

hanya bisa merintih, merintih, dan merintih tak berkesudahan ini

lalu aku tatap hujan

tepat pada sepasang bola matanya

menembus ke relung terdalam

dan aku masuk ke labirin menyesatkan

yang tak tahu ujung dan arahnya

mencari sebuah tanya, bukan jawab

sembari itu aku masih lihat di sudut matanya

ada bening yang bertengger abadi

tidak butuh untuk jatuh dan lalu sirna

agar tetap menjadi saksi akan sebuah peristiwa

di saat itulah aku tergugah

bagaimana mungkin akan ada jawab jika tak ada tanya

aku hanya terdiam

saat isak menjadi iramanya

bahkan saat aku menjadi api

lihat !

aku adalah api yang dipagut hujan

tetap membara
sampai aku lipat dirinya

mengalungkannya di atas leher

dan berjalan menuruni tebing

di bawah sana

ada jeram yang kuat

untuk aku terjun

dan pergi ke laut

aku menjadi salmon

bermantel hujan

bersisik biru

dengan sepasang mata api

:dengarkan aku

***

Riza Almanfaluthi

4 Ramadhan 1432 H
Kebahagiaan adalah kesedihan yang salah tempat.

Gambar

baut


baut


dalam ramai

di atas jembatan penyeberangan

ada sedih terlukis di tangan-tangan lusuh hitam dan bau

tengadah dan sedang menunggu lemparan kertas bergambar para pahlawan

atau koin logam yang berisik jika timpa pada mangkuk-mangkuk jelek

gurat hidup yang durjana terpatri pada wajah ibu

di samping anak perempuan yang lelap dipeluk bulan

pak bu

sedekahnya buat makan

terucap getir mengguncang malam-malam yang lapar

dari apa yang sudah terkumpul

banyak atau sedikit

mustad’afinlah mereka

dan hidup tak berhenti di situ

di bawah jembatan

sudah menunggu laki-laki bermuka minyak

menunggu setoran

ah…di mana-mana laku culas selalu ada

aku rindu Umar al Faruq membawa sekarung gandum di tengah malam

kini para Umar itu masih bergelut dengan selimut hangat

kasur empuk, tv kabel, dan satpam yang menjaga

tak jauh-tak jauh

dari jembatan penyeberangan itu

dan aku hanya baut padanya

tak bisa berbuat apa-apa

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

17 Juni 2011

Ikut disertakan dalam Lomba Menulis Puisi Alamanah Fair Kementerian Keuangan

Sumber gambar: di sini

taring


taring

dik…,istriku yang baik

izinkan aku bercerita nestapa di atas kertas pikiranku

yang mengelana tak karuan di shubuh ini

di belantara jakarta, di atas getaran kaca jendela bus,

semata-mata untuk aku dapat tepat waktu menaruh jari di mesin absen,

dengarkan saja ya dik…jangan kau sela

aku hanya mau curhat, agar bebanku lepas, dan tidak menjadi gila

dik, di negeri ini yang laku adalah skeptis, tak patut disalahkan

karena sepertinya orang sudah putus asa

dengan apa yang dikatakan para pemimpinnya

ketika mereka berkata timur, lakunya adalah barat

ketika mereka menulis langit, lagaknya adalah bumi

bahkan jabatan adalah mata air kesenangan untuk diperas

hingga darah yang tersisa, itu pun kalau ada

jika tak ada maka daging-daging yang menjijikkan itu

tak akan tersisa dimakan, oh…kanibalisme menjelma tiba-tiba

jika kau katakan kepada mereka, “amanahlah kalian!”

kau akan jumpai wajah mereka serupa para petaubat

yang mendengarkan ceramah ustadz di pagi hari

sejuk, kalem, indah, seperti ada cahaya yang keluar dari ubun-ubun mereka

tapi dibalik itu, kau tahu dik, ada taring-taring tersembunyi di balik bibirnya

aku takut jadinya…”untung di pagi ini leherku utuh seperti biasanya”

dik, jadinya apa? kau sampai bosan menerima pengemis di depan rumah dan di mana-mana

seperti tiada habisnya dan semakin hari semakin bertambah

bayi dan anak-anak yang seharusnya menikmati hangatnya pelukan kita

menjadi penguasa jalanan,

lalu alam kita ludes dik, ikan-ikan takut di setrum, dibom, dipukat , jalanan karut,

sekolah pada ambruk, banyak orang sakit, fisik, batik, dan suluknya

birokrasi bertambah ribet, kejujuran hanya dilipat di atas jok mobil,

orang-orang semakin keras kepala, tak ada tuh dik, keramahan yang pernah kita nikmati

walau hanya ada di buku-buku pendidikan moral sekolah kita dulu…

iiihh, kejam sekali mereka.

dik…aku benci mereka, benci sebenci-bencinya

tapi tahu tidak dik, entah kenapa mulutku ada yang tidak biasa

sebelum berangkat tadi, saat kau masih tertidur pulas di ranjang

aku berkaca, ada tumbuh taring dik…tumbuh taring!!!

aku ingat, kemarin, tasku bertambah berat dik, ada kertas warna merah, banyak-banyak sekali

tuh masih di sana…di dalam tas. aku menangis dik, aku tak mau jadi mereka

tapi aku tetap jadi mereka.

sebelum shubuh nurani berperang, hati menjadi kurusetra

dik, pagi ini aku mau kembalikan semuanya

dan aku akan benturkan kepalaku ini di lantai masjid yang dingin dhuha nanti

akankah aku temukan DIA?

**

Riza Almanfaluthi

Diikutkan dalam lomba menulis puisi Alamanah Fair Kementerian Keuangan.

EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU


EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU

 

Tak dinyana saya menemukan banyak buku bagus waktu pergi ke toko buku Gramedia di ITC Cibinong, Rabu petang (29/6). Selain bagus sudah barang tentu murahnya itu yang  membuat saya tertarik sekali. Seperti biasa yang saya cari pertama kali di toko itu adalah bukan buku-buku yang terpajang di rak-rak utama di bagian dalam toko. Tetapi pada buku-buku yang tergeletak tak beraturan di lapak-lapak khusus buku murahnya.

Bayangkan buku Membongkar Kegagalan CIA dijual cuma 35 ribu perak. Namun bukan buku itu yang saya pilih, karena saya sudah baca bukunya di Perpustakaan Kantor Pusat DJP. Selain itu ada buku-buku yang seharga semangkuk bakso atau satu gelas jus buah. Berkisar angka 5 ribu sampai dengan 10 ribu rupiah. Nah yang ini baru saya beli. Murah tapi tidak murahan. Dan perasaan saya saat membelinya seperti membeli satu kilogram emas batangan yang dijual cuma dengan harga 1 gram saja.

Ada lima buku yang saya beli. Bukunya tebal-tebal lagi.

  1. Pahlawan Zaman Kita, sebuah novel yang ditulis oleh Penulis Rusia, Mikhail Lermontov , harganya cuma 10 ribu rupiah. Tebal 200 halaman.  
  2. The Long Tail: Ekonomi Baru dalam Bisnis dan Kultur, Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas, Chris Anderson, harganya sama cuma ceban. Tebal lebih dari 287 halaman.
  3. Bidik, Novel Dengan Dua Sisi. Sisi 1: Lomotions, Sisi 2: Loko Motive. Sebuah novel yang ditulis oleh Nugroho Nurarifin.  Harganya goceng saja, lima ribu rupiah. Tebal 264 halaman.
  4. Orang Batak Berpuasa, buku yang ditulis oleh Baharuddin Aritonang. Harganya cuma 10 ribu rupiah saja.
  5. Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Jilid 3. Merupakan buku yang direkomendasikan oleh Tutor pada waktu workshop menulis untuk dimiliki. Sayangnya yang ada cuma jilid ke-3. Tidak ada jilid ke-1 dan ke-2 nya. Harganya? 10 ribu rupiah. Tebal 224 halaman.

Sampai tulisan ini dibuat buku yang sudah saya baca adalah Novelnya Mikhail Lermontov dan buku yang sedang saya baca adalah The Long Tail. Tiga lainnya belum terbaca sama sekali.

Tidak sampai satu bulan kemudian, Ahad kemarin (24/7) saya balik lagi ke toko buku itu. Dan ternyata, waow, buku-buku murahnya tambah banyak lagi dan baru-baru. Maksud baru di sini adalah buku lama yang di bulan sebelumnya belum ada di lapak buku murah. Dan ternyata lagi, jilid 1 dan jilid 2 dari buku Proses Kreatif sudah ada. Sudah pasti saya angkut dua buku itu dengan harga masing-masing cuma 15 ribu rupiah.

 

Tak disangka pula saya menemukan bukunya Jung Chang, Angsa-angsa Liar. Tahu siapa Jung Chang? Dia yang menulis buku bagus tentang Mao. Buku tebal yang berjudul Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui sudah saya baca habis. Waktu itu saya penasaran sama Jung Chang yang bisa bercerita detil tentang Mao dengan segala kekejamannya itu. Eh, malah ketemu buku lainnya itu yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Wild Swan.

Di toko itu, harganya cuma 20 ribu rupiah. Dulu harga buku barunya 100 ribu rupiah.

Walaupun banyak sekali buku murah yang bagus-bagus, saya memutuskan  hari Ahad itu saya beli buku tiga saja. Ada loh buku tentang India dan Cina, juga tentang Perang Troya. Tetapi  nafsu saya harus ditahan dulu. Insya Allah bulan depan.

Yang mengejutkan saya kira buku Proses Kreatif itu hanya sampai jilid 3, baru saja googling ada juga jilid empatnya.

Semoga saja sudah ada edisi murahnya bulan depan.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16.19 25 Juli 2011

 

 

tags: gramedia, itc cibinong, membongkar kegagalan cia, perpustakaan kantor pusat djp, djp, pahlawan zaman kita, rusia, mikhail lermontov, the long tail, chris anderson, bidik: novel dengan dua sisi, lomotions, loko motive, bidik, nugroho nurarifin, orang batak berpuasa, baharuddin aritonang,  proses kreatif: mengapa dan bagaimana saya mengarang, jung chang, angsa-angsa liar,  mao zedong, mao tse tung,  mao: kisah-kisah yang tak diketahui, mao: untold story, wild swan, india, perang troya.

26 PERMINTAAN


26 PERMINTAAN

 
 

“Mi…saya sudah mengumpulkan doa-doa yang hendak Abi panjatkan di sana. Yang pertama apa coba?”    tanya saya.

    “Paling nikah lagi,” jawabnya.

    “Kok tahu?” tanya pura-pura.

    “Tahulah, tetapi nanti Umi akan balas dengan doa yang lain.”

    “Jangan begitu. Tetapi jawaban Umi salah besar. Bukan itu.”

“Emangnya apa?”

“Abi dan keluarga bertemu muka dengan Allah,” jawab saya, “Itu yang pertama.”

“Yang kedua?”

“Abi, Umi, dan anak-anak bisa satu kavling dengan kanjeng Nabi Muhammad saw.”

“Mustahil…” jawabnya.

“What…? Enggak boleh ngomong kayak gitu. Kalau doa saja sudah dimulai dengan sebuah ketidakyakinan bagaimana doa akan bisa terkabul?”

“Bukan begitu sih, susah soalnya,” elaknya.

“Namanya juga doa. Ya minta saja yang paling tinggi. Dan bukankah kanjeng nabi juga sudah memberitahu jalannya untuk bisa deket-deketan sama beliau? Sayangi anak yatim salah satunya. Tidak ada yang mustahil jika kita minta kepada Allah.”

*

Dialog itu terjadi setelah mendengarkan ceramah manasik haji yang disampaikan oleh Ustadz Muchtar Ilyas di Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor, Sabtu (23/7). Katanya di Indonesia itu tidak ada tempat mustajab untuk terkabulnya doa, yang ada hanyalah saat-saat mustajab. Saya jadi teringat saat-saat itu antara lain adalah di antara adzan dan iqomat, sujud terakhir, di antara dua khutbah jum’at, antara hujan deras dan hujan gerimis, menjelang berbuka puasa. Sedangkan di tanah suci, lanjutnya lagi, selain saat-saat mustajab juga terdapat tempat-tempat mustajab doa salah satunya di multazam.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, silakan berdoa dan minta apa saja kepada Allah di sana. Pakai bahasa Indonesia jika tidak hafal doa-doa dalam bahasa Arab itu. Karena percuma saja kalau kita berdoa tetapi tak tahu apa arti dan maksud dari doa tersebut. Jadi tak masalah berdoa pakai bahasa Indonesia. Setiap kita bukankah punya masalah masing-masing? Maka kumpulkan setiap permintaan, keinginan, dan doa itu, catat, dan kalau bisa dilaminating,” katanya.

    Akhirnya saya berkeinginan untuk merekapitulasi segala keinginan saya dalam bentuk doa yang akan dipanjatkan di sana. Pun, beberapa hari lagi akan datang Ramadhan Mubarak, maka tidak ada salahnya kalau saya rekap segala harap saya itu untuk kelak saya panjatkan kepadaNya di saat yang paling tepat. Kayak kucing yang tekun mengintai mangsanya dan tahu betul kapan saatnya menerkam.

    Yang terpenting pula adalah doa itu senantiasa dipanjatkan secara kontinyu dan terus menerus. Ibarat kucing yang terus lengket dikaki kita, mengeong terus, tak mau pergi sebelum ia benar-benar diberi kepala ikan oleh kita.

Ini dari hati nurani yang paling dalam, setelah dipikir-pikir sejenak dan lama, lalu sebagiannya ditulis spontan dalam waktu sepeminuman teh. Semoga dikabulkan semuanya oleh Allah.

  1. Saya dan keluarga dapat menatap wajah Allah;
  2. Saya dan keluarga satu kavling surga di Firdaus dengan nabi Muhammad saw dan dekat dengan beliau;
  3. Bapak dan ibu selamat dunia akhirat;
  4. Kami sekeluarga dijauhkan dari neraka;
  5. Menjadi orang yang senantiasa mencintai Allah dan dicintai Allah;
  6. Ditutupinya aib-aib dari pandangan manusia di dunia dan akhirat;
  7. Istri shalihat;
  8. Anak shalih dan shalihat;
  9. Anak seketurunan ke bawah cerdas, kuat fisik, mental, harga dirinya, dan sehat-sehat;
  10. Diberikan rizki yang halal, banyak, baik, berlipat-lipat, dan berkah;
  11. Dijauhkan dari hutang;
  12. Bapak diberikan kesembuhan dan khusnul khotimah;
  13. Umur yang panjang dan berkah;
  14. Diberikan akhir yang baik.
  15. Senantiasa bermanfaat bagi yang lain;
  16. Menjadi orang yang gampang berbagi, dengan dunia dipegang di tangan bukan di hati;
  17. Menjadi orang yang pemaaf;
  18. Menjadi orang yang tidak mudah marah;
  19. Menjadi orang yang punya stok sabar yang berlimpah;
  20. Menjadi teman dan tetangga yang baik serta diberikan teman dan tetangga yang baik;
  21. Senantiasa ditunjukkan yang benar itu benar untuk dapat mengikutinya, dan yang salah itu salah sehingga dapat menjauhinya;
  22. Menjadi orang yang mampu untuk menyuarakan kalau hak itu adalah hak, kalau salah itu adalah salah;
  23. Diberikan hati yang peka terhadap penderitaan saudara sedarah dan seiman;
  24. Menjadi orang yang mudah untuk melakukan amal kebaikan;
  25. Dijauhkannya saya dan keluarga dari bala dan musibah;
  26. Masjid Al-Ikhwan senantiasa menjadi masjid yang penuh keberkahan, begitupula dengan RT.11, RW.17, DJP tempat saya bekerja, dan negeri Indonesia yang tercinta.

Itu yang terpikirkan. Itu saja sudah banyak banget. Dan kalau ditulis semua yang baca pasti bosan. Tetapi tak apa celamitan pada Allah asalkan tidak pada manusia. Allah Al Ghoniy. Allah maha kaya. Allah suka sekali diminta. Kalau tidak minta-minta padanya kita kayak jadi orang sombong. Dan dari ke-26 pinta itu inginnya saya rangkum menjadi doa seperti ini:

“Ya Allah jadikan aku orang yang selalu dikabulkan doanya oleh Allah SWT.”

    Jadi tak perlu doa banyak-banyak di waktu dan tempat yang mustajab itu. Cukup itu saja. Kalau diterima Allah, wah di mana saja dan kapan saja bisa doanya selalu terkabul. Enaknya…dan pengennya… . Dasar manusia, pengen enaknya aja. Kanjeng Nabi enggak seperti itu.

    Detik ini ya Allah, kabulkanlah 26 permintaan saya itu dan kabulkan doa seluruh kawan-kawan saya di mana pun ia berada. Amin.

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ada 2 dan 1 surat terkungkung dalam besi terkunci rapat,

dan aku tak punya kuncinya

21.58 24 Juli 2011

 
 

    Tags: muchtar ilyas, bpih, Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor, firdaus,