Syaifuddin Zuhri, Guru SMP, dan PKI


Menyebut nama ini, saya teringat dua orang yang bernama mirip dan peristiwa yang menyertainya. Satu orang berasal dari 30 tahun lampau, satunya lagi peraih bintang dari Sri Paus di Vatican pada zaman jaya-jayanya PKI.

Senior saya di Direktorat Jenderal Pajak bernama Syaifuddin Zuhri meninggal dunia beberapa waktu lalu. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Saya hanya bisa berdoa semoga ia mendapatkan husnul khatimah.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #56: Inilah Caranya Orang Tua Kita Naik Kelas di Surga



“Oh yes, the past can hurt. But from the way I see it,

you can either run from it, or… learn from it.”

~~Rafiki to Simba, The Lion King

Ini catatan terakhir di tahun 2014. Tahun yang akan segera berakhir beberapa jam lagi. Tahun penuh keberkahan karena banyak nikmat yang Allah berikan dan tak sanggup saya menghitungnya. Sekaligus tahun kesedihan karena tiga orang dekat saya meninggal dalam tahun itu sedangkan saya berada di sebuah tempat yang jauh dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #25: TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI


RIHLAH RIZA #25:

TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI

 

 

“Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…” (Umar Kayam, Desember 1982)

**

 

Seringkali menyangka kalau gemericik air itu hanya ada di Bogor, atau tanah Pasundan lainnya. Gemericik air yang menggelitik telinga, menenteramkan hati yang gundah, mendinginkan kepala, dan memancing-memancing setiap yang bermata untuk bisa menyentuh segarnya. Turun dari pancuran atau sela-sela tanah pegunungan. Berkumpul semuanya lalu menjadi besar dan turun kembali menjadi air terjun. Orang Sunda bilang itu curug. Ada seperti Curug Cigamea, Curug Pangeran, Curug Luhur.

Suatu tempat eksotis. Pantas saja para peri kahyangan turun ke bumi. Di serat Babat Tanah Jawi, Jaka Tarub tahu benar akhlak para batari, maka ia ambil satu selendangnya saja, jadilah itu sebuah cerita dari mulut ke mulut yang diturunkan kepada anak cucu. Sebuah mitos untuk memberikan legitimasi bahwa walaupun Mataram didirikan dari keluarga petani, bukan keluarga bangsawan, mereka adalah keturunan anasir-anasir dari langit nan absurd: bidadari.

Ternyata Tapaktuan, negeri 1000 ombak, punya juga persemayaman para dewi ini. Namanya Air Terjun Tujuh Tingkat. Letaknya di desa Batu Itam, di selatan pusat kota Tapaktuan. Tidak ada penunjuk tempat wisata ini. Pokoknya sebelum kita melewati gunung yang kedua ada jembatan, sebelum jembatan ada masjid di sebelah kiri jalan, sebelum masjid itu ada gang atau lorong. Di lorong itulah mobil kecil bisa masuk. Cukup untuk satu mobil saja.

Dari ujung jalan kecil, sekitar 200 meteran, parkirkan mobil di tanah lapang di pinggir sungai. Di atas sungai ada jembatan beton. Dari jembatan itulah kita memulai perjalanan mendaki menuju air terjun yang menjadi penyuplai utama air bersih Kota Tapaktuan ini. Kalau tidak hujan, motor bahkan bisa sampai menuju titik terdekat air terjun sehingga kita tidak perlu kehabisan tenaga dan bisa mengurangi waktu tempuh.

Jika kaki kita mampu berjalan dan nafas kita masih panjang, berjalanlah dari tempat parkir itu. Kita akan temui pemandangan indah saat menyusuri jalanannya. Kita berada di kaki bukit hijau dengan pepohonan lebat nan alami dan juga ladang-ladang penuh pohon pala. Para peladang mendirikan gubug-gubugnya di sana.

Teman saya yang pertama kali berkunjung di sini, biasanya langsung terpukau dengan pemandangan yang ada. Di titik 0 pendakian saja sudah mulai foto-foto. Saya bilang kepada mereka kalau pemandangan di sini belumlah seberapa, nanti kalau kita naik sedikit akan menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Ya betul, naik sedikit saja kita akan disuguhkan bentangan pemandangan laut dan rumah-rumah penduduk di bawah sana. Tunggu, belum. Naik sedikit lagi, di atas batu besar, kita akan punya tempat yang paling baik untuk mengambil gambar dari ketinggian. Pantai, laut, bukit, pohon-pohon kelapa, atap-atap rumah tersaji seindah-seindahnya dari kejauhan. Subhanallaah.

Di tengah jalan kita menemui persimpangan. Kalau lurus kita akan menuju tingkat paling atasnya, namun cukuplah hari ini kita ke tingkat empatnya saja. Karena biasanya para pengunjung lebih suka di sana. Di situlah spot yang paling normal untuk didaki tanjakannya dan direnangi kolamnya.

Kurang lebih 500 meter dari tempat kita bermula atau sekitar setengah jam berjalan santai sampailah kita di Air Terjun Tujuh Tingkat. Tingkat paling bawah, kedua, ketiga, keempat, dan kelima berkumpul dalam jarak yang tidak begitu jauh. Ada bangunan yang terbuat dari papan kayu, di pinggir air terjun, di atas ketinggian, tempat untuk berleha-leha sehabis mandi, tempat untuk memandang ke bawah.

Sudah lama tidak berkunjung ke air terjun. Terakhir waktu ada perkemahan di Taman Nasional Gunung Gede, bertahun-tahun lampau. Itu pun hanya lewat. Tidak jebar-jebur serupa Penguin Gentoo di Semenanjung Antartika. Sekarang, ribuan kilometer dari kaki bukit Gunung Gede, di bawah Pegunungan Leuser, saya merasakan kembali kesegaran air pegunungan. Airnya jernih sehingga dasar kolam air terjun bisa dilihat. Tetapi memang jika turun hujan tetaplah membawa material dari atas. Membuat sedikit keruh. Sedikit saja. Airnya tetap bening kehijauan. Yang pasti air terjun ini tidak ada beda dengan air terjun di tanah kerinduan, Bogor. Cuma kurang satu: Degung Cianjuran.

Di air terjun tingkat keempat, area kolamnya cukup luas dan dalam. Ini memungkinkan kita untuk terjun dengan gaya apa saja. Gaya sekelas peloncat indah Olimpiade London atau gaya batu sekalipun silakan. Di sinilah saya kembali memuaskan hasrat masa kecil dulu seperti waktu saya terjun dari ketinggian beton penahan air Sungai Cimanuk, Jatibarang, Indramayu.

 


Pemandangan bawah yang diambil dari ketinggian jalanan menuju Air Terjun Tingkat Tujuh (Foto koleksi pribadi).

Cemmana pula ini awak (Foto koleksi pribadi).

 

Bersama DJ-Ono di depan Air Terjun Tingkat Tujuh. Kok enggak pose berdua? Ini gantian ngambilnya. 😀 (Foto koleksi pribadi)

Gubug di atas air terjun. Bisa memandang segala. (Foto koleksi pribadi).

 

Kalau yang ini Air Terjun Tingkat Keduanya (Foto koleksi pribadi).

Nah yang ini, tingkat keempat. (Foto koleksi pribadi).

 

 

Siap-siap lompat (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pokoknya seru banget dah di sini. Segar, senang-senang, renang-renang, terjun-terjun, selam-selam, foto-foto. Sensasinya beda sekali dengan sensasi saat menjalani kegemaran baru saya di Tapaktuan ini: snorkelling. Sensasi kesegaran dan amannya lebih terasa. Sudah barang tentu lebih aman di air terjun ini daripada di laut. Tidak perlu khawatir binatang laut berbisa, kedalaman palung, dan seretan ombak tentunya.

Tapi sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang, untuk kedua kalinya dompet saya—dengan segala isinya—ikutan mandi. Kali ini mandi air tawar. Hari kemarin, saat snorkelling di tengah laut, saya tidak sadar kalau menyelamnya sambil bawa-bawa dompet di kantung bagian belakang. Untung tidak jatuh. Teman di pantai yang sedang santai-santai bilang, “Di sono
kagak ada warung kenapa bawa dompet segala.” Untuk kedua kalinya pula, apa yang ada di dalam dompet akan dikeringkan lagi. Ini pertanda apa?

Pada akhirnya selain untuk membunuh rindu, maka menikmati keindahan dan kesegaran adalah jalan jiwa mencari sebuah inspirasi. Untuk dituliskan. Dan saya persembahkan kepada Anda. Cukuplah apa yang dikatakan Umar Kayam, “Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…”

Di tengah kebosanan yang menjelma puncak Cartenz, belantara sepi yang menggoda fokus, samudera luas ketidaktahuan tentang apa yang mau ditulis lagi, saya tetap mencoba melanjutkan menggerakkan jari-jari saya di atas papan ketik komputer, sesulit apa pun. Dan menjelmalah ia menjadi apa yang sedang dibaca oleh Anda saat ini. Tentang air terjun yang pada sabitnya, tak ada satu pun bidadari turun dari pelangi untuk saya curi selendangnya.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 Januari 2014

RIHLAH RIZA #21: LALI SELALI-LALINE


RIHLAH RIZA #21: LALI SELALI-LALINE

 

 

Padahal “rindu dendam” atau “cinta berahi” itu laksana Lautan Jawa, orang yang tidak berhati-hati mengayuh perahu memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia diguling oleh ombak dan gelombang, hilang di tengah samudera yang luas itu, tidak akan tercapai selama-lamanya tanah tepi.

Sebuah petikan paragraf dalam novel Buya Hamka yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah. Tapi bagi saya “rindu dendam” atau “cinta berahi” tak sebanding dengan Lautan Jawa. Ia adalah Samudera Hindia. Dalam senyatanya Samudera Hindia telah dijelajahi dengan gagah berani oleh Sulaiman Al Mahiri di abad 16. Belum samudera yang lainnya. Tapi dunia abai. Karena ia orang Arab. Sepatutnya kita tak lali selali-laline. Lupa selupa-lupanya. Padahal selain sebagai seorang penjelajah samudera ia pun seorang penulis yang telah menyumbangkan ilmu pengetahuannya di abad pertengahan tentang ilmu kelautan, astronomi, dan geografi.

**

Kembali saya menaiki sebuah kapal laut setelah belasan tahun lewat. Dulu saya pernah mengarungi samudera menyeberangi Selat Sunda dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni. Waktu itu dalam rangka menghadiri pernikahan sahabat. Sekarang, menuju ke Pulau Simeulue dalam rangka urusan pekerjaan.

Kapal yang akan menyeberangkan kami dari Pelabuhan Singkil menuju Pelabuhan Sinabang adalah KMP Teluk Sinabang. Kapal ini menjadi urat nadi perekonomian dan gerak pembangunan Pulau Simeulue. Jika rusak dan tidak ada penggantinya maka bisa dipastikan 86 ribu lebih penduduk Pulau Simeulue akan mengalami krisis sembako sebagaimana pernah diberitakan oleh media di bulan November 2013 lalu. Waktu itu KMP Teluk Sinabang mengalami kerusakan mesin.

“Barangkali deru mesin kapal laut membelah samudera ini adalah igaumu yang tak pernah sampai menjadi ode. Tak pernah terceritakan.”

Pukul 16.45 kami sudah berada di atas kapal. Kami pun sudah menempati kamar Anak Buah Kapal (ABK) yang disewa selama pelayaran ini. Kamar ABK letaknya di bagian bawah. Lebih bawah lagi daripada tempat parkir kendaraan. Bahkan bisa dipastikan kalau kamar ini berada di bawah permukaan air laut.

Jenis kamar ABK ini macam-macam. Ada kamar yang berisi satu atau dua tempat tidur, ada pula dengan dua ranjang bersusun. Saya menempati kamar terakhir ini. Kamarnya sempit tetapi muat untuk empat orang, berpendingin ruangan, dan bertelevisi.

Sang Nahkoda, Kapten Eko Medianto, seorang Pujakesuma (Putera Jawa kelahiran Sumatera) asal Medan ini memastikan kalau perjalanan pada nanti malam akan berjalan lancar, karena ombak dan arusnya yang tenang. Maksimal perjalanan ditempuh selama dua belas jam, paling cepat sepuluh jam dengan kecepatan 10 knot. Tentunya lebih cepat dan bertenaga daripada kapal “Karimata” di tahun 1927 yang membawa tokoh “saya” dalam novel Buya Hamka tadi. “Saya” selama empat belas hari terkatung-katung di lautan dari Pelabuhan Belawan menuju Jeddah.

Jam lima sore ini seharusnya kapal sudah membunyikan terompetnya yang ketiga kali sebagai tanda dimulainya pelayaran. Tapi walau sudah lewat dari jam lima kapal belum juga menutup pintu jembatannya. “Kita menunggu truk sayuran.  Sebentar lagi datang. Kalau ditinggal kita disalahkan. Ini sembako penting,” katanya.

Saya menaiki dek paling atas. Sebelumnya saya harus melalui dek tengah dengan deretan tempat duduk kelas ekonomi terlihat kosong. Sepertinya pelayaran sore ini ditempuh dengan sedikit penumpang. Di dek paling atas sebagiannya beratap, sebagian besarnya tidak. Di bawah atap ada meja-meja berbentuk bulat di depan meja kantin panjang. Sedangkan di bagian ujung dek yang tak beratap, di sisi yang menghadap ke bagian belakang kapal, terdapat dua kursi panjang, di tengahnya tiang tinggi dengan bendera merah putih berkibar-kibar ditiup angin laut.  Gagah segagah-gagahnya.

Saya menatap air laut di pelabuhan yang berwarna kecoklatan. Seperti warna Sungai Cimanuk di Indramayu. Saya tidak tahu mengapa bisa sampai berwarna seperti itu. Tapi kalau diperhatikan lebih seksama lagi, ini  tampak hanya di permukaannya saja. Ketika kapal berangkat dan mulai membelah air laut terlihatlah lapisan air di bawahnya yang berwarna khas, hijau dan biru. Air coklat itu tipis setipis-tipisnya seperti kulit ari.

Sambil duduk, berdiri, ngobrol, jalan-jalan di sekitar dek, saya sangat menikmati sore itu dari bibir kapal: bau laut, angin kecil, senja, matahari tenggelam, buih ombak di belakang kapal, deru mesin, langit kelabu, perahu nelayan, dan pemandangan segala di kejauhan. Kalau sudah demikian saya jadi teringat cerita pendek yang berjudul Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu bikinan Hamsad Rangkuti dan film Titanic besutan James Cameron. Saya tidak tahu apa yang membuat dua orang itu sama-sama mengaitkan hal-hal ini—laut, kapal, dan deknya—dengan keinginan wanita untuk bunuh diri.  Akhirnya pun sama, wanita itu tak jadi bunuh diri. Sebagai penyedap, ada pahlawan yang mencegah ritual tadi.

Ketika malam benar-benar menelan anak-anak cahaya barulah saya turun ke kamar. Ambil wudhu, lalu shalat jamak qashar, dan memeluk kantuk. Saya benar-benar tidur senatural-naturalnya. Tanpa menjadi Descartes yang bilang, “Aku berpikir, maka aku ada.” Di suatu tempat yang sering menjadi tempat tidurnya, sumber inspirasinya: pendiangan.

 Singkil Sinabang

Dari Singkil menuju Sinabang, Simeulue. (Gambar olah dari google map).

 Singkil Port

Pelabuhan Singkil kami tinggalkan (foto koleksi pribadi).

 

 Dek 1

Tempat terbaik untuk memandang segala, dek paling atas. (Foto koleksi pribadi).

 Dek Atas 2

Sudut lain dek paling atas. Baik pula untuk merenung di suatu malam. Habis senja, ada setumpuk gelombang datang menjadi angan. Dan aku tenggelam dalam lautan kata-kata. (Foto koleksi pribadi).

 

 Kamar ABK

Kamar ABK. Di bawah itu ranjang awak (saya). (Foto Koleksi pribadi).

 

Senja

Senja di sebuah ruang waktu. Namaku langit, dan kamu sebentuk siluet ungu di tepian cakrawala.

 

 

 Ruang Ekonomi

Ruang kelas ekonomi malam itu sepi.  (Foto Koleksi Pribadi)

 

Entah kenapa jam setengah dua malam saya terbangun.               Saya bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Saya naik ke atas, melalui arena luas parkir kendaraan, naik ke kelas ekonomi, dan naik ke atas dek lagi. Sepi. Tidak ada orang sama sekali. Saya duduk di salah satu meja yang ada di sana. Mengambil hp dan menelepon orang di seberang sana. Teleponnya tidak diangkat. Ia masih terlelap di hari jadinya itu. 2 Januari 2014.

Omong kosong! Di tengah laut masih ada sinyal? Ya masih, walaupun seringnya hanya dapat EDGE. Tapi itu sudah cukup. Saya tidak tahu dari menara BTS yang mana sinyal ini didapat? Apa di kapal ini ada menara BTS? Itulah kelebihan daerah ini. Coba bayangkan, sepanjang perjalanan saya dari Tapaktuan ke Singkil sampai di tengah laut menuju Simeulue ini, ketersediaan sinyal akses telepon dan internetnya tidak ada “matinya”.  Walaupun juga ada blank spot tapi itu tidak lama. Di tengah samudera seperti ini saya masih bisa update status Facebook dan Twitter. Tapi jangan harap kalau di dalam kamar atau di bagian bawah kapal. Sinyal tidak ada sama sekali.

Saya memandang ke atas langit. Tidak ada awan yang menutupinya. Di atas penuh bintang. Rasi bintangnya pun tampak. Saya mencoba mencari petunjuk, dalam surat Annahl ayat ke-16 disebutkan, wabinnajmihum yahtaduun, dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Karena saya bukan nelayan apalagi seorang Sulaiman Al Mahiri, saya tetap saja gagal paham mana rasi kalajengking, mana domba jantan, dan mana-mana yang lainnya itu. Kemudian saya pun menatap laut dalam gelap.

Seperti bintang dan malam yang saling berbincang, begitulah semestinya aku dan laut saling memandang.

Saya menggigil sebentar karena angin yang tidak kencang ini. Tapi itu tak mengurangi keinginan saya untuk berlama-lama di sana. Ini tafakur alam setafakur-tafakurnya. Jarang saya mendapatkan suasana trance seperti ini—halah nggaya.

Merenung segala. Saya akui benarlah apa yang dikatakan teman-teman sejawat kalau nilai-nilai di Kementerian Keuangan—selain integritas, profesionalisme, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan itu perlu ditambah satu lagi dengan nilai Kesabaran. Sebenarnya kesabaran masih menjadi subordinat dari nilai-nilai integritas itu: berpikir, berkata, berperilaku, dan bertindak dengan baik dan benar serta memegang teguh kode etik dan prinsip-prinsip moral. Artinya orang yang sabar adalah merupakan bagian dari orang-orang yang teguh dengan prinsip moralnya.

Tapi itu belum cukup. Nilai kesabaran itu perlu dinaikkan menjadi dominan. Tak hanya sekadar menjadi sekunder. Dus, nilai ini sepertinya sudah menjadi nilai-nilai yang telah terinternalisasi dengan sendirinya tanpa diada-adakan dengan kegiatan semacam internalisasi corporate value, in-house training, outbond,  atau banyak istilah lainnya. Sebab satu hal, pegawai-pegawai di Kementerian Keuangan terutama di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) itu sudah sabarnya luar biasa.

Sabar dengan cacian dan hujatan dari pihak eksternal, sistem di internal, beban kerja, take home pay, cicilan yang menggunung, jaminan kesehatan seadanya, dikasih nilai kecil walau sudah bekerja mati-matian, ditempatkan jauh dari keluarga,  bekerja mencapai target penerimaan tanpa diberi empati, dan lain sebagainya. Luar biasa sabarnya.

Mengapa belum cukup kalau sekadar subordinat nilai-nilai kementerian, karena sabar itu dalam pandangan profetik adalah variabel kemenangan. Janji Rasulullah saw atas orang-orang sabar adalah surga. Nashir Sulaiman Al-Umr, penulis buku Hakikat Pertolongan dan Kemenangan, menyatakan kesabaran merupakan salah satu bentuk kemenangan terbesar. Dengan kesabaran seseorang akan mudah mewujudkan apa-apa yang dicita-citakannya. Begitulah adanya.

So, kalau DJP mau target penerimaannya—sebagai target kemenangan—tercapai manfaatkanlah sumber daya melimpah berupa kesabaran para pegawainya dengan baik sebaik-baiknya. Jadikanlah ini sebagai nilai dominan dari nilai-nilai Kementerian Keuangan. Ah, sudahlah.

Setelah perenungan itu telah menemukan titik zenitnya, jam tiga dini hari saya kembali ke kamar. Namun mata sudah tidak bisa dipejamkan lagi. Bahkan satu jam kemudian ketika tidur saya hampir pulas, pengeras suara dari awak kabin sudah terdengar, mengumumkan kalau sebentar lagi kapal akan berlabuh. Refleks saya bangkit dari ranjang dan membangunkan teman-teman yang lain. Kami pun segera berkemas.

Pelabuhan Sinabang masih tampak gelap. Waktu shubuh masih jauh. Kami turun belakangan daripada penumpang yang lain. Hari ini terbayang kami akan melakukan apa saja. Di pelosok ini, kami bekerja, maka kami ada.

Tak akan pernah lali selali-laline perjalanan tadi.

 

***

Catatan: Siapa pun adanya yang tidak setuju dengan tulisan feature ini silakan bikin tulisan setara, jangan sms, dan jangan email, jangan menggerutu, apatah lagi telepon. 😀

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

8 Januari 2014

 

BULAK DALAM REMAH-REMAH SAJAK


BULAK DALAM REMAH-REMAH SAJAK

 

 

empat puluh katanya ekor monyet

yang membelit pohon-pohon

di atas nisan-nisan terbujur kaku

berdebu dan baru

aku jatuh dalam bayang-bayang

berwindu-windu lalu

di sebuah akhir ramadhan

dan syawal yang cuma segaris

dari tahun ke tahun

dengan tukang becak yang mengayuh peluh

atau kaki Werkudoro yang mendorongku ke sana

ke sebuah festival

mencumbui pasar malam

dan aku tersasar dalam kerumunan martabak, tahu petis, arum manis

bahkan aku menjadi pertapa

di bawah biduan-biduan Jakarta

moksa dengan tangan, kaki, tubuh

tersandera nada-nada dari seruling dan kendang

seketika aku tak tahu ada 40 pasang mata menatap cemburu

dari atas semak belukar yang gelap

atau dari riuh orang-orang yang memasuki gua hantu

atau dari cipratan adrenalin mesin-mesin retak

atau dari bawahku tulang-tulang

terserak gembira dalam sunyi

bermalam-malam cahaya menjadi bunting

melahirkan banyak anak

setelah matahari terbit yang ke sekian usailah pesta

pesta yang tak abadi

yang abadi cuma

empat puluh katanya ekor monyet

yang membelit pohon-pohon

***

Riza Almanfaluthi

di sebuah Bulak

di sebuah Jatibarang

22:28 25 Agustus 2013

 

Gambar diambil dari sini.

M A S T A R A


M A S T A R A

Namanya Pak Mastara. Ia adalah guru SD saya sewaktu menuntut ilmu di SD Negeri Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, puluhan tahun lampau. Pada masa muda, dalam pandangan saya, ia ganteng seperti Obbie Mesakh. Ia menikahi teman sejawatnya yang cantik, namanya Ibu Dahlia, guru saya juga.

Tubuhnya atletis. Maklum ia adalah guru olahraga. Orangnya baik. Jarang atau bahkan tak pernah marah. Tulisan latinnya bagus banget. Bisa dilihat pada raport SD saya yang sekarang masih terdokumentasikan dengan baik. Dia juga wali kelas kami di kelas VI.

Yang saya ingat betul darinya adalah ia yang mendampingi saya untuk setiap lomba. Terutama lomba baca puisi. Atau sewaktu ada acara 17 Agustusan. Dia yang buat puisinya lalu saya yang membacakannya di malam acara puncak HUT RI. Satu hal yang saya menyesal dan tak akan pernah lupa dari ingatan saya sampai sekarang dan nanti adalah saat saya lalai atas permintaannya.

“Jangan lupa bacakan siapa pencipta puisi itu,” ingatnya sambil menyerahkan teks puisinya.

“Iya Pak,“ jawab saya.

Tapi apa lacur, panggung memberikan aura gugupnya pada saya. Demam panggung pun melanda. Saya cuma membaca judulnya saja. Tak ada nama Mastara—sebagai pencipta puisi itu—saya sebut setelahnya. Barulah saya sadar waktu setelah turun panggung ketika diingatkan olehnya. Tapi ia tidak marah.

Setelah dewasa saya baru paham apa pentingnya penyebutan namanya itu. Ini sama pentingnya saat nama pencipta lagu tertulis di layar televisi saat sebuah lagu dinyanyikan oleh Sang Penyanyi. Momen itu sampai sekarang masih saya ingat. Panggungnya. Tempatnya. Suasana riuhnya. Malamnya.

Yang masih saya ingat betul juga adalah pada saat ia memimpin pemanasan waktu jam olahraga. Terus waktu dia mengajar di kelas. Terus waktu dia memberikan les pada kami. Dia menyalin dari buku teks kecilnya. Terus ingat kalau ia pernah pakai jaket yang di belakangnya tertulis Prajabatan. Dan masih banyak lainnya yang saya ingin ceritakan sih sebenarnya. Cuma saya takut ada bagian-bagian yang tidak pas karena lupa.

Nah, waktu tadi malam (Senin, 14/01) sewaktu saya menunggu maghrib dan menunggu perjalanan KRL lancar kembali setelah Stasiun Pondok Cina diblokir para pedagang kaki lima dan mahasiswa, saya sedang ingat Anis Matta. Ada kaver buku Anis Matta yang menurut saya posenya persis pose Obbie Mesakh di sampul album lawasnya. Maka saya cari di Google. Nah ketika gambar Obbie Mesakh muncul saya pun langsung teringat sama Pak Mastara.

Sekarang kan zamannya facebook, mungkin Pak Mastara ikut gabung di sana. Maka saya ketik namanya di Google. Ada. Ada satu tautan yang mengarahkan saya pada blog SD Negeri 2 Jatibarang. Ada namanya juga di sana. Saya klik. Jreng…

clip_image001

Pak Mastara paling kiri. Klik untuk memperbesar. (Sumber gambar dari sini)

Awalnya saya tak langsung mengenalnya. Tapi lama-kelamaan akhirnya saya ngeh juga. Ya Allah…Pak Mastara, kurang lebih 25 tahun lamanya tak bertemu. Waktu sudah merubah semuanya. J Saya sampai pangling. Mungkin beliau juga tak mengenal saya kali kalau ketemu.

Ini blog sudah tak mutakhir lagi. Postingan terakhir tanggal 17 Juni 2009. Saya tak tahu apakah ia masih aktif mengajar di sana atau tidak. Ia menjabat sebagai bendahara sekolah pada saat itu. Dari blog lain yang saya lacak beliau juga sebagai panitia Pembangunan Masjid Komplek Perumahan Jatibarang Baru Indah tahun 2010. Ngomong-ngomong saya ucapkan terima kasih kepada pemilik blog ini yang sudah memberikan jalan pertama terikatnya silaturahim saya dengan beliau.

Dengan menuliskan ini saya cuma mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau. Saya doakan semoga beliau sehat-sehat saja dan semoga Allah memberikan yang terbaik atas jasa-jasanya sebagai guru yang telah mendidik saya dan teman-teman yang lain. Inilah amal yang tak akan pernah putus pahalanya.

Buat teman yang tahu keberadaan beliau, sampaikan salam hormat saya kepadanya. Salim. Semoga Allah mempertemukan kami di darat di suatu saat nanti. Amin.

**

clip_image003

Bangunan kotak adalah SD Negeri Pendowo I sampai dengan Pendowo V. Bagian sebelah kiri adalah Sungai Cimanuk, tempat saya main dan berenang di waktu kecil. Ada buayanya di sana. Sekarang buayanya pindah ke Android jadi Swampy di Game Where’s My Water? ^_^

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15 Januari 2013

13:56

Tags: Mastara, SDN Jatibarang 2, SDN Pendowo I, SDN Pendowo V, Pendowo I, Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, Swampy, Where’s My Water, Cimanuk, Sungai Cimanuk, SD Negeri Pendowo V, Dahlia, Anis Matta, Obbie Mesakh, Stasiun Pondok Cina, SD Negeri Pendowo I

Krupuk Mlarat


Krupuk Mlarat

    

Kalau pulang kampung maka yang saya cari adalah krupuk mlarat. Lebaran kali ini, pas silaturahim ke rumah bibi, selain masakan khas lebarannya ternyata ia telah menyediakan krupuk kesukaan saya itu. Krupuk yang digoreng di atas pasir panas dan harganya murah itu menjadi pelengkap hidangan yang pas.

 

 

Riza Almanfaluthi

09.28 06 September 2011

Diikutkan di Share Stories Indosat

http://ads2.kompas.com/indosatsenyum/share_detail.php?idartikel=190

Di like aja… J

Gambar diambil dari sini.

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN


DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN

 

Lama waktu berjalan tanpa sanggup mengingatkan saya untuk melakukan obrolan santai bersama kucing jantan yang satu ini. Bulunya didominasi warna putih, ada warna hitam di telinga kiri, punggung, dan ujung ekornya.

Baru kali ini di rumah saya ada kucing pejantan yang manja, mau dielus-elus, dan tak jiperan sama manusia. Kalau disapa push push, ketika lagi jalan santai, dia berhenti lalu menengok ke arah suara, melihat sebentar yang menyapanya itu bawa daging atau enggak, kalau enggak dia jalan saja terus. Cool.

Sering masuk rumah dan hobi banget menggosok-gosokkan
badannya di kaki saya. Tapi memang satu yang kurang ajar dari binatang ini adalah menyemprotkan air seninya sembarangan. Biasalah tabiat pejantan untuk menandai daerah kekuasaannya dengan cara itu. Pun, untuk memberitahu kepada kucing betinanya kalau dia itu available, jomblo, sendiri, siap untuk kawin. Yang jenis kelamin sama, “awas loh, gue siap bertarung dengan elo,” itu yang dipikirkan oleh kucing jantan ini.

Punya nama? Ah, enggak. Saya enggak pernah menamainya. Sempat berniat untuk memberi namanya dengan kucing garong. Kelakuannya memang begitu kok. Dia itu malu-malu kucing sama kita, di depan penurut banget. Tapi kalau kita enggak ada di depan matanya. Dia siap untuk menggarong apa saja. Lauk di atas meja atau kelinci yang di kandang di depan rumah habis disikat.

Ibu-ibu tetangga saya pun komplain, “Bi… hati-hati loh Bi sama kucing itu, digebukin sama sapu juga enggak mau keluar dari rumah, tukang nyolong pula.” Kucing jantan itu kalau dengar omongan sinis dari ibu-ibu itu dengan santainya cuma bilang: “ngeong…ngeong.” Bukankah sudah dibilang, rumah saya pernah dijejali dengan semprotan air seninya, maka karena ia merasa bahwa rumah ini sudah jadi daerah kekuasaannya, bahkan istananya yang terindah, digebukin juga kagak mau keluar dia.

Herannya dia tahu betul tempat yang enak buat melingkarkan tubuhnya dan tidur pulas. Di sofa, di bawah televisi, atau di kursi belakang dekat meja dapur. Kalau sudah begitu, suara mercon juga enggak bisa membangunkannya. Lebay sih pengungkapan demikian.

Mana mungkinlah, soalnya anjing saja yang pendengarannya lima kali lebih tajam daripada manusia kalah dua kali dibandingkan kucing. Artinya manusia kalah 10 kali pendengarannya. Jadi kalau manusia jika tidur cuma bisa mendengkur dan mimpi, kucing tambah satu lagi, telinganya bisa jadi radar untuk mengetahui yang datang menghampiri dirinya itu kecoa, tikus, tokek, atau manusia yang bawa penggebuk.

Nah, hari ini dia datang lagi ke rumah saya. Enggak mengucapkan “Assalaamu’alaikum” atau “sampurasun duluur” dia masuk dan langsung ke belakang, mengorek-ngorek tong sampah. Walau kita tak mau dianggap saudara sama dia, bukanlah lebih baik mengucapkan salam jika masuk rumah, nah apabila manusia enggak salam kalau masuk rumah seperti siapa tuh?

Sebelum dia pergi karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan di tong sampah, saya ajak dulu ngobrol atau bahasa kerennya saya ingin berdialog dengannya, dialog imajiner.

Riza    : Push, jangan pergi dulu, saya mau bicara sama kamu. (Seperti biasa dia cool nengoknya)

Pejantan: Ada apa pak Tua?

Riza    : Hussss…kan sudah pernah saya bilang dulu, jangan memanggil saya seperti itu dong!

Pejantan: Emang sudah tua, tuh ubannya tambah banyak lagi. Depan dan samping kanan. Mau memungkiri? Kalau enggak mau, gue pergi. (enak banget dia ngomong gue-gue)

Riza    : Oke-oke, saya tak akan memaksa.

Pejantan: Satu lagi gue tak mau bicara politik dulu, Pak Tua. Bosaaaaan!

Riza    : Iya, iya. Lagian siapa yang mau ngajak kamu ngomong politik? Sore ini saya mau bicara tentang …

Pejantan: Tunggu, tunggu dulu! Emangnya gue dapat apa nih sore ini?

Riza    : Halah, transaksional banget sih kamu Cing, kayak politikus di istana itu. Tenang, kita makan bareng sore ini. Buka puasa bersama. Deal or no deal? No Deal? Kamu pergi saja. (Sedikit mengancam, memangnya manusia saja yang bisa ditekan?)

Pejantan    : Ngeong… (Ini pertanda dia menyerah, saya tahu betul kok, kalau bersoal tentang makanan dia keok)

Riza    : Saya mau cerita dulu tentang suatu hal Cing. Ternyata umur seseorang itu bukan penanda dari kedewasaan berpikir atau tepatnya bertambahnya wawasan kita. Jadi semakin tua kita belum tentu wawasan berpikir kita jadi banyak dan luas gitu loh.

Pejantan: Ya…sederhananya sajalah Pak Tua.

Riza    : Contohnya saya ini Cing, hampir 35 tahun saya tuh baru tahu kalau aishiteru itu artinya aku padamu.

Pejantan : Halah ada yang kurang tuh, 5 huruf lagi.

Riza    : Iya saya tahu, tapi tak perlu disebut di sini ah, malu saya. Tapi kok kamu tahu sih Cing?

Pejantan: Dari zaman jebot gue juga sudah tahu.

Riza    : Saya tahunya tuh kalau aku padamu dalam bahasa Inggrisnya ya I love you, bahasa jermannya ich liebe dich, sunda: abdi bogoh ka anjeun, jawa: aku tresno karo kowe, arab: ana uhibbuk, cinanya: wo ai ni, bahasa dermayunya: kita demen ning sira. Itu saja. Tahulah pokoknya dari SMP.

Pejantan: Terus…

Riza    : Waktu baca, saya nemu kata itu. Lalu saya tanya sama orang aishiteru itu apa? Kayaknya heboh banget gitu. Orang yang ditanya malah bilang: “di googling saja.”

Pejantan : Terus…

Riza    : Saya kira awalnya itu nama band Korea yang nyanyiin lagu nobody-nobody. Eh tahunya, itu ternyata aku padamu. Tepuk jidat saya, plak…!!! Oh itu…

Pejantan: Ha…ha…ha…katro. Pak Tua memang bukan lagi zamannya. Terus apa lagi Pak Tua. Di kita mah, di dunia kucing, enggak butuh-butuh itu. Yang penting muka badak dan kuat begadang. Semalaman mengikuti betina, tak bisa langsung diterima gitu.

Riza    : Oh gitu Cing…memangnya enggak ada tuh perasaan berdesir-desir, perasaan jatuh cinta, perasaan bergetar kalau disebut namanya, atau perasaan apapun yang mendominasi orang yang sedang jatuh cinta?

Pejantan: Itu cuma ada di manusia, kita cuma punya insting alami saja. Kalau pun ada itu cuma di walt disney pictures…

Riza    : Oh gitu yah…

Pejantan: Pak Tua, sayangnya manusia kebanyakan lupa.

Riza    : Lupa pegimane Cing?

Pejantan: Berdesir-desir, berbunga-bunga, bergetar-getar, berkebun-kebun itu saat manusia jatuh cinta pada sejenisnya. Berdesir saat disebut namanya, melihat orangnya, melihat gambarnya, saat menerima pesan-pesan darinya, panjang ataupun pendek, saat berbicara dengannya. Ada yang hilang ketika sapaan dan keberadaannya tak kunjung datang. Ada sebuah persatuan yang dicita pada orang yang dicintai. Ini sebuah kelaziman.

Riza    : Wah wise banget Cing.

Pejantan: Belum selesai gue.    

Riza    : Oke teruskan.

Pejantan: Empati menjadi sebuah keharusan. Turut merasakan apa yang dirasakan yang dicintainya. Jika sedih, ia sedih. Jika bahagia, ia pun bahagia. Semua perasaan yang pernah ada di muka bumi yang dimiliki kekasih pun menjadi sebuah perasaan yang turut ia rasakan semuanya. Muncullah tanda-tanda cinta di sana seperti banyak mengingat, banyak memimpikannya, banyak menyebut, kagum, rela, berkorban , cemas, berharap dan ta’at. Masalahnya ketika Yang Nyiptain kita menuntut begitu, manusia sebaliknya.

Riza    : Waduh nyindir Cing.

Pejantan: Ngerasa Pak Tua?

Riza    : Kalau begini saya diam sajalah, dengerin.

Pejantan: Coba kalau ada nama Allah—yang wajib dicinta itu—disebut, gemetar enggak Lo?

Riza     : Saya tertohok.

Pejantan: Atau kalau pesan-pesan dari langit dibacakan bertambah Iman kagak Lo?

Riza    : Saya tertusuk Cing, hiks.

Pejantan: Nah, gitulah manusia. Bersyukurlah gue jadi binatang. Tidak dimintakan pertanggungjawabannya. Elo? Jangan salah ya Umar bin Khaththab saja kalau bisa memilih ingin hidup jadi binatang supaya jangan dituntut di sana.

Riza    : Cing…

Pejantan: Yup.

Riza    : Stop dulu deh sampai di sini. Saya kelu Cing.

Pejantan: Padahal ini baru awal Pak Tua. Masih banyak yang ingin gue sampaikan sama elo.

Riza     : Iya…ya, saya tahu. Tapi nanti saja dulu deh. Tuh daging ayamnya sudah siap. Lagian azan maghrib sudah mau berkumandang. Tapi terus terang Cing dialog kita, dialog kau aku, sore hari ini, menyentuh saya. Kok bisa Cing kamu tahu banyak gitu?

Pejantan: Dengerin ceramahnya ustadz di masjid dan majelis taklim gitu Pak Tua. Gue kesana bukan cuma nyari Cicak yang lagi sial doang.

Riza    : Yah sudah makan dulu aja. (Tumben nih gue baik banget sama kucing pejantan ini). Ohya Cing, sebelum kita mengakhiri ini, walau saya senang kamu, saya tak mau bilang padamu: aishiteru yah.

Pejantan: Halah, najis. Ogah gue juga.

Riza    : Wadaw….

    Akhirnya selesai sudah dialog singkat saya dan dia. Yang pada akhirnya juga dia tetap kucing yang cuma bisa mengeong-ngeong. Saya juga terbengong-bengong. Terdiam dan terlongong-longong. Seperti tersedak oleh biji kedondong. Masak saya ngomong sendiri sama kucing. Untung belum ada yang bilang: Edan!.

    Senyatanya aku gila. Cuma padamu.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Cuma fiksi

08.13 21 Maret 2011

 

Tags: kucing pejantan, aishiteru, dialog imajiner, googling, google, deal or no deal, jepang, jerman, sunda, indramayu, jawa, inggris, korea, nobody nobody

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RINDU LAUT


RINDU LAUT

    Malam ini kembali saya tak bisa tidur. Ada gundah yang membuncah. Ada gelembung yang siap mengapung dan pecah. Ada kata-kata yang tak mau berhenti untuk diucap. Ada pikiran yang tak mau berhenti kembara. Dan semuanya berujung tiba-tiba dengan bangkitnya saya dari peraduan. Lalu menyalakan netbook. Membuka lembaran putih. Kemudian mengetikkan dua kata: rindu laut.

    

Semuanya terbentang. Dengan rasa yang tak tertahankan pada deru gelombangnya. Ombaknya yang tidak pernah muntah menjilati tepian pantai. Anginnya yang menerjang tak pernah berhenti. Teriakan camar cerewet. Bau khasnya yang selalu menggelitiki hidung. Batu karang yang sombong. Pohon kelapa yang menari. Pasir-pasir yang berusaha untuk melembutkan dirinya pada setiap telapak kaki dengan cangkang-cangkang tiram mengilap terselip di sana. Semuanya ada pada benak saya malam ini.

    Dan tanda tanya tiga di belakang sebuah kalimat berikut: kapan lagi saya akan merasakannya setelah hampir 8 tahun lamanya, menyemut di kepala. Rindu laut membuat saya memelas meminta kepada memori yang ada di tempurung otak saya untuk membongkar kenangan dua puluh tahunan lampau.

    Memori itu menemukan serakan-serakan seperti ini. Perkemahan sabtu minggu, upacara bendera di tepi pantai, jilatan ombak, senja, dentingan gitar, perahu di tengah laut, dan lagu kemesraan yang mengalun indah. Ya kutemukan saat itu adalah saat—yang kata Iwan Fals—semoga jangan cepat berlalu. Ada kedamaian di sana katanya lagi.

Sampai sekarang momen-momen itu tak pernah saya lupakan. Karena memang lautnya sendiri cantik dan manis. Ngangenin. Ia pun pandai sekali bercerita. Cerita apa saja. Sampai berbusa-busa. Buktinya betapa banyak puisi dan syair yang tercipta darinya. Betapa banyak lirik lagu dan instrumentalia terinspirasi darinya. Memetaforakan apa saja. Memersonifikasikan siapa saja.

Malam ini saya rindu laut. Pada warna-warna yang seringkali berebutan menjadi warna dominan dalam sebuah kanvas lukisan. Biru muda pada langitnya. Biru tua pada lautnya. Kuning pada mataharinya. Jingga pada senjanya. Putih pada awan-awannya. Hitam dan putih pada pasirnya. Tujuh warna pada pelanginya yang seringkali muncul. Hijau pada nyiur-nyiur yang melambai.

    Malam ini saya rindu laut untuk sejenak melupakan apa yang terjadi. Melupakan segenap yang ada. Hingga waktu ini mau tunduk pada saya untuk segera berputar cepat. Tapi terlihat ia enggan dengan teramat sangat. Apa boleh buat seringkali saya menghelanya dengan keras. Jika diperlukan ada cambuk yang siap dilecutkan padanya.

    Malam ini saya rindu laut sedangkan Citayam jauh sekali darinya. Butuh puluhan kilometer untuk memisahkannya. Di barat lebih indah. Di utara penuh dengan sampah. Di timur kejauhan. Di selatan terlalu ganas. Ya aku akan menuju barat. Tapi setelah malam ini tentunya. Setelah urusan selesai semuanya. Untuk sekadar menuntaskan rindu yang tak tersampaikan.

    Setelah rindu ini selesai, rindu mana lagi?

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dari citayam yang masih terasa gerah

malam ahad hingga 01.40 13 Februari 2011

pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/13/rindu-laut/

gambar berasal dari: sini

 

 

Tags: laut, iwan fals, kemesraan, citayam, pelangi