Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (1): Aku Membutuhkanmu



Foto di depan monitor BIB. (Foto milik Mas Afif)

Preambule

Ria Dewi Ambarwati, nama yang perlu kututurkan pertama kali dalam cerita lariku ini. Ia yang melepaskan kepergianku untuk pergi ke Yogyakarta. Untuk berlari menyelesaikan Full Marathon pertamaku di Mandiri Jogja Marathon 2018, Ahad, 15 April 2018 ini.

Sabtu siang itu (14/4), istriku hanya senyum sambil melet ketika kuberi kiss bye di atas motor abang ojek daring yang akan mengantarkanku ke Stasiun Citayam. Baiklah. “Doamu kubutuhkan buat mengkhatamkan pekerjaan gila ini,” kataku dalam hati.

Baca Lebih Lanjut.

Ketika Bayang-bayangmu


Ketika bayang-bayangmu memelukku
datanglah cepat-cepat,
Ketika malam-malamku merengkuhmu
pulanglah lambat-lambat,
tanganku rerantingmu
matamu jemariku
tertawalah di sabana sepi
tempat duka tak diraya lagi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07 April 2018
Seperti seabad aku tak menulis puisi
Photo by @a_guy_named_eric check his feed out for more.

Berkemih di Kolong Jembatan Cawang


Chubbyrock, ini kucing kampung, jantan, tua-tua keladi, dan bulunya berwarna oranye. Mata kanannya berkabut, jejak luka seusai berkelahi mixed martial arts sesama kucing. Makanya kalau jalan, kepalanya selalu miring ke kanan.

Tubuhnya juga banyak bekas cedera. Entah seberapa banyak pertempuran jalanan yang telah ia lalui, entah dalam rangka memperebutkan betina atau mempertahankan daerah kekuasaannya.

Baca Lebih Lanjut.

Di Mulut Jendela


Aku gemetar untuk jatuh
tapi mengapa mereka gembira
saat runtuh:
tetes-tetes hujan di sore hari

Aku rindu untuk menyala
tapi mengapa mereka sembunyi
saat kumencari:
bayang-bayang senja di barat kota

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 28 Maret 2018

Teka-teki Putri


Di suatu kampung ada lima rumah berderetan yang setiap dindingnya dicat dengan warna berlainan. Penghuni kelima rumah itu berasal dari bangsa yang berbeda-beda: Tajik, Kazak, Kirgiz, Uigur, dan Uzbek. Kelimanya menyukai ragam minuman yang tak sama, senjata kesukaan yang tak serupa, dan memiliki hewan peliharaan dari jenis berlainan.

Si Uigur tinggal di rumah berwarna putih, Si Kazak memelihara babi kate, Si Tajik minum anggur, rumah berwarna hijau berada di samping kiri rumah berwarna kunyit, si pemilik rumah hijau minum air, si penyuka panah memelihara bajing, si pemilik rumah berwarna merah senang bermain cambuk, orang yang tinggal di rumah ketiga atau tepat di tengah minum kahwa.
Baca Lebih Lanjut.

Di Sepanjang Pantura



Ada empat hal yang saya lakukan di atas kereta api ekonomi yang saya naiki kali ini. Menekuri aplikasi percakapan, membanting pandangan ke luar jendela, membaca buku, dan tidur. Dua hal pertama sangat mendominasi betul.

Abaikan upaya bercakap-cakap dengan kawan duduk di sebelah seperti yang biasa saya lakukan. Kali ini di samping saya adalah seorang perempuan generasi milenial yang baru naik dari Stasiun Cirebon menuju Jakarta.

Baca Lebih Lanjut.

Satu Keluarga Dominasi Podium Lari Spectaxcular 2018


Satu keluarga pegawai Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) mendominasi podium Running Tax 5K Spectaxcular 2018 yang diselenggarakan Ditjen Pajak di Car Free Day, Jakarta (Minggu, 18/03).

Mochamad Soleh yang merupakan pelaksana Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bogor menduduki podium tiga pada kategori pria. Di kategori perempuan, anak pertama Soleh, Fauziyyah Khansa menduduki podium pertama, sedangkan istrinya, Evi Erawati menduduki podium kedua. Selain mendapat tropi, mereka memperoleh hadiah uang dengan total nilai Rp6,6 juta.

Baca Lebih Lanjut.

Cinta yang Marah: Kerumitan yang Seharusnya Usai


Jpeg

HARI INI***aku yang tanpa nama berjalan terkatung-katung di antara jutaan aku lain yang juga tanpa nama membawa cinta yang marah dan pisau ke mana-mana.
Halaman 86

Kali ini, buku puisi yang saya selesaikan. Sebuah buku yang ditulis Aan Mansur. Saya beli di Yogyakarta. Kebetulan waktu itu penginapan saya bersebelahan dengan sebuah toko buku ternama di kota itu.

Sambil menunggu Magrib yang akan segera bertamu, saya melihat-lihat banyak buku di sana. Lalu mata saya terpaku pada sebuah buku warna merah ini: Cinta yang Marah.
Baca Lebih Lanjut.

Petitih Aki


Cu, kuberitahu engkau
cara terbaik mematikan rindu:
tidak minum kopi, tidurlah,
dan matikan semua lagu.

Cu, kuberitahu engkau
cara terburuk membenamkan rindu:
berguru pada penyair, bikin puisi,
dan sembunyikan semua bunyi.

Cu, kuberitahu engkau
kalau aku murid gagal,
dari seorang penyair gagal,
gagal membinasakan rindu.

Cu, malam ini aku ingin bersyair.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
16 Februari 2018 ​

Satu Alinea di Pinggir Danau Bohinj


Kepada Air

Aku pernah tersesat di sebuah hutan kelabu tempat engkau mendiami dan mendiangi segala. Engkau yang pernah selalu menyebut huruf-huruf namaku yang telah menghunjam dan merobek jantungmu di setiap waktu. Waktu yang telah berubah menjadi detak-detak jarum jam dinding yang dua-duanya mati menunjuk angka tiga. Mereka dikuburkan di sebuah pusara. Di pinggir danau Bohinj. Di suatu sore, wanginya menyeruak, menari-menari, membaca obituari, untuk mengucapkan sesuatu: Aku mencintaimu seperti aku menyesatkan diriku sendiri.

Tertanda:
Batu

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
28 Februari 2018

Photo by @veraveraonthewall ​