Di Sepanjang Pantura



Ada empat hal yang saya lakukan di atas kereta api ekonomi yang saya naiki kali ini. Menekuri aplikasi percakapan, membanting pandangan ke luar jendela, membaca buku, dan tidur. Dua hal pertama sangat mendominasi betul.

Abaikan upaya bercakap-cakap dengan kawan duduk di sebelah seperti yang biasa saya lakukan. Kali ini di samping saya adalah seorang perempuan generasi milenial yang baru naik dari Stasiun Cirebon menuju Jakarta.


Kami sibuk dengan pikiran dan gawai masing-masing. Dan pada saat itu kantuk sudah mulai menyerang. Mata saya sudah mulai terpejam ketika lamat-lamat saya mendengar ucapan lirihnya meminta izin mencolokkan kabel ke soket yang tersedia di dinding kereta api. Tanpa ia berkata seperti itu pun saya tak akan tahu ia melakukan apa.

Lalu ia meletakkan gawainya itu di tepian jendela. Sebuah tempat yang tak aman. Benda di atasnya akan rawan jatuh. Melihat itu saya langsung berinisiatif untuk mengambil dan memasukkan gawainya ke dalam kantung kursi di depan saya. “Terima kasih, Pak,” katanya.

Sesaat sebelum Stasiun Bekasi ia berkemas, mengambil tasnya, dan melakukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. “Saya pamit dulu ya Pak,” ujarnya. Tiga jam berlalu tanpa bercakap-cakap, tetapi ia masih mampu menunjukkan respons dan interaksi, itu merupakan sesuatu yang wow menurut saya. “Hebat kau, Dik.”

Di waktu lain, di sebuah grup percakapan, ada perempuan generasi milenial yang bertura-tura atas penyelenggaraan kegiatan sebuah institusi. Tentu karena saya adalah orang yang tahu betul bagaimana teman-teman saya telah bekerja keras sedemikian rupa dalam kegiatan itu, maka saya pun protes kepadanya di grup itu. Panjang dan lebar. Sebuah hal yang jarang sekali saya lakukan.

Ia menjawab. Tentu ini akan menjadi perdebatan yang keras. Tetapi saya berusaha menghindari perdebatan dan membawa-bawa perasaan. Saya tak membalas responsnya. Yang penting upaya menjelaskan sudah tertunaikan. Masalah ia menerima atau tidak itu adalah ihwal yang lain.

Sorenya sebuah “japrian” masuk darinya. Soal tadi pagi yang saya malah sudah benar-benar melupakannya. Panjang lebar ia menulis. Ada empat paragraf padat. Bahasanya tertata apik. Kesalahan tulis di dalamnya hampir nihil. Jarang sekali saya menemukan yang seperti ini. Dan paragraf terakhirnya mengesankan.

“Saya tidak tahu bagaimana caranya agar sakit hati Bapak karena kalimat pedas saya terobati. Oleh karena itu, saya di sini berusaha menjelaskan maksud kalimat saya dan meminta maaf kepada Bapak. Mohon maaf kalau kalimat saya dianggap tidak pantas dan melukai hati Bapak atau panitia secara keseluruhan.”

Alinea di atas tidak saya sunting. Itu benar-benar darinya. Tanpa ia berkata seperti itu pun saya tak akan apa-apa. Tetapi menurut saya ini adalah sebuah kesopanan yang luar biasa dari generasi yang ingin serba cepat mendapat kepastian dan jawaban. “Hebat kau, Dik.”

Tidak lama sebelum itu, di masa yang lain, seusai tiba di Stasiun Citayam, jaringan 4G urung rela singgah di gawai saya. Yang ada selalu E. Sudah barang tentu saya tak bisa memakai aplikasi ojek daring yang membutuhkan sinyal sempurna untuk melacak keberadaan saya dan pengemudi.

Di siang terik itu, saya sampai berjalan jauh untuk mendapatkan sinyal. Pasar Citayam sudah terlewati hasilnya sama. Kemudian di tengah peluh yang membanjir di kening, saya menepi dan berteduh di depan toko yang tutup. Di sana berjejer motor yang diparkir. Seorang pemuda milenial duduk di salah satu motor itu sambil asyik memainkan gawainya.

Iseng, saya mengajak mengobrol dengan sebuah pertanyaan untuk mengawali dan membongkar kecanggungan. “Kok sinyal operator ini tidak ada yah. Pakai operator mana, Mas?” tanya saya.

Lalu obrolan pun mengalir seperti aliran Sungai Ciliwung yang lepas dari Bendung Katulampa di musim penghujan, sampai pada akhirnya ia menawarkan diri memesankan ojek daring dengan menggunakan aplikasinya.

Tawaran yang tak mungkin untuk ditampik sekalipun. Ini serupa pelari maraton yang bersua dengan water station di tengah dera lelahnya. Pemuda itu memesan, mau menunggui sampai abang ojek itu datang dan membawa saya walaupun menggeramus waktunya yang lama dan intan. “Aih, hebat kau, Mas. Pekertimu santun.”

Cerita dari para milenial itu menyorongkan kepada saya tentang sebuah kesopanan dan kebaikan yang mereka tunjukkan secara paripurna.

Kalau ada pertanyaan yang ditujukan kepada saya apakah generasi milenial ini adalah generasi yang tak mengenal adab dan sopan santun? Maka jawabannya adalah tidak seluruhnya.

Apa yang saya kisahkan di atas menjadi burhan buat kita semua. Pun, ada banyak dari mereka yang semakin intens mengikuti kajian keagamaan, sebuah mata air kehidupan dan inspirasi yang tak akan pernah habis. Mesti direguk dan direnangi selamanya.

Tak perlu juga kita menyalahkan karena mereka tetap adik-adik dan anak-anak kita. Jangan-jangan kita juga menjadi generasi yang turut andil memberikan pusaka tak elok kepada mereka. Menulis ini, kenapa saya tiba-tiba merasa tua ya?

Ada satu hal terakhir yang kerap saya lakukan di atas kereta api ekonomi yang akan berhenti di Stasiun Jatinegara: mencampakkan pandangan ke luar jendela. Jakarta sudah gelap, tetapi masih menyisihkan kemeriahan yang tak akan pernah usai hingga pagi menjelang.

Di situlah saya insaf, bayangan saya memantul di kaca jendela. Dengan sadar saya memegang kepala tempat tumbuh rambut yang mulai kelabu dan menipis. Pula, tempat tumbuh pohon tanya yang menggergasi seperti ini: “Pekertimu sudah seelok merekakah?”

Mendadak ada yang bergejolak di perut, di hati, dan di ingatan saya.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
24 Maret 2018

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s