Nama yang Kutemukan Teronggok di Pinggir Jalan Aan Mansyur


 

:Sylvia Plath

Puisi yang kautulis sendiri dengan nyeri dan kaubaca pelan di hadapan warnanya anyelir tengah malam. Wewangi mencambuk hasratmu merebahkan kepala di pendiangan, memungut hadir getir di jalan napasmu: metana, hidrogen, nitrogen, karbon dioksida, karbon monoksida pelan-pelan bersembulan. Esok pagi menghitung Desember sayu yang tertinggal di pucuk-pucuk pohon dan anak-anakmu yang baru menjadi piatu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14 Ramadan 1441 H
School photo created by pressfoto – http://www.freepik.com

Cinta yang Marah: Kerumitan yang Seharusnya Usai


Jpeg

HARI INI***aku yang tanpa nama berjalan terkatung-katung di antara jutaan aku lain yang juga tanpa nama membawa cinta yang marah dan pisau ke mana-mana.
Halaman 86

Kali ini, buku puisi yang saya selesaikan. Sebuah buku yang ditulis Aan Mansur. Saya beli di Yogyakarta. Kebetulan waktu itu penginapan saya bersebelahan dengan sebuah toko buku ternama di kota itu.

Sambil menunggu Magrib yang akan segera bertamu, saya melihat-lihat banyak buku di sana. Lalu mata saya terpaku pada sebuah buku warna merah ini: Cinta yang Marah.
Baca Lebih Lanjut.