Cinta yang Marah: Kerumitan yang Seharusnya Usai


Jpeg

HARI INI***aku yang tanpa nama berjalan terkatung-katung di antara jutaan aku lain yang juga tanpa nama membawa cinta yang marah dan pisau ke mana-mana.
Halaman 86

Kali ini, buku puisi yang saya selesaikan. Sebuah buku yang ditulis Aan Mansur. Saya beli di Yogyakarta. Kebetulan waktu itu penginapan saya bersebelahan dengan sebuah toko buku ternama di kota itu.

Sambil menunggu Magrib yang akan segera bertamu, saya melihat-lihat banyak buku di sana. Lalu mata saya terpaku pada sebuah buku warna merah ini: Cinta yang Marah.

Tidak banyak pikir saya langsung mengambil buku itu dan setelah memungut satu buku yang lain saya segera menuju ke kasir.  Lalu temannya yang berada di meja ujung menyampul buku dengan sampul plastik. Rapi sekali. Ribuan buku yang telah disampulnya menjadikan ia seorang ahli.

Butuh seminggu saya membacanya. Terlalu lama memang dengan hanya 21 puisi yang tersaji di sana.

Tapi tidaklah mengapa. Saya ingin mengunyahnya pelan-pelan untuk merasakan betul-betul seperti saraf-saraf lidah yang menikmati getir, manis, asin, pedas, dan asam.

Kalau dibandingkan dengan buku Aan yang lainnya seperti Melihat Api Bekerja, tentu saya lebih memilih buku itu dibandingkan buku ini yang terbit pertama kali di tahun 2007.

Saya setuju dengan Irfan Ramli yang memberikan pengantar dalam buku itu. Ia mengatakan kemahiran berpuisi Aan mampu menyembunyikan peristiwa politik sekaligus kritiknya itu ke dalam bahasa cinta penuh pengertian dan fragmen-fragmen sederhana yang menjadi andalannya dalam berpuisi.

Kumpulan puisi Aan dalam buku ini memang merespons peristiwa reformasi di tahun 1998 yang penghidanganannya dikolaborasi dengan potongan-potongan berita di koran menjelang peristiwa itu dan benar-benar tidak saya baca. Bagi saya potongan berita itu sekadar ilustrasi pendukung dari pemuisian Aan terhadap geger besar itu.

Aan konsisten dalam bukunya ini, dari awal sampai akhir, untuk memakai aku dan kau, alih-alih –ku dan –mu untuk menunjukkan kepemilikan.

Tidak ada yang lebih lagi untuk menuliskan apa-apa yang ada dalam buku itu. Sederhana. Tidak rumit. Tulisan ini juga bukan telaahan serius atau malah kritik sastra. Kualat jadinya untuk merebut pekerjaan para kritikus itu. Sebuah kekualatan yang tentu bukan kekualatan Gunarti, dalam Novel Katastrofa Cinta, perempuan Jawa di awal abad 20, bisa memilih lelaki yang dicinta sebagai suaminya.

Jadi seenak-enaknya saya saja mau menulis apa dan untuk tujuan apa. Selain juga membuat saya terpantik untuk melakukan permenungan dan membuat sebuah puisi setelah membaca buku Aan ini.

 

Langsa, Agustus 1980

Sekarang aku lebih percaya, engkau tak perlu menjatuhkan dirimu untuk patuh pada separuh jiwaku penuh gemintang, selalu berharap nanap kalau matahari dan hujan yang tiba besok pagi tidak akan pernah bersekutu untuk menceritakan malam-malam jahanam kita. Serupa pengelana yang pernah aku ceritakan kepadamu, ia berteduh di sebuah masjid di pinggir kota Meulaboh.  Selalu berharap matahari dan hujan ada di masing-masing saku celananya. Tidak akan pernah hadir ke dunia untuk esok pagi. Ia memang jahanam. Kita kemudian tahu, di saku celananya itu, ada kertas lusuh selusuh-lusuhnya berisi sajak yang ditulisnya dengan ceceran darah dan keringatnya sendiri. Jejak-jejak hujan yang dikeringkan butir-butir matahari masih tampak bercaknya di sana. Kupinjam jiwa dan mulutnya untuk kubacakan sajak itu di serambi rumoh-mu:

Langsa, Agustus 1980

Ranup Lampuan yang kau tarikan
mengisyaratkan marwah sungguh-sungguh
lalu untuk apa memberi sirih?
Ranup Lampuan yang kau tamatkan
mengibaratkan tabah berpuluh-puluh
lalu untuk apa berperi perih?

(Sekarang aku lebih percaya), di antara matahari dan hujan yang ia sembunyikan, ada benang raja tumbuh di sudut-sudut matamu, mataku, matanya.

Merahnya tiada. Ada di jantungmu.

**

Sebagaimana dari awal saya sering mengatakan tentang cara terbaik penikmatan atas sebuah puisi, maka kali ini pula silakan untuk melakukan berbagai penafsirannya sesuai dengan kemampuan.

Seharusnya puisi itu tidak membuat kita berjarak. Puisi itu bukan ruang kemewahan. Puisi bisa diciptakan siapa saja. Dan saya bagian dari orang-orang yang merasa siapa pun, dalam kondisi apa pun bisa membuat puisi.

Sampai di sini saya hanya mau segera mengusaikan anggapan puisi sebagai medan tafsir realitas dari penulisnya. Untuk itu lebih baik saya dan Anda tidak membaca puisi ini lalu berganti dengan membaca yang lain.

Kelak juga, setelah ini pun saya akan membaca novel yang pada beberapa minggu lalu sempat hilang namun telah ditemukan kembali. Saya gembira. Kegembiraan yang sama saat Lord Carnarvon masuk ke dalam ruang makam dan menemukan sarkofagus Raja Tutankhamun.

Ketika saya menuliskan ini, di luar sedang hujan. Saya membuka jendela untuk membiarkan angin dan para sekutunya berbondong-bondong menaklukkan pengap di dalam kamar. Dengan bau tanahnya, ini kembali menyegarkan isi kamar dan ruang jantung saya tentunya.

Dari semua itu puisi keenam dalam buku Aan itu menjadi yang paling saya suka dengan potongan baitnya seperti ini:

Bertahun-tahun kemudian, anak itu sudah gadis dan sungai  itu sudah panjang, mereka sungguh-sungguh bening, bertemu kembali, mereka bermandian, gadis mandi di mata sungai, sungai mandi di mata gadis, sampai tubuh mereka tembus pandang sampai tubuh mereka menghilang.

Sebuah penyajakan yang membuat anak sungai pikiran saya kembali menemukan hilirnya pada sajak Joko Pinurbo yang berjudul Bulu Matamu: Padang Ilalang. Beberapa baitnya adalah:

Ia tak percaya, maka ia menyelam. Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus maha dalam. Arwahnya menjelma pusaran air berwarna hitam. Bulu matamu: padang ilalang.

Sampai di sini kerumitan memaknai seharusnya usai. Cukuplah semampu kita. Ini menjadi perbendaharaan mahakaya dari puisi itu sendiri: rupa-rupa makna.

Pembacaan dan pemaknaan mesti tak ada jarak dengan pembaca. Begitu pula antara aku, kau, dan segala kerumitannya. Sudah? Begitu saja?

Selamat membaca.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Cibarusah, 11 Maret 2018

Advertisements

3 thoughts on “Cinta yang Marah: Kerumitan yang Seharusnya Usai

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s