Teka-teki Putri


Di suatu kampung ada lima rumah berderetan yang setiap dindingnya dicat dengan warna berlainan. Penghuni kelima rumah itu berasal dari bangsa yang berbeda-beda: Tajik, Kazak, Kirgiz, Uigur, dan Uzbek. Kelimanya menyukai ragam minuman yang tak sama, senjata kesukaan yang tak serupa, dan memiliki hewan peliharaan dari jenis berlainan.

Si Uigur tinggal di rumah berwarna putih, Si Kazak memelihara babi kate, Si Tajik minum anggur, rumah berwarna hijau berada di samping kiri rumah berwarna kunyit, si pemilik rumah hijau minum air, si penyuka panah memelihara bajing, si pemilik rumah berwarna merah senang bermain cambuk, orang yang tinggal di rumah ketiga atau tepat di tengah minum kahwa.

Si Kirgiz tinggal di rumah pertama, orang yang suka gada tinggal di samping orang yang punya anjing, orang yang punya musang tinggal di samping penyuka panah, si penyuka pedang minum teh mentega, Si Uzbek memuja belati, Si Kirgiz tinggal di sebelah rumah berwarna kuning, dan si penggemar gada bertetangga dengan peminum sari buah.

Pertanyaannya, siapa yang memelihara burung kakaktua?

*
Di tengah lautan, apakah yang akan kau lakukan ketika bertemu dengan orang yang mengaku sebagai pembawa wahyu dari Tuhan? Mengimaninya atau sekadar tahu dan kemudian melupakannya?  Badai usai mengamuk setelah pembawa wahyu yang merasa bersalah telah meninggalkan kaumnya itu ditelan paus raksasa.​​

Raden Sungu Lembu—bangsawan terjajah dari Banjaran Waru—memilih yang terakhir dalam perjalanannya menemani Raden Mandasia anak Watugunung menuju Gerbang Agung dalam sebuah misi: menghindari perang besar antara Gerbang Agung dan Gilingwesi.

Sebagai penduduk yang berada di negeri kepulauan, dibatasi samudra-samudra luas, dan dibayangi warisan mental terjajah maka kita tentu tak akan pernah menyangka ada sebuah kisah yang menuntun kita untuk tahu bahwa dulu ada sebuah kerajaan dan penguasanya punya nafsu agresi luar biasa. Bahkan ke sebuah daerah di Timur Tengah yang tak pernah masuk diakal kita untuk bisa dijelajahi oleh orang-orang dengan perawakan kecil semacam penduduk yang berada di pulau padi ini.

Novel Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi mampu mengetengahkan pertempuran mempertahankan benteng ala Lord of the Rings atau penyerbuan Alquds oleh Salahuddin Alayyubi dalam Kingdom of Heaven.

Petualangan kuliner di rumah makan enak, perjalanan mengarungi gurun, dan kesenangan Pangeran Mandasia yang ganjil dengan ilmu jagalnya mencuri daging sapi mengingatkan saya pada film lawas besutan Raymond Lee di tahun 1992: New Dragon Gate Inn.

Novel Yusi juga mengingatkan saya pada novel Eka Kurniawan yang berjudul: Cantik itu Luka. Tokoh Nyai Manggis, pemilik rumah dadu dan sekaligus germo, menyadarkan saya pada tokoh Dewi Ayu.

Tidak ketinggalan adalah Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang kecantikannya melegenda. Dan untuk menyuntingnya ada sayembara atau teka-teki yang harus dipecahkan seperti di awal tulisan ini. Kecantikan yang membawa bencana dan peperangan. Ini serupa Putri Rengganis yang didamba Maman Gendeng, tokoh preman dalam novelnya Eka.

Keurakan Watugunung saat menyerbu sendirian istana Medang Kamulan dan membunuh penguasanya sendiri hampir mirip dengan Maman Gendeng, saat sendirian melabrak Shodancho gara-gara menyentuh Dewi Ayu. Memang sungguh-sungguh tidak ada yang baru segala apa yang ada di bawah matahari.

Serupa Bilbo Baggins dan Frodo Baggins usai pengelanaannya itu, Sungu Lembu tidak melewatkan begitu saja bertahun-tahun perjalanannya tanpa mengguritkannya. Apalagi ia yang sedari kecil sudah menyukai membaca dan mencatat, juga sebagai juru tulis di garis belakang Pasukan Gilingwesi saat perang besar di depan benteng Gerbang Agung.

Asyik sekali membaca novel Yusi Avianto Pareanom ini. Saya mengenalnya sejak diperkenalkan dua orang teman di awal 2017. Mereka meminta saya membaca buku ini. Sebuah permintaan yang saya penuhi setelah lewat dua tahun dari penerbitannya.

Itu pun ketika sudah masuk daftar tunggu untuk dibaca, buku ini sempat hilang sekian lama. Buku kedua Yusi yang saya baca setelah Rumah Kopi Singa Tertawa ini baru ditemukan kembali ketika saya tak sengaja membereskan tas yang biasa saya bawa-bawa dalam berbagai pelancongan.

Yusi berhasil memantik tawa saya saat membaca novelnya. Tetapi ia tak berhasil memetik urat kesedihan kecuali bagi engkau yang memiliki kantung air mata berlebihan. Tidak sampai ke situlah.

Yusi juga piawai meramu berbagai dongeng, kisah, dan legenda di waktu yang berlainan dalam satu lini masa cerita. Dan kita tak pernah tahu alasan utama Prabu Watugunung menyerbu Gerbang Agung sampai di halaman-halaman terakhir novel itu: sebuah absurditas.

Dari semua itu, menurut saya, Yusi adalah penulis yang karya selanjutnya layak untuk ditunggu.

Sebelum saya mengakhiri segera semua kedegilan di sini, saya sudah ngebet untuk membaca buku yang lain, saya hendak mengajukan pertanyaan ini.

Sudahkah Anda mempunyai jawaban atas teka-teki yang dilontarkan Puteri Tabassum itu belum? Anda tentu bisa menjawab teka-teki pasaran itu bukan?

Eit, tunggu dulu sepasar-pasarannya teka-teki ini, Puteri Tabassum adalah murid dari seorang Ibrani bertampang jenaka yang rambutnya awut-awutan dan dikenal sebagai pelontar dalil kenisbian, sebuah dalil yang menjelaskan perilaku objek dalam ruang dan waktu.

Beberapa pelamar gagal lalu pulang ke negara mereka dan menjadi gila atau bunuh diri. Anda tentu tidaklah seperti mereka. Barangkali cukup dengan menyanyikan lagu sebagai pelipur lara. Memang senyatanya beberapa penyair, pemusik, dan tukang cerita menghadirkan keagungan Putri Tabassum dan ratapan hati remuk redam para lelaki karena tak mendapatkan putri pujaan hati itu pada sebuah lagu yang abadi sampai sekarang: Magadir.

Magadir Magadir Ya Ghalbil Ala Magadir

Magadir Magadir Ya Ghalbil Ala Magadir

Jawabanmu apa?

 

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
1 April 2018

Advertisements

3 thoughts on “Teka-teki Putri

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s