RIHLAH RIZA #71: Dia yang Telah Pergi Tak Akan Pernah Kembali


IMG-20160830-WA0014

…hanya waktu.

Awalnya bimbang untuk melanjutkan lagi tulisan Rihlah Riza yang sudah mencapai nomor 70. Rubrik yang khusus menulis pengalaman saya selama di Tapaktuan. Pertanyaan besarnya adalah manfaat apa buat pembaca? Memangnya ada yang membaca?

Segala pertanyaan itu akhirnya saya abaikan. Kalau mau saya tulis ya tulis saja. Ini akhir pekan, saat untuk menulis. Saat untuk menghasilkan satu karya. Bukankah ini yang saya selalu tekankan kepada teman-teman saya yang bertanya kepada saya bagaimana caranya supaya bisa menulis. Jawaban saya klise: tulis satu karya setiap pekannya.

Dan apa yang membuat seorang kolumnis mampu membuat kolomnya setiap minggu selama 45 tahun? Padahal menulis itu membutuhkan gagasan bagus dan kerja keras otak yang menguras pikiran. Jawabannya adalah deadline katanya. Kalau tidak ada deadline, bisa jadi dia tidak akan menulis. Kini izinkan saya untuk melanjutkan lagi Rihlah Riza. Apalagi bulan ini menginjak bulan ke-36 Surat Keputusan penempatan saya di ibu kota Aceh Selatan ini.

Perjalanan itu Dimulai

Kali ini saya ditugaskan oleh kantor untuk kedua kalinya ke Kepulauan Simeulue, sebuah kabupaten di Samudra Hindia. Kunjungan pertama sudah dua tahun delapan bulan yang lalu. Tepatnya tanggal 1 Januari 2014. Sudah lama.

Waktu itu dalam rangka penyerahan pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Kabupaten. Sebagai amanat dari Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, paling lambat 31 Desember 2013 pengelolaan pajak itu harus dilimpahkan ke daerah.

Kali ini tujuannya lain. Tapi ada yang tetap sama. Melaksanakan amanat undang-undang. Yaitu Undang-undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Kami harus melaksanakan sosialisasi di kabupaten ini. Dari tiga kabupaten di wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan hanya Simeulue yang belum sama sekali dilakukan sosialisasi.

Jam setengah dua dini hari saya sudah bangun. Padahal mobil yang akan mengantarkan saya dari rumah menuju Bandara Soekarno Hatta (Soetta) baru akan datang jam tiga pagi nanti. Tapi apa mau dikata agar tidak lelap dan ketinggalan pesawat, tidur pun tak sanggup nyenyak.

Pelukan erat Kinan yang terbangun karena saya cium pipinya membuat lama acara pamitannya. Tepat jam tiga pagi mobil sudah berangkat menuju bandara. Jalanan Depok dan tol masih sepi. Jam setengah lima saya sudah sampai di bandara dan kemudian check in.

Tidak lama Jakarta sudah masuk waktu Shubuh. Saya salat berjamaah di musala terminal 2F Bandara Soetta yang dulunya jadi terminal khusus maskapai Garuda Indonesia Airways ini. Sekarang mereka sudah pindah ke Terminal 3 Ultimate Soetta.

Jam enam pagi pesawat Sriwijaya Air sudah terbang membawa saya ke Medan. Butuh waktu 2,5 jam kemudian sampai saya masuk ke ruang tunggu Bandara Kualanamu. Pesawat yang akan membawa saya ke Simeulue masih lama terbangnya, jam satu siang nanti.

Waktu luang ini saya manfaatkan untuk mengunjungi salah satu sudut bandara ini: VAT Refund Counter. Ini adalah kantor pajak kecil yang memberi pelayanan kepada turis asing dengan memberikan kemudahan dalam rangka pengembalian (refund) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) barang yang dimanfaatkan di luar negeri. Kantor ini berada di bawah lingkup KPP Pratama Lubuk Pakam.

Di sana saya bertemu dengan Bro Bob yang menyambut saya dengan ramah. Kebetulan dia yang bertugas hari ini. Darinya saya mendapatkan banyak informasi tentang layanan VAT Refund ini. Selama hampir tiga tahun bolak-balik Bandara Kualanamu baru kali ini saya bisa mampir.

Sambil menunggu waktu terbang, saya “beristirahat dengan tenang” di sana. Sekalian menunggu teman satu tim saya—Sigit Indarupa.

Menuju Lasikin

Pesawat Wings Air jenis ATR 72 itu delay 30 menit. Pesawat ini yang akan membawa kami ke Bandara Lasikin di Sinabang, Simeulue. Saya terakhir menaiki pesawat jenis ini adalah pada saat saya pertama kali berangkat ke Tapaktuan dari Medan dan mendarat di Bandara Cut Nyak Dhien, Nagan Raya.

Butuh waktu 55 menit untuk sampai di Bandara Lasikin. Saya merasa de javu. Seperti mendarat di Bandara Cut Nyak Dhien tiga tahun lalu itu.

Beberapa bule turun dari pesawat. Mereka membawa perlengkapan surfing-nya. Simeulue terkenal dengan lokasi berselancarnya. Ajang dua tahunan diselenggarakan di sini: Aceh International Surfing Championship. Terakhir tahun 2015 lalu.

Dua orang dari tim kami yang lain—Syukrunaddawami dan Ricky Rinaldy—sudah berada di Sinabang sejak pagi. Mereka berangkat dari Bandara Kuala Batu, Blangpidie menggunakan pesawat Susi Air yang kecil itu. Mereka menjemput kami di Bandara Lasikin.

Kami langsung pergi ke Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Sinabang tempat acara sosialisasi diadakan esok hari. Ada beberapa tujuan. Pertama, silaturahmi kepada empunya kantor ini, Pak Syaifuddin dan staf. Kedua, melihat aula dan memantau sebatas mana persiapan untuk acara besok itu.

Setelah bincang-bincang sambil ngopi-ngopi di warung kopi kami akhirnya pamit untuk menuju losmen tempat kami menginap. Hari sudah menjelang sore rupanya. Nanti kami akan balik lagi ke KP2KP Sinabang selepas makan malam.

Tidak banyak hotel representatif di Sinabang. Losmen ini hanya untuk sementara. Besok kami pindah ke hotel tujuan yang hari ini tidak bisa kami pesan karena penuh.

Malam-malam Panjang

Setelah salat Magrib berjamaah di masjid dekat Islamic Centre, kami pergi makan malam ke sebuah warung yang sedari siang sudah kami rencanakan. Niatnya kami mau makan sup kaki kerbau—yang kata Ricky—enak pakai banget.

Eh, tapi ada daya, menu itu untuk malam ini tidak ada karena penjualnya sejak pagi tadi tidak kebagian dan kehabisan potongan daging kerbaunya. Di Sinabang hanya satu ekor kerbau yang disembelih untuk dijual setiap harinya, sedangkan pembelinya satu kepulauan ini. Kami pesan untuk besok malam saja.

Saya pesan soto tanpa nasi dan air jeruk panas tanpa gula karena sudah banyak kalori yang masuk sejak pagi tadi. Ini pun sudah bikin kenyang. Satu hal lagi, sejak mengenal Freeletics saya jadi doyan air jeruk panas tanpa gula. Sebelumnya saya enggak doyan dan jijik dengan air perasan jeruk itu. Walaupun tetap sampai saat ini saya masih enggak doyan makan buah jeruk.

Setelah selesai makan, kami langsung menuju KP2KP Sinabang. Ternyata bangku yang kami pesan sebelumnya sudah tertata rapi di aulanya. Kami membereskan spanduk, sound system, in focus, dan mempersiapkan segalanya agar besok pagi sudah langsung siap.

Kebetulan di salah satu stasiun TV malam itu ada acara Indonesia Lawyer Club bertemakan Amnesti Pajak yang menghadirkan para petinggi DJP dan mereka yang menentang program pemerintah ini. Malam itu kami berasa seperti pasukan besar yang punya perannya masing-masing sebagai prajurit dan jenderal.

Sebagai prajurit kami mengawal program ini dengan menyiapkan dan mengadakan acara sosialisasi amnesti pajak di sebuah tempat yang terpencil sedangkan di garis depan yang lain para jenderal pimpinan kami itu “bertempur” memberikan penjelasan dan argumentasi agar amnesti pajak itu bisa diterima oleh rakyat. Ini namanya sinergi.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Saatnya kami kembali ke losmen. Untuk waktu Aceh, jam segitu masih sore. Tapi kami sudah berlelah-lelah sejak dini hari, selayaknya untuk istirahat. Masih ada hari esok. Hari ini pun akan menjadi masa lalu.

Kata orang bijak, “Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tak akan menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

Kalau saya hanya bisa bilang kepada hari ini, “Engkau akan berlalu dan menjadi yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.” Lelap sudah menjadi selimut.


VAT Refund Counter di Bandara Kualanamu.


ATR-72 yang membawa kami menuju Sinabang.


Simeulue dari atas.

Jpeg

Teman satu tim: Sigit Indarupa

090516_1814_RIHLAHRIZA75.jpgKP2KP Sinabang


Warung kopi Aceh tempat kami ngopi-ngopi. Kopinya nikmat walau tanpa gula. Kalau pagi warung ini akan lebih ramai lagi. Karena sarapan sambil ngopi-ngopi di warung kopi sudah jadi budaya di Aceh.


Beres-beres malam-malam. Syukrunaddawami dan Ricky Rinaldy rajin sekali.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Memori Sinabang Akhir Agustus 2016

Lanjut ke Rihlah Riza 72

4 September 2016


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s