Syaifuddin Zuhri, Guru SMP, dan PKI


Menyebut nama ini, saya teringat dua orang yang bernama mirip dan peristiwa yang menyertainya. Satu orang berasal dari 30 tahun lampau, satunya lagi peraih bintang dari Sri Paus di Vatican pada zaman jaya-jayanya PKI.

Senior saya di Direktorat Jenderal Pajak bernama Syaifuddin Zuhri meninggal dunia beberapa waktu lalu. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Saya hanya bisa berdoa semoga ia mendapatkan husnul khatimah.

Baca Lebih Lanjut

Negeri Atau Pesantren?


NEGERI ATAU PESANTREN?

 

Waktu saya masih di Jatibarang, Indramayu, sampai dengan tahun 1994-an yang namanya sekolah swasta Islam itu entah itu yang namanya Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam, ataupun Nahdhatul ‘Ulama, semuanya itu adalah sekolah-sekolah yang tidak diminati. Semoga sekarang bisa lain ceritanya yah.

    Ada lagi sekolah swasta buat kalangan tertentu seperti Sekolah Dasar (SD) dan SMP Kristen. Disebut kalangan tertentu ini karena kebanyakan yang sekolah di sana adalah anak-anak keturunan Tionghoa yang kaya dan memegang kendali ekonomi Jatibarang. Yang menjadi populer dan jaminan mutu serta diminati oleh masyarakat pada saat itu adalah sekolah negeri, salah satunya SMP Negeri 1 Jatibarang. Setelahnya nanti bisa pergi ke Indramayu menuju Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 atau Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Indramayu atau ke Cirebon menuju SMA Negeri 1 dan 2 Cirebon.

    Bertahun-tahun kemudian setelah bekerja di Jakarta dan tinggal di Bogor lalu mempunyai anak-anak yang kini tumbuh dewasa dan siap lepas dari SD apakah SMP Negeri akan menjadi tujuan utama dari saya? Sungguh, demi Allah, tidak terpikirkan sama sekali, babar blas, walau anak pertama kami, Mas Haqi, menginginkan untuk bisa masuk SMP Negeri. Mengapa?

    Melihat kondisi dan situasi zaman sekarang terasa sekali bahwa sekadar sekolah gratis atau berlabel negeri plus RSBI, banyak prestasi yang diraih, pun dengan deretan piala yang terpajang tidak menjamin sekolah itu mampu membuat anak menjadi berakhlak dan kuat dalam menghadapi serangan-serangan modernitas. Muncul ketakutan-ketakutan yang terpikirkan seperti pergaulan yang salah arah hingga mengarah kepada pacaran sampai berhubungan seks, obat-obatan, serta akhlak yang tidak terpuji. Banyak pemberitaan yang mengabarkan hal itu.

Saya menyadari bahwa penilaian ini adalah penilaian subyektif dan relatif kami. Bahkan sebenarnya alasan yang paling mendasar adalah kelemahan kami berupa ketidakmampuan dalam memberikan pengawasan kepada anak-anak sehingga tidak berani untuk menyekolahkan anak kami di SMP Negeri.

Tetapi kami juga meyakini bahwa yang kami butuhkan untuk anak-anak kami adalah tidak sekadar sukses berprestasi secara akademik tetapi bagaimana mereka juga mampu untuk sukses berprestasi secara spiritual. Dan itu butuh miliu yang mampu membentuk semua itu. Pesantren, ya hanya pesantren yang ada dalam pikiran kami. Dari ribuan pesantren yang ada di tanah air ini, pilihan kami jatuh pada pesantren berbasis tarbiyah.

Pesantren berbasis tarbiyah bagi kami mampu untuk membentuk keduanya secara seimbang. Bahkan menukik pada orang per orang santrinya, lembaga seperti itu mampu untuk membentuk santri yang mempunyai akal yang cerdas, jasad yang sehat, dan ruh yang kuat. Bukankah itu adalah sebuah kombinasi dari sebuah ketawazunan?

Selain itu dalam pemikiran awam kami pesantren berbasis tarbiyah ini mampu bersikap moderat dalam fikih dan menekankan sekali pada interaksinya dengan alqur’an serta memberikan dasar-dasar atau pondasi tentang syumuliyatul Islam. Ini yang kami cari dan berharap banyak pada lembaga itu.

Dan bulan Desember tahun lalu, kami mulai browsing mencari pengumuman pendaftaran pesantren berbasis tarbiyah itu. SMPIT dan Pesantren Assyifa yang ada di Subang menjadi bidikan kami yang paling utama. Lalu terlacak dan terbayang alternatif lain seperti Pesantren Al Kahfi yang dekat dengan Lido, lalu Ma’had Rahmaniyah Al Islami asuhan Ustadz Bakrun Lc yang ada di Cilodong Bogor, serta SMPIT AlQalam. Yang terakhir ini tidak ada pesantrennya, hanya SMPIT.

Keempat-empatnya tidak mudah untuk dimasuki. Semuanya mengadakan tes seleksi masuk. Karena daya tampungnya masih lebih kecil daripada permintaan yang ada. Assyifa dan Al Kahfi dengan 1000 lebih pendaftar memang menjadi pesantren yang paling diminati.

Mas Haqi tidak lolos di Assyifa. Tidak apalah. Padahal kami memang berharap Mas Haqi bisa masuk ke situ. Hawa pegunungan yang melingkupi pesantren dan mendukung dalam proses belajar mengajar, serta sistem yang sudah mapan menjadi alasan utama kami memasukkan Mas Haqi ke sana. Ya sudah. Masih ada tiga alternatif lainnya.

Setelah mengetahui ketidaklulusan itu, kami langsung daftarkan Mas Haqi untuk tiga alternatif terakhir. Hanya dalam tiga hari kami sambangi semuanya. Jum’at (3/3) kami ke AlQolam, Sabtu ke Rahmaniyah, dan Ahadnya kami ke Al Kahfi. Sampai hari ini, Ahad (25/3) semuanya telah mengadakan tes seleksi masuk. Alhamdulillah Mas Haqi diterima di Al Kahfi dan AlQalam. Sedangkan pengumuman ujian Rahmaniyah nanti tanggal 3 April 2012.

Kami berdiskusi dengan Mas Haqi tentang harapan-harapan kami kepadanya. Dan kami memutuskan untuk mengambil Pesantren Al Kahfi sebagai tempat melanjutkan pendidikan Mas Haqi. Kami sudah daftar ulang. Dan Insya Allah tanggal 8 Juli 2012 kami harus bersiap-siap melepasnya karena pada tanggal itu adalah hari pertamanya di sana.

Masih ada satu ujian penting bagi kami dan Mas Haqi untuk bisa merealisasikan kehadirannya di tanggal 8 Juli 2012 itu yaitu memastikan bahwa Mas Haqi lulus dari Ujian Nasional. Ya, jika tidak maka tidak akan bisa untuk masuk pesantren itu. Bukankah syarat utamanya adalah lulus SD? Jadi kami meminta kepada Mas Haqi untuk tetap bersungguh-sungguh dalam belajar.

Semoga Allah meluluskan Mas Haqi, teman-temannya serta seluruh anak kelas 6 di seluruh tanah air, dalam Ujian Nasional nanti. Kepada pembaca, doakan kami juga.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:59 25 Maret 2012

Diunggah pertama di http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/26/negeri-atau-pesantren/

Gambar dari sini.

Tags: SMP Muhammadiyah, SMP Persatuan Umat Islam, PUI, SMP Nahdhatul ‘Ulama, SMP NU, SMP Negeri 1 Jatibarang, SMA Negeri 1, SMEA Indramayu, RSBI, syumuliyatul Islam, pesantren berbasis tarbiyah, SMPIT, Pesantren Assyifa, Subang, Pesantren Al Kahfi, Lido, Ma’had Rahmaniyah Al Islami, Ustadz Bakrun Lc, Cilodong, Bogor, SMPIT Al Qalam, pesantren Al Kahfi, Ujian Nasional, UN,

 

 

 

 

    
 

 

    
 

 

 

 

    
 

 

    

RINDU LAUT


RINDU LAUT

    Malam ini kembali saya tak bisa tidur. Ada gundah yang membuncah. Ada gelembung yang siap mengapung dan pecah. Ada kata-kata yang tak mau berhenti untuk diucap. Ada pikiran yang tak mau berhenti kembara. Dan semuanya berujung tiba-tiba dengan bangkitnya saya dari peraduan. Lalu menyalakan netbook. Membuka lembaran putih. Kemudian mengetikkan dua kata: rindu laut.

    

Semuanya terbentang. Dengan rasa yang tak tertahankan pada deru gelombangnya. Ombaknya yang tidak pernah muntah menjilati tepian pantai. Anginnya yang menerjang tak pernah berhenti. Teriakan camar cerewet. Bau khasnya yang selalu menggelitiki hidung. Batu karang yang sombong. Pohon kelapa yang menari. Pasir-pasir yang berusaha untuk melembutkan dirinya pada setiap telapak kaki dengan cangkang-cangkang tiram mengilap terselip di sana. Semuanya ada pada benak saya malam ini.

    Dan tanda tanya tiga di belakang sebuah kalimat berikut: kapan lagi saya akan merasakannya setelah hampir 8 tahun lamanya, menyemut di kepala. Rindu laut membuat saya memelas meminta kepada memori yang ada di tempurung otak saya untuk membongkar kenangan dua puluh tahunan lampau.

    Memori itu menemukan serakan-serakan seperti ini. Perkemahan sabtu minggu, upacara bendera di tepi pantai, jilatan ombak, senja, dentingan gitar, perahu di tengah laut, dan lagu kemesraan yang mengalun indah. Ya kutemukan saat itu adalah saat—yang kata Iwan Fals—semoga jangan cepat berlalu. Ada kedamaian di sana katanya lagi.

Sampai sekarang momen-momen itu tak pernah saya lupakan. Karena memang lautnya sendiri cantik dan manis. Ngangenin. Ia pun pandai sekali bercerita. Cerita apa saja. Sampai berbusa-busa. Buktinya betapa banyak puisi dan syair yang tercipta darinya. Betapa banyak lirik lagu dan instrumentalia terinspirasi darinya. Memetaforakan apa saja. Memersonifikasikan siapa saja.

Malam ini saya rindu laut. Pada warna-warna yang seringkali berebutan menjadi warna dominan dalam sebuah kanvas lukisan. Biru muda pada langitnya. Biru tua pada lautnya. Kuning pada mataharinya. Jingga pada senjanya. Putih pada awan-awannya. Hitam dan putih pada pasirnya. Tujuh warna pada pelanginya yang seringkali muncul. Hijau pada nyiur-nyiur yang melambai.

    Malam ini saya rindu laut untuk sejenak melupakan apa yang terjadi. Melupakan segenap yang ada. Hingga waktu ini mau tunduk pada saya untuk segera berputar cepat. Tapi terlihat ia enggan dengan teramat sangat. Apa boleh buat seringkali saya menghelanya dengan keras. Jika diperlukan ada cambuk yang siap dilecutkan padanya.

    Malam ini saya rindu laut sedangkan Citayam jauh sekali darinya. Butuh puluhan kilometer untuk memisahkannya. Di barat lebih indah. Di utara penuh dengan sampah. Di timur kejauhan. Di selatan terlalu ganas. Ya aku akan menuju barat. Tapi setelah malam ini tentunya. Setelah urusan selesai semuanya. Untuk sekadar menuntaskan rindu yang tak tersampaikan.

    Setelah rindu ini selesai, rindu mana lagi?

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dari citayam yang masih terasa gerah

malam ahad hingga 01.40 13 Februari 2011

pertama kali diunggah di: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/02/13/rindu-laut/

gambar berasal dari: sini

 

 

Tags: laut, iwan fals, kemesraan, citayam, pelangi

 

 

    

BUKAN FACEBOOK TAPI GOOGLE


BUKAN FACEBOOK TAPI GOOGLE

 

Namanya Any. Teman lama saya waktu di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah lulus dari SMP tahun 1991 saya melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Nepal. Terakhir bertemu dengannya tahun 1994. Itu pun karena ada surat yang mampir ke kost-kostan saya darinya yang meminta saya untuk singgah ke rumahnya. Maklum zaman dulu belum ada telepon genggam, belum ada sms (short message service), belum ada internet, chatting mirc, surat elektronik (email), Google, Twitter, apalagi Facebook.

Setelah itu kita sibuk dengan urusan masing-masing, mulai dari urusan kuliah, merantau, bertahan hidup di belantara ibukota, kerja, menikah, beranak pinak, sampai badai Facebook melanda Indonesia hingga ke pelosoknya. Pernah suatu saat, di kisaran tahun 2003 sampai dengan 2005—kalau tidak salah—saya baru ingat kalau saya punya teman dekat bernama Any itu. Lalu saya berusaha melacaknya.

Saya mulai telepon 108 untuk mencari nomor telepon rumahnya yang berada di komplek Pekerjaan Umum (PU) Jatibarang. Akhirnya dapat, ternyata rumah itu sudah ditinggali oleh orang lain dan keluarga Any sudah pindah ke Bandung. Kebetulan pula kalau penghuni rumah baru itu adalah teman Ibu saya. Akhirnya sekalian saya tanyakan kemana saya harus menghubungi keluarga Any itu.

Ibu yang menerima telepon saya itu memberikan nomor telepon genggam ayahnya Any. Segera saya menelponnya. Saya kenal dengan beliau dan beliau kenal dengan saya karena saya sering belajar bersama di rumahnya Any. Tapi mungkin karena sudah lama tidak bertemu, dan pertemuan itu pun hanya melalui telepon, kiranya beliau rada segan untuk memberikan nomor telepon Any pada saya. Tapi pada akhirnya saya dapatkan juga nomor telepon genggam Anaknya itu. Saya catat semua nomor telepon itu di buku harian saya.

Berbekal nomor itu saya menghubungi Any. Akhirnya kami dapat berbincang-bincang setelah lama tidak ketemu. Menyenangkan sekali dapat cerita darinya. Sudah sama-sama berkeluarga, masih tinggal di Bandung, akan tinggal di Purwakarta adalah sekelumit tentang dirinya. Setelah itu selesai. Kami sibuk dengan urusan masing-masing.

Awal 2010, Facebook sudah mampir di rumah saya dengan jaringan kabel yang disalurkan dari rumah tetangga satu RW. Cukup dengan membayar iuran murah setiap bulannya. Awalnya saya tidak antusias dengan Facebook, tapi ketika saya bertemu seorang teman SMP pada akhirnya saya berusaha untuk mencari teman-teman yang lain. Apalagi kalau sudah ada foto jadulnya. Jadinya bisa mengenang masa lalu.

Biasanya setelah saya menemukan teman-teman lama di Facebook, ditambah kalau sudah teman satu geng, saya berusaha meneleponnya atau minimal kirim sms. Tapi tidak selalu bermula dari Facebook, terkadang dari teleponan atau sms-an itulah saya dapat menemukan kawan-kawan lama. Dan kemudian meng-add-nya di Facebook. Contohnya Sabtu kemarin (20/3), saya baru meng-add dua teman lama setelah saya ngobrol dan sms-an dengan mereka. Ternyata mereka juga punya akun di Facebook.

Dan Ahad pagi, saya teringat dengan Any. Mungkin dari dua teman itulah saya jadi teringat kembali. Saya coba search di Facebook. Saya masukkan kata kunci ani (dengan huruf i) dan parameter lokasi Kediri tempat asalnya dulu. Banyak nama yang mirip dengannya tapi bukan dia yang saya cari.

Setengah putus asa. Soalnya saya sudah berusaha mencarinya sejak awal tahun 2010. Via Facebook ataupun Google tempat saya biasa bertanya sesuatu. Bahkan saya coba menghubungi nomor yang sudah pernah saya catat di buku harian. Nomor dia dan nomor bapaknya. Semua nomor itu tidak dikenal lagi. Pencarian itu berhenti di pertengahan Februari 2010.

Nah, Ahad itu (21/3) saya coba lagi. Sekarang di Google. Saya kombinasikan dengan tanda kutip agar pencarian bisa terspesifisikasi lagi. Misal namanya Ani Putri Oktaviani (bukan nama sebenarnya), ya saya tulis di Google “Ani Putri Oktaviani”. Enggak dapat, ya saya ubah lagi. Sekarang “Ani Putry Oktaviani”, enggak dapat juga. Saya coba dengan “Ani Putri Oktavianti”, bingo…! Ketemu!

Saya masih ragu. Tapi dua parameter yang mencirikan dia sudah ada. Nama lengkapnya dan lokasinya di Bandung. Yang paling surprise bagi saya, di sana ada nomor teleponnya juga. Mantap, dagang juga nih anak. Otak bisnisnya jalan.

Saya langsung menghubunginya. Setelah salam , terdengar suara dari seberang. Saya masih enggak ngeh. Betul nih Any? Saya bertanya dengan hati-hati, “Bu, apakah betul ini Ibu Any yang dulu pernah sekolah di Indramayu dan Jatibarang?” Dia sepertinya kelihatan bingung. Tapi herannya dia sudah langsung menebak suara saya. “Riza yah…!” hebat euy…

Yah sudah…pencarian berakhir. Saya sudah cukup puas menemukannya. Man jadda wa jada. Saya meyakininya betul, kalau orang yang berupaya keras untuk menggapai sesuatu, pasti dia akan dapatkan hasilnya. Entah kapan ia akan dapatkan.

Setelah itu saya minta dia ikutan gabung dan unggah foto-foto lama di Facebook. Banyak teman-teman SMP sudah menanti. Segera saya kabarkan pertemuan itu ke teman-teman. Saya kirimkan nomornya kepada mereka. Setidaknya untuk bisa saling komunikasi, menjalin silaturahim, dan memperluas jejaring. Pasti akan menambah rezeki dan memperpanjang umur.

Ya, terkadang bukan Facebook tapi Google yang mempertemukan kami dengan indahnya. Akan lebih indah lagi kalau pertemuan dengan teman-teman lama itu benar-benar pertemuan sejati di surga-nya Allah swt. Kita semua berharap begitu. Betul begitu Any…?

***

Untuk Hariyanto Abu Muhammad Fayyaz Mumtaz, Sulaeman Nawwaf, Any FO…adalah sebuah kehormatan bagi saya jika saya dapat berkumpul bersama kalian di surga-nya Allah kelak. Amin.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

09:15 22 Maret 2010