RIHLAH RIZA #33: NIKMATI SATU DETIK ITU DAN JANGAN MENUNGGU


RIHLAH RIZA #33: NIKMATI SATU DETIK ITU DAN JANGAN MENUNGGU

 

Why look so canny at every penny? You’ll take no money within the grave.

(Snow White and the Huntsman)

 

Jam dinding bertuliskan Direktorat Jenderal Pajak Kanwil DJP Aceh itu sekarang sudah tertempel di dinding kamar saya. Ini pemberian dari Kepala Kantor Wilayah DJP Aceh seusai saya menjadi narasumber sosialisasi KEP-10/PJ/2014 tentang Pembentukan Gerakan “DJP Bersih di Tangan Kita” di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak akhir Maret lalu. Jadi kalau bangun dari tidur saya tak perlu meraba-raba tempat tidur lagi mencari hp untuk melihat jam. Sekarang cukup dengan membuka mata saja. Ini bermanfaat sekali insya Allah.

Sekarang alat penunjuk waktu sudah ada di mana-mana. Di setiap hp dan komputer pasti ada informasi mengenai hal ini. Otomatis jam tangan—entah yang analog atau digital tapi tidak pintar—sekarang sekadar aksesoris. Tapi benda itu tetap dibutuhkan di saat alat-alat elektronik dilarang dibawa atau dinyalakan seperti pada waktu ujian atau di dalam pesawat. Dan di dalam kubur, jenazah juga tak akan membawa jam.

Tapi mereka tahu satuan waktu. Betapa satu detik saja hidup di dunia akan benar-benar memengaruhi kondisi mereka di alam kubur. Mereka meminta-minta sedetik atau sekejap saja agar bisa balik ke dunia dan beramal saleh. Barulah mereka tahu amal saleh yang sedikit pun akan menjadi pembeda apa yang akan mereka dapatkan dan di mana akhir mereka berkedudukan. Surga atau neraka. Kita kelak akan menjadi mereka pula. Lalu mengapa kita tidak menyadari betapa berharganya satu detik itu ketika kita masih hidup?

Satu detik akan menjadi relatif pada masing-masing orang. Satu detik akan terasa lama buat siapa yang menggenggam bara di tangan. Jangankan satu detik, satu jam saja bagi para pecinta akan terasa seperti kilatan cahaya di langit. Mencintalah maka waktu akan berjalan dengan cepat. Seperti waktu yang begitu singkat bagi para pegawai DJP ketika pulang bertemu dengan sanak keluarganya. Mereka yang dicinta yang bisa dijumpai sepekan atau sebulan sekali.

Dan tahukah Anda keberadaan saya di Tapaktuan pun ternyata sudah lima bulan lebih sejak kedatangan atau enam bulan sejak surat keputusan pemindahan. Tak terasa. Mengapa? Karena saya berusaha mencinta, Insya Allah. Mencinta takdir yang hinggap dalam hidup. Mencinta Tapaktuan. Mencinta senjanya yang setiap hari berganti-ganti keindahannya. Sungguh, akan terasa lama bagi siapa yang menunggu.

Kemudian ingatan saya terpelantingkan pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh Lev Grossman, penulis buku The Magicians, “For just one second, look at your life and see how perfect it is. Stop looking for the next secret door that is going to lead you to your real life. Stop waiting. This is it: there’s nothing else. It’s here, and you’d better decide to enjoy it or you’re going to be miserable wherever you go, for the rest of your life, forever.” Nikmati satu detik itu dan jangan menunggu.

Seperti saya menikmati detik-detik sepi di Tapaktuan pada tanggal 9 April 2014 ini. Tapaktuan benar-benar menjadi kota sepi sekali di saat pencoblosan. Kata penduduk setempat, situasi ini seperti pada saat lebaran. Tapi penduduk ternyata sedang meramaikan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dipusatkan di pajak (baca: pasar) inpres. Ada empat TPS yang ada di sana. Dan saya berdua dengan teman sekantor saya, AA Fikri, yang memegang hak suara dari tempat lain, ternyata diprioritaskan untuk mencoblos duluan setelah menyerahkan formulir A5. Padahal banyak penduduk yang menunggu antrian di bawah tenda yang disiapkan panitia. Alhamdulillah berkah.

Memasuki bilik suara, saya buka empat lembar kertas suara itu. Sebagai pendatang di sini saya diberikan empat hak suara untuk DPR RI, DPD, DPR Aceh, dan DPR Kabupaten. Saya sudah menentukan pilihan saya sebelum memasukinya. Saya buka lebar-lebar kertas suara untuk memastikan tidak ada yang rusak. Dan situasi seperti ini, saat mencoblos, sejak tahun 1997, adalah saat mendebarkan bagi saya. Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Selalu saya ucapkan bismillah ketika memulai mencoblos. Semoga pilihan ini tidaklah salah. Saya titipkan suara ini kepada mereka untuk perbaikan bangsa.

Mulanya saya sudah pesimis tidak menggunakan hak suara karena ribetnya mengurus pindah TPS dari Bogor ke Tapaktuan. Kalaupun saya menjadi golongan putih (golput pakai huruf kecil) tetapi golput saya bukan karena alasan ideologis melainkan keterbatasan. Kalau itu tidak masalah. Tetapi saya harus memastikan ikhtiar saya sudah maksimal untuk mendapatkan hak suara saya. Dan saya mendapatkan suntikan semangat luar biasa ketika teman-teman saya di Bogor dan Jakarta benar-benar berjuang habis-habisan untuk idealisme yang mereka usung. Saya terlecut. Tercambuki. Agar tidak menjadi orang-orang yang tertinggal. Orang yang duduk-duduk saja. Orang yang datang perang ketika perang sudah usai.

Setelah perenungan habis-habisan malam itu, besok paginya—dua minggu sebelum hari H pencoblosan—saya datang bersama AA Fikri ke Kantor Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Selatan. KIP ini kalau di luar Aceh sama saja dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Awalnya ditolak oleh salah satu komisioner KIP di sana. Artinya kami harus melewati prosedur dengan mengurus pindah pilih dari TPS asal di Bogor. Saya beritahukan informasi tentang surat edaran KPU Pusat, calon pemilih pindah cukup datang ke KPU setempat dan menunjukkan KTP untuk bisa mendapatkan formulir Model A-5 KPU asalkan saya sudah terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Setelah di cek melalui situs online KPU ternyata saya memang terdaftar di DPT. Pada akhirnya saya sah bisa memilih.

Pertanyaan paling mengemuka adalah mengapa saya capek-capek mengurus ini dan itu dalam rangka pesta rakyat ini? Sedangkan saya tidak kenal dengan para caleg itu. Tapi sungguh inilah jawabannya. Semata dalam rangka ikhtiar memberikan sumbangsih buat negara. Supaya tidak golput. Karena buat saya, saya sudah dikasih otak untuk memilih caleg-caleg baik. Maka mengapa tidak mempergunakan anugerah yang Allah berikan kepada saya untuk sedikit berpikir keras memilah dan memilih. Alasan lainnya adalah kontribusi balik buat dakwah dan kebaikan.

Ah, kerja saya belumlah tak seberapa dibanding mereka yang telah berjuang dan berdoa siang dan malam. Cuma satu suara ini yang bisa saya berikan untuknya, untuk mereka. Mungkin bagi Anda satu suara itu tak seberapa, tapi bagi saya satu itu tak ternilai harganya. Bahkan teman saya sampai bilang seharga satu milyar rupiah pun, satu suara ini tak akan saya jual. Karena semua bermula dari satu. Anda tahu Niagara? Ia kumpulan dari sedikit tetes-tetes mata air itu. Anda tahu musik yang sering Anda dengar itu? Semua bermula dari satu nada yang dikumpulkan dan menjadi indah.

Dari jauh, dari Tapaktuan, inilah yang bisa saya persembahkan untuk umat, negeri, dan bangsa ini sebagai tanda cinta kepada mereka yang telah membelokkan saya dari jalan-jalan sesat kepada jalan-jalan penuh kebaikan dan keberkahan.

Inilah jalan pertengahan yang bisa saya ambil dari dua kelompok orang. Yakni ketika sebagian masyarakat bilang, “Saya hanya mau mencoblos mereka yang memberi uang.” Dan sebagian lainnya bilang dengan penuh apatis (skeptis, pesimis, dan murung melihat masa depan) untuk tidak menggunakan hak suaranya. Inilah jalan saya. Jalan yang kelak akan saya wariskan kepada tiga anak saya kelak. Jalan perjuangan. Jalan senyap dari puja-puji namun penuh onak dan caci maki. Insya Allah.

**

Siang hari setelah mencoblos, setelah meminum segelas kopi Aceh yang nikmat itu, jarum merah pertanda detik yang lekat saya pandangi dari atas tempat tidur masih berjalan tepat waktu di jam dinding hadiah ini. Hawa laut biru di depan mess bebas suka cita masuk rumah dan memenuhi rongga dada. Ini yang saya suka dari Tapaktuan. Tapi ini tak akan lama. With love, this, too, will pass very quickly.

2014-04-07 11.45.30

Formulir Model A.5-KPU

 

 

riza

Minum kopi dulu usai mencoblos di Warung Kopi Terapung. (Sketsa).

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jam dinding itu.

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 09 April 2014

 

 

 

 

 

RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA


RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA

 

 

Suatu waktu kalau Anda berkunjung ke Tapaktuan datanglah sebentar di salah satu sudutnya. Ambillah barang satu atau dua gambar di sana. Itu sudah cukup dikatakan kalau Anda sudah benar-benar datang ke kota kecil ini. Ini sebuah dinding beton penahan longsor dari sebuah bukit. Di dinding itu bertuliskan ucapan selamat datang dan banyak mural sederhana yang menceritakan aktivitas penduduk Tapaktuan. Letaknya berada di ujung jalan masuk terminal atau berada di depan warung kopi terkenal: Terapung. Tempat para supir travel berisitirahat setelah usai perjalanan dari Medan atau pun Banda Aceh. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya mengangkangi sudutnya.

Suatu waktu setelah dari sana Anda juga perlu bergerak ke arah utara. Mengunjungi situs makam Tengku Syaich Tuan Tapa. Tuan yang menjadi legenda di kota ini. Tuan yang pernah bertempur dengan naga dan jejak kaki raksasanya tertancap di karang pinggiran samudera. Makamnya tidak seperti makam orang-orang biasa, bentuknya besar memanjang, dan cukup terawat. Anda bisa masuk ke dalam kompleks makam karena pintu pagarnya tak terkunci. Di sebelah kanan makam terdapat makam dengan ukuran biasa dari seorang penguasa Tapaktuan bernama Datuk Radja Amat Djintan yang wafat pada tahun 1928 M. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya terpekur memandangi rumah keabadian tempat dua manusia berkalang tanah.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi situs makam itu bergeserlah sedikit ke utara lagi. Ke sebuah rumah, tempat seorang Kapiten Belanda di tahun 1929 berfoto bersama dengan teman-temannya dan dua ekor anjing hitam. Mereka berfoto di halaman depan rumah. Rumah yang kini tak berpenghuni. Foto saat mereka mapan dan merasa berhak untuk berbuat apa saja kepada pribumi. Sedangkan di pelosok pedalaman, perlawanan itu tetaplah berlangsung sampai Jepang datang di tahun 1942. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya menggigit dan memamah sejarah tanpa tandas karena saya sisakan sebagian untuk saya simpan di memori kepala.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi semuanya, beristirahatlah sebentar. Sejenak saja. Mendekatlah. Dan jangan menjauh. Duduk bersama saya di tepian pantai ini. Tempat biasa saya melabuhkan atau malah melarungkan rindu. Tempat kata-kata memungut satu per satu dirinya sendiri menjadi sajak dan gigil. Mungkin kita akan duduk di sini sampai matahari bulat di hadapan habis dilahap samudera. Tenang saja di sini, kita nikmati potongan senja, sambil memandang putih buih, mendengar gemuruh ombak, menghirup aroma asin laut, dan merasakan sepoi angin yang membelai wajah. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, saya ingin menceritakan kepada Anda sesuatu. Sudilah Anda mendengarnya.

Suatu ketika saya pulang ke Jakarta dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dengan menggunakan “singa terbang”, para penumpang harus transit di Bandara Kualanamu, Medan dan kami harus turun terlebih dahulu dari pesawat. Saat itu sudah jam setengah tujuh malam. Satu jam kemudian kami diminta masuk pesawat kembali. Di situlah kericuhan dimulai, ada dua orang penumpang dari Banda Aceh yang tidak mendapatkan tempat duduk. Tempat duduknya semula telah diisi penumpang dari Bandara Kualanamu. Sedangkan yang tersisa hanya satu kursi kosong dengan nomor yang berbeda.

Pramugari tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dapat dipastikan telah terjadi kesalahan dalam sistem booking mereka. Petugas “Singa Terbang” di bandara turun tangan dan meminta agar salah satu dari penumpang itu terbang dengan menggunakan pesawat lain yang—kata petugas itu—telah siap untuk terbang juga. Tapi sang penumpang tidak mau karena merasa berhak di pesawat ini. Sang penumpang tidak bisa disalahkan karena ia berangkat dari Banda Aceh. Katanya pun, kalau ia berangkat dari Bandara Kualanamu ia masih bisa memahami dan mau pindah pesawat. Tapi karena ia bayar untuk naik pesawat dengan jam dan nomor penerbangan dari Banda Aceh maka ia bersikeras berada di pesawat yang sama.

Perdebatan semakin memanas, ditambah para penumpang lain membela sang penumpang dari Banda Aceh. Sedangkan dua penumpang yang naik dari Bandara Kualanamu santai saja di tempat duduknya, merasa tidak ada masalah. Sampai-sampai kepala kru hendak melaporkannya kepada pilot karena kericuhan tanpa kejelasan akhir ini. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saya pikir alangkah eloknya kalau petugas “Singa Terbang” menjanjikan akan memberikan kompensasi layak kepada sang penumpang ketika mau pindah pesawat. Tapi itu tidak pernah terlontar dari mulut petugas. Ujung-ujungnya perdebatan tetap berlangsung.

Di tengah suasana tidak nyaman ini, di antara wajah gelisah para penumpang yang mengharapkan pesawat segera terbang, berdirilah seorang pemuda bertubuh gempal. Tanpa basa-basi ia menawarkan diri kepada pramugari untuk menjadi volunteer. Ia bersedia pindah pesawat. Bergegas ia ambil tasnya dan langsung keluar pesawat. Usai sudah semuanya. Sang penumpang dari Banda Aceh bisa duduk. Penumpang lain ikut senang. Pesawat pun segera bisa terbang. Solusinya sederhana dan tak sulit. Mesti ada yang harus berkorban. Dan pengorbanan itu tidak ditunjukkan dari para empunya masalah. Tapi dari pemuda tidak dikenal. Pemuda yang akan terbang lebih malam dan tiba di Bandara Soekarno Hatta lebih lama dari kami semua. Sebuah solusi yang tidak pernah terlintas dalam benak saya. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, pemuda itu pahlawannya. Bukan saya.

Pahlawan itu adalah orang yang mengorbankan segala. Ia yang berani mewakafkan dirinya bermanfaat buat orang banyak. Di atas pengorbanan itu berdirilah prinsip yang teramat kokoh tak tergoyahkan apa pun. Prinsip tak akan tegak di atas dinar dan dirham yang hanya memuaskan perutnya saja. Maka pada malam itu sebatas kekaguman kepada sang pemuda yang hanya bisa dipersembahkan. Bukankah—mengutip Anis Matta—kekaguman adalah sebagian cara kita membalas utang budi kepada para pahlawan?

Suatu waktu usai sudah cerita ini terkisahkan kepada Anda. Malam telah jelang. Saatnya untuk pulang. Dan saya bukanlah pahlawan karena telah berjasa mengantarkan Anda berkeliling Tapaktuan. Bukan. Terlalu berlebihan soalnya. Cukuplah saya menjadi pahlawan buat kalian di Citayam yang senantiasa saya rindukan setiap malam-malam sepi di tanah seberang. Bukan untuk dikagumi, melainkan diteladani. Itu pun jika saya memilikinya, memiliki keteladanan itu. Di suatu waktu, di saat itu, semoga itu saya adanya.

 

 

Selamat Datang di Kota Naga (Foto koleksi pribadi).

 

Kompleks makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto Koleksi Pribadi)

Makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Makam Datuk Radja Amat Djintan (Foto koleksi pribadi).

Rumah Kapiten Hofstede Tapa Toean di tahun 1929 (Wikipedia) dan masa kini (Foto koleksi pribadi).

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan 22.59 03 Maret 2014

 

RIHLAH RIZA #25: TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI


RIHLAH RIZA #25:

TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI

 

 

“Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…” (Umar Kayam, Desember 1982)

**

 

Seringkali menyangka kalau gemericik air itu hanya ada di Bogor, atau tanah Pasundan lainnya. Gemericik air yang menggelitik telinga, menenteramkan hati yang gundah, mendinginkan kepala, dan memancing-memancing setiap yang bermata untuk bisa menyentuh segarnya. Turun dari pancuran atau sela-sela tanah pegunungan. Berkumpul semuanya lalu menjadi besar dan turun kembali menjadi air terjun. Orang Sunda bilang itu curug. Ada seperti Curug Cigamea, Curug Pangeran, Curug Luhur.

Suatu tempat eksotis. Pantas saja para peri kahyangan turun ke bumi. Di serat Babat Tanah Jawi, Jaka Tarub tahu benar akhlak para batari, maka ia ambil satu selendangnya saja, jadilah itu sebuah cerita dari mulut ke mulut yang diturunkan kepada anak cucu. Sebuah mitos untuk memberikan legitimasi bahwa walaupun Mataram didirikan dari keluarga petani, bukan keluarga bangsawan, mereka adalah keturunan anasir-anasir dari langit nan absurd: bidadari.

Ternyata Tapaktuan, negeri 1000 ombak, punya juga persemayaman para dewi ini. Namanya Air Terjun Tujuh Tingkat. Letaknya di desa Batu Itam, di selatan pusat kota Tapaktuan. Tidak ada penunjuk tempat wisata ini. Pokoknya sebelum kita melewati gunung yang kedua ada jembatan, sebelum jembatan ada masjid di sebelah kiri jalan, sebelum masjid itu ada gang atau lorong. Di lorong itulah mobil kecil bisa masuk. Cukup untuk satu mobil saja.

Dari ujung jalan kecil, sekitar 200 meteran, parkirkan mobil di tanah lapang di pinggir sungai. Di atas sungai ada jembatan beton. Dari jembatan itulah kita memulai perjalanan mendaki menuju air terjun yang menjadi penyuplai utama air bersih Kota Tapaktuan ini. Kalau tidak hujan, motor bahkan bisa sampai menuju titik terdekat air terjun sehingga kita tidak perlu kehabisan tenaga dan bisa mengurangi waktu tempuh.

Jika kaki kita mampu berjalan dan nafas kita masih panjang, berjalanlah dari tempat parkir itu. Kita akan temui pemandangan indah saat menyusuri jalanannya. Kita berada di kaki bukit hijau dengan pepohonan lebat nan alami dan juga ladang-ladang penuh pohon pala. Para peladang mendirikan gubug-gubugnya di sana.

Teman saya yang pertama kali berkunjung di sini, biasanya langsung terpukau dengan pemandangan yang ada. Di titik 0 pendakian saja sudah mulai foto-foto. Saya bilang kepada mereka kalau pemandangan di sini belumlah seberapa, nanti kalau kita naik sedikit akan menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Ya betul, naik sedikit saja kita akan disuguhkan bentangan pemandangan laut dan rumah-rumah penduduk di bawah sana. Tunggu, belum. Naik sedikit lagi, di atas batu besar, kita akan punya tempat yang paling baik untuk mengambil gambar dari ketinggian. Pantai, laut, bukit, pohon-pohon kelapa, atap-atap rumah tersaji seindah-seindahnya dari kejauhan. Subhanallaah.

Di tengah jalan kita menemui persimpangan. Kalau lurus kita akan menuju tingkat paling atasnya, namun cukuplah hari ini kita ke tingkat empatnya saja. Karena biasanya para pengunjung lebih suka di sana. Di situlah spot yang paling normal untuk didaki tanjakannya dan direnangi kolamnya.

Kurang lebih 500 meter dari tempat kita bermula atau sekitar setengah jam berjalan santai sampailah kita di Air Terjun Tujuh Tingkat. Tingkat paling bawah, kedua, ketiga, keempat, dan kelima berkumpul dalam jarak yang tidak begitu jauh. Ada bangunan yang terbuat dari papan kayu, di pinggir air terjun, di atas ketinggian, tempat untuk berleha-leha sehabis mandi, tempat untuk memandang ke bawah.

Sudah lama tidak berkunjung ke air terjun. Terakhir waktu ada perkemahan di Taman Nasional Gunung Gede, bertahun-tahun lampau. Itu pun hanya lewat. Tidak jebar-jebur serupa Penguin Gentoo di Semenanjung Antartika. Sekarang, ribuan kilometer dari kaki bukit Gunung Gede, di bawah Pegunungan Leuser, saya merasakan kembali kesegaran air pegunungan. Airnya jernih sehingga dasar kolam air terjun bisa dilihat. Tetapi memang jika turun hujan tetaplah membawa material dari atas. Membuat sedikit keruh. Sedikit saja. Airnya tetap bening kehijauan. Yang pasti air terjun ini tidak ada beda dengan air terjun di tanah kerinduan, Bogor. Cuma kurang satu: Degung Cianjuran.

Di air terjun tingkat keempat, area kolamnya cukup luas dan dalam. Ini memungkinkan kita untuk terjun dengan gaya apa saja. Gaya sekelas peloncat indah Olimpiade London atau gaya batu sekalipun silakan. Di sinilah saya kembali memuaskan hasrat masa kecil dulu seperti waktu saya terjun dari ketinggian beton penahan air Sungai Cimanuk, Jatibarang, Indramayu.

 


Pemandangan bawah yang diambil dari ketinggian jalanan menuju Air Terjun Tingkat Tujuh (Foto koleksi pribadi).

Cemmana pula ini awak (Foto koleksi pribadi).

 

Bersama DJ-Ono di depan Air Terjun Tingkat Tujuh. Kok enggak pose berdua? Ini gantian ngambilnya. 😀 (Foto koleksi pribadi)

Gubug di atas air terjun. Bisa memandang segala. (Foto koleksi pribadi).

 

Kalau yang ini Air Terjun Tingkat Keduanya (Foto koleksi pribadi).

Nah yang ini, tingkat keempat. (Foto koleksi pribadi).

 

 

Siap-siap lompat (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pokoknya seru banget dah di sini. Segar, senang-senang, renang-renang, terjun-terjun, selam-selam, foto-foto. Sensasinya beda sekali dengan sensasi saat menjalani kegemaran baru saya di Tapaktuan ini: snorkelling. Sensasi kesegaran dan amannya lebih terasa. Sudah barang tentu lebih aman di air terjun ini daripada di laut. Tidak perlu khawatir binatang laut berbisa, kedalaman palung, dan seretan ombak tentunya.

Tapi sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang, untuk kedua kalinya dompet saya—dengan segala isinya—ikutan mandi. Kali ini mandi air tawar. Hari kemarin, saat snorkelling di tengah laut, saya tidak sadar kalau menyelamnya sambil bawa-bawa dompet di kantung bagian belakang. Untung tidak jatuh. Teman di pantai yang sedang santai-santai bilang, “Di sono
kagak ada warung kenapa bawa dompet segala.” Untuk kedua kalinya pula, apa yang ada di dalam dompet akan dikeringkan lagi. Ini pertanda apa?

Pada akhirnya selain untuk membunuh rindu, maka menikmati keindahan dan kesegaran adalah jalan jiwa mencari sebuah inspirasi. Untuk dituliskan. Dan saya persembahkan kepada Anda. Cukuplah apa yang dikatakan Umar Kayam, “Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…”

Di tengah kebosanan yang menjelma puncak Cartenz, belantara sepi yang menggoda fokus, samudera luas ketidaktahuan tentang apa yang mau ditulis lagi, saya tetap mencoba melanjutkan menggerakkan jari-jari saya di atas papan ketik komputer, sesulit apa pun. Dan menjelmalah ia menjadi apa yang sedang dibaca oleh Anda saat ini. Tentang air terjun yang pada sabitnya, tak ada satu pun bidadari turun dari pelangi untuk saya curi selendangnya.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 Januari 2014

RIHLAH RIZA #24: JEJAKMU MERAKSASA, RINDUKU APALAGI


RIHLAH RIZA #24: JEJAKMU MERAKSASA, RINDUKU APALAGI

Atau biarkanlah ketika kangen yang meraksasa itu menusuk pusat pertahanan ketegaran, izinkanlah memuarakannya pada samudera keheningan yang bernama doa dan sajak. Seperti dua laki-laki ini.

**

Matahari duha bersinar hangat. Ini saat yang tepat menuju tempat yang menjadi ciri khas kota Tapaktuan: Tapak Raksasa Tuan Tapa. Enggak afdal jika berkunjung ke kota pala ini tetapi tidak mampir melihatnya. Dan baru kali ini—selama hampir tiga bulan di Tapaktuan—saya menyempatkan diri berkunjung. Itu pun karena mengantarkan teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh yang sedang silaturahmi ke Tapaktuan.

Seperti kebanyakan daerah wisata di Kabupaten Aceh Selatan ini yang potensinya kurang digarap maksimal, papan petunjuk arah menuju lokasi wisata jejak Tuan Tapa pun tidak ada sama sekali. Entah di pusat kota atau di lokasi wisatanya sendiri. Tidak ada juga plang atau papan informasi yang menceritakan legenda atau asal usul objek wisata itu seperti yang saya sering lihat ketika mengunjungi objek wisata atau situs bersejarah di Banda Aceh.

Bekas tapak berukuran besar itu terkait dengan legenda yang beredar di kalangan masyarakat Aceh Selatan. Yakni ketika sepasang naga bertarung dengan Tuan Tapa dalam rangka memperebutkan Putri Naga. Putri ini sebenarnya adalah anak manusia yang terombang-ambing dari kapal Cina yang karam. Putri itu lalu diasuh sepasang naga tersebut.

Dalam salah satu versi cerita, Tuan Tapa dimintakan bantuannya oleh orang tua sang putri. Mereka ingin mengambil kembali anak mereka dari cengkeraman sepasang naga. Tuan Tapa berkelahi dan berhasil membunuh naga jantan. Naga betina melarikan diri walaupun pada akhirnya tewas juga. Bekas-bekas pertempuran yang berserakan, antara lain tapak raksasa, tongkat, dan topi Tuan Tapa menjadi bukti dari legenda itu dan bisa disaksikan sampai sekarang. Namanya juga legenda, kita tidak pernah tahu realitas sesungguhnya dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut masyarakat Aceh Selatan ini

Lokasi tersebut berada tidak jauh dari pelabuhan Tapaktuan. Tepatnya berada di belakang gedung olahraga. Untuk ke sana bisa ditempuh dengan mobil, motor, sepeda, atau jalan kaki. Semua kendaraan hanya bisa diparkirkan di kaki bukitnya. Kendaraan bus tentunya tidak bisa masuk. Tempat parkirnya berada di tepian laut. Satu garis dengan tembok pembatas pelabuhan. Ada semacam bangunan kecil di sana sebagai tempat istirahat atau pos. Dan perlu diperhatikan tidak ada orang yang menjaga kendaraan di sana. Pastikan semua terkunci dengan aman. Apalagi sepeda.

Dari tempat parkir itu naik ke atas bukit melalui jalan setapak yang sudah dibuat undakan semen. Berjalannya harus hati-hati karena di sebelah kiri undakan itu jurang dan laut dengan ombak yang besar. Tidak butuh waktu lama dan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke bagian tertinggi undakan. Setelah itu kita menyusuri bebatuan hitam untuk bisa sampai ke tapak raksasanya. Batu-batu itu terjal sehingga harus tetap waspada melangkahinya.

Di atas batu-batu itulah—walaupun belum sampai ke titik akhir—kita akan benar-benar terpesona dengan keindahan alam yang memanjakan mata. Tempat ini bisa dijadikan tempat untuk berkhalwat dan berkontemplasi. Batu hitam, ombak besar yang menghantam pantai, semilir angin, pepohonan yang rindang adalah suasana yang mendukung dalam pencarian sebuah inspirasi.

Ada adat-istiadat yang harus dipegang saat mengunjunginya. Terutama sekali agar tidak bicara sembarangan dan tinggi hati. Sebenarnya tidak hanya di tempat itu, di mana pun adanya, sikap angkuh dan banyak cakap itu tidak terpuji. Ada lagi aturan penduduk setempat bagi perempuan pengunjung, yang boleh sampai ke jejak itu adalah perempuan yang tidak datang bulan. Kalau lagi datang bulan cukup melihatnya dari atas batu hitamnya saja. Tidak boleh mendekat. Aturan ini adalah bentuk kearifan lokal, turuti saja, dan bukan pada masalah angker atau keramatnya melainkan pada ketiadaan jaminan keselamatan yang ada.

Sampai di situsnya, jejak tapak itu, bolehlah kita ambil gambar tetapi jangan lupa pula untuk berhati-hati. Karena pernah kejadian, di hari keempat lebaran tahun 2013 lalu, ada tiga orang dimakan ombak. Kejadiannya persis jam-jam pagi seperti kedatangan kami ini. Dua orang tewas, salah satunya perempuan. Satu orang selamat walaupun dalam kondisi kritis. Jadi kalau mau foto-foto lihat posisi dan keadaan ombaknya. Jangan asal pose. Apalagi berpose di ujung kaki sambil duduk di tepian karangnya. Tepian karang itu dengan permukaan laut cukup tinggi, ini berarti ombak yang menerjang dan menelan bulat-bulat tiga orang itu adalah ombak yang sangat besar.

Setelah puas melihat-lihat, kami pun pulang. Sebenarnya ada undakan lagi menuju puncak Gunung Lampu ini. Undakan ini menuju menara pemancar yang kalau kita memanjatnya akan terlihat seluruh pemandangan kota Tapaktuan. Dari posisi teratas di bukit ini kita juga bisa melihat dan mengambil gambar jejak Tuan Tapa dari ketinggian. Tapi untuk hari ini kami cukup sampai di sini dulu. Suatu saat kami akan kembali dan menaiki puncak yang paling tingginya.

Jejak raksasa itu berada di ujung karang sebelah kiri, lihat bangunan kecil itu adalah semacam saung atau pos, di situlah kendaraan diparkirkan. Sedangkan gedung besar itu adalah gedung olahraga. (Foto Koleksi pribadi).

Jalan setapak menuju tapak raksasa Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Pemandangan pelabuhan angkutan barang dari Gunung Lampu (Foto koleksi pribadi).

Salah satu pemandangan pantai Tapaktuan yang diambil dari karang batu hitam (Foto koleksi Agung Pranoto EP).

Di atas jejak raksasa Tuan Tapa (Foto koleksi Agung Pranoto EP)

Bersama teman-teman KPP Pratama Meulaboh (Kika): Niko Andriansyah Kopa: Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II, Agung Pranoto Eko Putro: Kepala Seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal, Tulus Mulyono Situmeang: Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi II KPP Pratama Tapaktuan, saya, Yan Permana: Account Representative KPP Pratama Tapaktuan, dan Agus Salim: Kepala Seksi Penagihan KPP Pratama Meulaboh, bercelana pendek hijau (Foto koleksi pribadi).

Cara ini, mengunjungi tempat-tempat indah di Tapaktuan, adalah cara tepat membunuh rindu yang serindu-rindunya, rindu yang bikin pilu sepilu-pilunya. Atau mengalihkan sejenak dari kepenatan mengembara savana kangen. Atau biarkanlah ketika kangen yang meraksasa itu menusuk pusat pertahanan ketegaran, izinkanlah memuarakannya pada samudera keheningan yang bernama doa dan sajak. Seperti dua laki-laki ini.

Di sebuah maghrib laki-laki yang satu mendoakan anak-anaknya. “Kalau aku kangen, aku bacakan Alfatihah untuk anak-anakku. Di halaman depan Alquran, sebelum surat Alfatihah, aku tempel pas foto mereka berdua. Dan sebelum aku tilawah, aku baca Alfatihah sambil memandangi foto mereka lalu aku cium fotonya satu per satu. Sebelum tidur, bila tidak capek sekali, Saya sebut nama dan mendoakan mereka. “

Laki-laki yang tak mau disebut namanya ini menambahkan, “Aku hanya mengingat nasihat Ibu saya. Kalau anak-anak itu tidak hanya cukup dipenuhi kebutuhan fisiknya saja. Aku juga harus prihatin untuk anak-anak. Puasa, salat malam, mendoakan mereka adalah laku prihatin itu. Mengusap-usap kepala mereka bila tidur dan membacakan doa-doa diubun-ubun mereka. Itu yang dilakukan ibu kepadaku.”

“Sampai sekarang aku belumlah sehebat ibuku. Ibu selalu berpuasa bila anak-anaknya akan dan sedang ujian. Selalu menghibur bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Sedoyo sampun dikersakke Gusti Allah, ” tambahnya lagi.

Di sebuah pagi, lelaki lain menuliskan rasa kangennya di buku catatan hariannya. “Semalam mau menelepon Mas Haqi, tapi telepon asramanya tidak ada yang mengangkat. Pagi ini pun demikian. Susah adanya. Padahal Abi sudah kangen sama Mas Haqi. Sudah setengah bulan lebih tak mengobrol dengannya. Tadi malam pun telepon rumah begitu. Mas Ayyasy sudah tidur. Kinan habis menangis. Waktu menerima telepon bekas-bekas tangisan menjejak di pita suaranya. Abi bilang, nanti sebentar lagi Abi pulang. Melihat di internet ada gambar kalian berdua, foto Mas Ayyasy dengan Kinan di samping patung unta, membuat kangen Abi bertambah saja Nak. “

Caramu melampiaskan kangen seperti apa?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 18 Januari 2014