RIHLAH RIZA #25: TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI


RIHLAH RIZA #25:

TAK ADA SELENDANGNYA YANG BISA KUCURI

 

 

“Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…” (Umar Kayam, Desember 1982)

**

 

Seringkali menyangka kalau gemericik air itu hanya ada di Bogor, atau tanah Pasundan lainnya. Gemericik air yang menggelitik telinga, menenteramkan hati yang gundah, mendinginkan kepala, dan memancing-memancing setiap yang bermata untuk bisa menyentuh segarnya. Turun dari pancuran atau sela-sela tanah pegunungan. Berkumpul semuanya lalu menjadi besar dan turun kembali menjadi air terjun. Orang Sunda bilang itu curug. Ada seperti Curug Cigamea, Curug Pangeran, Curug Luhur.

Suatu tempat eksotis. Pantas saja para peri kahyangan turun ke bumi. Di serat Babat Tanah Jawi, Jaka Tarub tahu benar akhlak para batari, maka ia ambil satu selendangnya saja, jadilah itu sebuah cerita dari mulut ke mulut yang diturunkan kepada anak cucu. Sebuah mitos untuk memberikan legitimasi bahwa walaupun Mataram didirikan dari keluarga petani, bukan keluarga bangsawan, mereka adalah keturunan anasir-anasir dari langit nan absurd: bidadari.

Ternyata Tapaktuan, negeri 1000 ombak, punya juga persemayaman para dewi ini. Namanya Air Terjun Tujuh Tingkat. Letaknya di desa Batu Itam, di selatan pusat kota Tapaktuan. Tidak ada penunjuk tempat wisata ini. Pokoknya sebelum kita melewati gunung yang kedua ada jembatan, sebelum jembatan ada masjid di sebelah kiri jalan, sebelum masjid itu ada gang atau lorong. Di lorong itulah mobil kecil bisa masuk. Cukup untuk satu mobil saja.

Dari ujung jalan kecil, sekitar 200 meteran, parkirkan mobil di tanah lapang di pinggir sungai. Di atas sungai ada jembatan beton. Dari jembatan itulah kita memulai perjalanan mendaki menuju air terjun yang menjadi penyuplai utama air bersih Kota Tapaktuan ini. Kalau tidak hujan, motor bahkan bisa sampai menuju titik terdekat air terjun sehingga kita tidak perlu kehabisan tenaga dan bisa mengurangi waktu tempuh.

Jika kaki kita mampu berjalan dan nafas kita masih panjang, berjalanlah dari tempat parkir itu. Kita akan temui pemandangan indah saat menyusuri jalanannya. Kita berada di kaki bukit hijau dengan pepohonan lebat nan alami dan juga ladang-ladang penuh pohon pala. Para peladang mendirikan gubug-gubugnya di sana.

Teman saya yang pertama kali berkunjung di sini, biasanya langsung terpukau dengan pemandangan yang ada. Di titik 0 pendakian saja sudah mulai foto-foto. Saya bilang kepada mereka kalau pemandangan di sini belumlah seberapa, nanti kalau kita naik sedikit akan menemukan sesuatu yang menakjubkan.

Ya betul, naik sedikit saja kita akan disuguhkan bentangan pemandangan laut dan rumah-rumah penduduk di bawah sana. Tunggu, belum. Naik sedikit lagi, di atas batu besar, kita akan punya tempat yang paling baik untuk mengambil gambar dari ketinggian. Pantai, laut, bukit, pohon-pohon kelapa, atap-atap rumah tersaji seindah-seindahnya dari kejauhan. Subhanallaah.

Di tengah jalan kita menemui persimpangan. Kalau lurus kita akan menuju tingkat paling atasnya, namun cukuplah hari ini kita ke tingkat empatnya saja. Karena biasanya para pengunjung lebih suka di sana. Di situlah spot yang paling normal untuk didaki tanjakannya dan direnangi kolamnya.

Kurang lebih 500 meter dari tempat kita bermula atau sekitar setengah jam berjalan santai sampailah kita di Air Terjun Tujuh Tingkat. Tingkat paling bawah, kedua, ketiga, keempat, dan kelima berkumpul dalam jarak yang tidak begitu jauh. Ada bangunan yang terbuat dari papan kayu, di pinggir air terjun, di atas ketinggian, tempat untuk berleha-leha sehabis mandi, tempat untuk memandang ke bawah.

Sudah lama tidak berkunjung ke air terjun. Terakhir waktu ada perkemahan di Taman Nasional Gunung Gede, bertahun-tahun lampau. Itu pun hanya lewat. Tidak jebar-jebur serupa Penguin Gentoo di Semenanjung Antartika. Sekarang, ribuan kilometer dari kaki bukit Gunung Gede, di bawah Pegunungan Leuser, saya merasakan kembali kesegaran air pegunungan. Airnya jernih sehingga dasar kolam air terjun bisa dilihat. Tetapi memang jika turun hujan tetaplah membawa material dari atas. Membuat sedikit keruh. Sedikit saja. Airnya tetap bening kehijauan. Yang pasti air terjun ini tidak ada beda dengan air terjun di tanah kerinduan, Bogor. Cuma kurang satu: Degung Cianjuran.

Di air terjun tingkat keempat, area kolamnya cukup luas dan dalam. Ini memungkinkan kita untuk terjun dengan gaya apa saja. Gaya sekelas peloncat indah Olimpiade London atau gaya batu sekalipun silakan. Di sinilah saya kembali memuaskan hasrat masa kecil dulu seperti waktu saya terjun dari ketinggian beton penahan air Sungai Cimanuk, Jatibarang, Indramayu.

 


Pemandangan bawah yang diambil dari ketinggian jalanan menuju Air Terjun Tingkat Tujuh (Foto koleksi pribadi).

Cemmana pula ini awak (Foto koleksi pribadi).

 

Bersama DJ-Ono di depan Air Terjun Tingkat Tujuh. Kok enggak pose berdua? Ini gantian ngambilnya. 😀 (Foto koleksi pribadi)

Gubug di atas air terjun. Bisa memandang segala. (Foto koleksi pribadi).

 

Kalau yang ini Air Terjun Tingkat Keduanya (Foto koleksi pribadi).

Nah yang ini, tingkat keempat. (Foto koleksi pribadi).

 

 

Siap-siap lompat (Foto koleksi pribadi).

 

 

Pokoknya seru banget dah di sini. Segar, senang-senang, renang-renang, terjun-terjun, selam-selam, foto-foto. Sensasinya beda sekali dengan sensasi saat menjalani kegemaran baru saya di Tapaktuan ini: snorkelling. Sensasi kesegaran dan amannya lebih terasa. Sudah barang tentu lebih aman di air terjun ini daripada di laut. Tidak perlu khawatir binatang laut berbisa, kedalaman palung, dan seretan ombak tentunya.

Tapi sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang, untuk kedua kalinya dompet saya—dengan segala isinya—ikutan mandi. Kali ini mandi air tawar. Hari kemarin, saat snorkelling di tengah laut, saya tidak sadar kalau menyelamnya sambil bawa-bawa dompet di kantung bagian belakang. Untung tidak jatuh. Teman di pantai yang sedang santai-santai bilang, “Di sono
kagak ada warung kenapa bawa dompet segala.” Untuk kedua kalinya pula, apa yang ada di dalam dompet akan dikeringkan lagi. Ini pertanda apa?

Pada akhirnya selain untuk membunuh rindu, maka menikmati keindahan dan kesegaran adalah jalan jiwa mencari sebuah inspirasi. Untuk dituliskan. Dan saya persembahkan kepada Anda. Cukuplah apa yang dikatakan Umar Kayam, “Menulis, pada mulanya, ternyata adalah masalah kemauan yang pribadi sekali. Masalah determinasi. Selanjutnya, ternyata, boleh apa saja ikut terjadi…”

Di tengah kebosanan yang menjelma puncak Cartenz, belantara sepi yang menggoda fokus, samudera luas ketidaktahuan tentang apa yang mau ditulis lagi, saya tetap mencoba melanjutkan menggerakkan jari-jari saya di atas papan ketik komputer, sesulit apa pun. Dan menjelmalah ia menjadi apa yang sedang dibaca oleh Anda saat ini. Tentang air terjun yang pada sabitnya, tak ada satu pun bidadari turun dari pelangi untuk saya curi selendangnya.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

19 Januari 2014

DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI


DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI

 

HuG_by_1uno

 

Anak itu gagal mendapatkan bintang biru sebagai tiket ke Jakarta dalam ajang audisi Idola Cilik 2012. Tangis yang menyertainya tidak meluluhlantakkan hati seorang ibu untuk menghiburnya, untuk memeluknya. Yang ada adalah kemarahan dan kekesalan yang ditumpahkan pada sang anak. “Kamu sih…salah kostum.”

Sang suami kecewa terhadap perlakuan istri terhadap anak mereka. “Sudah…sudah! Sekarang tidak ada lagi acara libur-liburan di Bandung ini. Kita langsung pulang saja ke Jakarta,” kata sang suami. Acara senang-senang setelah audisi yang semula direncanakan itu gagal total hanya karena sang ibu salah menyikapi kegagalan sang anak. Salah yang berbuah luka.

Di waktu lain. Sebuah pesan masuk ke dalam perangkat selular seorang ayah. Dari anaknya yang tengah belajar di pesantren di suatu lembah antara Gunung Gede dan Gunung Salak. “Abi janji enggak akan marah kalau nilai merahnya banyak?” Sang ayah terdiam lalu membalas pesan pendek itu, “Kita lihat saja nanti.”

Saat liburan Idul Adha tiba, sang anak pulang ke rumah dan menyerahkan lembaran rapot sementaranya. Lebih dari tujuh mata pelajaran terbakar dengan warna merah menyala. Sang ayah menatap sang anak yang sudah ketakutan itu. Sang ayah merentangkan kedua belah tangannya lebar-lebar dan bilang, “Peluk Abi.”

Sang ayah tahu betul, di saat itu sang anak tak butuh ceramah apalagi amarah. Yang dibutuhkan adalah pelukan untuk menguatkan dan meneguhkannya. “Masih ada waktu. Ayo perbaiki,” cuma pesan itu yang terkatakan. Ada sayang yang abadi.

Di lain waktu, ia, seorang sahabat sangat karib, sudah bertekad untuk tak menceritakan apapun kesusahan dan derita kepada ayahnya, walau sudah tak tertanggungkan oleh dirinya. Apa sebab? Hanya semata-mata ayahnya pernah berkata, “pokoknya Papa tidak mau tahu urusanmu. Jangan buat Papa mati.” Tak ada komunikasi, apalagi pelukan yang menghangatkan dan membakar lara.

Pun seharusnya pelukan itu mendamaikan. Jika itu dilakukan tanpa hipokrasi. Maka adalah niscaya untuk para politikus yang berada di Senayan. Saat mereka melancarkan kekerasan verbal yang membuat gaduh negeri ini. Bagaimana tidak, kata-kata seperti “dicincang” mudah keluar dari mulut seorang Gus Choi saat mengomentari tingkah Sutan Bhatoegana yang dianggap melecehkan Gus Dur. Ayolah berpelukan.

Pelukan itu adalah hasrat memaafkan. Percaya tidak jika memaafkan orang yang bersalah itu melegakannya, sedangkan memaafkan orang yang tak bersalah itu melegakan kita? Pelukan itu mendamaikan dan perdamaian membutuhkan memaafkan.

Maka ingatkah Anda kapan pelukan terakhir itu hinggap dibahumu seperti hujan yang mengguyur kegersangan di awal musimnya? Atau ada amnesia yang menjelma karena Anda lupa kapan terakhir memeluknya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ri, aku semakin mencintaimu

12:42 06 Desember 2012

Sumber gambar dari sini.