Menyerah untuk Bangkit Kembali


“But man is not made for defeat,” he said.

“A man can be destroyed but not defeated.”

(Ernest Hemingway, 1952)

Bangkok di suatu siang, Alex Danyliuk dalam pelariannya berusaha mengakses internet di sebuah warung internet. Alex memberikan kartu kredit kepada penjaga warnet, karena aturannya sebelum pakai komputer harus bayar dulu.

Alex langsung menuju bangku kosong dan berusaha menghubungi kontaknya. Di sudut sana penjaga warnet sedang memasukkan nomor kartu kredit Alex, tapi apa lacur kartu itu ditolak. Muncul notifikasi di layar komputer penjaga warnet kalau kartu itu kartu kredit bajakan.

Continue reading Menyerah untuk Bangkit Kembali

Kemenkeu Mengajar: Sehari Menjadi Guru



“Kapan Abi bisa ke sini? tanya anak saya, Ayyasy, yang ada di pesantren di kawasan perbatasan Bogor-Sukabumi.

“Kayaknya enggak bisa hari ini Nak. Soalnya Abi harus persiapan buat ngajar besok,” jawab saya dari seberang telepon.

“Yaaaaaaah,” suara Ayyasy mengisyaratkan kekecewaan.

Ïya insya Allah besok, setelah ngajar Abi datang ke sana yah,” jawab saya sambil menahan perih karena ada lubang yang menganga tiba-tiba muncul di hati. Bagi saya yang jarang bertemu dengannya ini nada kecewa darinya tentu menyesakkan dada. Penugasan di Tapaktuan, Aceh Selatan, membuat saya hanya bisa pulang sekali dalam sebulan.

Baca Lebih Lanjut

The Martian: Si Penghuni Mars



Mark Watney tidak menyangka badai Mars membuatnya harus ditinggal anggota tim Ares 3 yang lain karena dianggap tewas. Tidak ada alat komunikasi yang menghubungkannya dengan Hermes—pesawat pulang pergi Bumi Mars—apalagi dengan Houston di Bumi. Mark harus bertahan hidup dengan segala cara sampai bantuan Ares 4 tiba dari Bumi. Tapi itu butuh waktu lama. Kini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar Bumi tahu dia masih hidup.

Sol demi sol ia lalui. Satu sol 39 menit lebih lama dari satu hari. Sebagai seorang ahli botani dan “tukang serba bisa” dalam ekspedisi Mars maka Mark dengan segala cara mendadak menjadi seorang ahli kimia sekaligus ahli fisika untuk bisa bercocok tanam kentang di Hab (tenda pangkalan), memproduksi air, dan menghasilkan oksigen.

Baca Lebih Lanjut.

Kita adalah Roger Bannister di Kehidupan Masing-masing.



Menjelang Subuh, penjaga toilet pool bus di salah satu sudut kota Medan itu terbangun dari tidur lelapnya. Barangkali insting liarnya menggugahnya karena sudah banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk WC tanpa membayar “fee” sebesar 2000 rupiah sebagaimana tertulis besar-besar dengan menggunakan cat berwarna merah di atas masing-masing pintu WC.

Dipan kayu kecil yang berada di depan toilet ia bereskan seadanya. Sambil menanyakan lokasi musala, saya menyerahkan satu lembar kumal uang berwarna kelabu kepada pria penjaga toilet itu. Perawakannya kurus. Kepalanya dengan rambut yang jarang. Wajahnya tirus berdagu lancip. Kumis tipis hanya tumbuh di masing-masing sudut bibir. Bibirnya hitam menandakan ia pecandu rokok kelas berat. Dan betul, ia menanyakan ini.

“Ada mancis?”

Baca Lebih Lanjut.

Hujan yang Dipeluk Rindu


rinainya menyala-nyala dengan cinta

tak pernah minggat dari tanah ini

tiga hari tiga malam

mengembara berjinjit-jinjit

sembunyi di balik rumput

sebagiannya menjadi asa

yang tumbuh di kepala

akarnya ceracau

rantingnya puisi

daunnya ribang

buahnya sekotak dingin

yang terjengkang di atas tubuhku

dihantam sekerat sunyi

dan setumpuk mimpi yang antri

kalau begitu kita khatamkan sama-sama

segara huruf dalam berjilid-jilid buku

yang berjudul:

engkau.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 17 Oktober 2016

99 Sanjungan Semanis Madu



Buku ini ditulis dan diadaptasi dari acara serial reality show di Inggris dengan judul yang sama: Supernanny yang mulai dirilis acaranya pada tahun 2004. Di tahun yang sama acara perbaikan pola pengasuhan anak ini mengilhami dibuatnya serial TV lainnya berupa Dog Whisperer with Cesar Milan. Objeknya bukan anak-anak melainkan anjing.


Saat saya membaca buku Supernanny, saya tertarik untuk menceritakan satu kisah di sini. Ada seorang anak perempuan bernama Sophie. Ia sulung dari dua bersaudara. Perilakunya tidak terkendali dan memiliki penghargaan diri yang rendah. Ibunya, Kelly, pelit untuk memuji.

Baca Lebih Lanjut.

Inilah Cara Jitu Mendapatkan Tiket Pesawat Murah


Tiap akhir pekan, liburan nasional, lebaran, maupun akhir tahun pasti banyak orang yang cari tiket pesawat murah untuk liburan bersama keluarga maupun pulang ke kampung halaman. Sayangnya, waktu-waktu tersebut tentu sangat sulit untuk mendapat tiket pesawat murah yang diinginkan. Namun tak perlu khawatir akan hal itu, karena saat ini banyak cara yang dapat dilakukan agar mendapatkan tiket pesawat murah dengan mudah.


(Sumber Gambar : Nationalgeographic.co.id)

Untuk mendapatkan tiket pesawat yang murah, Anda perlu memperhatikan beberapa hal sebelum booking tiket. Berikut beberapa langkah atau cara jitu yang bisa membantu Anda cari tiket pesawat murah.

Baca Lebih Lanjut.

Buatku, Apalagi yang Ditunggu?



Aku pilih untuk menyudahi malam dengan memintal doa untukmu; untuk bahagiamu. Pada satu doa saat keinginan dan kepasrahan bersatu dalam sujud tanpa syarat, di sanalah kamu sebagai titik tujuannya.

(Moammar Emka)

Saya kembali tidur di musala lantai 2 Bandara Kualanamu tadi malam. Ini untuk kedua kalinya. Yang pertama karena ketinggalan travel menuju Tapaktuan beberapa waktu yang lalu. Sekarang, karena saya menyengaja menghindari naik travel agar bisa berlama-lama dengan keluarga. Dan karena saya sudah sampai pada titik jenuhnya mengarungi gelapnya malam Senin, Kabanjahe, Sidikalang, Subulussalam serta mengorbankan diri untuk duduk berlama-lama selama 10 jam di mobil Kijang Innova.

Makanya saya lebih memilih penerbangan terakhir dari Bandara Halim Perdana Kusumah menuju Bandara Kualanamu dengan menggunakan pesawat Batik Air pada pukul 20.05. Ternyata, saya banyak bertemu dengan teman-teman sejawat yang juga berangkatnya sama: memilih penerbangan terakhir.

Baca Lebih Lanjut.

Malam-malam Jahannam


Di serambi penuh masjid dan ulama

di Jalan Menuju Kedamaian
dua lelaki muda yang dicari,

keluar dari pintu WC yang sama.

***

Riza Almanfaluthi

Citayam, 8 Oktober 2016

Pict by @_universaltime_ 

Asalkan Disuapin Olehmu, Aku Rela



Makan nasi sudah menjadi sebuah kebiasaan selama 38 tahun. Kebiasaan yang baik tentunya. Tetapi ketika sudah berlebihan maka akan menjadi keburukan. Lalu bagaimana caranya agar kebiasaan menjadikan nasi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat itu hilang atau berkurang? Apa dampaknya? Oleng sudah pasti. Alhamdulillah saya sudah bisa melewatinya.

Dulu sewaktu masih di Jakarta, saya penyuka nasi banget. Saya akan memilih warung makan yang memberikan nasi banyak. Kalau sedikit, ogah. Apalagi kalau nasinya sudah ditumplek dalam sebuah wadah atau mangkuk kecil lalu ditaruh dipiring. Itu cuma bukit, bukan gunungan nasi. Ini semua agar kebutuhan vitamin K (baca: kenyang) terpenuhi.

Baca Lebih Lanjut.