99 Sanjungan Semanis Madu



Buku ini ditulis dan diadaptasi dari acara serial reality show di Inggris dengan judul yang sama: Supernanny yang mulai dirilis acaranya pada tahun 2004. Di tahun yang sama acara perbaikan pola pengasuhan anak ini mengilhami dibuatnya serial TV lainnya berupa Dog Whisperer with Cesar Milan. Objeknya bukan anak-anak melainkan anjing.


Saat saya membaca buku Supernanny, saya tertarik untuk menceritakan satu kisah di sini. Ada seorang anak perempuan bernama Sophie. Ia sulung dari dua bersaudara. Perilakunya tidak terkendali dan memiliki penghargaan diri yang rendah. Ibunya, Kelly, pelit untuk memuji.


Supernanny datang dan melihat situasi yang terjadi. Lalu nasihat  diberikan kepada Kelly agar ia memberikan pujian kepada Sophie. Suatu hari, Kelly langsung mempraktikkannya. Kelly memuji rambut panjang Sophie  nan indah. Lalu apa yang terjadi?

Sophie meminta ibunya untuk dibelikan jepit rambut. Lalu Sophie mulai berdiri di depan kaca dan merapikan rambutnya sendiri. Ini mengejutkan, karena belum pernah Sophie melakukan itu sebelumnya. Sophie sedang menunjukkan bahwa dia berkompeten untuk melakukan sendiri semua itu dan pujianlah yang mendorongnya.

Mengakhiri kisahnya, Jo Frost penulis buku itu bilang,

“Mengajari anak-anak untuk mengatakan “tolong” dan selalu menghormati milik-milik mereka adalah penting. Akan tetapi, jangan pernah pelit dengan pujian: Anda tidak rugi sepeser pun jika Anda memberi dari hati.”


Makanya Timothy J Sharp dalam buku yang berjudul The Secret of Happy Children pernah menulis bahwa bukan perlakuan istimewa yang diinginkan anak-anak. Mereka ingin  diakui karena telah melakukan sesuatu yang berarti, mereka ingin dihargai karena berhasil melakukan sebuah pekerjaan.

Tindakan ini menurut Timothy jauh lebih baik daripada harus terus menerus mengingatkan, memaksa dengan ancaman, memarahi, atau mengoreksi tindakan anak mengenai masalah yang tengah berlangsung. Hal ini juga akan lebih menyehatkan bagi hubungan kita dengan anak.

Mulai sekarang, ketika ada anak mendatangi kita saat pulang kerja dan kita masih mengalami kelelahan yang luar biasa, sisihkan waktu sebentar saja untuk mendengarkan apa yang ia mau ceritakan ketika ia menyodorkan lembaran kertas hasil ulangan hariannya dengan ponten berapa pun yang ditulis besar-besar oleh gurunya di sekolah. Katakan padanya, “Bagus sekali.”  Itu lebih berarti daripada es krim dan makanan ringan ber-MSG yang  kita bawa sebagai oleh-oleh buatnya.

Jadilah orang tua yang punya segudang persediaan pujian dan kita tak pernah pelit-pelit untuk menghabiskannya agar anak kita selalu termotivasi. Bahkan jadilah pemuji yang terampil dan cerdik agar tanpa sadar anak kita sesungguhnya sedang kita puji dan membuat hidungnya mekar  seperti bunga tulip Kaufamanniana di awal bulan April.

Kalau sudah begini saya menjadi ingat tentang satu kisah lagi. Seorang pemuda datang kepada mentornya yang menjabat sebagai menteri pemerintahan senior. Kedatangannya ini untuk mengucapkan selamat tinggal karena ia setelah lulus ujian negara beberapa waktu sebelumnya kini diangkat sebagai pejabat pemerintahan di ibu kota provinsi.

“Kamu harus berhati-hati dan senantiasa waspada, karena bekerja di lokasi itu tidaklah mudah,” kata sang mentor.

“Terima kasih, nasihat Bapak akan saya camkan dalam kepala. Tapi tenang saja saya sudah memiliki 100 sanjungan  semanis madu kalau nanti saya bertemu dengan pejabat di sana. Mereka pasti senang kalau disanjung,” kata pemuda itu.

“Bagaimana bisa kamu melakukan itu?” Mentor itu tidak suka dengan apa yang diucapkan sang murid. “Lelaki sejati punya prinsip . Kita tidak seharusnya memuji dan menyanjung untuk menjilat.”

“Betul Pak. Pada kenyataannya banyak orang senang disanjung,” kata muridnya putus asa. “Hanya beberapa orang lelaki yang benar-benar sejati seperti Bapak yang tidak menyukai sanjungan.”


“Barangkali kamu benar,” mentornya mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Pemuda ini menceritakan kisah ini kepada temannya.  “Saya sudah menggunakan satu dari persediaanku. Sekarang saya memiliki 99 sanjungan semanis madu yang tersisa.”

Kini, masihkah kita punya 99 sanjungan semanis madu tersisa buat anak kita tercinta?

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 Oktober 2016

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s