Asalkan Disuapin Olehmu, Aku Rela



Makan nasi sudah menjadi sebuah kebiasaan selama 38 tahun. Kebiasaan yang baik tentunya. Tetapi ketika sudah berlebihan maka akan menjadi keburukan. Lalu bagaimana caranya agar kebiasaan menjadikan nasi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat itu hilang atau berkurang? Apa dampaknya? Oleng sudah pasti. Alhamdulillah saya sudah bisa melewatinya.

Dulu sewaktu masih di Jakarta, saya penyuka nasi banget. Saya akan memilih warung makan yang memberikan nasi banyak. Kalau sedikit, ogah. Apalagi kalau nasinya sudah ditumplek dalam sebuah wadah atau mangkuk kecil lalu ditaruh dipiring. Itu cuma bukit, bukan gunungan nasi. Ini semua agar kebutuhan vitamin K (baca: kenyang) terpenuhi.

Apalagi setelah ditempatkan di Aceh, saya seperti menemukan surganya. Di sini, warungnya kebanyakan “all you can eat”. Ambil nasi dan lauknya sendiri lalu itung semuanya belakangan. Kebanyakan penduduk Aceh ambil nasinya banyak sekali. Ini kesempatan saya juga kalau ambil nasi ya banyak banget. Lalu lauknya yang bergulai dan bersantan begitu.

Sampai di pertengahan November 2014, saya menemukan titik untuk berubah—bukan karena diabetes . Saat tubuh tidak bisa menoleransi akan kegemukan saya, 78 kilogram Bro. Posisi duduk tahiyat akhir dalam salat seperti horor, bikin sesak nafas. Naik tangga juga bikin ngos-ngosan. Akhirnya dari berbagai referensi yang saya baca, saya harus berolahraga dan mengubah pola makan saya.

Saya sudah memutuskan untuk memilih Freeletics sebagai olahraga saya. Itu setelah saya menonton video di Youtube tentang keberhasilan banyak orang yang bertransformasi karena Freeletics.

Pola makan pun harus diubah. Saya harus menjauhi gula. Gula penting bagi tubuh tapi kalau berlebih ya bahaya. Gula ini kalau tidak dijadikan energi maka akan tersimpan menjadi lemak. Nasi menjadi sumber karbohidrat dengan indeks glikemik yang tinggi. Indeks Glikemik merupakan angka yang menunjukkan potensi suatu bahan pangan untuk meningkatkan kadar glukosa darah.

Parahnya, saya penyuka minuman dalam botol yang manis-manis itu. Seringkali saya minum dua botol dalam sehari. Ditambah kopi Aceh yang nikmat itu yang apabila kita pesan, si Barista sering kasih gulanya banyak banget sehingga tanpa diaduk kopi itu sudah manis keterlaluan.

Saya mengurangi nasi dan menjauhi minuman botol-botol itu. Dua minggu pertama saya oleng. Mata berkunang-kunang. Tubuh lemas. Muka pucat. Teman-teman sudah khawatir saja sama saya. Tapi saya bersyukur saya bisa mengatasinya dalam masa penyesuaian itu. Ya bagaimana tidak, saya yang sehari-harinya mengonsumsi gula berlebih lalu menguranginya dengan drastis.

Pola sebenarnya bertahap juga. Tidak radikal langsung menjauhi nasi. Saya memulainya dengan tidak makan nasi pada saat makan sore ataupun makan malam. Saya menggantinya dengan makan buah-buahan. Waktu itu apel. Karena baru apel dan melon jenis buah yang bisa saya makan. Sejak kecil saya memang tidak suka buah. Saya baru bisa makan semangka beberapa bulan setelah saya berniat untuk berubah.

Seminggu pertama lewat saya berhasil tidak makan nasi pada saat makan malam, lalu saya melanjutkannya di minggu kedua dengan mengurangi porsi sarapan yang biasanya dua bungkus menjadi satu bungkus. Minggu ketiga sarapan saya cukup setengah bungkus saja. Dan minggu keempat saya tidak makan nasi pada saat sarapan. Saya ganti dengan jagung rebus atau roti gandum.

Pada minggu kelima, saya sudah mulai belajar untuk mengurangi makan nasi pada saat makan siang. Cukup separuhnya saja. Lalu minggu berikutnya saya sudah terbiasa untuk tidak makan nasi. Lambung saya insya Allah sudah mengecil dan sudah terbiasa dengan tidak makan nasi. Tidak ada lagi di dalam kamus saya ujaran orang Jawa “kalau belum makan nasi belum makan.” Sampai saat ini pola makan saya seperti itu.

Apakah saya strik begitu dengan tidak makan nasi sama sekali? Tentu tidak. Saya manusia. Orang Indonesia. Orang Jawa. Orang Indramayu yang merupakan gudang dan lumbung padi se-Jawa Barat bahkan se-Indonesia. Saya tetap suka dengan nasi.

Ada empat saat yang membuat saya bisa makan nasi. Pertama, saya makan nasi pada saat kangen nasi. Kedua, pada saat tidak ada sumber karbohidrat yang lain karena ingat bahwa karbohidrat itu sampai kapanpun tetap dibutuhkan oleh tubuh. Ketiga, kalau istri saya yang meminta saya agar makan nasi dan tentu saja saya punya syarat kalau dia juga mau menyuapi saya. Ternyata nikmat banget disuapin yah.

Keempat, saat teman saya satu mes pajak, teman satu kantor juga, Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi I Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan yang bernama Bapak Samsul Rizal (Allahuyarham) memerintahkan saya untuk makan nasi pada waktu dia jadi chef di mes. Semoga damai di sana Pak Samsul.

Pada akhirnya saya merasakan kenikmatan yang luar biasa pada saat makan nasi. Dulu menyia-nyiakannya sekarang tidak lagi. Saya menikmati betul setiap suapan nasi yang masuk ke dalam mulut saya. Tentu tetap dengan batasan kalau sehari itu saya sudah makan nasi maka di dua waktu makan yang lain saya tidak makan nasi.

Kemudian bagaimana cara saya mengatasi lapar saya di awal-awal minggu menjauhi nasi itu? Saya juga manusia dan tetap mengenal rasa lapar yang menghebat. Tapi saya bisa mengatasinya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan tips yang diberikan oleh istri saya. Saat saya berangkat kembali ke Tapaktuan, istri saya membekali saya Nutrishake Oriflame untuk saya konsumsi.

Nutrishake Oriflame dengan rasa favorit coklat ini jadi salah satu sumber nutrisi saya. Proteinnya tinggi namun rendah kalori. Saya minum saat lapar saya muncul pada jam 10 pagi atau jam 3 siang. Saya konsumsi juga sebelum saya sarapan, makan siang, ataupun makan malam.

Nutrishake Oriflame ini juga menjadi pendamping sumber protein saya yang lain seperti Whey Protein Concentrate (WPC). WPC ini sekarang sudah saya jarang konsumsi, yang sering adalah Nutrishake ini. Sampai sekarang.

Bahkan pagi ini setelah saya melakukan burpee sebanyak 175 repetisi dan squat sebanyak 100 repetisi saya pun mengonsumsi minuman ini. Ini bukan iklan loh ya, saya menyelantankan eh mengutarakan apa yang sesungguhnya terjadi pada diri saya. Pilihan diserahkan kepada masing-masing. Bukankah setiap orang punya pola dietnya masing-masing yang tak bisa disamakan?

Olahraga dan pola makan seperti itu sudah saya jalankan selama hampir dua tahun. Dan alhamdulillah saya masih bisa melaksanakannya dengan konsisten. Saya berharap ke depannya pun demikian.

Makan yang berlemak tidak menjadikanmu gemuk dalam semalam, namun diet dan olahraga juga tidak menjadikanmu kurus dalam semalam. Semua kembali kepada kebiasaan yang dirutinkan dalam keseharian. Semoga kita semua bisa menghargai arti sebuah proses.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 29 September 2016


Advertisements

2 thoughts on “Asalkan Disuapin Olehmu, Aku Rela

  1. Syarat Ketiga ini saya suka banget mas hihi, “kalau istri saya yang meminta saya agar makan nasi dan tentu saja saya punya syarat kalau dia juga mau menyuapi saya.”

    udah nerapin juga sih mereduksi asupan nasi dalam makanan. Hingga sekarang kecanduan saya terhadap nasi sudah menurun drastis. Tidak setiap hari makan nasi. 🙂

    Liked by 1 person

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s