PROSEDUR PERPANJANGAN SURAT IZIN MENGEMUDI


PROSEDUR PERPANJANGAN SURAT IZIN MENGEMUDI

Saat ini Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya semakin giat untuk meperbaiki pelayanannya kepada masyarakat, terutama dalam hal pelayanan pembuatan dan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM). Contohnya dengan adanya layanan jemput bola berupa SIM keliling yang sangat membantu sekali agar warga tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk sekadar memperpanjang masa berlaku SIM-nya. Tinggal tunggu di tempat yang telah ditentukan dan ikuti prosedurnya, maka urusan ini pun semakin mudah.
Tidak hanya layanan di atas, pelayanan di kantor pun berusaha untuk diperbaiki agar dirasa memudahkan bagi warga. Seperti yang dialami oleh saya yang merasakan kemudahan itu di Kantor Polisi Resort Depok, Sabtu kemarin.Terasa ada perbedaan yang amat mencolok saat saya mendatangi Kantor Polres ini untuk membuat SIM C di tahun 2001 dengan saat ini. Tidak ada lagi calo-calo yang berkeliaran dan aparat yang terang-terangan menawarkan jasa untuk membantu pengurusan. Kini kantor ini terasa semakin rapih, tertib, dan tidak semrawut.
Kesan yang bagus inilah yang membuat saya tertarik untuk menuliskan pengalaman ini kepada Anda pembaca. Agar setidaknya stereotip tentang pelayanan yang diberikan polisi tidak profesional, rumit, berbelit-belit, sedikit banyak dapat terkurangi. Juga setidaknya untuk menjadi pengetahuan dan pedoman bagi Anda di saat kelak nanti akan memperpanjang SIM di Kantor Polres Depok.
Perlu diketahui bahwa urusan membuat SIM baru dan memperpanjang SIM dilakukan di Kantor Polres Depok—letaknya di depan Kantor Walikota Depok. Karena banyak juga orang sering keliru dan tidak tahu di kantor mana SIM bisa dibuat atau diperpanjang di Kantor Polres Depok atau di Kantor Samsat Depok. Tempat yang disebut terakhir inilah yang digunakan untuk membayar pajak kendaraan bermotor dan memperpanjang masa berlaku STNK.
Cakupan kerja Polres Depok adalah bagi masyarakat yang mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Depok ditambah dua kecamatan di Kabupaten Bogor yakni Kecamatan Bojonggede dan Tajur Halang. KTP saya adalah KTP Bojonggede, sehingga bisa membuat SIM di Polres Depok.
Bagi pembaca yang mau memperpanjang SIM—entah A,B, atau C—ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan agar proses penyelesaian perpanjangan SIM ini dapat berjalan lancar dan cepat.
Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan:
1. Fotokopi KTP yang masih berlaku, 2 lembar;
2. Asli Kartu SIM (A,B, atau C);
3. Pulpen/ Ballpoint, 1 buah (Ini penting untuk mengisi formulir, karena jika Anda tidak punya Anda harus membelinya di loket Asuransi. Atau kalau Anda punya muka tebal dan tidak malu Anda bisa meminjamnya ke orang lain yang sama-sama juga membutuhkan alat tulis ini. Tentunya jika Anda tetap lakukan bersiaplah Anda akan mendapatkan antrian yang lebih lama lagi);
4. Persiapkan uang pas, senilai:
Rp15.000,00 untuk tes kesehatan
Rp60.000,00 untuk biaya perpanjangan, (atau Rp75.000 untuk membuat SIM
Baru)
Rp15.000,00 untuk asuransi.
Total biaya untuk memperpanjang SIM sebesar Rp90.000,00;
5. Berangkat lebih pagi agar dapat pelayanan yang pertama. Juga karena jam pelayanan dibatasi, mulai Pukul 08.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB;
6. Memperbanyak doa agar Allah senantiasa mempermudah langkah kita, pun agar apa yang kita kerjakan bisa bernilai ibadah di sisi-Nya.

Setelah semuanya kita persiapkan dengan matang, maka pertama kita menuju ke ruang pemeriksaan kesehatan untuk dilakukan tes kesehatan. Siapkan satu lembar fotokopi KTP untuk ditaruh di kotak yang disediakan petugas di sana. Lalu tunggulah di luar sampai giliran Anda dipanggil.
Setelah dipanggil, masuklah ke ruangan tes dengan mempersiapkan uang tes kesehatan sebesar Rp15.000,00. Lalu Anda akan diberikan dua tes. Tes uji buta warna dan tes mata. Setelah Anda melaluinya dengan mudah, maka Anda akan mendapatkan:
1. secarik kertas bukti tes kesehatan berwarna kuning;
2. fotokopi KTP yang Anda serahkan ke petugas tes kesehatan di awal.
Lalu bergegaslah menuju loket pembayaran, letaknya dekat dengan tempat ujian praktik mengemudi. Serahkan berkas di atas di tambah SIM asli serta uang sebesar Rp60.000,00 kepada petugas loket. Lalu petugas loket akan menyerahkan kembali berkas yang kita serahkan (tentunya tidak untuk uangnya) ditambah dengan resi bank dan satu lembar formulir isian. Kini di tangan Anda sudah ada lima macam dokumen.
Kemudian Anda menuju ke lokasi pendaftaran. Sebelumnya Anda harus melewati pintu gerbang yang dijaga oleh beberapa provost. Untuk dapat melewatinya Anda harus menunjukkan berkas yang ada di tangan Anda, lalu petugas akan mencap tangan Anda—seperti kita memasuki Wahana Dunia fantasi—dengan lambang kepolisian.
Setelah Anda memasukinya, barulah Anda dengan tenang mengisi resi bank dan formulir isian di meja yang telah disediakan. Contoh isian pada formulir tersebut sudah dipajang di dinding, sehingga Anda tak perlu bertanya cara mengisinya ke petugas atau orang lain.
Setelah formulir dan resi bank telah diisi dan ditulis dengan benar, Anda segera menuju loket pembayaran asuransi. Pembayaran ini untuk pembayaran premi Asuransi Kecelakaan Diri Pengemudi (AKDP) yang dikelola oleh PT Asuransi Bhakti Bhayangkara dengan masa tanggungan selama lima tahun.
Di loket inilah Anda tidak perlu menyerahkan berkas yang Anda bawa. Anda cuma menyerahkan satu lembar fotokopi KTP dengan uang senilai Rp15.000,00. Anda akan memperoleh satu lembar Tanda Terima Premi Asuransi (TTPA). Anda tidak lama lagi akan menerima AKDP.
Anda tidak perlu harus menunggu terlebih dahulu AKDP berada di tangan Anda. Anda bisa langsung menyerahkan semua berkas perpanjangan SIM Anda dengan menunjukkan TTPA ke loket pendaftaran. Oleh petugas loket TTPA itu dikembalikan kepada Anda.
Setelahnya, segera Anda menuju tempat tanda tangan yang berada di sebelah pintu masuk ruang pemotretan. Di sana ada bapak tua yang bertugas mengarahkan Anda. Anda memberikan tanda tangan di secarik kertas kosong. Jangan pakai pulpen yang Anda bawa karena di sana telah disediakan pulpen khusus. Setelah diteken, kertas itu Anda simpan untuk dibawa masuk ke ruang foto. Lalu tunggulah sampai nama Anda di panggil melalui pengeras suara untuk dilakukan pemotretan.
Sambil menunggu itulah, Anda bisa menikmati suguhan layanan yang diberikan Polres Depok, seperti air minum dari dispenser, permen, brosur-brosur lainnya, dan tentunya banyak koran harian untuk bacaan pembunuh rasa bosan. Di saat itulah, tidak berapa lama Anda akan mendapatkan AKDP.
Kurang lebih tiga perempat jam Anda akan dipanggil untuk masuk ruang foto. Di sana, Anda akan bergiliran difoto dengan pemohon yang lain. Lalu setelah difoto Anda kembali keluar dan menunggu lagi. Sekitar sepuluh sampai lima belas menit Anda sudah akan mendapatkan kartu SIM yang berlaku sampai lima tahun ke depan.
Selamat, Anda telah menyelesaikan semua prosedur perpanjangan SIM ini yang memakan waktu kurang lebih dua jam tersebut. Mudah dan tidak berbelit-belit jika Anda memahaminya. Untuk kali ini, saya salut kepada Polres Depok.
***
Demikian inilah yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat. Apabila ada kekurangjelasan silakan untuk hubungi email ini: dedaunan02@telkom.net.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:19 15 Juli 2006.

8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI


Friday, July 14, 2006 – 8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI

8 TAHUN 7 BULAN 7 HARI

(Cuma Diary Belaka)

Hampir setahun yang lalu—tepatnya pada tanggal 19 Agustus 2005—saya menulis di Ciblog ini tentang kegembiraan saya bisa pindah dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga ke KPP PMA Empat—yang pada akhirnya tidak jadi itu. Karena walaupun surat keputusan tentang kepindahan sudah dikeluarkan tapi secara definitif pelaksanaannya baru bisa direalisasikan pada pekan ini. Entah kenapa…?

Ya, setelah ada pergantian pejabat eselon dua dan tiga di Kantor Wilayah (Kanwil) DJP Jakarta Khusus rencana perpindahan itu kembali menguat apalagi telah dilakukan pelantikan pada hari Senin kemarin (10/7) kepada seluruh Account Representative (AR). Walaupun pada saat pelantikan tersebut terdapat insiden yang tidak diinginkan. Pada saat pelantikan Kepala Kanwil Jakarta Khusus menegur peserta pelantikan yang tidak mengindahkan kekhidmatan upacara tersebut. Maklum saja ada kurang lebih 350 orang berada di aula kecil KPP PMA Dua & Tiga.

Berdasarkan kesepakatan informal antara seluruh Kepala KPP di lingkungan Kanwil Jakarta Khusus, AR baru diharapkan sudah running per tanggal 17 Juli 2006 besok. So, saya benar-benar harus mempersiapkan dan membereskan segalanya, terutama seluruh pekerjaan yang memang ada jatuh temponya itu. Diharapkan AR pengganti saya tidak merasa ditimpakan dengan beban berat.

Lalu saya memberikan catatan-catatan kecil dengan kertas post it berwarna merah menyolok pada berkas-berkas yang ada di meja saya. Supaya AR-nya pun tidak bingung nantinya. Dan tak lupa dua berkas putusan pengadilan pajak yang baru saja datang segera saya selesaikan dengan membuatkan uraian penjabaran putusan pengadilan pajak serta Draft Pelaksanaan Putusan Pengadilan Pajak melalui Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP). Tepat pada pukul tiga siang kemarin, saya sudah menyelesaikan semuanya. Terutama pula Memori Alih Tugas yang deadline-nya hari Jum’at ini.

Sekarang, hari ini, beres-beres semua barang pribadi saya. Persiapan kepindahan, coy…Perlu diketahui bahwa baru kali ini saya pindah kantor setelah 8 tahun 7 bulan 7 hari lamanya saya berada di KPP PMA Tiga. Lama juga yah…

Ya, sejak dari kampus saya memang langsung ditempatkan di kantor itu. Dalam kurun 7 tahun pula saya di sana cuma mengalami dua kali perpindahan antarseksi. Pertama, sebagai pelaksana di Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan sejak tanggal 07 Desember 1997. Lalu pada September 2001 pindah ke seksi Penagihan. Setahun setengah sebagai pelaksana di Subseksi TUPP cukup menjadi bekal untuk menjadi jurusita pajak apalagi setelah mendapat pendidikan dan pelatihan Jurusita Pajak.

Barulah pada Oktober 2004, saya dilantik menjadi AR setelah menjalani berbagai ujian. Maksud saya ini benar-benar ujian dalam arti sesungguhnya. Mulai dari mengikuti sidang skripsi agar bisa mendapat gelar kesarjanaan untuk bekal mengikuti Diklat UPKP V.

Lalu agar bisa naik pangkat di golongan III/a, saya harus mengikuti ujian UPKP V. Alhamdulillah saya lulus hanya dengan satu kali ujian. Setelah per Oktober 2003 naik pangkat dan golongan, saya diberikan kemudahan oleh Allah untuk dapat mengikuti ujian untuk menjadi AR. Lagi-lagi Allah memberikan nikmat yang tiada terkira. Saya termasuk dalam daftar AR yang ditempatkan di kantor pajak moderen. Di KPP PMA Tiga lagi. So, saya masih berkutat di kantor ini lagi. Masih menjadi makhluk penunggunya.

Satu tahun sembilan bulan saya menjadi AR di KPP PMA Tiga. Banyak suka dan duka tentunya. Sukanya, saya ditempatkan di seksi yang lumayan tidak sibuk. Tapi ini berkaitan dengan dukanya, yaitu berkutat dengan wajib pajak pertambangan emas yang selalu punya sengketa perpajakan dengan Direktorat Jenderal Pajak. Jadinya saya memang akrab sekali dengan sesuatu yang bernama putusan pengadilan pajak. Kita kalah mulu…

Lama-kelamaan berkutat di sana, saya semakin mudah memahami alur dan cara kerja SIDJP. Mungkin bisa dikatakan kalau saya familiar—untuk tidak mengatakan ahli—sekali dengan proses pencairan kelebihan pembayaran pajak via keberatan atau banding Wajib Pajak. Saya harapkan semua ini menjadi bekal berharga di kantor yang baru nanti.

Ya betul, kiranya tidak hanya bekal itu. Bekal selama 8 tahun, 7 bulan, 7 hari yang telah berlalu itulah menjadi bekal paling berharga. Bekal tentang bekerja yang baik, kedisiplinan, manajemen waktu dan pekerjaan, menghadapi orang, berbicara di depan umum, mengeluarkan pendapat, mengutamakan kejujuran, keterusterangan, dan mencari solusi.

Saya harapkan bekal itu cukup di kantor yang baru, tapi tidak berhenti di situ, saya berharap pula untuk mendapatkan bekal yang lebih baik lagi. Dari siapa saja tentunya. Dari kepala kantor yang baru, kepala seksi yang baru, teman-teman AR, pelaksana, honorer, office boy, bahkan teman-teman Satpam sekalipun. Karena satu yang saya sadari: jangan pernah melihat orangnya, tapi dengarkan apa perkataannya.

Di sana barangkali ada sejuta hikmah, kebaikan, dan keindahan akhlak yang bisa memacu saya—dan Anda Pembaca tentunya—untuk menjadi yang terbaik di mata Allah. Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan diranting cemara

Jum’at, 14 Juli 2006
sebagai pelipur sepekan tidak menulis

KYAI PORNO


Secara bergurau teman sejawatnya memberikan julukan ini pada KH Ma’ruf Amin—Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)—saat ia mendapatkan amanah sebagai Ketua Tim Pengawal Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) MUI. Ia pun pada gurauan yang lain disebut juga sebagai Ketua Teroris karena mengetuai Tim Penanggulangan Terorisme yang dibentuk MUI.
Tidak hanya itu Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini pun mempunyai julukan sebagai Kyai Bankir karena konsistensinya dalam memperjuangkan penerapan syariah dalam sistem perbankan Indonesia. Istilah-istilah akuntansi, perbankan, keuangan lainnya seperti meluncur dengan ringan dalam setiap pembicaraannya. Tidak menandakan bahwa beliau mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda 180 derajat dengan apa yang ditekuninya sekarang.
Pandangan ini adalah sedikit banyak yang saya tangkap pada sesi yang dibawakan oleh Beliau dalam tema Peranan Dewan Syariah Nasional dalam Pengembangan Perbankan Syariah.
Sesi ini adalah sesi terakhir dari rangkaian sesi sepanjang tiga hari mulai tanggal 04 Juli s.d. 06 Juli 2006 kemarin yang berjudul Executive Overview of Islamic Bank. Overview yang diselenggarakan oleh PT Bank BNI bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) dan Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus ini memang sangat menarik sekali.
Di samping bahwa hal ini merupakan sesuatu yang baru bagi aparat pajak—karena sesi yang dibahas sama sekali tidak berkaitan dengan masalah perpajakan yang biasa digeluti—juga memberikan pemahaman yang luas betapa pentingnya penerapan syariah dalam kehidupan perekonomian terutama penerapan syariah dalam sistem perbankan Indonesia.
Sebelum membahas pada hal-hal yang lebih teknis dari perbankan syariah para peserta Overview diberikan pemahaman pentingnya syariah terlebih dahulu di sesi pertama dengan tema berjudul Islamic Way of Live dan Sumber Daya Insani Bank Syariah. Pada sesi ini dijelaskan tentang filosofi dari perbankan syariah.
Setelah sesi pertama yang dibawakan oleh Direktur LPPI ini, M Arie Moodito, kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua dengan pembicara yang sama dengan tema pembahasan Konsep Dasar Sistem Ekonomi Islam. Lalu tema Konsep Riba, Interest, dan Uang menurut Islam dijadikan sebagai sesi terakhir pada hari itu.
Hari kedua diisi oleh Ketua ASBISINDO (Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia), Wahyu Dwi Agung, dengan dua tema lain yakni Prinsip Penghimpunan Dana dan Jasa Bank Syariah dan Prinsip Investasi dan Pembiayaan Bank Syariah.
Di sinilah para peserta Overview diajak untuk lebih mengenal produk-produk apa saja yang dijual oleh bank syariah. Tentunya juga dibumbui dengan permasalahan yang sedang panas dibahas oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan kalangan perbankan syariah yakni masalah pengenaan pajak pada transaksi Murabahah.
Tidak berhenti sampai di situ, pada hari ketiga sesi-sesi tersisa dibawakan oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Sesi bertema Dasar-dasar Akuntansi Bank Syariah dibawakan oleh Sri Yanto, Ak Direktur Teknik dari Ikatan Akuntan Indonesia.
Lalu tentang Kebijakan Bank Indonesia dalam Pengembangan Perbankan Syariah dibawakan oleh Nasriwan, pejabat dari Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia. Dan sesi terakhir seperti disebutkan di awal dibawakan oleh salah seorang tokoh nasional yang biasanya hanya dapat saya jumpai di televisi dan surat kabar, yakni KH Ma’ruf Amin.
Sungguh akan membutuhkan banyak halaman untuk menuliskan secara lengkap apa yang diperoleh dari overview tersebut, namun setidaknya ada beberapa fakta–fakta dari perkembangan perbankan syariah sejak berdirinya sampai sekarang ini. Ini sedikit yang bisa saya tangkap:
1. Tahun 1990 rekomendasi Lokakarya MUI untuk mendirikan perbankan syariah;
2. Tahun 1992 memasuki era dual banking system Indonesia dan mulai beroperasinya BPRS dan Bank Umum Syariah;
3. Tahun 1998 memungkinkan bank konvensional dapat membuka unit usaha syariahnya dengan dikeluarkannya UU Nomor10 tahun 1998
4. Tahun 1999 beroperasinya unit usaha syariahdari bank umum konvensional;
5. Tahun 2000 diterapkannya instrumen keuangan syariah yang pertama yang menandai dimulainya kegiatan di pasar keuangan antarbank dan kebijakan moneter berdasarkan prinsip syariah;
6. Tahun 2001 Dibentuknya satuan kerja khusus di Bank Indonesia;
7. Tahun 2002 disusunnya Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah;
8. Tahun 2003 disusunnya naskah akademis RUU Perbankan Syariah dan dikeluarkannya fatwa bunga bank haram oleh MUI;
9. Tahun 2004 disusunnya ketentuan persyaratan, tugas, dan wewenang Dewan Pengawas Syariah;
10. Tahun 2005 penjajagan ketentuan jaringan secara lebih efisien dan berhati-hati;
11. Potret Perbankan Syariah Indonesia per Maret 2006: Bank Syariah mempunyai FDR/LDR sebesar 106,96% sedangkan perbankan Nasional Cuma 56,25%;
12. NPF/L Syariah sebesar 4,27% sedangkan Nasional 8,5%.
13. Aset Perbankan Syariah 18,23 Trilyun dengan jaringan sebanyak 22 Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. Sedangkan BPRS sebanyak 94 unit;
14. PSAK 59 untuk akuntansi Perbankan Syariah;
15. Di Bank Indonesia masalah perbankan syariah ini hanya digawangi oleh sebuah direktorat bernama Direktorat Perbankan Syariah. Belum ditangani oleh pejabat selevel Deputi Gubernur;
16. Perkembangan Bank Syariah mempunyai efek domino terhadap munculnya instrumen keuangan syariah atau sektor lainnya:
– obligasi syariah;
– asuransi syariah;
– sektor riil berbasis syariah (antara lain hotel syariah, juga bengkel syariah?);
– kurikulum pendidikan (dari SMP hingga PT);
– voluntary sector (ZISWAF);
– aspek hukum dan perundang-undangan;
– perusahaan pembiayaan syariah;
– pasar modal syariah;
– reksadana syariah.

Sampai saat tulisan ini dibuat Rancangan Undang-undang Perbankan Syariah belum menemui kata final padahal pada saat yang sama Singapura berkeinginan untuk menjadi negara dengan istrumen keuangan syariah terbesar di dunia. Apa yang dilakukan negara jiran ini (rencana penerbitan sukuk misalnya) adalah langkah cerdik untuk menyerap dana menganggur pascaWTC dan booming harga minyak dunia. Salah satu caranya adalah dengan mereformasi sistem perpajakannya agar sistem keuangan syariah tersebut lebih dilirik.
Hal yang selalu terlambat dilakukan oleh Indonesia dalam menarik investasi dari Timur Tengah. Padahal sudah ditengarai bahwa para investor dari Timur Tengah tersebut lebih menyukai berinvestasi ke Indonesia dibandingkan ke Filiphina (yang telah mulai menerbitkan sukuk), Singapura, dan China. Ini dikarenakan Indonesia mempunyai kedekatan aqidah dengan mereka dan sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Saat ini adalah era syariah. Apa yang diceritakan oleh KH Ma’ruf Amin dapat menjadi bukti. Suatu saat perusahaan yang bergerak di bidang keuangan ingin membuka produk syariahnya. Untuk mewujudkannya mereka harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemegang saham asing—penguasa 40% saham perusahaan tersebut—yang berada di Singapura dan London. Jawaban dari mereka: ”Anda sudah terlambat, karena era sekarang adalah era syariah.”
Perekonomian dunia berbasis syariah sudah menjadi suatu keniscayaan dan akan menjadi sistem ekonomi dunia yang benar-benar nyata menggusur sistem kapitalis yang amat menindas. Sekali lagi ini adalah suatu keniscayaan karena sesungguhnya Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Bahan Rujukan: banyak makalah dari overview

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:35 06 Juli 2006

CINTA YANG TAK LAPUK


Monday, July 3, 2006 – CINTA YANG TAK LAPUK

Seperti biasa jelang acara perpisahan, atasan meminta saya untuk membuat untaian kata buat diselipkan pada gift yang akan diberikan. So, saya cuma bisa membuatnya seperti ini:

Teruntuk: Bapak DS

Kencangnya masa berputar membuat tiada kesadaran pada kami bahwa perpisahan adalah suatu keniscayaan dari sebuah pertemuan. Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, hingga tahun demi tahun terlampaui untuk sebuah kebersamaan.

Ya, kebersamaan dalam merenda suka dan duka, menyulam keriangan dan kesedihan, menisik benang lara dan bahagia pada sebuah selendang indah bernama Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga. Tentunya di sana ada sebuah jejak yang tertoreh lekat, erat, tak mudah terhapus dimakan zaman. Dan torehan itu merelief di setiap ingatan kami. Ingatan tentang Bapak…

tentang kebersahajaan, kebijaksanaan, keluasan pengetahuan, kehangatan dalam diskusi, teguran tanpa celaan, tanpa otokratis, tanpa wajah memerah menahan amarah, tanpa jarak yang membuat ruang dan waktu sendiri

ah…ingatan tentang Bapak…

Ingatan yang menjadi kenangan. Tak terlupakan seiring saat yang tak akan berhenti menggerus kami.

Duh…seiiring dengannya, teringat pula betapa banyak kesalahan yang telah kami lakukan mengoyak keindahan selendang dan kebersamaan itu. Membuat beban yang sudah menggunung semakin memberat di pundak Bapak. Sungguh sejuta permintaan maaf terucap dari lisan-lisan kami kepada Bapak belumlah cukup untuk melunasinya….Maafkan kami Pak…

Pun, ucapan terima kasih dari lubuk hati kami yang paling dalam kiranya belumlah cukup untuk membalas semua bimbingan, nasehat, saran, kritik Bapak kepada kami. Tapi Pak, tetaplah kami harus berkata:

“Terima kasih telah menjadi orang tua kami”

“Terima kasih telah menjadi guru kami”

“Terima kasih telah menjadi sahabat kami”

“Terima kasih telah menjadi saudara kami”

“Terima kasih, Bapak…”

Kini perpisahan adalah matahari yang terbenam di ufuk barat. Bukan sesuatu yang nisbi. Telah jelang di depan pintu. Membuat garis pemisah.

Tapi bukanlah suatu kemutlakan bahwa hati-hati kami lalu berjarak dan tersekat-sekat untuk melupakan semuanya itu dengan Bapak di tempat baru. Tidak Pak…Tidak…

Tapi bahkan menjadi eratnya hati-hati di antara kita, Pak.

Selamat ya, Pak…Semoga tempat baru itu menjadi awal kesuksesan-kesuksesan lain. Dan tetaplah Bapak menjadi orang tua bagi kami, guru bagi kami, sahabat bagi kami, dan saudara bagi kami. Tentunya dengan cinta…

Cinta yang tak lapuk kerana hujan dan tak lekang kerana panas…

Dari Kami:

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di Ranting Cemara
15:21 03 Juli 2006

ARAGONES, YOU ARE A LOOSER


ARAGONES, YOU ARE A LOOSER

Pelatih Spanyol ini sudah selayaknya mendapatkan julukan itu setelah timnya dikalahkan oleh Perancis tadi malam dengan skor 1-3 di stadion Niedersachsen, Hannover. Gol kedua Les Blues yang dibuat oleh Playmaker-nya Patrick Vieira di menit ke-83 memupuskan harapan Spanyol untuk mempertahankan kedudukan 1-1 sampai terdengar peluit panjang. Apalagi setelah Zidane membuat gol ketiga di babak additional time. Menambah kepastian bahwa Spanyol harus menyetop ambisinya melangkah ke babak berikutnya.
Bisa jadi inilah tuah yang harus didapat dari Luis Aragones yang telah mengucapkan kata-kata rasis beberapa tahun lalu. Saat sesi latihan yang diliput oleh media itu, Aragones berkata pada salah seorang pemainnya, “seharusnya kamu lebih baik daripada si hitam sialan itu”. Di sini “si hitam sialan” itu adalah Thierry Henry, pemain asal Perancis yang merumput di Arsenal.
Walaupun Aragones tidak pernah meminta maaf atas ucapannya itu Thierry Henry memaafkan Aragones dan tidak ambil pusing dengan sikap rasisnya. Namun ini masih belum bisa dimaafkan oleh teman-teman satu tim Henry, apalagi di saat pertemuan di Piala Dunia 2006 ini kesempatan membalaskan sakit hati itu terbentang.
Tentunya dengan mengalahkan Spanyol merupakan pembalasan yang cukup buat Aragones. Bahkan dari sikap rasis itu menambah semangat bagi tim ayam jantan untuk dapat menjadi pemenang.
Kini terbukti sudah, rasisme membawa petaka buat Aragones. Terbukti bahwa orang yang mengejek orang lain belum tentu lebih baik daripada yang diejek. Kesombongan akan selalu hancur di muka bumi. Dalam pertandingan yang diwasiti Roberto Rosetti itu timnya yang menduduki peringkat ke-5 FIFA ini bertekuk lutut dikalahkan Perancis yang hanya menduduki peringkat ke-8. Walaupun memang dari sejarah tujuh kali pertemuan sebelumnya dapat dilihat bahwa Perancis selalu unggul dengan memperoleh kemenangan 5 kali menang, 1 seri, 2 kali kalah.
Kemenangan ini semakin memperpanjang daftar kemenangan Perancis melawan Spanyol. Juga membuat lemahnya cercaan kepada mereka yang dianggap sebagai tim yang memuja masa lalu dan tim yang diisi dari generasi tua itu. Kemenangan ini pun membuat mereka harus lebih bekerja keras lagi karena yang akan mereka hadapi Ahad nanti di perempat final adalah juara bertahan 2002 dan lima kali piala dunia, Brasil. Tapi moral yang semakin meningkat sudah menjadi modal kuat untuk dapat melangkah menuju semi final.
Kini, Perancis telah melewati salah satu ujiannya untuk mengulangi keemasan 1998. Walaupun banyak yang pesimis mereka dapat menekuk Brasil, tapi bola tetaplah bundar. Sehingga belumlah diketahui secara pasti siapa yang akan memenangkan pertarungan nanti sampai wasit benar-benar meniup panjang peluitnya. Tapi yang pasti, kini, Aragones sudah bermimik sedih dan layak mendapatkan julukan a looser.

Fakta Lain:
Perancis Juara Dunia 1998, Spanyol belum pernah.

***
Syukran, atas missed call dari seseorang yang telah membangunkan saya tepat pukul 03.15 (Sebenarnya karena banyak nyamuk juga sih). Dini hari tadi saya banyak berbuat apa saja. Perancis menerapkan strategi 4-2-3-1, saya cuma 4-4-1 tepatnya 2-2-2-2-1. Terkantuk-kantuk lagi. He…he…he…

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:02 28 Juni 2006

ISRAGHANI


ISRAGHANI
by: dedaunan
(Sekadar lara yang tak kunjung sembuh untuk Ibunda Sami Al-Sharif kerana anaknya meregang nyawa dihantam rudal Israel, kemarin)

Dukungan saya terhadap tim-tim piala dunia sudah jelas dan terang seterang matahari di siang bolong. Pertama saya mendukung kesebelasan yang punya ikatan ideologis yang sama dengan saya. Anda pasti tahu. Ya, Arab Saudi, Tunisia, dan negara-negara Afrika yang masih mempunyai jejak-jejak ekspedisi Islam masa lalu.
Kedua, dukungan saya berikan kepada tim dari Afrika secara umumnya. Ketiga, prioritas dukungan kepada tim dari Amerika Tengah dan Latin minus Argentina dan Brazil. Keempat, baru saya mendukung tim dari negara-negara Asia khususnya Asia Timur. Setelah itu, bila tidak ada dari tim-tim yang saya sebutkan di atas masuk dalam babak-babak final maka saya akan mendukung tim Argentina. Dan dalam urutan terakhir adalah Brazil. Cuma ini.
Jelas sudah tidak ada lagi yang bisa saya dukung kepada tim dari negara-negara yang tidak memenuhi kriteria di atas. Bila terpaksa harus memilih dan memberikan dukungan kepada tim-tim selain di atas maka saya harus memilih tim yang mempunyai pemain kulit berwarna terbanyak dalam squadnya. Tapi tidak sama sekali dengan tim dari Amerika Serikat. Dengan jejak militernya yang berlumuran darah di setiap jengkal bumi saya sama sekali tidak respek dengan tim ini.
Pertanyaannya adalah mengapa dalam event sekaliber Piala Dunia 2006 ini pilihan secara politik dan ideologis selalu mengemuka dalam pikiran saya. Ini cuma kekesalan saya saja melihat ketidakadilan yang menimpa banyak negara miskin, terbelakang, terbanyak berada di bagian selatan dunia yang dilakukan oleh negara kaya, besar, dan dzalim. Apalagi ditambah stereotip bahwa negara itu bependuduk mayoritas muslim.
Alhasil, saya melihat bahwa sepakbola adalah olahraga yang tepat dijadikan ajang pembuktian diri eksistensi sebuah negara yang minus harga diri. Pembuktian bahwa mereka sanggup mengalahkan tim dari negara superpower, maju, penjajah, dan mantan tuan tanahnya. Walaupun cuma dalam kompetisi olahraga, tidak pada kemiliteran dan perekonomian.
Namun, kali ini dukungan saya terkoyak habis melihat tingkah laku pemain salah tim yang masuk prioritas untuk didukung oleh saya. Pemain dari Ghana. Ya, walaupun pertandingan itu tidak saya tonton—katanya seru habis dan benar-benar mengasyikkan—saya mendapatkan berita tidak mengenakkan ini pada hari Senin (19/6) pagi kemarin di kantor.
Teman saya menceritakan tingkah laku salah satu pemain tim Afrika tersebut saat mencetak gol ke gawang Cheska, Sabtu (17/6). Ulah yang dilakukan pemain bernama John Paintsil itu adalah dengan mengeluarkan dari kaos kakinya bendera lalu mengibarkannya. Tidak masalah kalau yang dikibarkan itu adalah bendera negaranya sendiri. Namun ini adalah bendera Israel. Bendera dari negara yang sampai detik ini masih menerapkan taktik pembantaian dan genosida terhadap rakyat Palestina.
Sayangnya berita sebesar dan sesensitif itu tidak nampak di harian Republika Senin—atau karena saya tidak membaca koran tersebut pada hari ahadnya. Saya mendapatkan foto Paintsil yang sedang mengibarkan bendera itu malah dari koran harian khusus olahraga, TOPSKOR.
Namun pada keesokan harinya, Selasa (20/6), Republika pada halaman pertamanya menampilkan berita tersebut dengan judul yang sangat mencolok: Ulah Bodoh John Paintsil.
Dari sanalah saya mendapatkan bahwa masalah ini tidak hanya melukai saya secara pribadi. Tapi juga menginternasional. Masyarakat Mesir dan negara Arab lainnya yang semula mendukung Ghana, marah dan bersuara keras. Bahkan menjuluki John Paintsil—yang bermain di Hapoel Tel Aviv, klub di Liga Israel—ini sebagai orang dungu, bodoh, dibayar Israel, Agen Mossad, dan Israghani (Israel Ghanaian).
Dari berita itu saya mendapatkan alasan masuk akal tentang tingkah laku Paintsil. “Alasan sesungguhnya adalah banyak pemain Ghana dibesarkan di kamp latihan yang dibangun Israel,”tulis analis politik Hassan el-Mestekawi. “Pelatih Israel melihat bakat-bakat sepakbola Afrika sebagai lahan bisnis paling cerah. Mereka membangun tempat-tempat latihan, mendidik anak-anak miskin dan menjualnya ke klub-klub Eropa.”
Setiap pagi , sebelum berlatih, anak-anak Ghana mengikuti upacara di lapangan terbuka. ”Mereka menghormat ke bendera Israel,” ujar Mestekawi. (Republika, 20/6)
Dengan demikian jelas sudah bagaimana keberpihakan Paintsil dan kesuksesan Yahudi Israel dalam mencetak kader-kader untuk mendukung eksistensi negara penjajah tersebut.
Paintsil dan Israel kali ini juga sukses mengampanyekan perlawanannya kepada Iran. Pada piala dunia kali ini—dalam situasi dunia di antara perang kata antara Iran dan Israel—ada rencana bahwa Presiden Iran Ahmadinejad akan pergi ke Jerman untuk melihat tim kebanggaannya bertanding bila masuk ke babak kedua. Tentunya peristiwa ini bermakna luas.
Tindakan Paintsil sepertinya pula untuk mengejek Iran. Karena pada partai sebelumnya pada hari yang sama, Iran dikalahkan oleh Portugal dengan skor 0-2. Partai ini menjadi penentu bahwa Iran harus angkat kopor dari Jerman setelah dikalahkan oleh Meksiko 1-3 di pertandingan pertamanya.
Berhasil sudah kampanye tersebut dengan pesan sangat jelas yang menyuarakan: “Hei, Iran! Anda pergi, Kami (Israel) tetap di sini.” Tapi ejekan ini jelas tidak hanya untuk Iran tapi keseluruhan bangsa Arab yang sangat menentang pendudukan Israel atas Palestina.
Walaupun Asosiasi Sepakbola Ghana (GFA) telah mengajukan permintaan maaf dengan menegaskan bahwa Ghana tidak punya orientasi politik apapun terkait konflik di Timur Tengah dan berjanji tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, tapi ini tidak mencegah mutungnya publik Mesir dan negara Arab lainnya dengan adanya rencana stasiun televisi mereka untuk tidak menayangkan lagi pertandingan sisa negara tersebut.
Tidak hanya mereka di sana, saya sudah pastinya akan merasakan hal yang sama. Sepertinya saya pun harus benar-benar dingin dan membuang ekspresi kegembiraan seandainya mereka dapat mencetak gol ke gawang Amerika Serikat di Stadion Nuremberg hari ini (22/6).
Saat itulah saya dapat melihat apakah Paintsil akan mengulangi perbuatan bodohnya itu dan menganggap remeh komitmen GFA, hanya untuk memenuhi janjinya kepada rakyat Israel untuk mengibarkan Bintang David dengan Garis Biru jika Ghana dapat mencetak gol ke gawang lawan. Jika ya, betul sekali bahwa aksi kemarin adalah kado khusus dan “cantik” buat Iran. Tapi cukup menyakitkan. Tidak hanya bagi saya, tapi bagi mereka yang sudah muak dengan penindasan Israel.
Kita lihat saja nanti malam.

Fakta Angka:
Grup E
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
9 13-Jun-06 Hanover ITA:GHA 2:0 (1:0)
10 13-Jun-06 Gelsenkirchen USA:CZE 0:3 (0:2)
25 18-Jun-06 Kaiserslautern ITA:USA 1:1 (1:1)
26 18-Jun-06 Cologne CZE:GHA 0:2 (0:1)

Yang Belum Menjadi Fakta:
Pertandingan Tanggal Lapangan Tim Score
41 22-Jun-06 Hamburg CZE:ITA ????
42 22-Jun-06 Nuremberg GHA:USA ????

Fakta Lain:
1. Luas Wilayah Ghana: 238.540 km persegi hampir dua kali luas pulau Jawa.
2. Dulu bernama Pasir Emas; nama Ghana berasal dari ”Kekaisaran Ghana”.
3. Ibukota Accra;
4. Bahasa Resmi: Inggris;
5. Berbatasan di utara dengan Burkina Faso; dan selatan Teluk Guinea;
6. Bertetangga dengan Pantai Gading (di barat) dan Togo (di timur). Bersama dua tetangga tersebut Ghana sama-sama dapat mengikuti ajang Piala Dunia 2006 di Jerman;
7. Penghasil coklat terbesar di dunia dan penghasil alumunium terbesar di Afrika;
8. Pernah dijajah Portugis pada akhir abad ke-15. Pernah di bangun benteng pantai di sana oleh Inggris, Belanda, dan Denmark pada abad ke-17 dan ke-18;
9. Pada tahun 1874 dijajah Inggris dan memperoleh kemerdekaan pada tanggal 06 Maret 1957;
10. Penduduk bagian utara beragama Islam, sedangkan penduduk di bagian selatan memeluk agama Katolik.

Fakta Jejak Israel di Ghana:

In April 1959, Israel, with help from India, supervised the establishment of the Ghanaian Air Force. A small Israeli team also trained aircraft maintenance personnel and radio technicians at the Accra-based Air Force Trade Training School. Although the British persuaded Nkrumah to withdraw Israeli advisers from Ghana in 1960, Ghanaian pilots continued to receive some training at aviation schools in Israel. After Nkrumah’s overthrow, Israeli military activities in Ghana ended. (http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html)

Maraji:
1. TopSkor, Senin 19 Juni 2006;
2. Republika, Selasa 20 Juni 2006;
3. Republika, Kamis 22 Juni 2006;
4. http://www.eramuslim.com/news/int/44974db2.htm;
5. Jadwal dan Hasil Pertandingan Piala Dunia 2006 di http://10.254.28.92/sites/pialadunia/grup/jadwalhasil.aspx;
6. http://reference.allrefer.com/country-guide-study/ghana/ghana164.html;
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Ghana;
8. Ensiklopedi Keluarga A-Z.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:36 22 Juni 2006
caci maki silakan dialamatkan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

HATI-HATI, BALITA TERSEDAK !!!


Tadi pagi, Si Bungsu Ayyasy sambil tidur-tiduran ngemut mainan kecilnya. Mainan berupa angsa-angsaan hadiah dari susu formula yang ada rodanya itu. Tapi tiba-tiba dia menangis tanpa suara sambil menunjuk-nunjuk mainannya itu. Ummu Haqi kaget dan bertanya kenapa…? Setelah diperhatikan ternyata rodanya sudah tidak ada lagi. Ia berkesimpulan bahwa rodanya sudah tertelan masuk ke kerongkongannya.
Dalam kepanikan melihat Ayyasy yang menangis kesakitan itu, di tambah melihat Haqi–sang kakak– yang ikut menangis pula karena kasihan dengan keadaan adiknya, Ummu Haqi langsung menyuruh anak yang baru berumur 3 tahun 9 bulan itu untuk membungkuk. Lalu dengan keras menepuk punggungnya .
Tiga kali dilakukannya, namun upaya untuk mengeluarkan roda kecil dari kerongkongan si anak tidak kunjung berhasil. Lalu ia memakai cara lain dengan memasukkan jarinya ke dalam mulut Ayyasy. Tiga kali pula ia rogoh dalam-dalam. Akhirnya ada reaksi. Semua makanan yang ada di dalamnya keluar semua. Termasuk roda kecil seujung kuku berwarna biru.
Alhamdulillah, cara ini efektif. Saya tidak dapat membayangkan kalau saat itu Ummu Haqi sudah berangkat ke kantor dan bertanya-tanya apakah khadimat akan berbuat yang sama ketika melihat kejadian tersebut.
Saya tidak dapat membayangkan pula bagaimana kalau benda kecil itu tidak bisa dikeluarkan. Syukurnya cuma di kerongkongan, tidak di tenggorokan sebagai saluran pernafasan. (Banyak cerita tentang bagaimana anak yang tidak bisa diselamatkan karena kejadian ini)
Saya tidak dapat membayangkan pula kehilangan anak yang sedang lucu-lucunya. Bisakah saya setegar Iman yang telah kehilangan tiga anaknya dengan kejadian menggemparkan di Bandung beberapa hari yang lalu? Bisakah saya tidak menangis dan meratapi anak yang sangat saya cintai itu? Dan merelakan kepergiannya sebagai tabungan indah di akhirat kelak? Allohua’lam.
Tapi ada pelajaran yang bisa diambil di sini. Pertama jangan pernah panik terlebih dahulu melihat situasi gawat ini. Dalam hal ini saya salut kepada Ummu Haqi yang dapat mengatasi rasa paniknya.
Kedua, jangan pernah memberikan mainan-mainan yang memang tidak diperbolehkan untuk balita. Biasanya produsen mainan anak-anak selalu mencantumkan peringatan bahwa mainannya tidak cocok untuk diberikan kepada anak-anak di bawah umur.
Ketiga inilah kesempatan terbaik saya untuk membuang semua mainan -mainan kecilnya seperti mobil-mobilan, dan kelereng. Sebelum kejadian ini Haqi dan Ayyasy tidak mau tahu dengan peringatan yang diberikan orang tuanya kepada mereka. Mereka menangis dan berteriak kalau saya mengancam untuk membuang benda-benda membahayakan itu. So, mendengar rengekan dan tangisan itu saya biasanya luluh.
Keempat, selalu mengantisipasi keadaan darurat itu dengan memberikan pemahaman yang baik terhadap khadimat. Pemahaman bagaimana menangani perisitiwa semacam ini, atau hal lainnya seperti pencurian, kebakaran, sakit mendadak, dan luka-luka. Biasanya karena kita sudah cukup percaya dengan khadimat kita meremehkan dan tidak menyosialisasikan hal-hal ini.
Kelima, sediakan nomor-nomor penting untuk dihubungi. Tulis di atas kertas dan tempelkan di dekat pesawat telepon. Jangan pernah mengunci telepon. Memang ada resikonya bahwa khadimat tidak amanah dengan pemakaian telepon ini. Tapi berusahalah untuk memberikan pengertian bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya hendaknya dipegang sebaik-baiknya.
Keenam, jangan pernah melupakan tetangga. Inilah gunanya bertetangga dan menjaga adabnya yang senantiasa diwanti-wanti dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Hubungi tetangga terdekat, karena diharapkan tetangga yang berada di luar panic area bisa memberikan pemikiran jernihnya dan solusi terbaik buat kita.
Sepertinya cuma itu pelajaran hari ini yang bisa dipetik. Tapi sedikit banyak akan membawa saya dan Anda untuk selalu siap dalam menghadapi keadaan gawat darurat saat rumah dan keluarga kita tinggalkan karena seharian mencari nafkah.
Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
cuma mendengar kabar ini dari Ummu Haqi
setelah beberapa jam peristiwa ini terjadi
15:00 20 Juni 2006

DUEL BEKAS KOLONI SPANYOL


Setelah golnya dianulir oleh wasit di babak kedua karena terperangkap dalam jebakan offside yang dibuat para pemain belakang Kosta Rika, I. Kaviedes melalui umpan matang Mendez akhirnya menciptakan gol indah buat Ekuador. Dan jangan lupa bahwa gol ini dibuat di menit ke-92 di babak perpanjangan waktu yang hanya empat menit lamanya.
Tentu saja stadion sepakbola di kota Hamburg kembali bergemuruh dengan sorak sorai bergembira dari para suporter Ekuador. Skor bertambah menjadi 3-0. Angka yang membuat tim dari Amerika Selatan ini dipastikan lolos ke babak kedua. Bersama Jerman tentunya yang mengalahkan Kosta Rika 4-2 dan Polandia 1-0. Sisa pertandingan terakhir tidak berpengaruh terhadap kedua tim ini.
Dan kali ini Ekuador mempertontonkon pada para penggemar sepakbola di dunia permainan menawan, kerjasama yang baik, dan gol-gol cantiknya. Dua gol indah sebelumnya dibuat dengan tandukan oleh C. Tenorio di menit ke-8 dan tendangan di sisi yang sulit oleh Delgado—sempat menjadi Man of the Match pada pertandingan perdana melawan Polandia—di menit ke-54.
Tentunya kemenangan ini menghapus julukan yang melekat sebelumnya pada tim Ekuador. Yaitu julukan sebagai jago kandang. Sebagaimana diketahui bahwa Ekuador selalu menang dalam setiap pertandingan yang dilakukan di Ibukotanya, Quito yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut. Seperti pula Bolivia yang mendapat julukan yang sama karena letak La Paz yang tinggi pula.
Ini membuktikan bahwa para pemain Ekuador pun sanggup untuk bermain di mana saja, atau di ketinggian yang sama dengan permukaan laut seperti di Hamburg misalnya.
Kemenangan ini pun memupuskan kekhawatiran saya setelah melihat pertandingan pertamanya melawan Polandia beberapa hari yang lalu. Pertandingan di dini hari yang saya tonton dengan terkantuk-kantuk ini meninggalkan kesan pada diri saya bahwa Ekuador kalau mempertahankan permainannya seperti itu tidak akan bisa untuk melaju ke babak kedua. Apalagi menjadi juara dunia. Impossible!!!
Tapi harapan nonrealistis saya bahwa Piala Dunia akan dimenangkan oleh tim underdog, tim kuda hitam, tim selain dari Eropa, Argentina, dan Brasil kembali membuncah setelah melihat kemenangan Ekuador pada malam ini.
Ya, malam ini saya temukan tim unggulan saya. Tim yang membuat saya bisa pula larut dalam demam piala dunia. Walaupun saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya nanti, tapi yang pasti piala dunia bagi saya tidak akan membosankan lagi karena melihat tim-tim dari negara bola itu-itu saja. Hal yang sama ketika saya mendukung Nigeria di saat Piala Dunia 2002.
Sebenarnya tidak hanya Ekuador yang menjadi harapan, tapi ada pula Iran, Togo, Tunisia atau Arab Saudi. Namun keempat negara tersebut sampai saat ini belum ada yang membukukan kemenangan. Jikalau memang ditakdirkan bahwa tim favorit saya tidak ada yang melaju ke babak seperempat final misalnya, saya akan dukung Argentina.
Mengapa Argentina? Karena ada kenangan tersendiri buat tim ini di waktu saya masih duduk di bangku SD. Ya, sampai saat ini kemeriahan piala dunia tahun 1986 masih terbayang-bayang di mata. Teringat kelincahan Maradona pada waktu itu. Itu saja sih. Pokoke Argentina!!! 
Kembali kepada pertandingan Ekuador dan Kosta Rika malam tadi, kemenangan ini membuktikan bahwa Ekuador memang kekuatan ketiga sepakbola Amerika Latin setelah Argentina dan Brasil. Perlu pembuktian lebih lanjut di saat memainkan partai ketiga melawan Jerman.
Bisakah Ekuador dengan benteng kuartet pemain belakangnya yang kuat mampu menahan gempuran dari Tim Panser asuhan Jurgen Klinsman itu. Atau bahkan mampu balik menyerang dan mengobrak-abrik pertahanan lawan melalui aksi lincah dari Mendez, Delgado, C. Tenario, De La Cruz, I. Kaviedes dan kawan-kawan.
Jika menang, Ekuador akan menjadi tim yang ditakuti di depan mistar gawang oleh tim-tim lain. Sebaliknya, maka tetap menjadi perhatian lebih dari yang lain. Kita lihat saja nanti.

Fakta Angka:
Hasil pertandingan Grup A Piala Dunia 2006 di Jerman sampai 23:43 WIB 15 Juni 2007:

Jerman 4-2 Kosta Rika
Polandia 0-2 Ekuador
Jerman 1-0 Polandia
Ekuador 3-0 Kosta Rika

Yang Belum Menjadi Fakta di Grup A:
Ekuador ?-? Jerman
Kosta Rika ?-? Polandia

Fakta-fakta lain di balik pertarungan Ekuador dan Kosta Rika.
Fakta ini di dapat dari ensiklopedi yang saya baca sambil menonton pertandingan semalam. Perlu membacanya agar didapat gambaran yang lebih utuh. Tentunya hal yang sedikit ini adalah profil selain profil sepakbola—karena hal ini banyak didapat dari koran dan majalah. Selamat menikmati.
1. Ekuador dan Kosta Rika sama-sama bekas koloni Spanyol;
2. Ekuador merdeka tahun 1822 dari Spanyol dan Kosta Rica melepaskan diri dari Federasi Amerika Tengah di tahun 1848;
3. Ekuador adalah republik yang berada di Amerika Selatan, berbatasan dengan Peru di sebelah selatan dan Kolumbia di utara. Ibukotanya Quito.
4. Kosta Rica berada di Amerika Tengah bertetanggaan dengan Panama dan Nikaragua. Ibukotanya San Jose.
5. Luas Wilayah Ekuador 270.679 km persegi. Sedangkan Kosta Rika 51 ribu km persegi;
6. Penduduk kedua negara itu lazimnya keturunan Spanyol, Indian, serta Afrika (dari bekas budak).
7. Christophorus Columbus pernah singgah di Kosta Rika di tahun 1502
8. Kota Pontianak di Kalimantan Barat sejajar pada garis khatulistiwa dengan Ibukota Ekuador, Quito.

Sumber:
1. Pertandingan Bola Langsung dengan segala komentarnya di SCTV Pukul 20.00 WIB 15 Juni 2006;
2. Peta Dunia: National Geographic Maret 2005 (Peta ini tidak mencantumkan Negara Palestina. Disana cuma ada ISRAEL, maklum saja National Geographic Society berada di Washington DC, USA);
3. Ensiklopedi Keluarga A-Z, 1991;
4. http://www.bbc.co.uk/indonesian/sports/story/2006/06/060610_hasil.shtml

riza almanfaluthi
riza.almanfaluthi@pajak.go.id
dedaunan di ranting cemara
23:52 15 Juni 2006

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS


Thursday, June 15, 2006 – ABB: IKON PERLAWANAN HEGEMONI AS

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS

Kemarin (Rabu, 14/06), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang setelah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan potong remisi 4 bulan dalam tuduhan terkait dengan peledakan Bom Bali I dan Bom Marriot.
Tuduhan yang menjadi dakwaan itu pun masih saja disematkan oleh banyak media nasional kepadanya pada saat ini ketika memberitakan pembebasannya. Padahal kalau mereka tidak lupa—atau memang disengaja dilupakan oleh mereka—bahwa dakwaan yang menjadi dakwaan primer yakni terkait dengan peledakan bom bali itu tidak terbukti di persidangan.
Yang membuatnya ditahan adalah karena dakwaan subsidernya yaitu pembuatan Kartu Tanda Penduduk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar Undang-undang Keimigrasian. Dakwaan yang bisa saja menimpa banyak orang di Indonesia karena bukan rahasia umum lagi kalau penduduk Indonesia masih banyak yang memiliki KTP ganda dan tidak melalui prosedur yang sebenarnya.
Jelas sudah bahwa penahanannya adalah benar-benar pesanan dan di bawah tekanan dari negara-negara yang mengaku paling demokrasi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terutama Australia sebagai kaki tangan setianya. Walaupun hal ini dibantah dengan keras oleh pemimpin pada dua masa pemerintahan terakhir republik ini.
Tekanan yang pada akhirnya berhasil membuat sebuah detasemen kepolisian antiterorisme dengan nama Detasemen 88—Angka 88 ini diambil dari jumlah korban warga Australia pada saat Bom Bali I. Yang juga bisa dituntut oleh semua pihak dengan pertanyaan: “memang yang menjadi korbannya warga Australia saja?”
Pu ini adalah tekanan yang membuat sebagian mata buta dengan kondisi yang diderita oleh ABB pada saat ia akan ditahan. Walaupun ia masih benar-benar sakit dan dalam perawatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo, ia tetap diangkut dengan paksa seperti pesakitan atau hewan buas yang akan membuat kerusakan. Dalam perjalanan ke Jakarta pun ia tidak diperbolehkan untuk buang air kecil. Sungguh ini adalah suatu kezaliman.
Padahal banyak sekali para koruptor di negeri ini hanya bermodalkan secarik surat keterangan dokter atau vonis kesehatan seperti kerusakan otak permanen masih dapat berleha-leha menikmati udara bebas. Dan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh ABB. Lagi-lagi hukum ditegakkan kepada orang-orang yang tidak berduit dan tidak berdaya.
Namun kini pembebasannya disambut dengan gembira, tidak hanya oleh santrinya tapi juga oleh banyak tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Kepulangannya dikawal dan disambut oleh ratusan santri di Ngruki, Solo.
Saat tiba di sana ia memberikan tausyiah pertamanya di pesantren AlMukmin. Ia menegaskan kembali bahwa garis perjuangan yang ditempuh oleh Nurdin M Top adalah salah atau keluar dari jalur yang sebenarnya. Yang benar adalah dengan dakwah yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar kepada masyarakat. Dan ia tegaskan bahwa inilah yang dibenci oleh Amerika dan musuh-musuh Islam.
Pernyataan yang tegas dan membuktikan dirinya masih sebagai ikon perlawanan terhadap hegemoni AS sebagai negara superpower dan superzalim. Di dalam tubuhnya yang ringkih masih ada api perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dunia Islam. Dan masih ada semangat membara dalam upaya penegakan syari’at islam di muka bumi Indonesia ini.
Kini ia akan kembali mengajar di pesantrennya. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan dari para wartawan saat ditanya apa yang akan ia lakukan setelah pulang dari penjara. Ya, mengajar dan mendidik kader-kader yang terus dan selamanya akan memperjuangkan umat Islam terlepas dari setiap kezaliman yang menimpanya. Dan dalam penegakan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin di tanah air ini. Semoga.

*****
Adzan shubuh bergema, saya matikan liputan 6 pagi itu. Ada bening-bening di mata, seperti bening-bening dulu kala saat beliau di tarik dan dibawa paksa dari rumah sakit. Sungguh bencana apa lagi yang akan menimpa negeri ini ketika banyak ulama yang dihina dan dicaci maki. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara
saat ada uneg-uneg yang membuncah
07.30 s.d. 08:28
15 Juni 2006

INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”


INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”

Saya rindu menulis. Menulis di Ciblog tentunya. Hampir dua pekan tanpa ide yang menggelayut di benak. Dan tanpa ada tarian jari di atas keyboard. Kali ini, hari ini, saya benar-benar rindu menulis. Menulis apa saja. Menulis di Ciblog tentunya.
Kemarin di kantor, setelah tiga hari lamanya saya kembali cuti untuk pulang ke kampung halaman, teman satu seksi saya yang baru saja memegang Majalah Tempo terbaru setengah berteriak berkata: “Hei, ada Riza di Majalah Tempo!” Sambil menunjuk kaver depan majalah tersebut yang bergambar foto blur seorang muda berkenggot , berbaju putih, tangannya kirinya menyibak baju di bagian dadanya. Di balik pakaian itu ada beberapa benda seperti jam weker, jalinan kabel, dan dinamit.
Tangan kanannya memegang sebuah buku tebal yang ia dekatkan ke dadanya. Ada tulisan besar-besar berwarna kuning kontras dengan background-nya yang berwarna hitam. Judulnya: CATATAN HARIAN SEORANG TERORIS. Lalu di bawahnya ada sebuah nama dari gambaran orang tersebut: Gempur alias Jabir.
Teman saya lalu bilang: “Cuma ada bedanya nih dengan Riza. Kalau di sini lebih kurusan.” Saya penasaran dengan foto itu, dan bergegas menghampiri sang teman untuk melihat dengan jelas kaver majalah itu. Saya memperhatikannya dengan seksama. “Betul sih¸amat mirip dengan saya,” pikir saya. Tapi sungguh saya bukan seorang teroris. 
Selain itu, kemarin juga, saya benar-benar ekstra kerja keras. Saya benar-benar merencanakan dengan detil seluruh kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Dengan mencatatnya dalam buku agenda tentunya. Ada dua puluhan kegiatan. Urusan kantor dan urusan pribadi. Dan setiap satu atau dua kegiatan itu selesai saya melingkari nomornya. Ada kepuasan yang sangat saya rasakan. Ternyata enak loh kalau kita benar-benar merencanakannya terlebih dahulu semua kegiatan yang akan kita lakukan esok hari.

Jadi ingat salah satu ayat dalam Alqur’an:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr, 59:18)

Kemarin juga, dalam sebuah forum diskusi, ada pula yang mengomentari avatar dan signature saya. Katanya: “avatarnya kok bikin merinding, suka perang yah”. Ya, avatar saya adalah penggambaran wajah dari seorang bersurban ala Afghanistan. Bertampang Arab. Dan tentunya dengan janggut lebat yang menjuntai ke bawah. Seram euy… Teman-teman di SJPhone pun sudah menjuluki avatar ini dengan penggambaran diri seorang Osama bin Laden.
Tidak hanya itu, signature saya pun amat lekat dengan dunia peperangan. Untuk yang satu ini adalah foto tiga orang prajurit yang sedang tiarap dengan senjatanya masing-masing di medan Perang Dunia I.
Kalau memang merindingnya hanya karena avatar saya yang mirip-mirip dengan penggambaran sosok-sosok Taliban dan musuh Amerika Serikat (AS), bagi saya ini tidak jadi masalah. Tapi kalau sudah termakan stereotip musuh-musuh Islam maka saya tidak terima. Mengapa seseorang Yahudi dibolehkan menyimpan dan memelihara janggut untuk mengamalkan kepercayaannya, tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim, pengganas, fundamentalis, dan teroris. Sungguh, sungguh amat diskriminatif.
Lalu kalau ditanya tentang suka atau tidaknya peperangan. Jelas saya sebagai manusia biasa tidak suka peperangan. Saya orang yang cinta damai bung…Tetapi pula, jikalau Islam sudah memerintahkan untuk memerangi musuh, maka mau tidak mau dan sudah menjadi kewajiban entah fardhu ‘ain atau kifayah untuk maju berperang dan berjihad di jalan Allah.
Jika kita ikhlas maka kematian kita tidak akan pernah ada ruginya. Pahala besar bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah yakni masuk surga tanpa dihisab. Subhanallah. Dan sungguh, sebagaimana semboyan yang selalu digelorakan dalam dakwah ini: Allah tujuan kami. Muhammad teladan kami. Alqur’an petunjuk kami. Jihad jalan kami. Kematian Syahid adalah cita-cita kami. Maka bagaimana saya akan menjadikan kematian syahid itu bukan menjadi cita-cita saya?
Gempur alias Jabir menulis dalam catatan hariannya sebagaimana diungkap oleh Tempo: “Sesungguhnya perjalanan jihad penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa takut, kelaparan, dan hilangnya nyawa…”. Kalaupun benar Jabir menulisnya saya menyetujuinya 100% untuk pernyataan yang ia tulis tersebut.
Tapi ada perbedaan mendasar antara saya dengan Jabir pada jalan jihad yang ditempuh yakni tidaklah seperti yang ia yakini dengan menebarkan ledakan di mana-mana (kalaulah ini benar ia yang melakukannya).
Kali ini jihad saya adalah menebarkan kebaikan kepada semua orang. Agar saya bisa mendapatkan persiapan untuk bekal di akhirat nanti. Bagaimana saya bisa mengembangkan multilevel kebaikan itu dengan mencari downline kebaikan sebanyak mungkin. Itu saja untuk saat ini.
Tapi bila suatu saat jalan jihad melawan thogut besar dan kecil, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan itu sudah terbentang di depan mata dan ada perintah untuk melawannya maka saya harus siap. Tapi ada pertanyaan besar selanjutnya, “apakah saya akan menjadi orang yang dipilih oleh Allah untuk itu?” Jangan-jangan saya malah akan tergantikan dengan umat yang lain karena tidak sanggup dan tidak amanah untuk memikul beban dakwah itu? Allohua’alam. Tapi setidaknya saya selalu punya cita-cita, niat, dan azzam untuk berjihad dan syahid di jalan Allah. Sungguh ini bukan jalan para “teroris” (tuduhan basi dari musuh-musuh Islam).
Insya Allah tekad itu selalu ada di dada karena Allah.
Kiranya saya cukupkan sampai di sini tulisan ini. Kiranya pula kerinduan akan menulis, menulis di Ciblog tentunya, sudah terpuaskan. Pula karena jam setengah sepuluh pagi ini saya harus pergi melakukan kunjungan kepada Wajib Pajak yang akan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Ini jihad pula bukan? Melakukan sebuah tugas Negara?.
Salam ukhuwah dari saya kepada antum semua pecinta kebenaran.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai Satu Kalibata
09:23 13 Juni 2006