SEMARANG MEMANG PANAS


SEMARANG MEMANG PANAS

Kamis. 17 Agustus 2006
Tepat pukul 05.00, ba’da shubuh, kami berempat sudah bersiap-siap menuju Stasiun Jatinegara, karena Kereta Api Bisnis Fajar Utama jurusan Semarang Tawang sudah bersiap di stasiun itu pada pukul 07.30 pagi.
Tukang ojek yang biasanya banyak di pangkalan dekat rumah, ternyata pada saat itu tidak ada batang hidungnya satu pun. Akhirnya kami harus berjalan sekitar tiga ratus meter untuk mencari tukang ojek lain, sampai ketemu juga ojek langganan kami.
Sepuluh menit kemudian, saya, Qaulan Sadiida, Haqi, dan Ayyasy sudah berada di stasiun Citayam untuk naik KRL Jurusan Kota menuju Stasiun Tebet. Tidak lama KRL itu pun datang. Penuh juga ternyata. Kami pun harus berdesak-desakan. Saya sampai heran kenapa hari libur seperti ini masih KRL dijejali oleh banyak penumpang. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak PNS yang berseragam Korpri masuk kantor untuk mengikuti upacara tujuh belas agustusan.
Syukurnya, saya tidak diberi giliran untuk mengikuti upacara itu. Karena kalau tidak, acara liburan pulang kampung ini akan gagal dan tiket yang sudah kami beli sebulan kemudian bisa hangus. Rugi banyak saya kalau kejadiannya demikian.
Ya, Istri saya memang sudah lama tidak pulang kampung ke Semarang. Kangen pada ibunya sudah tidak terbendung lagi. Saya pun tidak bisa menghalanginya untuk bertemu dengan sang ibu, walaupun nanti di bulan September besok kami harus datang ke sana kembali karena keponakan kami mengadakan resepsi pernikahan.
Tidak apa-apa sekalian menikmati liburan panjang. Dan tentunya sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kalau bulan Agustus dan September ini pulang ke Semarang, nanti kalau lebaran tidak usah pulang lagi ke sana tapi cukup untuk pulang ke Jatibarang menemui orang tua saya. Deal.
Perjalanan dengan KRL yang saya khawatirkan terlambat ternyata tidak terjadi. Kami masih punya banyak waktu untuk sampai ke Jatinegara. Walaupun kami harus bersusah payah untuk keluar dari gerbong KRL karena penuh sekali dengan penumpang. Kasihan Haqi dan Ayyasy terjepit-jepit. Apa daya kami berdua sudah membawa barang bawaan yang cukup berat, jadinya tidak bisa menggendong mereka berdua.
Dari Stasiun tebet kami naik Bajaj dengan ongkos cukup Rp8.000,00. Awalnya kami hendak naik ojek tapi saat dipanggil dari kejauhan mereka tidak mau datang, malah yang datang tukang Bajaj. Ya, sudah tidak apa-apa malah menghemat karena kalau naik ojek bisa habis ongkos sebesar Rp14.000,00.
Kurang lebih Pukul 07.00 pagi kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Alhamdulillah kami tidak terlambat. Ada waktu setengah jam untuk bersantai sembari menyuruh kedua anak saya untuk sarapan pagi dulu dengan bekal yang kami bawa.
Di stasiun ini ternyata banyak sekali orang yang akan pergi jauh dengan menggunakan moda angkutan kereta api untuk mengisi liburan panjang. Dan imbasnya ternyata di gerbong yang saya naiki penuh juga dengan orang yang bertiket tanpa nomor duduk. Lagi-lagi saya bersyukur, saya memesan tiket sudah lama sehingga kebagian nomor duduk untuk kami berempat. Haqi dan Ayyasy pun bisa menikmati perjalanan ini. Menikmati pemandangan sawah dan kegiatan panen di sekitar Pantura Jawa Barat. Laut dan sedikit hutan di Batang, dan tanaman tembakau di Kaliwungu.
Walaupun demikian, ternyata perjalanan kereta ini banyak terhambatnya. Di setasiun Bekasi kami diberhentikan cukup lama sekali. Hingga seharusnya kami sudah sampai di Stasiun Tawang sekitar pukul dua atau tiga siang, ternyata sampai di sana pada jam setengah empat sore. Waow…perjalanan ini asyik tapi melelahkan, apalagi kami sudah dibaui dengan bau kereta api, wajah lengket, dan penuh debu. Saya pikir enak juga ya kalau mencicipi perjalanan ke Semarang naik kereta eksekutif Argo. Belum pernah sih….:-)
Di stasiun ada kakak kami yang sampai terkantuk-kantuk menunggu kami. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, dua anak kami yang di kereta itu tidak tidur saking asyiknya bermain sudah terlelap saja. Mereka terbuai dengan AC mobil yang meningkahi hawa panas Semarang. Semarang memang panas di musim panas, pun di musim hujan Semarang juga banjir.
Inilah perjalanan di hari pertama kami.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

Advertisements

One thought on “SEMARANG MEMANG PANAS

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s