Rawat Helm Kita: Kepala Kita Tidak Senilai Uang 20 Ribu


Rawat Helm Kita: Kepala Kita Tidak Senilai Uang 20 Ribu

Tanggal 06 Februari 2006 yang lalu saya membeli helm ‘termahal’ yang pernah saya beli. Helm bermerk Agiva ini dikasih banderol ‘cuma’ Rp175.000,00 di toko kecil di bilangan Lenteng Agung arah ke Depok.
Helm full face ini benar-benar saya rawat. Tidak seperti kebanyakan helm yang pernah saya miliki dulu. Dulu waktu masih memakai helm pemberian dari toko, warna putih tentunya, saya terbiasa untuk menggeletakannya begitu saja tanpa ada sedikitpun keinginan untuk merawat, membersihkannya, atau tetap menjadikannya senantiasa kinclong setiap harinya.
Kalau jatuh pun, saya tidak merasa hati ini tergores (halah…). Lecet-lecet, berdebu, kumuh, dan penyak-penyok (saya belum menemukan kata dalam bahasa Indonesianya yang pas) menjadi pemandangan biasa pada helm itu. Tapi itu dulu.
Kini setelah saya memiliki helm ini saya benar-benar merubah kebiasaan saya. Saya yang jarang merawat suatu benda saat ini berupaya dan bertekad bagaimana supaya helm ini senantiasa indah di pandang mata. Maka coba tebak apa yang saya lakukan…?
Pertama, saya selalu mengelapnya setiap hari body luar helm setelah saya pakai dalam perjalanan pulang pergi ke kantor. Tentu mengelapnya pun dengan bahan khusus, yakni dengan spray pengilat body motor. Sret…sret…sedikit, lalu saya lap dengan kanebo. ”Indah nian dikau…” kata saya dalam hati. Saking selalu mengilapnya saya kadang dalam perjalanan melalui spion motor berusaha melihat helm saya untuk mengetahui seberapa mengilatnya helm ini. Narsis sekali…. 
Tapi terkadang memang dalam sehari saya tidak membersihkan helm tersebut. Karena kecapekan setelah pulang kantor dan paginya tidak sempat karena terburu-buru harus berangkat lebih pagi. Maksimal dua hari sekali saya harus membersihkan helm tersebut, dengan bahan yang disemprotkan lebih banyak dan tekanan saat mengelap dobel juga. Idih…
Kedua, meletakannya dengan hati-hati di tempat yang bersih. Kalau di rumah ditempatkan di ruang tamu. Dengan menjauhkan segala benda dari dekatnya. Takut tergores gitu… . Saya selalu mewanti-wanti anak-anak saya agar berhati-hati di saat mereka saya suruh untuk menaruh helm ini. Dulu, saya punya helm ditaruh begitu saja di dapur, diatas rak sepatu, dan bercampur dengan berbagai macam benda, maka saksikan saja kepala selalu digaruk-garuk karena kegatelan. 
Ketiga, kalau di kantor, saya tidak meletakkan helmnya ditempat parkir. Saya selalu membawanya ke dalam ruangan kantor. Ini untuk menghindari jatuhnya helm yang akan membuat helm lecet. Karena biasanya saking sempitnya lahan parkir, senggolan antarmotor dan gemuruh (kayak petir saja) suara helm jatuh sudah seringkali terjadi. Tentu ada reason lain. Anda pasti sudah tahu. Dicolong? Ya betul Anda tepat sekali. Biasa, kalau ada barang bagus di embat juga.
Enaknya di taruh kantor adalah setidaknya ruangannya berAC (emang ini pengaruh?) dan kebersihannya terjaga. Berbeda 180 derajat dengan di tempat parkir. Panas dan tidak terlindung dari sinar ganas ultraviolet matahari.
Oh ya, jangan lupa saat menaruh helm, visor (kaca helm)-nya harap dibuka agar sirkulasi udara di helm terjaga. Ini juga penting untuk menghindari bau yang tidak mengenakkan di dalam helm. Malu bukan, kalau helm itu diendus-endus sama yang lain terasa bau menyengat (emang apaan). BTW, saya belum pernah mencuci bagian dalamnya, karena belum tahu cara membuka bagian itu untuk bisa dicuci. Suatu saat, di hari libur, saya akan mencobanya.
Saking saya berusaha merawat helm ini, teman-teman saya biasanya komentar…”ini nih gara-gara helm mahal, jadi kerepotan sendiri.”. Ah, biarlah yang penting apa yang saya lakukan tidak merugikan orang lain. Dan terpenting lagi ini membuat saya merasa nyaman. Dengan kenyamanan ini, saya bisa berkonsentrasi lebih. Dan Insya Allah selamat di sepanjang perjalanan.
Teringat wejangan Kyai Haji Abdullah Gymnastiar dulu bahwa: ”harga kepala kita sungguh tidak sebanding dengan harga Rp20.000,00.” Komentar beliau ini untuk para biker yang terkadang tidak menghargai keselamatan jiwanya saat mengendari motor dengan memakai helm yang tidak standar. Ada juga yang standar sih, tapi standar proyek. Tentunya ini belumlah mampu untuk menahan liat dan kerasnya aspal hitam. Ih, sekali-kali tidak. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal yang sedemikian…
So, pakailah helm standar dan rawatlah dengan baik. Insya Allah nyaman, lebih konsentrasi, dan selamat. Ingat…! keluarga senantiasa menanti kita di rumah…. 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
7 bulan helm itu sudah terawat
09:45 30 Agustus 2006

TUKANG SOL ITU TERNYATA….


TUKANG SOL ITU TERNYATA….

Ahad, 20 Agustus 2006
Kembali saya diajak menuntaskan rasa rindu Qaulan Sadiida kepada ibunya. Dan daripada saya bete seharian di rumah sang Ibu, saya benar-benar berniat untuk hunting foto kota lama sepuas-puasnya. Ditemani dengan kakaknya saya kemudian kembali menuju lokasi tersebut.
Kini saya mengawalinya dengan mengambil gambar gedung bank mandiri, lalu gedung sebelahnya. Berlanjut dengan gedung GKBI lalu menuju Pabrik Rokok Praoe Lajar. Bangunan pabrik rokok ini, mungkin satu-satunya gedung yang masih menampakkan kekunoannya dengan sentuhan yang lebih terawat dan moderen dengan cat merah menyala yang amat artistik menurut saya.
Lalu kembali lagi menuju folder stasiun Tawang. Saya tidak ambil gambar bangunan stasiun Tawang, karena sudah pernah diambil setahun lalu. Setelah puas, lalu saya beranjak ke gedung yang dulunya merupakan rumah sakit jiwa untuk perempuan. Bangunannya sudah rusak berat tapi masih bisa dihuni oleh beberapa pedagang warung remang-remang. Sudah terkenal sekarang ini lokasi tersebut merupakan sarana pemuasan syahwat kelas bawah. Makanya jangan heran di sana setiap sorenya, sudah banyak wanita bergincu tebal menjajakan dirinya di depan pintu gedung itu yang kira-kira ada delapan buah .
Pantasan saja di saat saya mencoba mengambil gambar di sana, ada dua orang yang langsung masuk ke dalam bangunan tersebut. Mungkin mereka mengira saya wartawan dan takut diekspos di media. Ah, ada-ada saja. Masak tampang saya seperti ini dikira wartawan sih… 
Perburuan terus berlanjut sampai di gedung Telkom dan gereja Blenduk serta bangunan di sekitar jalanan menuju Pasar Johar. Di tengah perburuan itu, saya berjumpa dengan tukang sol sepatu yang ternyata dia adalah penyuka fotografi dulunya. Kamera Canon ber-lensa tele sudah ia jual dulu sekali.
Padanyalah saya pun berkonsultasi masalah perawatan kamera dan bagaimana agar gambar yang diambil bisa bercerita banyak, tidak sekadar gambar belaka. Saya pun menegaskan kepadanya, saya itu cuma penyuka biasa saja. Dan belum mengerti sama sekali tentang fotografi.
Tuh kan… jangan pernah melihat siapa orangnya, tapi lihat apa yang ia katakan. Sambil meminum air es degan itulah saya mengambil banyak pengetahuan dari tukang sol itu. Setelah lama berdiskusi dan berbincang-bincang saya memutuskan untuk mengakhiri perburuan ini. Bukan masalah saya sudah bosan dengan sekitar tapi saya sudah tidak kuat sekali dengan terik matahari di siang bolong ini, apalagi kami belum mengisi perut. So, sekali lagi saya benar-benar tidak tahan dengan panasnya Semarang.
It is over.
Malamnya kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta besok pagi.

Senin, 21 Agustus 2006
Saya merasa liburan lima hari di sana terlalu singkat. Apalagi terpotong dua hari untuk perjalanan pulang pergi. Namun esok harus kembali bekerja. Haqi dan Ayyasy pun harus bersekolah. Jadinya kami kembali dengan Kereta Bisnis Fajar Utama yang tiketnya sudah saya beli pada waktu membeli tiket ke Semarang.
Lagi-lagi kereta pun padat dengan penumpang. Tapi masih mending karena puncaknya nanti malam. Perjalanan ini diawali dengan kejar-kejaran petugas Provost TNI yang didampingi petugas PTKA dengan sekelompok laki-laki berbadan tegap, berambut cepak yang tidak mau membayar tiket untuk naik kereta ini.
Memang perjalanan Semarang Jakarta dengan harga tiket sebesar 70 ribu rupiah bisa dihemat dengan harga 10 ribu rupiah dengan membayarnya langsung kepada kondektur di atas kereta saat sedang jalan. Soalnya saya melihat salah satu anggota grup itu memberikan ”sesuatu” kepada kondektur saat melewati Setasiun Cirebon.
Saking padatnya dengan penumpang, sepanjang lorong kereta pun susah untuk dilewati. Makanya ada anak kecil yang memang tidak tahan untuk buang air kecil dan takut mengganggu anggota TNI yang sedang tertidur di lorong itu, terpaksa pipis di wadah bekas pop mi. Dan tidak lupa untuk membuangnya melalui jendela. Untungnya tidak tumpah. 
Tujuh jam lamanya perjalanan ini. Tepat pukul setengah empat sore kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Lalu dengan bajaj kami melanjutkan kembali perjalanan menuju stasiun Tebet untuk naik KRL. Kali ini kami tidak perlu berdesak-desakan di KRL, cukup lowong dan dapat tempat duduk.
Cukup kurang lebih satu jam saja perjalanan ini menuju Stasiun Citayam Dari sana kami naik ojek untuk sampai di rumah yang kami rindukan.

***
Akhirnya selesai sudah liburan kami. Menyenangkan dan cukup melelahkan. Tinggal kami memikirkan apakah di bulan September nanti kami akan mengajak lagi Haqi dan Ayyasy pergi ke Semarang. Tidak dengan hari libur panjang tapi cuma di hari sabtu dan minggu. Yang kami khawatirkan adalah masalah kesehatan saja. Buktinya liburan panjang kemarin sempat membuat Haqi tidak masuk sekolah karena sakit di hari Rabu kemarin. Apalagi ini dengan frekuensi perjalanan tanpa istirahat, Jum’at malam pergi, ahad pagi pulang kembali.
Saya bersikeras untuk meninggalkan mereka berdua, tapi Qaulan Sadiida benar-benar tidak tega. Kami mungkin perlu negosiasi ulang membahas ini. Tapi nanti sajalah, masih tiga minggu lagi bukan…?
Eit, tapi awas, tiket keretanya habis loh…. 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

HUNTING IMAJI DAN KULINER


HUNTING IMAJI DAN KULINER

Jum’at, 18 Agustus 2006
Setelah semalamnya kami beristirahat total untuk merehatkan tubuh, pada hari ini kami sepakat untuk pergi ke rumah ibu yang berada di Poncol. Kami berempat pergi ke sana dengan mengendarai sepeda motor. Selalu saja antara Haqi dan ayyasy selalu bersaing untuk berada di depan. Pada akhirnya mereka selalu bertengkar pada masalah ini. Tapi saya tegaskan kepada mereka untuk gantian. Eh…maklum anak-anak. Padahal saya pikir apa enaknya sih duduk di depan. Tapi mungkin enggak enaknya kalau duduk di belakang pasti tidak bebas melihat pemandangan sekitar karena terjepit badan kedua orangtuanya.
Perjalanan kami tidak jauh, cuma menempuh sepuluh kilometer saja dari rumah kakak. Melewati kota lama yang dipenuhi dengan bangunan kuno saya berniat berhenti sebentar untuk potret-potret dengan kamera digital yang saya bawa: Nikon Coolpix 5700 bekas lungsuran teman yang mau berbaik hati merugi sekitar lima jutaan dari harga barunya untuk dibeli oleh saya.
Qaulan Sadiida tidak setuju untuk hunting foto pada saat ini. Kangen pada sang Ibu membuatnya tidak betah berlama-lama berhenti. “Sore saja nanti saat pulang,”katanya. Akhirnya saya menurut. Seharian kami di rumah sang Ibu.
Sorenya kami pun pulang. Saya menagih janji pada Qaulan Sadiida untuk menemani saya hunting. Karena hari sudah keburu terlalu sore, saya pun cuma ambil beberapa saja foto bangunan kuno di jalan samping gedung bank Mandiri. Lalu setelah cukup puas, saya pun kembali meneruskan perjalanan pulang.
Tapi berhubung ada lokasi bagus yang kami lewati, yaitu folder pengendali rob di depan Stasiun Tawang dengan jejeran lampu hias zaman dulu, semburat sinar matahari senja, air yang tenang, lokasi yang tampak bersih, dan bendungan kecil ala Belanda membuat saya tergoda berhenti. Dengan rayuan kepada Qaulan Sadiida berupa posenya bersama anak-anak, Qaulan Sadiida mau menemani saya kembali hunting foto di sini. “Jangan lama-lama,” tegasnya. Oke, bossss….
Bagus sekali. Banyak gambar sensasional (menurut saya yang pemula ini) yang bisa diambil. Lumayan. Kalau saja bisa lebih lama lagi tapi senja semakin memerah semburatnya.

Sabtu, 19 Agustus 2006
Tidak ada yang dilakukan pada hari ini. Hanya main game kuno di komputer yang sudah lama saya tinggalkan. SOLITAIRE. Selanjutnya kami cuma berencana untuk pergi ke rumah saudara yang lain nanti malam. Yang pasti di tengah panasnya Semarang, saya habiskan waktu untuk eksplore keunikan kuliner Semarang (halah…).
Ah, cuma soto Pak No dan es teh manis. Plus bakso sapi Pak Min. Lezat Euy…Saya akui, ternyata di setiap sudut kota semarang selalu saja ada kaki lima yang berjualan makanan. Dan laku coy. Apalagi di daerah istri saya ini, Perumnas Tlogosari, Pedurungan. Kalau malam jalanan utamanya penuh sesak dengan orang yang berjalan kaki dan berkendaraan untuk meramaikan warung-warung kaki lima penjual makanan. Saya sampai bilang: “wuih…di sini surganya makanan”.
So, tidak ada yang istimewa di hari ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

SEMARANG MEMANG PANAS


SEMARANG MEMANG PANAS

Kamis. 17 Agustus 2006
Tepat pukul 05.00, ba’da shubuh, kami berempat sudah bersiap-siap menuju Stasiun Jatinegara, karena Kereta Api Bisnis Fajar Utama jurusan Semarang Tawang sudah bersiap di stasiun itu pada pukul 07.30 pagi.
Tukang ojek yang biasanya banyak di pangkalan dekat rumah, ternyata pada saat itu tidak ada batang hidungnya satu pun. Akhirnya kami harus berjalan sekitar tiga ratus meter untuk mencari tukang ojek lain, sampai ketemu juga ojek langganan kami.
Sepuluh menit kemudian, saya, Qaulan Sadiida, Haqi, dan Ayyasy sudah berada di stasiun Citayam untuk naik KRL Jurusan Kota menuju Stasiun Tebet. Tidak lama KRL itu pun datang. Penuh juga ternyata. Kami pun harus berdesak-desakan. Saya sampai heran kenapa hari libur seperti ini masih KRL dijejali oleh banyak penumpang. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata banyak PNS yang berseragam Korpri masuk kantor untuk mengikuti upacara tujuh belas agustusan.
Syukurnya, saya tidak diberi giliran untuk mengikuti upacara itu. Karena kalau tidak, acara liburan pulang kampung ini akan gagal dan tiket yang sudah kami beli sebulan kemudian bisa hangus. Rugi banyak saya kalau kejadiannya demikian.
Ya, Istri saya memang sudah lama tidak pulang kampung ke Semarang. Kangen pada ibunya sudah tidak terbendung lagi. Saya pun tidak bisa menghalanginya untuk bertemu dengan sang ibu, walaupun nanti di bulan September besok kami harus datang ke sana kembali karena keponakan kami mengadakan resepsi pernikahan.
Tidak apa-apa sekalian menikmati liburan panjang. Dan tentunya sudah ada kesepakatan di antara kami, bahwa kalau bulan Agustus dan September ini pulang ke Semarang, nanti kalau lebaran tidak usah pulang lagi ke sana tapi cukup untuk pulang ke Jatibarang menemui orang tua saya. Deal.
Perjalanan dengan KRL yang saya khawatirkan terlambat ternyata tidak terjadi. Kami masih punya banyak waktu untuk sampai ke Jatinegara. Walaupun kami harus bersusah payah untuk keluar dari gerbong KRL karena penuh sekali dengan penumpang. Kasihan Haqi dan Ayyasy terjepit-jepit. Apa daya kami berdua sudah membawa barang bawaan yang cukup berat, jadinya tidak bisa menggendong mereka berdua.
Dari Stasiun tebet kami naik Bajaj dengan ongkos cukup Rp8.000,00. Awalnya kami hendak naik ojek tapi saat dipanggil dari kejauhan mereka tidak mau datang, malah yang datang tukang Bajaj. Ya, sudah tidak apa-apa malah menghemat karena kalau naik ojek bisa habis ongkos sebesar Rp14.000,00.
Kurang lebih Pukul 07.00 pagi kami sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Alhamdulillah kami tidak terlambat. Ada waktu setengah jam untuk bersantai sembari menyuruh kedua anak saya untuk sarapan pagi dulu dengan bekal yang kami bawa.
Di stasiun ini ternyata banyak sekali orang yang akan pergi jauh dengan menggunakan moda angkutan kereta api untuk mengisi liburan panjang. Dan imbasnya ternyata di gerbong yang saya naiki penuh juga dengan orang yang bertiket tanpa nomor duduk. Lagi-lagi saya bersyukur, saya memesan tiket sudah lama sehingga kebagian nomor duduk untuk kami berempat. Haqi dan Ayyasy pun bisa menikmati perjalanan ini. Menikmati pemandangan sawah dan kegiatan panen di sekitar Pantura Jawa Barat. Laut dan sedikit hutan di Batang, dan tanaman tembakau di Kaliwungu.
Walaupun demikian, ternyata perjalanan kereta ini banyak terhambatnya. Di setasiun Bekasi kami diberhentikan cukup lama sekali. Hingga seharusnya kami sudah sampai di Stasiun Tawang sekitar pukul dua atau tiga siang, ternyata sampai di sana pada jam setengah empat sore. Waow…perjalanan ini asyik tapi melelahkan, apalagi kami sudah dibaui dengan bau kereta api, wajah lengket, dan penuh debu. Saya pikir enak juga ya kalau mencicipi perjalanan ke Semarang naik kereta eksekutif Argo. Belum pernah sih….:-)
Di stasiun ada kakak kami yang sampai terkantuk-kantuk menunggu kami. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, dua anak kami yang di kereta itu tidak tidur saking asyiknya bermain sudah terlelap saja. Mereka terbuai dengan AC mobil yang meningkahi hawa panas Semarang. Semarang memang panas di musim panas, pun di musim hujan Semarang juga banjir.
Inilah perjalanan di hari pertama kami.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
24 Agustus 2006

KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS


KADO TERAKHIR BUAT TIBO, DOMINGGUS, DAN MARINUS

Eksekusi yang saya tunggu-tunggu Sabtu dinihari kemarin ternyata batal juga. Tibo Cs tidak jadi ditembak oleh satu regu eksekutor. Yusuf Kalla–di Kompas hari ini (senin, 14/8)–menyatakan ada pertimbangan yang diberikan oleh SBY sebagai presiden yakni pertama adanya kesibukan dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia  dan kedua suara-suara protes dari elemen masyarakat, juga dari Vatikan.
        Mantap, Indonesia, sekali lagi, selalu lemah di bawah tekanan asing. Dan lagi-lagi tidak berdaya. Apapun alasannya pemerintah bagi saya ini merupakan suatu bentuk kelemahan. Memperpanjang ketidakpedulian terhadap penegakan hukum. Tapi kita lihat apakah pemerintah juga bersikap adil terhadap rencana eksekusi Amrozi dkk. Saya tidak mempunyai urusan kepada para pelaku bom bali tersebut. Tapi bila tetap dipaksakan juga untuk dilakukan eksekusi terhadap mereka, sedangkan kepada Tibo Cs ditunda-tunda lagi, maka tampak sekali bahwa ketidakadilan sudah dilakukan oleh pemerintah. Tentunya kita tahu siapa pihak asing yang bisa menekan pemerintah kita.
        Dan saya setuju pula bahwa eksekusi pun harus dilakukan terhadap para narapidana yang sudah habis upaya perlawanan hukumnya sampai ke tingkat grasi. Entah itu dari kasus narkoba atau kasus  pembunuhan. Hendaknya pula agar menimbulkan efek jera–sebagaimana amanat falsafah hukum–maka eksekusi itu dilakukan di hadapan khalayak ramai, di lapangan terbuka dan diliput oleh media. Jangan ditutup-tutupi seperti sekarang ini. Yang eksekusinya dilakukan dinihari dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melihatnya. Maka saya yakin tidak ada terapi kejut yang bisa diterima oleh masyarakat. Dan saksikan saja angka kriminalitas pun tidak mempunyai perubahan yang signifikan ke arah penurunan.
        Kembali kepada masalah eksekusi Tibo Cs, pemerintah kiranya lupa terhadap penderitaan yang dirasakan oleh korban yang lolos dari kekejian Tibo Cs dan para keluarga korban yang tewas dibantai mereka. Betapa tidak ratusan–bahkan ada yang mengatakan ribuan–nyawa melayang akibat ulah bejat gerombolan kelelawar pengecut seperti mereka yang bisanya cuma menganiaya dan membunuh orang-orang yang tak bersalah dan tak berani untuk berhadapan face to face dengan pasukan putih dari pihak muslim.
        Suara-suara elemen masyarakat–Sampai-sampai Gubernur Nusa Tenggara Timur, asal salah satu pelaku tersebut, pun ikut-ikutan–yang memprotes eksekusi dengan alasan bahwa Tibo Cs bukan aktor intelektual menjadi alasan utama permintaan penundaan itu. Bagi saya itu cuma alasan yang mengada-ada. Dibuat-buat. 
        Dan bagi saya, sungguh amat terlambat bagi kepolisian mencari-cari siapa saja dalang dibalik peristiwa itu setelah sekian lama peristiwa itu terjadi. Mengapa tidak sedari dulu investigasi itu dilakukan agar tampak yang benar-itu benar dan yang salah itu tetap salah. Tapi lagi-lagi kiranya seperti ada awan gelap menyelimuti kasus ini. Tapi berdasarkan hasil persidangan dan persaksian para korban hidup yang melihat Tibo Cs sebagai pelaku langsung dari aksi pembantaian itu sudah menjadi bukti cukup untuk segera menembak jantung mereka agar tidak lagi diberikan kesempatan untuk menarik nafas di muka bumi ini.
Kiranya saya tidak usah berpanjang lebar mengurai masalah Tibo ini, karena sudah puluhan berita media yang mengupas masalah ini. Namun terlihat sekali ada dua blok terbentuk dalam kasus Tibo ini. Yang membela dan menginginkan eksekusi Tibo Cs adalah mereka yang mempunyai afiliasi ideologis yang sama dengan tiga penjahat besar tersebut. Kelompok minoritas yang didukung medianya, nasional dan lokal tentunya—sampai-sampai ada liputan TV yang mengungkapkan sisi-sisi kemanusian Tibo Cs yang mereka buang entah kemana saat menyembelih para santri.
Dan kelompok kedua adalah kubu para korban dan ormas-ormas Islam yang minim dukungan dari media. Tentunya mereka inilah yang merasakan kekecewaan berat atas penundaan tersebut. Kini mereka dan saya tentunya tinggal menunggu janji dari pemerintah bahwa eksekusi tersebut tetap akan dilaksanakan setelah peringatan 17 Agustusan ini. Saya harap ini merupakan kado terbesar dan terakhir buat Tibo Cs.
Jika tidak, maka makin teranglah sikap pemerintah ini, seterang sinar matahari di siang bolong. Dan tentunya kita lihat betapa terpuruknya nasib pencari keadilan jika ia adalah seorang muslim. Itu saja bagi saya.

riza almanfaluthi
uneg-uneg yang tiada habisnya
dedaunan di ranting cemara
10:21 14 Juli 2006

BINTANG DAVID DI MANA-MANA


BINTANG DAVID DI MANA-MANA: “Gue Israel Loh…”
( http://10.9.4.215/blog/dedaunan )

Dalam perjalanan pergi ke kantor di pagi hari dengan sepeda motor, di tengah keramaian lalu lintas Jakarta, seperti biasa saya mengambil sisi kiri jalan untuk dapat melaju lebih lancar. Saya dikejutkan dengan stiker yang ditempelkan di bagian belakang motor di depan saya. Tentu stiker ini tidak akan mempunyai makna apapun bila tidak ada kejadian yang mengharubirukan siapapun yang masih punya hati nurani melihat kebiadaban bangsa penjajah di Timur tengah sana pada pekan-pekan ini.
Stiker ini berupa bintang sudut enam berwarna putih, Bintang David. Ya, semua orang yang mengikuti perkembangan berita dunia tahu tentunya bahwa ini adalah simbol kebanggaan dan kejayaan bagi bangsa Israel. Tapi sayangnya kebanggaannya itu adalah dengan mengorbankan ribuan nyawa tak bersalah. Dan kejayaan yang dicita-citakannya adalah berdiri di atas pondasi berupa tumpukan tulang-tulang yang direkatkan dengan gelimangan darah ribuan manusia. Mengerikan.
Saya gemas sekali melihat stiker ini. Rasanya saya ingin benar-benar menegurnya apakah ia masih mempunyai nurani dan sensisitivitas atau memang ia tidak tahu atau benar-benar menantang. Tapi saya cuma bisa berdiam diri saja dengan banyak alasan dan memendam kegemasan tentunya.
Dan anehnya sore hari itu pula, di saat dalam perjalanan pulang, kembali saya menemukan stiker itu lagi. Kalau stiker yang saya temukan di pagi hari itu cuma Bintang David putih saja, kali ini benar-benar Bintang David berwarna biru di antara dua strip. Nah…kalau yang ini benar-benar bendera Israel, si penjajah La’natullah. So, saya meyakini benar bahwa orang ini benar-benar tidak sensitif. Saya kira ia benar-benar menantang dengan pemajangan stiker itu. ”Nih Gua Israel Loh…”.
Dan kali itu saya benar-benar ingin menghentikannya, tapi ditegur oleh istri saya.
”Jangan emosi, mungkin dia benar-benar orang Yahudi,” istri saya memperingatkan.
”Loh, kalau ia memang orang Yahudi, tidak selayaknya ia bersikap demikian karena ia hidup di tengah mayoritas Muslim yang sedang prihatin dengan kejadian di Palestina dan Libanon itu, dong,” tangkis saya panjang.
”Saya hentikan dia saja yah, saya marah nih, bener, swer…!”
”Tidak usah, percuma, ini bukan karena Allah kok ” kata istri saya.
”Loh, ini benar karena Allah, saya marah karena Allah kok, melihat kedzaliman ini.”
”Iya memang benar marah, tapi biasanya kalau sudah marah orang biasanya tidak bisa berpikir rasional lagi. Sudahlah saya tidak mau ribut, sekarang pun sudah maghrib lagi.”
Lagi-lagi saya tidak mampu untuk berbuat apapun. Saya cuma bisa omong besar doang. Di tengah penyesalan dan pemakluman di hati bahwa ini merupakan selemah-lemahnya iman karena tidak bisa dengan tangan ataupun bahkan dengan mulut merubah suatu kedzaliman ini, saya berpikir kok bisa-bisanya saya menjumpai bintang ini dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Dan saya berpikir apakah orang-orang sudah tidak mempunyai nurani lagi tentang hal ini setelah kasus Dani Dewa yang memakai Bintang David saat pertunjukkannya. Entahlah…tapi yang paling diuntungkan tentunya Israel juga. Dengan pemajangan simbol ini secara tidak langsung merupakan upaya pengakuan eksistensi dari Israel itu sendiri di muka bumi ini.
Tentunya kita tidak pernah lupa, bahwa bangsa yahudi adalah bangsa yang sangat menyukai simbol-simbol. Dan menjadikan simbol paling utama dari keberadaannya adalah Bintang David itu sendiri. Maka dalam suatu kesempatan, di sebuah milis, setelah akuisisi Indosat oleh perusahaan Singapura dan ditengarai dimiliki oleh perusahaan investasi milik Israel, saya dikecam oleh para peserta milis ketika mengungkapkan hal ini. Tapi faktanya benar-benar bahwa simbol Indosat adalah gradasi dari Bintang David. Ini meneguhkan pernyataan bahwa bangsa Yahudi ini sangat penyuka dengan simbol dan perlambangan.
Dan kasus terbaru tentang Bintang David adalah pemakaian lambang ini oleh Tora Sudiro di acara Extravaganza. Hidayatullah.com memberitakannya sebagai berikut:
Sebagaimana diketahui, TransTV, pada Senin tanggal 7 Agustus 2006 lalu saat acara hiburan, Extravaganza, salah seorang pemainnya, Tora Sudiro, mengenakan sebuah kalung terbuat dari ‘Bintang David’. Sebuah lambang kebesaran Yahudi.
Dalam tayangan tersebut, pihak TransTV berupaya untuk mengelabuhi
pemirsa dengan cara menutup dan mengaburkan simbul penjajah yang kini
sedang menyerang Palestina dan Libanon itu.
(http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3447&Itemid=65)

Kembali ini meneguhkan bahwa betapa banyak orang Indonesia yang sudah tidak mempunyai sensitivitas dan hati nurani lagi untuk berempati dengan saudaranya sendirinya. Bahkan kalau kita runut ke belakang betapa ghozwul fikri ini sudah merambah ke sekolah-sekolah, sehingga dengan bangganya para siswanya membuat grafiti dan coretan-coretan di banyak dinding dengan lambang Bintang David yang ditengahnya terdapat huruf besar-besar: ISRAEL.
Atau jangan-jangan saya yang aneh karena memikirkan kulit saja daripada substansi. Tapi bagi saya, untuk kali ini, kulit dan substansinya adalah sama saja, yakni representasi dari kebiadaban dan keganasan Iblis berbulu domba (emang ada…? biasanya diilustrasikan oleh barat sebagai iblis berkepala kambing)
Ah…saya harap ini cuma segelintir orang saja di tanah air tercinta ini. Yang bahkan perlu diwaspadai lagi adalah jasadnya secara fisik melayu tapi pikiran, tindak tanduknya, fatwanya, lidahnya adalah kepanjangan dari yahudi itu sendiri. Ini dia yang bisanya menusuk dari belakang. Menggunting dalam lipatan. Lempar batu sembunyi tangan. Dan penuh sifat kelicikan dan kepengecutan. Sungguh ini yang perlu diwaspadai.
Ah, terlalu banyak omong dan mencela seringkali melupakan aib diri sendiri. Semoga kegeraman ini berlanjut untuk tidak selama-lamanya dengan selemah-selemahnya iman. Semoga mulut saya dan tangan saya bisa membantu saudara-saudara saya di sini dan di sana. Harap saya yang senantiasa meluncur ke langit. Berharap menembus pintu-pintuNya. Semoga.

Celaan, ejekan, makian, hinaan, cacian, kutukan sila ajukan ke: riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:16 11 Agustus 2006

TINGIPOKNYAR: MEMENEJ CONTACT


Monday, August 7, 2006 – TINGIPOKNYAR: MEMENEJ CONTACT

Judul TINGIPOKNYAR di atas tidak ada kaitannya dengan tema yang saya tulis untuk antum semua. Ini hanyalah eye cathching tapi tetap ada mengenai ini di bagian paling bawah.

MEMENEJ CONTACT

Satu pekan lamanya saya tidak menulis. Entah kenapa beberapa pekan ini saya selalu hampa dari kebaruan tema. Sepertinya waktu libur benar-benar saya manfaatkan untuk beristirahat setelah lima hari lamanya bekerja di bawah tekanan lalu lintas Jakarta. Otomatis tuts-tuts keyboard komputer rumah seringkali menganggur dari tekanan jari-jari saya. Bahkan seringnya komputer cuma dipakai dalam rangka menyalurkan semangat jihad qital yang terpendam karena tidak mampu secara fisik pergi ke Libanon dan Palestina untuk bertempur dengan Israel dengan memainkan War Craft III: Frozen Throne.

Saya berusaha membatasi untuk menyentuh game ini, karena masih banyak yang harus saya lakukan. So, saya bertekad bahwa ini cuma sebagai pembuang waktu setelah makan siang dan sebelum tidur siangnya. Soale, tentunya kita tahu, kita tidak boleh langsung tidur setelah makan bukan?

Nah, omong-omong soal tulis menulis ini, tiba-tiba pagi hari ini saya tergugah untuk mengunjungi situs yang sudah lama tidak pernah saya buka. Situs yang beralamatkan di http://www.penulislepas.com memang dikhususkan untuk pengembangan dunia kepenulisan entah di dunia yang sebenarnya atau di dunia maya seperti di internet ini. Saya harap di saat saya mengunjunginya saya mendapatkan inspirasi untuk menulis dan ternyata benar.

Mata saya terpaku pada sebuah tulisan di kategori Kiat/Ilmu Kepenulisan yang berjudul: Mengapa Kita Menulis? Penulis, Ibn Ibrahim, menjelaskan alasan-alasan yang menjawab pertanyaan itu. Ada lima alasan:

1. Menulis adalah Salah Satu Langkah Menuju ke Keabadian;

2. Menulis Berarti Menata Pikiran;

3. Suatu Tulisan Berpotensi Tersebar Sangat Luas;

4. Menulis itu Menyehatkan;

5. Membantu Mendapatkan dan Mengingat Informasi Baru;

6. Meniru Tradisi Para Ulama.

Saya tertarik pada alasan pertama yang diajukannya yakni menulis adalah salah satu menuju langkah ke keabadian. Apa maksudnya, sih? Tidak usah berpanjang lebar, saya langsung kutip saja tulisannya.

Pada subjudul ini penulis menggunakan kata keabadian, karena merujuk kepada hadits nabi tentang amal yang tiada terputus. Sesungguhnya apabila setiap anak Adam telah mati, terputuslah amalnya kecuali tiga: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholih yang senantiasa mendoakannya. Nah, setidaknya, menghasilkan tulisan masuk dalam kategori ilmu yang bermanfaat. Tulisan dapat menjadi semacam passive income (passive income merujuk kepada istilah yang digunakan Robert T Kiyosaki pada bukunya Cash Flow Quadrant. Istilah ini berarti penghasilan yang diperoleh tanpa harus bekerja, seperti deposito, reksadana dan lain-lain). Tatkala kita sudah tidak mampu beramal lagi, Allah masih mencatatkan pahala apabila tulisan kita masih menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Perlu ditekankan di sini, perbuatan baik bukanlah semata mengerjakan ibadah-ibadah mahdloh. Ilustrasinya begini. Misalnya Anda menulis artikel tentang penggunaan CVS dan mengirimkannya ke situs http://www.ilmukomputer.com Kemudian artikel tersebut dimanfaatkan oleh seorang programmer dalam membuat repository untuk suatu aplikasi. Programmer tersebut memperoleh upah dari aplikasi yang dia buat. Upah tersebut, katakanlah, dipergunakannya untuk modal menikah. Nah, menikah adalah suatu perbuatan baik, dan bernilai ibadah jika diniatkan demikian. Programmer tadi memperoleh pahala atas ibadahnya, dan Anda, si pengirim artikel, yang mungkin tidak kenal sama sekali dengan programmer yang berbahagia tadi, dengan izin Allah akan memperoleh pahala juga. Indah sekali bukan?

(http://www.penulislepas.com/more.php?id=2111_0_1_0_M13)

Apa yang diilustrasikan oleh Ibn Ibrahim benar-benar menggugah saya. Amal yang tiada putusnya. That is the point!. So, dengan sedikit ilmu yang saya punyai saya berkeinginan untuk menyebarkan sedikit pula kebaikan yang saya miliki. Contohnya ilmu baru yang saya dapatkan dari seorang teman pada penggunaan media kirim terima surat elektronik Outlook Ekspress.

Ya, saya harapkan sedikitnya ilmu ini berguna bagi pembaca sekalian. Tentunya ini bukan ditujukan kepada pembaca yang memang sehari-hari sudah berkutat dan familiar sekali dengan program bawaan Microsoft Windows ini. Jadinya khusus untuk pembaca yang memang kesulitan waktu untuk mengeksplor atau mendalami program ini dan bisanya cuma terima apa adanya.

Tentunya pula harapan saya adalah ini akan memudahkan pembaca untuk mengirimkan email kepada yang lain. Jika dirasa mudah maka pembaca pun tidak akan malas mengirim berita-berita atau artikel-artikel yang memuat kebaikan kepada orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh penulisnya lagi:

Bayangkan ‘keuntungan’ yang dapat Anda peroleh, apabila satu persen saja dari pembaca Anda memperoleh hidayah (baca: terinspirasi berbuat kebaikan) setelah membaca tulisan yang Anda buat. Barangkali, seperti kata hadits, hal itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.

Bila ini terjadi maka pembaca dan saya Insya Allah akan mendapatkan kebaikan yang lebih baik daripada dunia dan seiisinya. Indah bukan. Semoga. Okelah tidak usah berlama-lama saya langsung saja, berikan ilmu ini. Sekali lagi ini khusus untuk yang belum tahu saja, yah… .

Saking banyaknya nama di Contact, seringkali ini membuat kita menjadi kebingungan sendiri. Soalnya nama yang tercantum di Contact adalah displayname. Yaitu nama singkat yang bukan nama lengkap dan disertai dengan nama server emailnya. Nama ini biasanya given dari sang pengirim email. Atau nama yang biasanya diciptakan sendiri oleh kita untuk lebih mudah mengenalnya atau berupa nickname.

Contohnya nama pengirim email dalam Contact saya adalah Awe Tea. Nama Awe Tea ini adalah nama yang diset oleh teman saya di setting emailnya. Ini langsung masuk ke dalam Contact saat saya mau me-reply email dari Awe Tea. Atau saat meng-klik kanan nama di inbox lalu klik add sender to address book.

Jadi nama yang tecantum itu tidak disertai nama lengkap dari server emailnya seperti nama awe tea tadi. Baru kalau kita klik kanan nama di contact lalu klik properties maka akan terlihat bahwa aklamat email lengkap dari awe tea adalah asep.nugraha@pajak.go.id.

Dengan demikian, kesulitan akan muncul di saat kita akan mengirim email khusus dan tertentu kepada teman-teman yang lain bila di dalam Contact sudah ada ratusan nama. Karena tentunya kita terkadang lupa teman kita ini dari komunitas mana. Kita tentunya tidak mau bukan kalau email rahasia kelompok kita bisa tersebar ke orang yang bukan anggota komunitas kita sendiri hanya gara-gara kita salah menganggap orang lain adalah bagian dari komunitas tertentu kita.

Contohnya, kita kirim email tentang kekejaman Israel kepada teman kita yang pro Israel misalnya. Atau artikel keagamaan dari Manajemen Qalbu yang kita kirimkan pula kepada sahabat kita yang berbeda keyakinan. Atau di saat kita menerima email dari komunitas pajak yang menanyakan objek ini dipotong pajak atau tidak lalu kita menjawabnya dengan pesan singkat: Potong saja. Dan ternyata email itu pun kita kirimkan kepada teman yang lain yang ternyata anggota dari komunitas hobi terjun payung, dan pas saat itu di komunitas itu sedang di bahas mengenai simpul parasut, maka ini bisa gawat tentunya bukan…? Oleh karena itu kita harus tepat sasaran untuk mengirimnya.

Dan dengan banyaknya nama ini pun kesulitannya adalah di saat kita ingin mengirimkan email kepada banyak orang misalnya kepada lima puluh teman kita. Tentunya kita merasa bete sekali kalau kita klik satu persatu . Dan selama ini saya yang berkecimpung selama satu tahun lebih dalam dunia Outlook Ekspress ini melakukan hal yang demikian. Maka seringkali saya malas untuk mengirimkan kepada teman-teman yang lain karena harus klik satu persatu nama-nama teman saya. Jadinya memang saya termasuk orang yang seirng menerima tapi tidak pernah memberi. Otomatis, kebaikan yang saya sebarkan pun terlalu sedikit.

Jadinya kita memang kudu menej ulang Contact kita supaya bisa memudahkan kita. Caranya kita mengelompokkan nama-nama teman kita yang satu kelompok dalam sebuah grup khusus.

Misalnya kita mau kelompokkan kedalam empat grup.

1. Grup pertama, adalah teman-teman yang bisa dikirimkan dan merasa nyaman menerima email ruhani, maka kita buat misalnya: Penerima Kebenaran;

2. Grup kedua misalnya dikhususkan untuk teman-teman eks KPP PMA Tiga, maka saya namai grup ini dengan ex PMA Tiga;

3. Grup ketiga misalnya khusus untuk milis-milis yang kita ikuti, maka kita namai grup ini dengan milis saya;

4. Grup keempat untuk teman-teman dari wajib pajak. Misalnya untuk ajang pengiriman peraturan terbaru dan konsultasi. Dengan nama grup adalah Wajib Pajak.

Lalu coba setelah kita membuka outlook ekspress, kita klik ikon bergambar buku yang terbuka atau ikon yng bernama addresses di toolbar. Setelah kita klik akan muncul display: Address Book – Main Identity.

Klik ¬File lalu klik New Group. Sebenarnya kita bisa langsung dengan menekan Ctrl dan G. Dan muncul display: Properties.

Pada tab Group kita isi nama grup yang kita inginkan. Misalnya kita isi dengan Penerima Kebaikan. Lalu kita klik tombol Select Member untuk memilih nama-nama teman kita yang ingin kita masukkan ke dalam grup ini.

Muncul display Select Group Members, kita pilih nama-nama itu lalu klik tombol select. Lalu setelah cukup lengkap dengan daftar nama yang kita kehendaki, klik tombol OK. Lalu kita bisa menambah detil grup kita dengan meng-klik tab Group Details. Tapi biasanya tidak saya lakukan karena informasi nama saja sudah cukup bagi saya. Kalau sudah kita bisa melanjutkan dengan membuat grup-grup yang lainnya. Dan bila sudah membuatnya kita keluar dengan menutup semua display yang ada.

Sekarang di Contact kita sudah muncul nama-nama grup kita tanpa menghilangkan nama-nama dari teman kita yang dimasukkan ke dalam masing-masing grup tersebut. Oke kita langsung mencobanya dengan mengirimkan email percobaan.

Ketika kita klik Create Mail, dan muncul display new message lalu di To: kita tulis nama grup kita yang akan menerima email kita dengan cukup menulis satu atau sampai tiga huruf depan dari nama grup kita. Misalnya pen atau ex atau mil atau waj. Maka otomatis akan langsung muncul nama grup yang kita kehendaki.

Dan di saat kita kirim email tersebut maka email itu hanya akan muncul kepada nama anggota dari grup tersebut. Memudahkan bukan? So, selamat tinggal gaya manual dengan meng-klik satu persatu nama email teman kita di To:, Cc:, atau BCc:.

Semoga bermanfaat. Tentunya saya yang pertama kali merasankan manfaat ini. Walaupun terlambat karena gagap teknologi tapi tidak mengapa daripada tidak sama sekali. Percayalah ini sangat membantu sekali. Dan menambah semangat saya untuk selalu menyebarkan kebaikan. Tentunya anda tidak mau kalah dengan saya bukan…?

***

Maaf tiada terkira. Segala caci maki, hinaan, ejekan, dan kutukan sila untuk dikirim kepada saya di riza.almanfaluthi@pajak.go.id.

Intermezo:

“Namamu siapa jeng?” tanya Bokir.

”Tingipoknyar” jawab perempuan bermuka pucat, berbaju putih, dan berambut panjang.

”Apaan tuh neng,” tanya Bokir lagi, penasaran.

”Ma…Ti…Wi…Ngi…Ka…Pok-e…A…Nyar…” jawab perempuan itu pelan sambil tertawa ngikik.

Membalikkan punggungnya, terlihat lubang penuh darah dan belatung.

Hi….hi….hi….

Bokir pucat lalu pingsan.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

10:27 07 Agustus 2006

Tingipoknyar: Mati Kemarin Kapuknya Masih Baru.

Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah


Mengapa Kita Harus Mengutuk Israel La’natullah

Saat ini dunia sedang dipertontonkan dengan kebiadaban dan kebengisan dari sebagian bangsa Yahudi di tanah Suci Palestina dan Libanon. Sudah ratusan nyawa melayang sejak penyerbuan Israel ke Libanon tersebut. Bahkan sudah tak bisa terhitung lagi berapa nyawa yang melayang sejak bangsa terkutuk tersebut menginjakkan kakinya di awal abad 20 dan kemudian mendirikan negara Israel di tahun 1948.
Dengan kecanggihan teknologi, tontonan kebengisan itu seperti benar-benar tampak nyata di hadapan kita. Realistis, cepat, dan up to date. Dengan demikian tak sedikitpun yang terlewatkan. Dan dunia pun sadar, terkejut, mengutuk pada apa yang dilakukan Israel—terkecuali para antek-antek dan sekutunya.
Kemarin (01/08), satu halaman penuh, Media Indonesia mempublikasikan foto-foto berukuran besar tentang korban-korban yang timbul atas serangan rudalnya ke bangunan sipil. Begitu banyak korban dari anak-anak dan wanita yang belum sempat mengungsi.
Seorang petugas relawan Libanon sampai menangis melihat keadaan itu di saat melakukan evakuasi. Bagaimana tidak ia melihat seorang anak kecil berumur dua tahun yang pada pakaiannya masih tergantung dotnya. Atau seorang ibu yang meninggal dengan posisi melindungi anak-anaknya. Semuanya tewas tertimpa runtuhan bangunan. Semoga Allah memberikan kesyahidan kepada mereka.
Dunia memang terkejut dengan apa yang menimpa warga sipil Libanon. Dan seharusnya dunia pun lebih terkejut lagi sedari awal dengan apa yang dilakukan Israel di tanah Palestina di mana setiap pekannya berapa nyawa yang harus direnggut dari penduduk Palestina.
Bayi-bayi yang robek perutnya kerana peluru bengis Israel. Ribuan tawanan yang teraniaya di penjara-penjara Israel. Anak-anak yang telah kehilangan keriangan masa kecilnya, kehilangan masa belajarnya, kehilangan ibu dan bapaknya, dan kehilangan masa depannya. Atau mereka yang kehilangan semua anaknya. Mereka yang telah kehilangan suami atau istri dan saudara-sauadaranya yang tercinta. Sungguh dunia harusnya terkejut sejak 1948 atau sejak masa-masa sebelumnya.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk dengan kekejaman Israel tersebut. Dengan nama apa pun ia. Karena dibalik nama yang bagus sekalipun tetap saja ia adalah iblis yang menebarkan bencana dan angkara murka.
Maka sudah sepatutnya kita mengutuk Israel dengan segala kebiadabannya itu. Karena sesungguhnya bagi saya pemaknaan nama menjadi tidaklah penting. Bahkan tidak menyentuh sama sekali substansi dari persoalan dan keharusan umat Islam untuk membantu saudaranya di Palestina dan Libanon. Karena bila kembali kepada salah atau benarnya kutukan terhadap yahudi dengan penyebutan Israel (yang berarti hamba Allah), maka begitu banyak di Indonesia dan di dunia yang memakai nama ’Abdullah berada di penjara karena telah berlaku dzalim dengan melakukan pembunuhan, pencurian, korupsi, menipu, berzina, dan lain sebagainya..
Bahkan ada yang memakai nama terbaik yakni ’Abdurrahman tetapi tingkah lakunya seperti orang yahudi sendiri yang bisanya menusuk dari belakang perjuangan umat di tanah air dengan masalah liberalisme dan sekulerismenya.
Dan sungguh ketika kita mengutuk dan mencela tentang kejahatan dari oknum-oknum pemakai nama-nama terbaik itu, kita sesungguhnya tidaklah sedang mengutuk dan mencela ’Abdullah dan ’Abdurrahman lainnya di Indonesia dan di seluruh permukaan bumi ini sedangkan mereka adalah hamba-hamab Allah yang sebenarnya, yang ta’at, takwa, beriman dan beramal sholeh.
Dan sungguh bukanlah fenomena aneh yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin yaitu menyebut negara Yahudi yang dimurkai Allah dengan nama Israel, karena nama itu adalah nama yang tercantum dalam daftar negara pada adminsitrasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Mengapa bisa ia mengklaim nama itu dan umat Islam berdiam diri saja?
Ya jelas karena umat Islam tidak punya harga diri. Umat Islam pada saat ini berada di titik nadir dari kejayaannya. Tidak mampu berbuat apapun ketika di zalimi. Bahkan perang pun kalah, sehingga pada tahun 1948 itu berdirilah negara yang bernama Israel. Dan PBB (tentu dengan Amerika Serikat sebagai sekutu utamanya) pun mengakuinya. Dan jika kita tidak menginginkan nama Israel itu dilekatkan pada bangsa Yahudi maka ”Wahai umat Islam, bersatulah…! Rebut kembali kejayaan itu! Kalahkan Yahudi! Kalahkan musuh-musuh Allah! Maka dengan semua itu, niscaya PBB pun tidak akan semena-mena lagi membiarkan segala kezaliman itu. Nama itu akan kita cabut dari daftar. Dan tidak perlu lagi ada tertulis di peta dunia.
Karena Yahudi Israel tidak punya hak mendirikan Negara di jantung negeri-negeri Islam sebagai hak yang syar’i (memiliki dasar hukum dalam syariat) dengan mengatasnamakan warisan Ibrahim dan Israel.
Karena kita pun mengakui bahwa Alqur’an mencela orang-orang yahudi dan mengutuk mereka dan Allah memberitakan kepada kita tentang kemurkaanNya terhadap mereka dengan sebutan “orang-orang yahudi” atau “orang-orang kafir dari kalangan Bani Israel”.
Karena kita mengakui bahwa orang-orang yahudi tidak memiliki hubungan din sedikitpun dengan Nabiyullah Israel (Ya’qub ‘alaihis salm) juga tidak dengan Ibrahim Khalilullah ‘alaihis shalatu wassalam.Dan mereka tidak memiliki hak sedikitpun atas warisan keagamaan keduanya. Karena warisan tersebut adalah khusus merupakan hak orang-orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman(artinya) :”Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad) serta orang yang beriman kepada (Muhammad) dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman” (Qs.Ali Imran:68)
Dan karena kita pun meyakini dengan iman yang dalam bahwa Allah Ta’ala berfirman dalam rangka melepaskan hubungan kekasihnya Ibrahim dari ikatan hubungan dengan kaum yahudi,nashara dan kaum musyrikin (artinya) :”Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (Qs.Ali Imran :67)
Dan karena Kaum muslimin tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi adalah keturunan Ibrahim dan Israel (Ya’qub ‘alaihis salam), tetapi mereka meyakini dengan mantap bahwa orang-orang yahudi itu adalah musuh Allah dan musuh-musuh para utusanNya seperti: Muhammad, Ibrahim, dan Israel. Kaum muslimin memutuskan(berdasarkan hukum syar’i) bahwa tidak bisa saling mewarisi antara para Nabi dan para musuhnya dari kalangan kafirin baik yahudi maupun nashara maupunn musyrikin arab dan yang lainnya, dan bahwa manusia yang paling dekat hubungannya dengan Ibrahim dan semua Nabi adalah kaum muslimin yang beriman kepada mereka,mencintai, dan memuliakan mereka serta mengimani kitab-kitab dan shuhuf yang diturunkan kepada mereka . Kaum muslimin memandang perkara ini sebagai salah satu prinsip dalam agama mereka. Karena itu merekalah pewaris para Nabi dan manusia yang paling dekat hubungannya dengan para Nabi. Dan bumi Alllah hanyalah milik hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya dan kepada para Rasul yang mulia. Maka musuh-musuh para Nabiitu tidak memiliki warsian bumi-terutama yahudi-di dunia ini dan bagi mereka di akhirat siksa neraka yang abadi.
Dan kita sungguh amat yakin bahwa kita tidak pernah menerima—walaupun masih ada sebagian dari kita yang masih mau—menerima klaim yahudi sebagai ahli waris tanah Palestina dan rencana pemugaran kembali Haikal Sulaiman, padahal kaum Yahudi itu kafir kepada Sulaiman dan melemparkan tuduhan keji kepada Beliau.”apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu angkuh;maka di antara mereka kamu dustakan dan yang lain kamu bunuh”(Qs.Al Baqarah:87)
Dan kita pun yakin bahwa sungguh demi Allah, niscaya akan datang suatu hari dimana kaum mu’minin yang benar-benar beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam dan pada para Rasul serta risalah mereka akan menghancurkan kaum yahudi
Sungguh kami yakin. Insya Allah.
Maka dalam pandangan saya dan sekali lagi ini adalah pendapat saya bahwa hal ini bukanlah suatu perkara mungkar dalam perjuangan kaum muslimin melawan kemungkaran Yahudi Harb atau Israel la’natullah. Bahkan menjadi suatu perkara mungkar di saat kaum muslimin berjuang melawan kezaliman Israel ada sebagian dari kita mencela mereka padahal kita sendiri tidak pernah merasakan debu, keringat, dan darah dari peperangan tersebut. Bahkan menjadi suatu perkara munkar di saat anak-anak di sana menahan sakit dan derita berkepanjangan itu kita tidak mencari solusi tepat untuk membantu mereka malah dengan asyiknya mengejek mereka dan para pembela mereka sebagai pelaku kemungkaran yang wajib diperangi. Masya Allah…
Lalu….. Aina Anta…? Di mana saya, Anda dan kalian akan meletakkan diri sebagai batu karang dari sebuah benteng peradaban Islam yang kukuh, kuat, dan jaya sampai akhir nanti?
Hanya Allah yang tahu segalanya.
Sesungguhnya kebenaran datangnya dari Allah, dan segala kesalahan dari diri saya pribadi.
Mohon maaf tiada terkira.

Maraji: http://10.254.4.4/dshforum/forum_posts.asp?TID=7835&PN=1&TPN=1

Hamba Allah yang dhoif dan miskin ilmu
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:39 02 Agustus 2006

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL


Monday, July 31, 2006 – PORNOGRAFI ITU MASALAH KECIL

PORNOGRAFI DAN PORNOAKSI ITU MASALAH KECIL

“Saat ini ideologi Pancasila menjadi semakin jauh dari Bangsa Indonesia. Banyak tingkah laku yang tidak lagi mencerminkan nilai Pancasila. Bahkan sering kali, hal-hal kecil diributkan dan melupakan hal besar yang justru hilang dari kita. Misalnya saja sumber daya alam yang menipis karena dijual ke perusahaan asing.” (Kompas, 28/7)

Hal ini terungkap—seperti diberitakan Kompas—pada dialog publik yang diadakan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan pada hari Kamis yang lalu (27/7) bertema: ”Penegasan Sikap Kebangsaan Kita”. Sebagai pembicara pada acara ini adalah mantan Ketua MPR Amin Rais, mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, serta pengamat ekonomi Hartojo Wignyowijoto. Hadir dalam acara itu pula adalah Gubernur Sutiyoso dan tokoh-tokoh partai politik lainnya.

Tidak ada yang mengganjal di hati saya saat membaca berita tersebut sebelum dua paragraf terakhir yang berisi penegasan dari Amin Rais bahwa yang dimaksud hal-hal kecil yang diributkan itu adalah masalah RUU Pornografi.

Kita simak apa yang dikutip oleh Kompas:

Sebenarnya, menurut Amin, di situlah persoalan bangsa, yaitu dijualnya sumber daya alam kepada asing, bukan lalu banyak hal-hal kecil yang diributkan.

”Saya sudah lama mencari sebab mengapa bangsa ini mundur, ditinggal negara lain, bahkan oleh negara yang lebih muda. Kemudian banyak perdebatan, misalnya tentang RUU Antipornografi dan Pornoaksi, padahal bukan di situ masalahnya,” ujar dia.

Saya memang pernah mendengar sebelumnya bahwa Amin Rais pernah mengatakan hal yang demikian. Tapi saya anggap perkataannya adalah perkataan dari seseorang yang mengalami Post Power Syndrom. Jadi saya menganggapnya biasa-biasa saja dan cuma angin lalu. Nanti juga hilang dengan sendirinya.

Tapi dengan statement-nya pada acara itu, membuat saya berpikir lagi, bahwa Amin Rais memang konsisten dan serius dengan masalah keremehan dari pornografi dan pornoaksi tersebut. Dan ini jelas sungguh mengecewakan sebagian umat yang bekerja keras menyelamatkan bangsa ini dari jurang kehancuran.

Bagaimana tidak, hal itu dikatakan oleh seorang mantan ketua organisasi masyarakat Islam terbesar kedua di Indonesia dan pula yang pernah menjadi ikon perlawanan umat terhadap orde baru.

Dengan pernyataannya itu ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:

Ia jelas menegasikan bahwa pornografi dan pornoaksi sebagai penyebab kehancuran bangsa ini. Dan ia konsisten sejak tahun 1997 bahwa semuanya karena perampasan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tidak ada yang salah jika ia tetap berkomitmen dengan perlawanannya itu namun seharusnya jika ia lebih bijak dan bisa menahan diri, tak perlu untuk membuat perbandingan atau peremehan terhadap tema besar perlawanan dari sebagian umat lainnya pada saat ini.

Pun dengan demikian ini jelas menimbulkan friksi dan prasangka berkepanjangan terhadap komponen umat lainnya yang seharusnya tidak ada. Bagi umat apa yang ia lakukan adalah seperti menggunting dalam lipatan.

Bahkan menurut saya dengan pernyataannya yang menganggap bahwa masalah bangsa ini bukan pada masalah pornografi dan pornoaksi, sebagai suatu penantangan terhadap ayat-ayat Allah yang begitu banyaknya membahas masalah kemunkaran ini. Dan seperti menafikan berbagai musibah yang datang ini karena ulah manusia akibat dari nafsu syahwat yang diumbar begitu saja.

Umat memang perlu disadari bahwa betapa kekayaan alam bangsa Indonesia ini dikuras habis dan hanya menguntungkan asing saja, sehingga dengan demikian timbul kesadaran bahwa umat perlu menjaga kekayaan ini dan menjaganya, mengelolanya untuk kepentingan umat juga.

Namun demikian umat pun tidak ketinggalan pula harus disadarkan bahwa pronografi dan pornoaksi sudah terang-terangan di depan mata dan akan menjadi bom waktu bagi generasi muda. Dan umat tidak menginginkan bahwa generasi ini menjadi generasi tanpa moral yang tidak menghormati nilai-nilai agama.

Sebenarnya dengan data statistik yang dikeluarkan oleh para pendukung RUU APP, menunjukkan bahwa betapa korban-korban dari ketidaktegasan pemerintah dalam memerangi kemaksyiatan itu senyatanya ada dan mengkhawatirkan bagi para aktivis dan pemerhati masalah moral. Karena korbannya kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak.

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya sendi-sendi kemajuan suatu peradaban yang kuat yaitu keluarga akan menjadi lemah dan rusak karena pornografi. Kita tidak menginginkan peradaban materialis ala Amerika Serikat yang ditopang oleh masyarakat yang sakit dan tanpa ikatan keluarga—karena ini pula banyak para ahli memprediksikan bahwa kehancuran Amerika Serikat tidak akan lama lagi.

Hamil di luar nikah, kawin cerai, single parent, anak tanpa ibu dan bapak, anak-anak jalanan, gank-gank hitam, lesbian, homoseks, narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, phedophilia menjadi penyakit masyarakat akut dalam keseharian di negara adidaya itu. Dan ini jelas semuanya adalah hal-hal yang sangat dihindari oleh umat Islam yang menginginkan kejayaannya kembali kepangkuannya.

Hal yang dilupakan oleh Amin Rais bahwa sesungguhnya peradaban suatu bangsa tidak bisa hanya fokus pada satu aspek saja dengan melupakan aspek yang lainnya. Sayyid Sabiq tidak melupakan kekuatan akhlak dan maal (harta) dalam enam prasyarat membangun suatu peradaban. Sehingga tidak bisa satu dengan yang lainnya saling menafikan. Tidak bisa untuk saling dikecilkan. Semuanya harus ada.

Akidah yang bersih, ilmu yang mumpuni, akhlak yang tinggi, ukhuwah yang erat, jama’ah yang kuat, dan maal yang banyak menjadi suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk membangun peradaban, untuk membangun Indonesia. Dengan sinergi dari berbagai komponen umat tentunya.

Sinergi dari Amin Rais yang berkomitmen tinggi untuk pengembalian harta umat kepada umat. Muhammadiyah dan Nahdhatul ’Ulama dengan pengembangan ilmunya. Ma’had-ma’had Ahlussunah Waljama’ah yang mengajarkan akidah yang bersih dari kemusyrikan. Majelis Ulama Indonesia dan Front Pembela Islam masing-masing sebagai penjaga ukhuwah dan moral. AA Gym dengan pesantren Darut Tauhid-nya dalam penggemblengan pejuang Islam ber-akhlakul karimah. Dan masih banyak lagi peran-peran dari ormas atau komponen umat Islam lainnya yang saling mengisi dan bersinergi.

Maka bila ini terwujud, bangsa ini tidak mundur, dan persoalan yang dikhawatirkan Amin Rais akan cepat terselesaikan. Dan tidak akan ada lagi kegundahan seorang Amin Rais yang mengatakan pornografi dan pornoaksi itu cuma masalah kecil. Kegundahan yang malah melukai perjuangan umat.

Semoga.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

cuma resah belaka

22.11 30 Juli 2006

ADA CINTA DI KANTORKU


ADA CINTA DI KANTORKU
(Bedanya Kantor Lama dan Baru)

Hari ini tepat dua minggu sudah saya berada di kantor baru, KPP PMA Empat. Enak juga nih di sini. Beda banget dengan di KPP PMA Tiga. Perbedaannya adalah pertama masalah fasilitas untuk kemudahan kerja AR. Contohnya seperti mesin faksimili yang ada di ruangan saya, sepertinya setiap lantai ada masin tersebut. Telepon yang bisa keluar tanpa melalui operator dan bisa interlokal juga ada.
Pekerjaan sih tidak berubah tapi beban yang semula rada-rada banyak (ini pun karena ada PT Newmont Minahasa Raya) sekarang lumayan berkurang. Atau ini karena saya belum mengetahui detil bagaimana permasalahan di seksi saya. Lihat saja nanti lah… Saya cuma berusaha untuk bisa berbuat yang terbaik buat kantor ini.
Perbedaan yang kedua–ini yang membuat lebih hepi–adalah dekat sekali dengan masjid komplek Kalibata, Masjid Shalahuddin. Jelas ada banyak efek samping yang di dapat. Terutama masalah keikutsertaan sholat berjamaah yang lebih intensif lagi. Soale, speaker masjid benar-benar terdengar keras sekali dengan azannya yang berkumandang setiap waktu sholat tiba.
Yang ketiga, adanya fasilitas tenis meja–olahraga favorit saya selain bola basket–yang disediakan oleh kawan-kawan dari KPP BUMN yang masih satu gedung dengan kantor saya. So, setiap jum’at pagi Insya Allah saya akan bertekad untuk menguruskan badan dengan berolahraga. Kebetulan sekali ada teman-teman BUMN yang mengajak saya untuk ikut serta. Oke, saya niat olahraga lagi.
Yang keempat, berupa pekerjaan perekaman yang tidak lagi dilakukan oleh AR. Dulu, di kantor yang lama, AR melakukan perekaman lalu berkas dikembalikan lagi kepada Seksi Pelayanan melalui Seksi PDI. Tapi di sini, di kantor yang baru, pekerjaan perekaman dilakukan oleh Seksi PDI dan berkas tahun berjalan diarsipkan oleh AR.
Enak juga sih menurut saya. Karena sesungguhnya yang kami butuhkan adalah data-data SPT Masa dari WP-WP yang kita kelola. Dengan sistem yang dilakukan di KPP PMA Tiga menurut saya tidak efektif dalam melaksanakan tugas penting AR yakni melakukan pengawasan. Tapi sistem di KPP PMA Empat baru bisa berjalan efektif kalau semua WP sudah melaporkan SPTnya dengan e-spt. Soalnya kalau belum, yang ketiban enggak enaknya adalah kawan-kawan di Seksi PDI. Rekaman terus.
Lalu selain itu, bedanya lagi adalah di setiap lantai ada tempat rapat, sehingga tidak perlu lagi seperti di KPP PMA Tiga mengangkat-angkat kursi masuk ke ruangan Kepala Seksi ketika ada rapat interen mendadak. Di sana sudah disediakan meja besar dan kursi-kursinya. Menunjang sekali bukan.
Ya itulah kira-kira perbedaan antara kantor saya yang lama dengan yang dulu. Bukan berarti bahwa ini adalah pengungkapan sesuatu yang jelek, tapi memang setiap kantor selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Saya tidak bisa menafikan kelebihan-kelebihan yang saya dapatkan selama saya berkantor di sana selama 8 tahun 7 bulan dan 7 hari.
Kelemahan pun menjadi suatu yang tidak bisa dinafikan pula. Seperti penyedian fasilitas yang menjadi sorotan dari teman-teman AR baru yang sekarang menempati KPP PMA Tiga. Semula mereka yang bergelimang fasilitas memuaskan di kantor yang lama tiba-tiba dikejutkan dengan minimnya fasilitas yang diperoleh. Maka sudah barang tentu muncul suara-suara nyinyir, ketidakpuasan, dan tanpa bentuk yang memang sudah tidak dikumandangkan lagi oleh AR-AR lama pindah–karena sudah patah arang tentunya dengan kondisi yang ada. Itu saja.
Yang tak bisa dilupakan oleh saya adalah di sana ada pengalaman, ada cinta, memori indah, kebersamaan, kemesraan, pertemuan, perpisahan dan lain-lain. Dan untuk hal ini tiada yang dapat saya sampaikan kecuali ucapan terimakasih yang tiada terkira.
Satu hal terakhir, saya perlu bersyukur, kiranya Allah memberikan tempat yang terbaik buat saya. Pun saya berharap semoga Allah senantiasa memudahkan setiap permasalahan yang saya hadapai di kantor baru ini. Insya Allah.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
riza.almanfaluthi at yahoo.com
13:45 28 Juli 2006