ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS


Thursday, June 15, 2006 – ABB: IKON PERLAWANAN HEGEMONI AS

ABB: IKON PERLAWANAN TERHADAP HEGEMONI AS

Kemarin (Rabu, 14/06), Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang setelah menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan potong remisi 4 bulan dalam tuduhan terkait dengan peledakan Bom Bali I dan Bom Marriot.
Tuduhan yang menjadi dakwaan itu pun masih saja disematkan oleh banyak media nasional kepadanya pada saat ini ketika memberitakan pembebasannya. Padahal kalau mereka tidak lupa—atau memang disengaja dilupakan oleh mereka—bahwa dakwaan yang menjadi dakwaan primer yakni terkait dengan peledakan bom bali itu tidak terbukti di persidangan.
Yang membuatnya ditahan adalah karena dakwaan subsidernya yaitu pembuatan Kartu Tanda Penduduk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar Undang-undang Keimigrasian. Dakwaan yang bisa saja menimpa banyak orang di Indonesia karena bukan rahasia umum lagi kalau penduduk Indonesia masih banyak yang memiliki KTP ganda dan tidak melalui prosedur yang sebenarnya.
Jelas sudah bahwa penahanannya adalah benar-benar pesanan dan di bawah tekanan dari negara-negara yang mengaku paling demokrasi, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya terutama Australia sebagai kaki tangan setianya. Walaupun hal ini dibantah dengan keras oleh pemimpin pada dua masa pemerintahan terakhir republik ini.
Tekanan yang pada akhirnya berhasil membuat sebuah detasemen kepolisian antiterorisme dengan nama Detasemen 88—Angka 88 ini diambil dari jumlah korban warga Australia pada saat Bom Bali I. Yang juga bisa dituntut oleh semua pihak dengan pertanyaan: “memang yang menjadi korbannya warga Australia saja?”
Pu ini adalah tekanan yang membuat sebagian mata buta dengan kondisi yang diderita oleh ABB pada saat ia akan ditahan. Walaupun ia masih benar-benar sakit dan dalam perawatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Solo, ia tetap diangkut dengan paksa seperti pesakitan atau hewan buas yang akan membuat kerusakan. Dalam perjalanan ke Jakarta pun ia tidak diperbolehkan untuk buang air kecil. Sungguh ini adalah suatu kezaliman.
Padahal banyak sekali para koruptor di negeri ini hanya bermodalkan secarik surat keterangan dokter atau vonis kesehatan seperti kerusakan otak permanen masih dapat berleha-leha menikmati udara bebas. Dan tidak mendapat perlakuan yang sama dengan apa yang dialami oleh ABB. Lagi-lagi hukum ditegakkan kepada orang-orang yang tidak berduit dan tidak berdaya.
Namun kini pembebasannya disambut dengan gembira, tidak hanya oleh santrinya tapi juga oleh banyak tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan. Kepulangannya dikawal dan disambut oleh ratusan santri di Ngruki, Solo.
Saat tiba di sana ia memberikan tausyiah pertamanya di pesantren AlMukmin. Ia menegaskan kembali bahwa garis perjuangan yang ditempuh oleh Nurdin M Top adalah salah atau keluar dari jalur yang sebenarnya. Yang benar adalah dengan dakwah yakni menyebarkan nilai-nilai Islam yang benar kepada masyarakat. Dan ia tegaskan bahwa inilah yang dibenci oleh Amerika dan musuh-musuh Islam.
Pernyataan yang tegas dan membuktikan dirinya masih sebagai ikon perlawanan terhadap hegemoni AS sebagai negara superpower dan superzalim. Di dalam tubuhnya yang ringkih masih ada api perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh dunia Islam. Dan masih ada semangat membara dalam upaya penegakan syari’at islam di muka bumi Indonesia ini.
Kini ia akan kembali mengajar di pesantrennya. Sebagaimana jawaban atas pertanyaan dari para wartawan saat ditanya apa yang akan ia lakukan setelah pulang dari penjara. Ya, mengajar dan mendidik kader-kader yang terus dan selamanya akan memperjuangkan umat Islam terlepas dari setiap kezaliman yang menimpanya. Dan dalam penegakan syariat Islam yang rahmatan lil’alamin di tanah air ini. Semoga.

*****
Adzan shubuh bergema, saya matikan liputan 6 pagi itu. Ada bening-bening di mata, seperti bening-bening dulu kala saat beliau di tarik dan dibawa paksa dari rumah sakit. Sungguh bencana apa lagi yang akan menimpa negeri ini ketika banyak ulama yang dihina dan dicaci maki. Allohua’lam bishshowab.

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara
saat ada uneg-uneg yang membuncah
07.30 s.d. 08:28
15 Juni 2006

INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”


INI BUKAN JALAN PARA “TERORIS”

Saya rindu menulis. Menulis di Ciblog tentunya. Hampir dua pekan tanpa ide yang menggelayut di benak. Dan tanpa ada tarian jari di atas keyboard. Kali ini, hari ini, saya benar-benar rindu menulis. Menulis apa saja. Menulis di Ciblog tentunya.
Kemarin di kantor, setelah tiga hari lamanya saya kembali cuti untuk pulang ke kampung halaman, teman satu seksi saya yang baru saja memegang Majalah Tempo terbaru setengah berteriak berkata: “Hei, ada Riza di Majalah Tempo!” Sambil menunjuk kaver depan majalah tersebut yang bergambar foto blur seorang muda berkenggot , berbaju putih, tangannya kirinya menyibak baju di bagian dadanya. Di balik pakaian itu ada beberapa benda seperti jam weker, jalinan kabel, dan dinamit.
Tangan kanannya memegang sebuah buku tebal yang ia dekatkan ke dadanya. Ada tulisan besar-besar berwarna kuning kontras dengan background-nya yang berwarna hitam. Judulnya: CATATAN HARIAN SEORANG TERORIS. Lalu di bawahnya ada sebuah nama dari gambaran orang tersebut: Gempur alias Jabir.
Teman saya lalu bilang: “Cuma ada bedanya nih dengan Riza. Kalau di sini lebih kurusan.” Saya penasaran dengan foto itu, dan bergegas menghampiri sang teman untuk melihat dengan jelas kaver majalah itu. Saya memperhatikannya dengan seksama. “Betul sih¸amat mirip dengan saya,” pikir saya. Tapi sungguh saya bukan seorang teroris. 
Selain itu, kemarin juga, saya benar-benar ekstra kerja keras. Saya benar-benar merencanakan dengan detil seluruh kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Dengan mencatatnya dalam buku agenda tentunya. Ada dua puluhan kegiatan. Urusan kantor dan urusan pribadi. Dan setiap satu atau dua kegiatan itu selesai saya melingkari nomornya. Ada kepuasan yang sangat saya rasakan. Ternyata enak loh kalau kita benar-benar merencanakannya terlebih dahulu semua kegiatan yang akan kita lakukan esok hari.

Jadi ingat salah satu ayat dalam Alqur’an:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr, 59:18)

Kemarin juga, dalam sebuah forum diskusi, ada pula yang mengomentari avatar dan signature saya. Katanya: “avatarnya kok bikin merinding, suka perang yah”. Ya, avatar saya adalah penggambaran wajah dari seorang bersurban ala Afghanistan. Bertampang Arab. Dan tentunya dengan janggut lebat yang menjuntai ke bawah. Seram euy… Teman-teman di SJPhone pun sudah menjuluki avatar ini dengan penggambaran diri seorang Osama bin Laden.
Tidak hanya itu, signature saya pun amat lekat dengan dunia peperangan. Untuk yang satu ini adalah foto tiga orang prajurit yang sedang tiarap dengan senjatanya masing-masing di medan Perang Dunia I.
Kalau memang merindingnya hanya karena avatar saya yang mirip-mirip dengan penggambaran sosok-sosok Taliban dan musuh Amerika Serikat (AS), bagi saya ini tidak jadi masalah. Tapi kalau sudah termakan stereotip musuh-musuh Islam maka saya tidak terima. Mengapa seseorang Yahudi dibolehkan menyimpan dan memelihara janggut untuk mengamalkan kepercayaannya, tetapi bila seorang Muslim berbuat demikian, dia dianggap ekstrim, pengganas, fundamentalis, dan teroris. Sungguh, sungguh amat diskriminatif.
Lalu kalau ditanya tentang suka atau tidaknya peperangan. Jelas saya sebagai manusia biasa tidak suka peperangan. Saya orang yang cinta damai bung…Tetapi pula, jikalau Islam sudah memerintahkan untuk memerangi musuh, maka mau tidak mau dan sudah menjadi kewajiban entah fardhu ‘ain atau kifayah untuk maju berperang dan berjihad di jalan Allah.
Jika kita ikhlas maka kematian kita tidak akan pernah ada ruginya. Pahala besar bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah yakni masuk surga tanpa dihisab. Subhanallah. Dan sungguh, sebagaimana semboyan yang selalu digelorakan dalam dakwah ini: Allah tujuan kami. Muhammad teladan kami. Alqur’an petunjuk kami. Jihad jalan kami. Kematian Syahid adalah cita-cita kami. Maka bagaimana saya akan menjadikan kematian syahid itu bukan menjadi cita-cita saya?
Gempur alias Jabir menulis dalam catatan hariannya sebagaimana diungkap oleh Tempo: “Sesungguhnya perjalanan jihad penuh dengan onak dan duri, dibayangi rasa takut, kelaparan, dan hilangnya nyawa…”. Kalaupun benar Jabir menulisnya saya menyetujuinya 100% untuk pernyataan yang ia tulis tersebut.
Tapi ada perbedaan mendasar antara saya dengan Jabir pada jalan jihad yang ditempuh yakni tidaklah seperti yang ia yakini dengan menebarkan ledakan di mana-mana (kalaulah ini benar ia yang melakukannya).
Kali ini jihad saya adalah menebarkan kebaikan kepada semua orang. Agar saya bisa mendapatkan persiapan untuk bekal di akhirat nanti. Bagaimana saya bisa mengembangkan multilevel kebaikan itu dengan mencari downline kebaikan sebanyak mungkin. Itu saja untuk saat ini.
Tapi bila suatu saat jalan jihad melawan thogut besar dan kecil, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan itu sudah terbentang di depan mata dan ada perintah untuk melawannya maka saya harus siap. Tapi ada pertanyaan besar selanjutnya, “apakah saya akan menjadi orang yang dipilih oleh Allah untuk itu?” Jangan-jangan saya malah akan tergantikan dengan umat yang lain karena tidak sanggup dan tidak amanah untuk memikul beban dakwah itu? Allohua’alam. Tapi setidaknya saya selalu punya cita-cita, niat, dan azzam untuk berjihad dan syahid di jalan Allah. Sungguh ini bukan jalan para “teroris” (tuduhan basi dari musuh-musuh Islam).
Insya Allah tekad itu selalu ada di dada karena Allah.
Kiranya saya cukupkan sampai di sini tulisan ini. Kiranya pula kerinduan akan menulis, menulis di Ciblog tentunya, sudah terpuaskan. Pula karena jam setengah sepuluh pagi ini saya harus pergi melakukan kunjungan kepada Wajib Pajak yang akan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Ini jihad pula bukan? Melakukan sebuah tugas Negara?.
Salam ukhuwah dari saya kepada antum semua pecinta kebenaran.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai Satu Kalibata
09:23 13 Juni 2006

IBU KEPALA SEKSI BISA, NENEK-NENEK PUN BISA, MENGAPA SAYA TAK BISA?


IBU KEPALA SEKSI BISA, NENEK-NENEK PUN BISA,
MENGAPA SAYA TAK BISA?

Sakit kepala yang tak tertahankan ini membuatku tidur lebih awal. Lalu terbangun di sepertiga malam terakhir tepatnya pukul setengah empat pagi, dan menyempatkan untuk sholat. Setengah jam kemudian sudah ada di belakang kemudi, memanaskan mobil dan siap-siap berangkat ke kantor.
What the…? Berangkat ke kantor jam empat pagi? Ada apa gerangan dikau? Ya, karena saya masih canggung untuk mengemudi dan dikhawatirkan ada apa-apa dengan mobil tua ini maka saya sempatkan untuk masuk kantor lebih awal.
Sekalian ini merupakan test case untuk menambah jam terbang mengemudi saya yang sudah terbiasa di jalanan komplek namun di jalan raya yang penuh dengan berbagai situasi ini merupakan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya dihantui dengan berbagai kekhawatiran. Tebak apa coba? Betul, kekhawatiran takut menabrak mobil lain, orang, dan anak-anak. Apalagi kalau mogok di tengah jalan, di tengah kemacetan, dan di klakson dari belakang. Tidak bisa memutar. Tidak bisa parkir. Mengerem mendadak. Mengisi bensin di SPBU. Dan masih banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat keberanian saya mengendur. Alhasil enam bulan mobil itu dibiarkan teronggok begitu saja. Ataupun kalau terpakai tentu bukan saya yang mengemudi, tapi orang lain.
Nah, kemarin-kemarin tetangga saya memakai mobil ini. Setelah dipakai ia lalu bilang:”mobilnya enggak mogok kok, bahkan enak malah.” Nah loh, saya yang punya, orang lain yang menikmati dan merasakan enaknya. Dari situlah saya mulai bertekad untuk bisa mengendarai sendiri dan merasakan seberapa enaknya sih mengendarai mobil ini.
Apalagi Ibu Kepala seksi saya sanggup pulang pergi ke kantor atau kemana-mana naik mobil. Bahkan nenek-nenek pun bisa—saat mengendarai motor dan melihat hal ini saya sampai terpesona dan terlongong-longong. Adalagi malah, anak di bawah usia 17 tahun sudah sanggup bawa angkot mengambil trayek Bojonggede-Depok malam hari.
Jadi, mereka saja sanggup berjuang di rimba belantara lalu lintas Jakarta, masak saya tidak bisa. Akhirnya saya memberanikan sendirian berkendara, dan untuk memulainya saya harus berangkat jam empat pagi. Agar saya tidak shock dan punya cukup waktu dan kesempatan untuk absen pagi.
Pukul empat pagi lebih sedikit akhirnya saya sudah berada di jalanan lengang. Saya berniat ke SPBU untuk mengisi bensin dulu berjaga-jaga kalau ada apa-apa. Lima kilometer dilalui SPBU sudah ada di depan saya. Saya belok, parkir di dekat mesin penyalur bensin, Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Saya matikan mobil, dan mengangkat panel rem tangan. Tapi….
Saudara-saudara, ternyata rem tangan saya masih pada tempatnya. Saya lupa menurunkannya saat parkir di depan rumah tadi. Walah…pantesan, mobil ini berat sekali, suaranya pun terdengar “ngeden”. Tidak apa-apa ini pengalaman bagi saya.
Saya grogi dan sedikit panik saat membuka tutup bensin. Mana nih kuncinya…? Maklum baru kali ini saya membeli bensin sendiri. Jadi, tidak familiar mana kunci pasnya. Sang penjaga dengan sabarnya menunggu saya mengutak-atik kunci. Akhirnya ketemu juga.
Beberapa menit kemudian sudah kembali di jalanan, dan sempat di-goblok-in (maaf) supir angkot karena posisi kendaraan saya di tengah-tengah. Padahal saya merasa sudah di pinggir kok. Tidak apa-apa, cool man…, santai. Anggap saja angin lalu.
Kota Depok saya lalui dengan aman. Saya tidak memaksakan diri masuk gigi lima. Bukan Karena tidak berani. Tapi karena sudah saya coba-coba kok tidak masuk-masuk. Ih….takut. Cukup gigi empat saja dah. Di klakson dari belakang oleh truk dengan lampu yang menyorot terang saya minggir ke kiri. Takut juga…
Suara Adzan sudah terdengar jauh sayupnya di belakang. Saya berencana sholat shubuh di Masjid Al-Shofwa Lenteng Agung (ikhwan Salafy pasti tahu keberadaan masjid ini). Dan saudara-saudara, ternyata saya sanggup satu kali belokan saja untuk parkir di sana. Mantap…Saya bersyukur rencana ini dimudahkan oleh Allah dan diberikan kesempatan untuk sholat berjamaah tanpa ketinggalan di masjid itu.
Pukul lima lebih empat menit waktu hape saya, saya kembali mengarungi jalanan sepi Jakarta. Stasiun Tanjung Barat aman saya lalui. Lalu masuk daerah Pasar Minggu. Jelas sudah kemacetan sudah ada di sana karena banyak pedagang yang berjualan di pinggir jalan dan metromini yang ngetem. Sempat mogok dan tidak bisa dinyalakan mesinnya, saya panik. “Wah kejadian lagi penyakitnya nih,”pikir saya. Tenang-tenang. Santai. Jangan panic. Saya matikan semua lampu. Saya buka kunci dan tekan gas. Grungggg…akhirnya bisa lagi.
Dua puluh menit di sana tidak membuat saya gelisah. Waktu absen masih jauh coy… Jalan Raya Pasar Minggu masih sepi. Lalu saya tidak membelok melalui Volvo tapi terus menuju ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dan di pertigaan Duren Tiga, lampu merah sudah berwarna kuning, saya teruskan saja walaupun di ujung sana kendaraan sudah mulai bersiap-siap. Masih sempat juga ternyata.
Dekat komplek kantor, saya terlalu minggir ke kiri, sehingga terdengar bunyi gesekan antara karet ban dengan trotoar. Cuma lecet-lecet dikit.
Pintu gerbang kantor masih tertutup. Saya turun untuk membuka pagar dan palang besinya. Belum ada satu mobil pun ada di halaman parkir yang luas itu. Saya memarkirkan mobil di bagian belakang kantor dekat jalan keluar. Tidak di tengah, karena masih ada ketakutan menabrak mobil lain saat keluar dari tempat parkir.
Saya ambil sepatu dan tas saya. Tidak lupa untuk mengelap mobil dengan kanebo yang telah saya siapkan sebelumnya. Maklum mobil ini mau dilihat oleh teman yang ingin membelinya. Loh…baru dicoba kok sudah mau dijual aja…? Tidak apa-apa toh? Di beli ya syukur, uangnya bisa terpakai untuk yang lain. Tidak terjual ya syukur juga, bisa saya perbaiki lagi kerusakan-kerusakannya.
Sekarang tinggal memikirkan cara pulangnya, nih. Maklum Jakarta sore sangatlah macet. Apalagi kalau hari Jumat. Di tambah ada jalan tanjakan di perlintasan kereta Citayam yang masih menjadi kekhawatiran dan pertanyaan bagi saya, “bisa tidak saya menaklukannya?”. Di tengah ratusan motor dan puluhan angkot yang ngetem sembarangan di sana. Ketakutannya adalah ketidakmampuan saya untuk menyelaraskan kopling dan bukaan gas. Kalau benar-benar terjadi, mobil saya pasti mundur ke belakang dan…. Takut untuk membayangkannya.
Tapi biarlah. Yang akan terjadi nanti, terjadilah. Paling untuk antisipasi saya pulang jam sepuluh malam. Saat jalanan Jakarta sudah mulai lengang.  Namun pelajaran hari ini yang bisa dipetik adalah kekhawatiran dan ketakutan itu adalah cuma besar di angan-angan, pada saatnya ia nihil tiada berbekas. Jadi jangan pernah takut dengan semua itu. Perbanyak doa dan sholawat. Itu saja.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:19 02 Juni 2006

IKHWAN KEGATELAN


IKHWAN KEGATELAN
(radd asysyubuhat)

Tak disangka ihkwan ini punya hubungan dekat dengan seorang penulis cerpen bernama pena Afifah Afra Amatullah. Istrinya mempunyai saudara kandung yang menikah dengan kakaknya penulis ini.
Karena saya telah membaca salah satu kumpulan cerpennya yang sudah dibukukan berjudul Genderuwo Terpasung maka saya pun meminta kepada sang ikhwan untuk memberikan nomor telepon seluler penulis muda itu.
Tapi apa coba sangkaannya kepada saya—walaupun ini diutarakan dengan nada bergurau, “akhi, ente mau cari istri kedua yah?”.
Yah, persangkaan yang salah telak. Dan ini tidak berhenti di situ saja. Ketika kemarin sore saya kembali meminta nomor telepon salah seorang akhwat yang sudah berkecimpung lama di forum diskusi ada pernyataan lagi yang muncul dari teman saya ini.
“Ck…ck…ck…Akhi, di sini sedang ditimpa musibah, ente telepon-teleponan sama akhwat. Nanti saya akan beri tahu nomornya via hape istrimu, yo…” suara jawa medoknya terdengar.
Salah telak yang kedua kalinya. Baru ia mengerti setelah saya beritahu bahwa sang akhwat ini sudah menikah ahad kemarin. So, saya cuma mau mengucapkan selamat dan sebuah doa: Barakallahu laka….
Dari dua kejadian ini saya berpikir kembali dengan semua sangkaannya itu. Memang saya ikhwan kegatelan apa? Sehingga selalu ada tuduhan-tuduhan itu ketika saya menanyakan sesuatu tentang lawan jenis. Apalagi dengan tuduhan meningkatkan status kejantanan seorang pria dengan beristri lebih dari satu.
Bagi yang pertama hanya untuk menyampaikan pujian dan kekaguman saya terhadap tulisannya itu. Saya pikir ini adalah untuk menunaikan salah satu haknya. Itu saja. Dan pada kenyataannya sampai tulisan ini dibuat pun tidak ada satu pesan pendek yang saya kirim. Atau berusaha mencoba dial nomornya. Tidak. Tidak sesekalipun.
Untuk yang kedua, jelas saya tidak bisa datang ke sana. Karena selain saya pun mendapatkan informasinya terlambat, lokasi yang jauh sekali (ini sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan utama), belum bisa memberikan apa-apa sebagai hadiah pernikahan, dan terpenting adalah banyaknya agenda yang harus saya jalani akhir pekan kemarin, maka sudah selayaknya saya cuma bisa memberikan ucapan saja. So what getu loh…
Saya hanya ingin meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna yang sanggup menyentuh sisi-sisi terdalam dan paling sensitif dari seseorang yakni hatinya. Yang sanggup mengingat nama dan mengenal al-akh cuma karena ia menandatangani kartu keanggotaan jama’ahnya. Al-akh itu pun terkejut dan tersentuh hatinya ketika Hasan AlBanna yang baru pertama kali berkunjung ke daerahnya itu sanggup mengenalnya dari ribuan anggota jama’ah lainnya.
Maka hati adalah pintu untuk masuknya hidayah dan cahaya kebenaran. Hati adalah gerbang penentu penerimaan seseorang terhadap dirinya. Hati adalah segumpal buhul dari silaturahim. Maka dengan sentuhan hati dakwah ini menyebar ke segala penjuru mata angin.
Saya sungguh belumlah sanggup meniru apa yang Rasulullah saw sering lakukan dengan memberikan hadiah kepada banyak orang dan menjadikan ini sebagai sunnah buat ummatnya. Atau meniru apa yang dilakukan Hasan AlBanna dengan gampangnya ia mengingat nama orang, yang sebaliknya bagi saya seringkali mudah dilupakan.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan. Dan itu pun tidak hanya untuk makhluk bernama wanita, perempuan, akhwat, gadis, ibu-ibu, nenek-nenek atau apapun sebutan yang biasa engkau sandingkan. Tidak. Karena saya tahu dan engkau tidak tahu apa yang saya lakukan setiap hari.
Maka hanya ini yang bisa saya lakukan dengan menelepon ketika ia telah bertambah umurnya, menjenguk ketika ia sakit atau mendapatkan anugerah berupa sang penerus kehidupan, memberikan hadiah, mengirimkan surat, bersilaturahim tanpa direncanakan dan diberitahukan terlebih dahulu kepadanya. Atau bila ada rezeki berlebih maka menyisihkan sebagian rezeki itu untuknya. Dan masih banyak cara lain untuk menyentuh sensitivitas hati seseorang.
Insya Allah dengan ini, engkau akan menjadi terpercaya dimatanya. Memudahkan engkau menjadi mata air yang akan mengalirkan air kebaikan kepadanya. Engkau akan dikenang bukan untuk dipuji atau dikultuskan, tapi dikenang untuk dicontoh. Contoh dari prototype penuh kebaikan.
Sungguh, keutaman ada pada kebaikan walaupun kecil tapi dilakukan dengan istimroriyah, kontinyu, berkelanjutan. Niscaya unta merah pun engkau akan dapatkan. Insya Allah.
So, kiranya: julukan ikhwan kegatelan semoga tidak ada pada diri saya. Kalau iya, semoga masih ada obatnya di apotik. 🙂

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:35 31 Mei 2006

SALIMAH


Empat hari libur kemarin cukup memuaskan bagi saya. Ada banyak kegiatan yang saya lakukan. Mulai dari merasakan kelezatan pagi yang sejuk hingga membantu kepanitiaan dalam acara peringatan maulid yang diselenggarakan oleh sebuah LSM bernama Salimah (Persaudaraan Salimah) dan mendatangkan pembicara kondang Ustadz Wahfiuddin.
Hari Kamis, nanti dulu saya coba ingat-ingat apa yang telah saya kerjakan pada hari itu. Paginya, cuma santai-santai saja, tidur-tiduran, bercanda dengan anak-anak, baca buku, dan mempersiapkan materi untuk acara nanti malam bersama anak-anak remaja RT.
Sore hari, saya memasang gorden untuk membatasi pandangan dari ruang tamu ke ruang keluarga dan dapur yang ada di bagian belakang. Bor yang saya pinjam dari tetangga sebelah tidak berguna karena ternyata kayu tempat kaitan gordennya ringan dan bisa dilubangi dengan mur biasa. Dengan dibantu saudara kegiatan ini cepat juga selasainya. Sekarang rumah ini ada nuansa barunya dengan tirai lengkung di tengah-tengahnya.
Baru pada malam harinya saya mengisi acara pekanan untuk satu anak kelas enam SD, empat remaja SMP dan SMU, dan dua pemuda lainnya. Seperti biasa saya memulai acara itu dengan membenarkan bacaan AlQur’an mereka, mengecek sholat mereka, memberikan materi hamdalah, dan tanya jawab. Setelah itu tepat pukul 21.00 WIB acara itu selesai.
Hari Jum’at. Sudah dua hari tidak punya semangat menulis. Jadi tidak ada jari-jari lentik (What the…) ini menyentuh tuts-tuts keyboard merangkai kata-kata. Tapi hanya untuk memencet tombol-tombol tertentu dalam permainan game Warcraft III: Frozen Throne. Tidak lama setelah itu, kayaknya saya baca buku deh…Terus apa lagi ya…?
Oh ya, persiapan sholat jum’at, mandi, pakai baju terbaik dan minyak wangi kesturi putih. Setelah itu saya bersama tiga anak kecil pergi ke masjid berkhutbah berbahasa Indonesia di komplek sebelah untuk mendapatkan wejangan yang berharga dan lebih bermutu. Karena biasanya kalau di masjid kampung khothibnya memakai bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Pendek amat bo… cuma lima menit dan saya tidak mengerti lagi.
Siangnya setelah pulang jum’atan, saya pergi ke toko bangunan membeli pernak-pernik untuk kusen baru yang akan dipasang minggu depan untuk menggantikan kusen standar kelas BTN yang mulai rapuh. Tidak lupa saya beli pelitur kelas dua untuk jendela baru.. Kali ini—sori yah—saya mengerjakan sendiri memelitur jendela ini. Masak kerjaan kayak beginian dilimpahkan ke tukang.
Sekitar jam sembilan malam saya pergi ke rumah teman untuk membincangkan kegiatan yang akan diadakan pada hari ahadnya yakni acara Salimah itu. Di sana sudah menunggu banyak teman. Dibicarakan pula tentang agenda kegiatan musim liburan nanti untuk pemuda dan remaja. Acara selesai jam sebelas malam.
Sabtu pagi. Saya punya agenda untuk mengajar kerohanian Islam di SMP Islam Al-Iman. Lalu setelahnya dalam perjalanan perjalanan pulang saya sempatkan mampir dulu ke rumah al-akh untuk bersilaturahim dan menanyakan kabar keluarganya. Tidak lama di sana karena saya harus segera kembali ke rumah. Tetangga saya akan berangkat ke Pekanbaru.
Ya, penempatan barunya menjadi kepala seksi di kantor pajak dengan sistem moderen telah membuatnya berpisah jauh dengan seorang istri dan dua anak-anaknya. Hanya bertahan kurang lebih empat bulan dalam kesendirian, ia memutuskan untuk membawa seluruh anggota keluarganya ke Pekanbaru. Saya dititipi kunci rumahnya yang akan ditempati, dijaga, dan dirawat oleh seorang al-akh yang lain.
Sabtu siang tidak ada kegiatan besar. Terkecuali menonton berita musibah gempa di Jogja dan malamnya saya harus mengangkat karpet-karpet dan tanaman hias untuk acara Salimah ke tempat yang telah ditentukan, yaitu di aula masjid Baiturrohman Komplek Perumahan Departemen Agama, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.
Ahad pagi, ba’da shubuh saya mengeluarkan dan memanaskan mobil butut tahun tua milik saya yang baru terbeli setengah tahun yang lalu. Seperempat jam kemudian saya pergi lagi menjemput barang-barang di banyak rumah yang belum sempat terambil pada malam sebelumnya. Ada kipas angin, banyak karpet lagi, dan tambahan tanaman-tanaman hias lainnya.
Karena saya tidak mendapatkan izin dari boss untuk standby di acara Salimah itu,
maka pada pukul setengah delapan pagi saya pergi menghadiri acara wajib saya yakni pertemuan pekanan. Permintaan izin ini karena di dalam SMS saya ada kalimat pertanyaan: bolehkah saya tidak hadir? Kalau tidak ada kalimat ini maka ini bukan minta izin tapi cuma pemberitahuan saja. Ini adab yang benar untuk meminta izin. Tapi kebanyakan tidak dipakai karena biasanya izin itu seringkali ditolak kecuali untuk yang syar’i sekali seperti orang tua sakit.
Pertemuan pekanan berakhir pada jam setengah sebelas siang. Banyak yang didapat di sini. Seperti mendengarkan taujih dari Ustadz Ihsan Tanjung melalui vcd tentang Bahaya Zionisme Internasional, taklimat-taklimat, oleh-oleh Musda DPD Bogor kemarin, pengumpulan infaq untuk Bantul dan Palestina.
Saya langsung pergi menuju lokasi acara Salimah. Menyempatkan diri untuk melihat slide yang ditampilkan oleh ustadz Wahfiuddin. Ada informasi baru yang saya peroleh darinya. Dan dirasakan juga tentunya oleh ibu-ibu peserta pertemuan ini. Yakni salah satunya adalah masalah peniupan roh pada janin.
Selama ini berdasarkan pandangan ulama-ulama pesantren dari kitab kuning abad ke-13 masehi bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 120 hari. Ternyata berdasarkan kajian Alqur’an dan hadits serta penelitian moderen diketahui bahwa janin ditiupkan rohnya pada usia 40 hari. Nah loh, kok beda.
Menurut beliau tidak ada yang salah dala Alquran dan alhadits. Yang salah adalah penafsirannya. Karena ulama zaman dahulu tidak didukung dengan metode, alat, dan teknologi yang canggih seeprti sekarang ini.
Beliau menegaskan masalah ini penting karena berkaitan dengan masalah aborsi. Bila memakai patokan yang salah kaprah itu maka berarti ini telah membuang janin yang telah mempunyai ruh. Ini sama saja dengan pembunuhan. Dan pada dasarnya aborsi ini adalah haram hukumnya terkecuali dengan keadaan-keadaan khusus atau uzur syar’i. Seperti adanya penyakit dan kondisi yang akan membahayakan jiwa sang ibu.
Azan dhuhur berkumandang. Acara pun selesai. Saatnya saya bekerja lagi. Mengangkut-angkut barang perlengkapan kembali ke tempat semula. Mondar-mandir dengan mobil carry ini membuat jam terbang mengendarai mobil saya bertambah. Maklum saja, saya sama sekali belumlah lancar untuk mengendarai kendaraan roda empat. Alhamdulillah, tidak ada insiden yang selalu menjadi bayang-bayang ketakutan saya untuk belajar nyetir. Bahkan saya bisa menuruni turunan curam di mana saya pernah terperosok dalam got di Bulan Desember kemarin.
Setelah itu saya istirahat. Tidur-tidur siang. Sampai malam menjelang tidak ada agenda besar. Sejak itu pun tidak ada upaya untuk menulis tentang apa saja. Saya benar-benar istirahat menulis rupanya di liburan panjang ini. Walaupun di senin sebelum fajar ini saya terbangun dengan badan pegal-pegal tapi hati rasanya puas sekali. Liburan panjang ini terasa enak saja dilewati. Entah kenapa. Rezeki dan keberkahan Allah memang tidak hanya dalam bentuk lembaran rupiah saja ternyata. Tapi kepuasan hati, jasmani sehat itu pun menjadi rejeki yang tak ternilai harganya oleh manusia.
Kalau demikian, sudah sepantasnya saya yang telah diberikan nikmat tak terhitung banyaknya oleh Allah untuk senantiasa bersyukur. Bukan begitu…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:15 29 Mei 2006

Tips Hentikan Cegukan


Tips Hentikan Cegukan

Kemarin pagi saya mendapatkan sesuatu yang jarang sekali saya rasakan. Sesuatu itu adalah bernama cegukan. Ya, sehabis mandi pagi, tiba-tiba keluar dari mulut ini suara keras dan beritme: ceguk…ceguk….ceguk…
Walhasil sepanjang perjalanan berangkat ke kantor itu, badan saya naik turun mengikuti iramanya. Kebiasaan baru saya berupa murojaah hafalan pun terganggu. Bagaimana mau mengulang hafalan kalau suara kita selalu ditingkahi dengan bunyi: ceguk…ceguk…ceguk…
Sesampainya di kantor saya minum banyak-banyak, Alhamdulillah beberapa saat kemudian cegukan saya ini sudah hilang.
Tapi kemudian ketika hari sudah beranjak siang, setelah saya memakan sepotong roti dan bubur kacang ijo yang sudah tersedia di meja, tiba-tiba cegukan itu hinggap lagi. Minum air banyak-banyak dengan menutup hidung pun tidak sanggup memulihkan kerongkongan saya ini.
Karena cara itu tidak mempan lagi saya membiarkannya hingga kemudian terdengar suara adzan. Bergegas saya pergi ke masjid. Saya tidak lagi menghiraukan cegukan ini karena asyiknya mengobrol dengan teman-teman di sepanjang perjalanan menuju tempat sholat.
Nah, yang sangat mengganggu adalah pada saat sholat berjamaah, ternyata cegukan itu semakin menjadi dan terdengar lebih keras lagi. Maklum bukan, yang lain sedang khusu’ dan ruangan masjid sedang hening, tiba-tiba ada suara ceguk…ceguk…ceguk…Saya benar-benar malu sekali. Apalagi tangan saya yang sedang bersedekap, berulang kali terlihat terangkat seiring naiknya dada saya karena cegukan itu. Saya berusaha menahan nafas dan mengatur nafas sebaik-baiknya. Tapi ya tetap saja. tidak berhasil. So, di sepanjang sholat itu, cegukan ini sudah tidak terhitung berapa kali terdengar.
Di saat saya mengangkat tangan untuk berdoa, cegukan lebih keras terdengar lagi. Sampai-sampai ada jamaah masjid yang menolehkan kepalanya ke belakang untuk mencari tahu siapa yang mengeluarkan suara seperti itu. Malu saya…..
Segera saya mengakhiri doa yang di dalamnya ada doa pendek yang saya hafal betul:
Allohumma ‘afini fi badani, Allohumma ‘afini fi sam’i, Allohumma ‘afini fi bashori, Laa ilaaha Illa Anta.
Setelah sholat saya tidak langsung kembali ke kantor. Saya mengunjungi beberapa teman lama di kantor-kantor lain. Membicarakan banyak hal dan sekalian bersilaturahim. Tahu-tahu satu jam tidak terasa keberadaan saya bersama mereka. Dan paling mengejutkan adalah cegukan yang sangat menggangu saya ini tiba-tiba hilang begitu saja. Entah saya tidak tahu kapan hilangnya. Apakah di saat saya berbicara dengan si A atau si B, atau si C. Tapi saya tetap bersyukur Allah telah mengabulkan doa saya.
Nah, pagi ini di saat saya baru tiba di kantor dan membuka inbox email. Saya mendapatkan surat elektronik dari salah satu sahabat baik saya: Kang Awe. Email itu kiranya sangat bermanfaat sekali, karena di sana ada tips untuk menghentikan cegukan. “Wah, Kang Awe peduli juga,”pikir saya.
Oleh karena cegukan itu tidak hanya menimpa pada anak-anak yang sedang tumbuh maka saya menganggap tips ini layak untuk disebarkan kepada Anda sekalian. Selamat menikmati dan semoga Anda tidak mengalami kejadian seperti yang dialami saya di atas. 

Tips Hentikan Cegukan
Yulia Dian – detikHot

Jakarta, Dalam acara makan malam penting Anda mengalami cegukan? Segera ambil tindakan pertama dengan tips sederhana ini! Cegukan hilang, acara makan pun kembali nyaman.

Dari mana sebenarnya cegukan itu bisa muncul. Biasanya cegukan terjadi ketika seseorang baru selesai makan. Ini akibat diafragma di kerongkongan yang berkedut tanpa dikehendaki.

Acara makan Anda pastinya akan terganggu dengan cegukan bukan! Di tengah perjamuan besar, bersama calon mertua atau untuk urusan bisnis. Wah bisa kacau nih!

1. Tahan nafas Anda selama 15 detik. Setelah itu lepaskan secara perlahan. Ini bisa mujarab untuk mengobati cegukan.

2. Jika cegukan belum juga mereda, minum 10 teguk air putih pelan-pelan. Lakukan sambil menahan nafas. Ini ditujukan untuk menetralisasi diafragma di kerongkongan Anda.

3. Cara ketiga Anda bisa menggunakan kantung kertas dan bernafas dengan itu. Jika tak juga berhasil sebaiknya Anda bersabar. Cegukan jangan dirasa-rasa. Tanpa Anda sadari cegukan akan hilang begitu saja. Intinya jangan panik dulu ya 🙂 (yla)

RIZA ALMAN

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:59 24 Mei 2006

Cuma Kisah Sederhana 5: Saya yang akan Menanggung Semua


Musala Al Barkah, persis di sebelah utara empang kampus STAN, menjadi tempat yang tidak bisa dilupakan oleh saya hingga saat ini. Musala yang kini telah berubah menjadi masjid itu memang persis di samping tempat indekos saya selama tiga tahun menuntut ilmu di STAN. Lima kali dalam sehari azan yang diperdengarkan memenuhi ruang keseharian saya di sana.

Tempatnya yang strategis karena dekat pintu alternatif keluar masuk kampus dan di tengah-tengah kos-kosan para mahasiswa membuatnya tidak pernah sepi dari jemaah lima waktu salat itu. Bahkan sampai harus meluber ke bangunan tambahan yang didirikan di pelataran depannya bila tiba waktunya salat.

Pernah dalam suatu periode kepengurusan remaja musala, saya ditunjuk dan diberi amanah untuk memimpin organisasi kecil ini. Mulai dari memikirkan dan mengatur strategi pengumpulan infak demi terselenggaranya kegiatan kajian keislaman yang diisi oleh ustaz-ustaz ma’had, membuat majalah dinding, melengkapi isi perpustakaan dan mengatur sistem peminjamannya, sampai kepada terselenggaranya pengajaran baca tulis Al-Qur’an untuk anak-anak dan remaja.

Setelah salat Magrib, aktivitas di musala sangatlah ramai. Beberapa mahasiswa yang tempat indekosnya tidak jauh dari musala meluangkan waktu dari kesibukan dan ketatnya sistem perkuliahan untuk mengajar baca tulis Al-Qur’an (Taman Pendidikan Al-Qur’an/TPA).  Tentunya tidak hanya itu, nilai-nilai Islam dan sirah diajarkan pula kepada anak-anak dan remaja itu agar senantiasa ada akhlak indah, wawasan yang bertambah, dan kukuhnya benteng akidah di era modern sekarang ini. Itulah harapan kami dari pengajar dan pengurus terhadap mereka.

Salah satu pengajar itu—sebut saja Abdullah—adalah tetangga kos, teman satu angkatan di kampus, dan teman akrab saya. Kesabaran dan kedekatannya pada anak-anak membuatnya cukup dikenal di kalangan mahasiswa lain. Dan dengan bermodalkan itu saya memercayainya untuk mengambil amanah sebagai ketua bidang pengajaran TPA . Akhirnya dengan dibantu oleh teman-teman yang lain, ia sanggup untuk memegang amanah itu.

Beberapa bulan kemudian ada usulan dari anak-anak TPA untuk mengadakan piknik bersama. Usulan itu pun disampaikan kepada saya oleh Abdullah. Saya cukup menghargai usulan tersebut. Dan saya pikir ini adalah suatu hal yang pantas bagi anak-anak untuk dapat menghilangkan kejenuhan belajar. Sekaligus untuk dapat merekatkan ukhuwah di antara mereka dan nanti pada akhirnya dapat membangkitkan semangat belajar lagi.

Bersama saya, akh Abdullah dan beberapa teman yang lain merumuskan rencana piknik persama itu. Mulai dari kepanitiaan, tempat yang dituju, waktu penyelenggaraannya, hingga dana yang dibutuhkan.

Semua telah selesai direncanakan, kecuali faktor klise yakni ketidaktersediaan dana. Apalagi kami membutuhkan bus besar sebagai sarana transportasi menuju lokasi karena ada banyak peserta yang akan ikut serta. Tentunya ini membutuhkan biaya yang lebih besar lagi.

Untuk itu saya ditugaskan dalam rapat terebut untuk mengecek seberapa besar biaya yang diperlukan untuk menyewa bus. Esoknya saya pergi ke daerah Blok M—tempat di mana kantor bus pariwisata terkenal itu berada.

Saya terkejut mendengar harga sewanya. Jumlah sebesar 350 ribu rupiah hanya untuk pemakaian sehari saja adalah jumlah yang besar sekali di tahun 1996. Saya pun kembali ke kampus dengan membawa beban berat. Akan didapat darimana lagi uang untuk menutupi ongkos transportasi ini.

Untuk meminta kepada peserta jelas tidak mungkin. Karena jelas kalau akan dipungut biaya mereka tidak akan berangkat. Untuk meminta patungan lagi kepada para panitia terasa segan karena mereka telah banyak mengeluarkan uang untuk membiayai terselenggaranya acara ini. Meminta infak kepada para mahasiswa sekitar…? Wah, bisa diusahakan, tetapi berat dan lama uey… Kepada pengurus musala? Jelas tidak mungkin, ada banyak kebutuhan yang harus ditunaikan seperti melanjutkan penambahan teras depan. So

Akhirnya di rapat selanjutnya, saya meminta kepada teman-teman berusaha mencari dana untuk menutupi sisanya. Padahal waktu yang telah dijanjikan kepada para peserta telah mepet dan kami harus segera memesan bus tersebut sepekan sebelumnya. Setelah itu saya cuma bisa berharap kepada Allah agar Ia selalu memudahkan langkah-langkah kami.
Tidak berapa lama, Akh Abdullah mendatangi saya untuk menanyakan perkembangan masalah ini. Saya hanya menggeleng saja. Yang mengejutkan adalah reaksi dari akh Abdullah ini.

“Kalau memang demikian, biar saya saja yang akan menanggung semua ongkos sewa bus ini,” katanya mantap.

“Akhi, benar nih…?” setengah tidak percaya.

“Insya Allah, sekarang tinggal mematangkan acara kita,” ujarnya meyakinkan.


Subhanallah… Allah telah memberikan kepada kami seorang al-akh yang berguna di saat–saat kami membutuhkan pertolongan. Padahal kami tahu, beliau tidaklah kaya-kaya amat, sama keadaannya seperti mahasiswa lainnya, bahkan terlalu sederhana malah. Namun jiwa sosialnya itulah yang mengesankan saya. Dan saya melihat tidak kali itu saja ia berbuat demikian.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah kami ke Kebun Binatang Ragunan. Terlihat begitu gembiranya anak-anak melakukan rihlah ini. Sepanjang perjalanan, nasyid penyemangat pun didendangkan entah dari tape bus ataupun dari mulut-mulut kecil mereka.

Selain jalan-jalan melihat beraneka ragam hewan, di sana kami juga mengadakan berbagai macam permainan yang menarik sampai menjelang Ashar. Lalu setelah itu kami bersiap-siap pulang.

Di tengah perjalanan pulang itulah saya bersyukur kepada Allah karena telah diberikan kelancaran pada jalannya acara. Bersyukur pula saya mempunyai teman baik seperti al-akh Abdullah ini. Yang mampu berinfak di kala senggang ataupun sulit. Yang begitu supel dan luar biasa perhatiannya terhadap anak-anak.

Sepuluh tahun berlalu kebaikan yang dilakukannya masih saja teringat oleh saya. Dan saya berharap untuk tidak pernah melupakan kebaikannya itu. Sungguh saya malu pada diri saya sendiri yang belum mampu melaksanakan banyak amal nyata seperti dia. Sungguh dari satu bibit kesederhanaan akan tumbuh sejuta pohon kebaikan. Saya bertekad untuk mencontoh dan meneladani ini. Insya Allah.

***

Untuk Akh Suprayitno di Lombok, Saya tak akan pernah melupakan kebaikan Anda. Semoga Allah membalas dengan balasan yang lebih baik. Tetap di jalan ini.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
sekadar ingatan belaka dari memori lapuk
15:05 16 Mei 2006

AKU BUKANLAH JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB


AKU BUKANLAH JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB

Buku kecil itu terjejer rapih di alas yang digelar oleh pedagang di trotoar seberang jalan Kedutaan Besar (kedubes) Amerika Serikat (AS). Beberapa saat kemudian buku seharga lima ribu perak kini telah berpindah tangan. Dan siap untuk saya baca. Sempat kulirik beberapa aparat kepolisian mengambil buku itu. Entah mereka cuma melihat-lihat saja atau membelinya karena segera kutinggalkan tempat itu untuk mencari posisi yang strategis menanti kedatangan rombongan besar pendemo yang sedang bergerak dari Bunderan Hotel Indonesia menuju kedubes.
Hari itu massa dari Partai Keadilan Sejahtera mengadakan demo besar-besaran sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan bangsa Palestina menghadapi aksi boikot Amerika Serikat dan sekutunya yang menyetop bantuan dananya. Slogan yang dikumandangkan Organisasi Konferensi Islam One Man One Dollar, To Save Palestina menjadi tema sentral dalam kegiatan akbar ini.
Kali ini, saya bersama rombongan kecil dari Bogor, menyempatkan diri untuk berpartisipasi sebagai wujud kecil dari ukhuwah lintas bangsa dan negara. Karena terlambat berangkat, kami putuskan untuk langsung menuju kedubes AS. Dari informasi yang diperoleh tempat itu menjadi titik terakhir dari aksi ini.
Belumlah begitu ramai ketika kami sampai di sana. Namun banyak aparat kepolisian yang sudah berjaga-jaga di sekitar kedubes. Dan sudah dipastikan banyak pula pedagang yang menggelar beraneka ragam macam barang dagangan. Mulai dari sekadar minuman penghilang haus dan dahaga hingga pernak-pernik, aksesoris, jilbab, dan pakaian.
Sembari menunggu itulah saya menyempatkan diri untuk melihat-lihat keramaian kecil di sekitar. Sampai akhirnya saya menemukan buku kecil itu, lalu menjadi barang kedua yang saya beli setelah sebuah kaset muhasabah jadul berjudul Rihlatulillah.
Buku saku berkaver hitam ini berjudul Manhaj Harakah & Dakwah Menurut Sayyid Quthb. Judul dalam bahasa aslinya adalah Manhaj Sayyid Quthb Fid Da’wah. Ditulis oleh Jamaluddin Syabib—ia memperoleh gelar tertinggi dengan nilai Cum Laude pada perguruan Tinggi Dakwah Islamiyyah Madinnah Al Munawarrah Saudi Arabia. Dan diterjemahkan oleh Aminudin Khozin, alumni Pondok Moderen Gontor, Ponorogo dan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Buku yang pertama kali diterbitkan oleh Pilar Press di tahun 2001 ini menarik perhatian saya karena di dalamnya dijelaskan apa dan bagaimana manhaj dakwah Islam menurut Sayyid Quthb, dasar-dasar, keutamaan, pilar-pilar, dan dampak-dampak manhajnya baik dalam pergumulan pemikiran keislaman dan dalam dunia dakwah islamiyyah. Pelan-pelan saya baca buku itu dan berusaha untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh Sayyid Quthb dengan manhaj dakwahnya itu.
Baru pertama kali saya memiliki buku yang benar-benar dari awal sampai akhir memuat buah pikirannya. Di rumah tidak ada satu pun buku yang saya miliki membahas tentang Sayyid Quthb. Kalaupun ada itu pun hanya memuat sebagian kecil tentang pemikirannya, biografinya, dan kisah-kisah di penjara yang dialaminya.
Hatta buku sekaliber Ma’alim fith-thariq dan sefenomenal Fii Dzilaalil-Qur’an yang ditulis oleh Sayyid Quthb—keduanya bisa dikatakan sebagai buku referensi utama bagi para aktivis pergerakan—sampai detik ini pun belum saya punyai.
Walaupun ada keinginan kuat untuk membelinya pada saat terjemahan Fii Dzilaalil-Qur’an ini pertama kali muncul, namun tidak sampai menggerakkan hati saya untuk membeli dan memilikinya. Bahkan di saat Wakil Presiden Republik ini pernah memerintahkan aparatnya untuk meneliti buku-buku yang ditulis oleh Sayyid Quthb—karena menurut dia menjadi pemicu pemikiran radikal para pengebom Bali dan Kedubes Australia—tidak membuat saya tergugah untuk mendalami lebih lanjut apa yang disebarkan oleh Sayyid Quthb melalui buah pemikirannya itu.
Yang saya kenal darinya pun sebatas riwayat hidupnya belaka. Sebagai seorang pemikir kedua setelah Hasan AlBanna pada jama’ah pergerakan terbesar di Mesir yakni Ikhwanul Muslimin. Sebagai seorang yang dituduh membuat makar oleh Jamal Abdun Nashir—seorang yang diterima oleh Ikhwanul Muslimin sebagai bagian dari jama’ah kemudian membelot hingga sampai pada tindakan menawan, menyiksa, membantai, dan menggantung para anggota jama’ah ini.
Sayyid Quthb yang saya tahu pun hanya sekadar sesosok ringkih yang dibawa ke tiang gantungan sebelum terbit fajar hari Senin, 29 Agustus 1966. Namun walaupun jasadnya telah menjadi tanah namun pemikirannya tetap hidup hingga kini dan menyebar ke belahan dunia lain. Membuatnya sebagai ikon penentangan terhadap ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan penindasan. Dan bersamaan dengan itu pula dijadikan sansak caci maki pada dirinya dari segolongan lain yang dialamatkan juga kepada jama’ah yang membesarkannya.
Saya anggap hal itu sebagai suatu kewajaran. Hatta seorang Nabi Besar Muhammad saw sebagai penghulu dari umat ini pun tidak lepas dari orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh kasih sayang dan orang-orang yang menghinanya sewaktu ia masih hidup hingga 14 abad kemudian setelah kematiannya—yang terbaru adalah karikatur penghinaan dirinya yang dimuat oleh media Denmark. Jadi biasa sajalah.
Sampai suatu hari saya menemukan sebuah situs di internet, yang secara detail membahas tentang bagaimana supaya ummat ini kembali kepada aqidah yang lurus sesuai dengan pemahaman ahlussunah wal jama’ah. Tapi dalam situs tersebut juga terdapat banyak perkataan caci maki dan membid’ahkan pada banyak nama. Bahkan yang mencolok—karena diletakkan di halaman depan—mereka membuat sebuah artikel yang khusus memuat kesalahan-kesalahan dari Sayyid Quthb. “Apa pula ini?” pertanyaan itu menggantung sampai akhirnya saya menyelesaikan bacaan itu.
Saya merenung, dan saya baru teringat bahwa saya mempunyai sebuah buku yang membahas tentang hal ini. Buku yang ditulis oleh Jasim Muhalhil dan saya beli di tahun 1997 ini berjudul Ikhwanul Muslimin, Deskripsi, Jawaban, Tuduhan, dan Harapan. Memberikan penjelasan detil terhadap tuduhan-tuduhan yang ditudingkan kepada Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan khususnya kepada Sayyid Quthb.
Buku lain dengan tema yang hampir sama pun telah saya punyai di tahun 2003. Kali ini ditulis oleh penulis lokal bernama Farid Nu’man. Buku ini berjudul Al Ikhwanul Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi: Sebuah koreksi Bijak dan Tuntas atas Tuduhan, Fitnah, dan Celaan tak Pantas Terhadap Manhaj dan Tokoh-tokohnya.
Setelah saya baca dua buku tersebut, semua itu ternyata tuduhan-tuduhan lawas dan bukan sesuatu yang baru. Yang memang sudah berkembang sejak dulu dan tidak bermulai dari sini. Mulai tuduhan ia dianggap sebagai seorang Mu’tazilah, Wihdatul Wujud, Asy’ariyyah, mengafirkan kaum muslimin, mencela Mu’awiyyah. ‘Amr bin ‘Ash, dan ‘Utsman bin ‘Affan, serta masih banyak lagi tuduhan yang lainnya.
Walaupun tidak membacanya dengan pelan-pelan dan teliti, saya merasakan cukup dengan segala jawaban yang diberikan dalam kedua buku itu. Tapi sudah membuat kepenasaran saya terobati. Sampai akhirnya…
Pada suatu hari saya bergabung dan terlibat dalam suatu forum diskusi di sebuah situs intranet di kantor kami yang tersebar di pelosok negeri ini. Dan saya terkejut. Baru kali inilah dalam seumur hidup saya, saya menemukan sebuah komunitas yang menjadi penyalur dan corong suara dari situs internet yang telah saya jelaskan di awal—karena sebelumnya dalam kehidupan kampus dan keseharian saya di masyarakat tidak pernah menjumpai dan bergaul secara langsung dengan mereka.
Keterkejutan saya adalah dengan kegarangan mereka dalam tuduhan, hinaan, dan celaan yang dilontarkan kepada siapa saja yang tidak sepaham dan tidak sependapat dengan pandangan mereka dan para masyaikh mereka dalam keberislaman. Apalagi pandangan mereka terhadap jama’ah pergerakan, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Yusuf Qaradhawy. Bisa dikatakan setiap hari tidak ada yang terlewatkan dengan caci maki terhadapnya.
Tentunya saya sebagai newbie (pendatang baru) dalam forum tersebut dan melihat terlalu berlebihannya mereka saya merasa terpanggil untuk membalas setiap tuduhan dan celaan itu. Akhirnya saya pun terlibat dalam pertarungan argumen dengan mereka.
Berhari-hari saya ikut serta dalam perdebatan itu. Hingga saya menemukan kesadaran adanya kesia-siaan, kekerasan hati, berhentinya amal, jumud dalam tsaqofah, pengenalan lebih dalam dan pemahaman terhadap karakter mereka. Bahkan bisa dikatakan lengkap. Runut sedari awal mereka eksis bermula di gurun Nejd.
Setelah itu saya cukup diam. Berusaha meredam hawa nafsu dalam setiap perkataan. Karena terhadap mereka tetaplah ada hak-hak yang wajib ditunaikan oleh saya sebagai saudara dalam aqidah yang kokoh ini.
Bahkan dengan diamnya saya ini, membuat tekad saya bertambah untuk membeli buku Ma’alim Fith-Thoriq atau pun Fii Dzilaalil-Qur’an. Dan memberikan sebuah kesempatan emas kepada saya membaca lebih teliti dan mempelajari lebih lanjut tokoh Ikhwanul Muslimin yang paling dibenci oleh mereka, Sayyid Quthb.
Biografinya saya baca kembali pelan-pelan di suatu malam. Perjalanan hidupnya yang ditulis dalam buku: Mereka yang Telah Pergi (ditulis oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil) menurut saya belumlah memuaskan rasa keingintahuan saya terhadap dirinya. Namun mampu membuat mata dan hati ini berbening kaca dan mengharu biru. Apalagi di sana ada visualisasi dirinya dengan didampingi dua pengawal menuju tiang gantungan. Saya berhenti cukup lama di halaman tersebut, merenungi detik-detik mendebarkan yang akan memisahkan dunia yang telah membuatnya terzalimi dengan pertemuannya kepada Sang Pemilik Jiwanya.
Ada ketegaran dan kemuliaan diri dalam tubuh tua dan kurusnya. Tali gantungan pun dengan Izin Allah tak mampu membelenggu dan mengubur pemikirannya bersama jasadnya di dalam tanah sedalam-dalamnya. Bahkan akhlak dan izzah-nya di tiang gantungan itu mampu menjadi jalan turunnya hidayah Allah bagi dua algojo yang mengeksekusinya. Subhanallah…Semoga engkau menjadi syahid, ya akhi…
Sebuah syair yang dibuatnya di balik jeruji penjara berjudul akhi menggema di dunia Arab hingga penyair Arab ternama dari Yordania dan Irak membuat syair balasannya. Begitu pula malam itu, setelah membacanya saya pun membuat syair sebagai balasannya:
Memoar Agustus 1966
Saudaraku,
pada baju penjara dan kopiah putih lusuh
yang kau pakai pada hari itu
pada tubuh kurus
yang menopang seonggok jiwa lurusmu
pada setiap langkah tegar
yang kau gerakkan dari kakimu
menuju tiang gantungan
di apit dua algojo
dengan tali besar menghias di leher
lalu jenak batas memisahkan
sungguh
ada jejak tertinggal bagi dunia
bagi manusia
untuk bernaung di bawah KalamNya.
***

Tapi saya menyadari sesungguhnya ia adalah manusia biasa, tak luput dari kelalaian dan kesalahan. Dan sebagaimana kaidah yang berlaku umum orang baik adalah orang yg kebaikannya jauh lebih banyak dari kesalahannya. Sungguh ia adalah orang yang baik. Tak pantaslah ia dicaci maki dan di hina dengan serendah-rendahnya dan sejelek-jeleknya julukan.
Cukuplah saya mengambil apa yang dikutip oleh Al-Mustasyar Abdullah Al-Aqil dari Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab: “ Kita tidak mengatakan Sayyid Quthb orang maksum. Begitu juga ulama dan da’i lain. Setiap orang perkataannya boleh diambil atau ditolak kecuali Nabi saw yang maksum. Kita tidak mengultuskan Asy-Syahid Sayyid Quthb, tapi semata-mata memuliakan dan memenuhi hak-haknya. Kita tidak boleh mendiskreditkan dan menghujatnya. Alangkah celakanya umat yang tidak tahu hak-hak ulama yang berjuang dan syuhada yang telah berjihad. Allah berfirman tentang mereka, “dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (Muhammad:4)”.
Atau seperti yang dikatakan oleh Jasim Muhalhil: “Selain itu kami ingin menegaskan kepada kaum jufat (penghujat) bahwa serendah-rendah apapun Anda mencela Sayyid dan karya-karyanya, semua itu tidak akan mengubah kedudukan beliau yang telah terlanjur istimewa di dada mayoritas umat. Tidak akan ada yang mengingkari beliau kecuali orang-orang yang buta mata hatinya.”
Lebih lanjut ia mengatakan: “Adapun bagi kaum ghullat (pemuja) Sayyid, setinggi apapun Anda menyanjung-nyanjung Sayyid bahkan hingga ke langit tujuh tidaklah mengubah kedudukan Anda dan tidak pula membuat orang lupa terhadap kekeliruan Asy-Syahid Sayyid Quthb seperti apa yang telah diteliti para muhaqqiq. Itulah manhaj yang seimbang dalam menilai kekeliruan dan kebaikan manusia, yaitu manhaj wasathiyah (pertengahan). Semoga Allah Swt mengampuni dosa Sayyid Quthb dan memberikan petunjuk bagi kita yang hidup untuk selalu berada dalam jalan yang haq dan ridha-Nya.”
***
Belumlah sampai setengah saya membaca buku kecil itu, tiba-tiba terdengar suara dan derap dari kejauhan. Rupanya rombongan besar pendemo itu mulai mendekat. Hati saya tergetar mendengar takbir dikumandangkan, melihat panji-panji berkibar dan barisan coklat rapi dan gagah dari para kepanduan yang berada di depan. Hal sama dirasakan oleh seorang polisi yang sedang berbicara melalui handy talky dengan temannya di ujung: “Saya merinding melihat ini.”
Mereka semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Saya pun lalu berteriak: Allohuakbar!!! One Man One Dollar, To Save Palestina…!

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:49 15 Mei 2006

MEMOAR AGUSTUS 1966


Wednesday, May 10, 2006 – MEMOAR AGUSTUS 1966

Memoar Agustus 1966

Saudaraku,
pada baju penjara dan kopiah putih lusuh
yang kau pakai pada hari itu
pada tubuh kurus
yang menopang seonggok jiwa lurusmu
pada setiap langkah tegar
yang kau gerakkan dari kakimu
menuju tiang gantungan
di apit dua algojo
dengan tali besar menghias di leher
lalu jenak batas memisahkan
sungguh
ada jejak tertinggal bagi dunia
bagi manusia
untuk bernaung di bawah KalamNya.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
20:19 09 Mei 2006

***
Syair di atas adalah balasan sebuah puisi di bawah ini yang ditulis seorang al-akh. Pula sekadar memuliakan dan memenuhi hak-hak seorang ulama yang berjuang dan syuhada yang telah berjihad.

Akhi

Saudaraku engkau merdeka, meski berada di balik jeruji penjara
Saudaraku, engkau merdeka meski diborgol dan dibelenggu
Bila engkau pada Allah berpegang teguh
Maka tipu daya musuh tidak membahayakanmu
Wahai saudaraku, pasukan kegelapan akan binasa
Dan fajar baru akan menyingsing di alam semesta
Lepaskan kerinduan jiwamu
Engkau akan melihat fajar dari jauh telah bersinar
Saudaraku, engkau jangan jenuh berjuang
Engkau lemparkan senjata dari kedua pundakmu
Siapakah yang akan mengobati luka-luka para korban
Dan meninggikan kembali panji-panji jihad?
((Asy-Syahid Sayyid Quthb)
[maraji: mereka yang telah pergi]

Antara Atik, Aisah, dan Jojok


Situs DSHNet di alamat http://10.254.60.60 selain banyak debatnya sehingga banyak menjulukinya sebagai situs Debat Sepanjang Hayat, pun begitu banyak kebaikan-kebaikan yang didapat di sana, seperti informasi dan berita tentang dunia Islam. Di sana tersedia pula ruang untuk berpartisipasi bagi pengunjungnya, seperti komentar pada setiap berita atau mengirim ucapan kepada sesama pengunjung lain.
Tak kalah menariknya di sana juga tersedia tempat bagi pengunjung untuk menuangkan buah pikirannya yakni di kolom Partispasi. Kolom ini selain berfungi sebagai tempat copy paste artikel dari luar juga bisa sebagai tempat untuk menumbuhkan kreativitas pengunjung untuk menulis.
Asalkan sesuai dengan misi yang dibawa oleh DSH, maka artikel dengan kualitas apapun bisa di muat di sana. Bisa jadi tempat ini adalah tempat terbaik untuk berlatih dalam menulis. Apalagi tidak ada kolom komentar sehingga dengan demikian ini tidak membuat kecut nyali pengunjung untuk menulis. Karena terkadang banyak dari kita yang pemula sebagai penulis langsung down di saat melihat komentar yang tak berkenan.
Kalau dilihat secara seksama maka sudah 72 halaman sejak tanggal 10 Januari 2003 ruang Partispasi ini dipenuhi dengan banyak artikel. Kalau di setiap halamannya berisi 20 artikel maka kalau ditotal sampai detik ini sudah ada artikel kurang lebih 1440 buah. Jumlah yang banyak sekali bukan…?
Tentunya kalau kita hitung karya yang ditulis dengan tangan sendiri jumlahnya tidak sebegitu banyaknya. Tapi saya terus terang sangat menghargai sekali artikel yang tidak sekadar copy paste. Walaupun cuma sekadar menumpahkan uneg-uneg belaka.
Dari sejumlah artikel itu saya melihat sangat banyak sekali artikel berbobot yang ditulis sendiri oleh para pengunjung entah dari segi temanya, pencerahannya, tata bahasanya, penuturannya, dan lainnya.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya meluangkan waktu untuk menilai artikel-artikel bagus tersebut. Saya kira ini adalah bentuk apresiasi saya terhadap mereka.
Penilaian ini bukan kritik terhadap tulisan. Hanya sebagai suatu ekspresi bahwa tulisan itu sangat bernas bagi saya, entah pada pilihan katanya atau makna yang cukup mendalam yang dibawa dalam tulisan tersebut (kiranya kalau kritik cukup private messenger atau email saja).
Satu pengecualian dan ini dikarenakan adalah ekspresi saya–maka saya tidak akan memberikan penilaian pada tulisan saya sendiri, karena sungguh akan sangat subyektif sekali.
Dan ini bukan berarti bahwa disaat saya memberikan penilaian kebagusan pada satu artikel saja, maka bukan berarti yang lainnya kurang bagus. Saya berpikir tidak ada yang tidak bagus dalam proses kreatif kepenulisan. Karena ini membutuhkan kerja keras dari penulis.
Sungguh saya salut kepada para pengunjung DSH semua yang telah mengekpresikan isi di kepalanya dalam bentuk tulisan tersebut. Sungguh setiap orang mempunyai penilaian sendiri dan berbeda dengan yang lainnya. Penilaian saya belumlah tentu sama dengan penilaian para pembaca. Dan yang terpenting “sesungguhnya penilaian paling utama adalah hanya penilaian Allah semata.”
Untuk lebih lengkapnya tentang penilaian saya dan teman-teman (saya libatkan mereka agar ada feedback bagus tidak hanya dari saya) terhadap banyak artikel di Partisipasi maka Anda dapat mengujungi alamat ini: http://10.254.60.60/dshforum/forum_posts.asp?TID=5837&PN=1
Dan untuk hari ini (Selasa, 09 Mei 2006), ada banyak tulisan bagus di sana. Saya menyeleksinya dan mendapatkan tiga artikel ini:
1. Ikhwan Makhluk Pencemburu (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5128) oleh ATIK;
2. Nuwun Sewu Mbah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5127) oleh Aisha;
3. Dunia Masih Terlalu Indah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5121) oleh jo2k.

Penulis pertama dengan gaya hebohnya dan apalagi yang akan dialaminya membuat tulisan ini menjadi menarik dan up to date, apalagi ini menjadi sesuatu penegasan dari seseuatu yang tersirat, tersembunyi, dan tak tersentuh, ini dia:
“Pasalnya..dari lima diantara kami..dua diantaranya dah jadi ummahat berputra satu. Dan tiga sisanya..secara kebetulan akan menggenapkan setengah diennya bulan ini. Akhirnya..Murobbiyahku pun jadi ikutan heboh sharing masalah ini. Tentu full kekonyolan, ketidak mengertian dan pembelajaran awal-awal pernikahan.”
Anda-anda semua yang masih meragukannya, maka sudah saatnya meyakini kebenaran berita ini. Bersiap-siaplah banyak hati yang akan cemburu dan terluka (wah…wah…)
Artikel yang kedua, cerita nyata ini dituturkan dengan sangat apik sekali. Lancar, mengalir, tiada tersendat. Saya terus terang mengagumi—sekali lagi–cara bertuturnya.
Artikel yang ketiga, INI GUE BANJET, banyak kata-kata indah di sana.
So, saya harus memilih di antara ketiga ini. Dan Insya Allah saya putuskan Artikel Bagus hari ini adalah:

Nuwun Sewu Mbah (http://10.254.60.60/isi_partisipasi.asp?dsh=5127)
oleh Aisha;

Tetap menulis tetap semangat

Allohua’lam bishshowab.