KETUA RT


Ruangan tamu itu dipenuhi asap rokok. Dari empat belas orang yang menghadiri acara rapat Rukun Tetangga (RT) dan sekaligus halal bihalal itu cuma empat orang saja yang berkorban menjadi perokok pasif. Selebihnya asyik menikmati bara merah dari tembakau yang terbakar dan kepulan asapnya.
Acara ini masih berkutat pada pembahasan siapa yang mau ditunjuk sebagai Ketua RT. Ya, jabatan Ketua RT di tempat kami sudah lama kosong. Apalagi setelah kepengurusan yang lalu demisioner beberapa bulan sebelumnya karena sudah berakhirnya masa tugas mereka. Tidak ada yang mau mengangkat tangan. Banyak argumentasi yang keluar dari bapak-bapak yang dipinta untuk menjabat jabatan tersebut. Rata-rata semua ogah. Why…?
Mungkin jabatan Ketua RT inilah yang tidak dianggap sebagai jabatan yang dicari-cari di Indonesia. Karena kental sekali nuansa sosialnya dibandingkan ketenaran dan komersialisasi yang menggemukkan kantong-kantong para penjabatnya. Apalagi tuntutan menjadi penengah dan pemecah kebuntuan permasalahan keseharian yang ada sangat tinggi diharapkan oleh masyarakat.
”Ayolah pak, kalau kita niatkan dengan ibadah Insya Allah jabtan ini bukanlah suatu beban. Apalagi kita-kita yang muda ini juga sudah siap untuk membantu,” pinta salah seorang pengurus RT yang lalu kepada Pak Bobbi yang dikenal sanga supel di lingkungan kami. ”Apalagi bapak kan selalu stanby di lingkungan sini. Dan Insya Allah mulai Januari 2007 ini usulan tunjangan penghargaan dan pembebasan uang sampah kepada ketua RT akan mulai diberlakukan.”
”Kalau masalah itu sih, bagi saya nomor sekian. Tapi yang jadi masalah bagi saya, saya ini sudah bukan waktunya untuk mengurusi beginian. Saya ingin menikmati masa-masa pensiun saya. Cobalah kepada yang muda-muda sajalah,” tukas Pak Bobbi.
Tunjuk sana-tunjuk sini pun lagi-lagi terjadi. Usulan-usulan lain bermunculan bak cendawan di musim hujan. Dari usulan perpendekan jabatan yang semula tiga tahun menjadi satu tahun, pergiliran jabatan kepada setiap warga yang mulai urut dari rumah yang paling ujung sampai sistem kocok untuk menentukan siapa yang harus menjadi Ketua RT.
Malam bertambah larut, sudah terasa dinginnya pula. Akhirnya para peserta rapat pun sudah tidak tahan lagi untuk segera menyelesaikan acara ini apalagi esok hari adalah hari senin, hari pertama untuk memulai aktivitas keseharian dalam sepekan ke depan. Tentunya butuh tenaga yang fresh, yang tidak tersita oleh rapat yang berlarut-larut ini.
Akhirnya setelah dilakukan pendekatan yang intens kepada Pak Bobby, beliau akhirnya bersedia dengan satu syarat semua harus mendukung dirinya. Yang diiyakan oleh seluruh peserta rapat.
”Sekarang siapa dari bapak-bapak yang ada di sini yang mau jadi sekretaris dan bendaharanya?” tanya Pak Bobbi.
”Begini saja pak, karena ini adalah kerja tim tentunya perlu orang-orang yang berkesatuan hati dengan Bapak jadi pilih saja menurut Bapak yang dianggap cocok,” jawab salah seorang warga.
”Oke saya tunjuk Abu Ayyasy untuk jadi Bendaharanya, karena saya percaya padanya.” tegas Pak Bobbi.
”Insya Allah saya siap Pak,” jawab Abu Ayyasy.
”Untuk sekretarisnya saya tunjuk Pak Faisal.” tunjuk Pak Bobbi.
”Wah jangan Pak, saya sudah bertekad untuk pensiun dari dunia kemasyarakatan selama tiga tahun jadi jangan pilih saya, yah…” elak Pak Faisal.
Ujung-ujungnya pengelakan ini membuat rapat menjadi berlarut-larut kembali. Sampai akhirnya ada salah satu warga mengusulkan untuk menunda penunjukkan jabatan sekretaris ini, dengan pertimbangan bahwa Pak Bobbi punya cukup waktu untuk mencari orang yang benar-benar dianggap mumpuni dan sehati tentunya.
Sebelum rapat diakhiri tuan rumah meminta saya untuk memberikan sedikit taushiyah kepada para peserta halal bihalal ini.Tentunya suatu nasehat yang sangat berarti pula untuk diri saya sendiri.
26. Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[191]. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (Ali-Imran)
Saya cuma bisa bilang: ”sesungguhnya Allah menghendaki kepemimpinan ini dipegang oleh Pak Bobbi. Dan kita patut pula untuk menyukurinya, karena sungguh kita akan lebih baik hidup dalam suatu jamaah daripada hidup dalam kesendirian. Kata Rasulullah: Hendaklah kalian berjamaah , sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.1)”
Kepada Pak Bobbi, berlaku adillah. Karena pemimpin yang adil adalah satu dari tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan dari Allah SWT pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya 2). Kepada saya dan bapak-bapak sekalian, bantu, dan taatilah Pak Bobbi, karena kini Pak Bobbi adalah pemimpin di antara kita semua.
***
Jelang tidur, malam semakin larut.
Abi: ”Mi, Alhamdulillah Pak Bobbi sekarang udah jadi Ketua RT.”
Ummi: ”Abi jadi apa…?”
Abi: ”Bendahara, sudah komitmen dari bapak-bapak kalau ditunjuk harus mau, tapi ada
juga yang tidak mau”
Ummi: ”Peran bagus”
Abi: “Bagusnya…?”
Ummi: ”Jadi ladang amal. Dan ini bukan peran kecil.”
Abi: ”Hmmm…peran kecil. Jadi inget imel teman.
”Kita pun sesunguhnya bisa walaupun saat ini kita “baru” berperan kecil. Tidak hanya berpangku tangan menunggu SATRIA PININGIT untuk Indonesia. Bertahun-tahun selama saya ikut menjadi bagian kecil dalam kegiatan Masjid Shalahuddin Kalibata sungguh membuat saya menjadi prihatin dengan pandangan sebagian besar teman-teman seperjuangan yang menganggap sepele peran-peran yang diamanahkan. Totalitas. Sulit menemukan partner dalam tim yang menyadari itu, apakah bisa memakmurkan masjid dengan sisa-sisa tenaga dan pemikiran kita setelah bekerja saja? (Ratna Marlina)”
Mi, bisa tidak dengan peran ini saya jadi Umar Bin Khatthab saat kini. Bangun malam, ngecek lingkungan, kentongin tiang listrik, dan pasang telinga kalau-kalau ada tetangga yang belum tidur karena belum makan.”
Ummi: ”Ah ngayal”
Abi: ”Kok pesimis kayak gitu…?”
Ummi: ”Karena ummi tahu persis Abi itu siapa…?”
Abi: ”Loh, Umar bin Abdul Aziz dulu sebelum jadi khalifah adalah pemuda yang royal dan tidak peduli dengan sekitar tapi setelah diangkat, Subhanallah, berubah 180 derajat jadi khalifah yang adil, zuhud, dan dermawan.
Ummi: ”Abi bukan dia…”
Abi: ”Pantas saja ummi pun bukan seperti istri Umar bin Abdul Aziz. Enggak pernah
memotivasi”
Ummi: ”Ah, bisanya cuma ngeles….Sudah sono katanya mau keliling, mo jadi Umar kan?
Abi: ”hmmm…berat juga jadi Umar. Godaan kasur begitu menghiba, padahal dua Umar
cuma beralaskan daun kurma”

Malam semakin larut, jelang tidur.
***

1. HR Abu Daud 547 dan Nasai 2 / 106 dengan sanad yang hasan
2. Ash-shahihain

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:00 07 Nopember 2006

CUMA JARKONI….?


“Saya ini sudah diundang berceramah kemana-kemana. Kemarin ke Hongkong dan besok akan ke Hongkong lagi,” demikian diungkapkan oleh aktor sinetron Indonesia saat ditanya tentang kegiatannya di bulan Ramadhan. Ya, di bulan Suci itu ia telah berganti profesi dari sebuah profesi yang bergelimang dengan hedonisme kepada sebuah profesi yang tuntutannya berat di akhirat kelak.
Tayangan infotainment itu mengejutkan saya dan saya ucapkan dalam hati semoga ia berkesuaian antara ucapan dengan perbuatan. Soalnya dulu saat ada konflik antara Bang Haji Rhoma Irama dengan Inul Daratista, ia pendukung berat dan berada di belakang Inul untuk tetap eksis dengan goyang ngebornya. Bahkan mengecam Bang Haji sebagai golongan orang-orang munafik dan sakit hati karena tidak kebagian order manggung.
Apalagi setelah ia membintangi sinetron laris tahun lalu berjudul Kiamat Sudah Dekat yang disutradarai oleh Dedi Mizwar membuat keyakinan saya tentang dirinya bertambah bahwa ia telah menemukan jalan yang benar. Plus setelah saya membaca berita ia diundang bersama Cici Tegal berceramah dihadapan ribuan buruh Indonesia di Hongkong.
Ini yang disorot oleh Infotainment tentang maraknya pertaubatan para artis di bulan ramadhan. Maraknya mereka menjadi ustadz yang diundang berceramah ke mana-mana. Ada satu pertanyaan yang dicoba untuk diajukan kepada pemirsa. Apakah ini cuma trend sesaat di bulan ramadhan atau telah menjadi bagian seutuhnya yang tidak bisa dipisahkan dari jiwa para artis tersebut.
Haji Amidhan—ketua MUI, mantan Dirjen Departemen Agama—adalah salah seorang narasumber yang diminta pandangannya terhadap fenomena ini. Satu saja poin yang beliau ungkapkan: ”Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ya, ustadz itu adalah tuntunan bukan tontonan. Saya setuju itu, sebagai sebuah nasehat bagi diri yang lemah ini, nasehat itu amat menohok bagi saya yang sering berperilaku sebagai seorang hipokrit tulen (sudah hipokrit, tulen lagi).
Tapi, teman-teman, harapan saya salah. Persis keeseokan harinya ternyata ada berita yang menayangkan sosok aktor kita ini lagi. Tidak berpakaian batik dan berpeci seperti yang saya lihat sebelumnya, kini ia berpakaian macho banget (bukan ini masalahnya) dan ada bagian yang membuat saya terhenyak. Ia berangkul-rangkulan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Wanita penyiar tivi berambut laki-laki itu dirangkulnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya saya lupa merangkul siapa. Katanya ia akan pergi ke Eropa bersama rombongan tersebut untuk jalan-jalan.
Harapan saya menemukan suatu perubahan pada diri aktor tersebut pupus sudah. Atau karena ia belum tahu dan sedang dalam proses menuju perbaikan? Entahlah. Setidaknya ketika ia diundang berceramah kemana-mana bekal ilmu hendaknya senantiasa ia perbanyak, dan ketika persiapan pemenuhan bekal itu dilakukan ia pastinya akan menemukan bab tentang muhrim dan bukan muhrim.
So, ternyata jadi ustadz itu berat, ia harus menyelaraskan ucapan dan perbuatannya. Satu yang pasti lagi ia harus senantiasa menjadi teladan bagi yang lain. Karena dengan keteladanan, objek dakwah akan dapat terbuka hatinya untuk bisa mencontoh semua perbuatan panutannya dan menerima nasehat-nasehat kebaikan. Jika tidak, yang ada cuma semburan panas celaan seperti munafik, omdo (omong doang), jarkoni (ngajar ora dilakoni). Mengutip perkataan Menteri Pertanian kita Anton Apriantono, “Kalau pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan), jangan berharap anak buah mengikuti,” ujarnya.
Saudara-saudaraku kita hanya bisa berharap kepada Allah semoga Ia memudahkan upaya kita untuk senantiasa selaras antara perkataan dengan perbuatan. Semoga Allah menetapkan hidayah ini kepada kita, karena sesungguhnya Allah menyesatkan siapa saja yang Ia kehendaki dan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Amin.

riza almanfaluthi
astaghfirullah…
dedaunan di ranting cemara
08:40 31 Oktober 2006

ASLI DERMAYU


Saat akan kembali ke Jakarta, Ibu bersikeras membawakan kami oleh-oleh untuk dibagikan ke tetangga-tetangga kami. Sebenarnya bukannya tidak suka kami dibawakan semua itu tapi karena bawaan kami sudah banyak dan khawatir ribet di sepanjang perjalanan dengan kereta api pada saat puncak arus balik Sabtu kemarin.
Tapi karena Ummu Haqi juga tidak keberatan untuk menerimanya—dan tentu pula membawanya—maka otomatis jadi juga saya membawa satu kardus oleh-oleh khas Indramayu; buah mangga asli Indramayu dari daerah sentranya Desa Segeran. Tapi pada akhirnya tetap saya yang membawa beban itu berupa tiga tas pakaian dan satu kardus. Berat euy…
Ngomong-ngomong tentang buah mangga ini, mungkin ini satu-satunya yang bisa saya banggakan dari Indramayu selain pandangan negatif tentang daerah di pantura ini. Tentang kawin cerainya-lah, tentang wisata plusnya (Anda tahu sendiri lah…), tentang kemiskinannya dan lain-lainnya. Walaupun saya tidak suka mangga dan tidak punya pohonnya di kampung sana tapi saya bilang kepada setiap orang yang saya beri: “ini benar-benar asli dari Indramayu loh…”
Soalnya statemen ini perlu untuk meyakinkan bahwa buah yang kami bawa ini beda banget dengan buah mangga berlabel “Indramayu” yang dijual di pinggir jalanan Jakarta atau yang diasongkan di kereta rel listrik Jakarta-Bogor. Rasanyalah—ini bukan kata saya tapi kata Ummu Haqi—yang membedakannya. Dan katanya pula yang membuat beda adalah karena pohon mangga itu ditanam di Indramayu—dekat pantai dan tanahnya bergaram, soalnya walaupun bibitnya asli dari Indramayu juga tapi kalau tidak ditanam di Indramayu, rasanya akan beda pula. Tidak senikmat dan selezat aslinya.
Anda mau merasakan nikmatnya? Kalau Anda bepergian di sekitar Pantura sempatkan mampir di Jatibarang karena di sepanjang jalan ada warung-warung yang menjajakan beragam jenis buah mangga—bapang, susu, golek, apel, arummanis, dll. Kalau punya waktu lebih maka kunjungilah desa Segeran yang letaknya sekitar 15 km arah timur Jatibarang menuju Karangampel, karena di sana Anda akan melihat betapa di setiap rumah penduduk desa terlihat pohon mangga yang berbuah banyak sampai menjuntai-juntai ke tanah. Uih…menyenangkan sekali untuk dilihat dan dinikmati tentunya.
Allohuta’ala a’lamu bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:06 30 Oktober 2006

TIGA CARA MASUK SURGA


http://10.9.4.215/blog/dedaunan/25764

Sabtu kemarin saya diundang untuk ikut berbuka puasa bersama di salah satu rumah anggota pengajian pekanan istri saya. Saat jelang magrib saya didaulat untuk memberikan taushiyah di acara itu. Pendaulatan itu mau tidak mau harus saya terima. So, saya butuh referensi cepat untuk itu. Dengan membuka-buka mushaf syamil yang ada di tangan, mata saya terantuk pada dua ayat di Surat Ali Imran. Tepatnya di ayat 133 dan 134.
Kawan, inilah isi dari ayat tersebut:

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dari dua ayat tersebut saya ambil kesimpulan, kalau mau jadi orang bertakwa yang dijanjikan kepada mereka dua hadiah istimewa yakni ampunan Allah dan surga yang seluas langit dan bumi maka kita harus dapat mengerjakan tiga amalan ini:

1. berinfak di waktu lapang dan sempit;
2. menahan amarah;
3. memaafkan kesalahan orang.

Lalu apa susahnya? Ternyata memang berat, memang susah. Maka pantas saja bagi Allah untuk memberikan kepada yang mampu melakukannya imbalan terbesar itu. Ya, bagaimana tidak manusia sesungguhnya mempunyai tabiat kikir artinya manusia tidak mau melepaskan sebagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya. Ditambah lagi dengan setan yang menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan. Otomatis lintasan pikiran untuk berbagi tidak menjadi mainframe kehidupan manusia.
Tapi bagi mereka yang mengetahui bahwa segala harta bendanya itu hanya amanah yang dititipkan Allah kepada dirinya, dan mengetahui bahwa sebenar-benarnya harta yang dimiliki adalah harta yang ia infakkan maka tabiat kekikiran dan tipuan setan itu mudah dikikis. Karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah tipu daya yang lemah.
Lalu bagaimana jikalau kita-kita ini sebagai manusia dengan tabiat kikir yang sudah diredam sehingga selalu timbul semangat untuk berbagi di setiap kesempatan tapi masalahnya kita tidak punya kelapangan rezeki? Nah, inilah salah satu bentuk ujian bagi kita. Wajar sih kalau lagi kaya kita selalu berinfak, tapi sungguh luar biasa jikalau sebaliknya. Ia papa, tidak punya apa-apa tapi selalu bersemangat dalam berbagi.
Inilah yang perlu kita tiru. Di lapang ataupun sempitnya keadaan kita, semangat berbagi hendaknya senantiasa menjadi hiasan hidup kita. Apalagi kalau kita mendengar janji Allah yang akan melipatgandakan sepuluh kali lipat bahkan menggandakan 700 kali lipat buat orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. (Pantas saja saya belum merasakan ketiban rejeki nomplok ratusan juta rupiah, karena pancingan untuk mendatangkan rejeki itu cuma infak ribuan perak doang )
Kalau meniru bahasanya Ustadz Yusuf Mansyur: ”ente-ente mau kaya, sedekahlah”. Matematika kehidupan yang berlawanan 180 derajat dengan pakem teori ekonomi yang paling canggih di abad ini. Atau dengan bahasa lainnya: ente-ente mau sehat, sedekahlah atau ente-ente mau selamat dari malapetaka, sedekahlah. Sedekah mengatasi masalah tanpa masalah.
Satu nasehat baik untuk diri saya sendiri.
***

Menahan amarah. Ini juga suatu perbuatan yang rada-rada sulit dan berat. Apalagi kalau marah disaat kita mempunyai kekuasaan, punya power, kesempatan untuk membalas dan menyakiti orang lain. Maka pantas saja ada statement bahwa orang yang terbaik adalah orang yang mampu mengendalikan amarahnya disaat ia mampu membalas. Pantas pula Rasulullah SAW pernah berkata: ”janganlah kamu marah, maka bagimu surga”.
Saat marah yang tidak pada tempatnya itulah saat di mana setan menguasai hati dan akal kita. Sehingga wajar saja orang yang sedang marah ia tidak akan mampu memberikan penalaran yang baik terhadap kondisi sekitar. Marah bisa menjadi awal untuk melakukan perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menyakiti secara lisan dan fisik hingga terjadi pembunuhan.
Di sana ada api yang membakar diri. Yang cuma bisa dipadamkan dengan cara-cara Rasulullah SAW contohkan: pindah tempat berganti posisi dan berwudhu. Gampang sih, cuma karena nalar kita sudah dibolak-balikkan maka perbuatan yang semudah itu saja susah sekali dilakukan. Tinggal kuat-kuatnya kita dan orang lain saja menyadarkan diri ini. Pantas bagi orang yang bisa menahan amarah ia mendapatkan surga dan ampunan Allah.
Satu nasehat baik untuk diri saya sendiri.
***

Wahai kawan, ternyata memaafkan kesalahan orang lain pun menjadi suatu perbuatan mulia yang memang berat dilakukan. Bagaimana tidak, ketika kita disakiti orang lain dengan perkataan ataupun perbuatan maka sebagai manusia normal kita ingin sekali membalasnya dengan perbuatan yang setimpal bahkan jika perlu dibalas dua sampai sepuluh kali lipat. Kita sampai tidak bisa tidur hanya untuk memikirkan balasan itu. Hati kita gelisah, dongkol dan mangkel. Marah pun berkecamuk.
Ketika ia berusaha untuk memaafkan orang lain maka ia berarti sudah memutus habis banyak perkara. Ia menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Ia telah menghilangkan penyakit pada hatinya. Ia menjadi orang yang benar-benar pemaaf dan berjiwa besar. Melapangkan dadanya dari kesalahan saudaranya. Ia membuat tidurnya lebih nikmat dirasakan tanpa gundah yang membuncah. Pantas saja bagi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain mendapatkan ampunan Allah dan surgaNya.
Kawan pasti ingat tentang sebutan calon penghuni surga dari Rasulullah SAW terhadap salah seorang sahabatnya sehingga membuat penasaran sahabat yang lain. Di saat dicek amalan hariannya, amalan yang ia lakukan adalah amalan yang biasa dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang lain. Ternyata cuma satu yang beda: di setiap malamnya , sebelum tidur, ia memaafkan kesalahan saudara-saudaranya di hari itu. Subhanallah. Pantas saja bagi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain mendapatkan ampunan Allah dan surgaNya.
Sungguh, satu nasehat baik untuk diri saya sendiri.
***

Ba’da maghrib itu saya mendapatkan dua santapan yang mengenyangkan. Santapan ruhani—nasehat untuk diri saya sendiri dan Insya Allah beguna pula untuk yang lain—dan santapan jasmani berupa nasi, mie goreng, plus ayam bakar. Tidak hanya itu silaturahim pun terjalin dengan erat menambah semarak ramadhan mubarak. Menambah keyakinan sebuah cita. Satu cita pasti bagi kami: berkumpul di jannahNya. Insya Allah.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:22 17 Oktober 2006

KUNTILANAK BERAMBUT PANJANG


Pukul 02.40 dinihari ini saya memaksakan diri untuk bangun. Sudah waktunya untuk meminta pemenuhan segala hajat kepada Sang Pemilik Bumi dan Langit. Setelah ke kamar mandi sebentar, mengambil wudhu, dan berpakaian sepantasnya saya mengambil sajadah lalu menggelarnya di ruang tamu. Biasanya saya sholat di kamar tengah yang biasa kosong, namun karena banyaknya mainan si bungsu yang masih belum dibereskan saya terpaksa pindah.
Di ruang utama yang tidak berkursi tamu, gelap, dan cuma menyisakan cahaya dari dapur ini saya memulai rakaat pertama. Allahu Akbar. Doa iftitah dan surat Al-fatihah pelan-pelan saya lafalkan. Lalu dilanjutkan dengan surat An-Naazi’aat.
”Wannaazi’aati ghorqoo”
”Wannaasyithooti Nasythoo”
Pelan-pelan saya berusaha keras untuk menikmati setiap ayat yang dilafalkan. Di saat menuju kekhusyu’an itulah—tepatnya di ayat ”faidzaajaa atiththammatul kubraa”—melalui sudut mata saya melihat bayangan hitam muncul dari dapur, seperti sosok perempuan bergerak pelan-pelan, terhuyung-huyung.
”Deg…ya Allah siapa nih,” pikir saya sambil tetap melanjutkan bacaan surat. Tapi kok bayangan hitam mendekat ke arah saya. Konsentrasi saya sudah pecah. Pikiran buruk saya sudah hinggap di kepala. ”jangan-jangan jin nih,” pikir saya. Entah kenapa saya bisa berpikiran ke arah sana.
Saya sebenarnya sudah berpikiran bahwa itu pasti khadimat saya yang memang sudah bangun dan menuju kamar mandi yang berada dekat dengan kamar tamu. Tapi kok tidak biasanya ia bangun pada jam-jam seperti ini. Dan kali ini ia pun tidak menuju ke kamar mandi. Sekali lagi dengan pelan-pelan, terhuyung-huyung, bayangan itu mendekat ke arah saya. Selangkah demi selangkah ia mendekat, mendekat, mendekat.
Masih tetap dengan melafalkan surat, saya bimbang untuk melakukan apa. Menengok untuk menuntaskan kepenarasaran saya hingga saya benar-benar dihadapkan pada dugaan saya di awal, sosok jin, atau tetap melanjutkan sholat saya dan menganggap bayangan itu adalah khadimat saya sendiri. Kepenasaran saya ternyata yang mendominasi.
Sekitar dua langkah sebelum bayangan itu mendekat ke arah saya, akhirnya saya memutuskan untuk menengok ke sebelah kanan seperti orang yang sedang mengakhiri sholat—tapi masih dengan melanjutkan bacaan surat.
”….Astaghfirullahal ’adzim.” Herannya setelah melihat bayangan itu saya langsung meluruskan posisi kepala saya dan tetap dengan bacaan yang terlafalkan dari mulut saya. Melanjutkan sholat. Tapi saya pikir sholat saya sudah batal dan konsentrasi saya sudah pecah. Saya putuskan untuk mengulang dari awal rakaat saya yang baru satu itu. 
Teman-teman, coba tebak apa bayangan hitam yang saya lihat tadi? WEKS…! Bukan jin, bukan kuntilanak, dan bukan siapa-siapa. Dia hanya khadimat saya yang ternyata cuma ingin melihat jam yang ada di ruangan tamu.
Setelah itu saya cuma bisa tersenyum geli. Inilah kalau memori tentang Suketi—Kuntilanak yang diperankan Suzanna—masih melekat erat di benak. Tapi ya gimana lagi suasana sudah sangat mendukung sekali untuk menghadirkan sosok itu. Lampu tengah dimatikan, gelap. Muncul dari balik tirai yang membatasi dapur dengan ruang tamu. Bayangan hitam itu bertambah gelap karena menghalangi sumber cahaya dari dapur. Dengan rambut tergerai yang tidak diikat dengan karet pengikat rambut, beringsut pelan-pelan. Lengkap sudah penampakan sosok itu.
”Dasar nih, puasa-puasa masih saja memikirkan Suketi. ”
Akhirnya saya meneruskan sholat di kamar tengah. Itu pun setelah saya membereskan terlebih dahulu mainan yang berserakan. Di belakang, saat ini, sudah terdengar gemerisik sang khadimat mempersiapkan makanan sahur kami.
***
Paginya saya bercerita kepada istri saya, dia cuma bisa ngakak….membayangkan mimik saya di saat menoleh dengan masih melafalkan bacaan An-Nazi’aat.

*
Omong-omong tentang makhluk seperti itu di rumah kami, ada cerita, bapak saya menyangka saya sedang tidur di samping adik saya di kamar depan. Padahal saat itu saya tidak tidur di sana. Khadimat saya pun bercerita saat tidur sepertinya ia merasakan mukanya ditongkrongin oleh wanita tanpa wajah. Tapi Alhamdulillah saya tidak pernah melihat apapun. Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:27 11 Oktober 2006

Anti Hukuman Mati


Sampai saat ini saya tidak mengerti jalan pikiran orang-orang yang menentang hukuman mati. Biasanya argumentasi yang biasa mereka kemukakan adalah kita sebagai manusia tidak punya hak untuk mencabut nyawa manusia. Ini adalah merampas hak yang paling hakiki milik Tuhan. Berkenaan dengan masalah si terkuhum mati itu telah menghilangkan nyawa orang lain dan melakukan pelanggaran berat sebelumnya ini masalah lain.
Argumen lainnya ialah hukuman mati ini tidak memberikan kesempatan kepada si terhukum untuk menginsyafi perbuatannya dan membuktikan pertaubatannya kepada masyarakat. Ada lagi argumen tentang siapa yang akan menanggung dosa dari si terhukum sebagaimana sebuah komentar yang mampir di blog saya terkait dengan eksekusi Tibo dkk. Begini komentarnya:

Posted by Anonymous[Not Login]
sapakah yg akan menangung dOsa krn mengambil nyawa tibO dkk???bukankah itu jUga bukan hak hukum yg katanya adil tapi kasat mata…hapUskan hUkUman Mati di IndOnesia!!!!itU bUkan keadIlan…itU hanya sekeDar..napsU pembalasan Dendam…

Menanggapi ini menurut saya tidak usah memakai dalil-dalil seabrek-abrek. Karena walaupun dikemukakan dalil segunung tetap saja tidak bisa dipahami jika hati ini tiada punya iman terhadap syariat Allah.
Tentang masalah hak Tuhan, kata siapa Tuhan tidak memberikan hak tersebut kepada kita. Syariat Islam sudah mengatur hal sedemikian rupa. Coba buka Al-Qur’an deh, niscaya kita banyak menemukan kisas ini. Sebagai clue, coba buka 2:178, 2:179, 5:45, 6:151, 17:33. (Maaf saya tidak menampilkan ayat-ayatnya karena seperti sudah saya kemukakan di atas, tidak perlu tampilan dalil di sini).
Yang kedua tentang bahwa manusia tidak berhak merampas nyawa manusia lainnya, lalu kenapa si terhukum tidak pernah memikirkan bahwa perbuatannya menghilangan nyawa (misalnya) manusia lainnya adalah perbuatan tercela dan tiada hak. Aneh jika kita menggunakan asas ketidakseimbangan dalam menimbang permasalahan ini.
Dan kata siapa pula itu bukan keadilan, bahkan hukuman itu adalah bentuk dari keadilan itu sendiri. Secara naluri kemanusiaan, maka keluarga yang ditinggalkan karena dibunuh itu merasa tidak pernah puas dan tidak rela melihat kematiannya. Dan ia akan menuntut balas. Jika ini tidak diselesaikan dengan syariat maka niscaya balas dendam tidak akan berkesudahan.
Ini bukan pula NAFSU tapi ini NALURI. Maka Islam datang dengan syariatnya itu untuk mendudukkan persoalan itu kembali pada tempatnya. Dengan hukuman mati inilah cara terefektif menghentikan dendam. Walaupun secara syariat pula Islam memberikan jalan keluar bahwa hukuman mati tidak akan dilaksanakan jika pihak keluarga memaafkan si pembunuh dan si pembunuh membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.
Tentang dosa Tibo, ya tentu dosa ditanggung sendiri. Dalam Islam Pahala dan dosa menjadi milik manusia itu sendiri. Tidak ada seseorang yang berbuat dosa lalu dosanya ditimpakan kepada yang lain. Enak saja kalau begini… Memangnya malaikat pencatat amal manusia itu tidur dan buta? Lalu bagaimana dengan para hakim dan pelaku eksekusi itu apakah mereka berdosa? Menurut saya mereka tidaklah berdosa karena mereka menjalankan hukum yang telah memutuskan bahwa Tibo dkk bersalah. Mereka dilindungi oleh hukum. Enggak percaya? Kita lihat saja di akhirat nanti .
Kalaulah saja mereka memakai nuraninya dan pula memakai akalnya maka niscaya mereka akan memahami ternyata ada begitu banyak hikmah dan kebaikan di balik kisas ini. Sebagaimana Allah menjanjikan adanya jaminan kelangsungan hidup bagi manusia dalam kisas tersebut bahkan puncaknya menjadikan para penerap kisas ini mendapatkan gelar orang-orang yang bertakwa layaknya hasil yang didapat bagi orang-orang yang berpuasa di ramadhan. Orang yang dikisas pun tidak akan mendapatkan balasan di akhirat—ini pun jika ia bertaubat.
Salah satu hikmah lainnya adalah timbulnya efek jera dalam masyarakat. Biasanya yang anti hukuman mati akan bertanya: ”mana buktinya? Tidak ada penurunan signifikan dalam angka kriminalitas.” Ya, betul, karena hukuman mati yang dilaksanakan di Indonesia dilaksanakan tertutup dan diam-diam. Yang kita pun–masyarakat awam—ini tidak bisa meyakini orang tersebut sudah tewas atau belum karena banyak dugaan adanya teori konspirasi dan lain-lain. Lalu kalau begini, bagaimana bisa menggedor urat-urat syaraf jera dan ketakutan bagi masyarakat.
Yang benar adalah pelaksanakan hukuman mati tersebut dilakukan di tengah keramaian atau di suatu lapangan yang bisa ditonton banyak orang dan diliput besar-besaran, disiarkan langsung oleh media elektronik. Saya yakin kalau kejadiannya begini, angka kriminalitas di negeri ini akan turun. Insya Allah.
Kalau kita mau melihat statistik kecil tentang penerapan syariat ini maka kita bisa melihat di Bulukamba dengan data sebagai berikut:
Tingkat kriminalitas di Bulukamba, Sulawesi Selatan, setelah diterapkannya Perda Anti Maksyiat di tahun 2002 sampai dengan sekarang:
A.
2002 : 220 (dengan berbagai jenis kejahatan)
2003: 148 (dengan berbagai jenis kejahatan)
2004 : 87 (dengan berbagai jenis kejahatan)
2005 : 13 (dengan berbagai jenis kejahatan)
B.
Salah satu detilnya adalah:
Statistik dari Perkosaan.
2002: 41
2003: 3
2004: 3
2005: NIHIL
Statistik Pencabulan.
Tahun 2004: 2
Tahun Lainnya Nihil.

C.
Dari 10 Jenis Kejahatan, Di Tahun 2005 Cuma Tiga Kejahatan Saja:
1. Pembunuhan Sebanyak 2 Kasus
2. Psikotropika 2 Kasus
3. Miras 9 Kasus
Sumber: Makalah Fauzan Al Anshari dari Polres Bulukamba.
Bila kita melihat data di atas yang hanya didasarkan dengan penerapan hukuman nonfisik seperti denda dan kurungan maka kita bisa melihat kecenderungan angka kriminalitas yang semakin menurun. Apalagi kalau kisas benar-benar diterapkan. Maka percayalah kehormatan dan keamanan manusia akan terjamin. Insya Allah. Bila demikian mengapa masih anti dengan hukuman mati?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ramadhan indah
09.14 04 Oktober 2006

AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?


AL IKHWAN=AHLUL BID’AH= OSAMA?

Masjid di komplek perumahan kami ini bernama Al-Ikhwan. Bangunannya sejak tahun tahun 2001 belum pernah utuh menjadi sebuah masjid. Setelah bergonta-ganti panitia dan telah menghabiskan dana swadaya masyarakat lebih dari 100 juta rupiah, masjid ini pun masih belum beratap. Yang ada cuma reng baja.
Untuk melanjutkan pembangunan ke tahap pengatapan memerlukan dana tunai yang tidak sedikit kurang lebih 75 juta rupiah. Itu pun belum termasuk biaya pemasangan lantai, pemelesteran dan pengecatan dinding, pengadaan kusen dan kamar mandi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sudah banyak usaha yang dilakukan pengurusnya dalam hal penggalangan dana, mulai dari pengumpulan infak dan zakat penghasilan dari donatur, penitipan kotak infak di tiga SPBU, atau penyebaran banyak proposal. Tapi sampai jelang ramadhan 1427 ini pemasangan atap sebagai target utama selanjutnya tidak kunjung terealisir.
Akhirnya agar sholat tarawih bisa terlaksana di bangunan utama masjid—selama ini memakai bangunan kecil yang sudah ada di bagian bawah meskipun tidak layak untuk menampung banyak orang karena kurangnya ventilasi—maka pengurus pun berinisiatif untuk membeli terpal sebagai pengganti atap metal sambil menunggu terkumpulnya dana tersebut.
Maka terpasanglah sudah atap terpal plastik berwarna biru di masjid kami ini. Dan sudah tiga hari tiga malam ini kami melaksanakan sholat berjamaah di bawah atap itu. Jumlah jamaah pun meningkat—tidak sama saat masih di bawah. Ini dimungkinkan karena luasnya masjid dapat menampung mereka semua. Yang kami tidak bisa bayangkan adalah bagaimana kalau hujan deras benar-benar turun. Kuatkah terpal itu untuk menahan derasnya hujan? Allohua’alam. Kami berharap selama ramadhan ini tidak terjadi hal-hal yang dapat mengganggu aktivitas ibadah kami mengisi ramadhan.
Nah, di Sabtu Sore kemarin jelang 1 ramadhan 1427, di saat takmir masjid sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan shalat tarawih, datanglah tetangga saya—yang diikuti dengan sepasang suami istri bertampang arab. Yang laki-laki berpostur khas timur tengah, hitam, tinggi besar. Berbaju putih lengan panjang tanpa krah dan celana jin warna hitam. Sedangkan yang wanitanya berabaya hitam dengan cadar menutupi sebagian mukanya—walaupun ia tidak menutupi dengan rapat telapak kakinya yang sempat tersembul.
Yang laki-laki tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga saat dia berbicara diterjemahkan oleh istri tetangga kami—sebut saja Ibu Ning—yang sempat bermukim di Riyadh selama beberapa tahun. Yang perempuan sanggup berbicara lokal walaupun dengan logat yang aneh. Mungkin karena sudah kelamaan tinggal di bumi Nejed.
Ibu Ning memperkenalkan dua orang tamu tersebut sebagai keponakannya. Suami keponakannya itu—katanya masih keturunan kerajaan, entah menjabat sebagai apa, yang pasti sebutannya adalah Amir—ingin melihat langsung masjid di sini dan berdialog dengan para pengurusnya.
Memang beberapa tahun lalu kami pernah menyampaikan proposal kepada Ibu Ning untuk disampaikan kepada keponakannya. Tapi sampai detik ini tidak ada dana yang cair dari Arab. Ini mungkin dikarenakan suami keponakannya ini belum sempat untuk berkunjung ke tempat kami. Ia dikenal berhati-hati dengan permintaan proposal pembangunan masjid dari Indonesia, soalnya pernah kejadian ternyata masjid yang dibangun tidak sesuai dengan dana yang diberikan. Dana yang diminta tinggi tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang di proposal atau yang dibangun cuma musholla kecil. Istilahnya ada markup dana masjid bodong.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan kami, sang Amir ini pun langsung saja ambil gambar dengan telepon genggam berkameranya. Atap terpal, dinding yang tidak berplester, lantai semen, dan banyak lagi gambar yang diambil olehnya. Setelah itu ada beberapa pertanyaan yang diajukan olehnya. Satu yang menggelitik adalah: ”masjid ini masjid ahlul bid’ah bukan?” Yang ia maksud adalah sering diadakan acara-acara bid’ah di sini. Soalnya kalau benar demikian, ia tidak akan menyumbang. Kalau menyumbang ia merasa berdosa. Sang ketua takmir, menjawabnya dengan mantap: ”Insya Allah tidak”. Dalam hati saya berkata: ”Ya…Amir, kalau ente bilang bid’ah, belum tentu bid’ah bagi kami”.
Pertanyaan yang lain adalah ”apakah pengurusnya amanah?. Pertanyaan ini dijawab sendiri oleh Ibu Ning dengan nada penuh percaya diri, ”Insya Allah amanah.”
Namun saat sang Amir ini melihat halaman judul proposal di mana nama Masjid Al-Ikhwan ditulis dengan huruf besar-besar, sang Amir protes dan mengusulkan untuk diganti saja. Maksudnya biarlah nama masjid yang ditulis di proposal yang diubah. Dengan nama apa pun boleh asal jangan Al-Ikhwan.
Ketika ditanya mengapa demikian? ”Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, orang nanti takutnya tidak mau pada menyumbang.
Wow…mantap sekali. Kami berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Bila yang benar adalah yang pertama, maka pertanyaan saya adalah sampai sejauh itukah kebencian terhadap Ikhwanul Muslimin terjadi? Sampai ke akar rumput. Atau cuma di akar rumput. Soalnya dari apa yang saya lihat terdapat buku-buku hasil dari tesis dan disertasi di sana yang membahas tema Ikhwanul Muslimin ini dan ini tidak menjadi masalah. Atau ini karena kedewasaan berpikir dan keilmiahan yang menjadi tradisi dari kalangan akademis sana. Allohua’lam, karena saya tidak pernah hidup di tanah arab.
Setelah kami mengganti kaver depan proposal pembangunan masjid dengan nama yang lain, Masjid Citayam —istrinya sempat mengusulkan diganti menjadi Jannatul Khuld—kami pun dijanjikan bahwa Insya Allah ramadhan akan menjadi bulan barokah buat masjid kami ini. Maksudnya ia bertekad akan menuntaskan tahap pengatapannya. Karena banyak kawannya yang rajin berinfak dan sangat senang membangun masjid—sebagai bekal rumah di surga—di saat bulan ramadhan. Kami cuma bisa bersyukur saja. Namun tidak harap-harap cemas karena sudah banyak kami diberi janji tapi nihil realisasi.
***
Setelah mereka pergi, sore itu saya mendapatkan pelajaran ’penting’ bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Padahal belum pernah saya menemukan dalilnya bahwa memberikan infak itu harus melihat nama mustahiqnya terlebih dahulu. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? Allohuta’ala a’lamu bishshowab.

Kader Masjid Al Ikhwan 
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:46 26 September 2006

Untuk Tibo di Akhirat


di sebuah milis ada sebuah puisi yang luput dari perhatian, lalu tak sengaja terbaca. Membaca puisi (dilampirkan di bagian bawah) itu sepertinya lupa dengan fakta nyata pembaintaian itu, maka saya buatkan puisi ini.

UNTUK TIBO DI AKHIRAT
by: Riza Almanfaluthi

Untuk sebuah ketidakadilan
dimanakah kehidupan akan ditanam
bahkan dalam mimpi pun tidak akan pernah usai bercerita
tentang kepedihan anak-anak Walisongo

dengan tubuh bersimbah darah
daging yang terserpih di tanah kering
dan melaut dari aliran sungai
ada jejak-jejak kebengisan tawamu
keangkuhanmu, kebencianmu
menyelip di antara kilau parang-parang
yang kini berwarna merah segar

tapi sungguh kemunafikan
mengendemi pada segelintir watak
menuntut keadilan pada dunia
tapi mudah lupa pada dosa diri

ah, betapa banyak orang tertipu
dengan fiturmu di televisi dulu
seakan engkau seorang hamba Tuhan terbaik di dunia
padahal engkau adalah seperti yang terusir dari surga

ah, betapa banyak yang menyoraki kemunafikan itu
bahkan dengan air mata buaya
merintih-rintih pada waktu yang menjepit
bebaskan…bebaskan…

ah, kini serapah itu tinggal kenangan
bahkan serapah itu cuma ada di hati para pembuat syair
ah, dunia kini aman tanpamu…
mungkin saat ini
di sana
di akhirat
engkau sedang dituntut anak-anak Walisongo itu
pembelaan apa lagi yang akan engkau berikan…?
dari siapa lagi engkau harapkan…?
dari penyair dunia?
lupakan saja

22 September 2006

—– Original Message —–
From: “LEONOWENS SP”
To:
Sent: Thursday, September 21, 2006 6:28 PM
Subject: [FLP] [POETRY] UNTUK TIBO DKK.

UNTUK TIBO DKK.

Untuk sebuah keadilan.
dimanakah kematian akan dituai?
tidak! tidaklah demikian keadilan itu
ketika kematian hanyalah sepenggal hasrat
demi mencari serpihan jerit keadilan

Untuk sebuah kebenaran.
dimanakah kemunafikan ditabur?
oh, kebenaran yang tergenggam kemunafikan
sangatlah erat! hingga kemunafikan adalah bahasa
demi mengubur sejatinya kisah kematian

Untuk sebuah kebajikan.
dimanakah kisah dusta terlahir?
ya, kebajikan yang dirahimi oleh dusta
dipersembahkan demi keangkuhan sang malapetaka
hingga kebajikan itu lumat, tiada berjejak.

Oh. ketika jeritmu kepada keadilan!
merintih pilu di malam yang sarat kepedihan
untuk sebuah kematian yang bukanlah kau penentunya
demikian dengan takdirmu, tergores dalam, sangatlah dalam.
oleh kuku-kuku sang penguasa, menancap kokoh di bumi yang celaka
dan segala luka rasamu, diperihkan oleh tawa penjunjung dusta
kini, kau di sebuah malam penantian. akan kulukis jeritan
‘tuk penuhi segala serapahku di bumi yang meronta.

September 2006, Leonowens SP

19 September 2002


19 September 2002

Kebiasaan setiap pagi yang saya lakukan sesaat sebelum berangkat ke kantor adalah melihat dua prajurit saya yang masih terlelap tidur itu. Lalu saya tatap wajah-wajah polos mereka. Mengelus-elus kepala dan mencium pipi-pipi mereka. Sungguh pada saat itulah kebahagiaan itu terasa hinggap. Seiring beratnya rasa untuk meninggalkan mereka. Ada sepucuk doa terselip untuk mereka, semoga Allah mengekalkan kebersamaan ini sampai di jannah-Nya.
Bagaimana tidak bahagia, jikalau saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa itu di tengah waktu yang seakan mendera saya dengan rutinitas setiap harinya. Pergi saat matahari belumlah muncul, dan pulang saat matahari sudah tenggelam di peraduannya. Maka pertemuan dan kebersamaan itu terasa singkat di setiap malamnya saat bergumul dengan keceriaan mereka. Saat si sulung mengulang kembali pelajarannya dan saat si bungsu ini mencoba dengan terbata-bata mengulang hafalan bunyi hurufnya. Lalu malam kian menjelang dan tidurlah mereka kembali dibalut mimpi di kamar yang terpisah.
Sebelumnya kembali rutinitas mengasyikkan dilakukan dengan merangkul mereka satu-persatu.
”Ayo Haqi, peluk Abi dulu,” pinta saya. Haqi pun bergegas menghampiri saya, dan saya memeluknya dengan erat, erat sekali. Tidak sekadar pelukan biasa. Saya usahakan tangan si Haqi pun memeluk punggung saya. Agar terasa kehangatannya. Agar terasa kasih sayangnya.
“Ayo cium Abi…”pinta saya lagi. Lalu ciuman itu mendarat di bibir dan kedua pipi saya. Terakhir ciuman saya mendarat di keningnya. Begitu pula saya lakukan kepada si bungsu.
Indah sekali rasanya. Ada keinginan abadi untuk selalu melakukan ini, tapi sungguh saya tak bisa mengekang waktu agar berhenti berputar untuk kedua anakku agar senantiasa mereka tetap menjadi anak-anak yang lucu supaya saya dapat dengan leluasa mencium mereka sepuasnya. Tentunya ini melanggar sunnatullah yang sudah semestinya ada pada diri mereka. Ah, biarlah mereka tumbuh apa adanya.
Pagi ini, saya mengulangi ritual itu. Kali ini saya mencium cukup lama Ayyasy—si bungsu—karena saya tahu hari ini Allah masih berkehendak menitipkannya padaku genap empat tahun. “Sudah besar pula, kau nak rupanya,” batinku.
Maafkan Abi jika sempat-sempatnya Abi ini memelototimu saat kau masih saja bergurau di tengah-tengah sholat berjamaah di masjid. Atau saat Abi menolak dengan keras keinginanmu untuk jajan permen selalu. Ah, kiranya sudah terlalu banyak hitungan Abi ini menolak pintamu.
Tapi nak, Abi masih ingat sekitar dua bulan yang lalu, saat di rumah yang ada hanya kita berdua. Kau pergi saja tanpa pamit ke luar rumah tanpa meminta izin kepada Abimu ini yang sedang berkutat dengan asyiknya di depan komputer. Dan menyadari bahwa rumah ini sudah sepi dari riuh rendah suaramu saat bermain sendiri dengan mainanmu itu.
Abimu memanggil tapi tiada bersaut. Di belakang rumah, di kamar, Abi pun sempatkan untuk membuka lemari—teringat dalam sebuah artikel ada seorang anak yang terjebak lama di lemari es, tapi tiada menemukan engkau. Abi mencoba mencari ke rumah tetangga sebelah, lalu menjauh ke tetangga-tetangga jauh lainnya di satu RT bahkan di lain RT dan hasilnya tetap sama, tiada Abi ini menemukan engkau. Ah Abimu ini panik, nak.
Pikiran buruk pun menghampiri. Ah, jangan-jangan engkau diculik nak. Bergegas Abimu ini mencari ke tempat yang lain. Syukurnya Abimu ini bertemu dengan wanita tua peminta sumbangan yang sempat bertemu denganmu, saat engkau memberinya dengan tangan mungilmu itu.
“Bu, ibu melihat anak saya yang ngasih uang kepada ibu tadi tidak?”
“Oh ya, si eneng itu yah…” Ibu itu menganggapmu anak perempuan, Ayyasy. 
“Memang setelah ngasih ibu, dia langsung pergi keluar, makanya Ibu tadi tanya, mau kemana neng? Tapi dia diam saja.” jelas si Ibu.
“Kemana arahnya, Bu?” tanya Abimu. Sang Ibu menunjuk ke arah selatan. Ke arah warung yang menjadi favorit Ayyasy untuk membeli jajanan kesukaannya. Tidak jauh dari tempat Abimu ini berdiri.
”Ah, mengapa tidak terpikir oleh Abimu ini nak, hingga melupakan tempat itu,” batin Abimu.
Bergegas menghampiri, di sana, di dekat warung itu, bergerombol anak-anak yang sedang bermain kelereng. Di pinggirnya, terlihat engkau berdiri menatap mereka sambil mengemut permen merah berbentuk telapak kaki itu.
”Ah, Ayyasy, Ayyasy…akhirnya engkau ada di sini.” Saya peluk ia, erat. Saya gandeng tangannya pulang ke rumah. Lega rasanya, di samping tumpukan rasa bersalah padanya karena membiarkan ia pergi sendirian dan tak menemaninya bermain.
”Kalau mau pergi bilang-bilang dulu yah…”pinta saya padanya.
Kini, pagi ini, memori kilas balik pun terpajang. Saat kami—Abi dan umimu ini—hidup dalam keprihatinan. Hingga premi asuransi jiwa ummimu yang niatnya kekal itu terpaksa dibatalkan agar bisa diambil untuk membiayai persalinanmu. Masih terasa dinginnya lantai saat Abimu ini sujud syukur di rumah bidan bersalin mendengar proses persalinan lancar-lancar saja.
Masih terasa indahnya sebagai hadiah kelahiranmu adalah Abimu ini lulus diklat jurusita dan ujian skripsi. Ah…rejekimu adalah rejeki buat Abimu. Lalu tumbuh kembanglah engkau meniti waktu bersama Abi dan Ummimu. Menangis, berceloteh, berteriak, merangkak, tertatih-tatih berjalan, jatuh dari ranjang goyangmu, berbicara terbata-bata hingga lancar walaupun sekarang huruf r-mu masih tidak jelas seperti Abimu, bertengkar dengan kakakmu, dan saat ini engkau masih saja lucu dengan baju seragam TK-mu yang kebesaran itu. Ya, masih saja lucu…
Selamat ya Nak…Abimu masih saja berusaha bersyukur kepada-Nya karena IA senantiasa mempercayai Abimu untuk menjagamu, memilikimu. Selamat nak, semoga ini akan terbaca olehmu kelak dewasa. Semoga pula kita dikumpulkan di jannah-Nya, bersama kakakmu, Abimu, dan Ummimu tentunya.
Kabulkanlah ya Allah….

Ps. Belum sempat Abimu ini membuat syair seperti dulu.

Mohammad Fauzil Adhim:
Tetapi, seperti kata Nabi, ”Barangsiapa tidak menyayangi, dia
Tidak akan disayangi.” Man la yarham, la yurham. (HR. Muslim). Pesan Nabi
saw. ini mengingatkan saya pada peristiwa yang disebut dalam hadis shahih
riwayat Bukhari. Suatu saat Rasulullah saw mencium cucunya. Seorang
pembesar bernama Aqra’ bin Habis At-Tamimi melihatnya, lalu
berkomentar, ”Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang
pernah kucium.” Rasulullah saw lalu menjawabnya dengan
ungkapan yang fasih, ”Apa dayaku bila Allah telah mencabut kasih-sayang
dari hatimu!”

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:24 19 September 2006

Siapa Teroris? Siapa Khawarij?


Siapa Teroris? Siapa Khawarij?
(ini bukan resensi)

Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik.
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur.
Buku ini adalah bantahan dari sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Luqman Ba’abduh yang berjudul ”Sebuah Tinjauan Syari’at: MEREKA ADALAH TERORIS!” (untuk selanjutnya disingkat MAT). Buku ustadz Luqman ini awalnya diniatkan untuk menjawab buku ”Aku Melawan Teroris!” karya Imam Samudera. Tapi seperti diungkapkan sendiri oleh Akaha di kaver belakang bukunya, bahwa ternyata buku itu secara membabi buta mengarahkan semua tuduhannya ke berbagai kelompok pegiat dakwah Islam lainnya selain salafi yang tidak ada hubungannya dengan Imam Samudera, terorisme, dan aksi bom bunuh diri.
Maka muncullah buku berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Ini. Buku yang walaupun berformat bantahan, tetapi diusahakan oleh sang penulisnya untuk senantiasa menjaga etika dan batas-batas kesantunan dalam tutur kata dan gaya bahasa penulisannya. Maka pembaca dapat membandingkan sendiri bagaimana etika itu dimunculkan oleh masing-masing penulis ini. Mana yang lebih santun dan mana yang sebaliknya.
Tidak berpanjang lebar dalam berkata-kata, berikut apa yang saya tangkap setelah membaca buku ini:
1. Desain kavernya (hardcover) bagus. Berlatar belakang warna hitam dengan api yang menyala-nyala seperti seakan-akan membakar kaver buku MAT. Kaver depan MAT pun terdapat ilustrasi api yang membakar buku Imam Samudera itu;
2. Peletakkan isi buku pun layak untuk disebut bagus karena sudah diperhitungkan agar para pembaca mudah untuk menikmati isi buku ini;
3. Referensi yang banyak pada catatan kaki. Ini dimungkinkan karena penulis adalah salah satu manajer Pustaka Al-Kautsar—penerbit buku ini. Sehingga data dan informasi otentik yang dibutuhkan lebih mudah didapat. Tidak perlu aneh karena Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit buku-buku terjemahan dari Timur Tengah.
4. Membuat saya lebih memahami tentang arti sebuah perbedaan pendapat;
5. Satu yang pasti adalah buku ini menjawab hampir semua pertanyaan dan tema kontroversial di forum diskusi DSH;
6. Saya tidak bisa menuliskan kelebihan (yang tentunya terdapat pula kesalahan di dalamnya karena yang pasti sempurna adalah Alquran) yang ada pada buku ini, karena saking banyaknya. Saran saya buku ini layak untuk dibaca bagi para penggiat dakwah.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:56 18 September 2006