THE KINGDOM


THE KINGDOM
by: Riza Almanfaluthi

Pada tanggal 20 Oktober 1973, dengan nama Allah dan berdasarkan agama yang diturunkan pada Muhammad 1400 tahun yang lalu di Mekah dan Madinah, raja Faisal dari Saudi Arabia mengemukakan jihad melawan Israel dan negara-negara yang membantunya. Sebagai bagian dari jihad tersebut ia menetapkan embargo penuh pada pengiriman minyak kerajaan ke Amerika Serikat. Sejak saat itulah keadaan di dunia begitu berubah.
Di tahun 60-an, dunia barat dan Jepang membayar kurang dari 2 dolar Amerika Serikat setiap barel untuk minyak yang mereka terima dari Saudi Arabia dan negara-negara Timur Tengah. Harga 1,80 dolar untuk 42 galon Amerika, tak lebih dari sekitar 4 sen dolar setiap galonnya. Satu dasawarsa kemudian dunia barat harus membayar 32 dolar untuk 42 galon—suatu kenaikan rata-rata 264 persen pertahunnya! Tak heran bila Saudi Arabia menjadi begitu kaya. Dan dunia barat merasa begitu miskin.
Tampak jihad raja Faisal itu telah menjadi salah satu titik penting dalam sejarah abad kedua puluh ini. Embargo minyak yang dipelopori oleh Faisal, kemudian diikuti oleh ledakan harga energi sebagai akibatnya, mengawali pergeseran kekayaan dunia secara besar-besaran, mengalir kekayaan dalam jumlah yang tak pernah terjadi sebelumnya.
***
Tiga paragraf di atas adalah sebuah kutipan pembuka dari sebuah buku lawas yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul KERAJAAN PETRODOLAR SAUDI ARABIA. Buku yang diterbitkan tahun 1986 oleh Dunia Pustaka Jaya dengan jumlah halaman sebanyak 663 ini tanpa sengaja saya temukan di pedagang buku Stasiun Kalibata saat menunggu kereta rel listrik.
Kondisinya masih sangat bagus, tidak terlihat seperti buku lama. Walaupun sudah berwarna kekuningan. Ini mungkin buku baru yang tidak laku atau belum sempat terjual. Yang menarik saya cuma membelinya dengan harga Rp12.000,00 saja setelah sang pedagang menawarkan dengan harga Rp15.000,00 sebelumnya.
Buku yang berjudul asli The Kingdom ini merupakan hasil riset yang dimulai pada Agustus 1977 yang dilakukan oleh penulis selama ia diizinkan tinggal di sana untuk beberapa tahun. Ia melakukan banyak wawancara dengan para petinggi seperti raja Saudi Arabia pada saat itu King Khalid ibn Abdul Aziz, dan para pangeran serta bangsawan-bangsawan dari dinasti Saud, plus dukungan dari Pusat Riset Raja Abdul Aziz.
Tak pelak buku ini menceritakan dari awal bagaimana dinasti ini didirikan. Dari semula hanya orang-orang badui yang hidup di padang pasir yang membakar dan menyiksa keluarga mereka dengan kekeringan, kemiskinan, kelaparan, pun anggapan sebagai suku yang terlalu mengikuti naluri, tak punya rasa keindahan, keingintahuan, selera halus, filsafat, kesenian tulis, seni rupa, bahkan tak punya dongeng-dongeng yang pelik sampai kepada perubahan drastis di mana mereka menjadi penguasa karunia Allah di muka bumi, penguasa jaringan sisa-sisa berlemak di bawah permukaan bumi, penguasa genangan hitam yang menggelegak: minyak bumi.
Mereka menjadi yang paling dihormati di seluruh dunia, penguasa yang bisa menentukan damai dan tenteramnya kehidupan perpolitikan dunia. ”Dan jikalau saja bukan karena adanya suatu keanehan yang terjadi pada lapisan bumi tempatnya berpijak, maka dunia barat pastilah tak akan peduli apa yang terjadi dengan raja Khalid. Kalau saja buminya itu tak mengadung apa-apa, maka penghuni kerajaan Saudi Arabia akan bebas menikmati padang pasir mereka, sajak-sajak mereka atau kenehan apa saja yang ada dalam kehidupan mereka. Paling-paling mereka akan menarik perhatian bila sekali-sekali majalah ilmiah seperti National Geographic memuat artikel bergambar tentang mereka,” ungkap Lacey.
Tetapi Syaikh Ahmad Zaki Yamani—Menteri Minyak Saudi Arabia saat itu—mengatakan:
”Negara barat melihat kami hanya sebagai sebuah negara yang ada hanya untuk mengisi tangki mobil. Tetapi pandangan itu terlalu moderen untuk Arabia. Dan itu bukanlah pandangan kami dan juga bukan pandangan jutaan orang di seluruh dunia yang sama-sama menganut agama kami.”
”Kalau Anda ingin mengerti tentang Saudi Arabia, Anda harus mengerti bahwa 1400 tahun yang lalu Allah telah menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad di kota-kota suci Mekah dan Madinah. Kedua kota tersebut begitu jauh terpisah dari padang-padang minyak kami, tetapi masih tetap merupakan bagian dari Arabia kami. Dan bagi kami, keduanya jauh lebih penting dari apapun juga.”
”Itulah sebabnya orang-orang di negara Muslim yang miskin menyapa aku. Karena aku datang dari Mekah! Inilah yang paling berarti. Tentang Mekah dan Islam-lah orang-orang itu mengajakku berbicara. Jadi kalau aku ditanya, apa yang menjadi tulang punggung Kerajaan kami ini, maka akan kujawab, di atas segala-segalanya adalah Islam. Bukan minyak. Suatu hari kami akan kehabisan minyak. Tetapi kami takkan pernah kehilangan Mekah dan Madinah.”
Subhanallah, pernyataan yang keluar dari hasil wawancara yang dilakukan penulis di bulan November 1980 dan Mei 1981 itu, terasa gaungnya hingga saat ini, saat waktu telah berputar 26 tahunan. Adanya semangat persaudaraan yang memang dibutuhkan sekali untuk dunia Islam saat ini menghadapi kezaliman-kezaliman penguasa dunia yang menyetir dengan boneka-boneka untuk memuaskan nafsu kolonialismenya. Tapi sayangnya gaungnya yang terasa adalah gaung yang semakin melemah.
Dalam buku tersebut diceritakan pula tentang bagaimana Abdul Aziz merebut Riyadh sampai ia menakhlukkan Nejd daerah pedalaman Saudi Arabia dengan dukungan dari Kaum Muwahiddun (Salafy) dan tentunya mengusir keturunan Nabi Muhammad yaitu Ibnu Rasyid sebagai penguasa Mekah dan Madinah pada saat itu.
Pengusirannya terhadap Ibnu Rasyid mengakibatkan ia harus berhadap-hadapan dengan dengan Kekhilafahan Turki, menyebabkan ia harus menerima gencatan senjata karena sampai saat itu pertempuran yang terjadi tak menyebabkan salah satu dari mereka kalah atau menang.
Bulan Pebruari 1905 Turki mengakui kekuasaan Saudi di Nejd, sebaliknya Abdul Aziz menerima pengangkatan dirinya sebagai qaimaqam (komisaris distrik). Ini berarti Abdul Aziz menerima kenyataan akan adanya kekuasaan Turki di atasnya, sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan sikap antiTurki-nya sebelum itu.
Suatu sikap yang nantinya pun akan selalu ia terangkan kepada setiap tamunya, bahwa dahulu ia mau mengaku tunduk pada Sultan Turki hanya karena terpaksa oleh keadaan. Sebagai seorang Wahabi, kata Abdul Aziz, ia takkan pernah bisa menerima tuntutan Sultan yang mengaku bergelar khalifah, sebab cara orang Turki menjalankan ajaran Islam sungguh sangat menyimpang dari garis yang benar. Oleh karena itulah pendahulunya dulu—Muhammad Ibn Saud—pernah melarang para peziarah yang dilindungi oleh Khalifah untuk berziarah menuju Mekah dan Medinah, dan hal inilah yang membuat marah besar Khalifah yang menganggap dirinya sebagai pelindung dua tempat suci.
Masih banyak hal yang menarik diungkap di buku ini, misalnya tentang bagaimana penyikapan suku badui ini di kala mereka menjadi orang kaya baru, intrik sesama saudara, pembunuhan, perebutan kekuasaan, pemborosan, dan korupsi, November gelap di tahun 1979, penyikapan terhadap Syiah dan Al-Ikhwan, kegemasan Onassis terhadap pembentukan OPEC, permusuhan terhadap Biarawan Zion*)dan penerimaan kerajaan terhadap investasi Pepsi daripada Coca-Cola.
Saya merasa beruntung sekali mendapatkan buku bagus seperti ini.Walaupun belum seluruhnya terbaca, tapi saya merasa yakin sedari awal, buku ini akan membuat saya mengetahui secara detil masa lalu Saudi Arabia hingga masa awal 80-an. Setidaknya ini akan memberikan gambaran utuh dari Saudi Arabia masa kini. Muhammad Abduh mengatakan masa lalu adalah bagian dari masa kini sehingga tidak mungkin dilupakan begitu saja. Sehingga bisa memahami apa dan kenapanya pewaris kerajaan petrodolar saat ini bertindak, yang menguntungkan saudara-saudaranya seiman di seluruh dunia atau hanya memuaskan dahaga keduniawaian semata.
Sejarah yang sedikit dibahas waktu smu dulu kini terbentang dengan detilnya dalam satu buku yang merupakan ramuan—seperti diakui penulisnya—dari peristiwa sejarah, hasil pengamatan pribadi, desas-desus di pasar, ramalan masa depan, ditambah dengan kenangan orang-orang tua yang masih ingat tentang keadaan dunia mereka, dunia yang bagi kita bagaikan tertinggal berabad-abad yang lalu.
***
Kita bukannya sekadar pembuat slogan belaka. Apa yang kita katakan akan kita kerjakan. Jika mereka memandangmu dengan sebelah mata, katakan bahwa Allah memberkati rasul-Nya dan bangsa negara ini. Kalian adalah keturunan para pahlawan jaman bahari, kalian anak cucu mereka yang berjuang di samping nabi. Jadilah madu bagi mereka yang bersahabat dengan mu, jadilah racun bagi musuh-musuhmu. (Raja Faisal bin Abdul Aziz, 1973)
***

*) Suatu kebetulan semata bahwa persis sebelum membaca buku ini, saya membaca buku Rizki Ridyasmara yang membahas tentang Biarawan Zion ini secara detil di Knight Templar Knight of Christ (2006).

Maraji: Robert Lacey, Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia, Cet-I, 1986, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta;

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
Citayam Siang
15.00 01 Pebruari 2007

NYAR’I ITU BERKAH


Dua wanita yang saya kenal ini fotonya terselip di antara foto-foto yang terpampang pada satu halaman penuh iklan salah satu perusahaan asuransi syariah terkemuka di Indonesia. Dua wanita yang pernah saya ceritakan dulu setahun lalu pada tulisan saya yang berjudul: Memilih di Antara Dua Wanita (tepatnya di http://10.254.4.4/isi_partisipasi.asp?dsh=4875). Mereka masing-masing mendapatkan penghargaan Diamond dan Silver Club Member Agency. Hebat euy, fotonya jadi dikenal ke seluruh Indonesia.
Perempuan yang mendapatkan penghargaan Diamond—sebut saja Sumaryanti –saya mengenalnya walaupun belum pernah deal closing dengannya. Sedangkan sosok satunya lagi yang mendapatkan penghargaan silver, Lasmawati, saya sudah menitipkan dua asuransi pendidikan anak saya melaluinya.
Lalu apa kaitannya dengan saya? Tidak ada sih. Cuma saya merasa bangga saja terhadap mereka dan tentunya dengan perkembangan asuransi syariah ini. Bangga yang diiringi dengan komitmen. Komitmen saya untuk membuktikan bahwa sesuatu yang ”nyar’i” itu membuat berkah selalu teruji di saat banyak para agen asuransi mendatangi saya dan membujuk saya untuk bisa ikut programnya. Selalu pertanyaan ini yang keluar dari mulut saya: ”syariah atau konvensional?”.
Bila yang terakhir, maaf-maaf saja saya sudah menolaknya sedari awal agar ia tak membuang-buang waktunya untuk mempengaruhi saya beralih dari syariah, walaupun sudah jelas keuntungan yang didapat dari asuransi syariah lebih kecil dibandingkan yang konvensional. Namun demikian, setidaknya untuk saat ini—saya berharap pula sampai akhirnya—ada sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dan tak bisa terlampaui walaupun dengan seribu keunggulan asuransi konvensional: keberkahan. Itu saja.
Wujudnya apa? Yah, semisal lancarnya pembiayaan pendidikan anak saya, ketenangan dan kedamaian dalam mendidik mereka, hingga harapan akhir adalah hasil yang didapat: menjadi orang yang sukses dalam mengarungi samudera ilmu. Tidak muluk-muluk. So, nyar’i itu berkah.

Maraji: Republika, Kamis 22 Pebruari 2007.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
22 Pebruari 2007. 11:39
”tiba-tiba teringat, rumah saya masih
dicicil konvensional selama 9 tahun lagi. duh…”

‘SYAHWAT’KU MENGGELORA


Saya dulu pernah menceritakan keengganan saya untuk membeli buku dikarenakan tiada tempat lagi untuk menaruhnya di berbagai sudut rumah saya. Entah di lemari buku yang sudah over loaded dan reot itu hingga di atas ranjang atau di dapur. Kini setelah saya memesan sebuah lemari buku buatan seorang perajin lemari, syahwat saya membeli buku semakin memuncak.

Apalagi setelah saya membaca iklan yang ditampilkan oleh sebuah penerbit buku Islam kenamaan yang menampilkan buku-buku terbarunya, wuih membuat saya semakin ngiler untuk dapat memilikinya. Tapi sayangnya hasrat saya ini adalah hasrat yang terlalu berlebihan. Soalnya buku yang saya beli terkadang buku yang tidak bisa saya habiskan dalam sekali baca. Biasanya buku ini berkategori buku yang tidak memenuhi keinginan terdalam dari diri saya, yakni buku-buku yang berkadar referensi, bukan buku yang bergenre sejarah dan cerita. Alhasil buku itu cuma menjadi pajangan semata. “suatu saat pasti diperlukan,” pikir saya mencari pembenaran.

“Loh, kenapa dibeli?” pertanyaan yang sering diajukan oleh beberapa teman menanggapi keluhan syahwat saya ini. Ya, saya sering terjebak kreativitas cover designer dari para penerbit. Mungkin mereka sudah mengadakan riset dan sudah bisa menebak jalan pikiran calon pembaca dan tentunya pembeli, sehingga dapat menyentuh alam bawah sadarnya dan mendoktrin dengan sebuah ungkapan “sampulnya bagus tentu isinya bagus”. Ditambah dengan judul buku yang eye catching dan menggugah kepenasaran, plus endorsement di bagian belakang buku yang memuji setinggi langit isi buku tersebut membuat gedoran hasrat untuk membaca semakin nyaring diperdengarkan.

Tentunya jika syahwat ini tidak tertahankan anggaran keuangan bisa jebol juga. Oleh karena itu saya harus benar-benar menyeleksi dan merencanakan buku apa saja yang harus saya beli sesuai dengan selera alamiah saya. Tak perlu memaksakan buku yang di luar minat saya itu harus dibeli karena mentang-mentang bukunya ber-hard cover, dan judulnya bagus.

Kini saya punya catatan kecil di sebuah agenda besar buku-buku apa saja yang dalam waktu dekat ini harus saya beli demi memuaskan hasrat intelektualitas–mohon jangan disalahtafsirkan dengan ungkapan yang hiperbola seperti “saya adalah orang yang paling pintar”, karena saya belum menemukan diksi yang pas untuk menggambarkan kalimat ini: “keinginan membaca yang menggelora” dan pada dasarnya semua orang punya nilai intelektualitasnya masing-masing–terdalam saya. Ini buku-buku dalam rencana itu:

1. Akidah Salaf & Khalaf: Kajian Komprehensif seputar Asma’ wa sifat,
Wali & Karamah, Tawassul, dan Ziarah Kubur, DR. Yusuf Al-Qaradhawi;

2. Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah;

3. 60 Biografi Ulama Salaf;

4. Knight Templar;

5. VCD Bedah Buku: Siapa Teroris Siapa Khawarij (2 keping);

6. Thesaurus Bahasa Indonesia, Eko Endarmoko.

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh saya dan juga pembaca tentunya adalah kiranya perlu untuk seksama melihat isi buku, dan jangan berpatokan pada sampulnya, kata Tukul sih: DON’T JUDGE THE BOOK BY THE COVER. Karena sering saya lihat ada banyak buku yang terbitan lama di tahun-tahun lalu, di-remark, diganti dengan sampul yang lebih baru dan indah, juga terkadang dengan judul yang baru oleh penerbit lama atau bahkan diterbitkan oleh penerbit baru. Sehingga bila kita tidak peduli dengan satu hal kecil ini, bisa-bisa kita membeli buku yang sudah kita punyai.

Contohnya, saya perlu mengecek ulang dengan koleksi saya yang sudah ada untuk buku nomor satu dan nomor dua. Soalnya saya punya buku dengan tema yang mirip yang ditulis oleh penulis yang sama Dr. Yusuf AlQaradhawy, judulnya panjang jadi saya tidak tahu persis tapi isinya seputar “mimpi, ilham, dan kasf bisakah dijadikan hujjah”. Juga seingat saya, saya sudah punya buku tentang tokoh-tokoh besar Islam, tapi perlu dicocokkan apakah tokoh-tokoh yang diungkap itu sama atau tidak.

So, ini mungkin upaya kecil untuk menahan ‘syahwat’ saya. Beli buku yang dibutuhkan saja. Buku yang membuat saya terperangah dan bisa menikmati hidup. Hal ini mengingatkan saya tentang perjalanan dari Jakarta menuju Semarang beberapa bulan yang lalu dengan ditemani sebuah buku bagus, membuat perjalanan itu tiada terasa lamanya. Bahkan saking menariknya, saya sampai mengirim pesan singkat kepada teman-teman saya yang ada di Surabaya dan Jember untuk membaca buku itu.

Upaya yang mungkin tak berarti seandainya saya kembali mengunjungi pameran buku dan pedagang Kramat Raya yang menjajakan ribuan buku, karena godaannya sungguh luar biasa. Tapi saya pikir semuanya dimulai dari hal yang kecil. Menyusun paradigma kecil: Beli Buku yang Dibutuhkan Saja.

Demikian.

riza.almanfaluthi at pajak.go.id

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:29 15 Pebruari 2007

MADE IN SAUDI ARABIA


MADE IN SAUDI ARABIA

Kurang lebih enam belas tahun yang lalu, di saat saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas dua, saya mendapatkan hadiah dari seorang paman yang baru saja kembali dari bekerja di Arab Saudi. Hadiahnya berupa roll-On perfume seukuran pulpen yang biasa saya pakai. Yang istimewa dari parfum ini adalah wanginya—yang menurut saya—sangat luar biasa harumnya. Lembut dan—kata orang Jawa—ngangeni (dirindui).
Saya sungguh merasakan kebahagiaan luar biasa saat mendapatkan hadiah itu. Alhasil saya pun selalu memakainya setiap pagi. Bahkan saya membawanya ke sekolah agar saya senantiasa tetap wangi sepanjang hari. Agar semua orang tahu bahwa saya memakai parfum dari luar negeri: Made in Arab Saudi. Kalau perlu bikin pengumuman di papan majalah dinding, nih Riza pake parfum oiy…!!! Maklum masih norak. (Ke…ke…ke…)
Tapi lama kelamaan parfum ini habis juga. Akhirnya saya meminta kepada Ibu untuk mengingatkan sang paman kalau pulang lagi ke tanah air agar membawakan saya parfum yang sama.
Di tengah-tengah penantian bertahun-tahun, sang paman pun kembali saat saya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Kali ini ia tidak membawa parfum itu, yang ia bawa dan dihadihkannya kepada saya adalah sebuah kalkulator FX merek Jepang dan sebuah jam tangan berwarna kuning emas. Dua hadiah ini sangat berguna sekali bagi saya, karena kalkulator itu memang sangat dibutuhkan pada waktu itu untuk membantu penyelesaian soal-soal matematika. Sedangkan jam tangan bisa membantu menaikkan nilai dari penampilan saya yang sudah pas-pasan ini, maklum saat itu saya sudah puber. (Hi…hi…hi…).
Tapi tetap saya memendam kekecewaan, karena parfum yang saya idamkan bertahun-tahun itu tidak kunjung saya dapatkan. Saya berharap sang paman tidak melupakan permintaan saya ini suatu saat kelak. Atau kalau perlu tidak usah menunggu kembalinya sang paman agar bisa mendapatkan parfum itu. Kalau saya ada uang saya mungkin bisa membelinya. Tapi tak pernah kesampaian juga.
Saat saya di kampus, dengan banyaknya kegiatan, saya hampir saja melupakan wangi parfum itu. Tetapi dalam kesendirian, ketika kerinduan kepada kampung halaman begitu membuncah, saya pun kembali teringat aromanya.
Pun di saat saya sudah bekerja dan diberikan Allah rezeki dan kehidupan yang lapang, saya masih berusaha mencari wangi khas itu di kala saya berkunjung ke supermarket atau mal.
Namun saat saya ditanya oleh pramuniaga, merek apa, wangi yang seperti apa, saya tidak bisa menjawab karena saya sudah benar-benar lupa merek dari parfum itu (mereknya bertuliskan huruf Arab yang tidak pernah saya ingat). Dan wanginya itu pun tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Hidung saya masih menolak setiap parfum yang disodorkan kepada saya. Bukan ini. Bukan itu.
Di lapak-lapak kaki lima yang menjual parfum nonalkohol, saya pun sudah mencarinya. Ada parfum yang hampir menyamai wanginya: wangi misk. Tapi saya masih kurang sreg. Sepertinya ada sesuatu yang gimana gitjcu… Di toko Arab yang menjual bibit minyak wangi sepanjang Condet pun tak bisa saya temukan.
Ya sudah, enam belas tahun berlalu. Parfum itu tidak menjadi dominan dalam pemikiran saya. Tapi setidaknya wanginya masih saya ingat. Tapi pagi ini Allah berkehendak lain.
Seorang teman datang ke tempat saya bersilaturahim dan menyerahkan sebuah benda kecil. ”Ini untuk mas Riza, ini untuk Ibu Linda, dan ini untuk Pak Pinem,”katanya.
”Wah surprise…ternyata di tengah kesibukannya Ibu masih ingat kami-kami yang sudah pindah ini,”sambil membayangkan sosok atasan saya dulu yang baru saja pulang dari tanah suci.
”Terimakasih, ya…”
Sesaat setelah saya mendistribusikan amanah, saya memperhatikan kotak berbentuk segitiga itu. Di sana tertulis: DALAL, Roll on Concentrated Perfume. Pelan-pelan saya buka. Saya keluarkan isinya. Sebuah botol seukuran jari telunjuk berisi parfum. Saya buka tutupnya dan saya dekatkan ke hidung saya.
Masya Allah…! Simpul-simpul saraf untuk membaui sesuatu telah bekerja. Dan ingatan saya langsung online dengan aroma 16 tahun yang lalu itu. Subhanallah…inilah parfum yang saya cari, yang saya rindukan, yang saya idam-idamkan sejak dulu kala (halah…kayak lagu saja).
Sungguh rezeki yang Allah berikan tidak akan kemana, parfum made in Saudi Arabia adalah buktinya bagi saya. Saya yang sudah bertahun-tahun berusaha mencari kemana-mana dan hasilnya nihil akhirnya dengan mudahnya Allah memberikan jalan kepada saya agar bisa menikmati wangi itu dengan cara yang begitu ringannya. Yaitu dengan sebuah upaya yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya untuk melaksanakan sebuah sunnah nabi berupa pemberian hadiah.
Hadiah adalah merupakan pemberian yang dianjurkan secara syariat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda: ”Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta. (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad, No. 594. Ibnu Hajar berkata, ”Sanadnya shahih”).
Terimakasih Bu, karena telah membuat saya bisa mengenang masa lalu yang hampir terlupakan (oh ya, saat saya menulis ini pun wangi itu sudah melekat di baju saya, karena saya sudah mencobanya.)
Terimakasih Bu, karena telah memberikan saya pedoman buat saya di kala parfum ini habis, sehingga dengan mudahnya saya nanti bisa menyebut merek parfum yang bagus itu kepada paman saya yang sampai saat ini masih di sana dan terutama pula kepada para penjual parfum.
Terimakasih Bu, membuat saya semakin mencintai wangi-wangian yang dianjurkan Teladan kita. Terimakasih Bu, semoga Allah memberikan balasan yang terbaik buat Ibu, dunia dan akhirat.

***
Thanks to Ibu Leli atas hadiah spesialnya. Dan Mr TJ yang telah mengantarnya.

Maraji: Naro, Armen Halim. ( 2006). Hukum Seputar Suap dan Hadiah.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
riza.almanfaluthi at pajak.go.id
11:54 30 Januari 2007

Gamay di antara Microsoft dan Google


GAMAY DI ANTARA MICROSOFT DAN GOOGLE

Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana.
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif…sangat cerdas.”
Di sini saya cuma ingin mengungkapkan sebuah kisah atau beberapa kisah tentang pergaulan saya dengan Google—sebuah ikon tentang citarasa gaya surfing masa kini yang membuat Bill Gates panik karena banyak sekali para lulusan tercerdas dari kampus-kampus ternama Amerika Serikat berusaha bergabung dengan Google alih-alih bergabung dengan Microsoft.
Ya, kisah yang dimulai dari sebuah keputusasaan saya mencari arsip-arsip penting di komputer desktop saya. Dengan mengklik tombol start di Windows bawaan komputer, lalu menekan tombol Search dengan ikon sebuah kaca pembesar maka muncul tampilan search result dengan balloon yang diungkapkan seekor anjing berwarna coklat.
”What do you want to search for?” tanya anjing itu. Maka saya ketikkan keywords dari file yang saya cari itu. Setelah saya memilih salah satu menu yang ada di sana lalu menekan tombol search, maka mulailah pencarian itu dimulai dengan si Anjing berdiri pura-pura sibuk membuka halaman-halaman buku tebal itu. Satu atau dua kemungkinan yang muncul pada search result. “Search is complete. There are no results to display.” Itu kemungkinan yang pertama. Selanjutnya adalah kalau file itu ada maka hasil pencarian memakan waktu yang cukup lama. Bermenit-menit bahkan. Sungguh lama sekali. Saya frustasi dengan hal ini.
Tetapi setelah saya mengenal Google di awal pengenalan saya dengan internet di tahun 2002, apalagi setelah Google mengeluarkan perangkat lunak canggihnya yaitu Google Desktop walaupun masih dalam versi beta, membuat persepsi saya tentang sebuah pencarian di komputer rumahan menjadi berubah, dari semula mengerikan, mimpi buruk menjadi mengasyikkan dan saya sungguh menikmatinya.
Google Desktop memberikan kepuasan manusiawi dalam hitungan detik dari pencarian ribuan file yang bersemayam dalam komputer kita. Sekarang saya tak lagi pusing-pusing lagi menemui file yang lupa disimpan di mana karena tidak suksesnya saya dalam penertiban administrasi file.
Software kecil tersebut juga memberikan fasilitas kotak pencarian kecil di taskbar—letaknya biasanya di sudut kanan bawah. Dengan ini saya tak perlu membuka halaman browser untuk pencarian sebuah file. Dengan mengetikkan satu huruf depan dari keywords maka akan tampil di atas taskbar tersebut indeks dari file-file yang dicari. Microsoft pernah sesumbar untuk membuat search engine desktop yang mampu mencari file dalam setiap bit di pc, tapi MSN Search (mesin pencari buatan Microsft) pun masih tak sanggup menandingi kehebatan PageRank—sistem Google dalam pencarian di dunia maya.
Luar biasa. Dulu hingga kini saya sangat terbantu dengan fasilitas ini. Oleh karena itu di saat saya pindah kantor dan menjumpai personal computer (pc) baru di hadapan saya, yang pertama kali saya lakukan adalah menginstalasi program bagus tersebut. Saya merasa seperti orang buta tanpa tongkat dengan tiadanya fasilitas itu.
Satu lagi bantuan yang membuat saya terpuaskan dari sistem pencarian ini adalah kemampuannya mengorganisir apa yang saya mau saat mencari data jurnal dan tesis. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada fasilitas ini, kemungkinan besar saya tidak bisa menyelesaikan tesis dalam waktu dua bulan penuh. Karena saya harus kemana-mana mencari data primer ataupun sekunder. Ke lokasi perusahaan, perpustakaan, ataupun ke Bursa Efek Jakarta.
Tapi dengan Google saya cuma cukup dengan memelototinya dan melihat bagaimana ia menginventarisir web-web mana saja yang harus saya kunjungi dan menyediakan data tersebut. Mulai dari Jakarta Stock Exchange, Yahoo! Finance, Reuters, Bloomberg, Republika Online, Kompas Online, dan situs-situs keuangan lainnya. Alhasil saya tak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman berbagai referensi di perpustakaan atapun tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.
Saya perlu menyatakan pula, dengan Google itulah saya menemukan satu tesis lengkap—mulai halaman pertama sampai akhir—yang menarik saya dan memberikan ide awal untuk membuat tesis. Menurut saya tesis si fulan ini cukup bagus, mudah dimengerti, dan satu yang pasti adalah sarannya yang memberikan ruang gerak kepada penelitian lanjutan. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan penelitiannya.
Tapi secara moral saya perlu legitimasi untuk ini, oleh karena itu saya perlu meminta izin secara informal dari penulis tesis. Lalu menghubungi siapa? Saya tak tahu kemana saya harus melakukan kontak dengan sang penulis. Tapi saya berpikir cepat, insting saya berjalan, karena dalam kata pengantar tesisnya ia adalah termasuk orang yang tidak gamay (gagap dunia maya) dan juga seorang blogger, saya langsung ketikkan nama si fulan di Google, Jreng….!!! Di layar, tampak alamat dan nomor telepon genggamnya. Saya sukses besar meminta kepadanya untuk mengizinkan saya melanjutkan penelitiannya dengan mengganti variabel-variabel penelitian dan menambah time frame penelitian sesuai apa yang disarankan pada bab terakhir tesisnya itu.
Berkaitan dengan penelitian saya kutip satu paragraf dalam buku tersebut:
Pelajar dan mahasiswa, berapa pun usia mereka, adalah pengguna Google kelas berat, walaupun ada guru dan dosen yang terus menyuruh mereka menggunakan mesin pencari akademik yang lebih khusus, selain mendorong pemanfaatan perpustakaan, pertemuan tatap muka, dan sejumlah cara lain yang tradisional dan telah teruji untuk mendapatkan informasi penting. Tokoh pendidikan masih belum satu pendapat soal manfaat Google. Banyak yang mengatakan Google menjadikan mahasiswa malas, mendorong plagiarisme, dan mengganggu proses belajar dengan memungkinkan pengambilan data secara cepat, alih-alih memaksa mereka melakukan penggalian yang didorong oleh hasrat untuk tahu lebih banyak mengenai suatu bidang. Namun yang lain memujinya, mengatakan bahwa kemudahan dalam penggunaannya mendorong orang mengeksplorasi dan menganalisis dokumen-dokumen penting kapan pun, entah siang atau malam. Mereka juga berpendapat bahwa Google meminimalkan perbedaan yang dihadapi oleh mahasiswa, entah sekolah atau universitas mereka besar atau kecil, entah mereka kaya atau miskin, dan entah mereka mempunyai akses ke perpsutakaan yang lengkap atau tidak sama sekali. Pendek kata, mereka mendukung tujuan Google untuk mendemokrasikan akses ke informasi, termasuk hasil penelitian ilmiah yang terus bertambah.(Vise: 2006).
Bagi saya, manfaat Google adalah menurut pendapat yang kedua. Ya, setidaknya untuk mengimbangi gap intelektualisme dan mencegah diskriminasi penyebaran informasi antara negara maju dan berkembang.
Begitu banyak manfaat yang didapat dari Google yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Dan terakhir saya cuma berpikir tentang kalimat di bawah ini saat memakai Google: ”Al-hikmatu dhaallatul mu’min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa”. Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya.” (Kalimat ini pun saya temukan dengan searching via Google).
Saya tidak tahu bagaimana kontribusi mereka terhadap Israel, saya cuma tahu mereka pernah berkunjung ke Israel untuk memotivasi para murid di satu sekolah khusus para jenius agar tetap eksis dengan ditemani oleh Mikhail Gorbachev dan Shimon Perez (pembantai rakyat Palestina).
Oleh karena itu untuk tetap memelihara semangat dan dukungan perjuangan kepada rakyat Palestina dan berhati-hati terhadap dana yang bisa disumbangkan kepada Israel, saya cuma bertekad untuk tidak mengklik teks iklan yang disediakan oleh Google di sebelah kanan situsnya, karena dari sanalah jutaan bahkan milyaran dollar pemasukan Google di dapat. Berhati-hati tidak mengapa bukan…?
So, sila ber-google-ria, tentunya dengan cerdas.
Allohua’lam bishshowab.

***
”Pak, kok di situs pajak saya tidak mendapatkan peraturan yang saya cari ya?” tanya seorang Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Tiga.
”Ah, yang benar, masak sih Bu…?” tanya saya menyangsikannya.
”Betul Pak, saya sudah lama nyari tapi tetap gak ketemu,” jawabnya dengan dialek jawa yang kental.
”Ya sudah ibu cari di Google saja,” saya memberikan solusi.
“Google? Situs apaan tuh Pak?
“What the…?” pikir saya dalam hati. Wajib Pajak PMA, lokasi di Surabaya, sering pakai email, kejadian ini benar adanya kurang lebih sebulan yang lalu. Gap?

***

Maraji’: Vise, David A. dan Malseed, Mark. (2006). Kisah Sukses Goggle, Cetakan Kedua, Jakarta: PT GPU

Riza Almanfaluthi
(seorang gamay juga)
dedaunan di ranting cemara
malam ramai di gelapnya mendung berhias sabit

05:27 24 Januari 2007

Pointer Penghalang Maksiat


Thanks Jhon, atas email pagi itu. Ya, Marjono3 Jum’at itu (19/1) mengirim email yang menurut saya sangat bermanfaat sekali buat saya. Dan saya pikir bermanfaat pula bagi orang lain. Dalam emailnya itu ia melampirkan attachment-nya berupa program pointer yang bila kita simpan di komputer kita, maka default pointer berupa panah putih yang membosankan itu akan tergantikan dengan pointer yang berwarna kuning dengan lafaz zikir yang bergantian muncul di bawah pointer tersebut.
Zikirnya adalah: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illa Allah, Wallahu Akbar.
Oleh karena asas manfaatnya yang sungguh luar biasa yaitu sebagai pengingat Allah di waktu kita bekerja juga tentunya yang terpenting adalah menghindari kita melihat-lihat situs-situs atau gambar-gambar yang tidak senonoh, maka saya langsung menyebarkannya di portal DJP dan DSHNet. Sambutannya luar biasa. Mereka yang sudah berhasil memanfaatkannya merespon dengan baik sekali. Syukurlah. Saya berpikir orang yang membuat program kecil ini mendapatkan pahala yang terus mengalir dari perbuatan baiknya itu yang dipakai oleh banyak orang. Dan tidak lupa bagi orang yang turut menyebarkannya. Terimakasih John…

Tetapi, ini semua tergantung siapa pemakai pointer ini, kalau tidak peduli ya tetap saja nekad menggunakan pointer ini untuk berkunjung ke situs antah berantah tersebut. Jadinya aneh dan menurut saya ia memakai pointer ini tidak pada tempatnya. Nambahin dosa aja…
Oh ya, saya tunjukkan di mana Anda mendapatkan file ini. Silakan berkunjung ke halaman web ini dengan mengkliknya, lalu akan saya tunjukkan cara bagaimana Anda bisa menggunakan pointer ini:

1. http://10.11.5.215/filesharing/file//Allah.ani

2. Simpan file tersebut di tempat penyimpanan favorit di komputer Anda;
3. Lalu ke control panel;
4. Klik ikon mouse;
5. Lalu tekan Tab Pointer;
6. Klik tombol browse;
7. Cari file tersebut, dan Apply;
8. Lalu OK.

Selesai sudah. Kini di layar komputer Anda sudah terpampang pointer yang sedang berzikir. Anda pun setidaknya ikut berzikir juga bukan…?
Semoga bermanfaat.

Riza Almanfaluthi
jiwa centang perenang
dedaunan di ranting cemara
08:51 24 Januari 2007

RIWAYAT TANPA CELA


Jangan pernah menemukan aib dan kesalahan diri saya pada tulisan kali ini. Yang engkau akan temukan adalah keistimewaan, prestasi dan penghargaan saya. Yah, wajar saja namanya juga riwayat hidup dari sebuah karya tulis. Padahal begitu banyak aib dan kesalahan pada diri yang rentan ini, tapi memang Allah sengaja telah menutupi semuanya itu dari pandangan orang lain.
Tinggal bagaimana saya bisa mempertahankan status di bawah perlindungan itu sampai di hari hisab nanti. Karena Allah akan mempertontonkan aib hamba-Nya yang tidak bisa menahan diri dari mempertunjukkan aib orang lain kepada khalayak yang lebih ramai.
So, terima sajalah orang ganteng ini mempertunjukkan riwayatnya. Tetapi sebelumnya saya kudu mempertunjukkan dalilnya kepada Anda semua. Kenapa riwayat hidup ini isinya cuma pujian belaka.
Riduwan (2004) pernah menulis:
Riwayat hidup dibuat secara padat dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah, tidak semua informasi tentang yang bersangkutan dimuat. Isinya berupa: nama lengkap, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan, dan jabatan (bila telah bekerja); prestasi-prestasi yang pernah dicapai dan karya ilmiah (publikasi) yang telah dihasilkan atau diterbitkan. Riwayat hidup dapat dibuat dengan gaya butir perbutir atau gaya esai yang padat.
Nah loh, betulkan? Riwayat hidup ini terpampang tanpa dosa yang ada hanya prestasi ilmiah, prestasi dunia. Prestasi akhirat? Cukup Dia saja yang tahu. Kalau semua orang tahu, ujian keihlasan akan datang membadai dan jika tiada tertahankan akan mencerabut semua imbalan kebaikan itu dan menjadi sia-sia, nihil. Orang pajak kiranya sudah memahami rasanya melihat kenihilan SPT. Empet…orang kaya kok gak mau bayar pajak.
Sekali lagi, terima sajalah orang ganteng ini memaparkan hidupnya kepada Anda semua. Anda muak dan mau muntah? Muntah saja sana, soalnya saya sudah muntah duluan sedari tadi. (He…he…he…).

RIWAYAT HIDUP

Riza Almanfaluthi, S.Sos., lahir di Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, tanggal 24 Juli 1976. Pendidikan mulai Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (1988), Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (1991), Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (1994), kemudian menempuh pendidikan di perguruan tinggi kedinasan Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan, Departemen Keuangan selama tiga tahun. Dan setelah lulus di tahun 1997 langsung ditempatkan di Jakarta, tepatnya di Kantor Pelayanan Perpajakan Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga.
Tahun 1999 di kantor tersebut terpilih sebagai salah satu karyawan teladan. Dengan hobi membaca dan menulisnya, pernah memenangkan perlombaan menulis untuk menyambut bulan ramadhan yang diselenggarakan oleh Masjid Perkantoran di komplek pajak Kalibata. Sempat tulisannya dimuat di Berita Pajak, media komunikasi untuk para pegawai dan praktisi perpajakan.
Agar kemampuan menulisnya tetap terasah, selain mengajar di berbagai tempat kursus pajak, secara kontinyu mengasuh sebuah blog pribadi di intranet yang terpublikasikan ke seluruh kantor perpajakan di Indonesia. Sampai saat ini tulisannya sudah mencapai 240 artikel yang merupakan karya pribadi di dalam blog tersebut.
Pada tahun 2000 melanjutkan kuliah di sekolah kedinasan khusus untuk Pegawai Negeri Sipil, pegawai Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Adminsitrasi Negara Republik Indonesia (STIA LAN RI) dengan mengambil program studi Manajemen Ekonomi Publik.
Lulus tahun 2002 setelah menyelesaikan tugas akhir berupa skripsi dengan judul: Kajian Terhadap Penatausahaan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Final Pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga, dan memperoleh predikat cumlaude setelah dapat mempertahankan karya ilmiah tersebut di hadapan sidang yudisium.
Mendapat kenaikan pangkat yang dipercepat setelah lulus Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat V yang diselenggarakan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan Republik Indonesia di tahun 2003.
Dan setelah melewati seleksi pegawai untuk ditempatkan di lingkungan kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan sistem administrasi moderen, pada tahun 2004 diangkat sebagai Account Representative Wajib Pajak Pertambangan Emas di KPP PMA Tiga, sebuah jabatan baru di struktur organisasi DJP dalam rangka kerja nyata pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Dengan menduduki jabatan baru tersebut mengakhiri jabatan yang selama ini dipegang yakni sebagai Juru Sita Pajak Negara, sebuah profesi yang didapat dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) teknis substantif selama 95 jam pelajaran dan lulus dengan menduduki rangking pertama pada angkatan diklat tersebut.
Setelah 8 tahun 7 bulan dan 7 hari berada di KPP PMA Tiga, pada Juli 2006 pindah tugas ke KPP PMA Empat tetap sebagai Account Representative dan membina Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Industri Alas Kaki.
Aktivitas lainnya yang ditekuni saat ini adalah sebagai moderator sebuah forum diskusi sebuah situs Islam di Intranet dan dalam proses penyusunan ebook artikel pribadi yang akan dipublikasikan secara gratis di dunia maya kepada siapa saja yang berminat.
*****

Supaya saya tidak dianggap asal ”njeplak” ini dia maraji’nya:
Riduwan. (2004). Metode & Teknik Menyusun Tesis, Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta, cv.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
09:37 21 Januari 2007

TIPS BUAT YANG LAGI BIKIN SKRIPSI DAN TESIS


TIPS BUAT YANG LAGI BIKIN SKRIPSI DAN TESIS

Skripsi atau tesis menjadi momok yang menakutkan. Menjadi mimpi buruk. Selalu hinggap di ingatan saat makan,
jalan-jalan, atau beraktivitas sehari-hari lainnya. Oleh karena itu begitu banyak para mahasiswa yang kedodoran dalam
penyelesaiannya, hingga berbulan-bulan, tak terasa biaya kuliah membengkak karena tetap harus bayar uang kuliah
ataupun ancaman drop out dari penyelenggara perkuliahan. Perlu diketahui
sampai saat ini masih ada teman saya yang belum juga menyelesaikan skripsinya sejak sama-sama masuk kampus di tahun
2000.

Apa daya, dengan sangat terpaksa, banyak dari mahasiswa tersebut menyewa jasa konsultan penulisan tugas akhir untuk
membantu mereka. Alhasil selain dana lebih yang harus dianggarkan untuk membayar fee, bantuan ini juga rawan dari masalah plagiat, serta tak lupa minimalis dalam
pertanggungjawaban di sidang komprehensif.

Ini semua hanya bertumpu pada kemalasan, tiadanya semangat di dada, dan tiadanya faktor pemicu untuk bergerak. Dan
tentunya seribu macam alasan lainnya.

So, pada kali ini ada yang harus saya tularkan kepada Anda semua tentang keberhasilan saya dalam menanggulangi
kemalasan yang mendarah daging. Terutama saat membuat tugas akhir kuliah kita berupa skripsi atau tesis. Karena
biasanya-dan sudah menjadi penyakit bagi masyarakat kita yang sedari kecil tidak pernah diajarkan untuk menuangkan
gagasan yang berada di otak kita dalam bentuk tulisan-mengarang menjadi pelajaran yang dibenci banyak siswa. Ia
adalah sesuatu yang menyulitkan tiada terperi, dulu hingga kini.

Mau bukti? saya tantang Anda untuk membuat satu paragraf yang terdiri dari empat kalimat tentang keadaan di sekitar
Anda dalam waktu lima menit. Dahi Anda akan mengerenyit, pikiran Anda akan berputar-putar mencari-cari kata demi kata
atau kalimat demi kalimat agar terbentuk satu paragraf, tersusun dengan pas dan sesuai dengan rasa bahasa. Bagi yang
sudah terbiasa, hal ini bukan sebuah kesulitan. Tapi bagi yang tidak biasa, ini akan memakan waktu lebih dari lima
menit. Saya pun sama dengan Anda.

Jadi bagaimana mungkin membuat skripsi atau tesis sedangkan untuk membuat satu paragraf saja susah. Sebenarnya satu
saja kuncinya: banyak latihan. Okelah saya sudah melenceng jauh dari keinginan saya untuk memberikan tips yang sesuai
judul di atas. Tapi setidaknya di saat kita sudah terbiasa menulis dan menuangkan gagasan di atas kertas (sekarang
bukan zamannya lagi) atau di layar komputer, ini akan sangat membantu sekali mempercepat masa penyelesaian penulisan
tersebut.

Jadi tips pertama adalah perbanyak latihan menulis.

Selanjutnya, agar kita segera bisa terpacu, coba berusaha untuk mengumpulkan teman-teman yang mempunyai problem sama.
Adakan pertemuan khusus membahas ini. Biasanya akan muncul gagasan baru, semangat baru, dan perencanaan baru secara
bersama-sama. Hal ini sukses dilakukan oleh salah seorang teman saya yang dapat mengumpulkan hingga kurang lebih
empat orang untuk bersama-sama membuat tesis.

Seringnya berkumpul, mencari data bersama-sama, hingga menulis pun bersama-sama mampu membuat mereka lulus pada tahun
yang sama. Saya pastikan bahwa tips yang kedua ini adalah: ajak teman
untuk bekerja sama.

Jika tips kedua ini tak bisa dilaksanakan karena ternyata tidak ada teman yang mau diajak bekerja sama atau
pergerakan teman kita terlalu lambat sedangkan kita sudah mempunyai semangat yang membara di dada, maka saya anjurkan
kepada Anda untuk langsung jalan sendiri saja. Tips ketiga ini adalah: jika engkau tidak menemukan teman, segera restart diri Anda.

Setelah itu, tips yang keempat adalah: jangan pernah terlewat satu hari
pun untuk tidak memikirkan skripsi/tesis
. Implementasi dari tips ini adalah dengan minimal sehari ada satu
jurnal atau referensi yang harus dibaca, mencari data ke perpustakaan dan sumber-sumber referensi lainnya. Jangan
berputus asa bahwa sehari itu Anda belum mampu membuat satu paragraf tertera dalam karya tulis Anda. Karena bagi
saya, dengan sedikit saja Anda sudah membaca atau setidaknya memikirkan skripsi/tesis, itu berarti Anda sudah punya
proggres yang baik. Sekali lagi: ciptakan progess sekecil apapun.

Tips kelima adalah mencari satu contoh skripsi/tesis sebagai rujukan
utama.
Hal ini sudah saya buktikan dengan sukses oleh saya. Saya mencari di internet dengan menggunakan
search engine terkemuka Goggle. Eureka…! Eureka…! Eureka…! Ketemu dan langsung saya cetak.
Karena bagi saya lebih enak membaca hardcopy dibandingkan dengan
memelototi layar komputer. Temuan itu dijadikan rujukan untuk bisa diketahui alur berpikirnya, cara penyajiannya,
metode-metode penulisannya dan masih banyak lagi yang lainnya.

Tips keenam: jalin hubungan baik dengan dosen pembimbing. Ini
sudah lazim dan kudu dilakukan oleh kita sebagai mahasiswa yang memang
lagi butuh kebijakan, saran, dan tentunya kemurahan sang dosen, lebih-lebih kalau dosennya langsung menyetujui
proposal penelitian ataupun karya lengkap kita. Ini yang patut disyukuri.

Tips ketujuh: struggle,
man!
Sekuat tenaga dah kita lakuin, kalo perlu jabanin ampe gak bisa tidur ngerjain skripsi/tesis. Semua ini memang butuh pengorbanan.
Main games, chating,
fordis harus dilupakan dulu agar fokus kita tidak pecah. Dan tentunya
agar kita punya waktu untuk memikirkan semua ini.

Yup, mungkin ini saja yang baru bisa saya sampaikan kepada Anda. Tujuh tips ini tidak akan berguna kalau Anda sendiri
tidak menyerahkan segala daya dan upaya kepada Allah Yang Mahakuat, karena sesungguhnya IA-lah yang membuat saya dan
Anda mampu melewati masa-masa sulit. Semoga kita tercerahkan.

***

Sepuluh bulan kuliah, setahun nganggur, dua bulan ngebut, selesai juga akhirnya. Saya bisa Anda pasti bisa.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.30 22 Januari 2007

JANGAN SEPERTI NIRINA ZUBIR


JANGAN SEPERTI NIRINA

Pagi ini, tidak biasanya jalanan di Margonda begitu macet dengan antrian sepanjang kurang lebih 500 meter. Biasanya cuma dua penyebabnya, mungkin ada mobil mogok di ujung jalan Margonda yang sempit menuju Jakarta atau satu lagi ada kecelakaan.
Ternyata benar dari kejauhan sudah terdengar sirine mobil polisi. Saat melewati tempat itu sudah teronggok Xenia rongsok di pinggir jalan. Dan jalanan penuh dengan pecahan kaca. Hal lain yang menarik selain dari kerumunan orang-orang yang ingin melihat kejadian itu adalah kantung mayat berwarna kuning mencolok mata. Tentu di dalamnya sudah ada isinya, sebuah jasad yang tiada bernyawa.
”Mobil ketimpa mobil,” kata penyapu jalanan yang sempat saya tanyai. Cuma itu saja. Setelahnya saya tidak mendapatkan informasi apapun. Yang pasti perjalanan pagi itu menambah bahan pemikiran saya yang ada di otak yang sudah penuh sebelumnya. Ah, batas antara hidup dan mati begitu tipis.
***
”Mas, saya dapat file berekstensi 3gp, muternya pake apaan yah?” tanya saya pada seorang teman.
”He…he…he…inilah kalau orang tidak pernah dapat kiriman ”gituan”. Coba pakai real player. Emangnya elo dapat file apaan sih?” tanya dia setengah mendesak.
“Eksekusi Saddam Hussein,” jawab saya.
Setelah saya mencari di sebuah situs di intranet yang terkenal dengan gudang software gratisannya, saya menemukan program itu dan langsung melakukan instalasi. Tidak lama setelah itu barulah saya bisa memutar klip yang membuat kaum Sunni marah besar melihat penghinaan yang diterima Saddam saat akan dilakukan eksekusi.
Kamera handphone ini merekam dari bawah panggung tempat eksekusi. Dan terlihat sosok tinggi besar itu keluar dari sebuah pintu. Sambil disambut yel-yel dari para penonton—ditengarai bahwa mereka adalah para pendukung pentolan Syiah Muqtada Sadr—Saddam masih sempat untuk berkata-kata.
Dan kalimat terakhir yang terucap adalah asysyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asysyhadu anna muhammadarrasuulullaah. ”Brak…!!!” Suara papan penahan tubuh Saddam terbuka. Gambar terakhir yang terlihat adalah kepalanya yang mendongak ke atas dengan leher patah.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sosok itu adalah sosok saya. Lalu saya pun berpikir apa yang Saddam rasakan pada saat itu, saat-saat terakhir berpisah dengan dunia dan menjumpai Sang Raja Sebenar-benarnya Raja.
Ah, batas antara hidup dan mati begitu tipis.
***
Dalam sebuah lingkaran kecil pekanan, seorang gadis yang baru beranjak dewasa sambil menangis tersedu-sedu mencurahkan perasaan yang dideritanya pada seorang ibu muda yang biasa mereka panggil dengan sebutan Ummi.
”Mi…apakah orang yang mau mati itu selalu mendapatkan firasat sebelumnya?”
”Memangnya kenapa?”
”Seminggu ini saya selalu bermimpi didatangi Adi Firiansyah. Dia ngajak saya ikutan dia, Mi” jawabnya masíh sambil menangis.
[Ohya, Adi Firiansyah itu artis sinetron yang meninggal dalam kecelakaan motor]
”Jangan mau dong, emang mau diajakin mati.” sahut sang Ummi sambil setengah bercanda mencairkan suasana.
”Ya , tapi gimana ya Mi. Jadinya perasaan ini kok sedih banget, berat, dan takut matinya itu loh Mi.”
Sang Ummi menghela nafas. ”Sikapi dengan baik mimpi itu. Jangan tiru Nirina”.
”Nirina siapa Mi?” tanya gadis remaja yang lain mewakili kepenasaran teman-temannya.
”Mirror..mirror” kata Ummi.
”Oh si Kikan itu….” mereka sudah paham.
[Nirina Zubir pemeran Kikan dalam film berjudul Mirror]
”Ya…sudah ’tahu’ mau mati, malah cemas, bingung, kelabakan, amburadul, hidupnya dibawah titik nadzir, mengendarai mobil serabutan, meninggal juga akhirnya.”
”Bagaimana sikap yang baik? Itulah saat yang seharusnya menjadi saat terbaik untuk kita kembali pada-Nya. Untuk lebih dekat, lebih dekat, dan lebih dekat lagi. Untuk menumpuk bekal amalan yang akan kita pergunakan menempuh perjalanan selanjutnya. ”
”Amalan baik apa yang bisa membuat neraca di sana itu miring ke kanan, tidak ke kiri. Amalan apa? Sedangkan banyak orang yang tertipu dengan amal baiknya yang begitu banyak, padahal tidak berisi apa-apa. Inilah saatnya untuk lebih dekat lagi dengan-Nya. Karena kematian itu bukan akhir dari segalanya.”
”Sesungguhnya tiada yang tahu kematian itu kapan akan merengkuh kita, kecuali Ia. Inilah ujian bagi orang-orang yang beriman.” Ummi mengakhiri.
***
Tiga peristiwa di atas memberikan kepada saya nasehat utuh dan penyikapan dari sebuah kematian. Kematian itu kapan saja bisa terjadi. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali tentunya Sang Pemilik Kehidupan. Masalahnya adalah bagaimana bisa sebuah penyikapan yang baik lahir dari jiwa-jiwa yang kering dari ruh kebaikan, mata-mata yang nanar menikmati syahwat, telinga-telinga yang peka terhadap keburukan orang lain, mulut-mulut penuh nafsu mengumbar aib saudaranya sendiri. Duh…bekalku ternyata sangat sedikit sekali.
Pun, batas antara hidup dan mati begitu tipis.

MENGUKIR DI ATAS BATU: KESUNGGUHAN TAK TERNILAI


Ba’da dzuhur yang sejuk, dua anak kecil itu terlihat sedang belari-larian di dalam masjid AlHikmah, Cipayung, Depok. Yang satu mempunyai perawakan yang lebih kecil daripada yang lainnya. Mereka adalah dua diantara beberapa anak seumuran mereka yang ikut pendidikan di Pesantren Tahfidzul Qur’an Terpadu.
”Dek-dek…sini dulu. Saya mau tanya nih…!” seru saya setengah berteriak kepada mereka. Akhirnya mereka berkumpul di hadapan saya.
”Wah…sudah berapa juz nih hafalannya?” tanya saya kepada dua anak kecil pertama.
”Saya baru satu juz, kok”, jawab yang lebih besar.
“Kalau saya lagi menghapal Juz 30,” yang kecil menyahut.
”Satu juz tuh selesai berapa lama,” tanya saya lagi.
“Dua bulan setengah,” jawab yang besar.
”Sering nangis yah…?”
”Iya…”
”Kenapa?”
”Kangen abi sama ummi” jawab mereka berdua serempak, yang ternyata kakak beradik. Yang lebih tua duduk di kelas enam sekolah dasar sedangkan yang kecil kelas tiga.
”Masih ngompol, enggak…?” tanya saya lagi.
”Enggak dong, kalau dia berhenti ngompolnya waktu kelas dua, sekarang sudah enggak lagi,” jawab si kakak sambil menunjuk sang adik.
Tiba-tiba datang lagi di hadapan saya dua anak seumuran dengan mereka. Yang satu—anak dari pengelola pesantren ini—sudah hafal tiga juz yang ditempuh selama 12 bulan. Sedangkan satunya lagi adalah anak dari seorang ustadz sudah hafal lima juz selama setahun.
Subhanallah, mereka, kecil-kecil sudah bisa menghafal banyak surat Al-Qur’an. Sedangkan saya menjaga surat-surat yang sudah saya hafal saja sampai pontang-panting apalagi untuk menambah hafalan lagi. Saya telah dilupakan. Duh, malu euy…Benar kata rasulullah SAW: “Selalulah bersama Al-Quran, demi jiwa Muhammad yang berada di genggaman-Nya, sesungguhnya Al-Quran itu lebih cepat hilangnya daripada tali onta dalam ikatannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
Saya bisa berkaca kepada mereka. Berkaca pada kesungguhan untuk menjadi seorang hafidz, yang akan memahkotai orang tua mereka kelak. Yang tubuhnya utuh tak termakan ulat saat terkubur dalam tanah. Kesungguhan mereka untuk berjauh-jauhan dengan orang tua yang mereka rindukan setiap harinya. Kesungguhan untuk mencapai karakter shahihul ibadah dalam dirinya.
Dan tentunya tidak bisa kita remehkan adalah kesungguhan dari orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan mengorbankan kesenangan berkumpul dengan anak-anak tercinta. Mengorbankan perasaan kangen mereka untuk masa depan anak-anaknya. Kesungguhan yang timbul karena adanya kesadaran bahwa menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua. Kerana menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.
Untuk merajut kesungguhan itu hanya doa yang bisa mereka panjatkan kepada Sang Penguasa Jagat agar senantiasa menjaga anak-anak mereka, mudah menerima pelajaran, menghapal, dan tentunya betah tinggal berjauh-jauhan dengan orang tua, betah tinggal di tempat yang fasilitas untuk mendapatkan kesenangan masa kecilnya terbatas dibandingkan dengan di rumah mereka sendiri.
Sebuah kesungguhan tak ternilai.
Ah, bisakah saya mempunyai kesungguhan seperti mereka…?

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08:55 13/11/2006

Bacalah artikel ini:
1. Materi Tarbiyah: Hifzhil Qur’an Juz 30;
2. Kiat Menghafal Alqur’an, Ummu Abdillah, Ummu Maryam;
3. Kiat-kiat Menghafal Al-Quran menuju Ridho Ilahi, Azzahra (10.9.2.64)
http://10.254.4.4/isi_partisipasi.asp?dsh=5136