JANGAN SEPERTI NIRINA ZUBIR


JANGAN SEPERTI NIRINA

Pagi ini, tidak biasanya jalanan di Margonda begitu macet dengan antrian sepanjang kurang lebih 500 meter. Biasanya cuma dua penyebabnya, mungkin ada mobil mogok di ujung jalan Margonda yang sempit menuju Jakarta atau satu lagi ada kecelakaan.
Ternyata benar dari kejauhan sudah terdengar sirine mobil polisi. Saat melewati tempat itu sudah teronggok Xenia rongsok di pinggir jalan. Dan jalanan penuh dengan pecahan kaca. Hal lain yang menarik selain dari kerumunan orang-orang yang ingin melihat kejadian itu adalah kantung mayat berwarna kuning mencolok mata. Tentu di dalamnya sudah ada isinya, sebuah jasad yang tiada bernyawa.
”Mobil ketimpa mobil,” kata penyapu jalanan yang sempat saya tanyai. Cuma itu saja. Setelahnya saya tidak mendapatkan informasi apapun. Yang pasti perjalanan pagi itu menambah bahan pemikiran saya yang ada di otak yang sudah penuh sebelumnya. Ah, batas antara hidup dan mati begitu tipis.
***
”Mas, saya dapat file berekstensi 3gp, muternya pake apaan yah?” tanya saya pada seorang teman.
”He…he…he…inilah kalau orang tidak pernah dapat kiriman ”gituan”. Coba pakai real player. Emangnya elo dapat file apaan sih?” tanya dia setengah mendesak.
“Eksekusi Saddam Hussein,” jawab saya.
Setelah saya mencari di sebuah situs di intranet yang terkenal dengan gudang software gratisannya, saya menemukan program itu dan langsung melakukan instalasi. Tidak lama setelah itu barulah saya bisa memutar klip yang membuat kaum Sunni marah besar melihat penghinaan yang diterima Saddam saat akan dilakukan eksekusi.
Kamera handphone ini merekam dari bawah panggung tempat eksekusi. Dan terlihat sosok tinggi besar itu keluar dari sebuah pintu. Sambil disambut yel-yel dari para penonton—ditengarai bahwa mereka adalah para pendukung pentolan Syiah Muqtada Sadr—Saddam masih sempat untuk berkata-kata.
Dan kalimat terakhir yang terucap adalah asysyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asysyhadu anna muhammadarrasuulullaah. ”Brak…!!!” Suara papan penahan tubuh Saddam terbuka. Gambar terakhir yang terlihat adalah kepalanya yang mendongak ke atas dengan leher patah.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sosok itu adalah sosok saya. Lalu saya pun berpikir apa yang Saddam rasakan pada saat itu, saat-saat terakhir berpisah dengan dunia dan menjumpai Sang Raja Sebenar-benarnya Raja.
Ah, batas antara hidup dan mati begitu tipis.
***
Dalam sebuah lingkaran kecil pekanan, seorang gadis yang baru beranjak dewasa sambil menangis tersedu-sedu mencurahkan perasaan yang dideritanya pada seorang ibu muda yang biasa mereka panggil dengan sebutan Ummi.
”Mi…apakah orang yang mau mati itu selalu mendapatkan firasat sebelumnya?”
”Memangnya kenapa?”
”Seminggu ini saya selalu bermimpi didatangi Adi Firiansyah. Dia ngajak saya ikutan dia, Mi” jawabnya masíh sambil menangis.
[Ohya, Adi Firiansyah itu artis sinetron yang meninggal dalam kecelakaan motor]
”Jangan mau dong, emang mau diajakin mati.” sahut sang Ummi sambil setengah bercanda mencairkan suasana.
”Ya , tapi gimana ya Mi. Jadinya perasaan ini kok sedih banget, berat, dan takut matinya itu loh Mi.”
Sang Ummi menghela nafas. ”Sikapi dengan baik mimpi itu. Jangan tiru Nirina”.
”Nirina siapa Mi?” tanya gadis remaja yang lain mewakili kepenasaran teman-temannya.
”Mirror..mirror” kata Ummi.
”Oh si Kikan itu….” mereka sudah paham.
[Nirina Zubir pemeran Kikan dalam film berjudul Mirror]
”Ya…sudah ’tahu’ mau mati, malah cemas, bingung, kelabakan, amburadul, hidupnya dibawah titik nadzir, mengendarai mobil serabutan, meninggal juga akhirnya.”
”Bagaimana sikap yang baik? Itulah saat yang seharusnya menjadi saat terbaik untuk kita kembali pada-Nya. Untuk lebih dekat, lebih dekat, dan lebih dekat lagi. Untuk menumpuk bekal amalan yang akan kita pergunakan menempuh perjalanan selanjutnya. ”
”Amalan baik apa yang bisa membuat neraca di sana itu miring ke kanan, tidak ke kiri. Amalan apa? Sedangkan banyak orang yang tertipu dengan amal baiknya yang begitu banyak, padahal tidak berisi apa-apa. Inilah saatnya untuk lebih dekat lagi dengan-Nya. Karena kematian itu bukan akhir dari segalanya.”
”Sesungguhnya tiada yang tahu kematian itu kapan akan merengkuh kita, kecuali Ia. Inilah ujian bagi orang-orang yang beriman.” Ummi mengakhiri.
***
Tiga peristiwa di atas memberikan kepada saya nasehat utuh dan penyikapan dari sebuah kematian. Kematian itu kapan saja bisa terjadi. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali tentunya Sang Pemilik Kehidupan. Masalahnya adalah bagaimana bisa sebuah penyikapan yang baik lahir dari jiwa-jiwa yang kering dari ruh kebaikan, mata-mata yang nanar menikmati syahwat, telinga-telinga yang peka terhadap keburukan orang lain, mulut-mulut penuh nafsu mengumbar aib saudaranya sendiri. Duh…bekalku ternyata sangat sedikit sekali.
Pun, batas antara hidup dan mati begitu tipis.

Advertisements

4 thoughts on “JANGAN SEPERTI NIRINA ZUBIR

  1. I see a lot of interesting posts on your page. You have to spend a lot of time writing, i know how to save you a lot of work,
    there is a tool that creates unique, google friendly posts in couple of minutes, just type
    in google – k2 unlimited content

    Like

  2. I read a lot of interesting posts here. Probably you spend a lot of time writing, i
    know how to save you a lot of work, there is an online tool that creates readable, google friendly posts
    in seconds, just type in google – laranitas free
    content source

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s