KETUA RT


Ruangan tamu itu dipenuhi asap rokok. Dari empat belas orang yang menghadiri acara rapat Rukun Tetangga (RT) dan sekaligus halal bihalal itu cuma empat orang saja yang berkorban menjadi perokok pasif. Selebihnya asyik menikmati bara merah dari tembakau yang terbakar dan kepulan asapnya.
Acara ini masih berkutat pada pembahasan siapa yang mau ditunjuk sebagai Ketua RT. Ya, jabatan Ketua RT di tempat kami sudah lama kosong. Apalagi setelah kepengurusan yang lalu demisioner beberapa bulan sebelumnya karena sudah berakhirnya masa tugas mereka. Tidak ada yang mau mengangkat tangan. Banyak argumentasi yang keluar dari bapak-bapak yang dipinta untuk menjabat jabatan tersebut. Rata-rata semua ogah. Why…?
Mungkin jabatan Ketua RT inilah yang tidak dianggap sebagai jabatan yang dicari-cari di Indonesia. Karena kental sekali nuansa sosialnya dibandingkan ketenaran dan komersialisasi yang menggemukkan kantong-kantong para penjabatnya. Apalagi tuntutan menjadi penengah dan pemecah kebuntuan permasalahan keseharian yang ada sangat tinggi diharapkan oleh masyarakat.
”Ayolah pak, kalau kita niatkan dengan ibadah Insya Allah jabtan ini bukanlah suatu beban. Apalagi kita-kita yang muda ini juga sudah siap untuk membantu,” pinta salah seorang pengurus RT yang lalu kepada Pak Bobbi yang dikenal sanga supel di lingkungan kami. ”Apalagi bapak kan selalu stanby di lingkungan sini. Dan Insya Allah mulai Januari 2007 ini usulan tunjangan penghargaan dan pembebasan uang sampah kepada ketua RT akan mulai diberlakukan.”
”Kalau masalah itu sih, bagi saya nomor sekian. Tapi yang jadi masalah bagi saya, saya ini sudah bukan waktunya untuk mengurusi beginian. Saya ingin menikmati masa-masa pensiun saya. Cobalah kepada yang muda-muda sajalah,” tukas Pak Bobbi.
Tunjuk sana-tunjuk sini pun lagi-lagi terjadi. Usulan-usulan lain bermunculan bak cendawan di musim hujan. Dari usulan perpendekan jabatan yang semula tiga tahun menjadi satu tahun, pergiliran jabatan kepada setiap warga yang mulai urut dari rumah yang paling ujung sampai sistem kocok untuk menentukan siapa yang harus menjadi Ketua RT.
Malam bertambah larut, sudah terasa dinginnya pula. Akhirnya para peserta rapat pun sudah tidak tahan lagi untuk segera menyelesaikan acara ini apalagi esok hari adalah hari senin, hari pertama untuk memulai aktivitas keseharian dalam sepekan ke depan. Tentunya butuh tenaga yang fresh, yang tidak tersita oleh rapat yang berlarut-larut ini.
Akhirnya setelah dilakukan pendekatan yang intens kepada Pak Bobby, beliau akhirnya bersedia dengan satu syarat semua harus mendukung dirinya. Yang diiyakan oleh seluruh peserta rapat.
”Sekarang siapa dari bapak-bapak yang ada di sini yang mau jadi sekretaris dan bendaharanya?” tanya Pak Bobbi.
”Begini saja pak, karena ini adalah kerja tim tentunya perlu orang-orang yang berkesatuan hati dengan Bapak jadi pilih saja menurut Bapak yang dianggap cocok,” jawab salah seorang warga.
”Oke saya tunjuk Abu Ayyasy untuk jadi Bendaharanya, karena saya percaya padanya.” tegas Pak Bobbi.
”Insya Allah saya siap Pak,” jawab Abu Ayyasy.
”Untuk sekretarisnya saya tunjuk Pak Faisal.” tunjuk Pak Bobbi.
”Wah jangan Pak, saya sudah bertekad untuk pensiun dari dunia kemasyarakatan selama tiga tahun jadi jangan pilih saya, yah…” elak Pak Faisal.
Ujung-ujungnya pengelakan ini membuat rapat menjadi berlarut-larut kembali. Sampai akhirnya ada salah satu warga mengusulkan untuk menunda penunjukkan jabatan sekretaris ini, dengan pertimbangan bahwa Pak Bobbi punya cukup waktu untuk mencari orang yang benar-benar dianggap mumpuni dan sehati tentunya.
Sebelum rapat diakhiri tuan rumah meminta saya untuk memberikan sedikit taushiyah kepada para peserta halal bihalal ini.Tentunya suatu nasehat yang sangat berarti pula untuk diri saya sendiri.
26. Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[191]. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” (Ali-Imran)
Saya cuma bisa bilang: ”sesungguhnya Allah menghendaki kepemimpinan ini dipegang oleh Pak Bobbi. Dan kita patut pula untuk menyukurinya, karena sungguh kita akan lebih baik hidup dalam suatu jamaah daripada hidup dalam kesendirian. Kata Rasulullah: Hendaklah kalian berjamaah , sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.1)”
Kepada Pak Bobbi, berlaku adillah. Karena pemimpin yang adil adalah satu dari tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan dari Allah SWT pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya 2). Kepada saya dan bapak-bapak sekalian, bantu, dan taatilah Pak Bobbi, karena kini Pak Bobbi adalah pemimpin di antara kita semua.
***
Jelang tidur, malam semakin larut.
Abi: ”Mi, Alhamdulillah Pak Bobbi sekarang udah jadi Ketua RT.”
Ummi: ”Abi jadi apa…?”
Abi: ”Bendahara, sudah komitmen dari bapak-bapak kalau ditunjuk harus mau, tapi ada
juga yang tidak mau”
Ummi: ”Peran bagus”
Abi: “Bagusnya…?”
Ummi: ”Jadi ladang amal. Dan ini bukan peran kecil.”
Abi: ”Hmmm…peran kecil. Jadi inget imel teman.
”Kita pun sesunguhnya bisa walaupun saat ini kita “baru” berperan kecil. Tidak hanya berpangku tangan menunggu SATRIA PININGIT untuk Indonesia. Bertahun-tahun selama saya ikut menjadi bagian kecil dalam kegiatan Masjid Shalahuddin Kalibata sungguh membuat saya menjadi prihatin dengan pandangan sebagian besar teman-teman seperjuangan yang menganggap sepele peran-peran yang diamanahkan. Totalitas. Sulit menemukan partner dalam tim yang menyadari itu, apakah bisa memakmurkan masjid dengan sisa-sisa tenaga dan pemikiran kita setelah bekerja saja? (Ratna Marlina)”
Mi, bisa tidak dengan peran ini saya jadi Umar Bin Khatthab saat kini. Bangun malam, ngecek lingkungan, kentongin tiang listrik, dan pasang telinga kalau-kalau ada tetangga yang belum tidur karena belum makan.”
Ummi: ”Ah ngayal”
Abi: ”Kok pesimis kayak gitu…?”
Ummi: ”Karena ummi tahu persis Abi itu siapa…?”
Abi: ”Loh, Umar bin Abdul Aziz dulu sebelum jadi khalifah adalah pemuda yang royal dan tidak peduli dengan sekitar tapi setelah diangkat, Subhanallah, berubah 180 derajat jadi khalifah yang adil, zuhud, dan dermawan.
Ummi: ”Abi bukan dia…”
Abi: ”Pantas saja ummi pun bukan seperti istri Umar bin Abdul Aziz. Enggak pernah
memotivasi”
Ummi: ”Ah, bisanya cuma ngeles….Sudah sono katanya mau keliling, mo jadi Umar kan?
Abi: ”hmmm…berat juga jadi Umar. Godaan kasur begitu menghiba, padahal dua Umar
cuma beralaskan daun kurma”

Malam semakin larut, jelang tidur.
***

1. HR Abu Daud 547 dan Nasai 2 / 106 dengan sanad yang hasan
2. Ash-shahihain

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:00 07 Nopember 2006

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s