19 September 2002


19 September 2002

Kebiasaan setiap pagi yang saya lakukan sesaat sebelum berangkat ke kantor adalah melihat dua prajurit saya yang masih terlelap tidur itu. Lalu saya tatap wajah-wajah polos mereka. Mengelus-elus kepala dan mencium pipi-pipi mereka. Sungguh pada saat itulah kebahagiaan itu terasa hinggap. Seiring beratnya rasa untuk meninggalkan mereka. Ada sepucuk doa terselip untuk mereka, semoga Allah mengekalkan kebersamaan ini sampai di jannah-Nya.
Bagaimana tidak bahagia, jikalau saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa itu di tengah waktu yang seakan mendera saya dengan rutinitas setiap harinya. Pergi saat matahari belumlah muncul, dan pulang saat matahari sudah tenggelam di peraduannya. Maka pertemuan dan kebersamaan itu terasa singkat di setiap malamnya saat bergumul dengan keceriaan mereka. Saat si sulung mengulang kembali pelajarannya dan saat si bungsu ini mencoba dengan terbata-bata mengulang hafalan bunyi hurufnya. Lalu malam kian menjelang dan tidurlah mereka kembali dibalut mimpi di kamar yang terpisah.
Sebelumnya kembali rutinitas mengasyikkan dilakukan dengan merangkul mereka satu-persatu.
”Ayo Haqi, peluk Abi dulu,” pinta saya. Haqi pun bergegas menghampiri saya, dan saya memeluknya dengan erat, erat sekali. Tidak sekadar pelukan biasa. Saya usahakan tangan si Haqi pun memeluk punggung saya. Agar terasa kehangatannya. Agar terasa kasih sayangnya.
“Ayo cium Abi…”pinta saya lagi. Lalu ciuman itu mendarat di bibir dan kedua pipi saya. Terakhir ciuman saya mendarat di keningnya. Begitu pula saya lakukan kepada si bungsu.
Indah sekali rasanya. Ada keinginan abadi untuk selalu melakukan ini, tapi sungguh saya tak bisa mengekang waktu agar berhenti berputar untuk kedua anakku agar senantiasa mereka tetap menjadi anak-anak yang lucu supaya saya dapat dengan leluasa mencium mereka sepuasnya. Tentunya ini melanggar sunnatullah yang sudah semestinya ada pada diri mereka. Ah, biarlah mereka tumbuh apa adanya.
Pagi ini, saya mengulangi ritual itu. Kali ini saya mencium cukup lama Ayyasy—si bungsu—karena saya tahu hari ini Allah masih berkehendak menitipkannya padaku genap empat tahun. “Sudah besar pula, kau nak rupanya,” batinku.
Maafkan Abi jika sempat-sempatnya Abi ini memelototimu saat kau masih saja bergurau di tengah-tengah sholat berjamaah di masjid. Atau saat Abi menolak dengan keras keinginanmu untuk jajan permen selalu. Ah, kiranya sudah terlalu banyak hitungan Abi ini menolak pintamu.
Tapi nak, Abi masih ingat sekitar dua bulan yang lalu, saat di rumah yang ada hanya kita berdua. Kau pergi saja tanpa pamit ke luar rumah tanpa meminta izin kepada Abimu ini yang sedang berkutat dengan asyiknya di depan komputer. Dan menyadari bahwa rumah ini sudah sepi dari riuh rendah suaramu saat bermain sendiri dengan mainanmu itu.
Abimu memanggil tapi tiada bersaut. Di belakang rumah, di kamar, Abi pun sempatkan untuk membuka lemari—teringat dalam sebuah artikel ada seorang anak yang terjebak lama di lemari es, tapi tiada menemukan engkau. Abi mencoba mencari ke rumah tetangga sebelah, lalu menjauh ke tetangga-tetangga jauh lainnya di satu RT bahkan di lain RT dan hasilnya tetap sama, tiada Abi ini menemukan engkau. Ah Abimu ini panik, nak.
Pikiran buruk pun menghampiri. Ah, jangan-jangan engkau diculik nak. Bergegas Abimu ini mencari ke tempat yang lain. Syukurnya Abimu ini bertemu dengan wanita tua peminta sumbangan yang sempat bertemu denganmu, saat engkau memberinya dengan tangan mungilmu itu.
“Bu, ibu melihat anak saya yang ngasih uang kepada ibu tadi tidak?”
“Oh ya, si eneng itu yah…” Ibu itu menganggapmu anak perempuan, Ayyasy. 
“Memang setelah ngasih ibu, dia langsung pergi keluar, makanya Ibu tadi tanya, mau kemana neng? Tapi dia diam saja.” jelas si Ibu.
“Kemana arahnya, Bu?” tanya Abimu. Sang Ibu menunjuk ke arah selatan. Ke arah warung yang menjadi favorit Ayyasy untuk membeli jajanan kesukaannya. Tidak jauh dari tempat Abimu ini berdiri.
”Ah, mengapa tidak terpikir oleh Abimu ini nak, hingga melupakan tempat itu,” batin Abimu.
Bergegas menghampiri, di sana, di dekat warung itu, bergerombol anak-anak yang sedang bermain kelereng. Di pinggirnya, terlihat engkau berdiri menatap mereka sambil mengemut permen merah berbentuk telapak kaki itu.
”Ah, Ayyasy, Ayyasy…akhirnya engkau ada di sini.” Saya peluk ia, erat. Saya gandeng tangannya pulang ke rumah. Lega rasanya, di samping tumpukan rasa bersalah padanya karena membiarkan ia pergi sendirian dan tak menemaninya bermain.
”Kalau mau pergi bilang-bilang dulu yah…”pinta saya padanya.
Kini, pagi ini, memori kilas balik pun terpajang. Saat kami—Abi dan umimu ini—hidup dalam keprihatinan. Hingga premi asuransi jiwa ummimu yang niatnya kekal itu terpaksa dibatalkan agar bisa diambil untuk membiayai persalinanmu. Masih terasa dinginnya lantai saat Abimu ini sujud syukur di rumah bidan bersalin mendengar proses persalinan lancar-lancar saja.
Masih terasa indahnya sebagai hadiah kelahiranmu adalah Abimu ini lulus diklat jurusita dan ujian skripsi. Ah…rejekimu adalah rejeki buat Abimu. Lalu tumbuh kembanglah engkau meniti waktu bersama Abi dan Ummimu. Menangis, berceloteh, berteriak, merangkak, tertatih-tatih berjalan, jatuh dari ranjang goyangmu, berbicara terbata-bata hingga lancar walaupun sekarang huruf r-mu masih tidak jelas seperti Abimu, bertengkar dengan kakakmu, dan saat ini engkau masih saja lucu dengan baju seragam TK-mu yang kebesaran itu. Ya, masih saja lucu…
Selamat ya Nak…Abimu masih saja berusaha bersyukur kepada-Nya karena IA senantiasa mempercayai Abimu untuk menjagamu, memilikimu. Selamat nak, semoga ini akan terbaca olehmu kelak dewasa. Semoga pula kita dikumpulkan di jannah-Nya, bersama kakakmu, Abimu, dan Ummimu tentunya.
Kabulkanlah ya Allah….

Ps. Belum sempat Abimu ini membuat syair seperti dulu.

Mohammad Fauzil Adhim:
Tetapi, seperti kata Nabi, ”Barangsiapa tidak menyayangi, dia
Tidak akan disayangi.” Man la yarham, la yurham. (HR. Muslim). Pesan Nabi
saw. ini mengingatkan saya pada peristiwa yang disebut dalam hadis shahih
riwayat Bukhari. Suatu saat Rasulullah saw mencium cucunya. Seorang
pembesar bernama Aqra’ bin Habis At-Tamimi melihatnya, lalu
berkomentar, ”Aku punya sepuluh orang anak, tetapi tidak satu pun dari mereka yang
pernah kucium.” Rasulullah saw lalu menjawabnya dengan
ungkapan yang fasih, ”Apa dayaku bila Allah telah mencabut kasih-sayang
dari hatimu!”

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:24 19 September 2006

Siapa Teroris? Siapa Khawarij?


Siapa Teroris? Siapa Khawarij?
(ini bukan resensi)

Buku yang ditulis oleh Abduh Zulfidar Akaha ini memang luput perhatian dari saya. Buktinya buku yang terbit perdana di Bulan Juni 2006 ini baru saya ketahui hari Kamis (14/09) kemarin. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang buku ini tapi berupa iklan penjualan vcd bedah buku ini di sebuah milis. Pun saya menganggapnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik.
Tapi setelah saya melihat keramaian di sebuah forum diskusi dunia maya dan melihat betapa yang kontra terhadap buku ini begitu kerasnya meng-counter buku ini, kepenasaran saya langsung muncul. Sorenya sepulang dari kantor saya sempatkan untuk singgah di toko buku di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan.
Di toko itu, saya mencari-cari di setiap rak tapi tidak ketemu. Padahal dari komputer pencarian, buku tersebut masih ada delapan eksemplar. Dibantu oleh satu orang pegawai yang ikut membantu mencari akhirnya saya menemukan buku itu di rak buku. Pun setelah pegawai toko itu angkat tangan karena tidak bisa menemukannya dan mengatakan bahwa kemungkinan besar buku itu sudah diretur.
Buku ini adalah bantahan dari sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Luqman Ba’abduh yang berjudul ”Sebuah Tinjauan Syari’at: MEREKA ADALAH TERORIS!” (untuk selanjutnya disingkat MAT). Buku ustadz Luqman ini awalnya diniatkan untuk menjawab buku ”Aku Melawan Teroris!” karya Imam Samudera. Tapi seperti diungkapkan sendiri oleh Akaha di kaver belakang bukunya, bahwa ternyata buku itu secara membabi buta mengarahkan semua tuduhannya ke berbagai kelompok pegiat dakwah Islam lainnya selain salafi yang tidak ada hubungannya dengan Imam Samudera, terorisme, dan aksi bom bunuh diri.
Maka muncullah buku berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Ini. Buku yang walaupun berformat bantahan, tetapi diusahakan oleh sang penulisnya untuk senantiasa menjaga etika dan batas-batas kesantunan dalam tutur kata dan gaya bahasa penulisannya. Maka pembaca dapat membandingkan sendiri bagaimana etika itu dimunculkan oleh masing-masing penulis ini. Mana yang lebih santun dan mana yang sebaliknya.
Tidak berpanjang lebar dalam berkata-kata, berikut apa yang saya tangkap setelah membaca buku ini:
1. Desain kavernya (hardcover) bagus. Berlatar belakang warna hitam dengan api yang menyala-nyala seperti seakan-akan membakar kaver buku MAT. Kaver depan MAT pun terdapat ilustrasi api yang membakar buku Imam Samudera itu;
2. Peletakkan isi buku pun layak untuk disebut bagus karena sudah diperhitungkan agar para pembaca mudah untuk menikmati isi buku ini;
3. Referensi yang banyak pada catatan kaki. Ini dimungkinkan karena penulis adalah salah satu manajer Pustaka Al-Kautsar—penerbit buku ini. Sehingga data dan informasi otentik yang dibutuhkan lebih mudah didapat. Tidak perlu aneh karena Pustaka Al-Kautsar adalah penerbit buku-buku terjemahan dari Timur Tengah.
4. Membuat saya lebih memahami tentang arti sebuah perbedaan pendapat;
5. Satu yang pasti adalah buku ini menjawab hampir semua pertanyaan dan tema kontroversial di forum diskusi DSH;
6. Saya tidak bisa menuliskan kelebihan (yang tentunya terdapat pula kesalahan di dalamnya karena yang pasti sempurna adalah Alquran) yang ada pada buku ini, karena saking banyaknya. Saran saya buku ini layak untuk dibaca bagi para penggiat dakwah.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:56 18 September 2006

VIRUS KAWASAKI BUKAN VIRUS MURAHAN


VIRUS KAWASAKI BUKAN VIRUS MURAHAN

http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Hasil Ekokardiografi pada jantung anak pertama kami, Haqi, menunjukkan hasil negatif dari akibat serangan virus Kawasaki—virus luar negeri yang dideteksi telah masuk Indonesia setahun lalu. Ini sangat melegakan kami yang sempat panik saat seminggu lalu (08/09) mendapat vonis dari dokter spesialisasi anak di salah satu rumah sakit ibu dan anak Depok, bahwa haqi terkena virus ini.
Awalnya tiga minggu lalu, Haqi sepulang dari sekolah mengadukan apa yang dideritanya. Sekujur tubuhnya terutama di bagian badan menderita bercak-bercak merah seperti tampak. Kami menanggapinya dengan biasa-biasa saja karena ini mungkin cuma penyakit kulit biasa saja. Lalu kami meminta obat antiseptik kepada tetangga kami, seorang bidan yang juga membuka rumah persalinan di komplek kami.
Namun, obat antiseptik itu tidak bekerja dengan baik. Tapi malah suhu badan Haqi semakin bertambah, oleh karena itu esoknya kami memutuskan untuk membawanya ke dokter klinik terdekat di daerah kami. Alhamdulillah, setelah diberi obat-obatan dari dokter tersebut, suhu badan Haqi berangsur-angsur turun, dan setelah kurang lebih dua hari bercak-bercak itu hilang. Dokter Cuma mendiagnosa bercak-bercak itu sebagai akibat panas dalam yang diderita Haqi.
Anehnya, setelah itu kulit tangan Haqi terutama di bagian telapak tangan dan juga di jari-jari kakinya mengelupas. Tapi ketika kami tanyakan apa yang dirasakan sekarang oleh Haqi, ia cuma menggeleng saja. Kulit yang mengelupas itu sempat menjadi bahan mainan Haqi, dengan gunting ia pun memotong kulit yang benar-benar telah mengelupas itu. Hasil dari kulit yang mengelupas itu adalah telapak tangan Haqi menjadi kemerahan dan terasa kasar.
Tidak hanya kulit tangan yang mengelupas, sudut-sudut bibirnya pun seperti luka, dan lidahnya sakit karena sariawan. Puncaknya dua minggu setelah bercak-bercak itu muncul, Haqi kembali panas sambil merasakan sakit di lidahnya itu. Kami pun mencoba konsultasi ke dokter spesialisai anak untuk masalah sariawan ini sekalian bertanya tentang mengapa anak ini kurus sekali walaupun asupan susunya banyak.
Ternyata oleh dokter yang diperhatikan bukanlah masalah sariawannya tetapi bekas bercak-bercak di badan serta kulit telapak tangan yang mengelupas itu. Setelah mendengar keterangan kami dan melihat secara fisik kondisi Haqi (suhu tubuhnya naik menjadi 39 derajat celsius) Dokter pun mendiagnosa bahwa Haqi terkena Kawasaki Diseases. Penyebabnya adalah virus yang bila tidak ditangani secara dini maka akan berkomplikasi ke Jantung.
Dokter pun memerintahkan kami supaya memeriksa darah Haqi di laboratorium terlebih dahulu. Selain itu dokter memberikan resep obat yang salah satu obatnya itu mengandung ibuprofen—bila diberikan kepada anak yang terkena virus kawasaki maka tidak akan ada pengaruh. Karena menunggunya hasil lab itu terlalu lama, sedangkan Haqi sudah merengek-rengek minta pulang dan sudah tidak kuat menahan sakit di lidahnya, maka kami putuskan untuk pulang dengan menitipkan hasil lab itu kepada salah seorang tetangga kami yang kebetulan sedang bekerja di lab tersebut.
Malam harinya, suami tetangga kami itu—sebut saja Pak Jumani—mengetuk pintu kami dan menyerahkan hasil lab tersebut dan memberitahukan bahwa Haqi ditengarai positif terkena virus Kawasaki. Saran dokternya adalah segera dilakukan ekokardiografi. Lalu bila besok pagi panasnya tidak turun maka harus segera kembali ke dokter tersebut.
Syukurnya di tengah kepanikan kami Pak Jumani yang juga seorang analis lab itu mengendorkan kepanikan kami. Ia mengatakan bahwa hasil lab memang sudah pasti tapi diagnosa dokter bisa berbeda-beda. Oleh karena itu kami disarankan untuk mencari second opinion sekalian ekokardiografi di rumah sakit anak dan bersalin (RSAB) Harapan Kita. Apa yang dikatakannya melegakan kami ditambah keesokan harinya suhu badan Haqi sudah turun. Dan kami putuskan untuk menunda mencari second opinion itu pagi itu, tapi setelah obat ini habis.
Hari ini (14/09), seminggu setelah kami mendapat vonis itu, kami menuju RSAB Harapan Kita untuk menuntaskan rasa kepanasaran kami apalagi ditambah setelah kami membaca artikel-artikel yang kami cari di Internet tentang virus ini. Membaca semua itu jelas mengagetkan kami, apalagi ini efeknya akan terasa kembali 10 tahun lagi bagi si penderita. Kami tidak bisa membayangkan bahwa anak kami ini kan mengalami kelainan jantung.
Segera setelah konsultasi dengan dokter spesialisasi anak kami dirujuk untuk dilakukan ekokardiografi di dokter lain pada rumah sakit yang sama—dr Syarif namanya. Setelah mendengarkan penjelasan kami dengan teliti, terutama mengecek bermulanya derita itu secara detil per tanggal, dr. Syarif menyarankan kami untuk dilakukan ekokardiografi. Saran yang diutarakan kepada kami dengan segan-segan karena ini menyangkut biaya dan setelah secara rinci dijelaskan tentang kegunaan dari tes ini.
Syukurnya kami tidak terperanjat dengan biaya yang diajukan oleh dr. Syarif, karena kami sudah bertekad untuk menuntaskannya. Biayanya Rp300.000,00 hanya untuk tes tersebut, belum termasuk jasa dua orang dokter dan jasa rumah sakit.
Hasilnya seperti yang dijelaskan di awal, jantung anak kami normal-normal saja. Katup-katup, arteri koronernya normal. Tidak ada yang bermasalah. Dr Syarif pun mengatakan bahwa gejala-gejala yang diderita sangat berlawanan dengan apa yang menjadi karakter serangan virus yang hanya menyerang anak-anak ini.
Alhamdulillah, tuntas sudah rasa kepenasaran kami, tinggal melanjutkan mencari penyebab mengapa badan anak kami selalu kurus. Kami dirujuk untuk konsultasi ke dokter kulit dan kelamin, dokter THT, dan melakukan serangkaian tes lagi yaitu tes mantuk dan rontgen dada. Setelah berkonsultasi dengan dokter Syarif, konsultasi dan pengobatan ini bisa sambil jalan saja, tidak harus dilakukan pada hari ini.
Terpenting adalah kepastian yang menggembirakan kami dari hasil ekokardiografi tersebut bahwa anak kami tidak terserang virus Kawasaki. Karena bila terserang, penyembuhannya lama berkisar dua sampai dengan tiga bulan, obatnya pun sungguh mahal sekali. Sebotol dosis tertentu mencapai harga Rp3.500.000,00. Dan ini tergantung dengan berat badan si penderita, bila si anak beratnya mencapai 25kg, maka obat yang diperlukan sebanyak 10 botol (2,5kg/botol). Hitung saja…ternyata virus ini virus mahal, virus luar negeri dan bukan kampungan pula. Semoga anak-anak kita terhindar dari virus ini.

Sebagai informasi tambahan, berikut salah satu artikel mengenai virus ini:

Virus Kawasaki Mengancam Jiwa Anak
24 Agustus 2005
Di ambil dari http://www.cbn.net.id/

Setelah digegerkan virus flu burung, kini, masyarakat dikejutkan dengan adanya virus Kawasaki. Virus Kawasaki yang menyerang seorang anak dan dirawat di RS Harapan Kita tidak perlu terlalu dikhawatirkan mengingat virus tersebut sangat langka di Indonesia. Dan, menurut Menkes Siti Fadillah Supari, virus Kawasaki ini selalu ada, tapi bisa diobati.

“Virus Kawasaki itu memang selalu ada. Itu virus biasa. Tapi, pada orang-orang tertentu, ada yang mengakibatkan reaksi imunologis yang akan berefek pada jantung,” kata Menkes kepada wartawan usai silaturahmi bersama pejabat eselon I Depkes dengan pemimpin media massa di Hotel Twin Plaza, Slipi, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Anak yang dirawat di RS Harapan Kita memang memiliki gejala klinik yang mirip virus Kawasaki. Virus yang pertama kalinya muncul di Jepang ini, menimpa anak dan berkomplikasi dengan pembuluh darah jantung. “Kemarin yang di Harapan Kita itu, tampaknya begitu. Tapi ini bisa diobati,” lanjut Menkes. Kasus virus Kawasaki ini masih sedikit di Indonesia. Tahun lalu, tercatat ada dua orang yang terkena virus ini.

Demam Tinggi, Waspadalah!
Lalu, apa sih virus kawasaki itu atau dalam dunia medis dikenal dengan Sindrom Kawasaki atau sindrom kelenjar getah bening Mukokutaneus, Sindrom ini merupakan suatu penyakit non-spesifik, tanpa agen infeksius tertentu. Penyakit ini menyerang penderita pada bagian selaput lendir, kelenjar getah bening, lapisan pembuluh darah dan jantung. Penyebab pasti dari Sindrom Kawasaki hingga saat ini belum diketahui. Namun diperkirakan penyebabnya toksin superr antigen bakteri yang dikeluarkan staphylococcus aureus atau oleh grup A. streptococci, demikian menurut uraian Dr. Susilo, spesialis anak.

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Jepang sekitar tahun 1960-an. Dan, penyakit inipun menyerang anak berumur 2 bulan sampai S tahun dan 2 kali lebih Bering ditemukan pada anak laki-laki, lanjut Susilo. Sekitar 80 persen kasus ditemukan pada balita. Kasus sindrom kawasald terjadi banyak pada musim dingin atau musim semi di beberapa negara. Jepang merupakan negara yang paling banyak ditemukan kasus ini. Puncaknya terjadi pada tahun 1984 – 1985. KLB dilaporkan pemah terjadi pada beberapa negara bagian di Amerika Serikat. Penyakit ini telah tersebar diseluruh dunia. Namun cara penularan belum diketahui dan belum ada bukti terjadi penularan dari orang ke orang. Bahkan masa inkubasi dan masa penularan virus kawasaki belum diketahui.

Memang untuk mendiagnosis penderita terserang virus Kawasaki bukanlah perkara mudah, ujar Susilo. Diagnosis baru dapat dilakukan bila terjadi demam yang turun naik dengan suhu tubuh 39 derajat celcius selarna lebih dari 5 hari. Dan, demam tersebut tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal. Gejala lain yang perlu diperhatikan terjadi kerewelan pada anak dan tampak mengantuk. Kadang anak merasakan nyeri dan kram di perut.

Selain itu terjadi pula ruam kulit di batang tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok. Atau dapat pula ruam terjadi di bagian selaput lendir, lapisan inulut clan vagina misalnya. Anak yang terserang penyakit Kawasaki menunjukkan pula gejala seperti bibir merah, kering dan pecah-pecah, lidah merah seperti stroberi, dan tenggorokan merah.

Dalam beberapa minggu, ada tiga fase perkembangan dari penderita virus kawasaki, yakni fase demam akut berlangsung kira kira 10 hari yang ditandai dengan demam tinggi, kelainan kulit yang muncul secara cepat dan mendadak sebagai akibat dari penyakit, pembengkakan kelenjar, kulit merah karena terjadi pelebaran pembuluh darah. Setelah fase akut, terjadi fase subakut yang berlabgsung kira-kira dua minggu ditandai dengan demam, trombositosis, pengelupasan sisik-sisik lapisan tanduk epidermis (desquamasi), dan mulai menurunnya demam. Sedangkan fase berikutnya adalah fase konvalesen yang panjang ditandai dengan menghilangnya gejala klinis.

Komplikasi Jantung
Sebenarnya, jika gejala awal cepat diketahui maka penanganan penyakit akan cepat dilakukan. Yang justru dikhawatirkan dengan penyakit kawasaki ini jika terjadi komplikasi.

Sebab, sekitar 5-20 persen penderita mengalami komplikasi jantung, yang biasanya timbal pada minggu ke 2-4. Jika tidak terjadi komplikasi jantung, biasanya akan terjadi pemulihan sempurna. Sekitar 1-2% penderita meninggal, biasanya akibat komplikasi jantung; 50% diantaranya meninggal pada bulan pertama, 75% meninggal pada bulan kedua, 95 % meninggal pada bulan keenam. Tetapi kematian bisa terjadi 10 tahun kemudian dan kadang secara tiba-tiba.

Komplikasi bisa berupa peradangan adangan arteri koroner yakni arteri yang membawa darah ke jantung, pelebaran bagian dari arteri koroner (aneurisma), peradangan kantung jantung (perikarditis), peradangan otot jantung (Miokarditis akut, gagal jantung, dan kematian otot jantung (infark miokard). Penyakit sindrom kawasaki selain komplikasi dengan jantung, dapat pula terjadi komplikasi lainnya, seperti ruam yang tidak biasa, nyeri atau peradangan sendi (terutama sendi-sendi yang kecil), peradangan non-infeksius pada selaput otak (meningitis aseptik), peradangan kandung empedu, dan diare.

Pengobatan yang Tepat

Karena sindrom kawasaki tidak diketahui penyebabnya secara pasti, jadi tidak ada cara untuk pencegahan. Yang terpenting untuk Anda adalah segera menghubungi dokter bila anak Anda terserang demam tinggi. Demam tersebut apakah dengan gejala atau tanpa gejala dari sindrom kawasaki. Dengan pemeriksaan segera dokter dapat mengetahui segera sebab-sebab dari demam.

Dan, bila buah hati Anda dinyatakan terserang virus kawasaki, maka pihak medis akan segera memberikan pengobatan. Pengobatan dini secara berarti dapat mengurangi resiko terjadinya kerusakan pada arteri koroner dan mempercepat pemulihan demam, ruam dan rasa tidak nyaman. Selama 14 hari diberikan immunoglobulin dosis tinggi melalui infus dan aspirin dosis tinggi melalui mulut. Setelah demam turun, biasanya aspirin dalam dosis yang lebih rendah diberikan selama beberapa bulan untuk mengurangi risiko kerusakan arteri koroner dan pembentukan bekuan darah.

Pemeriksaan EKG akan dilakukan beberapa kali untuk mendeteksi adanya komlikasi jantung. Aneurisma yang besar diobati dengan aspirin dan obat anti pembekuan (misalnya warfarin). Aneurisma yang kecil cukup diatasi dengan aspirin. Jika anak menderita influenza atau cacar air, untuk mengurangi resiko terjadinya sindroma Reye, sebaiknya untuk sementara waktu diberikan dipiridamol, bukan aspirin.

Waspadai Gejala Berikut
• Demam yang turun-naik, tetapi biasanya diatas 39° Celsius, sifatnya menetap (lebih dari 5 hari) dan tidak memberikan respon terhadap asetaminofen maupun ibuprofen dalam dosis normal
• Rewel, tampak mengantuk
• Kadang timbul nyeri kram perut
• Ruam kulit di batang tubuh dan di sekeliling daerah yang tertutup popok
• Ruam pada selaput lendir (misalnya lapisan mulut dan vagina)
• Tenggorokan tampak merah
• Bibir merah, kering dan pecah-pecah
• Lidah tampak merah (strawberry-red tongue),
• Kedua mata menjadi merah, tanpa disertai keluarnya kotoran.
• Telapak tangan dan telapak kaki tampak merah, tangan dan
kaki membengkak
• Kulit pada jari tangan dan jari kaki mengelupas (pada hari ke
10-20)
• Pembengkakan kelenjar getah bening leher
• Nyeri persendian (atralgia) dan pembengkakan, seringkali simetris (pada sisi tubuh kiri dan kanan).
Pemeriksaan Medis
Ada beberapa pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk penderita sindrom kawasaki, yakni:
• EKG. yang bisa menunjukkan tandatanda dari miokarditis, perikarditis, artritis, meningitis aseptik atau vaskulitis koroner,
• Hitung darah lengkap, yang menunjukkan peningkatan jumlah sel darah, putih dan anemia (berkurangnya jumlah sel darah merah); pemeriksaan darah berikutnya menunjukkan peningkatan jumlah trombosit,
• Rontgen dada,
• Analisa air kemih yang bisa menunjukkan adanya nanah atau protein dalam air kemih.
Penanganan Penderita
• Bila ada kasus dilaporkan ke instansi kesehatan dengan segera.
• Isolasi tidak dilakukan.
• Tidak diperlukan desinfeksi serentak.
• Tidak perlu karantina.
• Imunisasi dengan kontak tidak dilakukan.
• Investigasi dilakukan jika terjadi KLB untuk mengetahui etiologi dan faktor risiko.
Sumber: Tabloid Ibu & Anak

Riza Almanfaluthi
Dedaunan Di Ranting Cemara
02:43 14 September 2006

CALON GUBERNUR KUDU BISA BACA ALQURAN


CALON GUBERNUR KUDU BISA BACA ALQURAN

Ini mungkin menjadi yang paling unik dan satu-satunya di dunia, tes membaca Alqur’an untuk setiap calon kepala daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Berarti setiap calon yang tidak lulus dari tes ini maka ia dipastikan tidak akan lolos menjadi bakal calon gubernur NAD. Karena salah satu syarat dari berbagai macam syarat menjadi gubernur NAD setiap calon harus mampu membaca Alqur’an dengan baik dan benar tepatnya tartil dan sesuai dengan ilmu tajwid.
Ini yang saya dengar dan lihat dari berita di televisi saat dilakukannya tes tersebut di Masjid Baiturrahman. Walaupun sampai detik ini saya belum mendengar kabar terakhir dari hasil tersebut tapi setidaknya bagi saya ini merupakan capaian prestasi mengagumkan dari negeri serambi Mekkah ini untuk mencari pemimpin yang benar-benar amanah dan sesuai syariat Islam tentunya. Suatu capaian dahsyat setelah negeri itu diterpa dengan kekejaman rezim terdahulu, perang saudara, dan bencana terpedih yang tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Aceh sendiri tapi seluruh saudara-saudaranya ditanah air tercinta ini.
Penerapan syarat kemampuan membaca Alqur’an ini tentunya merupakan satu capaian sukses dari capaian-capaian lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama salah satu capaian lainnya itu adalah penerapan hudud berupa hukuman cambuk bagi para pelaku maksiat seperti judi dan zina. Suatu hal yang ditentang habis-habisan oleh para sekuler negeri ini tanpa memahami kerinduan yang dirasakan masyarakat Aceh terhadap penerapan syariat Islam di negeri itu.
Ada satu pertanyaan menggelitik dari diterapkannya uji kemampuan membaca Alqur’an ini. Apakah kemampuan membaca Alquran itu mempunyai relevansi yang signifikan dengan keberhasilan sang pemimpin untuk dapat menyejahterakan masyarakatnya, menghilangkan ketidakjujuran yang bermuara ke korupsi, mengurangi kriminalitas dan parameter-parameter lainnya dari keberhasilan suatu kepemimpinan daerah?
Tentunya jawaban yang akan diberikan adalah jawaban yang panjang sepanjang perkembangan peradaban Islam yang bermula pada era keemasan rasulullah saw sampai saat ini. Dari janji Allah dan RasulNya yang mulia Muhammad SAW, maka dapat dipastikan jawabannya adalah 100% ya. Dengan satu syarat jika Alquran itu tidak sekadar dibaca oleh pemimpin yang memang mampu untuk membacanya. Jika sang pemimpin itu, tidak berhenti di titik itu saja. Sang pemimpin harus mampu untuk mennadabburi dan mengamalkannya. Itu saja.
Ya, Bagaimana mungkin dia mampu mengetahui isi Alquran yang merupakan pedoman itu sedangkan ia tidak mampu untuk membacanya. Tidak cukup dengan terjemahannya? Tentu tidak, karena aktivitas membaca Alquran adalah aktivitas bernilai ibadah yang satu hurufnya bisa bernilai 10 kebaikan. Yang bila dijumlahkan terdapat berjuta-juta nilai kebaikan. Bila diulang-ulang terus maka dilipatkan pula nilai kebaikan yang didapat itu. Maka sang pemimpin pun menjadi seseorang yang mempunyai modal untuk melangkah kepada kebaikan-kebaikan lainnya.
Tidak hanya itu selain mendapatkan nilai kebaikan sang pemimpin akan mempunyai kekuatan ruhiyah, intelektual, atau sikap mental yang tinggi, positif dan tidak mudah tertipu dengan kenikmatan semu karena Alquran adalah cahaya yang menerangi, pengingat dan rahmat bagi umat manusia.
Aktivitas membaca Alquran itu pun adalah jalan bagi para pemimpin untuk memperoleh petunjuk kebenaran dan menjadikan dirinya senantiasa sensitif terhadap kemungkaran. Ia akan mampu untuk memperoleh satu syarat mutlak kepemimpinan dalam Islam yakni kemampuan membedakan kebenaran dan kebathilan sebagaimana salah satu nama Alquran itu sendiri adalah Alfurqon yakni pembeda (antara yang hak dan batil). Ia akan mampu membedakan kebenaran yang berada pada cahaya—pada akhirnya selesailah semua permasalahan—dengan kebatilan yang selalu berada di sisi gelap atau kejahiliyahan yang merupakan sumber masalah umat dan perintis munculnya masalah.
Semua inilah yang memang harus lekat pada diri pemimpin-pemimpin kita. Agar senantiasa mereka tercerahkan dan selalu memikirkan keadaan rakyatnya. Dan saat ini kita memang merindukan pemimpin yang demikian, tidak hanya untuk rakyat Aceh juga semua rakyat Indonesia yang merindukan terciptanya negeri tercinta ini menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghoffur. Kapan ia akan datang? Tunggu saja…

121. Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya[84], mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al Baqarah]

****
Intermezo:

1. Ustadz Hidayat Nurwahid hafal 30 juz (berita ini sedang dalam konfirmasi)
2. Mantan Menteri Agama juga hafal 30 Juz, tapi dituduh melakukan korupsi. Siapa salah? Alqur’an mungkin sekadar bacaan saja. Nul Aplikasi.
3. Salah satu menteri di New Era pernah berkunjung ke sebuah pesantren dan berdialog dengan dengan salah satu santri kecil di sana yang sudah hafal 30 juz, Sang Menteri bertanya: ”berapa juz lagi dek hafalnya…? Weks…

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:46 11 September 2006

ZINAI ISTRI TETANGGA


ZINAI ISTRI TETANGGA

Waktu kultum kemarin di masjid Shalahuddin Kalibata, saya yang maju karena memang sudah dapat gilirannya. Saya nervous, saya tidak pandai bicara, saya demam panggung, saya batuk-batuk (kebiasaan begini memang kalau lagi stress), saya cuma bisanya nulis, ngeblog lagi. Tapi apa mau di kata tugas ya tugas. Saya memberanikan diri untuk menyampaikan secuil nasehat. Nasehat yang diharapkan bisa dilakukan oleh saya khususnya dan para jama’ah tentunya.
Keberanian ini memang harus diadakan karena dalam rangka kebaikan mengapa harus malu. Sedangkan banyak sekali orang yang melakukan kejahtan dan dosa malah bangga dengan dosanya itu. Ah yang benar….? Bener, coba saja lihat di fordis portal DJP, begitu banyak orang dengan entengnya menampilkan gambar-gambar seronok, tidak senonoh, tidak sopan, dan lain sebagainya. Eh…saat dinasehatin, malah ketawa-tawa, cengengesan, bangga lagi. Aneh…
Ya tapi tentang keberanian maju ke depan itu memang banyak godaannya. Godaan supaya kita tidak bisa bersikap ikhlas gitu loh…Godaan dengan senangnya dipuji orang dan ketakutan karena celaan orang. Ini sama-sama tidak ikhlasnya loh…Tidak berhenti di saat mau kultum atawa sudah berakhirnya kultum. Ditengah perjalanan pun si setan dengan mudahnya mengajak kita dalam kesesatan. Yakni dengan menikmati godaannya. Coba apa godaannya.
”Wahai manusia, tuh lihat betapa orang-orang seakan terpana mendengar omonganmu, maka cobalah bergaya dikit, tambah lagi intonasi suaramu…” kata setan. Intinya supaya kita ingin terlihat bagus di mata manusia, pujian lagi akhirnya. Dan tidak menginginkan kebaikan kita di mata Allah. Kalau begini caranya, niscaya sia-sia perbuatan kita ini. Sudah apa yang disampaikan tidak berbekas karena tidak berasal dari hati, tidak akan pernah lama ada dalam benak pendengar, juga tidak akan mendapat apa-apa dariNya. Masak menjual akhirat kita dengan hal dunia yang remeh temeh seperti ini sih…syirik lagi.

Nothing to lose poinnya. Biarlah apa dikata orang, mau memuji kek silakan, mau mencela, mengutuk, mencela, melaknat, ya silakan saja. Cuma penilaian Allah saja kok yang kita harapkan. Betul begitu kan? Tidak untuk yang lain. Tapi saya rasakan benar-benar susah sekali belajar ilmu ikhlas, ilmu yang dikejar-dikejar sama Andre Stinky untuk bisa melamar Sarah, karena calon mertuanya—Dedi Mizwar—menyaratkan demikian. Yah…namanya juga manusia, hidup senantiasa untuk memperbaiki diri.

Coba kita simak apa yang AsySyahid Hasan Al Banna berbicara Al-ikhlas dalam Rísalah Ta’alim-nya:
”Yang kami kehendaki dengan ikhlas adalah bahwa seorang al-akh muslim dalam setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah, ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.”
Ah…jelas sudah bukan untuk ambisi pribadi. Tepat sekali. Menusuk dan menohok ke jantung. Bukan pula untuk yang lanilla, yaitu segala yang dapat meningkatkan harkat dan martabatnya di mata manusia.Jelas sudah.
Dengan berupaya nothing to lose itulah saya maju ke depan membahas satu hadits pada waktu yang singkat itu, cuma tujuh menit belaka. Diambil dari kitab Al-Wafie, terjemahan kitab syarah hadits Arbain. Saya mengambil hadits yang ke-15, yakni hadits tentang etika orang beriman.
Kurang lebihnya demikian hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim ini:
Tidaklah beriman pada Allah dan hari akhir sampai ia berkata baik atau diam, menghormati tetangga, dan memuliakan tamu.

Berkenaan dengan adab menghormati tetangga itu ada salah satu hadits di buku tersebut yang mengutarakan tentang bentuk penzaliman kepada tetanggga yaitu pada hadits di mana suatu saat Rasulullah ditanya perbuatan apa yang termasuk dosa besar. Rasulullah menyebut perbuatan pertama yaitu menyekutukan Allah, lalu setelah ditanya lagi perbuatan apa setelah itu adalah perbuatan membunuh anak, dan terakhir adalah menzinahi istri tetangga.
Nah, pada poin menzinahi istri tetangga itulah saya tekankan sampai dua kali. Sampai di sini tidak ada masalah. Delapan menit pun berlalu, kultum pun selesai. Baru setelah turun dari mimbar dan kembali ke ruangan kantor, teman saya pun berkomentar tentang masalah menzinahi istri tetangga. Ternyata ia melihat banyak jamaah yang saling berbisik saat saya mengutarakan hal ini.

Dan teman saya yang lain mengirim SMS kepada saya, begini bunyinya:
[….tapi jangan terlalu penekanan dong pada poin berzina sama tetangga, 2 kali lo Za, aku melihat banyak yang senyum lo poin itu, kayak di film saja]

Bukan hanya di fim saja, di media massa, wabil khusus di Poskota sering kita lihat fenomena ini. Itulah hebatnya Rasulullah, masalah ini tenyata benar-benar dipahami betul oleh beliau 14 abad yang lalu sehingga mewanti-wanti kepada umatnya untuk menghindari ini.
Paginya, saat saya bersilaturahim dengan kawan di Subbagian Umum, ternyata ada teman juga yang mengomentari kultum saya. Lagi-lagi tentang menzinahi istri tetangga, penekanannya pada pelarangan menzinahi istri tetangga, berarti boleh dong menzinahi istri bukan tetangga. Halah…. 

Seharusnya kita melihat kaidah yang lebih umum yaitu pelarangan berzina dengan yang bukan haknya. Yaitu pelarangan berzina dengan siapapun orangnya di luar hukum agama termasuk berzina dengan binatang. Yang mana hukum dari berzina ini sudah termasuk dosa besar. Apalagi menzinahi istri tetangga, bisa lebih besar lagi dosa yang didapat untuk para pelakunya. Botullll….
Yah itulah di saat saya lagi tidak melucu, orang bisa juga menganggap omongan saya lucu. Tapi di saat saya lagi melucu, tidak ada tuh orang yang tertawa…? (sudah bisa ditebak joke saya basi habisssss…).
So, zinahi istri tetangga….Na’udzubillaahimindzaalik, Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan yang sedemikian rupa. Forever, ever,ever …… 

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
02:58 08 September 2006

Saya Bukan Juru Ledak


Saya Bukan Juru Ledak
(Ikuti Milis Bermanfaat)

Satu manfaat kita mengikuti milis adalah kita bisa berbagi. Yang paling penting adalah berbagi informasi dan apa saja terkecuali—seperti yang selalu teman saya bilang , Mas Soy—hati dan perasaan (halah…).
Tentunya milis yang benar-benar menjadikan diri kita insider bukan outsider. Maksudnya milis itu memang berkaitan dengan yang segala sesuatu kita sukai bukan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Tapi ada saja yang memang mengikuti milis bukan untuk take and give tapi memberi saja. Biasanya ini cuma untuk penyebaran opini, pemasaran bisnis pribadi, atawa spam tidak bermutu.
Kalau kita mengikuti milis yang tidak disukai, tepatnya memang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kesukaan, hobi, atau pekerjaan kita maka bersiap-siaplah menjadi orang yang terasing, yang bloon dan melongo tidak tahu apa yang didiskusikan. Hasilnya ini membuang-buang bandwith saja. Lalu buat apa dipertahankan, so tinggal unsubscribe saja.
Contoh terbaru adalah saat saya mengikuti milis pekerja tambang. Niat pertama saya adalah mungkin saya bisa berbagi tentang pengetahuan perpajakan saya, sehingga para peserta milis setidaknya merasakan sedikit manfaat dari keberadaan dan eksistensi saya (halah…lagi). Eh…ternyata memang pajak dari sononya tidak disukai, kalau bisa ya dihindari saja (kalau masalah ini sih basic instinct, atawa wild instinct dari manusia). Jadinya tidak ada yang pernah menanyakan hal ini. Malah saya yang terlongong-longong membaca istilah-istilah aneh seperti ini:

Planning, Monitoring and Evaluation Project with the Logical Framework Approach (LFA),
sertifikat juru ledak
kandungan TiO2 >12%

Wah…kalau dulu saya memang pernah jadi juru tapi bukan yang berkaitan dengan dinamit dan TNT tapi Jurusita, profesi khusus dengan segala sesuatu yang membuat Wajib Pajak gemetar dan tidak bisa tidur karena membaca surat teguran, surat paksa dan surat sita. Dan maaf juga yah, saya sekarang bukan di PMA Tiga lagi, saya sudah tidak mengurusi kilaunya emas dan sangitnya batubara. Yang saya urusi sekarang adalah sepatu, tekstil, dan tembakau. Jadi beda jauh, ibarat bedanya Squall sama saya (emang sudah beda dari dulu). Saya mengambil langkah tepat, saya bukan juru ledak, saya bukan pekerja tambang, saya tidak mendapatkan apa-apa di sana, saya cabut dari milis pekerja tambang.
Kembali tentang kegunaan kita mengikuti milis—yang saya ikuti adalah keadilan4all—saya seringkali mendapatkan informasi terkini tentang perkembangan dunia Islam karena ada satu peserta milis yang sangat konsisten untuk mengupload berita-berita terkini dari internet. Ada lagi yang konsisten sekali untuk menampilkan tanya jawab dari Pusat Konsultasi Syariah, atau tentang tipu daya Amerika terhadap dunia Islam dengan menampilkan berita asli dari situs luar negeri.
Nah, yang paling gua demen adalah semangat berbagi di saat peserta lain membutuhkan sesuatu misalnya tentang permintaan softcopy materi daurah, informasi seminar, atau daftar-daftar informasi penting lainnya.Dua hari ini saya diminta bantuannya oleh beberapa teman untuk memberikan informasi seputar SDIT di Jakarta Selatan dan materi daurah.
Sudah jelas saya tidak tahu mengenai masalah ini, tapi saya berusaha ketika saya tidak bisa mampu memberi yang diminta setidaknya saya bisa membantu dengan memberikan kepada mereka info siapa yang harus mereka hubungi. Tidak hanya itu, saya kemudian mengirimkan permintaan bantuan kepada para peserta milis. Dan alhamdulillah, responnya luar biasa. Tidak berapa lama apa yang teman saya butuhkan bisa segera didapat. Ternyata yang membantu adalah kawan-kawan dari pajak juga yang ikut milis itu. Syukurlah…saya cukup puas sekali kalau saya bisa sedikit membantu.
Sekarang, milis yang saya ikuti adalah keadilan4all, forum_lingkarpena, dan Belajar_IT. Yang disebut terakhir, sedang dipertimbang-timbang untuk keluar juga. Karena belum ada manfaat yang bisa saya ambil. Tapi saya perlu waktu lagi untuk menelisik lebih dalam, apakah milis ini berguna bagi saya atau tidak. Agar saya benar-benar bisa menjadi insider bukan outsider yang tidak punya inner beauty dan outer beauty. Loh….loh…loh…kagak nyambung lagi…
Kesimpulannya—ini memang harus benar-benar disimpulkan karena bisanya si TJ malas membacanya, dan cuma bisa minta ringkasannya saja. Pertama, ikutilah milis yang benar-benar bermanfaat untuk kita, kedua, ikuti milis yang bisa menjadikan diri kita menjadi bagian dari milis itu, dan ketiga yang para anggotanya suka untuk berbagi dan ringan tangan membantu sesama. Jika tidak, ledakkan saja, upss…saya bukan Amrozi dan bukan pula agen-agen barat, saya bukan pula juru ledak, maksudnya cabut saja, unsubscribe saja gitu loh.

terimakasih untuk:
Arman [LTO];
Winanto [Solo];
Muhammad Damiri [London Sumatera].

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:44 07 September 2006

”MENEMBAK” ANAK TETANGGA


”MENEMBAK” ANAK TETANGGA
(I LOVE YOU)

Melihatnya dan mendengar curahan hatinya seperti melihat diri saya sendiri berumur belasan tahun. Kegundahan hati anak yang baru menginjak kelas satu SMP ini—sebut saja Alex—terasa sekali dari setiap gerakan matanya. Bahkan sangat mencolok dengan hembusan nafas yang ia perdengarkan ke sekeliling untuk meneguhkan hatinya yang tumbang karena penolakan.
Ya, anak tetangga saya satu RT ini baru saja ‘menembak’ Bunga—remaja perempuan yang umurnya pun baru belasan tahun dan duduk di kelas tiga SMP. Ia pun anak dari tetangga saya yang lain. Hasil dari tembakannya bisa ditebak karena selain tidak memenuhi kriteria menurut pandangan kapitalisme yaitu tinggi, putih, dan macho juga tentunya si Alex umurnya jauh di bawah Bunga. Walaupun sempat terucap dari Bunga: ”itulah namanya cinta”, saat ditanya oleh si Alex ”bolehkah saya mencintaimu walau engkau kakak kelas saya.”
Luar biasa filosofisnya perjalanan kehidupan anak-anak zaman sekarang. Filosofi yang dikarbit untuk mengejar waktu yang membuat mereka lebih cepat dewasa dari yang sebenarnya. Dengan bahan karbit berupa tayangan sinetron remaja penuh hedonisme di setiap malamnya dan pesan-pesan singkat yang bersileweran via telepon genggam yang sudah menjadi aksesoris primer.
”Bi, saya sempat berpikir apakah ia jodoh saya atau bukan?” Saya sampai tertawa—tapi tentunya di dalam hati—mendengar pemikiran setengah pertanyaan tersebut.
”Saya sakit hati, Bi.”
”Saya menangis dalam sholat, Bi.”
”Bunga sepertinya memberikan harapan.”
”Saya tidak bisa tidur.”
”Saya tidak bisa melupakannya.”
”Saya sampai sakit dan disuruh pulang sama Bu Guru.”
”Saya cuma ingin dia tidak bergaul dengan anak-anak nakal.”
”Pacaran dosa enggak sih, Bi?”
”Kalau pacaran tidak pegang-pegang gimana tuh, Bi?
Masih banyak penjelasan dan pertanyaan yang ia berikan menemani curhatnya kepada saya sebagai ”guru sipritual”nya. Curhat yang membuat saya harus berdiam terlebih dahulu untuk mendengar semua apa yang ia ingin katakan. Saya paham sekali yang ia butuhkan adalah tempat untuk membuang segala keresahannya. Dan menurutnya saya adalah tempat yang tepat sekali. Dan saya paham sekali bagaimana sih wujud metamorfosis dari cinta monyet yang gagal itu, karena saya tentunya adalah mantan remaja.
Tapi satu yang pasti adalah ah, ternyata mungkin beginilah tingkah saya dulu saat mengejar cinta. Beginilah apa yang dirasakan oleh orang dewasa dulu saat mendengar curhatan saya. Pertama, tertawa yang pasti. Kedua, segalanya mudah ditebak. Ketiga, berpikir bahwa zaman yang kau tempuh masih panjang, Dik.
Lalu setelah lama ia berbicara, giliran sayalah yang beraksi. Dalam hati, inginnya saya bagaimana ia bisa tetap eksis untuk mendapatkan cinta Bunga. Tapi jelas hal ini melenceng jauh dan bertolak belakang dari misi yang saya bawa setiap harinya. Saya bukan konsultan gelap untuk itu. Dan sungguh bukanlah waktunya untuk menerapkan trik syar’i mendapatkan Bunga dengan jalan perjodohan sebagaimana biasa yang ditempuh para mahasiswa era kampus saya dulu.
Pastinya banyak nasehat klasik yang meluncur dari mulut saya dan dengan hati tentunya. Nasehat yang sudah biasa dibuat oleh para orang tua yang selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk giat belajar dan tidak berpacaran atau menikah dulu saat menempuh ilmu.
Sedikit membosankan memang tapi itu suatu kepastian yang dituntut dari seorang pelajar dan hamba Allah yang senantiasa waktunya digunakan untuk mengingat Allah. Tapi saya tidak melupakan janji Penguasa Jagat Raya kepadanya. Sesungguhnya pemuda calon penghuni surga adalah pemuda yang mampu menghindar dari nikmatnya maksyiat saat ia sanggup untuk melahapnya di depan mata.
Tidak hanya nasehat tentunya agar ia bisa menghilangkan kesahnya. Saya menyuruhnya melakukan apa yang biasa saya lakukan pada saat menenggak keresahan, yaitu menulis apa yang ia rasakan pada secarik kertas dan memberikannya kepada saya. Mungkin terapi ini bisa membantu.
Pun saya memberikan solusi yang bisa mengalihkan perhatiannya. Saya ajak ia untuk ikut acara mabit di masjid kampung tetangga malam ahad besok. Supaya tidak sepi di malam panjang yang menggoda itu, saya menyuruhnya untuk mengajak semua teman-temannya ikut acara itu. Sekalian mengasah kepekaan hati bermunajat di rakaat-rakaat panjang sepertiga malam terakhir. ”Lex, pintalah apa yang kau mau padanya, saat itu.”
Untuk Sang Bunga, saya cuma bisa menyerahkan kepada sang istri—tempat di mana Bunga mengulang hafalannya—untuk menasehatinya agar senantiasa menjaga aurat, sekeping hati, dan ribuan asanya.
Ah, adik-adikku, anak-anak tetanggaku, masih jauh senja di pandang mata, masih jauh waktu yang akan kau tempuh, bersemailah, bermekaranlah menjadi pemuda-pemudi tangguh untuk masa depanmu. Kelak kau akan merasakan nikmatnya iman pada diri-diri yang shalih, keluarga yang shalih, dan masyarakat yang shalih. Tidak hanya engkau berdua saja.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10:32 05 September 2006

Renda Cinta


renda cinta

setelah tiada jarak
tiada lagi resah kesah
tiada lagi lagu-lagu syahdu
tiada lagi sunyinya malam
tiada lagi dentingan yang mendayu
tiada lagi bening di sudut mata
tiada lagi merenung di balik jendela
tiada lagi memandang rintik hujan
setelah tiada jarak
saatnya merenda cinta bukan…?
kau dan ia tentunya
aku?
cuma desiran angin yang menerpa wajahmu

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara

Buitenzorg Semakin Dingin
04:42
04 September 2006

SUATU SAAT SAYA AKAN MENGGIGIT KAMU


Berbulan-bulan sudah saya tidak pernah mencicipi kue ini. Ada sih kue sejenis ini: serabi solo. Kalau yang ini juga saya doyan dan sering makan di Kalibata sini. Tapi saya ingin yang klasik, yang konvensional. Kue serabi yang biasa saja itu loh. Yang sering saya jumpai di kampung halaman di setiap ahad pagi sehabis jogging.
Ada yang berwarna putih dan ada pula yang berwarna merah. Kalau yang putih tentu rasanya asin biasa atau gurih. Tapi yang merah tentunya manis karena ditambah dengan gula merah cair oleh bibik-bibik penjual kue serabi. Dan sedapnya….tanpa di tambah-tambah dengan cairan gula lainnya seperti kue serabi yang ada di Bandung atau Jakarta.
Waktu pulang ke Semarang kemarin (ini kemarinnya orang Jawa yah…) saya mencari-cari kue ini. Hasilnya nihil. Tidak barang sebiji pun yang bisa saya jumpai. Padahal saya sedang kangen-kangennya sama itu tuh barang. Uh…
Tapi, akhirnya Allah mempertemukan juga dengan kue itu. Tiga hari lalu, di rute baru yang saya tempuh dalam perjalanan menuju kantor, di dekat perlintasan kereta api Pasar Minggu menuju Condet, di ujung gang ada ibu muda penjual kue itu sedang asyik membakar serabi dalam gerabah hitamnya. Tapi karena saya sedang diburu oleh waktu untuk segera meletakkan jempol kiri ini di finger print maka saya tidak berhenti untuk mencicipi salah satu warisan kuliner nenek moyang kita itu. Tetapi saya sudah mengincarnya. ”Suatu saat saya akan menggigit kamu,”tekadku. 
Nah, hari ini, Jum’at, tanggal satu bulan September tahun dua ribu enam, saya kembali melewati jalan itu dan berhenti sejenak untuk membelinya. Tapi saya ingat saya cuma membawa satu lembar I Gusti Ngurah Rai dan dua lembar Pattimura. ”Wah, duit recehnya tidak ada lagi, padahal saya mau membeli banyak, setidaknya buat teman-teman di kantor,”pikir saya.
”Bu, harganya berapa?”
”Seribu dua, mas.”
“ Ya, sudah saya beli empat.”
“Empat ribu mas…?” tanyanya.
“Nggak Bu, saya cuma punya receh dua ribu, jadi empat biji saja.”
Dengan sigapnya ia memilihkan buat saya serabi yang masih panas dan terlihat bersih. Tapi saya memintanya untuk mengambilkan yang bagian bawahnya menghitam, agar terasa khas sangit-sangit terbakarnya.
Empat kue sudah berada di kantong plastik dan bertengger di stang bagian kiri motor yang sudah hampir mendekati kantor. Kini, sambil menulis ini, saya menggigit kue ini pelan-pelan, merasakan gruihnya (tidak lezat-lezat amat sih). Tapi yang pasti saya merasakan sensasi luar biasa, yaitu sensasi terpenuhinya rasa kangen saya terhadap kue kuno yang satu ini. Alhamdulillah, yang mana IA telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menikmati kue ini.
Ngomong-ngomong masalah kenikmatan serabi, yang cuma kenikmatan kampung, dan cuma kenikmatan semu dunia maka kenikmatan mana lagi yang sempurna selain kenikmatan yang Allah persembahkan kepada orang-orang bertakwa.
Pasnya lagi hari ini saya sering mengulang-ulang beberapa ayat di surat Al-Insaan ayat 41 s.d. 44

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata air-mata air
Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.
(Dikatakan kepada mereka): ”makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa ayang telah kamu kerjakan”.
Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Subhanallah…
Setelah beberapa ayat itu, Allah menggambarkan tentang keadaan bagi orang-orang yang mendustakanNya di dunia.
”…Makanlah dan bersenang-senanglah kamu (di dunia dalam waktu) yang pendek; sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang berdosa.”
”Kecelakaanlah yang besar bagi orang-orang yang mendustakan.”

Masya Allah…
Ah, pagi ini serabi saya memberikan sedikit penyadaran bahkan banyak, untuk selalu sadar bahwa ada kehidupan setelah kematian kita.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
08.29 01 September 2006

SEMANGAT CINTA DI FORUM KELUARGA


Setelah sang penjaga DSHNet itu pergi meninggalkan kantor pusat untuk menjalankan tugas di tempat baru, dan setelah begitu terbengkalai halaman depannya dengan berita-berita basi yang tidak up to date, dan setelah tanggung jawab di forum diskusi dipunggawai oleh salah seorang al-akh yang lain, tiba-tiba saja DSHNet itu menghilang.
Apa yang saya rasakan? Kalau Anda yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul: akhir dari penantian panjang? di http://10.9.4.215/blog/dedaunan/11493 maka Anda akan melihat betapa rindunya saya dengan DSHNet. Rindu yang membuncah kerana saya sendiri yang tidak merasakan kelezatan berita DSHNet, asyiknya mengirim tulisan di partisipasi, dan lain-lain.
Tetapi sekarang, saya belum merasakan kerinduan itu. Walaupun lagi-lagi serasa seperti tercerabut dari akarnya. Mungkin dikarenakan tidak hanya saya yang kehilangan tetapi banyak teman yang senantiasa di setiap harinya memantau dan menemukan eksistensi dirinya di DSHNet, entah sebagai komentator dari berita-berita yang ada, atau sebagai pengirim ucapan yang setiap setiap saat di menu Kirim Ucapan, atau sebagai seorang yang haus akan kekerabatan di forum keluarga, bahkan penempur sejati di forum dakwah dengan segala cacian dan makiannya.
Berkaitan dengan forum inilah yang membuat saya merasakan ketidakrinduan ini terkecuali untuk bersilaturahim dengan para peserta forum di Keluarga. Karena selain di forum Keluarga—terutama di forum dakwah dan politik yang ada hanyalah kecaman, celaan, dan fitnah yang dibungkus dengan nasehat manis belaka. Yang tiada habis-hasbinya setiap hari digunakan untuk membongkar kelemahan kawan atau manhaj tertentu lainnya. Yang sudah pasti memang sudah berbeda dari sononya dan tidak pernah akan ketemu kalau tidak ada salah satunya yang mengalah.
Ternyata, hikmah apa yang saya dapatkan dari kehilangan DSHNet ini. Ini pengakuan jujur dari saya. Saya bisa lebih concern untuk memikirkan yang lain. Untuk menulis, untuk beraktivitas pada kegiatan utama sebagai seorang petugas pajak, untuk menambah hafalan, untuk membuat proyek ebook dari kumpulan tulisan saya di blog dedaunan di ranting cemara.
Saya lebih concern pula dengan membuat rencana materi apa yang diberikan kepada calon kader-kader Islam yang tangguh (Insya Allah). Dan terpenting lagi kini saya kembali lebih sering untuk bersilaturahim dengan sanak-saudara di blog Cicadas ini. Syukur yang tak terkira, walaupun dengan komentar seadanya kepada kawan yang lain dikarenakan lambatnya akses.
Dan apa yang saya tidak rasakan lagi setelah hilangnya DSHNet ini. Saya tidak lagi merasakan hati panas karena membaca komentar-komentar yang sepenuhnya penuh dengan kebencian itu terhadap manhaj dakwah yang saya pegang dengan erat ini. Pikiran-pikiran untuk mencari pembelaan yang ujung-ujungnya tetap saja dicaci itu pun tidak ada lagi. Pun hari-hari berhati gersang karena terlalu memikirkan celaan kini sudah tiada lagi. Insya Allah.
Dan itulah hikmah yang saya rasakan. Damai saja kiranya yang ada. Sudahlah, yang sudah berbeda ya tetap berbeda, kenapa sih ”kalian” masih tetap memaksakan kami dengan sebutan penghuni neraka karena dianggap tidak nyunnah. Kita masing-masing sudah punya ulama yang kita tsiqoh-i (percayai) bukan…? mengapa”kalian” yang panas…? tanya kenapa? (halah…) Sepertinya memang sudah terlalu banyak mudhorotnya tinimbang manfaatnya forum tersebut (terkecuali forum keluarga, ekonomi dan iptek tentunya, oh ya ada juga yang baru: forum pajak). Usul saya forum tersebut ditutup saja deh… 
Tapi satu kehilangan pasti adalah tiadanya berita Islam yang hot. Apakah saya harus membuka kembali situs Islam lain di pulau Sumatera itu? (nama dan alamatnya pun saya lupa, ada yang tahu?) Kehilangan lainnya adalah saya tidak bisa berbagi cerita dan berita bagus dari milis yang saya ikuti tentang kondisi umat Islam sedunia untuk saya beritahukan kepada khalayak di Forum Keluarga.
Ah…kiranya saya cuma merindukan fordis keluarga. Di sana ada Abu Salma, Umminya Zaidan, Abu Yazid, Atik Faizah, Ananda, Dandelion, Abu Umar, Brazkie, Abu Sa’ad, Salsabila, dan lain-lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena saking banyaknya. Mereka dan yang lain setidaknya menghidupkan silaturahim di forum keluarga itu. Ada semangat cinta di antara mereka. Cinta karena Allah tentunya. Cinta yang tidak dibungkus dengan semangat jarh wa ta’dil yang kebablasan itu.
Pula di sana saya pikir ada semangat koreksi yang tulus untuk sesama penghuni. Semangat berbagi yang tulus pula (berbagi resep kue seperti yang Umminya Zaidan lakukan). Semangat menulis buat para pengirim partisipasi (jangan pernah lemah semangat yah…). Semangat melankolis dengan puisi-puisi indahnya di Zona Poetry-nya. Ah…cukup banyak sekali semangat-semangat yang saya temukan di sana. Ah, kiranya saya merindukan forum keluarga. Itu saja.
Tapi kapan rindu ini tertuntaskan jikalau DSHNetnya pun tidak kunjung tiba. Atau jangan-jangan saya saja yang tidak tahu, kalau-kalau DSHNet kini sedang dipersiapkan dengan tampilan baru, funny, dan eye catching, tentunya pula dengan semangat baru oleh sang punggawa baru. Siapa tahu …? Semoga.

Riza Almanfaluthi
“Mas Danang S H. kemana dikau pergi…?,” (halah…)
dedaunan di ranting cemara
02:32 30 Agustus 2006