Gamay di antara Microsoft dan Google


GAMAY DI ANTARA MICROSOFT DAN GOOGLE

Malam ini saya sudah tidak sabaran sekali untuk menuliskan tentang Google setelah membaca sebagian halaman dari sebuah buku yang mengisahkan tentang kesuksesan Google—yang dirintis dua orang keturunan Yahudi—untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi terbesar dengan nilai kapitalisasi saham yang tidak pernah dibayangkan para kapitalis untuk perusahaan baru tumbuh seperti Google. Di benak saya sudah tak terbendung lagi air bah ide untuk dituliskan agar tidak meluber kemana-mana.
Tetapi saya tidak akan menuliskan begitu saja isi tentang buku itu, karena apa yang mau saya tulis sedangkan bagi saya semuanya dari halaman pertama hingga halaman 167—halaman yang sedang saya baca, dan saya percaya sampai halaman terakhir pun—menarik semua dan tidak akan membuat saya bosan. Wajar saja kalau Daily Mail menulis sebuah endorsement di sampul depan buku berwarna putih—khas gaya antarmuka Google—itu dengan sebuah ungkapan: ”Sungguh memikat, ditulis dengan gaya kisah detektif…sangat cerdas.”
Di sini saya cuma ingin mengungkapkan sebuah kisah atau beberapa kisah tentang pergaulan saya dengan Google—sebuah ikon tentang citarasa gaya surfing masa kini yang membuat Bill Gates panik karena banyak sekali para lulusan tercerdas dari kampus-kampus ternama Amerika Serikat berusaha bergabung dengan Google alih-alih bergabung dengan Microsoft.
Ya, kisah yang dimulai dari sebuah keputusasaan saya mencari arsip-arsip penting di komputer desktop saya. Dengan mengklik tombol start di Windows bawaan komputer, lalu menekan tombol Search dengan ikon sebuah kaca pembesar maka muncul tampilan search result dengan balloon yang diungkapkan seekor anjing berwarna coklat.
”What do you want to search for?” tanya anjing itu. Maka saya ketikkan keywords dari file yang saya cari itu. Setelah saya memilih salah satu menu yang ada di sana lalu menekan tombol search, maka mulailah pencarian itu dimulai dengan si Anjing berdiri pura-pura sibuk membuka halaman-halaman buku tebal itu. Satu atau dua kemungkinan yang muncul pada search result. “Search is complete. There are no results to display.” Itu kemungkinan yang pertama. Selanjutnya adalah kalau file itu ada maka hasil pencarian memakan waktu yang cukup lama. Bermenit-menit bahkan. Sungguh lama sekali. Saya frustasi dengan hal ini.
Tetapi setelah saya mengenal Google di awal pengenalan saya dengan internet di tahun 2002, apalagi setelah Google mengeluarkan perangkat lunak canggihnya yaitu Google Desktop walaupun masih dalam versi beta, membuat persepsi saya tentang sebuah pencarian di komputer rumahan menjadi berubah, dari semula mengerikan, mimpi buruk menjadi mengasyikkan dan saya sungguh menikmatinya.
Google Desktop memberikan kepuasan manusiawi dalam hitungan detik dari pencarian ribuan file yang bersemayam dalam komputer kita. Sekarang saya tak lagi pusing-pusing lagi menemui file yang lupa disimpan di mana karena tidak suksesnya saya dalam penertiban administrasi file.
Software kecil tersebut juga memberikan fasilitas kotak pencarian kecil di taskbar—letaknya biasanya di sudut kanan bawah. Dengan ini saya tak perlu membuka halaman browser untuk pencarian sebuah file. Dengan mengetikkan satu huruf depan dari keywords maka akan tampil di atas taskbar tersebut indeks dari file-file yang dicari. Microsoft pernah sesumbar untuk membuat search engine desktop yang mampu mencari file dalam setiap bit di pc, tapi MSN Search (mesin pencari buatan Microsft) pun masih tak sanggup menandingi kehebatan PageRank—sistem Google dalam pencarian di dunia maya.
Luar biasa. Dulu hingga kini saya sangat terbantu dengan fasilitas ini. Oleh karena itu di saat saya pindah kantor dan menjumpai personal computer (pc) baru di hadapan saya, yang pertama kali saya lakukan adalah menginstalasi program bagus tersebut. Saya merasa seperti orang buta tanpa tongkat dengan tiadanya fasilitas itu.
Satu lagi bantuan yang membuat saya terpuaskan dari sistem pencarian ini adalah kemampuannya mengorganisir apa yang saya mau saat mencari data jurnal dan tesis. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada fasilitas ini, kemungkinan besar saya tidak bisa menyelesaikan tesis dalam waktu dua bulan penuh. Karena saya harus kemana-mana mencari data primer ataupun sekunder. Ke lokasi perusahaan, perpustakaan, ataupun ke Bursa Efek Jakarta.
Tapi dengan Google saya cuma cukup dengan memelototinya dan melihat bagaimana ia menginventarisir web-web mana saja yang harus saya kunjungi dan menyediakan data tersebut. Mulai dari Jakarta Stock Exchange, Yahoo! Finance, Reuters, Bloomberg, Republika Online, Kompas Online, dan situs-situs keuangan lainnya. Alhasil saya tak perlu capek-capek membolak-balikkan halaman berbagai referensi di perpustakaan atapun tempat-tempat yang saya sebutkan tadi.
Saya perlu menyatakan pula, dengan Google itulah saya menemukan satu tesis lengkap—mulai halaman pertama sampai akhir—yang menarik saya dan memberikan ide awal untuk membuat tesis. Menurut saya tesis si fulan ini cukup bagus, mudah dimengerti, dan satu yang pasti adalah sarannya yang memberikan ruang gerak kepada penelitian lanjutan. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan penelitiannya.
Tapi secara moral saya perlu legitimasi untuk ini, oleh karena itu saya perlu meminta izin secara informal dari penulis tesis. Lalu menghubungi siapa? Saya tak tahu kemana saya harus melakukan kontak dengan sang penulis. Tapi saya berpikir cepat, insting saya berjalan, karena dalam kata pengantar tesisnya ia adalah termasuk orang yang tidak gamay (gagap dunia maya) dan juga seorang blogger, saya langsung ketikkan nama si fulan di Google, Jreng….!!! Di layar, tampak alamat dan nomor telepon genggamnya. Saya sukses besar meminta kepadanya untuk mengizinkan saya melanjutkan penelitiannya dengan mengganti variabel-variabel penelitian dan menambah time frame penelitian sesuai apa yang disarankan pada bab terakhir tesisnya itu.
Berkaitan dengan penelitian saya kutip satu paragraf dalam buku tersebut:
Pelajar dan mahasiswa, berapa pun usia mereka, adalah pengguna Google kelas berat, walaupun ada guru dan dosen yang terus menyuruh mereka menggunakan mesin pencari akademik yang lebih khusus, selain mendorong pemanfaatan perpustakaan, pertemuan tatap muka, dan sejumlah cara lain yang tradisional dan telah teruji untuk mendapatkan informasi penting. Tokoh pendidikan masih belum satu pendapat soal manfaat Google. Banyak yang mengatakan Google menjadikan mahasiswa malas, mendorong plagiarisme, dan mengganggu proses belajar dengan memungkinkan pengambilan data secara cepat, alih-alih memaksa mereka melakukan penggalian yang didorong oleh hasrat untuk tahu lebih banyak mengenai suatu bidang. Namun yang lain memujinya, mengatakan bahwa kemudahan dalam penggunaannya mendorong orang mengeksplorasi dan menganalisis dokumen-dokumen penting kapan pun, entah siang atau malam. Mereka juga berpendapat bahwa Google meminimalkan perbedaan yang dihadapi oleh mahasiswa, entah sekolah atau universitas mereka besar atau kecil, entah mereka kaya atau miskin, dan entah mereka mempunyai akses ke perpsutakaan yang lengkap atau tidak sama sekali. Pendek kata, mereka mendukung tujuan Google untuk mendemokrasikan akses ke informasi, termasuk hasil penelitian ilmiah yang terus bertambah.(Vise: 2006).
Bagi saya, manfaat Google adalah menurut pendapat yang kedua. Ya, setidaknya untuk mengimbangi gap intelektualisme dan mencegah diskriminasi penyebaran informasi antara negara maju dan berkembang.
Begitu banyak manfaat yang didapat dari Google yang tidak bisa saya ungkapkan di sini. Dan terakhir saya cuma berpikir tentang kalimat di bawah ini saat memakai Google: ”Al-hikmatu dhaallatul mu’min, annaa wajadahaa fahuwa ahaqqu bihaa”. Hikmah itu adalah sesuatu yang hilang dari orang beriman, di manapun dan bagaimana pun itu ditemukan, maka ia lebih berhak untuk mendapatkannya.” (Kalimat ini pun saya temukan dengan searching via Google).
Saya tidak tahu bagaimana kontribusi mereka terhadap Israel, saya cuma tahu mereka pernah berkunjung ke Israel untuk memotivasi para murid di satu sekolah khusus para jenius agar tetap eksis dengan ditemani oleh Mikhail Gorbachev dan Shimon Perez (pembantai rakyat Palestina).
Oleh karena itu untuk tetap memelihara semangat dan dukungan perjuangan kepada rakyat Palestina dan berhati-hati terhadap dana yang bisa disumbangkan kepada Israel, saya cuma bertekad untuk tidak mengklik teks iklan yang disediakan oleh Google di sebelah kanan situsnya, karena dari sanalah jutaan bahkan milyaran dollar pemasukan Google di dapat. Berhati-hati tidak mengapa bukan…?
So, sila ber-google-ria, tentunya dengan cerdas.
Allohua’lam bishshowab.

***
”Pak, kok di situs pajak saya tidak mendapatkan peraturan yang saya cari ya?” tanya seorang Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Tiga.
”Ah, yang benar, masak sih Bu…?” tanya saya menyangsikannya.
”Betul Pak, saya sudah lama nyari tapi tetap gak ketemu,” jawabnya dengan dialek jawa yang kental.
”Ya sudah ibu cari di Google saja,” saya memberikan solusi.
“Google? Situs apaan tuh Pak?
“What the…?” pikir saya dalam hati. Wajib Pajak PMA, lokasi di Surabaya, sering pakai email, kejadian ini benar adanya kurang lebih sebulan yang lalu. Gap?

***

Maraji’: Vise, David A. dan Malseed, Mark. (2006). Kisah Sukses Goggle, Cetakan Kedua, Jakarta: PT GPU

Riza Almanfaluthi
(seorang gamay juga)
dedaunan di ranting cemara
malam ramai di gelapnya mendung berhias sabit

05:27 24 Januari 2007

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s