Anton dan Tante Siska


Sehabis lari tipis-tipis ke atas sejauh 2,5 kilometer, sempat digonggong dan dikejar anjing, lalu turun lagi dengan jarak yang sama, di Lembang yang pagi harinya kelabu dan menggigilkan tubuh, aku kembali balik ke ruang kelas untuk mendapatkan banyak wiyata.

Lokakarya kepenulisan kali ini diisi oleh Yusi Avianto Pareanom, penulis novel Pangeran Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Ia banyak memberikan penugasan kepada peserta lokakarya. Lalu ketika tugas itu selesai dikerjakan, Pak Yusi akan mengevaluasi satu per satu tugas itu.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Tujuh Kiat Menulis Kreatif Ala Gus Mul


Ada yang menarik dari lokakarya yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen pajak) beberapa waktu lalu di Surakarta. Lokakarya Kontributor Situs dan Media Sosial Ditjen Pajak menghadirkan pengeblog sekaligus penulis beken dan lucu Agus Mulyadi sebagai salah satu pembicaranya.

Perawakannya yang kurus sepadan dengan jabat tangannya yang lemah dalam genggaman. Bukan lemah sebenarnya, tetapi halus. Sebuah karakter “njawani” yang kuat diiringi dengan kata-kata “matur nuwun” yang senantiasa meluncur dari mulutnya.

Baca Lebih Lanjut.

Cara Mudah Menangkap Dan Memenjarakan Ide Menulis



Stephen King via Whatculture.com

For King, if an idea is truly good, if it just needs to be written, it won’t leave.

~~~J.D. Bentley.

Mencari ide menulis bisa dari banyak hal. Dari membaca, mengunjungi suatu tempat, mendengarkan ceramah, jalan-jalan, pembicaraan dengan orang lain, saat bekerja, sampai saat di kamar mandi.

Tapi memang mencari inspirasi menulis itu rada-rada susah. Sabtu kemarin adalah hari paling menggelisahkan. Saya bengong-bengong di atas kasur, bingung mau menulis apa. Sampai-sampai muncul pikiran buruk kalau-kalau saya sudah tidak bisa menulis lagi.

Baca Lebih Lanjut.

5 PRINSIP UNTUK MENJADI JUARA LOMBA MENULIS


5 PRINSIP UNTUK MENJADI JUARA LOMBA MENULIS

 

(sumber gambar: udel.edu)

Ramadhan selalu memberikan keberkahan kepada saya. Banyak sekali. Tak terhitung. Salah satunya adalah kemenangan-kemenangan kecil. Di tahun 2011, saya mengikuti lomba menulis puisi Islami yang diselenggarakan oleh Masjid Alamanah Kementerian Keuangan. Alhamdulillah Allah menakdirkan saya mendapatkan juara dua. Tiga tahun kemudian, di bulan Juli 2014 ini tepatnya di Ramadhan 1435 H, saya diberikan kesempatan untuk menjadi pamungkas di Lomba Menulis Artikel “Semangat Anti Korupsi” yang diselenggarakan oleh 7G DIV Khusus Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Kalau saja tidak ada yang menampilkan pengumuman lomba itu di Forum Shalahuddin tentu saya tidak akan pernah mengikuti lomba itu. Kebetulan saya melihat sepintas pengumumannya terselip dalam ratusan tema diskusi dalam forum tersebut. Saya membacanya dan memutuskan untuk ikut. Entah teman-teman forum sudah membaca pengumuman itu atau tidak. Dan tak tahu pula apakah banyak teman saya yang ikut.

Peserta lomba adalah mahasiswa STAN dan pegawai Kementerian Keuangan. Hadiahnya uang dan sertifikat. Bukan uang yang menjadi tujuan utama saya. Setidaknya niat saya untuk ikut lomba pun sekadar mengasah kemampuan menulis saya. Kalah menang adalah hal yang biasa. Sudah sering saya ikut lomba dan sudah sering pula saya kalah. Maka tak jadi soal kalau saya kalah. Mental seperti ini harus disiapkan agar tidak pernah ada rasa kecewa yang berkepanjangan. Kecewa itu manusiawi tapi kalau terus menerus dipelihara bisa mengakibatkan frustasi dan mematikan kreasi.

-Baca lebih lanjut.->

MAU SEJUTA


MAU SEJUTA

Karakter Hajjah Ida di Sinetron Emak Ijak Pengen ke Mekah adalah karakter orang kaya yang sombong, sering memamerkan kekayaan dan kedermawanannya kepada orang lain. Dan itu berhasil diperankan sangat baik oleh Sang Pemeran, hingga membuat penonton hanya bisa mengelus dada dan jengkel melihat tingkah lakunya.

*

Jumlah hit yang berkunjung ke blog ini sudah hampir satu juta. Tentu karena bukan blog yang luar biasa, menempuh sejumlah angka tersebut perlu kerja keras. Karena satu pakem yang saya yakini betul dari sebuah blog dan ini hal yang terpenting adalah kontennya. Seberapa pun tampilan blognya super keren tapi isinya tidak bikin tambah manfaat buat pembaca tentunya berbanding terbalik dengan jumlah kunjungannya.

 

image

 

Seperti saya yang sering berkunjung ke blog unofficialnya Dahlan Iskan, itu karena semata kebutuhan. Bahwa di sana ada yang saya cari. Di sana ada yang saya butuhkan untuk menghilangkan dahaga intelektualitas (maaf kalau sok-sokan seperti ini) dari apa yang dia tulis di setiap pekannya.

Enam ratus hits setiap hari. Dan saya tahu apa yang mereka kunjungi di blog ini. Dan betul sesuatu yang bermanfaat buat mereka. Bukan karena celotehan saya yang tak karuan yang menyebabkan mereka datang ke blog ini. Bukan. Dan setelah saya perhatikan itu pun karena artikel-artikel lama saya. Hingga saya berpikir sudahkah membuat tulisan yang bisa dibagi buat orang lain dan bermanfaat saat –saat ini?

Jangan-jangan selama ini tulisan-tulisan baru saya tak ada manfaatnya buat mereka. Hanya sekadar ajang narsis saya. Pemikiran ini memukul telak ambang batas dari niat ikhlas yang selalu saya dawamkan ketika mau memosting sebuah tulisan. Sudah ikhlaskah? Saya cuma bisa meluruskan niat dan mengembalikannya kepada Allah SWT.

Hajjah Ida itu dermawan. Ia sangat royal kalau mau kasih duit ke orang. Satu hal tentang Hajjah Ida ini ia tak segan-segan bantu orang dan keluarkan duit banyak untuk bagi-bagi. Tapi yaitu tadi, padahal ia sudah mengumpulkan banyak pahala atas kebaikannya bagi-bagi duit, tapi langsung lenyap seketika hanya karena pamer dan sering menyakiti hati orang yang diberi duit.

Sedekah ya sedekah tapi jangan nyakitin. Padahal kalau Hajjah Ida tahu, kalau ia sedekah tak menyebut-nyebut sedekahnya itu dan tidak menyakiti perasaan si penerima, maka Hajjah Ida akan mendapatkan banyak pahala kebaikan buatnya, tidak akan ada rasa cemas yang menjadi sumber dari segala penyakit nomor satu manusia modern, dan tentunya Hajjah Ida tak pernah bersedih hati. Itu sudah janji Allah.

Amalan Hajjah Ida itu adalah amalan serupa batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. Tidak mendapatkan sesuatu apapun, sedikitpun, dari apa yang diusahakan.

So, saya dengan Hajjah Ida jangan-jangan sama. Karakter Hajjah Ida jangan-jangan sudah melekat di dalam jiwa saya. Mengira menulisnya bermanfaat buat orang lain, eh tahunya tak dapat apa-apa. Musibah.

Ah, gak tau yaa…Soalnya saya cuma ingin menulis hari ini. Menulis apa saja. Kalau sudah kayak gini berarti memang saya sudah jadi fakir ide dalam menulis. Tabungan ide saya habis. Atau sebenarnya banyak ide tapi pengen menulis yang serius, dan gurih, gurih, gurih begitu. Eh malahan tak bisa jadi semua. Oleh karenanya menulisnya jadi tak serius seperti ini, apa adanya, sekali jadi, tanpa edit, dan langsung posting. Tak tahu apakah ini bisa manfaat buat orang lain atau tidak. Padahal kata Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik kamu adalah yang manpangat buat orang lain gitu….

Sudahlah. Ternyata ada satu berkas jatuh tempo yang harus saya kerjakan sekarang. Pamit dan undur diri. Mau sejuta hits? Kerja keras, beri sesuatu yang manfaat buat orang lain, dan istiqomahlah. Itu saja.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:35 02 September 2013

Di sudut lantai 19

MBUH…


MBUH…

     Sudah dua paragraf tulisan yang saya buat, tetapi akhirnya terhapus juga. Mau nulis ini mau nulis itu, kena blok lagi. Inilah kalau menulis sambil mengedit. Mikirnya bagus enggak, sesuai aturan enggak. Padahal sudah diajarin tentang freewriting. Ternyata saya juga sering kena writer’s block.

    Padahal tiga hari diklat banyak banget ilmu yang didapet. Tapi atasi mental itu yang rada-rada susah. Padahal sudah banyak banget pengalaman yang dicapai selama berkecimpung dalam hobi menulis ini, masih tetap kena penyakit buat para penulis. Lagi-lagi karena kena beban menulis itu: harus bagus, harus enak, dan lebih baik daripada tulisan-tulisan yang lampau. Tapi kalau banyak mikirin begini, kagak jadi nulis-nulis. Typo mulu.

    Sekarang saya lagi belajar freewriting lagi aja. Gak mikir sesuai ejaan apa kagak. Yang penting malam ini kudu nulis. Sebab ilmu yang diperoleh selama tiga hari ini kudu cepet-cepet dipraktekin supaya jangan hilang.

    Dua hari yang lalu saya nulis tentang diklat di hari pertama, sekarang saya ingin melanjutkan sedikit tentang belajar apa saja yang pada hari ini. Yang pasti saya hari ini dapat ilmu tentang teknik menulis deskriptif, pengenalan media massa, belajar lagi tentang bahasa Indonesia. Terakhir tentang penulisan esai dan opini.

    Sesuai jadwal di hari kedua harus ada editor Kompas yang mau ngasih ceramah tetapi enggak jadi. Diundur di hari ketiga kata panitia. Tetapi sampai hari ketiga pun dia tak sanggup datang karena kepentingan yang mendesak. Tapi tak mengapa, dari Pak Harri Sujadi saja saya sudah banyak dapat ilmu. Di hari ketiga, hari Kamis (28/2,) kami diajari tentang cara revisi dan editing, terus sama-sama kita mencari topik yang bisa ditulis dan dimuat di media massa.

    Bener-bener deh males banget ngelanjutin ini tulisan. Lemes. Gak nafsu. Apa karena tadi juga waktu istirahat siang maksain ngedit tulisan yang mau dikirim. Tapi mau tidak mau malam ini kudu maksa buat freewriting. Freewriting itu nulis apa aja, bebas, cepet tanpa dihalang-halangi oleh apapun. Keinginan typo kudu dijauhin bener. Katanya kalau freewriting selama dua kali sehari dan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan niscaya akan jadi penulis terampil. Karena sesungguhnya seperti yang sudah saya katakan di tulisan pertama: menulis itu adalah keterampilan. Dan keterampilan harus senantiasa diasah. Itu aja kali yah.

    Patut diketahui juga kalau freewriting itu adalah cuma metode atau cara latihan menulis bebas menggunakan otak kanan. Karena pada kenyataannya menulis itu harus baik sehingga perlu revisi dan edit. So, freewriting adalah sekadar latihan.

    Ohya dua tahun saya meninggalkan Pusdiklat Keuangan Umum ini banyak sekali perubahan terutama dari segi pelayanan panitia kepada kami. Sekarang untuk registrasi diklat gak perlu lagi ngisi kertas, sudah paperless, tinggal ngisi profil yang sudah disiapkan di intranet Pusdiklat.

    Fasilitas komputer yang tersambung dengan internet pun sudah tersedia. Ditambah hotspot wifi di setiap lantainya. Sertifikat pun sudah bisa didapat langsung selesai diklat. Beda banget dengan dua tahun yang lampau yang kagak tahu kapan jadinya dan tahu-tahu sudah dikirim ke kantor masing-masing. Ketersediaan makanan juga selalu terjamin. Ah…sudah ya. Tulisan mbuh iki (Gak tau, gak jelas).

    Satu lagi, kayaknya emang enak ya kalau berangkat ke kantornya jam tujuh pagi dari rumah. Lalu naik KRL Commuter Line yang rada longgar setelah KRL ekonomi. Turun tak berdesak-desakkan dan masih rapih. Pulangnya jam setengah lima dari kantor dan pergi ke stasiun yang masih belum ramai dengan para penumpang. KRLnya juga tak penuh-penuh amat. Sampai rumah belum maghrib. Wuih idaman sekali. So, inilah yang terjadi pada hari ini. Nikmat yang sungguh tak boleh diingkari.

    Done.

***

Riza Almanfaluthi

21.01 28 Februari 2013.

gak diedit lagi, jangan protes.

BUANG OTAK KIRIMU


BUANG OTAK KIRIMU

 

Dua tahun yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) penulisan ilmiah populer yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Umum Kementerian Keuangan, mulai hari ini, selasa (26/2) selama tiga hari saya diikutkan kembali diklat menulis yang diberi titel Diklat Menulis untuk Media Massa.

    Tempat penyelenggaraannya juga sama, di Pancoran. Jadi saya harus turun di Stasiun Cawang untuk kemudian berjalan kaki menuju ke sana. Dan itu butuh waktu 25 menit berjalan santai.

    Pengajarnya juga ternyata sama, Pak Harri Sujadi, mantan wartawan Kompas yang sekarang jadi freelancer-journalist. Materinya juga sama. Tapi tak mengapa, karena ternyata saya merasa mendapatkan “tenaga baru” untuk menulis. Dengan mengikuti diklat ini materi yang dulu pernah saya terima dan masih sulit dimengerti jadi lebih dapat dipahami lagi.

    Seharian ini saya bersama 20 peserta diklat yang lain se-Kementerian Keuangan—dan hanya tiga orang dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP)—diajarkan bagaimana cara melepaskan diri dari belenggu otak kiri di saat menulis. Menulis itu, katanya, adalah proses kreatifitas. Bagaimana cara memunculkan dan mengasah kreatifitas itu? Tentu dengan memaksimalkan fungsi otak kanan. Otak kanan itulah yang bertanggung jawab atas munculnya ide dan proses kreatifnya.

Jadi sedari pagi sampai sore tadi kita disuruh dan dilatih melepaskan diri dari otak kiri di saat menulis. Caranya? Kita dilatih freewriting, clustering, re-creation, Inner-eye. Detil dari empat itu nanti saja saya terangkan di lain kesempatan kalau ada waktu. Pelatihan yang terakhir itu kita diajarkan bagaimana caranya otak kiri benar-benar harus tak mampu menjadi raja dalam otak kita. Otak kanan yang harus berperan besar. Caranya? Menerjemahkan puisinya Guiseppe Ungaretti yang berbahasa Spanyol itu dengan sebebas-bebasnya. Cukup dengan menangkap nuansanya lalu tulis. Itu saja.

Dan ternyata masih saja ada yang tidak bisa, masih bertanya-tanya apa arti kata-kata dari bahasa yang tidak pernah dipakainya itu, dan cuma bisa terpaku. Sampai waktu selesai tak ada satu kata pun tertulis. Kata Pak Harry, itu berarti otak kiri masih dipergunakan.

‘Ala kulli hal, hari ini pokoknya saya dapat ilmu banyak. Contohnya tips-tips menulis seperti berikut ini:

  • Tips yang salah dari menulis adalah menulis sambil mengedit.
  • Menulislah terlebih dahulu. Edit belakangan.
  • Tuliskan apa yang ada dalam pikiran.
  • Menulis itu harus tahu siapa pembaca tulisan kita.
  • Dengan inner eye, jangan hambat momen yang ada.

     

Acara besok lebih seru lagi, akan ada ceramah tentang editing media dari editor Kompas yang menangani desk-opini. Semoga besok dan besoknya lagi saya dapat mengikuti kelas dengan baik tanpa mengantuk (tadi juga sebanrnya mengantuknya cuma sedikit kok) dan gangguan gadget (masak terus-terusan melihat timeline di Twitter).

    Terima kasih kepada pihak-pihak di Kantor Pusat yang memercayakan saya untuk mengikuti kembali diklat ini. Sangat bermanfaat dan Insya Allah bisa ditularkan kepada yang lain kalau diberi kesempatan untuk menularkannya.

    ***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dua tahun itu tak terasa lewatnya

tulisan ini hasil dari freewriting

20.40 26 Februari 2013

 

Tags: tips menulis, harri sujadi, kompas, djp, direktorat jenderal pajak, kementerian keuangan, pusdiklat keuangan umum, diklat, Penulisan Media Massa, menulis untuk media massa, pancoran, freewriting