Berani Hanya dalam Kerumunan


Adanya Ramadan 1444 H tidak membuat warganet Indonesia berjeda untuk mengeluarkan kata-kata kotor di media sosial. Kata-kata itu muncul saat membuat konten atau berkomentar. Maka, mau tidak mau, memang layak jika warganet Indonesia didapuk sebagai warganet paling tidak sopan se-Asia Tenggara.

Microsoft mendaulat itu pada Februari 2021 dengan mengeluarkan laporan yang berjudul Digital Civility Index (DCI). Laporan itu mengumumkan tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya.

Laporan dibuat berdasarkan survei yang dilakukan pada Februari dan Mei 2020 dengan melibatkan 16.000 responden dari 32 negara. Dari jumlah itu ada 503 responden survei berasal dari Indonesia.

Penilaian menggunakan skala 0 sampai 100. Semakin tinggi angkanya semakin buruk cara berkomunikasinya alias tidak sopan. Dalam survei itu, Indonesia mendapatkan skor 76. Angka tersebut naik dibandingkan tahun 2019 saat Indonesia memperoleh skor 67.

Di antara negara se-Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan paling tidak sopan. Warganet Singapura menjadi warganet paling sopan sekawasan dengan skor 59 atau menduduki peringkat keempat secara global.

Dengan julukan itu, tidak aneh jika warganet Indonesia menjadi bahan cibiran warganet negara-negara lain. Ketidaksopanan menjadi senjata bagi warganet Indonesia untuk menyerbu akun-akun media sosial warganet negeri jiran yang tidak sepemahaman dengan opini arus utama warganet Indonesia.

Walaupun sekadar komentar—dan itu tergantung kepada pemilik akun untuk membaca atau tidak membacanya—komentar yang tidak sopan memiliki daya rusak psikis yang sangat hebat. Inilah yang disadari oleh pelatih sepak bola tim nasional Malaysia Tan Cheng Hoe pada 2019 lalu. Untuk menjaga kesehatan mental, Tan Cheng Hoe meminta para pemain timnas Malaysia untuk tidak bermain media sosial.

Berbanding Terbalik

Ketidaksopanan di dunia maya ini tentunya berbanding terbalik dengan dunia nyata. Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan memiliki tingkat kesopanan yang tinggi. Apalagi dalam soal membantu orang lain.

Laporan berjudul World Giving Index 2021 dari Charity Aid Foundation mencatatnya. Masyarakat Indonesia dijuluki sebagai negara paling dermawan dari 110 negara yang disurvei sepanjang 2020. Indonesia memiliki indeks tertinggi dengan nilai 69%, jauh dari Jepang yang menjadi paling buncit dalam survei tersebut.

Penilaiannya didasarkan pada tiga kriteria: banyaknya individu yang membantu orang lain yang tidak dikenal, banyaknya individu yang menyumbangkan uang untuk amal, dan banyaknya individu yang menyumbangkan waktu untuk organisasi amal.

Masyarakat Indonesia hebat dalam ketiga kriteria tersebut. Maka, ketidaksopanan warganet Indonesia itu seakan-akan menjadi paradoks.

Kalau dilihat lebih dalam dan saksama, paradoks itu timbul karena media sosial menyediakan anonimitas. Dengan anonimitas, pemilik akun merasa bisa bicara dengan bebas, berani, dan agresif tanpa dibatasi oleh norma-norma sosial. Tidak ada ceritanya kita bisa merayakan petuah “menghormati orang tua dan menyayangi yang lebih muda” di dunia maya tersebut.

Ini tidak terjadi pada dunia yang lebih kecil semacam grup WhatsApp. Sebabnya, anggota grup adalah mereka yang memiliki kesamaan di suatu titik sehingga mereka bisa dikumpulkan dalam satu grup komunitas. Ada sanksi sosial yang bisa diterapkan dan menimbulkan efek jera apabila ketidaksopanan terjadi dalam suatu perbincangan. Minimal ada admin grup yang memiliki relasi kuasa untuk bisa menghentikan ketidakharmonisan antaranggota grup.

Selain itu paradoks timbul—walaupun ketidaksopanan itu dilakukan oleh akun media sosial dengan nama yang terang benderang—karena deindividuasi. Deindividuasi menurut KBBI adalah perasaan yang menganggap dirinya tidak akan dikenali dan tidak akan menjadi bagian dari suatu kelompok. Ini hampir mirip dengan anonimitas, tetapi dilakukan dalam suatu kerumunan.

Sederhananya, karena banyak orang lain melakukan ketidaksopanan, maka individu ikut-ikutan untuk melakukan hal yang sama. Individu tidak akan berlaku kasar jika dalam posisi seorang diri. Di antara kerumunan itu, individu tidak akan dikenali. Ini seperti mencari selamat di tengah keramaian anggota kelompok.

Ditambah aturan hukum yang menjadikan delik atas pencemaran nama baik di media sosial itu sebagai delik aduan. Hanya korban yang bisa memprosesnya ke polisi. Kalau tidak ada aduan pencemaran nama baik, maka tidak ada proses hukum. Pasal 310 KUHP dan Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik jo. Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 menjadi rujukan.

Paradoks itu juga bisa muncul karena media sosial menjadi tempat “terbaik” untuk mengeluarkan unek-unek atas himpitan hidup dan ketidakadilan yang terjadi dan dialami pelaku ketidaksopanan. Apalagi mereka dijejali dengan konten flexing setiap saat yang memberikan mimpi yang sulit untuk menjadi realitas. Tanpa disadari pertentangan antarkelas terjadi.

Mata Uang

Ketidaksopanan di dunia maya menjadi karakter yang inheren dengan keseharian di dunia nyata. Bisa saja disembunyikan secara rapi, tetapi percayalah karakter tercela tersebut akan terkuak seiring dengan waktu. Tidak setiap saat orang bisa menjadi malaikat.

Antonim dari itu adalah kesopanan atau biasa disebut sebagai budi pekerti yang baik. Agama Islam menyebutnya sebagai akhlakulkarimah. Nilai itu berlaku dari zaman para nabi sampai dengan saat ini. Tidak ada yang berubah walau zamannya berubah dan generasinya berganti: generasi milenial, gen z, generasi alpha, dan setelahnya.

Budi pekerti itu menjadi mata uang yang berlaku kapan pun, di mana pun, dan dalam ideologi apa pun. Apatah lagi di dunia kerja. Buat apa memiliki anggota tim yang sikapnya buruk walau memiliki keahlian tinggi? Anda mau berpartner dengan anggota tim yang tidak mau bekerja sama, tidak mau menerima masukan, tinggi hati, dan tidak bisa menjaga sopan santun?

Gordon Tredgold sebagai satu dari Global Guru’s Top 10 Leadership Experts meyakinkan kita seperti ini:  “I would love to hire staff with both the right attitude and aptitude, but if I can only get one of those, then I am taking attitude every single time.”

Sekaligus, meyakinkan kita bahwa Ramadan 1444 H lalu mestinya menjadi cara kita untuk bahagia dan menjauhi mereka yang berkata tidak baik. Caranya: tidak perlu membaca kolom komentar di media sosial.

Selamat berlebaran.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Artikel ini telah dimuat di Majalah Elektronik DJP INTAX Edisi 2 Tahun 2023.
Gambar dari Image by Freepik.

Advertisement

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.