Cerita Mudik: Sarungan untuk Pulang ke Udik


Kau pilih mana?

Beberapa hari lagi Ramadan usai. Sabtu (1/6) pagi itu seluruh pegawai Kementerian Keuangan di mana pun mereka berada diwajibkan hadir mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila.

Terserah mereka akan berupacara di mana. Bisa di kantor unit Kementerian Keuangan terdekat di kampung halaman atau bergabung dengan institusi lain yang mengadakan kegiatan itu. Yang penting, jangan dilupa, menyetorkan swafoto bukti mereka telah upacara.

Karena kami belum mudik, saya dan istri memilih Kantor Pelayanan Pajak Pratama Cileungsi sebagai tempat upacara. Enam kilometer saja jaraknya dari rumah. Rencananya pada hari Minggu besok, hari ke-28 Ramadan, kami mulai mudik ke Indramayu, menginap di sana, dan kemudian lanjut ke Semarang pada keesokan harinya. Kami tidak terburu-buru. Lebaran masih tiga hari lagi.

Malam Minggu itu, telepon masuk dari Bibi Idah yang ingin memastikan kedatangan kami di Segeran Indramayu sebelum waktu berbuka puasa. Ia mengharapkan kami iftar bersama dengan mereka. “Jadi mau dimasakin apa?” tanyanya.

Jelas sekali, pertanyaan itu sebenarnya tidak membutuhkan jawaban karena ia tahu apa yang selama ini saya suka: blekutak, oseng sotong hitam.

Pada Minggu pukul 10.13, kami berangkat dari Citayam. Saya cukup sarungan saja. Nyantai. Google Maps menginformasikan, butuh waktu lebih dari 4 jam untuk sampai ke Indramayu. Jalan Tol Jagorawi dan Lingkar Luar tampak biru. Warna merah terlihat memanjang di Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Tidak masalah, namanya juga musim mudik.

Lepas dari Jalan Pemda Cibinong, kami masuk Jalan Tol Jagorawi melalui Pintu Tol Citeureup. Perjalanan lancar-lancar saja ketika melewati Jalan Tol Lingkar Luar hingga masuk ke ruas jalan tol Jakarta-Cikampek. Sampai kemudian kami masuk dalam kemacetan itu. Penyebabnya adalah dua titik yang membagi kendaraan untuk masuk contraflow. Itu saja. Selebihnya lancar.

Dua jam mengemudi membuat mata saya berat. Saya mengarahkan mobil ke rest area di tol Cipali untuk cuci muka. Bahkan kemudian saya menyerahkan kunci mobil kepada Mas Haqi, anak saya, untuk membawa kami sampai tujuan. “Jaga jarak dan kecepatan,” pesan saya mewanti-wanti.

Pukul 14.30 kami sudah keluar dari Pintu Tol Palimanan. Dari sana kami menuju Jatibarang untuk salat di Masjid Nurul Huda.

Masjid ini punya banyak cerita. Jaraknya 500 meter dari rumah masa kecil saya di Jatibarang. Di bulan Ramadan, saya sering salat tarawih dan subuh di sana.  Seusai mendengarkan kuliah subuh, saya berbuat ulah dengan memencet bel toko-toko di sepanjang Jalan Ahmad Yani. Sebuah kenakalan masa kecil yang saya sesali.

Kami sampai di Masjid Nurul Huda ketika salat Asar berjamaah usai. Suara merdu bacaan Alquran terdengar dari pelantang masjid. Rupanya setelah salat Asar itu ada acara tasmi’ atau semaan, yakni acara yang memperdengarkan hafalan para penghafal Alquran. Setelah itu ada pengajian kitab kuning yang diajarkan oleh ustaz dan pesertanya kebanyakan ibu-ibu. Mereka ngabuburit-nya begitu.

Dari Masjid Nurul Huda, kami pergi ke kuburan bapak dan ibu di Gang Suci, Jatibarang. Kami sempatkan menengok tempat peristirahatan mereka yang terakhir. Setelah itu, barulah kami pergi ke Segeran sambil menyusuri tempat-tempat penuh kenangan masa kecil. 

Selasar sebelah kanan Masjid Nurul Huda tempat saya pernah berlari-larian dan jatuh terpeleset. Jatuh berdebam. Waktu itu lantainya baru dipel.
Sehabis salat jamak takhir di Masjid Nurul Huda, Jatibarang.
Acara semaan seusai salat Asar.

Kami sampai di rumah Bi Idah setengah jam sebelum waktu berbuka puasa. Jadi perjalanan mudik ke Indramayu ini butuh waktu tujuh jam setelah mampir dulu ke mana-mana. 

Jelas, perjalanan ini lebih cepat daripada perjalanan tahun-tahun sebelumnya. Baru kali ini kami sempat berbuka puasa bersama dengan keluarga Bi Idah. Biasanya kami datang kemalaman atau pada saat waktu sahur tiba.

Perjalanan sebelumnya itu terdokumentasikan pada cerita mudik di blog saya. Ternyata cerita itu berguna, minimal buat saya sendiri ketika mau mengilas balik semuanya. Hal inilah yang mendorong saya untuk menulis cerita mudik lebaran 2019 ini.

Baca Juga: Selengkapnya Cerita Mudik Dari Tahun ke Tahun

Besoknya, di hari Senin (3/6), hari ke-29 Ramadan 1440 H, kami berangkat ke Semarang. Tepatnya pada pukul 10.32. Mas Haqi masih yang mengemudi. Setahun yang lampau, ketika kami ke luar dari jalanan rumah Bi Idah, pintu mobil kami tertabrak sepeda motor. Kini kami harus lebih hati-hati.

Ada 4 jalan menuju Pintu Tol Palimanan: lewat Jatibarang, Tenajar, Mundu, atau Karangampel— yang terakhir ini jalan alternatif yang sangat saya suka. Google Maps mengarahkan kami lewat Tenajar. “Lewat Mundu saja, enggak mutar,” kata Lik Tarmidzi, paman saya.

Saya mengikuti sarannya walaupun sempat terjebak macet di pasar tumpah Kedokan. Dari sana kemudian masuk ke Gegesik, Bayalangu, dan Arjawinangun. Sudah lama sekali saya tidak menyusuri tempat banyak teman SMA saya ini tinggal.

Di dekat Pasar Arjawinangun, saya berhenti sebentar untuk membeli sebungkus besar krupuk mlarat yang berwarna-warni itu. Harganya Rp20 ribu saja. Padahal saya sudah dibekali juga krupuk mlarat warna putih dan krupuk antor (berbumbu) oleh Bi Idah. 

Kemudian kami memasuki tol Palikanci. Tidak ada hambatan dan kemacetan yang berarti sampai Gerbang Tol Kalikangkung, Semarang. Beberapa kemacetan ditemui karena ada tabrakan mobil beruntun. Itu pun tinggal sisa-sisanya belaka yang kami temui. Petugas jalan tol sigap mengantisipasi adanya kecelakaan itu dengan tidak membiarkannya menjadi tontonan dan mengganggu arus mudik.

Karena sampai di Semarang masih sore, kami berniat untuk salat jamak takhir di Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid yang memiliki menara yang bisa dinaiki untuk melihat Semarang dari ketinggian dan payung otomatis yang bisa mengembang seperti di Madinah Munawarrah.

Bersama keluarga Lik Idah dan Lik Tarmidzi yang belum berkumpul semua dari perantauan.
Gapura di Jalan Jagapura-Arjawinangun.
Namanya bukan Masjid Agung Semarang, melainkan Masjid Agung Jawa Tengah.
Suatu ketika, beberapa tahun lampau, kami diambil gambarnya dalam posisi yang sama.
Di halaman Masjid Agung Jawa Tengah.

Barulah, setelah urusan mahapenting itu selesai, kami beranjak menuju rumah tujuan di Tlogosari. Sampai di sana sekitar pukul 16.30. Masih ada waktu satu jam lagi untuk berbuka puasa. Opor ayam dan sambal goreng sudah tersedia. Ini sebuah kenikmatan tiada tanding. Padahal lebaran juga belum. Ya, sidang isbatnya nanti setelah Magrib. Ulama dari berbagai perwakilan ormas Islam seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta untuk menentukan tanggal 1 Syawal.

Barulah kami tahu kemudian, setelah azan Magrib itu, pemerintah memutuskan untuk menggenapkan Ramadan tahun ini menjadi 30 hari. Jadi kami harus berpuasa sehari lagi. Masih ada satu hari lagi untuk mendapat limpahan berkah, rahmat, dan ampunan-Nya.

Perjalanan mudik yang menenangkan, tidak grasa-grusu, dan selamat sampai tujuan adalah salah satu berkah Ramadan yang mesti banyak disyukuri. Dan mestinya pula, atas semua yang diterima dalam hidup kita selama ini, bukan?

Berkah dan rahmat Ramadanmu seperti apa?

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
14 Juni 2019

Baca juga Cerita Lebaran: Seusai Menjadi Salik Selama Sebulan 

Advertisements

One thought on “Cerita Mudik: Sarungan untuk Pulang ke Udik

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.