Dusseldorf


Aku merah kayu bakar yang menjulang di tepian jalan saat kaupergi menekur, setiap sentimeter Dusseldorf yang tak pernah jatuh tidur.  Di suatu masa, aku ingin menjelma sepatumu.

Aku espresso yang kau pesan seharga 3,8 Euro di sebuah resto,  saat kau memuntahkan lelahmu yang datang tergopoh-gopoh. Di suatu waktu, aku ingin menjadi kopi Gayo yang kauminum.

Aku permenungan yang kauperam dan pada saatnya menetas menjadi tawa yang getas. Di suatu masa, aku ingin menjelma kesedihan yang kaubuang ke dasar Rhine.

…untuk menjadi amaryllis, menjadimu.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
19 November 2017 

Cokelat


 

Cokelat seperti rindu. Sedikit, menggoda. Banyak, mencandu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
13 November 2017

Aku terbakar


Aku terbakar bermenit-menit, bergolak dalam keramaian menuju kau. Aku mau memamahmu, tidak dalam butiran yang biasa, melainkan cairan dengan asap yang mulai tiada. Bau terbakar mulai ada, seadanya matahari selepas hujan. Dengan basah belumlah jua sirna dari jalanan. Ingat satu perihal ini: ketika kautuang aku di sebuah cawan retak kehilangan, kenang-kenanglah aku seperti genangan, di daun jendela matamu, atau di sudut segitiga sama kaki bibirmu. Aku yang terbakar perih di sini, engkau yang menjadi asap menuju sesap.”

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 11 November 2017

KPP Pratama Malang Selatan: Di Sini, DUIT Memang Segalanya


03

Alun-Alun Merdeka Malang dan sekitarnya memiliki banyak peninggalan bersejarah dari era kolonial Belanda. Inilah salah satu yang membuat kawasan itu bernilai sosial-budaya tinggi. Salah satunya, kompleks gedung yang digunakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Malang Selatan di Jalan Merdeka Utara.

Sebagai bangunan bersejarah sekaligus cagar budaya, gedung tersebut wajib dilindungi. Rehabilitasi dan pengelolaannya harus sangat berhati-hati. Tidak boleh sembarangan merenovasi, merubuhkan bangunan, atau mendirikan bangunan baru. KPP harus mematuhi aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang. Hal itu nyatanya tak menghalangi KPP Pratama Malang Selatan berbenah menjadi kantor yang modern, nyaman untuk pegawai dan wajib pajak, serta jauh dari kesan kumuh dan suram.

“Membuat cantik dan indah bangunan tidak mesti dengan pengadaan baru dan mengeluarkan biaya banyak,” kata Kepala KPP, Dwi Joko Kristanto.

Continue reading KPP Pratama Malang Selatan: Di Sini, DUIT Memang Segalanya

Goyang Penasaran


Seperti anak kecil yang menemukan bonekanya yang hilang, Salimah mendekapkan kepala Haji Ahmad pada dadanya. Darah yang belum sepenuhnya membeku menetes di tubuhnya. Mata Salimah berair, terpejam. Bibirnya terbuka setengah. Basah.

 

Waktu kecil dulu, setiap kali cerita setan dikisahkan ibu kepada anak-anaknya pasti telinga ini mendongak tajam. Kepekaan telinga kami meningkat beberapa desibel agar tak melewatkan satu kalimat pun yang diucapkan dari mulut ibu dengan disertai wajah kengerian yang luar biasa.

Baca Lebih Lanjut.

Sekuntum Senar Biola


Jari jemarimu sungguh tangguh memetik sekuntum senar biola yang kaupegang di tangan, setangguh buku-buku jarimu yang pernah kaualukan ke tembok tinggi penuh onak, tajamnya seperti mahkota duri yang pernah disematkan di kepala bahaduri yang seolah-olah.

Darimu lahir kelopak-kelopak bunyi yang sengaja kauperosokkan ke dalam got depan rumah sakit. Wanginya merah. Serupa puisi yang sengaja kaugodok di ceret yang pernah kaubeli di pinggir jalan, di suatu hari yang ganas.

Ceret itu berteriak-teriak kepanasan meminta untuk segera diangkat dari pembakaran tanur tinggi, meminta diselamatkan dari nyala api. Pelan-pelan kukucurkan puisi ke atas bubuk kopi. Lagi-lagi wanginya merah, semerah peribahasa yang kausembunyikan dalam hati.  Atau sudah kaulempar ke tebing tinggi?

Puisi hitam ini tak sesederhana pikiranku, tetapi tak serumit ihwalmu. Pejam-pejamlah. Biarkan kuhirup putih wangimu yang malam ini tiba-tiba lewat dan melesak ke dalam hidungku. Masih sama rupanya. Biarkan kudengar debar jantungmu dengan sekuntum senar biola yang kusematkan di dadamu. Masih lama kiranya.

***
Lagi, fotonya Mastah Fotografi #DoF Pak @Harris_motret
Danke, danke, danke schon, Mastah. ​

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
04 November 2017.

Dipanggil Kantor Pajak, Bintang Film Pocong Ini Awalnya Deg-degan


Bintang film Pocong dan Pocong 2, Revalina S Temat, dalam akun media sosial miliknya membagi pengalaman saat ia datang bersama adiknya ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pondok Aren di Kompleks Kampus PKN STAN, Pondok Aren, Banten (Jumat, 3/11).

Reva, panggilan akrab pemeran utama wanita terbaik dalam Festival Film Indonesia 2009, memenuhi panggilan KPP Pratama Pondok Aren di hari Kamis, 2 November 2017. Awalnya ia merasa deg-degan karena citra petugas pajak yang dianggap menyeramkan. Namun ternyata citra itu tidak seseram yang ia bayangkan.
Baca Lebih Lanjut.

Pernah Percaya


Aku pernah percaya pada putih geligimu yang legam, seperti yang pernah kautancapkan di leherku di suatu malam. Bekasnya merah.

Kau pernah percaya pada air mataku yang jatuh di pipi, seperti yang pernah kuceritakan padamu di suatu hari. Beningnya tabah.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Oktober 2017

Photograph by @paulnicklen from @natgeo

Konsolidasi Tim Reformasi Perpajakan, DJP Adakan High Level Retreat



Ditjen Pajak mengadakan High Level Retreat Tim Reformasi Perpajakan di Kuta, Denpasar, Bali. Acara ini digelar pada 31 Oktober hingga 4 November 2017. Selama 2017 Tim Reformasi Perpajakan memang telah bekerja keras dalam merealisasikan berbagai program kerja yang telah dicanangkan. High Level Retreat Tim Reformasi ini dilaksanakan dalam rangka mengonsolidasikan kerja tim.

High Level Retreat merupakan salah satu program kerja Tim Reformasi Perpajakan di tahun 2017. “Kita ingin mengonsolidasikan 10 bulan kerja tim selama tahun 2017. Paling tidak ada titik temu akan kemana kita akan menuju,” kata Ketua Tim Pelaksana Tim Reformasi Perpajakan sekaligus Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Suryo Utomo saat membuka acara retreat ini di Denpasar, kemarin (Rabu, 1/11).
Baca Lebih Lanjut.

Ada Sepotong Pagi


Ketika pagi sudah menjulurkan lidah terangnya, yang saya bisa lakukan di waktu itu adalah bersiap menerima takdirnya, tentu setelah memerintahkan sel-sel di sekujur tubuh untuk tidak bergeming. Sabtu, 28 Oktober 2017, di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta ribuan orang berkelimun. Ada family gathering dan lomba lari di sana. Dan saya memilih yang terakhir untuk bergabung bersama mereka di sepotong pagi itu.

 

Ada sepotong pagi membentang di langit, kutaruh sepotong lainnya di bentangan sepatumu, di sana, aku harap kautemukan setiap keindahan pagi yang ditulis penyair: matahari yang tak bersedih, kabut yang tak melangut, embun yang tak melamun, dan doa dengan tak sedikit asa. Doa baik-baik, sungguh-sungguh, sepenuh seluruh, agar langit gaduh dan riuh.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Oktober 2017