Butir-butir Puisi di Kaca Jendela


Aku menitipkan pesan
dari hujan yang barusan
kepada serbuk-serbuk sari
untuk putik-putik yang terbaring
jikalau kau lupa
warna harumku
lihat saja buru-buru
butir-butir puisi yang terasing
merenung di kaca jendela
beberapa orang akan berkaca
beberapanya lagi mengabaikan
tak mengapa, nanti kaukejutkan
dengan mahligai bunga
di mulut-mulut mereka.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
26 April 2018
Photo by @robertlukeman check out his feed for more

Pion Pamungkas Ditjen Pajak Penuhi Target di Kejurnas Catur Taspen


Klub Catur Ditjen Pajak Pion Pamungkas DJP memenuhi target masuk 10 besar dalam Kejuaraan Catur Beregu Nasional memperebutkan Taspen Anniversary Cup XIV yang diselenggarakan Taspen dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-55 PT Taspen (Persero) di Jakarta (Jumat, 12/4).

Pion Pamungkas DJP meraih posisi kedelapan dengan poin 19,5 setelah Japfa Arjuna, Pelabuhan tanjung Priok, Kab. Bogor, Japfa Bima, Percasi Grobogan, Taspen A, dan Taspen B.

Baca Lebih Lanjut.

Anton dan Tante Siska


Sehabis lari tipis-tipis ke atas sejauh 2,5 kilometer, sempat digonggong dan dikejar anjing, lalu turun lagi dengan jarak yang sama, di Lembang yang pagi harinya kelabu dan menggigilkan tubuh, aku kembali balik ke ruang kelas untuk mendapatkan banyak wiyata.

Lokakarya kepenulisan kali ini diisi oleh Yusi Avianto Pareanom, penulis novel Pangeran Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Ia banyak memberikan penugasan kepada peserta lokakarya. Lalu ketika tugas itu selesai dikerjakan, Pak Yusi akan mengevaluasi satu per satu tugas itu.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (3): Menghilang di Rerimbunan Kembang Kenikir


Mandi di sendangmu (Foto milik sendiri).

Asyik. Aku tiba juga di Water Station (WS) kilometer (KM)-26. Di sana ada Fruit Station. Yang jelas ada pisang. Aku mengambil pisau yang ada di meja lalu memotong potongan pisang yang sudah kecil kemudian menyantapnya. Aku menikmati potongan itu tanpa ada keinginan untuk muntah.

Air yang keluar dari Water sprinkler memancur deras. Aku sekalian mandi. Segar rasanya disiram butiran air. Ini Svarloka. Tempat sungai mengalir dan buah-buahan tumbuh. Sudah cukup. Jalan saja.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (2): Melangit Menuju Svarloka


Tampak Belakang

Prambanan masih gulita saat aku dan Mas Hafidz berada tak jauh di belakang garis start yang sudah dipenuhi para pelari. Sebagian besar dari mereka memakai kaos komunitas larinya.

Beberapa dari mereka ada yang memakai balon yang diikatkan di kaosnya. Mereka para pacer yang akan memandu kecepatan berlari sampai tiba di garis finis dengan beberapa kategori waktu.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (1): Aku Membutuhkanmu



Foto di depan monitor BIB. (Foto milik Mas Afif)

Preambule

Ria Dewi Ambarwati, nama yang perlu kututurkan pertama kali dalam cerita lariku ini. Ia yang melepaskan kepergianku untuk pergi ke Yogyakarta. Untuk berlari menyelesaikan Full Marathon pertamaku di Mandiri Jogja Marathon 2018, Ahad, 15 April 2018 ini.

Sabtu siang itu (14/4), istriku hanya senyum sambil melet ketika kuberi kiss bye di atas motor abang ojek daring yang akan mengantarkanku ke Stasiun Citayam. Baiklah. “Doamu kubutuhkan buat mengkhatamkan pekerjaan gila ini,” kataku dalam hati.

Baca Lebih Lanjut.

Ketika Bayang-bayangmu


Ketika bayang-bayangmu memelukku
datanglah cepat-cepat,
Ketika malam-malamku merengkuhmu
pulanglah lambat-lambat,
tanganku rerantingmu
matamu jemariku
tertawalah di sabana sepi
tempat duka tak diraya lagi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
07 April 2018
Seperti seabad aku tak menulis puisi
Photo by @a_guy_named_eric check his feed out for more.

Berkemih di Kolong Jembatan Cawang


Chubbyrock, ini kucing kampung, jantan, tua-tua keladi, dan bulunya berwarna oranye. Mata kanannya berkabut, jejak luka seusai berkelahi mixed martial arts sesama kucing. Makanya kalau jalan, kepalanya selalu miring ke kanan.

Tubuhnya juga banyak bekas cedera. Entah seberapa banyak pertempuran jalanan yang telah ia lalui, entah dalam rangka memperebutkan betina atau mempertahankan daerah kekuasaannya.

Baca Lebih Lanjut.

Di Mulut Jendela


Aku gemetar untuk jatuh
tapi mengapa mereka gembira
saat runtuh:
tetes-tetes hujan di sore hari

Aku rindu untuk menyala
tapi mengapa mereka sembunyi
saat kumencari:
bayang-bayang senja di barat kota

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 28 Maret 2018

Teka-teki Putri


Di suatu kampung ada lima rumah berderetan yang setiap dindingnya dicat dengan warna berlainan. Penghuni kelima rumah itu berasal dari bangsa yang berbeda-beda: Tajik, Kazak, Kirgiz, Uigur, dan Uzbek. Kelimanya menyukai ragam minuman yang tak sama, senjata kesukaan yang tak serupa, dan memiliki hewan peliharaan dari jenis berlainan.

Si Uigur tinggal di rumah berwarna putih, Si Kazak memelihara babi kate, Si Tajik minum anggur, rumah berwarna hijau berada di samping kiri rumah berwarna kunyit, si pemilik rumah hijau minum air, si penyuka panah memelihara bajing, si pemilik rumah berwarna merah senang bermain cambuk, orang yang tinggal di rumah ketiga atau tepat di tengah minum kahwa.
Baca Lebih Lanjut.