MASIH KERE, MASIH MELARAT


MASIH KERE, MASIH MELARAT

By: Riza Almanfaluthi

Dulu sebelum moderenisasi pajak saya sudah dianggap sebagai orang “kaya” oleh teman-teman saya. Saya beri tanda kutip pada kata kaya karena kaya di sini bukan berarti saya punya rumah gedong, uang berlimpah di bank, punya banyak gebetan Wajib Pajak, punya sampingan mengajar di mana-mana, dan punya-punya yang lainnya.

Saya ingat betul seorang teman pernah bilang kepada saya, “Enak betul kamu Za, sudah punya rumah, punya motor, punya istri, punya anak, kerja di pajak, sudah sarjana pula.” Bagi teman saya itu, saya adalah sosok kesempurnaan dari sebuah kesuksesan. Padahal menurut saya banyak sekali orang pajak yang jauh melebihi segalanya daripada saya. Lebih kaya dan lebih sukses.

Pula rumah saya cuma rumah kreditan yang harus saya bayar selama lima belas tahun. Bukan di tengah kota tapi di pinggirannya malah. Yang orang pajak lain akan berkerut dahinya kalau saya sebutkan daerah itu. Motor memang tidak kreditan tapi itu pun diberi oleh teman baik saya. Saya memang punya istri biasa saja, bukan seleb yang luar biasa cantiknya, tapi cukup untuk meneduhkan mata dan hati saya.

Saya memang punya dua anak, yang biasa saja tapi Insya Allah sehat-sehat. Saya memang kerja di pajak tapi bukan pejabat tinggi cuma pegawai rendahan, biasa saja juga. Saya memang sudah sarjana tapi pula bukan dari sebuah universitas ternama di negeri ini, yang banyak dari teman-teman saya ngebetnya minta ampun untuk bisa kuliah di sana walaupun biaya kuliahnya luar biasa besar. Sedangkan saya, cukup dengan mencari tempat kuliahan yang berbiaya 500 ribu rupiah untuk satu semesternya. Syukurnya saya dapat pula masuk ke sebuah sekolah tinggi yang khusus untuk pegawai negeri.

Ya, itulah kesuksesan menurut ukuran pandangan teman saya itu. Mendengar teman saya berkata demikian, saya cuma mengucapkan Alhamdulillah. Saya sudah tentu tidak bisa mengingkari semua itu. Semuanya karena Dia Yang Mahakaya telah berkenan memberikan itu pada saya. Ucapan itu pun sekaligus menyadarkan saya dari keterlenaan dan keterpanaan terhadap teman-teman saya lainnya yang sudah betul-betul kaya dan sukses. Dalam hati kecil, tidak bisa dipungkiri bahwa saya ingin seperti mereka. Sebuah naluri alami manusia yang wajar-wajar saja. Akhirnya saya cuma bisa berkata: “rejeki itu tidak akan kemana-mana.”

Dan betul rejeki itu tidak kemana-mana. Allah telah berkehendak bahwa moderenisasi pajak adalah sebuah keniscayaan. Dan saya adalah salah satu dari ribuan pegawai pajak yang diberikan kepercayaan dari-Nya untuk menikmati moderenisasi ini. Tunjangan naik berlipat kali. Karir pun naik pula. Saya bisa meneruskan kuliah. Saya juga bisa menikmati “kesenangan” dunia yang dulu tidak pernah terbayang sebelumnya untuk bisa dimiliki. Halal lagi. Subhanallah. Saya orang tajir baru.

Tapi di tengah kenikmatan yang begitu banyak menggelontor kepada saya, ada sebuah kekhawatiran—ada sebuah ketidaktenangan—Ia akan mengambil semuanya dari saya. Karena saya tidak pandai bersyukur. Karena saya pelit untuk berbagi. Karena saya menjadi tamak, rakus, serakah. Karena saya berpikir bahwa saya kaya karena semata-mata kepintaran dan keahlian saya semata. Karena saya tidak dekat dan ingat dengan-Nya. Karena saya semakin menjauh dari-Nya. Duh…

Ternyata tajirnya saya dengan harta tidak membuat saya tenang. Ternyata ketenangan bukan ditentukan dari banyaknya harta—sepertinya ini klise karena sering diungkap oleh para penceramah di setiap mimbar—tapi itu memang senyatanya. Yang sering saya lupakan adalah sebuah ketajiran lain yang harus ada pada diri saya. Tajir batin.

Tajir batin akan sanggup mengimbangi keinginan kuat saya terhadap materi. Kalau tajir lahir bentuknya harta yang wujud seperti emas, rumah, pangkat, dan mobil, lalu tajir batin yang seperti apa? “Qona’ah” kata seorang kyai. Qona’ah adalah rasa puas, rasa cukup.

Dengannya, katanya, saya akan ridha terhadap ketentuan yang ditetapkan Allah kepada saya. Juga akan meminimalisasikan sifat hasud dan dengki serta sifat rakus dan tamak yang begitu mengadhesi pada diri saya. Qona’ah-lah yang akan membumihanguskan fir’aunisasi dan qorunisasi saya. Satu lagi kata kyai itu, “ia adalah kekayaan yang tidak akan pernah habis. Dan akan melahirkan sifat syukur.”

“Kamu sudah tajir batin?” Saya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Saya langung menjawab tanpa berpikir panjang, “Saya masih kere. Masih melarat. Fakir miskin betul.”

“Kalau begitu siap-siap saja tambah melarat. Batin kagak punya, lahir keblangsak. Fakir dua-duanya.”

“Tapi, betapa banyak yang fakir sefakir-fakirnya batin, ia tetap tajir lahirnya. Malah tambah tajir, dan semakin tajir.”

“Wah itu sih istidraz. Suatu pembiaran di dunia yang kelak seberat-beratnya azab di sana.”

Ah, betapa muyul (kecenderungan) kepada duniawi begitu kuatnya menggoda. Keinginan yang tidak pernah habis-habisnya. Kesibukan yang tidak pernah terselesaikan. Kebutuhan yang tidak berujung. Angan-angan yang tidak pernah tercapai. Semuanya karena pada pagi hari saya sering menjadikan dunia sebagai konsentrasi utama dan begitu banyak hak-hak Allah yang terlalaikan.

Ah, betapa Qona’ah adalah adalah sesuatu yang dirindukan. Duh, lalu kapan saya bisa tajir batin bila ia senantiasa hanya dirindu, bukan dicari dan diupayakan?

Maraji’:

Kekayaan Batin, KH Didin Hafidhuddin, Republika, 08 Juli 2005

Mewaspadai Empat Perkara, Taufik Munir, eramuslim, 19 Agustus 2005

dedaunan di ranting cemara
Jum’at dengan rindangnya kontemplasi
10:17 24 Agustus 2007

Advertisements

4 thoughts on “MASIH KERE, MASIH MELARAT

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s