DUA YANG MEMATIKAN


Menurut kamu, kecemasan apa yang membuatmu tidak bisa tidur? Ada banyak jawaban yang akan kamu berikan kepada saya. Dan akan saya katakan kepada kamu, itulah manusia, tidak lepas dari sebuah rasa yang bernama cemas. Lalu jika kamu bertanya hal yang sama kepada saya, maka saya akan jawab salah satu dari sekian rasa kecemasan saya, “tidak menulis selama beberapa hari.”
Bagi saya, yang patut dicemasi pada diri saya adalah hilangnya kemampuan menulis saya. Karena saya merasa bukan orang yang berbakat menulis. Karena tidak adanya bakat itulah saya berusaha untuk latihan dan latihan menulis terus menerus. Menulis bagi saya adalah sebuah latihan untuk menutupi ketiadaan bakat itu. Menulis adalah proses latihan bagi diri saya. Sebagus apapun tulisan yang saya hasilkan itu adalah proses bagi pembelajaran saya.
Maka bolehlah saya akan cemas ketika sudah berminggu-minggu tiada tulisan yang saya hasilkan. Saya akan merasa bahwa kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada saya ini akan hilang selamanya. Dan saya tidak mau. Maka saya harus memaksakan diri untuk menulis. Menulis apa saja. Tak peduli apa yang orang akan bilang saat membaca tulisan saya.
Saya pun senantiasa berpikir mengapa saya tidak produktif dalam menulis. Dan saya akan iri kalau melihat betapa teman-teman saya begitu produktifnya menghasilkan sebuah karya. Saya pikir rasa iri ini tentunya masih dalam lingkup yang bisa ditolerir. Sebuah keirian agar saya bisa menghasilkan karya, bukan sebuah keirian yang ingin agar teman-teman saya tidak bisa menulis lagi. Naif sekali kalau yang terakhir itu yang saya irikan. Sungguh iri itu adalah tanda ketidakmampuan.
Setelah saya berpikir lama mencari jawaban dari sebuah pertanyaan tentang ketidakproduktifan saya—yang sebenarnya bisa saja saya mencari beribu alasan untuk melegitimasinya, maka saya menemukannya.
Pujian. Bagi saya sebenarnya ia adalah racun yang sangat mematikan kreatifitas saya. Maka sedari awal sejak saya mulai belajar menulis bertahun-tahun lalu, saya sudah siapkan payung agar tiada ribuan tetesan pujian yang akan membasahi tubuh saya. Tapi terkadang payung antipujian yang saya pakai seringkali tidak mampu untuk menahan derasnya. Sehingga membuat saya terkapar dalam sebuah keterlenaan. Dan pada akhirnya saya tidak mampu menulis segera.
Apa kaitannya dengan kreatifitas yang mati? Konkritnya begini. Jika saya dipuji, dan sangat menikmati sekali pujian itu, ketika akan menulis lagi dalam benak saya akan dipenuhi sebuah keinginan agar dapat membuat sebuah karya yang bisa menghasilkan pujian. Agar karya saya bisa memuaskan para pembacanya seperti kepuasan yang diperoleh saat membaca tulisan saya terdahulu.
Nah, pada saat itulah saya terjebak untuk melawan idealisme yang saya buat buat sendiri. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa idealisme kepenulisan saya saat membuat sebuah tulisan adalah TIDAK PERLU PEDULI APA KATA ORANG. Biasanya dengan idealisme itu saya—syukurnya—bisa membuat sebuah tulisan berhalaman-halaman dengan lancar tanpa beban tanpa hambatan.
Sudah barang tentu saat saya mengabaikan idealisme ini dan hanya menurutkan sebuah nafsu hanya untuk dipuji maka sudah dapat dipastikan saya tidak bisa menulis. Ada saja hambatannya, seperti takut salah atau adanya pikiran: “jangan yang ini, orang pasti tidak suka nantinya.” Seperti ada beban di pundak. Sejak itulah sebuah kreativitas mati.
Dan yang selanjutnya adalah cepat berpuas diri. Ini pun bagi saya adalah racun yang sama dahsyatnya dengan racun pujian di atas. Karena merasa bahwa tulisan sudah bagus maka biasanya saya akan terlena dengan tulisan itu, berhenti sejenak yang kebablasan dan tidak dapat dihentikan. Mengagumi diri sendiri. Narsisme yang sudah sangat keterlaluan.
Merasa diri besar dan hebat, pasti disitulah saya lengah. Karena sudah merasa hebat saya merasa tidak perlu bersusah payah dan bekerja keras. Kerja keras hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang merasa banyak kekurangan dalam dirinya.
Di situlah sebuah kreativitas akan mati. Karena sesungguhnya walaupun menulis itu gampang tapi ia adalah sebuah kerja yang harus dilakukan dengan keras, telaten, dan penuh pemikiran. Tidak bisa dengan hanya berpuas diri.
Berpuas diri hanya akan memuarakan diri saya pada ‘ujub (rasa bangga terhadap diri sendiri) yang sangat membinasakan bahkan menghancurkan agama. Bukankah saya dan kamu juga pernah ingat tentang Nabi kita tercinta yang menegaskan ‘ujub ini digolongkan sebagai perusak agama? Ia disebut pertama kali dari dua hal lainnya yang merusak agama, yaitu kikir dan hawa nafsu yang diikuti.
Ternyata betul sekali. ‘Ujub menjadi unsur pertama pemusnah agama timbul karena saya akan merasa segala nikmat yang diberikan Allah SWT itu hadir atas usaha saya sendiri. Saya yang sudah memiliki sifat seperti ini akan merasa bangga dengan diri saya sendiri, melebihi rasa bangganya terhadap kebesaran Allah.
Lalu pada tahap selanjutnya, sifat ‘ujub ini bisa berkembang menjadi riya. Saya yang memiliki sifat riya selalu ingin agar kebaikan-kebaikan saya ini dilihat orang lain. Dari sifat riya itu akan muncul pula sikap takabur. Jika sifat ini sudah ada pada diri saya maka musnahlah kehidupan beragama saya. Saya berlindung pada Allah atas sifat-sifat yang sedemikian rupa ini.
Jadi, jikalau kamu-kamu yang sudah mulai berkomitmen diri untuk menjadikan menulis sebagai jalan untuk dapat mencerahkan orang lain, selain dibutuhkan keuletan dan kesabaran untuk terus melatih dan mengasah kemampuan itu, dibutuhkan pula kesiapan mental menghadapi pujian dan rasa cepat berpuas diri.
Introspeksi atau muhasabah diri adalah jalan terbaik untuk memiliki kesiapan mental itu. Dengan muhasabah diri, saya dan kamu akan merasa bahwa semua pujian itu hanyalah milik Allah semata. Juga karena mereka yang memberikan pujian itu tidak mengetahui betapa banyak aib yang telah saya dan kamu perbuat selama hidup ini. Jikalau mereka mengetahui tentu mereka tidak akan pernah memuji saya dan kamu.
Akhirnya jikalau muhasabah itu menjadi keseharian saya dan kamu, kreatifitas itu akan senantiasa hidup dalam diri. Karena ide senantiasa ada dan mengalir mengisi pena-pena kita di setiap harinya. Menghitamkan layar putih komputer itu dengan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat yang tersusun lancar dan enak dinikmati. Lalu kita tidak perlu cemas. Dan kita, saya dan kamu, pada akhirnya bisa tidur nyenyak. Insya Allah.
Allohua’lam bishshowab.

Maraji’:
1. A. Ilyas Ismail, Bahaya Pujian, Republika, 18 Juni 2005;
2. Suprianto, Pemusnah Agama, Republika, 09 September 2005.

***
sekadar tips untuk menulis
jelang ramadhan ini sudikan saya untuk memberi salam hormat buat mas danang sh, mas Isa, masker, maswin, ustadz andi harsono, mbak anis, mbak atik, mierza imoet, deedee, mbak listya, eko anakitebet dan atifah, salsabila, jund1, mas ekonov, abu amru, ibnu umar, binanto, budi utomo, mentari pagi, suprayitno, anggun, azzam mas budi, abu dhaby, brazkie, abu salma, abu fauzan, gaza, java, andri tasik makassar, viviet di ciblog, sajadah biru, abu miqdad, joen dan kafanputih, lumpur kering, kuswedi, alkhoir, firdaus, fathur, tri satya hadi, seseorang di bogor, dan lain-lainnya yang saya tak bisa sebut namanya satu persatu. Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. ini cita besar kita semua.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
14:54 10 September 2007

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s