STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA


STEVE JOBS: SISI HEBAT DAN GELAPNYA

 

Judul Buku : Steve Jobs
Penulis : Walter Isaacson

Penerjemah : Word++ Translation Service & Tim Bentang
Penerbit : Bentang, Cetakan Kedua, November 2011
Harga : 119.000
Tebal :xxii + 742

    Kuartal terakhir 2011 dunia perbukuan diramaikan dengan terbitnya buku biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson. Buku yang semula direncanakan terbit di tahun 2012 ini dimajukan penerbitannya setelah Sang Pendiri Apple Computer ini meninggal karena kanker pankreas yang dideritanya, Oktober 2011.

    Isaacson secara apik meramu hasil wawancaranya—dengan kerabat, kawan, dan musuh Jobs—menjadi sebuah jalinan cerita yang menarik. Mulai dari ketika ia kanak-kanak dan merasa ia hanya anak adopsi dan telah ditelantarkan oleh orang tua kandungnya, perjuangannya bersama Steve Wozniak mendirikan Apple, perangnya dengan IBM, perseteruan abadinya dengan Bill Gates, pemecatannya dari Apple, mendirikan NeXT, memadukan teknologi dan seni di Pixar, menguasai Disney, kembali menjadi CEO Apple, meluncurkan banya produk fenomenal, hingga perlawanannya—yang sayang terlambat—dengan kanker.

    Bagaimana Jobs memandang kematian diuraikan pula di bagian akhir buku ini. Kematian dimungkinkan, menurutnya, hanya sebuah tombol on atau off. “Klik, dan akhirnya, engkau pergi selamanya.” Maka wajar saja tombol on atau off tidak pernah diletakkan di setiap peranti Apple.

Penulis buku ini cermat menampilkan Jobs sebagai seorang perfeksionis, inovator sekaligus seniman setara Thomas Alva Edison dan Henry Ford, negosiator ulung, seorang Midas yang mampu merubah Pixar bahkan Apple menjadi perusahaan paling bernilai di seluruh jagat, di samping sikap tidak bertanggung jawab—ternyata meniru dari sikap ayah kandung yang dibencinya itu—terhadap Lisa, anak dari kekasihnya, Chrisann Brennan. Atau ketika ia sering memarkirkan mobilnya yang tanpa plat nomor di tempat parkir khusus buat orang cacat. Aturan tidak berlaku buat dirinya.

Orang seringkali tercengang mendengar cerita kalau ia hanya digaji oleh Apple, pada saat kembalinya di tahun 1997, sebesar $ 1 per tahun tanpa opsi saham. Itu yang ia minta sendiri awalnya. Ia pun sering berkata, “Aku tidak mau orang-orang yang bekerja denganku di Apple mengira aku kembali supaya kaya.” Tetapi faktanya pada saat ia menanggalkan gelar i di depan CEO-nya untuk menjadi CEO ia meminta pesawat jet pribadi Gulfstream V dan opsi saham sebanyak 20 juta lembar saham. Ia semakin kaya. Inilah bentuk distorsi realitas lapangan yang diciptakannya.

“Saya kecewa terhadap Obama,” ujar Jobs suatu ketika kepada Isaacson. “Dia kesulitan menjalankan kepemimpinan karena enggan menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain.” Ya, betul Jobs beda dengan Obama. Dia tak segan-segan bersikap kejam, melukai dan menyakiti ratusan bawahan atau rekan kerjanya dengan kata-kata kasar dan intimidatif. Tapi kebanyakan dari mereka yang disakiti Jobs mengakui bahwa mereka mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan setelahnya.

Jobs memang seorang presenter produk yang hebat. Presentasinya penuh dengan kekuatan kata-kata yang luar biasa dan inspiratif. Tetapi menyangka bahwa kata-kata seperti stay hungry, stay foolish atau simplicity is the ultimate sophistication yang sudah menjadi trademark dari Jobs adalah murni dari pemikiran Jobs maka itu adalah salah. Darimana ia mendapatkannya, semua diuraikan dalam buku ini.

Jobs dikenal pula dengan cara berpakaiannya yang khas. Kaos turtleneck, celana jin, dan sepatu olahraganya sudah menggambarkan sosok dirinya seperti apa. Tetapi untuk mendapatkan latar belakang secara eksplisit yang mendasari mengapa ia berpakaian seperti itu maka tidak akan didapatkan dalam buku ini. Padahal Jobs tak akan pernah membuat desain produk, kantor, atau tokonya tanpa ada makna di belakangnya.

Seperti juga Anda akan kecewa kalau Anda ingin mengetahui mengapa inovasinya berupa iPod sampai iCloud selalu didahului huruf i. Atau karena ia pernah menjabat sebagai CEO ad interim atau disingkat iCEO sehingga Jobs—yang terbiasa ingin agar orang lain memusatkan perhatian pada dirinya—terobsesi bahwa produknya pun adalah i daripada produk pesaing lainnya. Penulis sepertinya melewati hal itu.

    Kaver buku ini pun benar-benar memenuhi salah satu filosofi dari Steve Jobs sendiri yaitu kesederhanaan dan keindahan. Hanya ada dua foto Jobs di depan dan belakang buku. Tidak ada tulisan lain kecuali judul buku, nama penulis dan penerbit di depan dan di sisi buku. Tidak perlu ada endosemen dari siapapun atau tulisan best seller di sana, karena nama Jobs sendiri sudah menjadi jaminan buku ini akan menjadi laku keras.

Kita hanya mengetahui Jobs dari pemberitaan media yang mengulas tentang kejeniusannya dalam menghasilkan banyak produk yang bisa mengubah dunia selama tiga dekade. Dengan membaca buku ini maka kita akan semakin menjadi tahu sisi-sisi terdalam dari Jobs, tak hanya sisi-sisi hebatnya, tetapi juga sisi gelap, sisi kepala bertanduk dan dirinya yang berekor.

Jobs sendiri tidak menggunakan haknya untuk membaca terlebih dahulu atas buku ini atau dengan kata lain mengontrolnya. Sebuah hal yang paradoks dari sikap Jobs yang selama ini selalu ingin pegang kendali atas segala sesuatu. Ia hanya ingin Penulis, mantan pemimpin CNN dan manajer editor majalah Time ini, menulis dengan jujur kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya.

    Kesalahan sedikit yang mengganjal dari penulis atau penyuntingnya adalah ketika buku yang ditulis selama dua tahun ini menceritakan tentang Chrissann Brennan bersama Greg Calhoun menempati rumah kecil, mulanya adalah kandang ayam, yang berada di perkebunan Friedland. Apakah ini terjadi pada saat musim semi 1875?

Namun secara keseluruhan buku ini bagus sekali dan pantas ditambah sebagai koleksi perpustaaan. Sangat layak dibaca oleh banyak kalangan terutama pecinta teknologi, manajer yang ingin berkembang, dan terutama sekali para pecinta buku seperti Anda.

**

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

31 Desember 2011

*Dimuat di Berita Pajak Mei 2012 dengan penyuntingan.

 

 

Tags: Steve jobs,steve, apel, ipad,iphone,icloud, thomas alva edison, jobs, apple,applecomputer, iceo,obama, Walter Isaacson

ADZAN YANG DIKULTWIT


ADZAN YANG DIKULTWIT

Dulu saya mengira kalo ngetwit itu hanya sekadar igauan orang yang lagi tidur dan bisanya cuma membuat malas orang untuk menulis serta berpikir lebih tajam dan menukik. Pendapat saya itu ternyata kurang tepat. Menulis di manapun sebenarnya bisa. Termasuk dengan ngetwit.

Ngetwit tidak menghalangi orang untuk menulis. Bedanya memang ngetwit dibatasi dengan 150 karakter dalam setiap kicauan. Tetapi dengan batasan itu membuat kita berpikir lebih keras lagi agar kalimat bisa efektif, tidak mubazir, dan tepat pada sasaran. Ini menghindari juga kalimat yang berbusa-busa.

Yang memang tidak bisa digantikan dengan menulis biasa atau menulis di blog adalah pemakaian bahasa yang tidak sesuai dengan kaidahnya. Dengan demikian memang ngetwit dan menulis blog bukan untuk saling menyingkirkan keberadaannya masing-masing. Ngetwit adalah upaya yang sekadar menuliskan lintasan-lintasan ide dalam pikiran agar tidak hilang. Menulis konvensionalnya adalah jalan melengkapi ide-ide itu agar bisa dinikmati dan dimengerti lebih nyaman, dalam, dan rigid.

Maka daripada ide itu hilang, saya ngetwitlah. Contohnya saat di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) yang penuh itu, saya menuliskan lintasan ide tentang adzan ini. Daripada menghitung berapa lagi stasiun yang akan dilewati dan ngedumel karena KRL itu mogok lama di stasiun UI.

Saking asyiknya ngetwit, saya sampai tidak menyadari kalau KRL ini sudah terbuka pintunya di Stasiun Citayam. Silakan dikunyah.

clip_image001

(Muadzin kumandangkan adzan. Sumber gambar: Di sini)

1. #Adzan itu memang enak didengar. Keras ditelinga ataupun yang sayup-sayup. Apalagi klo yg adzan suara&langgamnya bagus.

2. #Adzan setiap waktu sholat punya langgamnya masing2. Ada yg bedain adzan shubuh dg maghrib itu dibedain. Apalagi klo dzuhur & ashar.

3. #Adzan waktu sholat siang kudu keras & membahana. Lantang. Karena harus bisa memenangkan desible dg kebisingan.

4. #Adzan tuk sholat di waktu gelap lebih lembut & menyahdukan. Muadzin yg pengalaman tahu soal ini.

5. #Adzan shubuh saking indahnya bahkan bisa bikin orang tidur lagi. :-p Tapi bukan karna ini ding. Niat, kemauan & hidayah Allah jd penentu

6. #adzan maghrib saya suka sekali. Apalagi klo lg naik kereta jakarta-bandung. Apalagi kalo lg di sawah. Syahdu sekali.

7. Kalo denger #Adzan jumat selalu inget waktu masih sd atawa smp sholat jumat di masjid muhammadiyah di kampung. Di pinggir sawah. Angin..

8. Anginnya semilir. Pokoknya #adzan jumat punya memori khusus. Bikin terkenang kampung halaman & masa lalu.

9. #Adzan shubuh akan bisa mengharukan kalo muadzinnya bagus.

10. Yang paling mengharukan adalah #adzan di masjdilharam. Mungkin karena hati sdh di frekuensi sama. Hati lg trance. Hati lg pasrah.

11. Hati lg deket bgt sama Allah. Jadinya setiap moment #adzan adlah kesmpatan bagus buat balas setiap kalimat adzan dg sebuah ksadrn betul

12. Allahu akbar. Kita balas dg Allahuakbar. Ditambah pemahaman kita & semua kecil kcuali Dia. Kalimat syahadat dll. Pokoknya gitu dah.

13. Maka bagusnya (bukan wajibnya) yg #Adzan yg punya suara bagus agar bisa gugah hati orang. Rasul SAw janjiin buat muadzin punya leher…

14. ..leher panjang di padang mahsyar sbg keutamaan buat mereka. Jgn artikan leterlek ye leher panjang kaya suku di Thailand.

15. Muadzin dpt kebaikan banyak karena dpt bangunkan orang dari lelap tuk sholat shubuh. Orang yg bangun shubuh dpt pahala banyak. Apalagi..

16. apalagi yg bangunin. Seorang ulama besar Mesir Hasan Al Banna punya kiat jitu tuk dapat kebaikan yg banyak daripada muadzin.

17. Caranya? Dia bangun lebih awal dan datang ke rumah muadzin yg mash tidur lalu bangunin muadzinnya. Mantap.

18. Mau dapat banyak kebaikan? Ya jadilah muadzin. Datang ke masjid atau musholla. Lalu berinisatif tuk adzan. Pamit dulu sama takmir/marbot

19. Nanti ada yg tanya kenapa anjuran itu tak buat perempuan? Perempuan jg pengn dpt kebaikan. Jwbnya: Karena perempuan tak punya kwajban…

20. …tak punya kewajiban ke masjid. Masalah kebaikan yg ingin didapat ada penggantinya. Apa? Perempuan bisa dg membangunkan suaminya,

21. Dan memintanya ke masjid untuk sholat. Bisa dg mematikan tv yg ditonton anak2 & meminta mrk ke masjid. Jgn dikira perbuatan itu sepele

22. Contoh lainnya banyak. Sekretaris prmpuan yg ingatkan bos waktusholat. "sudah adzan pak. Waktunya sholat.Rapat ditunda dulu." Pokoknya..

23. ..buat perempuan ada banyak stock kebaikan yg bisa diambil dg tidak #adzan di masjid. Jawab lain: karena suara prmpuan=aurat.

24. Inka Christy atawa Mel Shandy gak bisa jadi muadzin. Nanti nyimak & ngebayangin orangnya dah.

25. Jawab lain karena perempuan di setiap bulannya punya tamu yg sebabkan ia gak bsa ke masjid. Ini jawaban sy. Jawaban yg lebih fakih bisa

26. Liat di kitab fikihnya. So, sampai sejauh ini #adzan bagi saya waktu yg ingatkan sy tuk bersegera tinggalkan semua. Walau sy masih..

27. Berusaha dg keras tuk bisa penuhi panggilan itu. Masih belajar. Minimal punya rasa nyareset di hati & malu kalo gak bersegera.

28. Minimal jg gak ada penolakan sama #adzan. Atau bilang seperti ini: yg sayup2 lebih mengena di hati drpd yg keras2 volume toanya

29. Yg gak suka adzan keras & sayup2 itu cuma kuntilanak, siluman kebo, tuyul, genderuwo a.k.a setan yg lari terbirit2 masuk wc or

30. Karna takut kebakar. Panaaaas…panas.panas (ini bukan Armand maulana yg nyanyi) sambil tutup kuping.

31. Smoga kita jadi muslim yg baik yg tak lari terbirit2 denger suara #adzan atau yg ngedumel sambil bilang: "sholat lg sholat lagi."

32. Semoga kita diberikan kemudhan oleh Allah agar bisa bersegera tuk sholat waktu denger #adzan.

33. Semoga kita diberikan kekuatan oleh Allah tuk bisa ke masjid waktu denger #adzan. (yg ngetwit ini tundukkan hati)

34. Kalau masih silap ya Allah, ampuni aku.

35. Semoga Allah tidak menulikan hati dan telinga kita. Allahumma ‘aafini fi sam’ii. Aamiin. *selesai.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di atas KRL yang sedang alami cemburu

17.30 02 Mei 2012

PLURALISME ITU SAMPAH


PLURALISME ITU SAMPAH

    Seorang penuhan akal bilang di suatu jum’at, “jangan jadikan mimbar jum’at sebagai panggung untuk menebar kebencian terhadap pluralisme.” Tentu saya tak sepakat dengan pemikiran dari orang yang mendewakan akal ini dan ketika beragama maka Al Qur’an dan hadits diposisikan sebagai sesuatu yang layak untuk dikritisi. Dan itulah, menurutnya, cara berislam yang benar.

Kali ini tidak membahas akal manusianya itu, tetapi saya mengomentari pendapatnya dengan mengatakan padanya bahwa pluralisme agama itu hanya sampah. Tetapi sebelumnya saya akan mengenalkan definisi pluralisme sesuai dengan definisi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Soalnya mereka yang mengusung pluralisme ini masih tak sepakat dengan definisi dari pluralisme itu sendiri.

Pluralisme menurut Fatwa MUI Nomor: 7/Munas VII/MUI/11/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama, adalah:

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.


*Lambang-lambang agama (Sumber: di sini)

    Sekarang mengapa pluralisme itu sampah? Simak twit ini di @rizaalmanfaluth :

#mereka itu kalau ngeliat orang arab berjubah, langsung paranoid. Ini rasisme. Diskriminatif. Buah dari Plurali$me. Makanya sybilang: sampah

  1. Pluralisme: sampah. Karena memandang semua agama sama. Syariat di agama itu baik. Syariat Islam juga baik. Makanya kata #mereka, rukunlah
  2. Pluralisme: Sampah. Padahal Islam sudah dari dulu junjung pluralitas. Tolong bedain pluralisme dan Pluralitas.
  3. Pluralisme: sampah. Dg klaim semua agama sama, maka ini penghancuran syariat. Zina & Riba di Islam dilarang. Di agama lain belum tentu.
  4. Pluralisme:sampah walau tak mematikan smua agama melainkan memandulkannya . Gak ada kebaikanagamakarena dibalikin ke nafsu pribadi.
  5. Plurali$me: sampah krn jungkirbalikkan syariat. Alqur’an jadi mainan. Putar-putar ayat.Asal comot.Bebas tafsir. Pantes #mereka
    #salaharah
  6. Plurali$me=sampah Alqur’an digituin. Apalagi hadits. Ditolak kalau gak sesuai dg akal. Sholawat & kawinnya RasulSAW dipertanyakan.
  7. Pluralisme:sampah krn pd akhirnya #mereka ingin juga punya otoritas tafsir tersendiri. Tafsir sekarang yg dipakai umat adalah ortodoks.
  8. Pluralisme=sampah karena pengusungnya cuma omong doang. Harusnya #mereka berikan contoh. Mereka bisa rukun sama agama lain.
  9. Pluralisme=sampah. Kalo contoh itu mah Islam dah ngajarin dari dulu. Inklusifitas dalam sosial itu mah kudu sbg muslim.
  10. Plurali$me=sampah. Tetapi inklusifitas dalam akidah itu yang dilarang. #mereka
    #gagalpaham. Toleransi/campur baur dlm akidah NO WAY.
  11. Plurali$me=sampah. Kegagalan #mereka yg paling besar adalah mereka gagal memberikan contoh plurali$me yg #mereka usung dlm hidup sehari2
  12. Plurali$me=sampah.Anak #mereka gak mau anaknya kawin dg di luar agama mereka. Kasih contoh dong #mereka yang sudah praktikan?
  13. Plurali$me=sampah. Kalau #mereka mati, enggak dikubur, tetapi dibakar, dikremasi, dan abunya dibuang or mayat #mereka dilarung diGangga
  14. Plurali$me=sampah. #mereka gak kasih contoh haji di bulan muharram. Ke arafah, muzdalifah, mina. Iyalah gak ada temennya. Di sana sepi.
  15. Plurali$me=sampah. #mereka kan klaim bahwa jalan keselamatan ada pd semua agama. Tetapi #mereka gagal beri contoh untuk melepaskan…
  16. Plurali$me=sampah…melepaskanklaim formalitas keislamannya. #Mereka gak mau murtad. #mereka maunya jadi muslim tpi aturan Islam ditolak
  17. Plurali$me=sampah. Tapi ada salah satu dari #mereka yg berhasil memberikan contoh plurali$menya dg selingkuh. Selingkuh emang nikmat.
  18. Plurali$me=sampah. #mereka menolak poligami berketertiban, tapi sukses terapkan poligami barbar dg selingkuh. #mereka kan sdg bericontoh
  19. Plurali$me=sampah. Kalau urusan seks #mereka emang sukses tuk terapin formula plurali$menya, krn seks urusan paling dasar slain uang.
  20. Plurali$me=sampah, wajar kalau #mereka bilang kalau ciuman itu sedekah. Tapi sayang @syukronamin gak mau praktikkan plurali$me itu
  21. Plurali$me=sampah, dg mencium salah satu santri perempuan/jama’ah pengajiannya di hadapan audiennya. Padhal kalau sedekah dibalas 700x.
  22. Plurali$me=sampah, ini contoh terbesar kegagalan #mereka. artinya? #mereka takut tuk terapin apa yg diyakini mereka benar. @assyaukanie
  23. Plurali$me=sampah, #mereka masih gila hormat. Masih ingin dianggap sbg ustadz, kyai, gus, habib, lulusan yaman, agar bisa didengar massa
  24. Plurali$me=sampah. oleh masyarakat yg #mereka anggap sebagai fundamentalis karena mo menerapkan Islam dg kaffah. @syaltout
  25. Plurali$me=sampah, #mereka alergi sama term kaffah,makanya @assyaukanie sang generalisator & provokator ini PANIK UI ngadain lomba ngaji
  26. Plurali$me=sampah, atau gara2 paranoid sama yg berbau Arab Saudi?
  27. Plurali$me=sampah, padahal adalah hal lumrah UI mengadakan pekan budaya. Iran, China, Jawa, Kamoro dll. Tapi @assyaukanie & antek cuma
  28. Plurali$me=sampah, RISAU, GALAU, PANIK kalau pekan budaya itu berlabel Islam atau ada bau Arab Saudi. Tp #mereka tetep mau haji kesana.
  29. Plurali$me=sampah, so #mereka tak yakin dg kebenaran agama sendiri. Klo begitu knp masih ngotot sebagai muslim? #mereka tak bisa jawab .

Kita berlindung dari godaan pluralisme agama yang menyesatkan. Amin.

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

11:11 29 April 2012

 

Tags: jaringan iblis liberal, jil, luthi assyaukanie, ulil, ulil abshar abdilla, syukronamin, syukron amin, syaltout, pluralisme, pluralitas, pluralis, mui, majelis ulama indonesia

TUHAN TIDAK PERLU DIBELA?


TUHAN TIDAK PERLU DIBELA?

Ketika kita berbicara tentang Tuhan yang tidak perlu dibela 1) maka kita yakin betul bahwa Allah adalah mahabesar, mahakuat, mahaperkasa. Dengan kemahaanNya, maka Ia tak butuh apapun. Dengan ibadah kita, tak akan menambah perbendaharaan kekayaanNya. Dengan kemungkaran seluruh manusia di muka bumi, tak akan sedikit pun mengurangi kemuliaanNya. Kita beribadah karena kita butuh, tak semata itu adalah kewajiban. Sampai di sini saya sepakat.

Tapi kalimat Tuhan yang tidak perlu dibela itu seringkali menjadi argumentasi bahwa Allah tak perlu pembelaan kita. Dengan demikian Islam pun tak perlu pembelaan dari umatnya. Ketika ada yang berbicara anjinghu akbar dalam sebuah forum maka sepatutnya kita diam. Waktu ada yang menghina nabi Muhammad, ya cukup diam saja. Kalau ada yang bilang ada nabi setelah Rasul Muhammad saw, ya cukup hormati saja pendapat itu karena hanya beda tafsir dalam memandang suatu dalil.

Atau paling banter dengan memberikan nasihat yang baik, tidak memberikan stigma sesat, dan jika tidak berubah, show must go on, hidup terus berlanjut karena Allah saja yang memberikan hidayah dan membolak-balikkan hati seseorang serta tidak ada yang mampu menyesatkan manusia jika manusia itu telah mendapat petunjuk Allah. Dalilnya adalah Al-Maidah ayat 105.

Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dengan ayat itu maka kalau ada aliran-aliran yang dianggap sesat oleh umat Islam, ya biarkan saja mereka untuk mendakwahkan ajaran mereka, karena Allah sudah jamin buat orang yang beriman bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah terjerumus dalam kesesatan karena dijaga Allah. Ini menjadi dalil implisit bahwa Allah tidak perlu dijaga, karena Allahlah yang menjaga manusia dari setiap kesesatan.

Atau dengan kata lain pula kalau Jaringan Islam Liberal mendakwahkan pemikirannya maka kalau orang yang beriman tentu tidak akan terpengaruh sama sekali. Juga kalau ada misi dan ajakan dari agama lain maka yang disalahkan adalah umat Islam yang mudah begitu saja kehilangan imannya. Kalau umat sudah diberikan petunjuk Allah maka misi itu tidak akan berpengaruh sama sekali. Tetapi apakah betul memang demikian?

Ujung dari pernyataan Tuhan yang tak perlu pembelaan itu adalah Islam yang tak butuh pembelaan dari umatnya. Ujung-ujungnya adalah pelemahan semangat jihad umat. Karena umat Islam cukup pasif saja. Cukup menjadi objek derita dari apa yang menimpanya. Mulai dari serangan pemikiran, invasi, pembusukan, perpecahan umat, kemiskinan, kebodohan, pembodohan, penindasan, diskriminasi, penyakit masyarakat, dan semua yang melemahkannya.

Ketika umat dituntut untuk tak perlu pembelaan, maka sebenarnya pula ini menihilkan makna dari iman kepada Allah itu sendiri. Mengapa demikian? Karena ketika kita beriman kepada Allah swt, maka konsekuensinya adalah kita cinta kepada Allah. Cinta ini akan menghasilkan sebuah loyalitas terhadap siapa dan apa yang dicintai Allah serta menghasilkan pelepasan diri dari siapa dan apa yang dibenci Allah.

Mudahnya adalah cinta kepada Allah akan mewujudkan kerelaan untuk berkorban. Berkorban apa yang dimilikinya—bahkan jiwanya, untuk membela syariatNya, saudara-saudaranya, dan keyakinannya.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Akmal menggambarkan bahwa cinta itu butuh pembuktian meskipun tak ada yang meminta. Orang tua mungkin tidak pernah meminta agar anak-anaknya menanggung kehidupannya pada masa tua kelak. Namun orang yang mengabaikan orang tuanya yang sudah renta, maka kecintaannya niscaya dipertanyakan. Kalau istri dimaki orang, tak perlu diminta pun suami harus memberikan pembelaan. Akal siapa pun akan mampu memahami hal ini. Cinta dan pembelaan adalah dua sisi mata uang; jika ada cinta, pasti ada pembelaan. Dengan kata lain, jika tak ada pembelaan pastilah tak ada cinta. 2)

Dan cukupkah ketika melihat penistaan, pembusukan, serta kemungkaran itu umat berdiam diri? Umat cukup pasif? Tidak. Karena diam adalah selemah-lemahnya iman. Kanjeng Nabi SAW pernah berkata, “barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangan, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” 3)

Ketika dikehendaki bahwa diam adalah laku seorang muslim saat menjadi objek penderita maka sama saja menjadikan umat Islam menjadi umat yang fatalis, umat yang sangat pasif, pasrah, dan tak punya pilihan sama sekali dalam hidup. Tidak. Tidaklah begini tuntutan iman kepada Allah, hari akhir, dan qadha qadarnya.

Dan ketika berhadapan dengan penyeru kesesatan, cukupkah umat diam atau paling banter menasehatinya? Tentu, nasehat adalah jalan agama. Bukankah agama adalah nasehat? Tetapi ketika nasehat sudah direalisasikan, belumlah cukup menyerahkan semuanya kepada Allah yang mahakuasa dan berkehendak atas segala sesuatu, sepanjang mengubah kemungkaran dengan tangan belum pernah dilakukan atau tak terbersit dalam hati untuk melakukannya. Bukankah nasehat itu adalah jalan kedua beramar ma’ruf nahi munkar? Dan setelahnya adalah dengan hati. Walau itu selemah-lemahnya iman.

Memberikan nasehat pun perlu parameter yang jelas untuk mengukur letak sebuah kesalahan. Parameter-parameter yang sudah ditentukan oleh para ulama dalam memandang kesesatan adalah salah satu yang bisa dijadikan contoh.

Majelis Ulama Indonesia mempunyai kriteria untuk menentukan kesesatan sebuah kelompok yang menistakan agama Islam. Dan mau tidak mau fatwa MUI mematok ukuran sesat itu adalah sebuah nasehat. Nasehat yang memberikan stigma agar umat awas.

Dengan kata lain, sebagai umat yang senantiasa bersemangat membela agamanya sebagai bentuk rasa cinta kepada Allah, maka berdiam diri membiarkan kesesatan dan pembusukan terhadap umat adalah memastikan azab Allah turun dan tak akan pernah ada doa dari para hambaNya yang dikabulkan. 4)

Ketika saya ditunjukkan Al-Maidah ayat 105 oleh santri pendukung JIL itu, maka menurutnya, jika saya beriman tentu saya akan menuruti perintah dan permintaan Tuhan yang tidak memerlukan pembelaan. Kalau hati saya tidak buta, saya tentu akan menerima ayat itu. Insya Allah saya bukanlah seperti yang dituduhkannya.

Coba kalau kita cermati Al-Maidah 105 itu, jika bisa dianggap dalil bahwa Tuhan tak perlu dibela maka dalil itu adalah dalil implisit. Ada dalil yang nyata dan lebih eksplisit tentang pembelaan terhadap agama Allah yakni dalam surat Muhammad ayat 7:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Allah, maka Dia menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

dan Al Hajj ayat 40 :

“…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolongNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa.”

Tapi sang santri menolak ayat itu sebagai dalil karena Muhammad ayat 7 digunakan dalam konteks tazkiyyah tauhid melawan penyembah berhala. Ini berarti tak bisa digunakan dalam konteks kekinian jika bukan melawan orang-orang musyrik.

Ayat-ayat itu menurutnya tak bisa digunakan sebagai dalil membela agama Allah ketika misalnya Islam dirongrong oleh mereka-mereka yang mengaku sebagai nabi setelah Muhammad, mengaku sebagai Jibril, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Atau ketika aturan Islam dilecehkan dan diputarbalikkan sedemikian rupa dikemas dengan argumentasi ilmiah.

Bahkan bisa diartikan pula ayat-ayat itu itu tak bisa digunakan dalam konteks perjuangan dakwah di bidang apapun misalnya pendidikan, kesehatan, politik, dan ekonomi umat. Karena maknanya dipersempit sedemikian rupa (sebuah anomali karena biasanya penyeru JIL anti tekstualis).

Kalau kita cermati lebih dalam lagi, tiga ayat ini mempunyai keterkaitan begitu luar biasa. Antara Al Maidah ayat 105 dengan Al Hajj ayat 40 misalnya. Dalam tafsir Ibnu Katsir membahas Al Maidah ayat 105 urusan tidak disesatkan ini tidak akan pernah bisa lepas dari upaya amar ma’ruf nahi mungkar 5). Al Hajj ayat 41 menerangkan siapa orang-orang yang dimaksud dalam ayat sebelumnya dan ternyata salah satunya adalah mereka yang berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Artinya?

Ternyata makna: “tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk” hanya akan jalan jika kita beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Simpelnya: selain mendapat petunjuk dari Allah maka kerja amar ma’ruf dan nahi munkar akan membuat kita tidak bisa disesatkan.

Merujuk pada Muhammad ayat 7, jika kita menolong Allah maka ada dua hal yang didapat, yaitu kita akan ditolong Allah dan diteguhkan kedudukan kita. Di mana dalam Al Hajj ayat 41 itu orang yang diteguhkan kedudukannya niscaya mereka melakukan perbuatan antara lain berbuat makruf dan dan mencegah kemungkaran.

Ringkasnya adalah ketika menyatakan Tuhan tidak perlu dibela dengan dalil implisit Al Maaidah ayat 105, malah ini semakin menegaskan bahwa Allah akan menolong orang yang menolongNya dengan semua kemahaanNya.

Tidak akan pernah disesatkan kecuali orang yang mendapat petunjuk dan beramar makruf nahi mungkar. Tidak akan pernah disesatkan kecuali orang yang mendapat hidayah dan membela agama Allah.

Umat Islam adalah umat yang aktif, yang senantiasa bergerak dan berjuang serta bukan umat yang pasif bahkan fatalis. Amar makruf nahi mungkar adalah kerja nyata untuk membendung dan melindungi umat dari setiap kesesatan dan penistaan agama.

Semoga yang sedikit ini bisa dimengerti. Semoga Allah melindungi kita dari setiap kesesatan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai pejuang-pejuang dan pembela-pembela Islam. Semoga Allah menjadikan diri kita penolong-penolongNya.

***

Catatan kaki:

1) Pemikiran Gus Dur yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela;

2) Akmal Syafril, Islam Liberal 101, Depok: Penerbit Indie Publishing, Cetakan Keempat, Februari 2012, halaman 19;

3) HR Muslim dalam Al Iman (49);

4) HR Ahmad dalam musnad-nya, 5/288-289, 391 dari hadits Hudzaifah bin Yaman ra secara marfu’

5) HR Attarmidzi dan HR Ibnu Jarir. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2 Hal 168-169;

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

02:44 25 April 2012

MIMPI ORANG PAJAK


MIMPI ORANG PAJAK

 

Lebih dari empat setengah bulan sudah kami meninggalkan Makkah dan Madinah. Dua kota yang kalau disebut sama teman-teman yang mau pergi haji atau umroh selalu membuat mata saya berkaca-kaca dan hati merindu tidak kepalang. Hanya ratusan foto yang tersimpan dalam komputer menjadi pelipur lara. Atau dengan sesekali menyaksikan tayangan langsung di
http://live.gph.gov.sa/index.htm#.TvYOvVJIZ0t

*Foto sholat dzuhur 21 April 2012

Subhanallah pas saya copy paste alamat situs ini, di masjidil haram sedang adzan dzuhur. Allah…Allah…Allah… Sudut-sudut masjidil haram seperti lekat di depan mata. Ingin sekali untuk kembali ke sana. Saya jadi ingat sebuah tema diskusi dalam sebuah forum, judulnya: ini mimpiku dan mana mimpimu?

Maka hari ini kalau boleh saya bermimpi, kiranya saya bisa setiap saat pergi ke sana dengan mudah. Seperti teman-teman kantor kalau mau pulang kampung naik kereta atau pesawat di setiap bulannya. Jadi kalau iman lagi turun, segera rihlah naik pesawat jet pribadi, pergi hari jum’at sepulang dari kantor menuju Bandara Soekarno Hatta. Kemudian pakai kain ihram di pesawat dan berniat umrah saat tiba di miqat.

Tiba di Jeddah Sabtu pagi. Lalu naik Mercedes yang sudah siap menuju Makkah. Tiba di hotel terdekat dengan Masjidil Haram lalu istirahat sebentar. Setelah itu segera berangkat ke masjid untuk memulai thawaf. Putar-putar tujuh kali. Lalu berdo’a yang banyak di Multazam. Sholat sunnah dua rakaat dan minum air zam-zam. Sesudah itu pergi sa’i dari shofa menuju marwah dan sebaliknya sebanyak tujuh kali. Selesai sudah rangkaian umrah.

*Lorong masjidil haram 18 November 2011

Shalat maghrib, isya, dan shubuh menjadi kesempatan terbaik mendengarkan recite atau bacaan surat imam yang merdu itu. Kyai Haji Abdurrahman Assudais atau Maher bisa jadi yang memimpin sholat itu. Tak bisa bohong kalau saya lebih menyukai bacaan Maher Almu’aqli.

Awalnya saya tak tahu bacaan indah milik siapa ini. Di masjid depan penginapan di Makkah saya pernah dengar bacaan itu. Menyentuh sekali. Tetapi cuma sekali mendengarnya. Lalu waktu sepulang dari sholat dzuhur di Masjid Nabawi terdengar keras banget bacaan yang sama dari toko yang jual buku, kaset, dan cd. Saya datangi toko itu dan menanyakan kepada penjaga toko yang orang Bangla siapa pemilik bacaan ini. Barulah saya tahu kalau ia adalah Maher Almu’aqli, seorang Imam Masjidil Haram dan Nabawi.

Klik saja kalau mau mendengarkan bacaan alfatihahnya di sini. Atau kalau mau lengkap 30 juz unduh saja di sini. Yang pernah ke dua tempat suci itu pasti merindukan bacaan surat para imam itu.

Mari kita lanjutkan mimpinya. Sepertiga malam terakhir diisi dengan qiyamullail dan menyempatkan diri untuk mencium hajar aswad serta sholat dua rakaat di Hijr Ismail. Lalu setelah shubuh, baca alma’tsurat, sholat syuruq, dan dhuha. Sarapan di hotel dan jalan-jalan di menara jam yang tinggi itu. Jam sebelas siap-siap packing karena ba’da dhuhur kembali menuju Jeddah.

Adzan dzuhur berkumandang, segera pergi ke masjid, berdoa yang banyak minta ampunan Allah dan keselamatan umat Islam dari fitnah dunia. Sempatkan diri thawaf setelah shalat dhuhur. Dan jam setengah dua siang sudah tiba di hotel lagi, makan siang lalu cabut.

Sampai di Jeddah sekitar jam setengah empat sore. Naik pesawat jet lagi dan menyusuri 9 jam perjalanan menuju Jakarta dengan istirahat. Tiba di Soekarno Hatta senin dini hari. Paginya sudah ngantor
ngadepin Pemohon Banding dan Penggugat lagi di meja hijau Pengadilan Pajak. Selesai sudah.

Terbangun dari mimpi lalu sadar kalau diri ini hanya orang pajak. Tapi memangnya tak boleh orang pajak punya mimpi-mimpi? Mengutip perkataan teman dari Hasan Al Banna: “Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Insya Allah bisa. Jangan takut untuk bermimpi. Allah mahakaya, sudah pernahkah kita minta apa saja kepadaNya?

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

ayo bermimpilah

20:22 21 April 2012

    

Tags: Maher almu’aqli, makkah, madinah, pengadilan pajak, hasan al banna, hajar aswad, hijr ismail, zam zam, Jeddah, Sudais, Abdurrahman Assudais, bandara soekarno hatta, nabawi, masjidil haram

 

Lengang


image

Pagi ini Allah mudahkan urusan saya. Semoga sampai selesai hari ini dan selamanya. Amin. Berharap banget.

Tiba di stasiun Citayam awalnya berharap commuter line (comlen) jurusan Tanah Abang. Ternyata comlen jurusan Jakarta Kota belum tiba. Ya sudah naiklah saya ke comlen Kota itu.

Syukurnya pula, comlen ini tak biasanya, kosong. Tumben. Tapi selalu sih comlen Jurusan Kota ini lebih kosong daripada comlen yang menuju Tanah Abang. Mungkin karena comlen Kota jadwalnya lebih pagi.

Syukurnya pula saat berdiri di depan bangku khusus ada yang turun di Stasiun Depok Lama. Kesempatan langka dapat tempat duduk. Alhamdulillah. Walau harus bersiap-siap bangkit kalau ada yang lebih berhak untuk duduk di tempat itu.

Ada wanita muda masuk di Stasiun Depok Baru. Saya tak kasih duduk kepadanya. Terlihat tidak hamil. “Nanti ya Mbak, gantian,” saya berkata dalam hati. Saya juga orangnya tidak tegaan. Jiiiaaah.

Saat comlen mau masuk Stasiun Pasar Minggu saya bangkit. Sudah cukup untuk rehat kaki saya. “Sok atuh calik. Mangga.”

Bersyukurnya lagi adalah saya bisa ketik semua kejadian pagi ini, di KRL lengang ini. Tumben saya bisa menulis di KRL.

Sekarang comlen mau tiba di Stasiun Manggarai saatnya bersiap turun untuk transit dan naik KRL Ekonomi menuju Stasiun Sudirman. Keretanya persis di belakang comlen Kota ini.

Itu saja. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada semua roker (rombongan kereta) mulai pagi sampai KRL yang terakhir pergi dari Stasiun Jakarta Kota nanti malam.

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
di pojok comlen dan pinggir peron 5 stasiun manggarai
06.24 20 April 2012

Foto diambil pada pagi pukul 05.44 WIB 20 April 2012.

Iced Tea This Morning


image

Waiting for someone like you @ tax court


image

Jalanan di Suatu Malam Senin


image

Tak ada katak yang menjerit
Tak ada denting pedang
Selarik cahaya jatuh di hati
Sudah larut, segera tidurlah.