Hukum Membaca dan Menulis Cerita Fiksi, Haram?


Mencoba memunculkan kembali.

Riza Almanfaluthi's avatarRiza Almanfaluthi

HUKUM MEMBACA DAN MENULIS CERITA FIKSI,
HARAM?

A.Pendahuluan

Dalam sebuah forum diskusi yang membahas sebuah cerita fiksi, ada sebuah celetukan
yang muncul di sana seperti ini, “Tulisan bohong seperti itu memang bermanfaat?” atau dengan celetukan yang
lain seperti ini, “namanya juga khayalan yang diperhalus dengan kata imajiner.”

Bagi saya, celetukan-celetukan tersebut adalah sesuatu yang wajar, karena tidak
semua orang harus dipaksa untuk dapat menyukai sesuatu apalagi sebuah tulisan. Bahkan dengan keterusterangan yang
dilontarkan oleh yang lain dengan mengatakan ketidaksukaannya pada fiksi, saya anggap sebuah kewajaran juga.

Namun menjadi tidak wajar jika ketidaksukaannya tersebut bercampur dengan sinisme
yang berlebihan sehingga menganggap penulis dan pembaca fiksi menjadi orang-orang yang terlena dan jatuh dalam
kesia-siaan serta kedustaan. Apalagi dilatarbelakangi kebencian terhadap penulisnya karena berbada harakah, atau
penulisnya tersebut adalah bagian dari ahlul bid’ah. Subhanallah…

Sinisme inilah yang nantinya akan menghambat banyak orang atau pemula dalam
kepenulisan yang sudah memutuskan menulis fiksi sebagai…

View original post 2,393 more words

KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK


KISAH NYATA: LAKUKAN INI JIKA INGIN PUNYA ANAK

image

“Jika belum adanya keturunan yang membuatmu gelisah di penghujung malam ini mintalah Allah ta’ala dengan do’a Nabi Zakariya.” Satu kalimat yang ditwitkan oleh Moh. Fauzil Adhim pada dini hari ini membuat saya termenung. Sebuah kebetulan bahwa pada malam itu saya ingin menuliskan sebuah cerita tentang kegundahan seorang teman akan hadirnya buah hati dalam umur perkawinannya yang baru mencapai lima bulan. (Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI).

Sebuah waktu yang tidak bisa disetarakan dengan waktu sepi yang dimiliki oleh Nabi Zakariya dalam sebuah penantian yang panjang dan endapan keniscayaan kalau istrinya yang mandul tidak pernah mungkin akan punya keturunan. Maka hanya doa yang bisa terlantun: “Tuhanku, jangan biarkan aku sendiri. Dan Engkaulah sebaik-baik Waris (QS. 21: 89)”

Dalam sebuah percakapan maya, di pertengahan ramadhan 1433 H yang penuh keberkahan, tercetus sebuah kegalauan betapa pusing teman saya ini memikirkan istrinya yang juga belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.

“Kamu mau enggak saya beri solusi?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Karena dengan mengemukakan masalahnya pada saya saja setidaknya ia merasa sudah cukup gelisah itu terkurangi.

“Kamu dan istri kamu lakukan dua hal ini.”

“Apa?”

“Istighfar dan sedekah. Perbanyaklah. Misalnya saat mau berhubungan intim, saat kamu berdiri di dalam kereta, saat kamu bekerja. Insya Allah kita akan lihat hasilnya dalam sebulan ini.”

Hanya itu yang bisa saya sampaikan padanya persis seperti apa yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam Musnadnya, dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw sambil berkata: “Wahai Rasulullah! Aku tidak dikaruniai seorang anak pun dan aku tidak memiliki anak.” Maka Rasulullah saw bersabda: “Lalu di mana kamu dari banyak beristighfar dan banyak bersedekah, karena engkau akan diberi rizki anak karena sebab keduanya.” Lalu laki-laki ini memperbanyak sedekah dan istighfar. Jabir berkata, “Maka orang ini dikaruniai sembilan anak laki-laki.”1)

Saya meyakinkannya untuk melakukan dua hal itu. Apalagi sudah jelas kalau dalam Surat Nuh (71: 10-12) disebutkan tentang janji Allah kepada orang yang meminta ampunan kepadaNya, maka Ia akan memberikan banyak rupa kebaikan dan salah satunya adalah memperbanyak harta dan anak. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Kepada para jamaah shalat tarawih saya sampaikan cerita teman ini dan berharap ada keajaiban yang datang dalam sebulan ini. Pengharapan besar, doa yang terucap sepenuh keyakinan, sedekah yang seikhlas-ikhlasnya, permintaan ampunan tertuturkan dengan sebenar-benarnya permintaan, dari hati yang dilembutkan oleh madrasah ramadhan, pada waktu yang mustajabah, variabel manalagi yang akan membuat Allah tidak mewujudkan semua asanya?

Ramadhan usai, Syawal menjelang. Hiruk-pikuk mudik, lebaran, dan baliknya menyita perhatian semua. Tidak terkecuali saya. Tapi ada mekanisme takdir Allah yang sedang berjalan. Hari ke-9 Syawal sang teman memberitahu saya, “Aku mengucapkan terima kasih untuk saran dan doa kamu bulan puasa kemarin. Subhanallah walhamdulillah. Aku telah memastikan secara medis kalau kandungan istriku sudah berjalan kurang lebih lima minggu.”

Allah Maha Besar, nikmat mana lagi yang hendak diingkari. Allah tunjukkan keajaiban sedekah dan istighfar itu pada kami, walau baru sebatas janin. “Terus perbanyak sedekah dan istighfarnya, karena sedekah dan istighfarmu yang konsisten akan menjaga kandungan istrimu.”

Istighfar itu tanda kepasrahan dari hamba yang sesadar-sadarnya kalau dirinya lemah, membawa kedamaian, menjadikan lapang atas setiap kesedihan, jalan keluar atas setiap kesempitan, dan membuka datangnya rizki dari arah yang tiada terduga. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara pribadi sebagaimana shalat.

Sedekah berkelindan dengan istighfar. Sedekah itu pembuktian adanya iman di dada, ia menghapus kesalahan, menjauhkan dari kematian yang buruk, menghindarkan dari musibah, ia mengobati orang-orang yang sakit. Dan ia adalah sarana tarbiyah untuk menjadikan diri shalih secara sosial sebagaimana zakat.

Inilah ikhtiar. Dan setelah kawan saya itu, keajaiban apalagi yang akan muncul di hadapan Anda dari banyaknya istighfar dan sedekah yang tertunaikan?

Untuk berkonsultasi dengan saya silakan melalui Facebook Messenger dan Whatsapp.

**

Catatan: Kisah-kisah sejenis dapat dibaca secara lengkap dalam buku saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Buku ini  terbit pada Februari 2020 dan pada saat ini telah memasuki Cetakan Kelima.

Untuk membaca sinopsisnya silakan mengeklik tautan berikut: laman ini.

Untuk pemesanan buku silakan kunjungi: https://linktr.ee/RizaAlmanfaluthi

 

WhatsApp Image 2020-05-03 at 10.47.59.jpeg

Terkait artikel ini JANGAN LUPA baca juga yang ini:

ISTRI BELUM HAMIL-HAMIL, SUAMI MAU NIKAH LAGI

SUAMI PENYABAR SETARA TABI’IN ITU ADA

Kisah Nyata: Ini Dia 7 Ikhtiar Dalam 7 Tahun untuk Mendapatkan Momongan

DUA PULUH TUJUH TAHUN MENANTI, AKHIRNYA HAMIL JUGA

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Maraji’:

1) Musnad Abi Hanifah, syarah Mulia Ali al-Qari dalam Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam; Keajaiban Sedekah & Istighfar

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

30 Agustus 2012

Sumber Gambar diambil dari sini.

Diunggah pertama kali untuk: Citizen Fimadani

Tags: Zakariya, Moh. Fauzil Adhim, Jabir bin Abdullah, Abu Hanifah, Musnad Abi Hanifah, Sedekah, istighfar,

MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA PUASA QADHA ADALAH KESALAHAN?


MENDAHULUKAN PUASA SYAWAL DARIPADA PUASA QADHA

ADALAH KESALAHAN?

 

Islamedia
Zaman sekarang orang begitu mudahnya menyalah-nyalahkan yang lain dalam melakukan suatu ibadah. Apalagi kalau tidak sesuai dengan perkataan ustadz, syaikh atau kyainya. Dirinya yang benar yang lain salah. Padahal pada masalah fikih ini sudah jelas-jelas telah disediakan ruang perbedaan di dalamnya.

Salah satunya adalah pada masalah mana yang didahulukan antara puasa Syawal dengan puasa qadha. Dalam sebuah artikelnya Muhammad Abduh Tuasikal langsung menghakimi salah kepada sebagian wanita yang langsung memulai puasa syawalnya daripada puasa qadhanya. Langsung juga melarang dan menganggapnya sebagai perbuatan sia-sia, tanpa pahala yang didapat.

Ketika saya tanya kepada teman diskusi tentang dalilnya kesalahan mendahulukan puasa Syawal daripada puasa qadha maka ada tiga dalil sama persis seperti yang diketengahkan Muhammad Abduh Tuasikal sebagai berikut:

Dalil Pertama:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim no. 1164).

Dalil Kedua:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Tidaklah hambaku mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib hingga aku mencintainya” (HR. Bukhari no. 6502)

Dalil Ketiga:

Sa’id bin Al Musayyib berkata mengenai puasa sepuluh hari (di bulan Dzulhijjah),

لاَ يَصْلُحُ حَتَّى يَبْدَأَ بِرَمَضَانَ

Tidaklah layak melakukannya sampai memulainya terlebih dahulu dengan mengqodho’ puasa Ramadhan.” (Diriwayatkan oleh Bukhari)

Dalil pertama semua sudah sepakat bahwa dalil itu adalah dalil tentang anjuran dan keutamaan puasa enam hari di bulan syawal. It’s Ok. Tetapi ketiga-tiganya itu tidak menunjuk secara khusus adanya larangan mendahulukan berpuasa sunnah Syawal daripada puasa qadha Ramadhan. Sebagaimana juga tidak ada dalil khususnya tentang larangan mendahulukan puasa qadha daripada puasa Syawal.

Ulama yang membolehkan mendahulukan puasa syawal tidak memakai dalil yang kedua yaitu hadits qudsi itu sebagai pelarangan mendahulukan puasa sunnah. Lengkapnya dalil kedua ini sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. HambaKu tidak mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang paling Aku sukai dari pada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan sunnat-sunnat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pandangan yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberinya. Jika ia memohon kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan seperti kebimbanganKu terhadap jiwa hambaKu yang beriman yang mana ia tidak senang mati sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadapnya”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

 

Dalil yang dipakai dalam pembolehan ini adalah dalil Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan:

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

Aku dahulu masih punya utang puasa dan aku tidak mampu melunasinya selain pada bulan Sya’ban“(HR. Bukhari no. 1950).

Artinya apa? Ulama menafsirkan masih dimungkinkannya untuk membayar puasa Ramadhan sampai bulan Sya’ban sebelum Ramadhan berikutnya. Syari’at memberi ruang keleluasaannya bagi mereka yang punya udzur untuk mengqadha setelah bulan Syawal. Atau dengan kata lain seseorang bisa mengambil jalan tengah untuk bersegera mengambil puasa Syawal dan setelah itu bersegera melaksanakan puasa qadha tanpa tunggu apa-apa lagi.

Walau ada juga ulama lain yang menafsirkan bahwa Aisyah melakukannya karena sibuk mengurus Baginda Kanjeng Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lagi-lagi ini kembali bagaimana para ulama memahami dan mengambil hadits ini sebagai landasan hukum suatu peribadatan. Dan yang perlu diingat Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak pernah tahu sampai kapan beliau masih hidup dan akan meninggal.

Sedang dalil yang ketiga ini adalah kaitannya dengan puasa sepuluh hari di bulan Dzulhijjah bukan puasa Syawal. Kalau ada yang mengatakan bahwa dalil ini bisa dikaitkan dengan puasa syawal karena sama-sama puasa sunnah maka ini dikembalikan lagi kepada tafsir ulama memahami dalil ini. Sebagian ulama memakai dalil ini dan sebagian lainnya tidak. Bukankah yang biasanya kaku itu sering memakai dalil khusus untuk menghukumi sesuatu? Yang dari Sa’id bin Musayyib bukan dalil khusus.

Yang terpenting adalah saya yang juga sebagai penuntut ilmu meminta dengan sangat untuk diterangkan dan dipahamkan apakah yang dari Sa’id bin Musayyib ini merupakan perkataan Nabi atau merupakan perkataan Sa’id bin Musayyib sendiri yang merupakan tabi’in senior di zamannya. Seringkali yang awam seperti saya ini sering kecele kalau setiap yang dari Bukhari adalah hadits Nabi.

Kalau saya lihat, dalil itu bukan hadits Nabi karena Muhammad Abduh Tuasikal pada hadits Bukhari lainnya mampu menyebut HR (hadits riwayat) Bukhari dan mencantumkan nomor haditsnya. Dalil itu menurut saya yang bodoh ini merupakan ijtihad dari Sa’id bin Musayyib sendiri yang dikenal sebagai ulama yang mumpuni. (Soal ini saya serahkan kepada para ahlinya).

Muhammad Abduh Tuasikal juga menulis dalam artikelnya bahwa untuk mendapatkan keutamaan puasa setahun penuh, puasa Ramadhan haruslah
dirampungkan secara sempurna, baru diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Dalilnya? Enggak ada. Lagi-lagi ini
adalah ijtihad yang ulama lain pun bisa mengambil ijtihad yang berbeda. Benar dapat dua pahala, salah dapat satu pahala.

Jika ada yang mengatakan bahwa tidaklah mengapa wanita tidak melaksanakan ibadah sunnah ini karena masih banyak ibadah utama lainnya yang tidak dapat dikerjakan oleh laki-laki, kita kembalikan kepada hukum awal daripada puasa enam hari di bulan Syawal yakni sunnah: dikerjakan dapat pahala, ditinggal tidak dapat apa-apa atau tidak berdosa. Laki-laki pun jika meninggalkan perbuatan sunnah ini juga tidak berdosa. Tetapi saya katakan: baik perempuan ataupun laki-laki yang meninggalkannya sayang saja atau rugi, karena ia tidak mendapatkan pahala mengikuti sunnah nabi dan pahala puasa setahun penuhnya.

Bagi saya tidak masalah orang mau mengambil yang mana. Apakah dia mau mengambil puasa Syawal dahulu atau puasa qadhanya? Semua punya dalil masing-masing. Mana yang lebih kuat? Subyektif jawabnya. Ulama lain menganggap bahwa bolehnya puasa Syawal didahulukan daripada puasa qadha didukung dalil yang kuat tetapi itu belum tentu kuat buat ulama yang lain. Sebagaimana ada ahli hadits yang menguatkan satu hadits tetapi ulama lain melemahkan hadits tersebut.

Yang masalah bagi saya adalah pada yang menyalah-nyalahkan satu sama lain bahkan sampai menganggap sebagai perbuatan yang sia-sia tanpa pahala sedikitpun. Terlalu berani. Padahal dalam masalah ini—mengutip Ahmad Sarwat—tak satupun yang melanggar batas halal haram ataupun wilayah akidah.

    Saya jadi ingat perkataan seorang ulama yang mengatakan: “Para ulama adalah orang-orang dengan keluwesan (tawsi’a). Mereka yang berfatwa tidak pernah berhenti untuk berbeda, sehingga seorang membolehkan sesuatu, sedangkan yang lainnya melarangnya, tanpa menyalah-nyalahkan yang lainnya ketika dia tahu pendapat lainnya.”

Wallaahua’lam bishshowab.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita semua.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

yang senantiasa berusaha keras sama antara kata dan laku

13:44 23 Agustus 2012

Dimuat di Islamedia tanggal 23 Agustus 2012

 

Tags: muhammad abduh tuasikal, puasa syawal, puasa qadha, mendahulukan puasa qadha daripada puasa syawal, mendahulukan puasa syawal daripada puasa qadha, ahmad sarwat, sa’id bin musayyib,

HAMPIR DUA TAHUN


HAMPIR DUA TAHUN

Hampir dua tahun lalu kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang mengakibatkan 34 korban jiwa dan puluhan lainnya luka berat ataupun ringan. Kecelakaan maut antara kereta api (KA) Eksekutif Argo Bromo Anggrek dengan KA Senja Utama, Sabtu (5/10/2010) di Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah.

Semuanya menyisakan kesedihan yang mendalam, terutama bagi kami di Direktorat Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak. Karena salah satu korban tersebut adalah teman kami yang bernama Nanang Supriyanto.

Ia seperti biasa, di hari jum’at itu dan setelah sepekan atau dua pekan bekerja di Jakarta, menggunakan KA Senja Utama untuk pulang ke Semarang karena istri dan dua orang anaknya tinggal di sana. Tetapi takdir kematian menjemputnya sebelum bertemu dengan keluarganya itu.

Kami hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan tempat yang terbaik buat sosok baik ini, memberikan ampunan kepadanya, dan memasukkan beliau ke tempat orang-orang shalih berada selayaknya.

Dan seperti biasa teman-teman di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi menjelang hari lebaran 1433 Hijriah ini menunjukkan empatinya yang luar biasa dengan mengirimkan bingkisan kepada anak-anak Mas Nanang. Mungkin ini tak seberapa. Tetapi ada sebuah pesan terkirim dan terunggah: bahwa kami senantiasa mengingatnya. Ada silaturahim yang harus dijaga. Ada jiwa-jiwa yang harus disayang. Ada trauma yang harus dihilangkan. Ada gembira serta bahagia yang harus disemai. Ada cinta yang harus ditumbuhkan. Tahadu tahabbu. Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencinta.

Ini bukan apologi purba tapi tulus dari garputala rasa yang didentingkan dari hati yang paling dalam. Semoga bisa diterima.

Teruntuk:

Ananda Nadia Sifa Khoirunisa dan Ananda Huwaida Rana Khoirunisa

Anak-anakku…

Apa kabarnya?

Semoga bulan ramadhan ini membawakan keberkahan yang banyak untuk kita semua. Sebentar lagi lebaran akan tiba. Semoga pula di waktu itu akan selalu banyak kebahagiaan yang dirasa. Sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh Abi di sana karena banyaknya doa yang terlantun dari kalian.

Allaahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa Robbayani Shaghiira…

(Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa orang tuaku dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi aku di waktu kecil.)

Sebagaimana kebahagiaan yang dirasa Ummi karena melihat kalian tumbuh besar menjadi anak-anak yang sholihat, sehat, dan cerdas.

Tetaplah menjadi yang terindah di mata Ummi, Nak…

Tetaplah menjadi penyejuk mata Ummi, Nak…

Tetaplah selalu mendoakan Abi dan Ummi, Nak…

Anak-anakku…

Senantiasa bergembiralah di lebaran ‘Id seiring takbir yang berkumandang di langit.

Kami pun bergembira melihat kalian bergembira.

Kami pun bahagia melihat kalian bahagia.

Dari kami:

Teman-teman Abi

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

hanya ini yang bisa ada di ramadhan

08:21 15 Agustus 2012

Terima kasih kepada teman-teman Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi atas laku filantropinya. Kearifan yang laik sekali untuk ditiru oleh mereka yang memiliki maruah sebagai manusia bumi.

janaka mencari jejak


janaka mencari jejak

**

mencari jejakmu di rerimbunan nafas

adalah aku tanpa kresna di kurusetra

pada siapa hujan pamit hunjamkan ode-ode purba

ghaibkan semua

petang memanggang menang

redupkan genderang perang

panah-panah patah jadi jumlah tak terbantah

setelahnya, aku merinjani dalam luruhmu

seperti supraba yang mengerang padaku:

kau bukan pandawa

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

12 Januari 2012

 

gambar diambil dari sini

Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud


Laki-laki yang Pernah Mampir di Situ Buleud    


Tidak tahu pada apa yang merana di Situ Buleud, aku datang mencangklong takdir dengan rambut basah sisa-sisa gerimis petang tadi, seperti raja yang tersandung selendang nyai-nyai tonil. Tidak tahu pada apa yang bahagia di Situ Buleud, aku merajuk pada angin yang telah menemukan tempatnya untuk bersembunyi di kisi-kisi tubuh, seperti pengemis rakus menatap lubang kuburan yang akan menelannya besok. Tidak tahu pada apa yang tak ingin pergi di Situ Buleud, aku mendengar teriakan daun jatuh bersalto berkali-kali di udara menghinaku: “hai, itu perempuanmu!” Waktu jadi nol seketika.

***

29 Januari 2012

Riza Almanfaluthi, seorang PNS, penulis yang lahir di Indramayu 36 tahun lalu. Berpendidikan terakhir sarjana strata dua dan sekarang tinggal di Bogor. Pernah mengikuti Basic Writing Training for Beginner dan bergabung di Forum Lingkar Pena Depok sejak tahun 2007. Aktif menulis sebagai blogger dalam blog pribadinya di https://dirantingcemara.wordpress.com sampai sekarang.

Cerita pendeknya Titin Baridin mendapatkan penghargaan sebagai cerpen terbaik diskusi bulanan FLP Depok Agustus 2007. Puisi-puisinya pernah menjadi pemenang kedua dalam perlombaan Menulis Puisi Al Amanah Fair 2011.

Gambar diambil di sini

SIAP-SIAP DISIKUT HULK


SIAP-SIAP DISIKUT HULK

Salah satu doa yang sering kali saya panjatkan saat mau pergi ke tanah suci adalah semoga Allah memberikan teman-teman satu rombongan dan satu kamar yang baik-baik dan menjadikan saya juga teman yang baik buat yang lain. Alhamdulillah terkabul.

    Saya sekamar dengan tiga orang lainnya. Kamar saya ini terletak di lantai 9. Di sebuah flat di sektor 11, di daerah Misfalah-Bakhutmah yang jaraknya lebih dari 2 kilometer dari Masjidil Haram. Saya sebut flat tidak hotel, karena menurut saya tempat yang kami tempati selama 30 hari di Mekkah ini bukan standard hotel. Yang benar-benar standard hotel itu kalau kita menginap di Madinah.

    Ada beberapa cara pergi ke Masjidil Haram dari sektor kami ini. Jalan kaki bisa. Perlu waktu 35 menit jalan cepat untuk sampai ke sana. Atau naik omprengan berupa pick up (mobil bak) dengan harga 2 SAR. Kita bediri kayak kambing di belakang. Saya sarankan jangan naik ini. Karena banyak kejadian jamaah haji yang terjatuh dari mobil.

Atau pilih mobil jenis Colt atau Elf. Harganya sama. Ini cukup aman. Kita masuk dan duduk di dalam mobilnya dan tidak berdiri. Kalau mau menjelang hari hajinya, mobil ini tidak sampai ke tempat terdekat masjid, tetapi paling sampai batas ring road. Mobil berhenti di situ. Karena dilarang masuk oleh polisi sana dan juga jalanan sudah macet, cet. Jadi kita kudu jalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai Masjidil Haram.

    Atau naik bus gratis yang disediakan Pemerintah RI. Tapi ini harus rebutan dengan jamaah haji Indonesia yang lain. Harus sabar juga. Harus bisa jaga hati. Jaga mulut. Karena kalau enggak sabar bisa-bisa terjadi pertengkaran di sini. Dan jangan lupa kalau sudah mendekati hari-hari hajinya, bus tidak disediakan, karena jalanan padat. Kalau tidak salah 5 hari menjelang hari haji mobil bus sudah hilang. Dan mulai disediakan lagi saat 7 hari setelah tanggal 13 Dzulhijjah saat jalanan ke Mekkah sudah mulai berkurang kepadatannya.

    Yang dari Bakhutmah dan Misfalah kalau naik bus gratis Pemerintah RI ini tidak bisa langsung ke tempat dekat Masjidil Haram, tapi cuma mengantarkan kita ke Terminal Bus Kuday. Kita diturunkan di sini. Nah, ke Masjidil Haramnya naik apa? Ya kita naik Bus lagi. Bus yang disediakan oleh Pemerintah Arab Saudi atau maktab atau penyelenggara haji di sana, entah siapa. Bus ini benar-benar sampai di terminal di bawah Menara Jam. Dekat banget dengan Masjidil Haram.

    Kalau kita naik bus dari Kuday, maka kita, jamaah haji Indonesia, akan berhadapan dengan jamaah haji dari Afrika, Turki, Pakistan, dan India. Mereka itu tinggi besar. Baik laki ataupun perempuannya. Siap-siap juga kita disikut dan dilompati oleh orang-orang hitam yang berbadan kekar kayak Hulk itu. Hulk mah warnanya hijau yah…

    Silakan pilih moda transportasi yang mau dipakai. Yang terpenting jaga kesabaran. Ingatlah misi haji yang sedang kita lakukan. Kalau saya sih pilih moda Bus ke Kuday itu. Yang penting lagi adalah pada saat pulangnya. Akan banyak ribuan orang yang berebut bus kalau setelah sholat. Supaya aman kalau mau pulang cepat, maka cari tempat sholat yang dekat dengan terminal. Ketika salam langsung cabut. Atau tunggu setengah jam sampai satu jam setelah sholat. Insya Allah masih masuk di akal rebutan busnya. Saya sering pilih yang kedua. Menunggu saja.

    Biasanya kalau sudah mulai sepi di hari-hari akhir jamaah haji pulang ke tanah air atau mau pergi ke Madinah, supir-supir Bus di Kuday itu akan memuji-muji penumpang Indonesia. “Indonesia hajj bagus…bagus…,” kata mereka sambil angkat jempol. Ujung-ujungnya kalau sudah sampai di tempat tujuan mereka akan mengangkat telunjuk menandakan angka satu.

Mereka minta infak kepada kita satu reyal untuk setiap penumpang. Dan jamaah haji Indonesia terkenal royal serta tidak pelit. Terserah Anda mau kasih atau tidak. Memberi mereka dapat pahala. Tidak memberi juga tidak berdosa. Kebanyakan supirnya berkewarganegaraan Arab tetangga Arab Saudi seperti Yordania, Suriah, Mesir, dan lain-lain. Bukan orang Bengali.

Ohya, ini flat tempat rombongan kami menginap selama di Mekkah pada musim haji 2011.

(Flat kami dilihat dari satelit di luar angkasa, maksudnya pakai google maps)

Syukurnya flat kami ini habis di renovasi. Masih bagus. Tidak kumuh. Tidak gelap. Walau teknologi liftnya tertinggal jauh dengan yang ada di Indonesia. Dan gambar di bawah ini adalah pintu gerbang flat kami.

 

(Suasana saat mau pergi ke Madinah)

    Kamar kami diisi oleh 4 orang. Semua masih dalam satu regu.

(Ini suasana kamar kami sesaat setelah packing dan tinggal berangkat saja ke Madinah)

Dan gambar di bawah ini adalah ranjang saya yang ditempati selama 30 hari di Makkah Al Mukarramah. Tempat saya biasa mimpi dan ngangenin banyak orang di tanah air. Sudah disediakan sprei, bantal dengan sarungnya, dan satu lembar selimut. Kok ada selimut? Bukankah suasana di sana panas? Panas sih panas. Tapi kalau di dalam mah pakai AC. Dingin juga kan? AC-nya kalah canggih dengan AC yang di Indonesia. Coba lihat.

Berikut teman-teman baik saya yang sekamar itu:

Pak Rasyid dan Ibu sedang makan jagung di suatu senja di Jeddah, depan Masjid Terapung. Orang pertama dalam rombongan kami yang mencium hajar aswad. Pengusaha pertambangan yang bersahaja.


Abah Imay dan ibu. PNS DKI dan pengusaha pakaian jadi di Kota Bogor. Orangnya lucu dan humoris.

Dan Pak Tommy, ketua regu kami, alumnus ITB.
Maaf Pak Tommy, enggak saya crop bersama ibu karena pixel fotonya kegedean. J

    Sering kali kalau saya ingat Makkah alMukarramah saya jadi ingat mereka. Empat puluh hari menjadi saksi perjalanan persaudaraan haji kami. Tentunya saya berharap bahwa walau kami berpisah setelah perjalanan itu, Allah akan kumpulkan kami di surganya Allah swt. Ini harapan saya terbesar. Amin.

    Yakin juga ya…kalau perjalanan ke sana, ke dua kota bersejarah itu, adalah perjalanan yang paling tidak bisa dilupakan. Ngangenin…seperti aku yang selalu ngangenin kamu…cie…cie…cie…cie…cie… adaw…adaw…adaw.

    Maka segeralah ke sana.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:44 01 Juli 2012

 

Tags: makkah, madinah, rasyid, imay, tommy, masjid terapung, jeddah, kuday, bakhutmah, misfalah, makkah almukarramah, hulk, cerita haji, india, pakistan, bengali, afrika, turki, Yordania, Suriah, Mesir

HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?


HARUS SAKIT DULU UNTUK BISA MAKAN BUAH?

 

Tidak terlalu lama setelah menghitung betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepada saya dan betapa bedanya saya dengan manusia mulia yang bernama Ayub itu, Allah benar-benar memberikan rasa sakit itu kepada saya.

    Senin malam saya merasakan sesuatu yang kembali sering mendera beberapa bulan terakhir ini. Ada yang bergolak di lambung. Seperti sayatan pisau yang menghunjam di dinding-dindingnya. Saya paksakan untuk tidur berharap agar di pagi harinya rasa sakit itu hilang.

    Ternyata tidak. Tetapi saya memaksakan untuk tetap berangkat ke kantor. Nanti sampai di sana, sebelum berangkat ke Pengadilan Pajak, saya pergi dulu ke klinik untuk memeriksakannya ke dokter jaga dan meminta obat.

    Tetapi obat itu masih belum mampu untuk segera menghilangkan rasa sakit yang semakin menggila. Saya angkat tangan. Saya minta izin untuk pulang. Perjalanan dari stasiun Gambir sampai Citayam benar-benar sebuah perjalanan yang terasa lama sekali. Berdiri setengah limbung dengan mual dan rasa ingin muntah yang menghebat. Tapi saya bertahan agar tidak ada cairan yang keluar yang akan menghebohkan satu gerbong kereta itu.

    Sampai di rumah terbuanglah segalanya dan setelah itu meringkuk dengan merapatkan lutut ke dada menjadi salah satu cara untuk dapat meringankan rasa sakit, walaupun ternyata tak berefek sama sekali. Otomatis selasa siang itu sampai pagi rabu menjadi hari dan malam yang tidak bisa membuat mata terpejam.

    Rabu siang saya tidak tahan. Saya pergi ke dokter yang saya pernah kunjungi dua bulan sebelumnya dan Alhamdulillah obatnya mampu menghilangkan sakit itu. Tetapi ternyata dia angkat tangan juga kali ini. “Ini sudah tidak bisa ditangani lagi. Jangan sampai menunggu sore atau malam, segera pergi ke rumah sakit,” katanya. Saya terperanjat. Seumur hidup saya tidak pernah sakit dan dirawat di rumah sakit. Apakah ini sudah saatnya?

    Sorenya saat istri pulang cepat mendengar berita ini, kami segera pergi ke rumah sakit yang dulu pernah merawat bapak. Ternyata selama hampir satu jam, saya tidak ditangani segera di UGD karena kamar yang penuh dan biaya administrasi yang harus dipenuhi sebesar belasan juta dalam waktu sesegera mungkin. Apalagi sudah divonis operasi karena perut yang sudah tegang. Saya putuskan pindah penanganan ke rumah sakit yang lain.

    RSUD Pasar Rebo menjadi pilihan. Jam setengah delapan malam kami tiba di sana. Dan tanpa basa-basi langsung ditangani. Dicek tensi, diajak dialog oleh dokter muda untuk didiagnosa penyakitnya, diambil darahnya, diberi obat melalui (maaf) dubur, diberikan cairan infus, dimasukkan selang ke lambung (NGT), dirontgen abdomen, dan kesimpulannya adalah suspect ileus. Penyumbatan usus.

    Besoknya, hari kamis, saya diambil darahnya kembali, di USG, dan dirontgen pada bagian dada. Diagnosa terakhir dari dokter adalah saya mengalami dispepsia tetapi tidak perlu dioperasi. Pengertian dispepsia lebih tepatnya bisa dicari di google. Tapi dalam bahasa awamnya adalah gangguan pencernaan yang menyebabkan rasa sakit di sekitar perut, mual, kembung, bersendawa, tidak bisa buang air besar, atau buang angin.

    Saya harus puasa. Cairan yang keluar dari lambung awalnya berwarna oranye, setelahnya hijau bercampur warna hitam, dan pada jum’at pagi sudah berwarna putih. Ini berarti lambung sudah mulai beranjak membaik walau kerja usus masih belum terlihat karena tidak adanya bising usus. Tetapi saya sudah diperbolehkan minum dan makan.

Benar-benar dah. Sejak rabu sore sampai jum’at pagi, saya tidak diperbolehkan makan dan minum. Itu membuat saya merasakan betapa nikmatnya kalau saya bisa minum satu gelas air putih dan memasukkan satu suap nasi ke dalam mulut.

Inilah yang membuat sejarah. Apa? Karena pada hari jum’at (15/6) siang saya merasakan ternyata buah melon itu enak sekali. Saya memang tidak suka semua buah sedari kecil.Saya selalu merasa jijik kalau melihat buah. Terkecuali apel yang mulai belajar memakannya sejak tahun 1997. Itu pun makannya harus di rumah karena kebersihannya terjamin. Enaknya melon yang selama ini dirasa hanya melalui ekstraknya dalam minuman, sekarang bisa dinikmati langsung oleh mulut saya. Sorenya saya diberi pepaya. Dan syukurnya pula saya dapat menelan buah itu.

Memang disadari hal terbesar yang mendorong saya untuk memakan sesuatu yang tidak saya suka dalam hidup saya itu dikarenakan lapar dan keinginan agar bisa buang air besar dengan lancar. Dan untuk saat ini cukup tiga jenis buah dulu itu yang bisa masuk dalam pencernaan saya tanpa saya harus memuntahkannya kembali. Dengan berharap di suatu masa akan bertambah pula perbendaharaan jenis buah yang bisa saya makan. Untuk kesehatan. Semata-mata. Tetapi pertanyaan yang mengganjal adalah apakah harus sakit dulu agar bisa makan buah? Tentu tidak ah.

Selasa di pekan selanjutnya, saya minta pulang kepada dokter spesialis penyakit dalam yang memeriksa saya walau masih ada sedikit rasa sakit dan kembung, tetapi bising ususnya sudah terdengar. Dokter mengizinkan.

Enam hari sudah saya berada di rumah sakit. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil. Yang paling utama adalah sakit membuat ibadah tidak bisa optimal. Tidak bisa kerja. Tidak bisa berbuat apa-apa. Pantesan banyak ustadz bilang kalau nikmat sehat itu nikmat Allah yang berharga sekali.

Hal lainnya adalah saya harus mengubah pola hidup terutama pola makan. Pedas-pedas adalah hal pertama yang harus disingkirkan. Karena selama ini kalau makan tanpa sambal pedas itu seperti makan sayur tanpa garam.

Dan saya ingat betul, kalau maag saya sedang mampir, maka dapat dipastikan kalau selama satu minggu ke belakang itu saya tidak bisa menjaga apa yang dimakan. Pedasnya gila-gilaan, makan bebek pedas, pecel lele pedas, mi rebus dengan saus pedas, gorengan dan plus sambal kacang pedas, dan lain-lainnya. Sekarang semua itu harus ditinggalkan. Bisakah saya bertahan? Insya Allah.

Dan yang kedua saya kudu bisa menjaga jadwal dan ritme makan saya agar tidak telat makan. Kata dokter sih bilang kalau makan jangan banyak-banyak melainkan sedikit-sedikit tetapi sering.

Sekarang saya juga harus pilih-pilih makanan. Pertanyaannya sederhana, “baikkah ini buat lambung saya?” Pokoknya bahan makanan yang mengandung gas dan asam juga perlu dijauhi seperti brokoli, kol, sawi, permen karet, gorengan, cokelat, lemak, susu full cream, masakan dengan bumbu yang menyengat, durian dan nangka (ini mah memang dari dulu enggak doyan), minuman yang bersoda, kopi, saus pempek dan martabak.

Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga nikmat makan yang Allah cabut dari saya. Sedih juga. Tapi tak apa-apalah. Yang terpenting Allah ganti dengan nikmat yang lain dan jangan sampai nikmat rasa kasih sayang, rahmat, dan keberkahan Allah yang dicabut dari saya. Dunia dan akhirat. Semoga tidak.

Terima kasih kepada teman dan saudara yang telah menjenguk atau mendoakan kesembuhan buat saya. Semoga Allah memberikan banyak keberkahan kepada Anda semua.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

04.42 30 Juni 2012

Gambar dari sini.

Tags: rsud pasar rebo, ngt, makanan yang dijauhi saat maag, lambung, maag, dispepsia,

    
 

    

    

SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU


SAYA DAN MANUSIA MULIA ITU

 

Islamedia Jum’at, pada sebuah khutbah yang membuat air mata jatuh. Paradok dengan sengatan matahari yang menggigit karena saya kebagian tempat di bagian luar masjid. Terkisahkan kembali cerita yang menjadi abadi dan teramat sangat bagus untuk dibagi kepada semua. Cerita itu sudah saya dengar sejak dari kecil tapi seperti baru ketika disampaikan sang khothib.

Ada seorang manusia yang kaya raya, hidupnya bahagia dan tenteram, dengan anak-anak dan istrinya yang taat kepada Tuhannya. Sudah tajir sholeh lagi. Dan Allah mengujinya satu persatu dengan berbagai musibah, akankah ia tetap taat dalam keimanannya?

Bagaimana Allah uji manusia baik dan selalu bersyukur itu? Pertama, Allah cabut kekayaannya. Kalau zaman sekarang mah mulai harta berupa hp, mobil, emas, rumah mewah, kebun sawit, peternakan kuda, dan saham-sahamnya ludes enggak karuan. Bangkrut semua bisnisnya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kedua, Allah uji iman manusia itu dengan mengambil jiwa semua anak yang dicintainya. Coba bayangkan satu anak kita yang sedang lucu-lucunya, yang sedang tumbuh-tumbuhnya diambil kembali oleh Allah. Kita sudah sedih bukan main rasanya. Tapi manusia ini diuji imannya dengan diambil seluruh anak-anaknya. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Ketiga, tidak berhenti sampai di situ Allah uji kembali manusia itu dengan mengambil kesehatannya. Tiada yang sehat seluruh anggota tubuhnya melainkan hati dan lisannya. Sampai-sampai semua keluarganya menjauh karena takut tertulari. Bahkan istrinya yang sehat pun dikucilkan pula. Lengkap sudah penderitaan manusia ini. Ternyata manusia itu tetap apa adanya. Jiwanya tidak terguncang. Tetap taat dan rajin ibadahnya. Dan senantiasa bersabar atas apa yang dideritanya.

Kekayaannya dicabut, dimiskinkan permanen. Anak-anaknya dimatikan. Dan tubuhnya disakitkan selama 18 tahun. Kalau saja manusia itu adalah saya, tak tahulah apa yang terjadi. Tapi sungguh cerita ini menjadi keteladanan bagi umat manusia yang beriman. Dan manusia itu adalah Ayub As.

Sabtu, pada suatu dhuha yang hangat, dengan mengendarai mobil menyusuri jalanan lengang komplek Pemda Cibinong, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya saya mencoba menghitung kembali nikmat yang saya rasakan. Alhamdulillah sehat, alhamdulillah dengan istri dan anak-anak yang masih lengkap, alhamdulillah juga masih bisa ibadah walau sedikit, alhamdulillah masih diberikan ketenangan. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Ahad, pada suatu petang, handphone itu tak ada di saku. Saya panik dan segera mencarinya. Jantung berdegup kencang tak seperti genderang perang. Saya segera mengingat-ingat tempat yang baru dilewati. Di tempat parkir barusan? Di musholla? Di sepanjang koridor menuju ruang utama? Di tempat makan? Atau di mana?

Alamaak!! Hp yang satunya ketiadaan pulsa. Niatnya untuk ngebel hp yang hilang itu dan ini berarti saya harus pinjam hp teman. Sedangkan teman-teman pada jam menjelang isya ini kebanyakan sudah kumpul di ruangan utama. Bergegas saya ke sana. Menemui teman dan meminjam hpnya. Belum juga dering kedua berbunyi mata saya tertumbuk pada sebuah meja makan. Dan benda warna hitam itu masih anteng di sana. Pfffhtt…

Hp saya itu hp China. Jadul. Masih pakai tombol untuk pencet nomornya. Tidak touchscreen. Sudah bulukan. Itu pun dikasih sama teman. Enggak tahu apa masih laku kalau dijual. Nomornya pun bukan nomor cantik atau yang sudah diketahui banyak teman. Tapi itu saja sudah membuat saya seperti kehilangan sesuatu yang paling berarti, seperti kehilangan seluruh harta benda. Seperti enggak ikhlas. Ck…ck…ck… Ini tanda-tanda apa yah? Cinta dunia? Bisa jadi. Tapi tetap saja saya bukan seorang Ayub. Dan inilah bedanya saya dengan manusia mulia itu.

Dua tahun yang lalu di awal Juni, api membakar dan menghancurkan bagian atas rumah saya. Mengingat itu saya teringat perkataan Ishaq yang dikutip Aidh Al Qarni, “Barangkali Allah akan menguji seorang hamba dengan suatu malapetaka, tetapi kemudian menyelamatkannya dari kehancuran. Oleh sebab itu, sebenarnya malapetaka bisa menjadi karunia.” Insya Allah waktu itu saya mampu untuk tegar.

Saya memang bukan Ayub tapi berusaha untuk menjadi Ayub yang mampu menghadapi semua perusak kenikmatan dunia itu. Petaka lalu setidaknya memberikan banyak pelajaran kalau harta yang hampir hilang sebatas hp itu seharusnya tak membuat perhatian teralihkan dari mengingat Allah. Cukuplah Allah sebagai penolong untuk segala urusan. Kali ini saya tak setegar waktu itu, Yaa Rabb…

 

***

 

Riza Almanfaluthi

Twitter: @rizaalmanfaluth

dedaunan di ranting cemara

03 Juni 2012

Sumber gambar: diambil dari Islamedia

Tags: ayub, pemda cibinong

NA ADONG HEPENG


NA ADONG HEPENG

 

Mau cerita saja kejadian hari kamis di pekan lalu. Pagi itu di depan pasar Citayam ban meletus. Doorrr!!! Saya kira ban motor orang lain. Ternyata ban belakang motor saya. Terasa ada yang berbeza. Terasa bergoyang.

Kejadiannya jam 05.37 pagi. Sedangkan jadwal Kereta Rel Listrik (KRL) pukul 05.45. Ya sudah saya dorong motor ke tempat penitipan motor. Untung tak jauh cuma 100 meter-an. Yang terpenting adalah menitipkan motor dulu. Naik KRL dulu. Ke kantor dulu. Absen dulu. Alhamdulillah tak telat. Tak jadi dipotong. Motor mah urusan belakangan.

Dua hari sebelumnya, seorang teman bercerita kalau ada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ban motornya bocor. Lalu ia meninggalkan motornya sampai sore sama tukang tambal ban. Dianya kemana? Ke kantor. Kok meninggalkan motor dinas di abang tukang tambal ban? Semuanya demi absen.

Eh, ini kejadian pada saya. Tapi saya meninggalkannya di tempat penitipan motor. Pagi masih dimudahkan. Tapi sorenya harus ekstra kerja keras. Niatnya ngelembur karena banyak pekerjaan di kantor. Tapi tak jadi karena harus urus motor dulu. Takutnya nanti tak ada tukang tambal ban yang buka malam-malam.

Oleh karena itu jam lima sore langsung cabut. Sampai di Stasiun Citayam jam 18.15. Sholat dulu, lalu ke tempat parkiran. Ditawarkan pompa tangan untuk isi angin. Posssss… 1000 kali pompaan juga taka akan pernah bisa. Ban luar sobek karena sudah tipis. Berarti ada robekan besar di ban dalam.

Segera saya menuju ke tukang tambal ban. Ban luar dibuka. Betul juga ban dalamnya pecah sepanjang 3 cm. Saya pikir percuma kalau ditambal dengan ban luarnya yang masih sobek. Kudu beli ban luarnya juga. Saya tanya pada sang tukang berapa harga banya. “Seratus empat puluh limar ribu rupiah,” katanya.

Ngok… Duit di dompet cuma Rp 65 ribu. ATM pun jauh. Malas ambil duitnya. Jadi saya bilang ke Si Lae-nya: “Lae, simpan SIM saya ditambah Uang saya,mau? Besok saya bayar lunas.” Si Lae-nya diam saja. Geleng kepala. “Oh tak bisaaa,” katanya.

“Ya sudah ditambah KTP saya, bagaimana?”

Tetap saja dia tak mau. SIM ditambah KTP ditambah Rp 65 ribu, tetap tidak mau juga?

“STNK saja,” kata dia.

Ya sudah saya girang mendengarnya. Cek dompet. Pooosssss….Tak ada. Ngik.

“Yaaah gak ada Lae. Ketinggalan di rumah. Bagaimana kalau SIM, KTP, duit 65 Ribu ditambah hp saya?” Harga hp seken saya itu 10 kali lipat harga ban itu. Terlalu tinggi ya? Ya sudah 5 kali saja deh.

Ogah. Dia diam bae. Idealismenya tak bisa dibeli. Tik…tik…tik…gerimis jatuh. Saya memutuskan untuk menambal ban dalamnya saja. Mendengar putusan itu Si Lae-nya sudah merasa segan saja bawaannya.

“Tak bisa ditambal nih,” katanya. Saya ngotot, “sudah tambal saja, masih bisa kok.” Pada akhirnya dia menambal juga. Soor…soor…soor…suara hujan. Deras banget. Petir sambar-menyambar. Depan toko sudah tergenang air setinggi lutut bebek. “Lae, nanti yang bolongnya dilapis ban dalam bekas yah, ” kataku padanya.

Saat dia menambal ban, saya berpikir sampai tidak motor ini ke rumah. Minimal ke ATM dulu dan setelahnya sekalian ke bengkel beli ban luar. Si Lae menunggu tambalan matang menonton tv siaran langsung Inter Milan lawan Liga Selection. Saya berdiri menatap rinai hujan dan merenungi nasib. Merenungi kenapa Si Lae ini masih tak percaya sama saya. Hihihi tampang jenggot tak bisa jadi garansi.

Anehnya dingin-dingin begitu saya beli teh botol dingin. Haus. Walau ada air putih di tas. Sepuluh menit kemudian selesai penambalan.

“Berapa Lae?”

” 8000,” katanya.

Saya tak bisa pulang langsung karena hujan masih deras. Tulalit tulalit weeeks hp samsulku mati kehabisan daya. Lengkap sudah. Tersandera. Unconnecting people. Setengah jam lamanya saya menunggu hujan reda. Ternyata tak betah juga. Langsung saya ambil keputusan untuk menerobos rerimbunan hujan ini. Yang penting selamatkan dulu barang-barang elektronik di bawah jok. Saya tak bawa jas hujan. Tak pernah menyiapkan soalnya. Karena jarak rumah dengan stasiun dua kilo saja.

Setelah tas ransel kugendong dipunggung. Grung…pelan-pelan saya mengendarai motor. Duduknya juga tak bisa di tengah jok. Di ujung jok saja agar bebannya tak sampai ke ban belakang.

Tak pakai jas hujan. Tak pakai jaket. Tak pakai helm (jangan ditiru). Tak pakai topi. Pelan-pelan lagi. Telak banget hujan leluasa menyetubuhi saya. Maksud saya, hujan telak menguyupiku. Setelah 600 meter lewat saya mampir ke ATM. Berrrr… alat pendingin ATM bertiup menambah dingin yang saya rasakan. Ambil hepeng. “Lae, nih aku adong hepeng,” batinku.

Saya segera naik motor lagi dan menemukan bengkel. Ya sudah saya sekalian mampir. Yang terpenting menemukan ban luar dengan merek dan kualitas apapun. Harga ban denganmerek random yang tak jelas itu Rp150 ribu. Bisa kurang goceng kalau pasang sendiri. Ngok, memangnya saya punya alatnya apa? Jadi tetap tuh itu barang saya beli.

Lebih dari 15 menit Si Mas itu memasang ban. Tapi kayaknya 20 menit lebih deh. Di tengah pemasangan ban itu hujan mereda. Ehh pas selesai, baru menempelkan
tangan di stang motor, hujan kembali datang. Tapi tak apa, aku tetap harus menerobos hujan. Yang penting saya segera bisa sampai rumah.

Sekarang, dengan ban berperforma maksimal, saya bisa geber kecepatan. Herannya setiap saya tambah kecepatan, hujan pun semakin deras. Saya pun berkejaran dengan hujan. Semuanya basah. Sepatu basah. Baju basah. Kepala basah. Tas basah. Kuyup semua.

Sayang enggak ada rombongan penari di belakang saya. Dua puluh orangan begitu. Dan saya juga tak bawa tambur besar. Kalau ada kan saya bisa nyanyi India. Dung dung tak tak dung dung tak tak. Tum …namaste. Nyanyi apa yaaaah? Kasih tau enggak yaaa….? Pokoknya suasana mendukung banget buat setting film India. Tiang listrik dan pohon banyak.

Sedang membayangkan itu, motor sudah sampai di rumah. Tiiin…tiiin…klakson motor berbunyi. Pintu rumah dibuka. Langsung saya memasukkan motor ke dalam rumah. Apa yang terjadi setelah ini kawan? Kinan datang menyambutku. “Ujan-ujan ya Bi?” tanyanya. Ini dia foto Kinan di suatu hari:

Langsung lenyap capek saat melihatnya. Bahagia. Walau tampang saya tampang tak bisa dipercaya tapi wajah saya tetap disambut dengan gembira olehnya.

Jam setengah sembilan lebih saya sampai rumah. Ini berarti 3,5 jam dari kantor. Dan selesailah sudah timeline twitter yang saya buatkan narasinya ini. Cuma mau cerita saja.

Khattam.

 

Riza Almanfaluthi

dedauan di ranting cemara

ngetwit tanggal 25 Mei 2012

08.14 pagi.

 

Tags: citayam, lae, batak, kinan, shah rukh khan