Cerita-cerita Kecil: Guru Gendeng dan Pekuburan yang Sepi


Guru Freeletics
Jumat, 19 Januari 2018

Dalam dunia persilatan ada banyak orang ingin menjadi murid dari ahli silat yang gendeng itu. Tetapi saking gendengnya, dia tidak mau menerima murid untuk meneruskan kesaktiannya yang digdaya.

Ia bersikap begitu karena kebanyakan mereka yang ingin menjadi muridnya itu cuma menang di awal saja, tetapi lemah di tekad dan tak punya nafas panjang. Belajar dari pengalaman masa lalunya maka ahli silat gendeng itu mencoba untuk sangat selektif menerima murid.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Pelukan dan Kehangatan


30 Kilometer yang Sebegitunya.

Pengalaman hidup adalah mufti yang memang memfatwakan
banyak hal kepada saya sebagai mustafti.

Setelah menerima medali dan kaos sebagai penamat, saya segera membereskan peralatan saya. Tiba-tiba kembali rasa mual itu muncul. Saya segera cari tempat sepi. Di bawah pohon palem yang baru tumbuh, saya memuntahkan semua isi perut. Semuanya cairan yang tadi saya minum di sepanjang pelarian itu. Lega.

Setelah itu saya menuju tenda besar panitia. Di sana ada wadah plastik besar berisi air es untuk merendamkan kaki. Saya memasukkan kaki. Dan tidak butuh waktu lama, itu saja membuat tubuh saya menggigil tidak karuan. Tidak hanya di kaki, tetapi ke seluruh tubuh. Ini seperti dingin yang menyerang saat kita demam atau meriang. Saya segera angkat kaki. Saya sudah merasa sangat kelelahan.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Banyak Drama


Capek Bro. 🙂

Tetapi pada saat malam hari, kebanyakan minum malah bikin kembung.

 

Saya tiba di PDAM Cibinong. Ini penghentian pertama. Sudah 1 jam 31 menit saya berlari. Itu kira-kira 12,5 kilometer. Belum ada cairan yang masuk sama sekali. Baru dua butiran kecil gula jawa yang saya habiskan.

Di sana, setelah dilakukan pengecekan oleh panitia, saya langsung mengambil minuman botol warna biru itu dan menenggaknya sampai habis. Hal yang nantinya membawa saya kepada sesuatu.
Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Tugu To Tugu 2017: Kelinci dan Kura-kura


 
Malam itu, sebagian manusia mencari kemeriahan,

sebagiannya lagi mencari Tuhannya, sedang aku?

 

Setahun nan lampau berlari di malam tahun baru masih menjadi sebuah angan-angan. Di Tapaktuan, di sebuah kantor yang masih memantau target tahunan, akhir tahun 2016 menjadi momen yang tak bisa diabaikan. Kami harus stand by. Dua puluh satu hari kemudian, saya dipindah ke Jakarta.

Setahun kemudian angan-angan itu menjadi nyata. Di malam terakhir 2017, saya berdiri di tengah kelimunan pelari yang akan memulai pelarian itu. Bersiap-siap menempuh jarak 30 kilometer dari Polres Depok sampai Kantor Walikota Bogor.
Baca Lebih Lanjut.

Sentilan di Sentul: Konsinyering atau Konsinyasi?


Judul pertemuannya menyelentik urat kebahasaan saya.

Saya meluruh. Dengan seluruh. Seperti bunyi yang ada di ujung petir. Apa coba?

 

Di suatu masa, salah satu bagian Tim Reformasi Perpajakan mengadakan sebuah rapat di luar kantor, tepatnya di sebuah hotel di bilangan Tangerang pada pertengahan 2017. Rapat itu berjuluk panjang yang diawali dengan kata konsinyering pada sebuah latar belakang (backdrop) besar yang dipasang di panggung rapat.

Saya ingat, ini adalah rapat dengan jenama konsinyering yang pertama kali saya ikuti selama saya bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Dalam percakapan, kata ini biasa disingkat juga dengan kata konser.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Jakarta Marathon 2017: Mengejar Melanie


Pada 2015, Esa Marindra Fauzi, seorang teman sekaligus penamat triatlon mengajak saya yang waktu itu sedang bertugas di Tapaktuan untuk mencoba menyeret-nyeret kaki bareng sejauh 21,1 kilometer di palagan Jakarta Marathon. Baru dua tahun kemudian niat itu menjadi nyata setelah saya pindah tugas ke Jakarta.

Ahad pagi yang masih gulita, 29 Oktober 2017, pada saat saya menyerahkan tas di tempat penitipan tas (drop bag area) sebuah colekan menyentuh pundak saya. Ternyata Esa. Kami sama-sama terlambat datang.

Baca Lebih Lanjut.

Saat Menonton Televisi di Tetangga Sebelah


Foto siang tadi

DI WAKTU KECIL***dulu, saya dan adik saya kalau menonton televisi pergi ke tetangga yang keturunan Tionghwa. Kalau malam, sehabis isya, saya mengetuk pintu rumah tetangga kami itu, “Papih! Papih!” teriak kami kepada bapak tua yang biasa kami panggil demikian. Istrinya pun kami panggil Mamih.

Kalau kami datang, anjing kecilnya bernama Bleki, karena warna bulunya yang hitam, menyambut kami dengan gonggongan atau geramannya. Saya memang tidak pernah akur dengan asu itu. Jadi di depan televisi itu saya mengangkat kaki ke atas kursi, duduk bersila, bukan bermaksud tak sopan, ini sekadar menghindari kaki-kaki kami terkena sentuhan sang asu. Baca Lebih Lanjut.

Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali


Di September yang dipaksa untuk ceria, seorang laki-laki bertemu dengan muasalnya, sejarahnya. Untuk tak mati, sejarah memakan nektar dan ambrosia waktu agar terus awet muda. Lelaki ini tidak. Ia hanya menuliskannya di laman Facebook.

Setelah berjuang dari ketersesatan Google Maps—dan sesungguhnya saya berlindung kepada Tuhan atas hal itu—yang membuat saya harus menyusuri jalanan sempit Pondok Karya, akhirnya saya bisa menemukan kampus Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN yang saya tinggalkan 20 tahun lampau ini.

Continue reading Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali

Jangan Pernah Ragu dan Sangsi


Apa yang kita lakukan setelah berharap dan berdoa kepada-Nya? Ini soal “No Doubt”.

Kalau sudah meminta apa saja kepada-Nya, walau sesuatu yang mustahil, ada kerja yang harus kita lakukan: jangan pernah meragukan-Nya. Jangan pernah menyangsikan-Nya.

Yang terpenting darimu–kata Ibnu Athaillah– bukanlah bentuk permohonanmu, tetapi kesadaranmu bahwa Dialah yang memenuhi kebutuhanmu. Kamu sungguh tidak sopan bila kamu memperlakukan-Nya seperti makhluk-Nya.

Jika kamu sudah meminta, berserahlah kepada pemberian-Nya. Tak perlu mempertanyakan-Nya seperti kebiasaanmu kepada makhluk-Nya. Allah menjawab semua permohonan hamba-Nya, di mana dan kapan pun hamba-Nya berada. Dia lebih dekat denganmu daripada urat lehermu sendiri.

Coba perhatikan “default” ini: Allah menjawab semua permohonan hamba-Nya. Sekarang atau nanti. Cepat atau lambat.

Di hari penghisaban, seorang hamba terkejut mendapatkan hadiah yang mahadahsyat dari Allah. Ia mendapatkan limpahan pahala yang tidak terduga dan tidak tahu dari mana ia mendapatkannya.

Hamba itu bertanya-tanya, “Ini atas kebaikan yang mana? Ini apa?” Padahal selama hidupnya di dunia ia tidak melakukan amal-amal besar.

Lalu ia diberi tahu. Itu semua atas doa-doanya yang setiap waktu ia panjatkan namun belum dikabulkan Allah di dunia. Dan sekaranglah, di waktu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya ia mendapatkan sesuatu yang tak tepermanai. Allah Mahabesar.

Jika ada karib yang meminta doa kepada kita, maka ini sebuah kesempatan besar buat kita sendiri menanam tabungan untuk kehidupan kita di sana. Dengan juga tetap berharap bahwa doa kita dikabulkan segera untuk karib kita itu.

Maka, sesungguhnya berdoa adalah ruang kecil buat kita meminta segala kepada-Nya. Lalu berserah dan tak meragukan-Nya. Jika kamu sudah bersaksi, mengapa masih sangsi?

Pada pagi ini, ada bisik-bisik doa untukmu. Doa kebaikan. Pun, apakah engkau sudah berdoa, Sayang?


***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Buitenzorg, 2 Juli 2017
Buat yang lagi perjalanan balik banyak-banyaklah doa di sepanjang perjalanan.

Top of Form